Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno

Ilmu merupakan substansi yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan manusia. Pada era modern seperti sekarang ini ilmu pengetahuan berkembang pesat seiring dengan peradaban dan perkembangan jaman. Hal ini dapat ditandai dengan adanya perkembangan teknologi yang semakin berkembang cepat dan canggih. Manusia lahir dengan dibekali akal dan pikiran untuk mengembangkan pengetahuan-pengetahuan serta pengalaman yang dimilikinya yang dapat menciptakan ide-ide atau gagasan baru. Ilmu pengetahuan juga diciptakan untuk dapat membantu kehidupan manusia menjadi lebih mudah. Namun tak hanya itu saja, ilmu pengetahuan yang telah berkembang sedemikian pesat ini juga telah menimbulkan berbagai krisis kemanusiaan dalam kehidupan. Hal ini membuat mayoritas orang cenderung melakukan sejumah pemecahan masalah kemanusiaan yang bersifsat sektoral. Salah satu upaya untuk menyelesaikan masalah-masalah kemanusiaan yang semakin kompleks tersebut ialah dengan mempelajari perkembangan pemikiran filsafat. Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya bahwa ilmu pengetahuan tidak lepas dari filsafat karena filsafat sendiri merupakan akar dan sumber dari segala ilmu pengetahuan. Seringkali kita jarang bahkan tanpa berpikir sama sekali bahwa perkembangan ilmu yang berlangsung pada abad ini tidak muncul dengan sendirinya atau instan. Perkembangan ilmu tentunya melewati proses dan sejarah panjang pada setiap jamannya.

Yunani Kuno adalah masa dimana awal perkembangan lahirnya filsafat. Masyarakat Yunani sendiri memang mempunyai kepercayaan dan mitos kepada dewa-dewi pada jaman tersebut. Kepercayaan mereka yang penuh dengan tahayul dan irrasional inilah yang mendorong para pemikir untuk menyelidiki tentang kebenaran di alam semesta ini. Pada masa ini, filsafat mampu menjawab persoalan disekitarnya dengan akal pikiran dan meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul tersebut yang sulit dipecahkan lewat nalar manusia pada masa itu. Meninjau dari latar belakang diatas maka penulis akan membahas sedikit tentang karakteristik pemikiran pada masa Yunani Kuno, tokoh filosof yang hidup pada masa Yunani Kuno, dan pemikiran-pemikiran tokoh filosof pada masa Yunani Kuno tersebut.

 

 

 

KONSEP DASAR dan PEMIKIRAN PADA MASA YUNANI KUNO

Menurut sejarahnya, dasar dari kelahiran dan perkembangan ilmu sebagaimana yang kita kenal sekarang adalah Filsafat Barat, karena dunia barat yaitu Eropa Barat dalam pemikirannya mengacu pada Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad ke-6 SM. Perkembangan pemikiran ini menandai bahwa suatu usaha pemikiran manusia untuk mempergunakan akal dalam memahami segala sesuatu secara mendalam tentang realitas atau alam yang ada. Filsafat Yunani muncul dari pengaruh mitologi, mistisisme, matematika dan persepsi yang kental sehingga segalanya nyaris tidak jelas dan seakan mengacaukan pandangan dunia. Jenis pengetahuan indera dan mistik masih sangat mendominasi pemikiran orang-orang pada masa ini. Dalam sejarahnya, filsafat mengenal 3 (tiga) tradisi besar sejarah (dalam http://mubaraqunsyiah.blogspot.com/2013/12/sejarah-dan-perkembangan-ilmu-pada-masa-yunani.html) yaitu sejarah Filsafat India (sekitar 2000 SM – sekarang ini), sejarah Filsafat Cina (sekitar 600 SM – sekarang ini), dan sejarah Filsafat Barat (sekitar 600 SM sampai sekarang ini).

Menurut Bertrand Russel (dalam http://filsafat.kompasiana.com/2013/12/13/perkembangan-ilmu-zaman-yunani-kuno-618986.html) diantara semua sejarah tak ada yang begitu mencengangkan atau begitu sulit diterangkan selain lahirnya peradaban di Yunani secara mendadak. Zaman ini menggunakan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima segitu saja). Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur.

