Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran

Salah satu ciri khas manusia adalah sifatnya yang selalu ingin tahu tentang sesuatu hal. Rasa ingin tahu ini tidak terbatas yang ada pada dirinya, juga ingin tahu tentang lingkungan sekitar, bahkan sekarang ini rasa ingin tahu berkembang kea rah dunia luar. Rasa ingin tahu ini tiodak dibatasi oleh peradaban. Semua umat manusia di dunia ini punya rasa ingin tahu walaupun variasinya berbeda-beda. Orang yang tinggal di tempat peradaban yang masih terbelakang, punya rasa ingin yang berbeda dibandingkan dengan orang yang tinggal di tempat yang sudah maju.

Rasa ingin tahu tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi dialam sekitarnya dapat bersifat sederhana dan juga dapat bersifat kompleks. Rasa ingin tahu yang bersifat sederhana didasari dengan rasa ingin tahu tentang apa (ontology), sedangkan rasa ingin tahu yang bersifat kompleks meliputi bagaimana peristiwa tersebut dapat terjadi dan mengapa peristiwa itu terjadi (epistemology), serta untuk apa peristiwa tersebut dipelajari (aksiologi)

Ke tiga landasan tadi yaitu ontology, epistemology dan aksiologi merupakan ciri spesifik dalam penyusunan pengetahuan. Ketiga landasan ini saling terkait satu sama lain dan tidak bisa dipisahkan antara satu dengan lainnya. Berbagai usaha orang untuk dapat mencapai atau memecahkan peristiwa yang terjadi di alam atau lingkungan sekitarnya. Bila usaha tersebut berhasil dicapai, maka diperoleh apa yang kita katakana sebagai ketahuan atau pengetahuan.

Awalnya bangsa Yunani dan bangsa lain di dunia beranggapan bahwa semua kejadian di alam ini di pengaruhi oleh para Dewa. Karenanya para Dewa harus dihormati dan sekaligus ditakuti kemudian disembah. Adanya perkembangan jaman, maka dalam beberapa hal pola piker tergantung pada Dewa berubah menjadi pola piker berdasarkan rasio. Kejadian alam, seperti gerhana tidak lagi dianggap sebagai bulan dimakan Kala Rau, tetapi merupakan kejadian alam yang disebabkan oleh matahari , bulan dan bumi berada pada garis yang sejajar. Sehingga baying-bayang bulan menimpa sebagian permukaan bumi.

Perubahan pola pikir dari mitosentris ke logosentris membawa implikasi yang sangat besar . Alam dengan segala-galanya , yang selama ini ditakuti kemudian didekati dan bahkan dieksploitasi. Perubahan yang mendasar adalah ditemukannya hokum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang mnejelaskan perubahan yang terjadi , baik di jagat raya (makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos). Melalui pendekatan logosentris ini muncullah berbagai pengetahuan yang sangat berguna bagi umat manusia maupun alam.

Pengetahuan tersebut merupakan hasil dari proses kehidupan manusia menjadi tahu . Pengetahuan adalah apa yang diketahui oleh manusia atau hasil pekerjaan manusia menjadi tahu . Pengetahuan ini merupakan milik atau isi pikiran manusia yang merupakan hasil dari proses usaha manusia untuk tahu.

Berdasarkan atas pengertian yang ada dan berdasarkan atas kebiasaan yang tejadi sering ditemukan keracunana antara pengertian ilmu dengan pengetahuan. Ke dua kata tersebut dianggap memiliki persamaan arti , bahkan ilmu dan pengetahuan terkadang dirangkum menjadi satu kata majemuk yang mengandung arti tersendiri. Hal ini sering kita jumpai dalam berbagai karangan yang membicarakan tentang ilmu pengetahuan. Bahkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ilmu disamakan dengan pengetahuan, sehingga ilmu adalah pengetahuan.Namun jika kata pengetahuan dan kata ilmu tidak dirangkum menjadi satu kata majemuk atau berdiri sendiri , akan tampak perbedaan antara keduanya. Berdasarkan asal katanya , pengetahuan diambil dari kata dalam bahasa Inggris yaitu knowledge . Sedangkan pengetahuan berasal dari kata Science. Tentunya dari dua asal kata itu mempunyai makna yang berbeda.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. DEFINISI DAN JENIS PENGETAHUAN

Secara etimologi pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa inggris yaitu knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar.

