Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Berbicara tentang filsafat, kita harus tahu terlebih dahulu apa arti filsafat itu sendiri. Kata filsafat atau falsafat, berasal dari bahasa Yunani: philoshophia yang banyak diperoleh pengertian-pengertian, baik secara harfiah atau etimologi. Terdiri dari kata philos yang berarti cinta, gemar, suka dan kata sophia berarti pengetahuan, hikmah dan kebijaksanaan. filsafat menurut arti katanya dapat diartikan sebagai cinta, cinta kepada ilmu pengetahuan atau kebenaran, suka kepada hikmah juga kebijaksanaan.Didalam filsafat pendidikan, akan kita jumpai berbagai macam hal baru yang tentunya akan menambah wawasan keilmuan kita.

Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris . Perubahan pola pikir tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi. Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya.Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Dan didalam makalah yang singkat ini akan diterangkan mengenai pengertian filsafat ilmu, objek kajian filsafat ilmu, ruang lingkup filsafat ilmu, fungsi dan arah filsafat ilmu, hubungan antara filsafat dan ilmu,serta tujuan belajar filsafat ilmu itu sendiri.

 

PEMBAHASAN

 

  1. Pengertian Filsafat

Filsafat adalah mencintai kebijaksanaan, konsep Plato memberi istilah dialektika yang berarti seni berdiskusi, konsep Cicero menyebutnya sebagai ibu dari semua seni, konsep Al Farabi adalah menyelidiki hakikat sebenarnya dari segala yang ada, konsep Rene Descartes menyatakan kumpulan segala pengetahuan di mana Tuhan, alam dan manusia menjadi pokok penyelidikan. Filsafat dapat dikatakan sebagai ilmu filsafat karena mengandung empat pertanyaan ilmiah yaitu : bagaimana, mengapa, kemana, dan apa. Pertanyaan bagaimana mengandung sifat yang dapat ditangkap atau tampak oleh indra, jawaban yang diperoleh bersifat deskriptif. Pertanyaan mengapa mengandung sebab ( asal mula ) suatu objek, jawaban yang diperoleh bersifat kausalitas. Pertanyaan kemana menanyakan tentang apa yang terjadi di masa lampau, sekarang dan yang akan datang, pengetahuan yang diperoleh adalah : pengetahuan yang timbul dari hal yang selalu berulang dapat dijadikan sebagai pedoman, pengetahuan yang terkandung dalam adat istiadat atau kebiasaan yang berlaku dalam masyarakat dan pengetahuan yang timbul dari pedoman yang dipakai ( hukum ) sebagai suatu hal yang dijadikan pegangan. Pertanyaan apakah menanyakan tentang hakikat atau inti mutlak dari suatu hal, jawaban yang diperolah mengetahui hal – hal yang sifatnya sangat umum, universal dan abstrak.

Pada dasarnya filsafat merupakan sebuah cara berpikir yang radikal dan menyeluruh, yaitu suatu cara berpikir yang mengupas sesuatu sedalam – dalamnya. Tidak ada satu hal pun yang bagaimanapun kecilnya terlupa dari pengamatan kefilsafatan.

  1. Pengertian Filsafat Secara Etimologi

Kata filsafat, yang dalam bahasa arab dikenal dengan istilah falsafah dan dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah phiilosophy adalah berasal dari bahasa yunani philosophia. Kata philosophia terdiri atas kata philein yang berarti cinta (love) dan sophia yang berarti kebijaksanaan (wisdom). Sehingga pengertian etimologis dari istilah filsafat berarti cinta kebijaksanaan atau love of wisdom dalam arti yang sedalam – dalamnya.

  1. Pengertian Filsafat Secara Terminologi

Pengertian terminologis merupakan uraian yang menjelaskan berdasarkan batasan – batasan definisi yang disusun oleh sejumlah filsuf dan ahli filsafat. Pengertian terminologis tentang filsafat adalah (i) upaya spekulatif untuk menyajikan suatu pandangan sistematik dan lengkap tentang seluruh realitas; (ii) upaya untuk melukiskan hakikat realitas akhir dan dasar secara nyata; (iii) upaya untuk menentukan batas – batas dan jangkauan pengetahuannya: sumbernya, hakikatnya, keabsahannya, dan nilainya: (iv) penyelidikan kritis atas pengandaian – pengandaian dan pernyataan – pernyataan yang diajukan oleh berbagai bidang ilmu pengetahuan; (v) disiplin ilmu yang berupaya untuk membantu kita melihat apa yang kita katakan dan untuk mengatakan apa yang kita lihat.

