Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran umat manusia yang menjadi lebih berfikir. Perubahan pola pikir tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang berkaitan dengan makro kosmos maupun mikro kosmos. Jadi filsafat itu dasarnya ilmu penngetahuan semua pelajaran pasti memerlukan yang namanya filsafat maka dari itu filsafat menjadi penting untuk dipelajari lebih luas lagi ,karena apa ilmu filsafat ini mampu merubbah pemikiran manusia yang semula pemikirannya sempit menjadi luas dan tidak hanya memandang satu sisi saja. Dari sinilah lahir ilmu-ilmu pengetahuan yang selanjutnya berkembang menjadi lebih terspesialisasi dalam bentuk yang lebih kecil dan sekaligus semakin aplikatif dan terasa manfaatnya. Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan aksiologi. Filsafat menurut banyak tokoh filsafat itu adalah hakekatnya ilmu, dasarnya ilmu,suatu pemikiran yang komplek.Dalam pokok bahasan ini akan diuraika pengertian dan ruang lingkup filsafat ilmu

 

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Filsafat

Filsafat berasal dari beberapa bahasa, yaitu Bahasa Inggris dan Yunani. Filsafat dalam Bahasa Inggris, yaitu philosophy, sedangkan dalam Bahasa Yunani filsafat merupakan gabungan dua kata yaitu philen yang berarti cinta philos yang berati mencintai,menghormati, menikmati, dan shopia atau sofein yang artinya kenikmatan, kebenaran,kebaikan, kebijakan, atau kejernihan. Secara etimologi, berfilsafat atau filsafat berati mencintai, menikmati kebijaksanaan atau kebenaran.(Sutardjo: 2007,10)

Menurut catatan sejarah, kata ini pertama kali di gunakan oleh pythagoras, seorang filosof Yunani yang hidup pada 582-496 SM. Cicero (106-43 SM), seseorang penulis Romawi terkenal pada zamannya yang sebagian karyanya masih dibaca pada zaman sekarang, mencatat bahwa kata “filsafat” dipakai pythagoras sebagai reaksi terhadap kaum cendikiawan pada masanya yang menamakan dirinya ‘ahli pengetahuan’. Pythagoras menyatakan bahwa pegetahuan itu begitu luas dan terus berkembang. Tiada seorangpun yang mungkin mencapai ujungnya apalagi menguasainya. Jadi jangan sombong menjuluki diri kita ‘ahli’ dan ‘menguasai’ ilmu pengetahuan, apalagi kebijaksanaan. Paling tinggi kita ini, kata Pythagoras, yang banyak menyusun dan menemukan rumus-rumus ilmu yang jitu dan diakui hingga zaman modern, adalah pencari dan pencinta pengetahuan dan kebijaksanaan yakni filosofis

Jelas sekarang dalam konteks bagaimana kata ini pertama kali muncul . Apa yang dimaksudkan Pythagoras. Walaupun bagaimanapun, diabaikan dan diselewengkan oleh banyak pihak terutama oleh kaum ‘sophist’ (seakan merekalah yang paling tahu dan bijaksana) yang mempergunakan kefasihan bahasa dan kelihaian bersilat lidah untuk menyakinkan masyarakat dan merebut pengaruh atau bahkan memprovokasi massa untuk berbuat demi kepentingan si provokator.

Pengertian filsafat secara terminologi sangat beragam,baik dalam ungkapan maupun titik tekanannya. Bahkan, Moh.hatta dan langeveld mengatakan bahwa definisi filsafat tidak perlu diberikan karena setiap orang memiliki titik tekan sendiri dalam definisinya. Oleh karena itu, biarkan saja seseorang meneliti filsafat terlebih dahulu kemudian menyimpulkan sendiri.

Pengertian menurut para ahli tentang filsafat sebagai berikut:

Plato (427-347 SM) mengatakan bahwa objek filsafat adalah penemuan kenyataan atau kebenaran absolut ( keduanya sama dalam pandangannya).