Beberapa Definisi pengetahuan menurut para tokoh:

Menurut Drs. Sidi Gazalba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar , insaf, mengerti dan pandai . Pengetahuan adalah semua milik atau isi pikiran. Dlam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuanadalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. [1]

Sidi Gazalba mengatakan ‘’ apab yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu (sadar, kenal, insaf, mengerti dan pandai ), atau semua milik (isi) pikiran. Jadi pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu .

Dalam kamus filsafat mengatakan bahwa pengetahuan merupakan ‘’proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dlam peristiwa ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) di dalam dirinya sedemikian aktif, sehingga yang mengetahui itu menyusun yang diketahui pada dirinya sendiri dalam kesatuan aktif.[2]

  1. Jenis Pengetahuan
  2. Pengetahuan biasa , yakni pengetahuan yang dalam filsafat dikatakan dengan istilah common sense, dan dalam filsafat dikatakan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik. Dengan common sense semua orang sampai pada kenyataan secara umum tentang sesuatu, dimana mereka berpendapat sama semuanya. Ia diperoleh dari pengalaman sehari-hari.
  3. Pengetahuan ilmu yaitu ilmu sebagai terjemahan dari science. Science yaitu untuk menujukkan ilmu pengetahun alam yang sifatnya kuantitas dan objektif. Ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan dan mensistematisasikan common sense. Namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran suasecara cermat dan teliti dengan menggunakan berbagai metode . Pengetahuan yang diperoleh melaui ilmu diperoleh melalui observasi, eksperimen , klasifikasi . Analisis ilmu itu objektif dan menyampingkan unsur pribadi , pemikiran logika diutamakan, netral (tdk subjektif), karena dimulai dengan fakta
  4. Pengetahuan filsafat , yakni pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kotemplatif dan spekulatif.C.D. Broad berkata : ‘’maksud dari filsafat spekulatif adalah untuk ambil alih hasil-hasil dari berbagai ilmu dan menambahkannya dengan hasil pengalaman keagamaan dan budi pekerti. Denagn cara ini , diharapkan bahwa kita akan dapat sampai kepada suatu kesimpulan tentang watak alam ini, serta kedudukan dan prospek kita didalamnya.
  5. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu . Kalau ilmu hanya pada suatu bidang pengetahuan tertentu yang sempit dan rigid. Filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam . Filsafat biasanya memberikan pengetahuan yang reflektif dan kritis, sehingga ilmu yang tadinya kaku dan terturtup menjadi ‘’longgar’’ kembali.
  6. Pengetahuan Agama yakni pengetahuan yang hanya diperoleh dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan ini mengandung beberapa hal pokok, baik tentang hubungan dengan Tuhan (vertical), maupun dengan sesame manusia (horizontal). [3]
  7. Perbedaan pengetahuan dengan ilmu

Dalam kamus Besar Bahasa Indonesia pengetahuan disamakan artinya dengan ilmu, ilmu adalah pengetahuan. Definisi pengetahuan adalah hasil tahu manusia terhadap sesuatu , atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Sedangkan definisi ilmu yaitu bersinonim arti, sedangkan dalam arti material, keduanya mempunyai perbedaan.

 

  1. HAKIKAT DAN SUMBER PENGETAHUAN

Binatang juga mempunyai pengetahuan , namun mpengetahuan ini terbatas untuk kelangsungan hidupnya. Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk mengatasi kebutuhan-kebutuhan kelangsungan hidupnya.

  1. Hakikat pengetahuan

Pengetahuan pada dasarnya adalah keadaan mental . Ada 2 teori untuk mengetahui hakikat pengetahuan, yaitu :

  1. Realisme

Kata ini menunjuk kepada benda-benda atau kejadian-kejadian yang sesungguhnya, artinya yang bukan sekedar khayalan atau apa yang ada dalam pikiran kita (kepatuhan kepada fakta). Dlam arti filsafat yang sempit, realism berarti anggapan bahwa objek indra kita adalah real. Benda benda ada, adanya itu terlepas dari kenyataan bahwa benda itu kitaa ketahui atau ada hubungannnya dengan persepdi kita. Teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Dalam hal ini , pengetahuan adalah benar dan tepat bila sesuai dengan kenyataan. Pengetahuan menurut realisme adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata. Menurut Prof. Dr. Rasjidi , penganut agama perlu sekali mempelajari realism dengan alas an:

1)        Dengan menjelaskan kesulitan-kesulitan yang terdapat dalam pikiran

2)        Dengan jalan memberi pertimbangan –pertimbangan yang positif , menurut Rasijidi , umumnya orang beranggapan bahwa tiap-tip benda mempunyai satu sebab.

