Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Modern

Masa modern menjadi identitas di dalam filsafat modern. Pada masa ini rasionalisme sangat kuat. Bukan sesuatu yang mudah untuk menentukan mulai dari kapan Abad Pertengahan berhenti. Masa setelah Abad Pertengahan adalah masa modern. Memang tidak jelas kapan berakhirnya Abad Pertengahan itu. Akan tetapi, banyak hal-hal yang menandai masa modern ini, yaitu berbagai perkembangan pesat kehidupan manusia barat, khususnya dalam bidang kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan ekonomi. Usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik Yunani-Romawi. Kebudayaan ini yang diresapi oleh suasana kristiani. Di bidang Filsafat, terdapat aliran yang terus mempertahankan masa klasik. Aliran-aliran dari plato dan mazhab Stoa menjadi aliran-aliran yang terus dipertahankan.

Pada masa Renaissance ini tidak menghasilkan karya-karya yang penting. Satu hal yang menjadi perhatian pada masa Renaissance ini adalah perkembangannya. Timbulnya ilmu pengetahuan yang modern, berdasarkan metode eksperimental dan matematis. Perkembangan pada masa ini menimbulkan sebuah masa yang amat berperan di dalam dunia filsafat. Inilah yang menjadi awal dari masa modern.

Zaman modern sangat dinanti-nantikan oleh banyak pemikir disaat mereka mengingat zaman kuno ketika peradaban begitu bebas, pemikiran tidak dikekang oleh tekanan-tekanan di luar dirinya. Kondisi semacam itulah yang hendak dihidupkan kembali pada masa modern. Kebebasan berfikir sebagai periode yang dilawankan dengan periode abad pertengahan.

Definisi/karakteristik Pemikiran Masa Modern

Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad 15 dan 16 M, kata”renaissance”berarti kelahiran kembali. Yang dimaksud dengannya adalah usaha untuk menghidupkan kembali kebudayaan klasik(Yunani Romawi). Pokok permasalahan pada masa ini, sebagaimana periode skolastik adalah sintesa agama dan filsafat dengan arah yang berbeda. Era renaissance ditandai dengan tercurahnya perhatian pada berbagai bidang kemanusiaan baik sebagai individu maupun sosial.

Filsafat Modern lahir melalui proses panjang yang berkesinambungan. Dimulai dengan munculnya abad Renaissance. Istilah ini diambil dari bahasa Perancis yang berarti kelahiran kembali. Karena itu, disebut juga dengan zaman pencerahan (Aufklarung). Pencerahan kembali mengandung arti”munculnya kesadaran baru manusia”terhadap dirinya. Manusia menyadari bahwa dialah yang menjadi pusat dunianya bukan lagi sebagai obyek dunianya.

Zaman modern ditandai dengan berbagai penemuan dalam bidang ilmiah. Perkembangan ilmu pengetahuan pada zaman modern ini sesungguhnya sudah dirintis sejak zaman Renaissance. Awal mula dari suatu masa baru ditandai oleh usaha besar dari Descartes untuk memberikan kepada filsafat suatu bangunan yang baru. Filsafat berkembang bukan pada zaman Renaissance itu, melainkan kelak pada zaman sesudahnya (Zaman Modern).

Renaissance lebih dari sekedar kebangkitan dunia modern. Renassance adalah periode penemuan manusia dan dunia, merupakan periode perkembangan yang terletak di ujung atau sesudah Abad Kegelapan sampai muncul Abad Modern. Zaman ini juga disebut sebagai zaman Humanisme. Maksudnya adalah manusia diangkat dari Abad Pertengahan yang mana manusia dianggap kurang dihargai sebagai manusia. Kebenaran diukur berdasarkan ukuran gereja (Kristen), bukan menurut ukuran yang dibuat manusia. Humanisme menghendaki ukuran haruslah manusia. Karena manusia mempunyai kemampuan berfikir, maka humanisme menganggap manusia mampu mengatur dirinya dan mengatur dunia.

Jadi, zaman modern filsafat didahului ileh zaman Renaissance. Sebenarnya secara esensial zaman Renaissance itu, dalam filsafat tidak berbeda dari zaman modern. Ciri-ciri filsafat Renaissance ada pada filsafat modern. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes. Pada filsafat kita menemukan ciri-ciri Renaissance tersebut. Ciri itu antara lain ialah menghidupkan kembali Rasionalisme Yunani (Renaissance), Individualisme, Humanisme, lepas dari pengaruh agama dan lain-lain.