Aristoteles (384-332 SM), tokoh utama filosof klasik, mengatakan bahwa filsafat menyelidiki sebab dan asas segala terdalam dari wujud. Karena itu, ia menamakan filsafat dengan “teologi” atau “filsafat pertama”. Aristoteles sampai pada kesimpulan bahwa setiap gerak di alam ini di gerakkan oleh yang lain. Karena itu, perlu menetapkan satu penggerak pertama yang menyebabkan gerak itu, sedangkan dirinya sendiri tidak bergerak.

Ibnu Rusyd (1126-1198 M), berpendapat bahwa filsafat atau hikmah merupakan “otonom” yang perlu dikaji oleh manusia karena dikaruniai akal. Al-quran filsafat mewajibkan manusia berfilsafat untuk menambah dan memperkuat keimanan kepada Tuhan.

Immanuel Kant (1724-1804 M), mengatakan bahwa filsafat itu ilmu dasar segala pengetahuan.

H.Hamersama sebagai pengetahuan metodis, sistematis, dan Koheren (bertalian) tentang seluruh kenyataan.

Harun Nasution mengatakan bahwa filsafat adalah berfikir menurut tata tertib (logika) dengan bebas (tidak terikat pada tradisi, dogma, dan agama) dan dengan sedalam-dalamnya, sehingga sampai ke dasar-dasar persoalan.

Sidi Gazalba filsafat adalah berfikir secara mendalam, sistematik, radikal, dan universal dalam rangka mencari kebenaran, inti atau hakikat mengenai segala sesuatu yang ada.

Hasbullah Bakri merumuskan filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam, semesta alam, dan manusia sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hekekat ilmu filsafat dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana seharusnya sikap manusia setelah mencapai pengetahuan itu. Filsafat adalah hasil pemikiran dan  perenungan secara mendalam  tentang sesuatu sampai keakar-akarnya. Sesuatu disini dapat berarti terbatas dan dapat pula berarti tidak terbatas. Bila berarti terbatas, filsafat membatasi diri akan hal tertentu saja. Bila berarti tidak terbatas, filsafat membahas segala sesuatu yang ada dialam ini yang sering dikatakan filsafat umum. Sementara itu filsafat yang terbatas adalah filsafat ilmu, filsafat pendidikan, filsafat seni dan lain-lainnya.

Filsafat menurut para ahli secara umum adalah pandangan hidup seseorang atau sekelompok orang yang merupakan konsep dasar mengenai kehidupan yang dicita-citakan. Filsafat juga diartikan sebagai suatu sikap seseorang yang sadar dan dewasa dalam memikirkan segala sesuatu secara mendalam dan ingin melihat dari segi yang luas dan menyeluruh dengan segala hubungan. Filsafat tidak didalami dengan melakukan eksperimen dan percobaan tetapi dengan mengutarakan masalah secara persis, mencari solusi untuk itu, serta memberikan argumentasi dan alasan yang tepat untuk solusi itu. Seiring dengan bermunculannya filsuf, definisi mengenai filsafat ilmu juga semakin beragam, sehingga saat ini terdapat beberapa perbedaan dalam mendefinisikan filsafat ilmu.

  1. Pengertian Filsafat Ilmu

            Filsafat ilmu dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:

a)      Filsafat ilmu dalam arti luas: menampung permasalahan yang menyangkut hubungan keluar dari kegiatan ilmiah, seperti: tata susila yang menjadi pegangan penyelenggara ilmu.

b)      Filsafat ilmu dalam arti sempit: menampung permasalahan yang bersangkutan dengan hubungan ke dalam yang terdapat di dalam ilmu, yaitu yang menyangkut sifat pengetahuan ilmiah, dan cara-cara mengusahakan serta mencapai pengetahuan ilmiah

Pengertian Filsafat Ilmu menurut beberapa ahli :

Robert Ackerman filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.

Lewis White Beck, memberi pengertian bahwa filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.