  1. Idealisme

Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses mental atau proses psikologis yang bersifat subjektif. [4]

  1. Sumber pengetahuan

Ada beberapa pendapat tentang sumber pengetahuan antara lain :

  1. Empirisme

Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang artinya pengalaman. Menurut pendapat ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. John Locke (1632-1704), Bapak empiris Britania mengemukakan teori tabula rasa, yang maksudnya ialah bahwa manusia itu pada mulanya kosong dari pengetahuan, lantas pengalamnnya mengisi jiwa yang kosong itu , lantas ia memiliki pengetahuan. Jadi dalam empirisme , sumber utama untu memperoleh pengetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera.

Aliran ini memiliki banyak kelemahan, antara lain :

  1. Indera terbatas, benda yang jauh kelihatan kecil karena keterbatasan indera yang menggambarkan seperti itu
  2. Indera menipu, pada orang yang sakit malaria gula rasanya pahit
  3. Objek yang menipu, objek itu sebenarnya tidak sebagaimana ia ditangkap oleh indera, ia membohongi indera
  4. Berasal dari indera dan objek sekaligus.

 

  1. Rasionalisme

Aliran ini mengatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Decrates, seorang pelopor rasionalisme berusaha menemukan suatu kebenaran yang tidak dapat diraguikan llagi. Kebenaran itu menurutnya adalah dia tidak ragu bahwa ia ragu . Ia yakin kebenaran semacam itu ada dan kebenaran tersebut dikenal dengan cahaya yang terang dari akal budi sebagai hal-hal yang tidak dapat diragukan.[5]

  1. Intuisi

Menurut Henry Bergson intuisi adalah hasil dari evolusi pemahaman yang tertinggi. Kemampuan ini mirip insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan ini memerlukan suatu usaha. Perbedaan antara intuisi dalanm filsafat barat dengan makrifat dalam islam adalah kalau intuisi diperoleh lewat perenungan dan pemikiran yang konsisten, sedangkan dalam islam makrifat diperoleh lewat perenungan dan penyinaran dari Tuhan.

  1. Wahyu

Wahyu adalah pengetahuan yang disampaikan oleh Allah kepada manusia lewat perantara para nabi. Para nabi memperoleh pengetahuan dari Tuhan tanpa upaya , tanpa bersusah payah, tanpa memerlukan waktu untuk memperolehnya. Pengetahauan mereka terjadi atas kehendak Tuhan semesta. Tuhan mensucikan jiwa mereka dan diterangkan nya pula jiwa mereka untuk memperoleh kebenaran dengan jalan wahyu.[6]

 

 

  1. UKURAN KEBENARAN

Kebenaran adalah satu nilai utama di dalam kehidupan human. Sebagai nilai-nilai menjadi fungsi rohani manusia . Artinya sifat manusiawi atau martabat kemanusiaan (human dignity) selalu berusaha ‘’memeluk’’ suatu kebenaran. Berbicara tentang kebenaran ilmiah tidak bisa dilepaskan dari makna dan fungsi ilmu itu sendiri sejauh mana dapat digunakan dan dimanfaatkan oleh manusia. Disamping itu proses untuk mendapatkannya haruslah melalui tahap-tahap metode ilmiah.

Poedjawiyatna yang mengatakan bahwa persesuaian antara pengetahuan dan obyeknya itulah yang disebut kebenaran . Artinya pengetahuan itu harus yang dengan aspek obyek yang diketahui . Jadi pengetahuan benar adalah pengetahuan obyektif.

Meskipun demikian , apa yang dewasa ini kita pegang sebagai kebenaran mungkin suatu saat akan hanya pendekatan kasar saja dari suatu kebenaran yang lebih jati lagi dan demikian seterusnya. Hal ini tidak bisa dilepaskan dengan keberadaan manusia yang trasenden , dengan kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Dari sini terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang transeden , artinya tidak henti dari kebenaran itu terdapat diluar jangkauan manusia.[7]

Ada tiga jenis kebenaran :

1)        Kebenaran epistemologis yaitu ‘’kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia’’.