Adapun pengertian terminologis filsafat yang diuraikan lebih lanjut adalah definisi filsafat menurut plato, Aristoteles, Rene Descartes, Immanuel Kant, Ali Mudhofir, dan Notonagoro, Harold H Titus, Ibnu sina dan Driyarkara.

Plato berpendapat bahwa filsafat adalah pengetahuan yang mencoba untuk mencapai pengetahuan tentang kebenaran yang asli. Menurut Aristoteles, filsafat adalah ilmu (pengetahuan) yang meliputi kebenaran yang di dalamnya terkandung ilmu – imu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat keindahan). Menurut Rene Descartes filsafat adalah kumpulan semua pengetahuan di mana Tuhan, alam, dan manusia menjadi pokok penyelidikan; Immanuel Kant, filsafat adalah ilmu atau pengetahuan yang menjadi pangkal dari semua pengetahuan yang di dalamnya tercakup masalah epistemologi (filsafat pengetahuan) yang menjawab persoalan apa yang dapat kita ketahui; Menurut Notonagoro, Guru Besar UGM, filsafat menelaah hal – hal yang menjadi objeknya dari sudut intinya yuang mutlak dan yang terdalam, yang tetap, dan yang tidak berubah yang disebut hakikat; sedangkan menurut Ali Mudhofir, seorang ahli filsafat yang juga dosen UGM, filsafat diartikan sebagai : (i) suatu sikap; (ii) suatu metode; (iii) kelompok persoalan; (iv) kelompok teori atau sistem pemikiran; (v) analis logis tentang bahasa dan penjelasan makna istilah; dan (vi) usaha untuk mendapatkan pandangan yang menyeluruh.

Dalam pengertian lain, filsafat diartikan sebagai interpretasi atau evaluasi terhadap apa yang penting atau yang berarti bagi hidup. Di pihak lainnya ada yang beranggapan, bahwa filsafat merupakan cara berpikir yang kompleks, suatu pandangan atau teori yang tidak memiliki kegunaan praktis, tetapi mendasar bagi ilmu pengetahuan.

Harold H. Titus, mengemukakan pengertian filsafat dalam arti sempit dan dalam arti luas. Dalam arti sempit, filsafat diartikan sebagai ilmu yang berhubungan dengan metode logis atau analisis logika bahasa dan makna – makna. Filsafat diartikan sebagai “science of science”, dengan tugas utamanya memberikan analisis kritis terhadap asumsi – asumsi dan konsep – konsep ilmu, dan mensistematisasikan pengetahuan. Dalam arti luas, filsafat mencoba mengintegrasikan pengetahuan. Dalam arti luas, filsafat mencoba mengintegrasikan pengetahuan manusia dari berbagai pengalaman manusia yang berbeda – beda dan menjadikan suatu pandangan yang komprehensif tentang alam semesta, hidup, dan makna hidup.

Ibnu Sina, mengemukakan bahwa filsafat adalah pengetahuan otonom yang perlu ditimba oleh manusia sebab ia dikaruniai akal olehAllah.Prof.Dr.N.Driyakara S.J., seorang filsuf besar dan ulung Indonesia yang dalam bukunya Percikan Filsafat yang menyatakn bahwa, filsafat adalah pikiran manusia yang radikal, artinya dengan mengesampingkan pendirian dan pendapat “yang diterima saja” mencoba memperlihatkan pandangan yang merupakan akar dari lain – lain pandangan dan sikap praktis.

Oleh karena itu dapat didefinisikan filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mengenai segala sesuatu dengan memandang sebab – sebab terdalam, tercapai dengan budi murni.