A. Cornelius Benjamin (dalam The Liang Gie, 19 : 58) memandang filsafat ilmu sebagai berikut. ”That philosophic discipline which isthe systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual disciplines.” Filsafat ilmu, menurut Benjamin, merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metode, konsep-konsep, dan pra anggapan-pra anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual. Jadi, filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.

Michael V. Berry berpendapat bahwa filsafat ilmu adalah penelaahan tentang logika interen dari teori-teori ilmiah dan hubungan-hubungan antara percobaan dan teori, yakni tentang metode ilmiah.

May Brodbeck filsafat ilmu adalah analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.

Peter Caws Filsafat ilmu merupakan suatu bagian filsafat, yang mencoba berbuat bagi ilmu apa yang filsafat seumumnya melakukan pada seluruh pengalaman manusia. Filsafat melakukan dua macam hal : di satu pihak, ini membangun teori-teori tentang manusia dan alam semesta, dan menyajikannya sebagai landasan-landasan bagi keyakinan dan tindakan; di lain pihak, filsafat memeriksa secara kritis segala hal yang dapat disajikan sebagai suatu landasan bagi keyakinan atau tindakan, termasuk teori-teorinya sendiri, dengan harapan pada penghapusan kesalahan.

Stephen R.Toulmin mengemukakan bahawa sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari tinjauan logika formal,metodologi dan metafisika.

Jujun Suriasumantri memandang filsafat ilmu sebagai bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakikat ilmu sebagai berikut. Kelompok pertanyaan pertama antara lain sebagai berikut ini. Objek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangap manusia ? Kelompok pertanyaan kedua : Bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan Filsafat Imu agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang dimaksud dengan kebenaran ? Dan seterusnya. Dan terakhir, kelompok pertanyaan ketiga : Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu ? Bagaimana kaitan antara cara menggunakan ilmu dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Dan seterusnya.

Conny Semiawan menyatakan bahwa filsafat ilmu pada dasarnya adalah ilmu yang berbicara tentang ilmu pengetahuan (science of sciences) yang kedudukannya di atas ilmu lainnya.

Untuk mendapatkan gambaran singkat tentang pengertian filsafat ilmu dapat dirangkum tiga telaah yang tercakup di dalam filsafat ilmu, yaitu:

1) Filsafat ilmu adalah telaah kritis terhadap metode yang digunakan oleh ilmu tertentu, terhadap lambang yang digunakan dan terhadap struktur penalaran tentang sistem lambang yang digunakan. Telaah kritis ini dapat diarahkan untuk mengkaji ilmu empiris dan ilmu rasional, juga untuk membahas studi bidang etika dan estetika, studi kesejarahan, antropologi, dll.

2) Filsafat ilmu adalah upaya untuk mencari kejelasan mengenai dasar-dasar konsep, sangka wacana dan postulat mengenai ilmu dan upaya untuk membuka tabir dasar-dasar keempirisan, kerasionalan dan kepragmatisan.

3) Filsafat ilmu adalah studi gabungan yang terdiri atas beberapa studi yang beraneka macam yang ditujukan untuk menetapkan batas yang tegas mengenai ilmu tertentu.

  1. Ciri-ciri Filsafat

Dari begitu banyak definisi yang dikutip dan uraian yang dipaparkan, apakah ciri utama filsafat yang tetap hadir? Ciri itu adalah bahwa filsafat adalah upaya manusia untuk mendapatkan hakekat segala sesuatu. Apakah setiap upaya manusia menjawab persoalan hidup dapat dikatakan berfilsafat? Tentu saja tidak.