2)        Kebenaran ontologis adalah ‘’kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan’’.

3)        Kebenaran semntic yakni ‘’kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa’’. [8]

Ada 4 ujian tentang kebenaran , yaitu :

  1. Teori Korespondensi

Menurut teori ini, kebenaran atau keadaan benar itu apabila ada kesesuaian antara arti yang dimaksud oleh suatu pernyataan atau pendapat tersebut. Maka pengetahuan adalah benar bila apa yang terdapat didalam budi pikiran subjek itu benar sesuai dengan apa yang ada didalam objek.[9]

Menurut teori ini , ada atau tidaknya keyakinan tidak mempunyai hubungan langsung terhadap kebenaran atau kekliruan, oleh karena kebnaran atau kekeliruan itu tergantung kepada kondisi yang sudah ditetapkan atau diingkari. Jika sesuatu pertimbangan sesuai dengan fakta , maka pertimbangan itu benar. Jika tidak, maka pertimbangan itu salah.

Kebnenaran adalah persesuaian antara pernyataan tentang fakta dan fakta itu sendiri,atau antara pertimbangan (judgement) dan situasi pertimbangan itu berusaha untuk melukiskan, karena kebenaran mempunyai hubungan erat dengan pernyataan atau pemberitaan yang kita lakukan tentang sesuatu. Jadi, secara sederhana dapat disimpulkan bahwa berdasarkan teori korespondensi suatu pernyataan adalah benar jika materi pengetahuan yang dikandung pernyataan itu berkorespondensi (berhubungan ) dengan obyek yang dituju oleh perbnyataan tersebut.

Misalnya jika seorang mahasiswa mengatakan ‘’kota Yogyakarta terletak di pulau jawa’’ maka pernyataan itu adalah benar sebab pernyataan itu dengan obyek yang bersifat faaktual, yakni kota Yogyakarta memang benar-benar berada di pulau kjawa. Sekirnya orang lain yang mengatakan bahwa ‘’kota Yogyakarta berada di pulau sumatra’’ maka pernyataan itu adalah tidak benar sebab tidak terdapat obyek yang sesuai dengan pernyataan tersebut. Dalam hal ini maka secara factual ‘’kota Yogyakarta bukn berada di pulau Sumatra melainkan di pulau jawa’’.[10]

 

  1. Teori Koherensi Tentang Kebenaran
  2. Teori Pragmatisme Tentang Kebenaran
  3. Agama sebagai Teori Kebenaran

 

  1. KLASIFIKASI DAN HIRARKI ILMU

Klasifikasi Ilmu menurut Al-Ghazali

  1. Ilmu Syar’iyyah
  2. Ilmu tentang prinsip-prinsip dasar (al-ushul)

1)        Ilmu tentang keesaan Tuhan (al-tauhid)

2)        Ilmu tentang kenabian

3)        Ilmu tentang akhirat atau eskatologis

4)        Ilmu tentang sumber pengetahuah religious. Yaitu Al-Quran dan Al-Sunnah(primer), Ijma’ dan tradisi para sahabat (sekunder), ilmu ini terbagi manjadi dua kategori:

I.          Ilmu-Ilmu pengantar (ilmu alat)

II.          Ilmu-Ilmu pelengkap, terdiri dari : ilmu Quran, ilmu riwayat al-hadis, ilmu ushul fiqh dan biografi para tokoh.\

  1. Ilmu tentang cabang-cabang

1)        Ilmu tentang kewajiban manusia pada Tuhan (ibadah)

2)        Ilmu tentang kewajiban manusia kepada masyarakat

I.              Ilmu tentang transaksi, termasuk qishas

II.              Ilmu tentang kewajiban kontraktual (ilmu akhlak)

3)        Ilmu tentang kewajiban manusia kpada jiwanya sendiri (ilmu akhlak)

II.            Ilmu Aqliyyah

  1. Matematika, Aritmatika, Geometri, Astronomi dan Astrologi Music
  2. Logika
  3. Fisika/ilmu alam : Kedokteran, Meteorology, Mineralogy, Kimia
  4. Ilmu tentang wujud di luar alam, atau metafisika : ontology

1)      Pengetahuan tentang esensi, sifat aktivitas ilahai

2)      Pengetahuan tentan substansi-substansi sederhana

3)      Pengetahuan tentang dunia halus

4)      Ilmu Tentang kenabian dan fenomena kewalian ilmu tentang mimpi

5)      Teurgi. Ilmu ini menggunakan kekuatan – kekuatan bumi untuk menghasilkan efek tampak seperti supranatural.