  1. Pengertian Filsafat Ilmu

Filsafat berasal dari bahasa Yunani Philosophia, dan terdiri dari kata Philos yang berarti kesukaan atau kecintaan terhadap sesuatu, dan kata Sophia yang berarti kebijaksanaan. Secara harafiah, filsafat diartikan sebagai suatu kecintaan terhadap kebijaksanaan (kecenderungan untuk menyenangi kebijaksanaan), hikmah atau pengetahuan yang mendalam Sedangkan dalam bahasa Arab, ilmu ( ilm ) berasal dari kata alima yang artinya mengetahui. Jadi ilmu secara harfiah tidak terlalu berbeda dengan science yang berasal dari kata scire. Namun ilmu memiliki ruang lingkup yang berbeda dengan science (sains). Sains hanya dibatasi pada bidang-bidang empirisme – positiviesme sedangkan ilmu melampuinya dengan nonempirisme seperti matematika dan metafisik. . Berbicara mengenai ilmu (sains) maka tidak akan terlepas dari filsafat. Tugas filsafat ilmu adalah menunjukkan bagaimana “pengetahuan tentang sesuatu sebagaimana adanya”.

            Filsafat ilmu secara umum dapat difahami dari dua sisi, yaitu sebagai disiplin ilmu dan sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan. Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat ilmu merupakan cabang dari ilmu filsafat yang membicarakan obyek khusus, yaitu ilmu pengetahuan yang memiliki sifat dan kharakteristik tertentu hampir sama dengan filsafat pada umumnya. Sementara itu, filsafat ilmu sebagai landasan filosofis bagi proses keilmuan, ia merupakan kerangka dasar dari proses keilmuan itu sendiri.

Tentang filsafat ilmu itu sendiri merupakan satu cabang filsafat yang khusus membicarakan tentang ilmu, dan sebagai berikut kami paparkan beberapa definisi dari Filsafat Ilmu Menurut para ahli:

1.   Robert Ackerman

 

Filsafat ilmu adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.

2.    Lewis White Beck          

Filsafat ilmu adalah ilmu yang membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.

3.      Michael V. Berry

Filsafat Ilmu adalah penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.

 

4.      May Brodbeck

Filsafat Ilmu adalah analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.

  1. Ruang lingkup filsafat ilmu

Filsafat ilmu sampai tahun sembilan puluhan telah berkembang pesat sehingga menjadi bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam. Ruang lingkup sebagaimana yang dibahas para filsuf dapat dikemukakan secara ringkas oleh sejumlah ahli antara lain (i) Peter Angeles; (ii) A.Cornelius Benjamin; (iii) Israel Scheffler; dan (iv) J.J.C.Smart.

Pertama, menurut Peter Angeles, ilmu mempunyai empat bidang konsentrasi yang utama: (i) Telah mengenai berbagai konsep, pranggapan dan metode ilmu berikut analisis, perluasan, dan penyusunannya dalam memperoleh yang lebih baik dan cermat; (ii) Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut strukturnya; (iii) Telaah mengenai saling kaitan di antara berbagai ilmu; dan (iv) Telaah mengenai saling kaitan di antara berbagai ilmu; dan (iv) Telaah mengenai akibat pengetahuan ilmiah bagi hal – hal yang berkaitan dengan penerapan dan pemahaman manusia.

Kedua, A. Cornelius Benjamin. Filsuf ini membagi pokok soal filsafat ilmu dalam 3 bidang : (i) Logika ilmu yang berlawanan dengan epistemologi ilmu; (ii) Filsafat ilmu kealaman yang berlawanan dengan filsafat ilmu kemanusiaan; (iii) Filsafat ilmu yang berlawanan dengan telaah filsafati dari sesuatu ilmu khusus; dan (iv) Filsafat ilmu yang berlawanan dengan sejarah ilmu.

Ketiga, Israel Scheffler. Lingkupannya dibagi menjadi tiga bidang yaitu: (i) Peranan ilmu dalam masyarakat; (ii) Dunia sebagaimana digambarkan oleh ilmu; dan (iii) Landasan – landasan ilmu.

Keempat,J.J.C.Smart. Filsuf ini menganggap filsafat ilmu mempunyai dua komponen utama yaitu, (i) Bahasan analitis dan metodologis tentang ilmu; (ii) Penggunaan ilmu untuk membantu pemecahan problem.

  1. Objek Kajian Filsafat Ilmu

Pada dasarnya setiap ilmu mempunyai dua macam obyek yaitu obyek material dan obyek formal. Obyek material adalah sesuatu yang dijadikan sasaran penyelidikan, seperti tubuh adalah obyek material ilmu kedokteran. Adapun obyek formalnya adalah metode untuk memahami obyek material tersebut, seperti pendekatan induktif dan deduktif.

