Evaluasi Pembelajaran

Untuk dapat menentukan tercapai tidaknya tujuan pembelajaran, perlu dilakukan usaha atau tindakan penilaian/evaluasi. Evaluasi adalah kegiatan yang terencana untuk mengetahui keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan membandingkan hasilnya dengan tolak ukur untuk memperoleh kesimpulan. (Nana Sudjana, 1998) menjelaskan bahwa evaluasi pada dasarnya memberikan pertimbangan atau harga atau nilai berdasarkan kreteria tertentu. Tujuan tersebut dinyatakan dalam rumusan tingkah laku yang diharapkan dimiliki peserta didik setelah menyelesaikan pengalaman belajarnya.

Sejauh mana keberhasilan seorang memberikan materi dan sejauh mana siswa menyerap materi yang disajikan dapat diperoleh informasinya melalui evaluasi. (Suke Silverius, 1991) menjelaskan, evaluasi yang baik haruslah berdasarkan pada tujuan pembelajaran (instructional) yang ditetapkan oleh pendidik dan kemudian benar-benar diusahakan pencapaiannya oleh pendidik dan peserta didik.

Jika seorang pendidik merasa bertanggung jawab atas penyempurnaan pendidikannya, ia harus mengevaluasi pendidiknya itu agar mengetahui perubahan apa yang seharusnya dilakukan. Seorang pendidik perlu untuk mengevaluasi penyempurnaan pendidikannya dan peserta didiknya (Popham & Baker, 2001).

B. Kegunaan evaluasi

Berdasarkan UU Sisdiknas No.20 Tahun 2003 Pasal 5aluasi8 (1) evaluasi hasil belajar peserta didik dilakukan untuk memantau proses, kemajuan, dan perbaikan hasil belajar peserta didik secara berkesinambungan.

Lebih rinci, (M. Sobry Sutikno, 2005) menyebutkan diantara kegunaan evaluasi adalah:

1. Untuk mengetahui tingkat kemajuan yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu kurun waktu proses belajar tertentu.

2.  Untuk mengetahui posisi atau kedudukan seorang siswa dalam kelompok kelasnya.

3. Sebagai bahan pertimbangan dalam rangka melakukan perbaikan proses belajar mengajar.

4.  Bahan pertimbangan bagi bimbingan individual peserta didik.

5.  Membuat diagnosis mengenai kelemahan-kelemahan dan kemampuan peserta didik.

6. Bahan pertimbangan bagi perubahan atau perbaikan kurikulum.

7.  Mengetahui status akademis seseorang murid dalam kelompok.

8. Mengetahui efisiensi metode mengajar yang digunakan.

9. Memberikan laporan kepada murid dan orang tua.

10. Sebagai alat motivasi belajar mengajar.

11. Mengetahui efektifitas cara belajar dan mengajar, apakah yang telah dilakukan guru benar-benar tepat atau tidak baik yang berkenaan dengan sikap guru maupun sikap murid.

12. Merupakan bahan umpan balik (feed back) bagi murid, guru dan program pengajaran.

 

C. Syarat dan petunjuk dalam menyusun tes/alat evaluasi

Dalam penyusunan tes/alat evaluasi, ada beberapa syarat dan petunjuk yang perlu diperhatikan, yakni:

1. Pendidik harus menetapkan dulu segi-segi apa yang akan dinilai sgehingga betul-betul terbatas serta dapat memberi petunjuk bagaimana dan dengan alat apa segi tersebut dapat kita nilai.

2. Pendidik harus menetapkan alat evaluasi yang betul-betul valid dan reliabel yang berarti taraf ketepatan dan ketetapan tes dengan aspek yang akan dinilai.

3. Penilaian harus objektif yang artinya menilai prestasi peserta didik sebagaimana adanya.

4. Hasil penilaian tersebut harus betul-betul diolah dengan teliti sehingga dapat ditafsirkan berdasarkan kriteria yang berlaku.

5. Alat evaluasi yang dibuat hendaknya mengandung unsur diagnosis yang artinya dapat dijadikan bahan untuk mencari kelemahan peserta didik belajar dan pendidik mengajar.

D. Teknik-teknik evaluasi

Pada umumnya, ada dua teknik evaluasi, yaitu dengan menggunakan tes dan non-tes.

1. Tes

a. Pengertian tes

Tes adalah pengukuran berupa pertanyaan, perintah, dan petunjuk yang ditujukan kepada teste untuk mendapatkan respon sesuai dengan petunjuk itu.

