Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Filsafat bagaikan pasukan marinir yang merebut pantai untuk pendaratan pasukan infanteri (Will Durant). Pasukan infanteri ini adalah sebagai pengetahuan yang diantaranya adalah ilmu. Filsafatlah yang menyediakan tempat berpijak bagi kegiatan keilmuan. Setelah itu ilmu berkembang sesuai dengan spesifikasi masing-masing, sehingga ilmuan secara praktis membelah gunung dan merambah hutan. Setelah itu filsafat kembali ke laut lepas untuk berspekulasi dan melalukan eksplorasi lebih jauh. Filsafat adalah alam berfikir atau alam pikiran, berfilsafat adalah berfikif (landgeveld), dalam bukunya “pengantar pada pemikiran filsafat” (1959), menyatakan bahwa filsafat adalah suatu perbincangan mengenai segalah hal, sarwa sekalian alam secara sistematis sampai keakar-akarnya. Apabila dirumuskan kembali filsafat adalah suatu wacana atau perbincangan mengenai segala hal secara sistematis sampai konsekwensi terakhir dengan tujuan menemukan hakekatnya. Filsafat juga studi tentang seluruh fenomena kehidupan dan pemikiran manusia secara kritis yang dijabarkan dalam konsep yang mendasar. Filsafat tidak didalami dengan eksperimen-eksperimen, dan percobaan-percobaan tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi, memberikan argumentasi-argumentasi yang tepat untuk solusi tertentu.

PENGERTIAN FILSAFAT SECARA BAHASA (ETIMOLOGI)

     Filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu bahasa Inggris, dan bahasa Yunani. Filsafat dari bahasa Inggris yaitu philosophy, sedangkan bahasa Yunani philosophia, yang terdiri atas dua kata yaitu, philos (cinta) atau philia (persahabatan) dan sophos (hikmah, kebijakan, pengetahuan, keterampilan, pengalaman praktis). Jadi, filsafat berarti cinta kebijakan atau kebenaran.

     Adapun banyak pengertian filsafat yang dikemukakan oleh para ahli diantaranya adalah:

1. Moh. Hatta dan Langeveld, mengatakan bahwa definisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam definisinya. Oleh karena itu, biarkan saja seseorang meneliti filsafat terlebih dahulu kemudian menyimpulkan sendiri. Pendapat ini ada benarnya juga, sebab intisari berfilsfat itu terdapat dalam pembahasan bukan dalam definisinya. Namun, definisi filsafat untuk dijadikan patokan awal diperlukan untuk memberi arah dan cangkupan obyek yang dibahas, terutama yang terkait dengan filsafat ilmu.

2. Plato (428-348 SM), menyatakan bahwa filsafat adalah pengetahuan yang bertujuan untuk mencapai kebenaran, pengetahuan yang asli dan pengetahuan tentang segala yang ada.

3. Aristoteles (484-322 SM), berpendapat filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang didalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika (hal-hal gaib), logika (bicara), etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).

4. Al-Farabi (W. 950 M), berpendapat filsafat ialah ilmu tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakikatnya yang sebenarnya.

5. Ibnu Rusyd (1126-1198 M), berpendapat bahwa filsafat atau hikmah merupakan pengetahuan “otonom” yang perlu dikaji oleh manusia karena dia dikaruniai akal. Al-Quran filsafat mewajibkan manusia berfilsafat untuk menambah dan memperkuat keimanan kepada Tuhan.

6. Immanuel Kant (1126-1198), berpendapat bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang didalamnya mencangkup empat persoalan, yaitu:

a). Apakah yang dapat kita kerjakan? (jawabanya metafisika)

b). Apa yang seharusnya kita kerjakan? (jawabanya etika)

c). Sampai dimanakah harapan kita kerjakan? (jawabanya agama)

d). Apakah yang dinamakan manusia? (jawabanya antropologi)

7. Paul Nartorp (1854-1924), berpendapat filsafat sebagai grunwissanschat (ilmu dasar hendak menentukan kesatuan pengetahuan manusia dengan menunjukan dasar akhir yang sama yang memikul semuanya).

8. Notonegoro, filsafat adalah menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah yang disebut hakekat.

9. Prof. Mr. Muhammad Yamin mengatakan filsafat ialah pemusatan pemikiran sehingga manusia memenuhi kepribadiannya seraya didalam kepribadiannya itu dialaminya kesungguhan.