Filsafat sebagai proses berfikir yang sistematis dan radikal juga memiliki obyek material dan obyek formal. Obyek material filsafat adalah segala yang ada, baik mencakup ada yang tampak maupun ada yang tidak tampak. Ada yang tampak adalah dunia empiris, sedang ada yang tidak tampak adalah alam metafisika. Sebagian filosuf membagi obyek material filsafat atas tiga bagian, yaitu: yang ada dalam alam empiris, yang ada dalam alam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Adapun obyek formal filsafat adalah sudut pandang yang menyeluruh, radikal, dan rasional tentang segala yang ada.

a)      Dilihat dari obyek material (lapangan)

Filsafat itu bersifat universal (umum), yaitu segala sesuatu yang ada (realita) sedangkan obyek material ilmu (pengetahuan ilmiah) itu bersifat khusus dan empiris. Artinya, ilmu hanya terfokus pada disiplin bidang masing-masing secara kaku dan terkotak-kotak, sedangkan kajian filsafat tidak terkotak-kotak dalam disiplin tertentu.

b)      Dilihat dari obyek formal (sudut pandang)

Filsafat itu bersifat non fragmentaris, karena mencari pengertian dari segala sesuatu yang ada itu secara luas, mendalam dan mendasar. Sedangkan ilmu bersifat fragmentaris, spesifik, dan intensif. Di samping itu, obyek formal itu bersifatv teknik, yang berarti bahwa cara ide-ide manusia itu mengadakan penyatuan diri dengan realita.

Filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif dan dua obyek instrumentatif, yaitu:

1. Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal :

a. Fakta (Kenyataan)

Yaitu empiris yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta (kenyataan ini ada beberapa aliran filsafat yang meberikan pengertian yang berbeda-beda, diantaranya adalah positivisme, ia hanya mengakui penghayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan yang sensual lainnya. Data empirik sensual tersebut harus obyektif tidak boleh masuk subyektifitas peneliti–. Fakta itu yang faktual ada phenomenology. Fakta bukan sekedar data empirik sensual, tetapi data yang sudah dimaknai atau diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti.

b. Kebenaran

Positivisme, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu dengan empiris sensual. Kebenaran pisitivistik didasarkan pada diketemukannya frekwensi tinggi atau variansi besar. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain phenomenology, kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial, pilah dari yang non esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema moral tertentu. Secara esensial dikenal dua teori kebenaran, yaitu teori kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi.

2. Obyek Instrumentatif,  yang terdiri dari dua hal:

a. Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut dengan menggunakan landasan: asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif.

b. Logika Inferensi

Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika dibangun oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran.

 

  1. Tujuan Belajar Filsafat Ilmu :

Belajar filsafat sangat penting karena memberikan beberapa manfaat, antara lain :