Filsafat modern menampakkan karakteristiknya dengan lahirnya aneka aliran-aliran besar filsafat. Filsafat abad modern pada pokoknya ada 3 aliran :

1. Aliran Rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650 M)

2. Aliran Empirisme dengan tokohnya Francis Bacon (1210-1292 M)

3. Aliran Kriticisme dengan tokohnya Immanuel Kant (1724-1814 M)

Selain aliran itu, juga akan diketengahkan aliran-aliran bersar lainnya yang ikut berperan mengisi lembaran filsafat modern, yaitu idealisme, materialisme, positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme. Pada filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaraan agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Aliran rasionalisme beranggapan bahwa sumber pengetahuan adalah rasio, kebenaran pasti berasal dari rasio (akal). Aliran empirisme sebaliknya meyakini pengalamanlah sumber pengetahuan itu, baik yang batin, maupun yang inderawi. Lalu muncul aliran kritisisme, yang mencoba memadukan kedua pendapat berbeda itu.

 

 

TOKOH DAN PEMIKIRAN

A. Filosof Rasionalisme dan Pemikirannya

1. Rene Descartes (1596-1650

Peletak fondasi aliran ini ialah Rene Descastes (Certasius/1596-1650) yang digelar sebagai “Bapak filsafat modern”. Descartes berasal dari Perancis, lahir tahun 1596 di sebuah kota bernama La Haye, dan wafat tahun 1650 di Stockholm. Karya pentingnya ialah Discours de la Methode (Uraian tentang Metode), terbit tahun 1637; Mediationes de Prima Philosophia (Renungan Tentang filsafat), terbit tahun 1641; dan Principia Philosophic (Prinsip-prinsip Filsafat), terbit tahun 1644. Semboyan dari aliran ini ialah ungkapan Descartes yang berbunyi Cogito ergo sum/I think therefore I’m (saya berpikir maka saya ada).

Untuk menemukan basis yang kuat bagi filsafat, Descartes meragukan segala sesuatu yang dapat diragukan. Pertama ia mencoba meragukan semua yang dapat diindera, objek yang sebenarnya tidak mungkin diragukan. Inilah langkah pertama metodecogito tersebut. Dia meragukan adanya badannya sendiri. Keraguan itu menjadi mungkin karena pada pengalaman mimpi, halusinasi, ilusi, dan juga pada pengalaman dengan roh halus ada yang sebenarnya itu tidak jelas. Pada keempat keadaan itu seseorang dapat mengalami sesuatu seolah-olah dalam keadaan yang sesungguhnya.

Setelah Descartes menemukan dasar bagi filsafatnya. Basis itu bukan filsafat Plato, bukan filsafat Abad Pertengahan, bukan agama atau yang lainnya. Fondasi itu ialah “Aku yang berpikir”. Pemikiranku itulah yang pantas dijadikan dasar filsafat karena aku yang berpikir itulah yang benar-benar ada, tidak diragukan, bukan kamu atau pikiranmu. Sehingga akan terlihat sifat subjektif, individualists, humanis dalam filsafat Descartes. Sifat-sifat inilah yang akan mendorong perkembangan filsafat pada Abad Modern.

2. Spinoza (1632-1677)

Nama lengkapnya ialah Baruch de Spinoza, dalam bahasa Latin disebut Benedictus dan dalam bahasa Portugis dengan Bento. Spinoza lahir di Amesterdam, Belanda tahun 1632 dan wafat tahun 1677 di Den Haag. Sebagai filsuf pengikut rasionalisme, Spinoza sangat tertarik kepada Descartes selain ahli dalam bidang filsafat, filsuf ini juga ahli dalam bidang politik, teologia dan etika. Buku-bukunya, yaitu Tractus Theologico Politicus (terbit tahun 1670), Ethica, Or dine Ceometrico Demonstrate (terbit tahun 1677), dan Tractus Politicus (terbit tahun 1677).