10. Pythagoras (572-497 SM) adalah filosof yang pertama kali menggunakan kata filsafat, dia menyatakan bahwa manusia dapat dibagi kedalam tiga tipe yaitu, mereka yang mencintai kesenangan, mereka yang mencintai kegiatan, dan mereka yang mencintai kebijakan. Tujuan kebijakan dalam pandanganya menyangkut kemajuan menuju keselamatan dalam keagamaan. Shopia mengandung arti yang lebih luas daripada kebijakan, yaitu: 1). Kerajinan, 2). Kebenaran Pertama, 3). Pengetahuan yang luas, 4). Kebijakan intelektual, 5). Pertimbanga yang sehat, 6). Kecerdikan dalam memutuskan hal-hal praktis. Dengan demikian asal mula kata filsafat itu sangat umum , yang intinya adalah mencari keutamaan mental (the pursuit of mental excellence).

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa filsafat adalah suatu ilmu yang mempelajari cara yang mendalam yang dimulai dari sejarahnya atau asal muasal, obyek atau sasaran dan fungsinya. Filsafat juga suatu wacana atau perbincangan alam yang pemikiranya mengenai segala hal secara sistematis dengan tujuan menemukan hakekat sampai ke akar-akarnya.

Mempelajari filsafat sangatlah penting yaitu dengan cara pertama sekali perlu kiranya diketahui bahwa isi filsafat amatlah luas. Luasnya itu disebabkan oleh obyek penelitihan filsafat yaitu logika yang berarti benar-salah, etika yang berarti baik-buruk,estetika yang berarti indah-jelek. Dan juga ditinjau dengan landasan penelahan ilmu (dasar-dasar ilmu) yang meliputi epitimologi yang menjelaskan dengan cara, ontologi yang menjelaskan tentanh hakikat, dan aksiologi yang menjelaskan apa manfaat dan nilai guna.

LANDASAN PENELAAHAN ILMU (DASAR-DASAR ILMU)

1). EPITIMOLOGI

Epitimologi merupakan cabang filsafat yang bersangkut paut dengan ilmu pengetahuan. Istilah epitimologi berasal dari bahasa Yunani yang dari dua kata yaitu, episteme yang artinya pengetahuan atau kebenaran dan logos yang berarti ilmu atau kata dan pikiran. Dengan demikian epitimologi berarti teori atau filsafat tentang pengetahuan. Istilah ini dikenal dalam bahasa inggris dengan sebutan “theory of knowledge” (teori pengetahuan). Epitimologi membicarakan bagaimana cara ilmu pengetahuan bisa diperoleh, bisa masuk otak, dan anak bisa memahami. Atau bidang study filsafat yang mempersoalkan hal-ihwal pengetahuan yang meliputi antara lain bagaimana cara memperoleh pengetahuan, sifat hakekat pengetahuan, dan kebenaran pengetahuan. Dari persoalan-persoalan yang dikemukakan epitimologi itu terkandung nilai, yaitu berupa jalan atau metode penyelidikan ke arah tercapainya pengetahuan yang benar. Dengan kata lain bahwa secara umum etimologi adalah cabang filsafat yang membicarakan hakikat ilmu, dan ruang lingkup pengetahuan dan dasar-dasar serta pengertian yang dimiliki manusia. Dalam rumusan yang lebih rinci disebutkan bahwa epitimologi merupakan cabang salah satu filsafat yang mengkaji secara radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode dan, validasi pengetahuan.

2). ONTOLOGI

Ontologi merupakan salah satu lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling kuno, yang berasal dari bahasaYunani yaitu ono atau ontos yang artinya ada dan logos ilmu, jadi ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Ontologi juga membicarakan tentang hakekat yaitu, segala yang ada dan mungkin ada. Hakekat adalah realitas yang artinya kenyataan yang sebenarnya. Ontologi juga membahas segala sesuatu yang ada secara menyeluruh dan sekaligus. Pembahasan ini dilakukan dengan membedakan dan memisahkan eksistensi yang sesunguhnya dari penampakan atau penampilan eksistensi itu.

Dalam hal ini ada tiga teori ontologi yang terkenal salah satunya, yaitu logika yang diberasal dari bahasa Yunani logikos yang berasal dari kata benda logos artinya sesuatu yang diutarakan, suatu pertimbangan akal pikiran, kata, percakapan, dan bahasa. Atau berkenaan bahasa, jadi secara etimologi logika berarti suatu pertimbangan akal pikiran yang diutarakan lewat kata dan dikatakan lewat bahasa. Dengan demikian bahwa logika adalah ilmu pengetahuan dan kecakapan untuk berfikir lurus (tepat). Dari definisi yang diungkapkan oleh para ahli dapat disimpulkan bahwa logika adalah cabang filsafat yang menyusun, mengembangka, dan membahas asas-asas, aturan-atuaran formal, dan prosedur-prosedur normatif.