Sementara itu Stuart Chase membagi ilmu pengetahuahn alam sebagai berikut :

  1. Ilmu-ilmu pengetahuan alam (natural sciences)
  2. Biologi
  3. Antropologi fisika
  4. Ilmu kedokteran
  5. Ilmu farmasi
  6. Ilmu pertanian
  7. Ilmu pasti
  8. Ilmu alam
  9. Geologi
  10. Dan lain sebagainya
  11. Ilmu ilmu kemasyarakatan
  12. Ilmu hukum
  13. Ilmu ekonomi
  14. Ilmu jiwa social
  15. Ilmu bumi social
  16. Sosiologi
  17. Antropologi kebudayaan social
  18. Ilmu sejarah
  19. Ilmu politik
  20. Ilmu pendidikan
  21. Publisistik dan jurnalistik
  22. Dan lain sebagainya
  23. Humaniora
  24. Ilmu agama
  25. Ilmu filsafat
  26. Ilmu bahasa
  27. Ilmu seni
  28. Ilmu jiwa
  29. Dan lain sebagainya

 

BAB III

KESIMPULAN

 

 

Menurut Sidi Gazalba, yang dikutip oleh Amsal Bakhtiar dalam bukunya yang berjudul filsafat ilmu, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu adalah hasil dari kenala, sadar, Inisiatif, mengerti dan pandai, dan pengetahuan itu adalah semua milik atau isi pikiran.

Jenis-jenis pengetahuan : penegtahuan biasa, pengetahuan Ilmu, pengetahuan filsafat dan pengetahuan Agama.

Sumber pengetahuan : empirisme, Rasionalisme, Intuisi dan Wahyu.

Ilmu pengetahuan diambil dari kata bahasa Inggris science, yang berasal dari bahasa latin scientia dari bentuk kata kerja scrie yang berarti mempelajari mengetahui.

Ciri-ciri Ilmu pengetahuan : Empiris, Sistematis, Objektirf, Analitis dan Verifikatif.

Teori yang menjelaskan kebenaran epistimologis adalah :

  1. Teori koherensi (teori kebenatran saling berhubungan)
  2. Teori korespondensi (teori kebenaran saling berhubungan)
  3. Teori pragmatism (teori kebenaran konsekuensi kegunaan)

Cara untuk menemukan suatu kebenaran adalah melalui agama. Agama dengan karakteristik sendiri memberikan jawaban atas segala persoalan asasi yang dipertanyakan manusia, baik tentang Alam, Manusia, maupun tentang Tuhan.

 

[1]Baktiar, Amsal. Dr.MA.2005.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Grafindo Persada

[2](Lorens Bagus, Kamus Filsafat)

[3]Baktiar, Amsal. Dr.MA.2005.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Grafindo Persada

[4]Ibid. hal 92-97

[5]Ibid. hal 98-109

[6]Ibid. hal 109-110

[7]http://www.filsafatmanusiadan filog/makalah-filsafat-ilmu-tentang-teori.html

[8] Baktiar, Amsal. Dr.MA.2005.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Grafindo Persada

[6]Ibid. hal 112

[10]http://www.filsafatmanusiadan filog/makalah-filsafat-ilmu-tentang-teori.html

[11] Baktiar, Amsal. Dr.MA.2005.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Grafindo Persada

[12]http://www.filsafatmanusiadan filog/makalah-filsafat-ilmu-tentang-teori.html

[13] Baktiar, Amsal. Dr.MA.2005.Filsafat Ilmu. Jakarta: PT. Grafindo Persada

[14]Ibid. hal 119

[15]Ibid. hal 121

[16]Ibid. hal 124-125

[17]http://www.filsafatmanusiadan filog/makalah-filsafat-ilmu-tentang-teori.html

 

 

_______________

OLEH:

SULIS SETYOWATI

NIM    : 082 882086

KLS    : PBI / B

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s