  1. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mahasiswa semakin kritis dalam sikap ilmiahnya. Mahasiswa sebagai insan kampus diharapkan untuk bersikap kritis terhadap berbagai macam teori yang dipelajarinya di ruang kuliah maupun dari sumber-sumber lainnya.
  2. Mempelajari filsafat ilmu mendatangkan kegunaan bagi para mahasiswa sebagai calon ilmuwan untuk mendalami metode ilmiah dan untuk melakukan penelitian ilmiah.
  3. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
  4. Mempelajari filsafat ilmu memiliki manfaat praktis. Setelah mahasiswa lulus dan bekerja mereka pasti berhadapan dengan berbagai masalah dalam pekerjaannya.
  5. Untuk memecahkan masalah diperlukan kemampuan berpikir kritis dalam menganalisis berbagai hal yang berhubungan dengan masalah yang dihadapi.
  6. Membiasakan diri untuk bersikap logis-rasional dalam Opini & argumentasi yang dikemukakan.
  7. Mengembangkan semangat toleransi dalam perbedaan pandangan (pluralitas). Karena para ahli filsafat tidak pernah memiliki satu pendapat, baik dalam isi, perumusan permasalahan maupun penyusunan jawabannya.
  8. Mengajarkan cara berpikir yang cermat dan tidak kenal lelah.
  9. seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami persoalan ilmiah dengan melihat ciri dan cara kerja setiap ilmu atau penelitian ilmiah dengan cermat dan kritis.
  10. seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat melakukan pencarian kebenaran ilmiah dengan tepat dan benar dalam persoalan yang berkaitan dengan ilmunya (ilmu budaya, ilmu kedokteran, ilmu teknik, ilmu keperawatan, ilmu hukum, ilmu sosial, ilmu ekonomi dan sebagainya) tetapi juga persoalan yang menyangkut seluruh kehidupan manusia, seperti: lingkungan hidup, peristiwa sejarah, kehidupan sosial politik dan sebagainya.
  11. Seseorang (peneliti, mahasiswa) dapat memahami bahwa terdapat dampak kegiatan ilmiah (penelitian) yang berupa teknologi ilmu (misalnya alat yang digunakan oleh bidang medis, teknik, komputer) dengan masyarakat yaitu berupa tanggung jawab dan implikasi etis. Contoh dampak tersebut misalnya masalah euthanasia dalam dunia kedokteran masih sangat dilematis dan problematik, penjebolan terhadap sistem sekuriti komputer, pemalsuan terhadap hak atas kekayaaan intelektual (HAKI) , plagiarisme dalam karya ilmiah.
  12. Dengan berfilsafat, seseorang akan lebih menjadi manusia, karena terus melakukan perenungan akan menganalisa hakikat jasmani dan hakikat rohani manusia dalam kehidupan di dunia agar bertindak bijaksana.
  13. Dengan berfilsafat seseorang dapat memaknai makna hakikat hidup manusia, baik dalam lingkup pribadi maupun sosial.
  14. Kebiasaan menganalisis segala sesuatu dalam hidup seperti yang diajarkan dalam metode berfilsafat, akan menjadikan seseorang cerdas, kritis, sistematis, dan objektif dalam melihat dan memecahkan beragam problema kehidupan, sehingga mampu meraiih kualitas, keunggulan dan kebahagiaan hidup.
  15. Dengan berfilsafat manusia selalu dilatih, dididik untuk berpikir secara universal, multidimensional, komprehensif, dan mendalam.
  16. Belajar filsafat akan melatih seseorang untuk mampu meningkatkan kualitas berfikir secara mandiri, mampu membangun pribadi yang berkarakter, tidak mudah terpengaruh oleh faktor eksternal, tetapi disisi lain masih mampu mengakui harkat martabat orang lain, mengakui keberagaman dan keunggulan orang lain.
  17. Belajar filsafat akan memberikan dasar-dasar semua bidang kajian pengetahuan, memberikan pandangan yang sintesis atau pemahaman atas hakikat kesatuan semua pengetahuan dan kehidupan manusia lebih dipimpin oleh pengetahuan yang baik.

 

Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode-metode ilmu khusus. Berfilsafat ialah berusaha menemukan kebenaran tentang segala sesuatu dengan menggunakan pemikiran secara serius, kemampuan berfikir serius diperlukan oleh orang biasa, penting bagi orang-orang penting yang memegang posisi penting dalam membangun dunia, Plato menghendaki kepada negara seharusnya filosof kemampuan berfikir serius itu mendalam adalah salah satu cirinya, tidak akan dimiliki tanpa melalui latihan.

            Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan berfikir serius, kemampuan ini akan memberikan kemampuan memecahkan masalah secara serius menemukan akar persoalan yang terdalam menemukan sebab terakhir suatu penampakan. Jadi, filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan ruang lingkupnya.

  1. Fungsi dan Arah Filsafat Ilmu

Berdasarkan pemahaman dasarnya, persepsi ini tidak tepat, meskipun di dalamnya terkandung manfaat. Secara khusus, filsafat merupakan perbincangan mencari hakikat sesuatu gejala atau segala hal yang ada. Artinya, filsafat merupakan landasan dari sesuatu apapun , tumpuan segala hal, jika salah tentulah berbahaya, sedikitnya akan merugikan. Apabila kehidupan berpengetahuan itu diibaratkan sebuah pohon maka filsafat adalah akarnya, yaitu bagian yang berhyubungan langsung dengan sumber kehidupan pohon itu, sedangkan batang, dahan, ranting, daun, bunga, dan buah menjadi bahan kajian ilmu pengetahuan. Filsafat ilmu berperan fundamental dalam melahirkan, memelihara, dan mengembangkan ilmu pengetahuan.