 

b. Macam-macam tes

 

Ditinjau dari objek pengukurannya, secara umum tes dibagi dua, yaitu tes kepribadian (personality test) dan tes hasil belajar (achievement test). Yang termasuk dalam jenis tes kepribadian (personality test) dan banyak digunakan dalam pendidikan ialah sebagai berikut.

1)      Pengukuran sikap

2)      Pengukuran minat

3)      Pengukuran bakat

4)      Tes intelegensi

c. Jenis tes

Jika ditinjau dari fungsinya, maka tes dibagi atas 4 jenis tes berikut ini:

1) Tes penempatan (Placement test)

Tes jenis ini disajikan pada awal tahun pembelajaran untuk mengukur kesiapan siswa dan mengetahui tingkat pengetahuan yang telah dicapai sehubungan dengan pelajaran yang akan disajikan. Tes ini hanya dapat diterapkan pada sekolah yang menggunakan sistem individual.

2) Tes formatif (Formative test)

Tes formatif disajikan ditengah program pendidikan untuk memantau kemajuan belajar peserta didik dan pendidik. Berdasarkan hasil tes tersebut pendidik dan peserta didik dapat mengetahui apa yang masih perlu dijelaskan kembali agar peserta didik dapat menguasai materi pelajaran lebih baik.

3) Tes diagnostik (Diagnotic test)

Tes diagnostik bertujuan mendiagnosis kesulitan belajar siswa untuk mengupayakan perbaikannya. Pendidik harus terlebih dahulu mengetahui bagian mana dari pendidikan yang memberikan kesulitan belajar pada peserta didik.

4) Tes sumatif (Summative test)

Jenis tes ini biasanya diberikan pada akir tahun ajaran atau akir suatu jenjang pendidikan meskipun maknanya telah diperluas untuk dipakai pada tes akir catur wulan atau semester. Ter ini dimaksudkan untuk memberikan nilai yang menjadi dasar penentuan kelulusan dan memberikan sertifikat bagi yang telah menyelesaikan pelajaran dengan hasil baik.

d. Bentuk tes

Ditinjau dari bentuknya, tes dibagi atas tes tertulis, tes lisan, dan tes perbuatan.

 

 

1) Tes tertulis (written test)

Tes tertulis ialah tes yang soal dan jawaban diberikan oleh siswa berupa bahasa tertulis. Kelebihanya adalah dapat mengukur kemampuan murid dalam jumlah besar, dalam tempat yang terpisah dan pada waktu yang sama. Kelemahanya jika tidak menggunakan bahasa yang tegas dan lugas, hal itu dapat mengundang pengertian ganda yang berakibat kesalahan dalam pemasukan data dan dalam mengambil kesimpulan jawaban soal.

Secara umum tes tertulis ini dapat dibedakan menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

a) Tes esai

Tes esai dapat digunakan untuk mengkur kegiatan-kegiatan belajar yang sulit diukur oleh tes objektif. Tes esai ini juga dapat dibedakan menjadi dua bentuk tes seperti berikut ini:

(1) Tes uraian bentuk bebas

Dalam tes ini, butir soal hanya menyangkut masalah utama yang dibicarakan tanpa memberikan arahan tertentu dalam menjawabnya.

Cara mengoreksi tes esai:

  1. Whole method, adalah metode per nomor. Kita mengoreksi pekerjaan murid untuk setiap nomor.
  2. Separated method, adalah metode per lembar. Kita mengoreksi setiap lembar jawaban murid sampai selesai.
  3. Cross method, adalah metode bersilang. Caranya adalah mengoreksi jawaban murid dengan jalan menukarkan hasil koreksi dari seorang korektor kepada korektor yang lain.

(2) Tes uraian terbatas

Dalam tes uraian terbatas ini peserta didik diberi kebebasan untuk menjawab soal yang ditanyakan, namun arah jawaban dibatasi, sehingga kebebasan tersebut menjadi bebasb yang terarah.

Kelebihan tes esai:

  • Peserta didik dapat mengorganisasikan jawaban dengan pendapatnya sendiri;
  • Murid tidak dapat menerka-nerka jawaban soal;
  • Tes ini sangat cocok untuk mengukur dan mengevaluasi hasil suatu proses belajar yang kompleks yang sukar diukur dengan mempergunakan tes objektif;
  • Derajat ketepatan dan kebenaran murid dapat dilihat dari kalimat-kalimatnya;
  • Jawaban diungkapkan dalam kata-kata dan kalimat sendiri sehingga tes ini dapat digunakan untuk melatih penyusunan kalimat dengan bahasa yang baik, benar, dan tepat;
  • Tes ini digunakan dapat melatih peseta didik untuk memilih fakta yang relefan dengan persoalan, dan mengorganisasikannya sehingga dapat mengungkapkan satu hasil pemikiran yang terintegrasi secara utuh.