Ciri pemikiran pada abad ini adalah kosmosentris, yaitu mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Ada beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan pendapatnya tentang arche, antara lain :

  • Thales (640- 550 SM)             :  arche berupa air
  • Anaximander (611-545 SM)  : arche berupa apeiron (sesuatu yang tidak terbatas)
  • Anaximenes (588-524 SM)     :  arche berupa udara
  • Phytagoras (580-500 SM)       : arche dapat diterangkan atas dasar bilangan-bilangan.

Beberapa tokoh filosof lain mengemukakan pendapat, antara lain :

  1. Herakleitos (± 500 SM) mengemukakan bahwa segala sesuatu itu “mengalir” (“panta rhei”) bahwa segala sesuatu itu berubah terus-menerus/melakukan perubahan.
  2. Parmenides (515 – 440 SM) menyatakan bahwa segala sesuatu itu sebagai sesuatu yang tetap (tidak berubah).
  3. Pythagoras (sekitar 500 SM) berpendapat bahwa segala sesuatu itu terdiri dari “bilangan-bilangan”: struktur dasar kenyataan itu tidak lain adalah “ritme”.
  4. Demokritos (460-370 SM) yang menegaskan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebut dengan atom (atomos, dari a-tidak, dan tomos-terbagi).
  5. Pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada seorang Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan adalah mencari penyebab-penyebab obyek yang diselidiki. Ia pun berpendapat bahwa tiap kejadian harus mempunyai empat sebab, antara lain penyebab material, penyebab formal, penyebab efisien dan penyebab final.

Secara umum karakteristik filsafat Yunani kuno ini adalah rasionalisme, yaitu suatu hal yang berdasarkan pada pemahaman tentang penggunaan akal atau logika.

 

TOKOH/FILOSOF PADA MASA YUNANI KUNO

Tokoh-tokoh Filsuf yang hidup pada masa Yunani ini antara lain:

 

  1. Thales (624-546 SM)

Thales adalah orang Miletus yang mendapat gelar sebagai “Bapak Filsafat”, karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat. Gelar itu diberikan karena ia mengajukan pertanyaan yang amat mendasar. Apa sebenarnya bahan alam semesta ini?. Terlepas dari apapun jawabannya, pertanyaan ini telah mengangkat namanya menjadi filosof pertama.

 

  1. Anaximander (610-546 SM)

Anaximender adalah filosof yang nampaknya campuran antara ahli astrologi, geologi, matematika, fisika dan filosof seperti Thales.

 

  1. Anaximenes (585-528 SM)

Anaximenes adalah yang ketiga dari trio filosof yang dikenal dengan milesian. Ia diperkirakan berkibar sekitar 540 SM dan dia adalah murid dari Anaximander.

 

  1. Pythagoras (571-496 SM)

Ia adalah ahli matematika dan mistik. Pythagoras lahir di Samos, sebuah pulau dekat  pantai Ionia, tetapi menghabiskan  sebagian besar hidupnya di Croton (sebelah selatan Italia).

 

  1. Heraclitus (544-484 SM )

Menurut Diogenes Laertius mengatakan bahwa Heraclitus orang yang sangat sombong dan angkuh hingga akhirnya ia menjadi manusia pembenci yang hidup di pegunungan dan memakan rerumputan serta tanam-tanaman.

 

  1. Parmanides (501-492 SM)

Parmanides adalah salah seorang tokoh relativisme yang penting, yang lahir pada akhir abad 16 SM. Ia adalah warga negara Elea sebelah selatan Italia. Ia dikatakan sebagai logikawan pertama dalam segala filsafat, yang juga disebut filosof pertama dalam pengertian modern.

 

  1. Zeno

Zeno lahir pada tahun 490 SM. Zeno dikenal karena paradoknya, ia adalah murid dan pengikut Parmanides, Eleatik yang paling terkemuka.

