Pengertian dan Ruang Lingkup Filsafat Ilmu

Konsep dasar filsafat ilmu adalah cakupan, tujuan,focus, kedudukan serta fungsi yang kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Pembahasan filsafat ilmu juga mencakup sistematika, permasalahan serta keragaman pendekatan paradigma dalam pengkajian dan pengembangan ilmu dan dimensi ontologis, epistomologis dan aksiologis. Selanjutnya dikaji mengenai makna, implikasi dan implementasi filsafat ilmu sebagai landasan dalam rangka pengembangan keilmuan dan kependidikan dengan penggunaan alternatif metodologi penelitian, baik pendekatan kuantitatif dan kualitatif, maupun perpaduan kedua-duanya. Seorang filsuf adalah seorang cendekiawan yang berusaha menemukan penyelesaian tentang masalah tersebut mengenai tentang filsafat ilmu tersebut. . Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu menurut Jujun Suriasumantri merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah). Filsafat dan ilmu pada dasarnya adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat. Filsafat telah merubah pola pemikiran bangsa Yunani dan umat manusia dari pandangan mitosentris menjadi logosentris. Perubahan pola pikir tersebut membawa perubahan yang cukup besar dengan ditemukannya hukum-hukum alam dan teori-teori ilmiah yang menjelaskan bagaimana perubahan-perubahan itu terjadi, baik yang berkaitan dengan makro kosmos maupun mikrokosmos.

Dalam pokok bahasan ini akan diuraikan mengenai: a.) pengertian filsafat ilmu, b.) objek kajian filsafat, c.)Tujuan mempelajari filsafat ilmu, d.)fungsi dan arah mempelajari filsafat ilmu , e.)metode-metode filsafat ilmu

 

  1. PEMBAHASAN
  2. Pengerian Filsafat Ilmu

Kata filsafat bisa ditinjau dari dua segi, semantik dan praktis. Segi semantik perkataan filsafat berasal dari kata Arab falsafah, yang berasal dari bahasa Yunani, philosophia yang berarti philos yang berarti cinta, suka (loving) dan Sophia yang artinya pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi philosopia berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafah akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut philosopher dalam bahasa Arab disebut failasuf. Dari segi praktis filsafat berarti alam pikiran atau alam berfikir. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir berarti berfilsafat. Berfilsafat maknanya berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh.

Pengertian Filsafat Ilmu menurut beberapa ahli :