Ada lima ciri utama hingga upaya itu dapat dikatakan filsafat, yaitu:

  1. Wacana atau argumentasi menandakan bahwa filsafat memiliki ciri kegiatan berupaya pembicaraan yang mengandalkan pada pemikiran, rasio, tanpa verifikasi uji empiris.
  2. Segala hal atau sarwa sekalian alam. Artinya apa yang dibicarakan yang merupakan materi filsafat adalah segala hal menyangkut keseluruhan sehingga disebut perbincangan universal. Tidak ada yang tidak dibicarakan oleh filsafat. Ada atau tidak ada permasalahan, filsafat merupakan bagian dari perbincangan. Hal ini jelas berbeda dengan ilmu pengetahuan yang membicarakan suatu lingkup permasalahan, misalnya zoologi yang hanya membicarakan wujud binatang, tetapi lengkap dengan ukurannya. Sebagia orang berpendapat, bahwa ciri segala sesuatu ini merupakan inti dari filsafat sehingga filsafat bersifat universal.
  3. Sistematis artinya perbincangan mengenai segala sesuatu dilakukan secara teratur enurut sistem yang berlaku sehingga   tahapan-tahapan mudah diikuti. Dengan demikian, perbincangan tersebut ttepat dan tidak dapat diikuti dan diuji oleh orang lain, meskipun pada akhirnya hanya ada satu pengertian mengenai sesuatu hal.

4.     Radikal artinya sammpai ke akar-akarnya,sampai pada konsekuensinya yang terakhir, radiks artinya akar, juga disebut arche.Hal ini merupakan ciri khas berfikir filsafat. Hal ini jelas berbeda dengan ilmu pengetahuan yang bertitik tolak asumsi yang sering disebut keyakinan filsafat (philosophical belief). Pengertian sampai ke akar-akarnya, bahwa asumsi tersebut tidak hanya dibicarakan, tetapi digunakan. Ilmu pengertian menggunakan asumsi, tetapi filsafat membangun atau

  1. Hakekat merupakan istilah yang menjadi ciri khas filsafat. Hakikat adalah pemahaman atau hal yang paling mendasar. Jadi, filsafat tidak berbicara tentang wujud atau suatu materi, seperti ilmu pengetahuan, tetapi berbicara makna yang ada dibelakangnya. Dalam filsafat, hakikat seperti ini merupakan akibat dari berpikir secara radikal.

 

  1. Objek Material dan Objek Formal

Obyek filsafat ilmu dibedakan atas obyek material dan obyek formal. Yang dimaksudkan dengan obyek material filsafat ilmu ialah sesuatu atau obyek yang diselidiki, dipelajari, dan diamati. Atau segala sesuatu yang ada, yang meliputi: ada dalam kenyataan, ada dalam pikiran, dan yang ada dalam kemungkinan. Obyek material adalah apa yang dipelajari dan dikupas sebagai bahan pembicaraan atau penelitian. Dalam gejala ini jelas ada tiga hal menonjol, yaitu manusia, dunia, dan akhirat.

Sedangkan obyek formal filsafat ilmu ialah sudut pandang dalam penyelidikan atau pengamatan. Atau hakikat dari segala sesuatu yang ada. Obyek formal adalah cara pendekatan yang dipakai atas obyek material, yang sedemikian khas sehingga mencirikan atau mengkhususkan bidang kegiatan yang bersangkutan. Jika cara pendekatan itu logis, konsisten dan efisien, maka dihasilkanlah sistem filsafat.

Yang membedakan antara objek formal dan objek material ialah objek formal, tidak terbatas pada apa yang mampu di inderawi saja, melainkan seluruh hakikat sesuatu, baik yang nyata maupun yg abstrak. Sedangkan objek materialnya ialah yang memungkinkan diambilnya pengetahuan yang benar dengan cara/teknik  atau sarana yang membantu dalam mendapatkan pengetahuan yang benar itu.

Sebuah ilmu dibedakan dari ilmu lain karena obyek formalnya. Dengan perkataan lain, dari sudut obyek material, beberapa ilmu mempunyai kesamaan, tapi berdasarkan obyek formal, ilmu-ilmu itu berbeda. Untuk lebih jelasnya akan diuraikan berikut ini.