 

  1. Gorgias

Pada tahun 427 SM Gogias datang dari Leontini ke Athena.

 

  1. Socrates ( 470 – 399 SM )

Pada masanya, Socrates berada di tengah–tengah keruntuhan imperium Athena. Disekitarnya dasar-dasar lama hancur, kekuasaan jahat mengganti keadilan disertai munculnya penguasa-penguasa politik yang menjadi orang-orang yang sombong dibandingkan yang sebelumnya. Socrates adalah penganut moral yang absolute yang meyakini bahwa menegakkan moral merupakan tugas filofof yang berdasarkan ide-ide rasional dan keahlian dalam pengetahuan.

 

  1. Plato(427 SM- 347SM) 

adalah seorang filsuf dan matematikawan Yunani, penulis philosophical dialogues dan pendiri dari Akademi Platonik di Athena, sekolah tingkat tinggi pertama di dunia barat. Ia adalah murid Socrates.

 

 

 

 

 

 

 

PEMIKIRAN TOKOH/FILOSOF

Pemikiran-pemikiran filosof yang hidup pada masa Yunani Kuno, antara lain :

  1. Thales (624-546 SM)

Thales mengemukakan sebuah pertanyaan yaitu, apa sebenarnya bahan alam semesta ini?. Ia sendiri menjawab air. Jawaban ini sebenarnya sangat sederhana dan belum tuntas karena memunculkan pertanyaan baru yaitu dari apa air itu?. Thales mengambil air sebagi asal alam semesta barang kali karena ia melihatnya sebagai sesuatu yang sangat diperlukan dalam kehidupan, dan menurut pendapatnya bumi ini terapung diatas air (Mayer, 1950:18). Dari pernyataan Thales tersebut maka dapat diketahui bahwa sesuatu yang sederhana pun dapat menimbulkan pertanyaan-pertanyaan yang sangat kompleks.

 

  1. Anaximander (610-546 SM)

Anaximander berpendapat bahwa benda pembentuk dunia yang asli adalah “apeiron”, suatu substansi yang tidak memiliki batas atau definisi. Ia menjelaskan apeiron sebagai sesuatu yang mengelilingi segala sesuatu secara tak terbatas dan juga sebagai suatu makhluk di mana semua langit dan dunia didalamnya berwujud bumi, udara, api, dan air yang bagaimanapun juga digerakkan oleh substansi yang tak terbatas. Anaximander percaya bahwa bumi bentuknya bulat silinder, kedalamannya sepertiga dari lebarnya sehingga bumi seperti drum. Menurutnya, bumi tidak ditopang oleh apa-apa, tetapi tetap berada pada jarak yang sama dari semua benda. Ia juga berpendapat bahwa makhluk pertama yang hidup dilahirkan dalam kelembaban yang melekat pada kulit kayu yang berduri dan kemudian mengalami perkembangan kehidupan organik.

 

  1. Anaximenes (585-528 SM)

Anaximanes berpendapat bahwa prinsip pertama dari segala benda adalah tak terbatas. Ia menyatakan bahwa prinsip pertama tersebut adalah udara, karena udaralah yang meliputi seluruh alam dan menjadikan dasar hidup bagi manusia yang sangat diperlukan untuk bernafas. Anaximenes mengajarkan bahwa bumi datar dan melayang diudara, bintang-bintang ditanam seperti paku dalam kristal dan  benda-benda langit bergerak mengitari bumi seakan-akan seperti topi yang mengitari kepala kita. Ia juga menjelaskan bahwa terjadinya gempa bumi merujuk pada pilihan pertukaran bumi antara keadaan kering dan basah.

 

 

 

  1. Pythagoras (571-496 SM)

Bagi pythagoras angka adalah materi dan makna cosmos. Ia berpendapat bahwa genap dan ganjil secara bersama-sama menghasilkan kesatuan. Kesatuan itu menghasilkan angka yang merupakan sumber semua benda. Pythagoras percaya bahwa angka bukan unsur seperti udaradan. Air merupakan prinsip semua benda. Modifikasi angka sedemikian rupa menjadi keadilan, yang lain menjadi jiwa dan nalar, dan yang lain lagi menjadi kesempatan serta hampir semua benda yang lain secara angka bisa dijelaskan.