Spinoza memiliki angan-angan untuk menciptakan suatu system yang bersofat rasional guna menggapai suatu kebahagiaan bagi manusia. Sebagai dasar segala-galanya harus diterima sesuatu yang tak terdasarkan kepada yang lain, jadi yang mutlak. Sesuai dengan semboyannya “Deus sen Natura” (Tuhan atau alam), Spinoza adalah seorang rasionalis yang mistik. Menurut Spinoza, seluruh kenyataan merupakan kesatuan, dan kesatuan sebagai satu-satunya substansi sama dengan Tuhan atau alam. Segala sesuatu termuat dalam Tuhan-alam. Tuhan sama dengan aturan kosmos, Kehendak Tuhan berarti sama dengan kehendak alam, sehingga hukum-hukum alam sama dengan kehendak Tuhan.

3. Leibniz (1646-1716)

Gottfried Eilhelm von Leibniz adalah filosof Jerman, pusat metafisikanya adalah ide tentang substansi yang dikembangkan dalam konsep “monad”. Metafisika Leibniz memusatkan perhatian pada substansi, yaitu prinsip akal yang mencukupi, yang secara sederhana dapat dirumuskan “sesuatu harus mempunyai alasan”. Bahkan Tuhan harus mempunyai alasan untuk setiap makhluk yang diciptakan-Nya. Pendapat Lebibniz adalah substansi itu banyak, ia menyebut substansi-substansi itu monad. Setiap monad berbeda satu dari yang lain, dan Tuhan (sesuatu yang supermonad dan satu-satunya monad yang tidak dicipta) dan Tuhan adalah pencipta monad-monad tersebut.

B. Filosof Empirisme dan Pemikirannya

1. Francis Bacon (1210-1292)

Pemikiran Francis Bacon ini sangat bertentangan dengan pemikiran para filosof aliran rasionalis. Menurut Francis Bacon bahwa pengetahuan yang sebenarnya adalah pengetahuan yang diterima orang melalui persentuhan inderawi dengan dunia fakta. Pengalaman merupakan sumber pengetahuan yang sejati sedangkan pengetahuan diraih dengan induksi.

2. Thomas Hobbes (1588-1679)

Thomas Hobbes berpendapat bahwa pengalaman inderawi sebagai permulaan segala pengenalan. Hanya sesuatu yang dapat disentuh dengan inderalah yang merupakan kebenaran. Pengetahuan intelektual (rasio) tidak lain hanyalah merupakan penggabungan data-data inderawi belaka.

3. John Locke (1632-1704)

John Locke adalah filosof Inggris. la lahir di Wrington, Somersetshire, pada tahun 1632. Tahun 1647-1652 ia belajar di Westminster. Tahun 1652 ia mengenyam pendidikannya di Universitas Oxford, mempelajari agama Kristen. Sementara ia mempelajari vaknya, ia juga mempelajari pengetahuan di luar tugas pokoknya.

Filsafat Locke dapat dikatakan antimetafisika. Ia menerima keraguan sementara yang diajarkan oleh Descartes, tetapi ia menolak intuisi yang digunakan oleh Descartes. Ia juga menolak metode deduktif Descartes dan menggantinya dengan generalisasi berdasarkanpengalaman. la hanya menerima pemikiran matematis yang pasti dan cara penarikan dengan metode induksi. Segala sesuatu berasal dari pengalaman indrawi, bukan budi (otak). Otak tak lebih dari sehelai kertas yang masih putih, baru melalui pengalamanlah kertas itu terisi (konsep tabula rasa). Dengan demikian, John Locke menyamakan pengalaman batiniah (yang bersumber dari akal budi) dengan pengalaman lahiriah (yang bersumber dari empiri). Ungkapan yang sering digunakan ialah “ Exprience, in that all knowledge is founded”(Pengalaman, semua pengetahuan berdasarkan pengalaman).

Buku Locke, Essay Concerning Human Understanding (1689), ditulis berdasarkan satu premis, yaitu semua pengetahnan datang dari pengalaman. Ini berarti tidak ada yang dapat dijadikan idea atau konsep tentang sesuatu yang berada di belakang pengalaman, tidak ada idea yang diturunkan.

4. David Hume (1711-1776)

Home lahir di Edinburg, Scotland tahun 1711 dan wafat tahun 1776 di kota yang sama. Hume seorang yang menguasai hukum, sastera dan filsafat. Karya terpentingnya adalah A Treatise on Human Nature pada tahun 1738-1740; An Enquiry Concerning Human Understanding pada tahun 1748; dan An Enquiry into the Principles of Moral, terbit pada tahun 1751. Pemikirannya terakumulasi dalam ungkapan singkat, yaitu “I never catch my self at any time with out a perception” (Saya selalu memiliki persepsi pada setiap pengalaman saya). Dari ungkapan tersebut Hume menyampaikan bahwa, “seluruh pemikiran dan pengalaman tersusun dari rangkaian-rangkaian kesan dan kesan tersebutlah sebagai bahan dari ilmu.