3). AKSIOLOGI

Aksiologi adalah menyebutkan nilai atau manfaat didalam sebuah kehidupan. Teori ini melahirkan teori etika dan estetika, etika yang artinya baik atau benar, dan estetika indah atau jelek. Aksiologi menyoroti ilmu dan kegunaan ilmu pengetahuan yang hanya alat (means) bukan tujuan (ends).

Obyek kajian filsafat yaitu, etika dalam islam dikenal (akhlaq) adalah ilmu yang membahas perbuatan baik dan buruk manusia sejauh yang dipahami oleh pikiran manusia. Etika berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata ethos dan etehikos yang berarti susila, keadaban, perbuatan, dan kelakuan yang baik. Adapun istilah moral berasal dari bahasa latin, yaitu mores merupakan bentuk jamak dari mos, berarti adat istiadat atau kebiasaan, watak, kelakuan, dan cara hidup. Mempelajari etika bertujuan bisa mendapatkan konsep yang sama dengan penilaian yang baik dan buruk dalam waktu tertentu. Etika biasanya disebut ilmu pengetahuan normatif, sebab etika menetapkan ukuran bagi perbuatan manusia dengan pengunaan norma baik dan buruk. Etika tidak mempersoalkan apa atau siap manusia itu, tetapi bagaimana manusia berbuat dan bertindak.

Sedangkan estetika yaitu, cabang filsafat yang membicarkan sini (art), dan keindahan (beauty). Istilah ini berasal dari bahasa Yunani aisthesis yang berarti penyerapan indiawi, pemahaman intelektual atau bisa juga pengamatan spiritual. Dengan kata lain estetika merupakan studi filsafat yang mempersoalakan atau mengkaji nilai keindahan. Keindahan mengandung arti bahwa didalam diri segala sesuatu terdapat unsur-unsur yang sudah tertata secara tertib dan harmonis dalam suatu kesatuan hubungan yang utuh dan menyeluruh. Bagi ilmu pengetahuan yang beraneka ragam itu, filsafat berfungsi sebagai pengikat kearah keseragaman dan kesatuan (Suparlan Suharto, 2004: 162).

Selain pengertian dan landasan yang disebutkan diatas tadi filsafat juga mempunyai ciri yaitu bahwa filsafat adalah upaya seorang manusia untuk mendapatkan hakekat dari segala sesuatu. Bisa dikatakan filsafat karena mempunyai 5 ciri utama yaitu:

  1. Wacana dan argumentasi menandakan bahwa filsafatmemilikiciri kegiatanberupaya pembicaraan yang mengandalkan pada pemikiran.
  2. Segala hal artinya apa yang dibicarakan yang merupakan materi filsafat adalah segala hal yang menyangkut keseluruhan sehingga disebut perbincangan.
  3. Sistematis artinya perbincangan mengenai segala sesuatu yang dilakukan secara teratur menurut sistem yang berlaku, sehingga tahapan-tahapan mudah diikuti. Dengan demikian perbincangan tersebut tepat dan tidak juga dapat diikuti dan diuji orang lain, meskipun pada akhirnya hanya ada satu pengertian mengenai sesuatu hal.
  4. Radikal artinya sampai keakar-akarnya, sampai pada konsekwensinya yang terakhir, radiks artinya akar bisa juga disebut arche. Hal ini merupakan ciri khas berfikir filsafat. Pengertian sampai keakar-akarnya, bahwa asumsi tersebut tidak hanya dibicarakan, tetapi digunakan. Ilmu pengetahuan menggunakan asumsi, tetapi filsafat membangun atau membicarakanya.
  5. Hakekat merupakan istilah yang menjadi ciri khas filsafat.Hakekat adalah pemahaman atau hal yang paling mendasar, jadi filsafat tidak berbicara tentang wujud atau suatu materi, seperti ilmu pengetahuan, tetapi berbicara makna yang ada dibelakangnya.