 

  1. Heraclitus (544-484 SM )

Heraclitus menyatakan bahwa “You can not step twice into the same river; for the fresh waters are ever flowing upon you” (Engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali, karena air sungai itu mengalir). (Warner, 1961:26). Menurut Heraclitus, alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah. Sesuatu yang dingin berubah menjadi panas, begitupun  sebaliknya. Itu berarti bila kita hendak memahami kehidupan cosmos, kita harus menyadari bahwa cosmos itu selalu bergerak, dan menghasilkan perlawanan. Pernyataan itu mengandung pengertian bahwa kebenaran selalu berubah.

 

  1. Parmanides (501-492 SM)

Parmanides mempunyai sebuah metode/sistem yang secara keseluruhan didasarkan pada deduksi logis, misalnya tidak seperti Heraclitus yang menggunakan metode intuisi. Dalam “The Way Of Truth”, Parmanides bertanya, “Apa standar kebenaran dan apa ukuran realitas?”. Bagaimana hal itu dapat dipahami?. Ia sendiri menjawab, “Ukurannya ialah logika yang konsisten. Parmanides mengakui adanya pengetahuan yang tidak tetap dan berubah-ubah serta pengetahuan mengenai yang tetap yaitu pengetahuan indera dan budi. Menurut Permanides pengetahuan budi itu sangat utama, karena ia beranggapan bahwa pengetahuan indera dianggapnya keliru belaka, tidak mampu mencapai kebenaran.

 

  1. Empedokles (484-424 SM)

Ia berpendapat bahwa materi terdiri atas empat unsur dasar yang ia sebut sebagai akar, yaitu air, tanah, udara, dan api. Selain itu, ia menambahkan satu unsur lagi yang ia sebut cinta (philia). Hal ini dilakukannya untuk menerangkan adanya keterikatan dari satu unsur ke unsur lainnya. Empedokles juga dikenal sebagai peletak dasar ilmu-ilmu fisika dan biologi pada abad 4 dan 3 SM.

 

  1. Zeno

Zeno berpendapat bahwa relitas adalah satu, tidak berubah dan tidak bergerak, dan realitas dipahami dengan benar oleh nalar bukan indra. Ia berusaha menunjukkan bahwa gerak hanya khayal belaka. Penalarannya yang paling terkenal dalam hal ini menyatakan bahwa, Achilles tak akan pernah dapat mengejar kura-kura. Disebabkan kura-kura tadi akan selalu berada di depan Achilles pada saat ia mencapai titik tempat kura-kura itu semula. Mellisus memperbaiki pendirian Permanides dengan mengatakan bahwa ada, tidak hanya tak terhingga dalam waktu, melainkan dalam ruang. Dengan demikian pendapatnya ini menyimpang dari tradisi Yunani yang memandang ruang bersifat berhingga.

 

  1. Protagoras

Protagoras menyatakan bahwa manusia adalah ukuran kebenaran (Mayer, 1950 : 84), dan kebenaran itu bersifat pribadi. Akibatnya, tidak akan ada ukuran yang absolute dalam etika, metafisika, maupun agama. Bahkan teori matematika juga di anggap tidak mempunyai kebenaran yang absolute.

 

  1. Gorgias

Gorgias mengemukakan tiga proposisi yaitu tidak ada yang ada yakni realitas itu sebenarnya tidak ada pemikiran lebih baik tidak menyatakan apa-apa tentang realitas. Bila sesuatu itu ada ia tidak akan dapat diketahui. Ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi. Menurut Gorgias, akal tidak juga mampu meyakinkan kita tentang bahan alam semesta ini, karena kita telah dikungkum oleh dilema subyektif.