1)    Objek material filsafat ilmu adalah pengetahuan ilmiah atau ilmu. Obyek material filsafat ilmu sama dengan obyek material beberapa ilmu lain seperti sejarah ilmu, psikologi ilmu, atau sosiologi ilmu. Semuanya mempelajari ilmu-ilmu. Misalnya, psikologi ilmu adalah cabang psikologi yang memberikan penjelasan tentang proses-proses psikologis yang menunjang ilmu. Hasil penelitian bidang ini dapat merumuskan pentingnya faktor psikologis pada kreativitas proses penyusunan hipotesis ilmiah. Demikian juga unsur psikologis dalam persepsi, khususnya persepsi pada observasi ilmiah.

2)    Objek formal filsafat ilmu adalah ilmu atas dasar tinjauan filosofis, yaitu secara ontologis, epistemologis, dan aksiologis. Obyek formal Filsafat Ilmu ialah asal usul, struktur, metode, dan validitas ilmu. Dalam kaitan dengan ini, C.A. van Peursen menyebutkan adanya dua kecenderungan dalam filsafat ilmu, yakni tendensi metafisik dan metodologik.

  1. Ruang lingkup filsafat ilmu

filsafat ilmu telah berkembang pesat sehingga menjadi suatu bidang pengetahuan yang amat luas dan sangat mendalam. Beberapa filusuf memberikan pendapatnya tentang ruang lingkup filsafat ilmu. Diantara filusuf-filusuf tersebut adalah:

  1. Pater Anggeles

Sebagaimana dikutip Liang Gie, Pater Anggeles membagi empat konsentrasi utama dalam filsafat ilmu :

  1. Telaah mengenai beberapa konsep, pra anggapan, dan metode ilmu, berikut analisis, perluasan dan penyusunannya untuk mendatakan pengetahuan.
  2. Telaah dan pembenaran mengenai proses penalaran dalam ilmu berikut struktur perlambangannya.
  3. Telaah mengenai saling keterkaitan antara berbagai macam ilmu.
  4. Telaah mengenai berbagai akibat pengetahuan ilmiah bagi hal-hal yang berkaitan dengan penyerapan dan pemahaman manusia terhadap realitas, hubungan logika dan matematika dengan realitas, entitas teoristis, sumber dan keabsahan pengetahuan, serta sifat dasar manusia.
  5. Cornelius Benjamin

Dalam pandangannya, pokok-pokok asal filsafat ilmu dibagi dalam tiga bidang, meliputi:

  1. Telaah mengenai metode ilmu,lambang ilmiah, dan struktur logis dari system berlambang ilmiah. Telaah ini banyak menyangkut logika dan teori pengetahuan, dan teori umum tentang tanda.
  2. Penjelasan mengenai konsep dasar, pra anggapan dan pangkal pendirian ilmu, berikut landasan-landasann empiris, rasional dan ragmatis yang menjadi tempat tumpuannya.
  3. Aneka telaah mengenai saling keterkaitan diantara berbagai ilmu dan implikasinya bagi suatu teorialam semesta seperti idealisme, materialisme, monisme, dan pluralisme.
  4. Arthur Danto

Menyimpulkan bahwa lingkupan filsafat ilmu mencakup sebagai berikut:

  1. Persoalan-persoalan konsep yang memiliki kaitan erat dengan ilmu itu sendiri sehingga pemecahannya dapat seketika dipandang sebagai ilmu dari pada filsafat.
  2. Persoalan-persoalan umum dengan pertalian umum yang filsafati sehingga pemecahannya merupakan suatu sumbangan kepada metafisika atau epistimologi seperti kepada filsafat ilmu yang sesungguhnya.
  3. Israel Scheffier

Filasafat ilmu yang mencari pengetahuan umum tentang ilmu atau dunia sebagaimana ditunjukkan oleh ilmu, cakupannya ada tiga bidang, yaitu:

  1. Peran ilmu dalam masyarakat,yang menelaah hubungan-hubungan antara faktor-faktor kemasyrakatan dan ide-ide ilmiah.
  2. Dunia sebagaimana digambarkan oleh ilmu, berusaha melukiskan asal mula dan struktur alam semesta menurut teori-teori yang terbaik dan penemuan-penemuan dalam kosmologi.
  3. Landasan-landasan ilmu, menyelidiki metode umum,bentuk logis, cara penyimpulan, dan konsep dasar ilmu-ilmu.
  4. Ensiklopedia Britanica