FILSAFAT AGAMA

Filsafat agama bukanlah cabang yang theologi, karena bukan merupakan pembelaan filosofis terhadap norma, ajaran theologis tertentu, dan keyakinan religius. Filsafat agama adalah cabang filsafat yang baru muncul pada abad ke 18. Filsafat agama ini sering dikacaukan dengan theologi natural ini istilah yang sudah di kenal sejak abad pertengahan, namun permasalahanya masih terus dipersoalkan sejak zaman Yunani Kuno. Teologi natural merupakan upaya yang rasional untuk menjawab pertanyaan tentang Tuhan, yaitu apakah Tuhan itu benar-benar ada? jika benar ada, bagaimana keberadaanya itu, bagaimana sifat-sifatnya, dan bagaimana hubungan dengan manusia dan alam?sebagai contoh dalam hal ini Xenophanes (570-475 SM), menyatakan bahwa Tuhan itu benar ada dan satu adanya, dia tidak diciptakan, tidak bergerak dan tidak berubah. Dia mengisi seluruh alam, mendengar, melihat semua, serta memimpin alam dengan kekuatan pemikiranya. Sedangkan Aristoteles mengatakan bahwa Tuhan adalah substansi yang sempurna, dia bersifat imaterial, dia penggerak pertama dan penggerak yang tidak digerakan. Dengan demikian teologi natural dapat dikatakan sebagai puncak metafisika.

Dalam filsafat agama sesungguhnya berfikir secara filosofis atau kritis yang menganalisis tentang agama. Yang akan dianalisis oleh filsafat agama ialah agama itu sendiri yakni pengalaman-pengalaman religius manusia. Jadi filsafat agama tidak menganalisis isi kepercayaan iman, melaikan mempertanyakan apakah hakikat imam. Selain itu filsafat agama juga menjelaskan fenomena agama terutama hakikat hubungan manusia dengan Tuhanya? Lalu apa hakikat agama? Agama adalah suatu keyakinan akan adanya suatu kenyataan trans-empiris, yang begitu mempengaruhi dan menentukan, sekaligus bisa membentuk dan menjadi dasar tingkah laku manusia, oleh karena itu agama merupakan suatu misteri yang tidak terpecahkan oleh akal budi manusia.

Pengalaman religius adalah suatu hubungan pribadi antara manusia dan Tuhan. Hubungan itu menggoncangkan tetapi juga bisa memberikan kedamaian R.Otto mengatakan bahwa hubungan manusia dengan Tuhan membuat manusia gemetar, segan, dan takut. Ungkapan Otto yang terkenal adalah “Mysterium Tremendum Et Fascinosum”, maksudnya adalah yang kudus yang membuat manusia gemetar, segan, dan takut itu juga yang membuat manusia tertarik dan terdorong untuk menyatukan diri dengannya. Pengalaman manusia dalam bimbingan dengan Tuhan sangatlah berbeda dengan pengalaman biasa. Hubungan dengan Tuhan mendorong manusia itu mengambil sikap tertentu antara lain: senantiasa berkomunikasi denganya melalui ibadah,beriman, menyerahkan diri, berdo’a, taat, mengasihi, dan bergantung kepadanya.

PENUTUP

Dari beberapa penjelasan yang telah disebutkan diatas tadi penulis dapat menyimpulkan bahwa filsafat mampu mencari kebenaran dari segala peristiwa, kerena dengan filsafat pemecahan permasalahan akan dipikirkan secara mendalam. Filsafat bersifat netral terhadap pandangan filsafat lainya. Kemudian filsafat dapat juga dijadikan sebagai pedoman dalam menemukan cara hidup. Selain itu filsafat juga mengajarkan manusia menjadi orang yang memiliki etika dan moral.

Kedudukan filsafat merupakan kedudukan yang paling utama dalam keilmuan, serta memiliki kaitanya yang sangat erat dengan keilmuan. Tanpa adanya filsafat manusia akan sangat sulit memecahkan masalah dan akan kesulitan juga dalam menjalani kehidupanya.

DAFTAR PUSTAKA

Jujun S. Suriasemantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Populer, (Jakarta, Sinar Harapan, 1984)

Amsal Bakhtiar, Filsafat Agama, (Jakarta: Logos, 1997)

Harun Nasution, Filsafat Agama, (Jakarta: Bulan Bintang, 1979)

Ali Mudhafar, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty Yogyakarta, 1996)

Endang Saifuddin Anshari, Ilmu, Filsafat dan Agama, (Surabaya: PT. Bina Ilmu, 1987)

Jujun S. Suriasumantri, Ilmu dalam Perspektif, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia2001)

__________________

*)         IKA NURWAHYUNINGSIH, Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas. Makalah ini disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2014/2015     dengan dosen pengampu, Afid Burhanudin, M.Pd.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s