 

  1. Socrates (470-399 SM)

Socrates menggunakan metode yang bersifat praktis. Metode yang digunakan Socrates disebut Dialektika, dari kata kerja Yunani “dialegethai” yaitu melalui percakapan-percakapan dan menganalisis pendapat-pendapat tentang salah dan tidak salah, adil dan tidak adil, berani dan pengecut, dan lain sebagainya. Socrates menganggap jawaban pertama sebagai hipotesa, dan dengan jawaban-jawaban lebih lanjut yang menarik konsekuensi-konsekuensi yang dapat disimpulkan dari jawaban-jawaban tersebut. Jika hipotesa pertama tidak dapat dipertahankan karena menghasilkan konsekuensi yang mustahil, maka diganti dengan hipotesa lain, lalu hipotesa kedua ini diselidiki dengan jawaban-jawaban lain, dan seterusnya.

 

  1. Plato (427 SM- 347SM) 

Ia adalah murid Socrates dan guru dari Aristoteles, filsuf yang pertamakali membangkitkan persoalan being (hal ada) dan mempertentangkan dengan becoming( hal menjadi). Dimana tujuannya ialah sebagai cara untuk mencari dasar kebenaran pengetahuan. Salah satu perumpamaan Plato yang termasyhur adalah perumpaan tentang orang di gua.  Cicero mengatakan Plato scribend est mortuus (Plato meninggal ketika sedang menulis). Ada tiga pokok pemikiran Plato, yang merupakan gelombang saling susul – menyusul, yang dikatakan bahwa yang dibelakang lebih besar daripada yang telah mendahuluinya. Teori ini disebut sebagai gelombang, karena kebanyakan dari teori Plato telah mengguncang “kebenaran” yang sudah umum dan bertentangan dengan tradisi dan kebiasaan yang sudah ada. Diataranya adalah :

 

ü  Gelombang Pertama (the first wave)

Gelombang pertama adalah laki – laki dan perempuan mempunyai kedudukan yang sama, terutama dalam pendidikan dan pekerjaan. Pemikiran yang seperti ini, yang bertolak belakang dengan kenyataan pada masa itu, bahwa laki-laki dan perempuan harus dibedakan. Palto mengatakan :

. . . both woman and man my have the same nature fit for guarding the city . . .

. . . wanita dan pria memiliki sifat – sifat dasar yang sama, yang pantas untuk menjaga negara . . .

 

ü  Gelombang kedua (the second wave)

Gelombang kedua adalah pernyataan Plato untuk menghapuskan perkawinan dan keluarga untuk membentuk suatu negara besar, yaitu negara, sehingga semua orang bersaudara di dalam negara. Sebagaimana dalam karyanya Republic :

. . . you are all brothers in the city.

. . . di dalam negara kamu semua bersaudara.

Maksud dan tujuannya adalah untuk meningkatkan loyalitas suatu negara, agar setiap manusia tidak direpotkan oleh keluarganya masing – masing. Karena yang diinginkan Plato adalah membentuk suatu negara besar yang bersatu dan terpelihara tali persaudaraan.

 

ü  Gelombang ketiga (the third wave)

Gelombang yang ketiga adalah kekuasaan politik negara lebih baik dipegang oleh para filsuf, agar kecerdasan ilmu pengetahuan yang tinggi dapat dipegang oleh para cendekiawan, sehingga tingkat kearifan sejati dapat memimpin negara.

Pokok tinjauan filosofi plato ialah mencari pengetahuan tentang pengetahuan. Ia bertolak dari ajaran gurunya socrates yang mengatakan “budi ialah tahu”. Budi yang berdasarkan pengetahuan menghendaki suatu ajaran tentang pengetahuan sebagai dasar filosofi.

 

 

  1. Aristoteles (384-322 SM)

Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles. Aristoteles adalah seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persoalan besar filsafat yang dipersatukannya dalam satu sistem; yaitu logika, matematika, fisika dan metafisika. Logika Aristoteles berdasarkan pada analisis bahasa yang disebut silogisme. Pada dasarnya silogisme terdiri dari tiga premis, yaitu :

ü  Semua manusia akan mati       (premis mayor)

ü  Aristoteles seorang manusia    (premis minor)

ü  Aristoteles akan mati                  (konklusi)

Logika Aristoteles ini juga disebut dengan logika deduktif yang mengukur valid atau tidaknya sebuah pemikiran. Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada dua hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencakup logika, metafisika dan fisika. Sedangkan yang praktis mencakup etika, ekonomi dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu dikemudian hari. Aristoteles dianggap sebagai bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

Filsafat Yunani bisa dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat filsafat yang rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudahnya sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam pada abad pertengahan.