  1. Robert Ackerman filsafat ilmu dalam suatu segi adalah suatu tinjauan kritis tentang pendapat-pendapat ilmiah dewasa ini dengan perbandingan terhadap kriteria-kriteria yang dikembangkan dari pendapat-pendapat demikian itu, tetapi filsafat ilmu jelas bukan suatu kemandirian cabang ilmu dari praktek ilmiah secara aktual.
  2. May Brodbeck filsafat ilmu adalah analisis yang netral secara etis dan filsafati, pelukisan dan penjelasan mengenai landasan – landasan ilmu.
  3. Lewis White Beck, memberi pengertian bahwa filsafat ilmu membahas dan mengevaluasi metode-metode pemikiran ilmiah serta mencoba menemukan dan pentingnya upaya ilmiah sebagai suatu keseluruhan.
  4. Jujun Suriasumantri memandang filsafat ilmu sebagai bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang ingin menjawab tiga kelompok pertanyaan mengenai hakikat ilmu sebagai berikut. Kelompok pertanyaan pertama antara lain sebagai berikut ini. Objek apa yang ditelaah ilmu ? Bagaimana wujud hakiki dari objek tersebut? Bagaimana hubungan antara objek tadi dengan daya tangap manusia ? Kelompok pertanyaan kedua : Bagaimana proses yang memungkinkan diperolehnya pengetahuan yang berupa ilmu ? Bagaimana prosedurnya ? Hal-hal apa yang harus diperhatikan Filsafat Imu agar kita mendapatkan pengetahuan yang benar ? Apa yang dimaksud dengan kebenaran ? Dan seterusnya. Dan terakhir, kelompok pertanyaan ketiga : Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu itu ? Bagaimana kaitan antara cara menggunakan ilmu dengan kaidah-kaidah moral ? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral ? Dan seterusnya.
  5. A. Cornelius Benjamin (dalam The Liang Gie, 19 : 58) memandang filsafat ilmu sebagai berikut. ”That philosophic discipline which isthe systematic study of the nature of science, especially of its methods, its concepts and presuppositions, and its place in the general scheme of intellectual disciplines.” Filsafat ilmu, menurut Benjamin, merupakan cabang dari filsafat yang secara sistematis menelaah sifat dasar ilmu, khususnya mengenai metode, konsep-konsep, dan pra anggapan-pra anggapannya, serta letaknya dalam kerangka umum dari cabang-cabang pengetahuan intelektual. Jadi, filsafat ilmu merupakan cabang pengetahuan filsafat yang merupakan telaah sistematis mengenai ilmu, khususnya metode-metodenya, konsep-konsepnya dan praanggapan-praanggapan, serta letaknya dalam kerangka umum cabang-cabang pengetahuan intelektual.
  6. Stephen R. Toulmin mengemukakan bahwa sebagai suatu cabang ilmu, filsafat ilmu mencoba pertama-tama menjelaskan unsur-unsur yang terlibat dalam proses penyelidikan ilmiah prosedur-prosedur pengamatan, pola-pola perbincangan, metode-metode penggantian dan perhitungan, anggapan-anggapan metafisis, dan seterusnya dan selanjutnya menilai landasan-landasan bagi kesalahannya dari sudut-sudut tinjauan logika formal, metodologi praktis, dan metafisika.

Pengerian filsafat ilmu dari para ahli tersebut diatas bisa kita simpulkan bahwa filsafat ilmu merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistimologis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu, seperti obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan ?. merupakan telaah kefilsafatan yang ingin menjawab pertanyaan mengenai hakikat ilmu, yang ditinjau dari segi ontologis, epistimologis maupun aksiologisnya. Dengan kata lain filsafat ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu, seperti obyek apa yang ditelaah ilmu? Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek tersebut? Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia yang membuahkan pengetahuan .

  1. Obek Kajian Filsafat

Imam Raghib al-Ashfahani mengatakan bahwa ilmu adalah mengetahui sesuatu sesuai dengan hakekatnya. Ia terbagi dua, pertama mengetahui inti sesuatu itu, kedua menghukum adanya sesuatu pada sesuatu yang ada atau menafikan sesuatu yang tidak ada, maksudnya mengatahui hubungan sesuatu dengan sesuatu. Artinya, objek kajian filsafat ilmu digunakan untuk mengetahui pokok dari permasalahan dan untuk mengetahui hubungan dari suatu objek dengan obek yang lain.

Objek materi filsafat adalah segala sesuatu yang ada dalam kenyataan, pikiran, dan kemungkinan. Sedangkan objek forma filsafat adalah menyeluruh secara umum artinya dalam hal tertentu dianggap benar selama tidak merugikan kedudukan filsafat sebagai ilmu.

Filsafat ilmu pada prinsipnya memiliki dua obyek substantif dan dua obyek instrumentatif, yaitu:

1. Obyek Subtantif, yang terdiri dari dua hal :

a. Fakta (Kenyataan)

Yaitu empiris yang dapat dihayati oleh manusia. Dalam memahami fakta (kenyataan ini ada beberapa aliran filsafat yang meberikan pengertian yang berbeda-beda, diantaranya adalah positivisme, ia hanya mengakui penghayatan yang empirik dan sensual. Sesuatu sebagai fakta apabila ada korespondensi antara yang sensual satu dengan yang sensual lainnya. Data empirik sensual tersebut harus obyektif tidak boleh masuk subyektifitas peneliti–. Fakta itu yang faktual ada phenomenology. Fakta bukan sekedar data empirik sensual, tetapi data yang sudah dimaknai atau diinterpretasikan, sehingga ada subyektifitas peneliti.