Kelemahan tes esai:

  • Sukar dilinai secara tepat;
  • Bahan yang diukur terlalu sedikit sehingga agak sulit untuk mengukur penguasaan siswa terhadap keseluruhan kurikulum;
  • Sulit mendapatkan soal yang memiliki standar nasional maupun internasional;
  • Membutuhkan waktu untuk memeriksa hasilnya.

b) Tes objektif

Tes objektif ialah tes tulis yang itemnya dapat dijawab dengan memilih jawaban yang sudah tersedia sehingga peserta didik menampilkan keseragaman data, baik yang menjawab benar maupun mereka yang menjawab salah.

 

2) Tes lisan (oral test)

Tes lisan adalah tes soal dan jawabannya menggunakan bahasa lisan. Peserta didik akan mengucapkan jawaban dengan kata-katanya sendiri sesuai dengan pernyataan perintah yang diberikan.

Kelebihan tes lisan:

  • Tidak perlu menyusun soal secara terurai, tetapai cukup mencatat pokok-pokok permasalahannya;
  • Dapat mengetahui langsung kemampuan peserta didik dalam mengemukakan pendapatnya secara lisan;
  • Jika peserta didik belum jelas dengan pernyataan yang diajukan. Dapat mengubah pertanyaan sehingga dapat dimengerti oleh peserta didik;
  • Dapat mengetahui secara langsung hasil tes.

Kelemahan tes lisan:

  • Tes ini menyita waktu yang cukup banyak;
  • Keadaan emosional peserta didik sangat dipengarui oleh kehadiran pribadi pendidik yang dihadapinya;
  • Kebebasan peserta didik untuk menjawab pertanyaan menjadi berkurang, sebab sering kali memotong jawaban sebelum pemikirannya dituangkan secara keseluruhan;
  • Faktor subjektivitas akan muncul jika suasana ujian lisan itu hanya ada seorang penguji dan seorang siswa;
  • Pertanyaan yang diajukan kepada peserta didik sering tidak sama jumlah dan tingkat kesukarannya;
  • Dalam memberi penilaian, sering dipengarui oleh kepribadian peserta didik.

 

3) Tes perbuatan atau tindakan (Performance test)

Tes perbuatan atau tindakan ialah tes dimana jawaban yang dituntut dari peserta didik berupa tindakan dan tingkah laku konkrit. Observasi merupakan alat yang dapat digunakan untuk mengukur tes perbuatan atau tindakan.

Kelebihan tes tindakan/perbuatan:

  • Sangat cocok mengukur aspek psikomotori;
  • Pendidk dapat mengetahui dengan jelas aplikasi dari teori yang telah disampaikan berupa tindakan atau perbuatan.

Kelemahan tes tindakan/perbuatan:

  • Membutuhkan waktu yang lama.
  • Apbila perintah tidak jelas, perbuatan akan muncul tidak sesuai seperti yang diharapkan.

 

2. Non tes

Dalam menilai hasil belajar, ada yang bisa diukur dengan menggunakan tes ada pula yang tidak bisa dengan tes. Kalau pengetahuan teoritis dapat diukur dengan menggunakan tes.

Hal-hal yang termasuk non tes, seperti: observasi, wawancara, skala sikap, angket, check list, dan ranting scale.

1. Observasi

Secara umum, obervasi dapat diartikan sebagai penghipunan, bahan-bahan keterangan yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap berbagai fenomena yang dijadikan objek pengamatan. Dilihat dari kerangka kerja, observasi dapat dibedakan sebagai berikut:

  1. Observasi berstruktur. Semua aktifitas petugas observasi telah diteteapkan terlebih dahulu berdasarkan kerangka kerja yang berisi faktor-faktor yang telah diatur kategorisasinya. Isi dan luas materi observasi telah ditetepkan dan dibatasi dengan jelas dan tegas.
  2. Observasi tak berstruktur. Semua aktifitas petugas observasi hanya dibatasi oleh kerangka kerja yang pasti.

2. Wawancara

Wawancara adalah komunikasi lansung antara yang mewawancarai dengan yang diwawancarai. Ada dua jenis wawancara yang dapat digunakan.

  1. Wawancara terpimpin yang dikenal dengan wawacara berstruktur;
  2. Wawancara tidak terpimpin yang dengan wawancara bebas.