 

C. Filosof Kritikisme dan Pemikirannya.

1. Imannuel Kant ( 1724 -1804 )

Immanuel Kant dilahirkan pada tahun 1724 di Konigsberg dari pasangan Johann Georg Kant, seorang ahli pembuat baju zirah (baju besi), dan Anna Regina Kant.Ayahnya kemudian dikenal sebagai ahli perdagangan, namun di tahun 1730-1740, perdangangan di Konigsberg mengalami kemerosotan.Hal ini memengaruhi bisnis ayahnya dan membuat keluarga mereka hidup dalam kesulitan.Ibunya meninggal saat Kant berumur 13 tahun, sedangkan ayah Kant meninggal saat dia berumur hampir 22 tahun. Pendidikan dasarnya ditempuh Kant di Saint George’s Hospital School, kemudian dilanjutkan ke Collegium Fredericianum, sebuah sekolah yang berpegang pada ajaran Pietist.

Kant berpendapat bahwa masing-masing pendekatan benar separuh, dan salah separuh. Memang benar jika pengetahuan kita tentang dunia berasal dari indera kita, namun dalam akal kita ada factor- factor yang menentukan bagaimana kita memandang dunia sekitar kita. Untuk menghilangkan pertentangan di antara rasionalisme dan empirisme, Kant mengadakan pencampuran di antara dua aliran ini dalam hal perumusan kebenaran. Dalam kaitan ini Kant mengatakan “Pengetahuan merupakan hasil kerjasama dua unsur yaitu pengalaman dan kearifan akal budi. Pengalaman inderawi merupakan unsur a posteriori (yang datang kemudian), sedangkan akal budi merupakan unsur a priori (yang datang lebih dahulu)”.

Dalam teorinya Imannuel Kant membagi perumusan kebenaran dalam diri untuk menentang kedua paham sebelumnya (empirisme dan rasionalisme) menjadi tiga yaitu akal budi (verstand), rasio (vernunft) dan pengalaman inderawi.

 

KESIMPULAN

Filsafat Modern adalah pembagian dalam sejarah Filsafat Barat yang menjadi tanda berakhirnya era skolastisisme. Masa modern menjadi identitas di dalam filsafat Modern. Masa filsafat modern diawali dengan munculnya Renaissance sekitar abad 15 dan 16 M. Renaissance ialah periode penemuan manusia dan dunia, merupakan periode perkembangan peradaban yang terletak di ujung atau sesudah Abad Kegelapan sampai muncul Abad Modern. Zaman modern sangat dinanti-nantikan oleh banyak pemikir manakala mereka mengingat zaman kuno ketika peradaban begitu bebas, pemikiran tidak dikekang oleh tekanan-tekanan di luar dirinya. Tokoh pertama filsafat modern adalah Descartes.

Filsafat abad modern pada pokoknya ada 3 aliran:

1. Aliran Rasionalisme dengan tokohnya Rene Descartes (1596-1650 M).

2. Aliran Empirisme dengan tokohnya Francis Bacon (1210-1292

3. Aliran Kriticisme dengan tokohnya Immanuel Kant (1724-1804 M).

Selain aliran itu, juga muncul aliran-aliran besar beserta tokoh dan pemikirannya yang ikut berperan mengisi lembaran filsafat modern, antara lain yaitu idealisme, materialisme, positivisme, fenomenologi, eksistensialisme dan pragmatisme.

 

DAFTAR PUSTAKA

TIM Dosen Filsafat Ilmu Fak. Filsafat UGM. 2004. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty.

Muslih, Mohammad. Filsafat Ilmu. Jogjakarta: Belukar, 2004.

Bertebs , K.  ,. Ringkasan Sejarah Filsafat, 1975. Yogyakarta: Kanisius.

Zubaedi. Filsafat Barat; Dari logika baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun. 2010. Yogyakarta: Arruzz  Media.

Rus Abdullah, Amin. 2006. Islamic Studies di Perguruan Tinggi,Pustaka Pelajar, Yogyakarta sell,

Bertnand. Sejarah Filsafat Barat. 2002. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

 

 

Disusun oleh:

*MUHAMAD ARIFIN, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s