b. Kebenaran

Positivisme, benar substantif menjadi identik dengan benar faktual sesuatu dengan empiris sensual. Kebenaran pisitivistik didasarkan pada diketemukannya frekwensi tinggi atau variansi besar. Bagi positivisme sesuatu itu benar apabila ada korespondensi antara fakta yang satu dengan fakta yang lain phenomenology, kebenaran dibuktikan berdasarkan diketemukannya yang esensial, pilah dari yang non esensial atau eksemplar dan sesuai dengan skema moral tertentu. Secara esensial dikenal dua teori kebenaran, yaitu teori kebenaran korespondensi dan teori kebenaran koherensi.

2. Obyek Instrumentatif,  yang terdiri dari dua hal:

a. Konfirmasi

Fungsi ilmu adalah untuk menjelaskan, memprediksi proses dan produk yang akan datang atau memberikan pemaknaan. Pemaknaan tersebut dapat ditampilkan sebagai konfirmasi absolut dengan menggunakan landasan: asumsi, postulat atau axioma yang sudah dipastikan benar. Pemaknaan juga dapat ditampilkan sebagai konfirmi probabilistik dengan menggunakan metode induktif, deduktif, reflektif.

b. Logika Inferensi

Studi logika adalah studi tentang tipe-tipe tata pikir. Pada mulanya logika dibangun oleh Aristoteles (384-322 SM) dengan mengetengahkan tiga prinsip atau hukum pemikiran.

  1. Tujuan mempelajari Filsafat Ilmu

Filsafat yang mempelajari tentang hakikat ilmu adalah filsafat ilmu. Dalam dunia pendidikan filsafat di gunakan untuk bagaimana kita memperoleh proses penyelidika ilmiah. Beberapa manfaat yang dapat diperoleh dari belajar filsafat bagi mahasiswa adalah sebagai berikut:

  1. Mahasiswa diharapkan dapat berpikir kritis terhadap berbagai hal.
  2. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan seseorang tidak mengambil keputusan dengan gegabah. Tetapi kita harus mempertimbangkan dengan barbagai aspek.
  3. Menjadikan kita sebagai manusia yang toleran dengan pendapat orang lain . karena setiap orang mempunyai pendapat yang berbeda-beda.
  4. Dasar semua tindakan adalah ide karena ide yang akan membawa manusian ke arah suatu kemampuan untuk merentang kesadarannya dalam segala tindakan.
  5. Dengan mempelajari filsafat ilmu diharapkan mereka memiliki pemahaman yang utuh mengenai ilmu dan mampu menggunakan pengetahuan tersebut sebagai landasan dalam proses pembelajaran dan penelitian ilmiah.
  6. Fungsi Dan Arah Filsafat Ilmu

Berdasarkan pemahaman dasarnya, persepsi ini tidak tepat, meskipun di dalamnya terkandung manfaat. Secara khusus, filsafat adalah sesuatu tumpuan dalam kehidupan untuk mencari kebenaran dari suatu objek tertentu. Berdasarkan pemahaman dasarnya, persepsi ini tidak tepat, meskipun di dalamnya terkandung manfaat. Secara khusus,

 

fungsi filsafat secara keseluruhan, yaitu :

  1. Sebagai alat mencari kebenaran dari segala fenomena yang ada.
  2. Mempertahankan, menunjang dan melawan atau berdiri netral terhadap pandangan filsafat lainnya.
  3. Memberikan pengertian tentang cara hidup, pandangan hidup dan pandangan dunia.
  4. Memberikan ajaran tentang moral dan etika yang berguna dalam kehidupan
  5. Filsafat ilmu berfungsi untuk menjelaskan keberadaan manusia di dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang merupakan alat untuk membuat hidup menjadi lebih baik.
  6. Filsafat ilmu memberikan kebiasaan dan kebijaksanaan untuk memandang dan memecahkan persoalan-persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoalan, apalagi melihat pemecahannya.
  7. Filsafat ilmu mengajak untuk berpikir secara radikal, holistik dan sistematis, hingga kita tidak hanya ikut-ikutan saja, mengikuti pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, tetapi secara kritis menyelidiki apa yang dikemukakan orang, mempunyai pendapat sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.