Merangkum tentang cakupan filsafat ilmu sebagai berikut:

  1. Sifat dasar dan lingkup filsafat ilmu dan hubungannya dengan cabang ilmu lain, aneka ragam soal dan metode-metode hampiran terhadap filsafat ilmu.
  2. Berdasarkan sisi histori.
  3. Unsur-unsur sisi ilmiah.
  1. Gerakan-gerakan pemikiran ilmiah, meliputi penemuan ilmiah, pembuktian keabsahan dan pembenaran dari konsep dan teori baru, dan penyatuan teori-teori dan konsep-konsep ilmu yang terpisah.
  2. Kedudukan filsafat dari teori ilmiah, yang terdiri dari: kedudukan proporsi ilmiah dan konsep entitas, hubungan antara anlisis filsafati dan praktek ilmiah.
  3. Pentingnya pengetahuan ilmiah bagi bidang-bidang lain dari pengalaman dan soal manusia.
  4. Edward Maden

Filsuf ini berpendapat bahwa apapun lingkupan filsafat umum, tiga bidang tentu merupakan bahan perbincangan, yaitu:

  1. Probabilitas
  2. Induksi
  3. Hipotesis

Berdasarkan perkembangan filsafat ilmu sampai saat ini, filsuf pengamat John Losee menyimpulkan bahwa filsafat ilmu dapat digolongkan menjadi empat konsepsi, yaitu:

  1. Filsafat ilmu yang berusaha menyusun pendangan-pandangan dunia yang sesui atau berdasarkan teori-teori ilmiah yang penting.
  2. Filsafat ilmu yang berusaha memaparkan pranggapan dan kecenderungan para ilmuwan. (misalnya praanggapan bahwa alam semesta mempunyai keteraturan)
  3. Filsafat ilmu sebagai suatu cabang pengetahuan yang menganalisis dan menerapakan konsep dan teori dari ilmu.
  4. Filsafat ilmu sebagai pengetahuan kritis derajat kedua yang menelaah tentang ilmu sebagai sasarannya.

Bidang garapan Filsafat Ilmu terutama diarahkan pada komponen‑komponen yang menjadi tiang penyangga bagi eksistensi ilmu, yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi.

Ontologi ilmu  meliputi apa hakikat ilmu itu, apa hakikat kebenaran dan kenyataan yang inheren dengan pengetahuan ilmiah, yang tidak terlepas dari persepsi filsafat tentang apa dan bagai­mana (yang) “Ada” itu (being Sein, het zijn). Paham monisme yang terpecah menjadi idealisme atau spiritualisme, Paham dua­lisme, pluralisme dengan berbagai nuansanya, merupakan paham ontologik yang pada akhimya menentukan pendapat bahkan ke­yakinan kita masing‑masing mengenai apa dan bagaimana (yang) ada sebagaimana manifestasi kebenaran yang kita cari.

Epistemologi ilmu meliputi sumber, sarana, dan tatacara mengunakan sarana tersebut untuk mencapai pengetahuan (ilmiah). Perbedaan mengenal pilihan landasan ontologik akan dengan sendirinya mengakibatkan perbedaan dalam menentukan sarana yang akan kita pilih. Akal (Verstand),akal budi (Vernunft) pengalaman, atau komunikasi antara akal dan pengalaman, intuisi, merupakan sarana yang dimaksud dalam epistemologik, sehingga dikenal adanya model‑model epistemologik seperti: rasionalisme, empirisme, kritisisme atau rasionalisme kritis, positivisme, feno­menologi dengan berbagai variasinya. Ditunjukkan pula bagai­mana kelebihan dan kelemahan sesuatu model epistemologik be­serta tolok ukurnya bagi pengetahuan (ilmiah) itu seped teori ko­herensi, korespondesi, pragmatis, dan teori intersubjektif.