Fungsi filsafat ilmu adalah didasarkan pada pengertian filsafat sebagai suatu integrasi atau pengintegrasi sehingga dapat melakukan fungsi integrasi ilmu pengetahuan. Sebagian besar orang hanya menyangkutkan apa yang paling dekat dan apa yang paling dibutuhkannya pada saat dan tempat tertentu.

  1. Fungsi Filsafat Ilmu Dalam Kehidupan Praktis :
  1. Filsafat memang abstrak, namun tidak berarti filsafat sama sekali tidak bersangkut paut dengan kehidupan sehari-hari yang kongkret. Keabstrakan filsafat tidak berarti bahwa filsafat itu tak memiliki hubungan apa pun juga dengan kehidupan nyata setiap hari.
  2. Filsafat ilmu menggiring manusia kepengertian yang terang dan pemahaman yang jelas. Kemudian, filsafat itu juga menuntun manusia ketindakan dan perbuatan yang konkret berdasarkan pengertian yang terang dan pemahaman yang jelas.
  3. Filsafat ilmu membantu kita mengerti tentang diri kita sendiri dan dunia kita, karena filsafat mengajarkan bagaimana kita bergulat dengan pertanyaan-pertanyaan mendasar.
  4. Filsafat ilmu merupakan salah satu cabang dari filsafat. Oleh karena itu, fungsi filsafat ilmu kiranya tidak bisa dilepaskan dari fungsi filsafat secara keseluruhan, yakni :
  5. Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
  6. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
  7. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
  8. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
  9. Filsafat ilmu berfungsi untuk menjelaskan keberadaan manusia di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan alat untuk membuat hidup menjadi lebih baik.
  10. Filsafat ilmu memberikan kebiasaan dan kebijaksanaan untuk memandang dan memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahannya.
  11. Filsafat ilmu mengajak untuk berpikir secara radikal, holistik dan sistematis, hingga kita tidak hanya ikut-ikutan saja, mengikuti pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.

 

Sedangkan Ismaun (2001) mengemukakan fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Selanjutnya dikatakan pula, bahwa filsafat ilmu tumbuh dalam dua fungsi, yaitu: sebagai confirmatory theories yaitu berupaya mendekripsikan relasi normatif antara hipotesis dengan evidensi dan theory of explanation yakni berupaya menjelaskan berbagai fenomena kecil ataupun besar secara sederhana.

  1. Arah Filsafat Ilmu

Arah-arah Filsafat Ilmu sangat berkaitan erat bahkan dapat dikatakan terpusat pada konsep tentang manusia. Oleh karena itu arah filsafat ilmu secara potensial turut mendorong berkembangnya pemikiran tentang hakikat manusia sehingga menghasilkan perbaikan-perbaikan validitas dan signifikansi konsep Filsafat Ilmu. Hal ini mengandung arti turut mendorong berkembangnya filsafat tentang manusia atau antropologi filsafat.Sehubungan dengan ini lahirlah arah dan konsep tentang hakikat manusia sebagai : animal rasionale, animal sociale, animal symbolicum, homo sapiens, homo economicus, homo homini lupus, homo ludens dan sebagainya.

Berbagai arah filsafat ilmu tersebut di atas, memberikan dampak terciptanya konsep-konsep atau teori-teori ilmu yang beragam. Masing-masing konsep akan mendukung filsafat ilmu tersebut. Dalam membangun teori-teori pendidikan, filsafat ilmu juga mengingatkan agar teori-teori itu diwujudkan diatas kebenaran berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Dengan kata lain, teori-teori pendidikan harus disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah.

 

  1. Hubungan antara Filsafat dan Ilmu

Pada dasarnya filsafat ilmu bertugas memberi landasan filosofi untuk minimal memahami berbagai konsep dan teori suatu disiplin ilmu, sampai membekalkan kemampuan untuk membangun teori ilmiah. Secara substantif fungsi pengembangan tersebut memperoleh pembekalan dan disiplin ilmu masing-masing agar dapat menampilkan teori subtantif. Selanjutnya secara teknis dihadapkan dengan bentuk metodologi, pengembangan ilmu dapat mengoprasionalkan pengembangan konsep tesis, dan teori ilmiah dari disiplin ilmu masing-masing.