Tujuan wawancara ialah:

  1. Untuk memperoleh informasi guna menjelaskan suatu situasi dan kondisi tertentu;
  2. Untuk melengkapi suatu penyelidikan ilmiah;
  3. Untuk memperoleh data agar dapat mempengaruhi situasi atau orang tertentu.

3. Skala sikap

Skala sikap merupakan kumpulan pernyataan-pernyataan mengenai sikap suatu objek. Sikap merupakan sesuatu yang dipelajari. Sikap menentukan bagaimana individu bereaksi terhadap situasi serta menentukan apa yang dicari individu dalam kehidupannya. Sikap merupakan suatu kecenderungan untuk berbuat sesuatu dengan cara, metode, teknik, dan pola tertentu terhadap dunia sekitarnya, baik berupa orang-orang maupun berupa objek-objek tertentu.

Untuk mengukur sikap, dapat dilakukan dengan menggunakan skala sikap yang dikembangkan oleh Likert. Ada dua bentuk pernyataan yang menggunakan skala Likert ini, yaitu bentuk pernytaan positif untuk mengukur sikap positif dan bentuk pernyataan negatif untuk mengukur sikap negatif.

Pengukuran skala sikap berbebntuk pernyataan positif diberi skor 5, 4, 3, 2, 1 sedangkan bentuk pernyataan negatif diberi skor 1, 2, 3, 4, dan 5 atau -2, -1, 0, 1, dan 2. Bentuk jawaban skala Likert ialah; sangat setuju, setuju, ragu-ragu, tidak setuju, dan sangat tidak setuju.

4. Check list

Suatu daftar yang brisi subjek dan aspek-aspek yang akan diminati disebut check list (daftar cek). Ada bermacam-macam aspek perbuatan yang biasanya dicantumkan dalam daftar cek, kemudian observer tinggal memberikan tanda cek (√) pada tiap-tiap aspek tersebut sesuai dengan hasil pengamtannya.

5. Ranting scale

Ranting scale tidak hanya untuk mengukur sikap tetapi juga dapat untuk mengukur persepsi responden terhadap fenomena lingkungan, seperti skala untuk mengukur status ekonomi, pengetahuan, dan kemampuan. Yang paling penting dalam ranting scale adalah kemampuan menerjemahkan alternatif jawaban yang dipilih responden. Dalam ranting scale fenomena-fenomena yang akan diobservasi itu disusun dalam tingkatan-tingkatan yang telah ditentukan.

6. Angket

Angkat termasuk alat untuk mengupulkan dan mencatat data atau informasi, sikap, dan faham dalam hubungan kasual. Angket dilaksanakan secara tertulis dan penilaian hsil belajar akan jauh lebih praktis, hemat waktu dan tenaga. Ada dua bentuk angket:

  • Angket berstruktur, yaitu dengan menyediakan kemungkinan jawaban.
  • Angket tak berstruktur, yaitu bentuk angket yang memberikan jawaban secara terbuka yang respondennya secara bebas menjawab pernyataan tersebut.

Salah satu alat yang dapat dipakai dalam evaluasi adalah tes. Tes seharusnya memungkinkan pendidik memperoleh data tentang kemampuan peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Tes pada umumnya mengukur hasil karya siswa. Tetapi ada juga tes lain, yaitu tes atau pengukuran sikap (Saifuddin Azwar, 2000). Tes ini berharga dan seharusnya sering digunakan apabila kita ingin mengetahui kedua-duanya, baik caranya mencapai hasil maupun hasil itu sendiri.

Dalam proses belajar mengajar, yang dievaluasi sebenarnya bukan hanya siswa, tetapi juga sistem pendidikannya (Mudhoffir, 1987). Oleh karna itu, dalam proses belajar mengajar terdiri atas rangkaian tes yang dimulai dari pre-test untuk megetahui mutu pelajaran yang sudah dan yang belum diketahui oleh siswa. Antry behavior mengukur kemampuan siswa dan mengelompokkan berdasarkan kemampuan siswa kedalam kelompok kemampuan yang kurang (slow learners), sedang, dan yang pandai (fast learners). Data yang diperoleh dari evaluasi formatif dipergunakan untuk pengembangan, need assessment, dan diagnostic decision. Teknik penyusunan alat evaluasi sangat penting untuk dipertimbangkan agar diperoleh hasil yang objektif.

 

Daftar pustaka

Fathurrohman, Pupuh & M. Sobry, Sutekno. (2010). Strategi Belajar Mengajar. Bandung: PT Refika Aditama.

 

_______________

Disusun Oleh:

Nety Dwi Purbosari

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s