Aksiologi llmu meliputi nilal‑nilal (values) yang bersifat normatif dalam pemberian makna terhadap kebenaran atau ke­nyataan sebagaimana kita jumpai dalam kehidupan kita yang menjelajahi berbagai kawasan, seperti kawasan sosial, kawasan simbolik atau pun fisik‑material. Lebih dari itu nilai‑nilai juga ditunjukkan oleh aksiologi ini sebagai suatu conditio sine qua non yang wajib dipatuhi dalam kegiatan kita, baik dalam melakukan penelitian maupun di dalam menerapkan ilmu.

  1. Tujuan filsafat ilmu

Tujuan filsafat ilmu sebagai berikut:

  1. Mendalami unsur-unsur pokok ilmu, sehingga secara menyeluruh kita dapat memahami sumber, hakikat dan tujuan ilmu.
  2. Memahami sejarah pertumbuhan, perkembangan, dan kemajuan ilmmu dii berbagai bidang, sehingga kita mendapat gambaran tentang proses ilmu kontemporer secara historis.
  3. Menjadi pedoman bagi para dosen dan mahasiswa dalam mendalami studi di perguruan tinggi, terutama untuk membedakan persoalan yang ilmiah dan nonilmiah.
  4. Mendorong pada calon ilmuwan dan ilmu untuk konsisten dalam mendalami illmu dan mengembangkannya.
  5. Mempertegas bahwa dalam persoalan sumber dan tujuan antara lmu dan agama tidak ada pertentangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. Kesimpulan

Filsafat merupakan pengetahuan tentang asas-asas pikiran dan perilaku dan merupakan ilmu untuk mencari kebenaran dan prinsip-prinsip dengan menggunakan kekuatan akal, pandangan hidup (yang dimiliki oleh setiap orang), ajaran hukum dan perilaku serta kata-kata arif yang bersifat didaktis (mengandung pendidikan).Filsafat ini adalah ilmu penetahuan yang menjelaskan akar-akarnya dan juga menentukan kebenara juga mebuat masyarakat lebbih brfikir radika,sistematis dan universal.

Ilmu merupakan pengetahuan yang digumuli sejak sekolah dasar pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi, berfilsafat tentang ilmu berarti terus terang kepada diri sendiri. Ilmu membatasi lingkup penjelajahannya pada batas pengalaman manusia juga disebabkan metode yang digunakan dalam menyusun yang telah teruji kebenarannya secara empiris.

Jadi, konsep dasar filsafat ilmu adalah kedudukan, fokus, cakupan, tujuan dan fungsi serta kaitannya dengan implementasi kehidupan sehari-hari. Berikutnya dibahas pula tentang karakteristik filsafat, ilmu dan pendidikan serta jalinan fungsional antara ilmu, filsafat dan agama. Pembahasan filsafat ilmu juga mencakup sistematika, permasalahan, keragaman pendekatan dan paradigma (pola pikir) dalam pengkajian dan pengembangan ilmu dan dimensi ontologis, epistomologis dan aksiologis. Selanjutnya dikaji mengenai makna, implikasi dan implementasi filsafat ilmu sebagai landasan dalam rangka pengembangan keilmuan dan kependidikan dengan penggunaan alternatif metodologi penelitian, baik pendekatan kuantitatif dan kualitatif, maupun perpaduan kedua-duanya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Baktiyar, Amsal. 2007. Filsafat ilmu. Jakarta: Rajawali Pers

http://sang-pemikir.blogspot.com/2008/12/objek-material-dan-objek-formal.html

Jerome R. Ravertz.2004. Filsafat Ilmu Sejarah & Ruang Lingkup Bahasan, Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Taat Putra Suhartono.2010. Filsafat Ilmu.Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Tafsir Ahmad.2007. Filsafat Umum, bandung PT. Remaja Rasda Karya

 

 

 

Disusun Oleh:

NAMA: DITA INDRIAS TUTIK

KELAS PBI B

SEMESTER II/ IV

TUGAS INDIVIDU KE 2

Tugas iniMakalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2012/2013 dengan dosen pengampu Afid

Burhanuddin, M.Pd.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s