Arah-arah Filsafat Ilmu sangat berkaitan erat bahkan dapat dikatakan terpusat pada konsep tentang manusia. Jadi, filsafat ilmu lebih mendorong manusia untuk lebih berfikir secara rasional. Mengembangkan cara berfikir seseorang untuk menghasilkan perbaikan yang lebih baik tentang filsafat ilmu.

  1. Metode Filsafat Ilmu

Dalam bidang filsafat terdapat beberapa metode. Metode berasal dari kata meta-hodos, artinya menuju, melalui cara, jalan. Metode sering diartikan sebagai jalan berpikir dalam bidang keilmuwan. Metode dalam bidang filsafat adalah sebagai berikut.

a.   Metode kritis, yaitu dengan menganalisis istilah dan pendapat, dengan mengajukan pertanyaan secara terus menerus sampai hakikat yang ditanyakan. Metode ini mengajarkan tentang bagaiman acara kita menganalisis suatu permasalahan dengan mengungkapkan beberapa pertanyaan hingga kita dapat mengetahui kebenaran daripada hakikat tersebut.

b.   Metode intuitif, yaitu dengan melakukan introspeksi intuitif, dengan memakai simbol-simbol. Metode ini digunakan untuk menilai sesuatu dengan menggunakan suatu symbol tertentu untuk mencapai kebenaran.

c.   Metode analisis abstraksi, yaitu dengan jalan memisah-misahkan atau menganalisis di dalam angan-angan hingga sampai pada hakikat. Metode ini diartikan sebagai cara manganalisa suatu pemikiran dengan cara memikirkan sesuatu secara menyeluruh tetapi dengan menggunakan jalan memisah-misahkan analisis untuk mencapai hakikat penyelesaiannya.

Berbagai arah filsafat ilmu tersebut di atas, memberikan dampak terciptanya konsep-konsep atau teori-teori ilmu yang beragam. Masing-masing konsep akan mendukung filsafat ilmu tersebut. Dalam membangun teori-teori pendidikan, filsafat ilmu juga mengingatkan agar teori-teori itu diwujudkan diatas kebenaran berdasarkan kaidah-kaidah keilmuan. Dengan kata lain, teori-teori pendidikan harus disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian ilmiah.

C. PENUTUP

  1. Filsafat merupakan pengetahuan tentang asas-asas pikiran dan perilaku dan merupakan ilmu untuk mencari kebenaran dan prinsip-prinsip dengan menggunakan kekuatan akal, pandangan hidup (yang dimiliki oleh setiap orang), ajaran hukum dan perilaku serta kata-kata arif yang bersifat didaktis (mengandung pendidikan).
  2. Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansial maupun historis, karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat.
  3. Filsafat sebagai induk dari segala ilmu membangun kerangka berfikir dengan meletakkan tiga dasar utama, yaitu ontologi, epistimologi dan axiologi. Maka Filsafat Ilmu merupakan bagian dari epistimologi (filsafat ilmu pengetahuan yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu (pengetahuan ilmiah).

DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, S. Jujun. 1996. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Jakarta, Pustaka     Sinar Harapan

Abdulhak, H.Ishak. 2008. Filsafat Ilmu Pendidikan,Bandung, PT Remaja Rosdakarya

Achmadi Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada

R. Ravertz Jerome. 2004. Filsafat Ilmu (Sejarah dan Ruang Lingkup Bahasan).   (Terjemahan Saut Pasaribu). Oxford: University Press. [Buku asli diterbitkan tahun 1982]

A. Mustofa, Filsafat Islam, 2004, Bandung: Pustaka Setia

_______________

*) Rosi Nurhayati, adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu dalam mata kuliah Filsafat Ilmu Tahun Akademik 2012/2013 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s