Sangat jelas setelah periode Socrates, Plato dan Aristoteles mutu filsafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik pada waktu itu, yaitu dengan terpecahnya kerajaan Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil imperium besar yang dibangun oleh Alexander the Great kemudian Alexander meninggal dunia.

PENUTUP

Ilmu merupakan substansi yang sangat penting dan mendasar dalam kehidupan manusia. Yunani Kuno adalah masa dimana awal perkembangan lahirnya filsafat. Jenis pengetahuan indera dan mistik masih sangat mendominasi pemikiran orang-orang pada masa ini. Menurut sejarahnya, dasar dari kelahiran dan perkembangan ilmu sebagaimana yang kita kenal sekarang adalah Filsafat Barat, karena dunia barat (Eropa Barat) dalam pemikirannya mengacu pada Yunani. Bangsa Yunani mulai mempergunakan akal ketika mempertanyakan mitos yang berkembang di masyarakat sekitar abad ke-6 SM. Zaman ini menggunakan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima segitu saja). Ciri pemikiran pada abad ini adalah kosmosentris, yaitu mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Tokoh filosof yang hidup pada masa ini ini antara lain :

  1. Thales (624-546 SM)
  2. Anaximander (610-546 SM)
  3. Anaximenes (585-528 SM)
  4. Pythagoras (571-496 SM)
  5. Heraclitus (544-484 SM )
  6. Parmanides (501-492 SM)
  7. Empedokles (484-424 SM)
  8. Zeno
  9. Protagoras
  10. Gorgias
  11. Socrates (470-399 SM)
  12. Plato (427 SM- 347SM)
  13. Aristoteles (384-322 SM)

Pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada masa Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakan bahwa tugas utama ilmu pengetahuan adalah mencari penyebab-penyebab obyek yang diselidiki. Ia yang pertama kali membagi filsafat pada dua hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencakup logika, metafisika dan fisika. Sedangkan yang praktis mencakup etika, ekonomi dan politik.

Secara umum dapat digambarkan bahwa karakteristik filsafat Yunani kuno ini adalah rasionalisme, yaitu suatu hal yang berdasarkan pada pemahaman tentang penggunaan akal atau logika. Filsafat pada masa ini tumbuh subur dan perkembangan ilmu pengetahuan ini masih berlanjut pada peradaban abad pertengahan sampai diakhiri pada zaman kontemporer.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Zahrul Al Mubarraq. 2013. “Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani”. Dalam http://mubaraqunsyiah.blogspot.com/2013/12/sejarah-dan-perkembangan-ilmu-pada-masa-yunani.html. Di download tanggal 09 April 2014 pukul 19.55 WIB.

 

Sophia Scientia. 2013. “Kronologis Historis Sejarah dan Perkembangan Ilmu Pengetahuan”. Dalam http://sophiascientia.wordpress.com/kronologis-historis-sejarah-dan-perkembangan-ilmu-pengetahuan/. Di download tanggal 09 April 2014 pukul 19.55 WIB.

 

Robbi Zul Fanani. 2013. “Perkembangan Ilmu Zaman Yunani Kuno”. Dalam http://filsafat.kompasiana.com/2013/12/13/perkembangan-ilmu-zaman-yunani-kuno-618986.html. Di download tanggal 09 April 2014 pukul 19.55 WIB.

 

http://rudipeacelover.blogspot.com/2013/05/makalah-sejarah-perkembangan-ilmu-pada-masa-yunani-kuno.html. 2013. “Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno”. Di download tanggal 09 April 2014 pukul 19.55 WIB.

 

____________________

*) Cici Aryanti, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s