Sedangkan kajiaan yang dibahas dalam filsafat ilmu adalah meliputi hakekat (esensi) pengetahuan, artinya filsafat ilmu lebih menaruh perhatian terhadap problem-problem mendasar ilmu pengetahuan seperti; ontologi ilmu, epistimologi ilmu dan aksiologi ilmu. Dari ketiga landasan tersebut bila dikaitkan dengan Islamisasi ilmu pengetahuan maka letak filsafat ilmu itu terletak pada ontologi dan epistimologinya. Ontologi disini titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang didasarkan atas sikap dan pendirian filosofis yang dimiliki seorang ilmuwan, jadi landasan ontologi ilmu pengetahuan sangat tergantung pada cara pandang ilmuwan terhadap realitas.

Manakala realitas yang dimaksud adalah materi, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu empiris. Manakala realitas yang dimaksud adalah spirit atau roh, maka lebih terarah pada ilmu-ilmu humanoria. Sedangkan epistimologi titik tolaknya pada penelaahan ilmu pengetahuan yang di dasarkan atas cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

1.         Kesimpulan

Walaupun definisi filsafat menurut beberapa ahli berbeda-beda, tetapi secara umum bisa dikatakan bahwa inti dari filsafat adalah upaya secara sungguh-sungguh dengan menggunakan akal pikiran-sebagai alat utamanya-untuk menemukan hakekat segala sesuatu yang berhubungan dengan ilmu. Filsafat ilmu merupakan kajian secara mendalam tentang dasar-dasar ilmu, sehingga filsafat ilmu bisa menjawab pertanyaan landasan ontologi, pertanyaan landasan epistemologis dan pertanyaan landasan aksiologis.

Ilmu adalah sebagian pengetahuan yang mempunyai ciri, tanda, syarat tertentu, yaitu sistematik, rasional, empiris, universal, objektif, dapat diukur, terbuka, dan kumulatif (bersusun tumbun). Fungsi filsafat ilmu adalah untuk memberikan landasan filosofik dalam memahami berbagi konsep dan teori sesuatu disiplin ilmu dan membekali kemampuan untuk membangun teori ilmiah.

Tujuan Belajar filsafat merupakan salah satu bentuk latihan untuk memperoleh kemampuan berfikir serius, kemampuan ini akan memberikan kemampuan memecahkan masalah secara serius menemukan akar persoalan yang terdalam menemukan sebab terakhir suatu penampakan. Jadi, filsafat membantu untuk mendalami pertanyaan asasi manusia tentang makna realitas dan ruang lingkupnya. Pada umumnya dapat dikatakan bahwa dengan belajar filsafat semakin menjadikan orang mampu untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode-metode ilmu khusus. Arah filsafat ilmu memberikan dampak terciptanya konsep-konsep atau teori-teori ilmu yang beragam. Masing-masing konsep akan mendukung filsafat ilmu tersebut.

2.         Saran

            Sebagai mahasiswa sebaiknya kita bisa memahami makna filsafat dengan baik, menerapkan filsafat dalam kegiatan sehari – hari agar kita bisa menjadi orang yang bijak dan bisa memecahkan masalah yang ada secara tepat. Untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan mendasar manusia yang tidak terletak dalam wewenang metode-metode ilmu khusus kita membutuhkan filsafat. Dengan menggunakan filsafat kita dapat embangun konsep dan teori ilmiah dengan tepat. Jadi mempelajari filsafat secara mendalam akan memberikan manfaat yang sangat besar untuk mahasiswa pada khususnya dan semua manusia pada umumnya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://sondis.blogspot.com/2013/04/tujuan-dan-kegunaan-mempelajari.html

http://daniarningtiyas.blogspot.com/2012/12/kegunaan-atau-manfaat-mempelajari.html

Jujun S. Sumantri. 2003. Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Abdulhak, Ishak. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Salam, Burhanuddin. 1993. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta : Rineka Cipta.

Adib, Mohammad. 2009. Filsafat Ilmu Ontologi, Epistimologi, Aksiologi, dan Logika Ilmu Pengetahuan. Yogyakarta : Pustaka Pelajar.

 

_________

Disusun Oleh:

Tifo Yezzelina Muslimah

STKIP PGRI Pacitan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s