Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno

Ibarat sebuah pohon yang memiliki ranting, daun, dan buah yang tidak akan bisa hidup tanpa ada akar di bawahnya. Pohon tidak akan bisa hidup dan tumbuh tinggi tanpa ada akar yang menjadi awal dari kehidupannya. Sama halnya dengan ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan juga pasti memiliki awal perkembangan hingga sampai saat ini. Ilmu pengetahuan sejak zaman dahulu telah memiliki peranan yang penting dalam kehidupan manusia. Ilmu pengetahuan pastilah memilki proses perjalanan hidup yang sangat panjang. Oleh karena itu untuk mengetahui proses perjalanan dari ilmu pengetahuan di butuhkan sebuah pengklarifikasi untuk membedakan ciri khas dari proses perkembangan ilmu pengetahuan tersebut.

Berbicara tentang awal lahirnya serta perkembangan ilmu pengetahuan sama halnya kita flashback pada masa Yunani Kuno. Masa Yunani Kuno yaitu masa di mana awal kebangkitan filsafat secara umum karena menjawab persoalan disekitarnya dengan rasio dan meninggalkan kepercayaan terhadap mitologi atau tahayul yang irasional. Filsafat yunani kuno merupakan periode yang sangat penting pada sejarah peradapan manusia karena pada waktu itu pola pemikiran manusia masi mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam. Periode perkembangan fisafat yunani merupakan entri poin untuk memasuki peradaban baru umat manusia.

 

 

  1. Karakteristik Pada Masa Yunani Kuno

Pada masa Yunani Kuno perkembangan pada bidang ilmu masih terpengaruh dengan banyaknya mitos-mitos. Sama halnya dengan para ahli, pemikiran mereka masih di dominasi dengan agama alam. Pada masa Thales (640-545 SM), yang menyatakan bahwa esensi segala sesuatu adalah air, belum murni bersifat rasional. Argumen Thales masih dipengaruhi kepercayaan pada mitos Yunani. Demikian juga dengan Phitagoras (572-500 SM) yang belum murni rasional. Ordonya yang mengharamkan makan biji kacang menunjukkan bahwa ia masih dipengaruhi mitos. Jadi, dapat dikatakan bahwa agama alam bangsa Yunani masih dipengaruhi misteri yang membujuk pengikutnya, sehingga dapat disimpulkan bahwa mitos bangsa Yunani bukanlah agama yang berkualitas tinggi.

Secara umum dapat dikatakan, para filosof pra-Socrates yang berusaha membebaskan diri dari belenggu mitos dan agama asalnya. Sokrates menyumbangkan teknik kebidanan (maieutika tekhne) dalam berfilsafat. Bertolak dari pengalaman konkrit, melalui dialog seseorang diajak Sokrates (sebagai sang bidan) untuk “melahirkan” pengetahuan akan kebenaran yang dikandung dalam batin orang itu. Dengan demikian Sokrates meletakkan dasar bagi pendekatan deduktif. Pemikiran Sokrates dibukukan oleh Plato, muridnya. Hidup pada masa yang sama dengan mereka yang menamakan diri sebagai “sophis” (yang beratikan yang bijaksana dan berpengetahuan), Sokrates lebih berminat pada masalah manusia dan tempatnya dalam masyarakat, dan bukan pada kekuatan-kekuatan yang ada dibalik alam raya ini (para dewa-dewi mitologi Yunani). Pada masa Yunani Kuno berkembang pemikiran mengenai mencintai kebenaran atau pengetahuan yang merupakan awal proses manusia mau menggunakan daya pikirnya, sehingga dia mampu membedakan mana yang riil mana yang ilusi.

Orang Yunani awalnya sangat percaya pada dongeng-dongeng, mitos maupun tahayul, tetapi lama kelamaan mereka mampu keluar dari pengaruh mitologi dan mendapatkan dasar pengetahuan ilmiah. Karena manusia selalu berhadapan dengan alam yang begitu luas dan penuh misteri, timbul rasa ingin mengetahui rahasia alam itu, sehingga filosof alam berkembang pertama kali. Periode filsafat Yunani merupakan periode sangat penting karena terjadi perubahan pola fikir manusia dari mitosentris menjadi logosentris.Pola pikir mitosentris yaitu pola pikir masyarakat yang sangat mengandalkan mitos untuk menjelaskan fenomena alam.

 

  1. Sejarah Perkembangan Masa Yunani Kuno

Zaman ini berlangsung dari abad 6 M. Zaman ini menggunakan sikap “aninquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis)”, dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap “receptve attitude mind (sikap menerima segitu saja)”. Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur. Yunani mencapai puncak kejayaannya atau zaman keemasannya (zaman Hellenisme) di bawah pimpinan Iskandar Agung (356-323 SM) dari Macedonia, yang merupakan salah seorang murid Aristoteles.

Pada abad ke- 0 M, perkembangan ilmu mulai mendapat hambatan. Hal ini disebabkan oleh lahirnya Kristen. Pada abad pertama sampai abad ke- 2 M mulai ada pembagian wilayah perkembangan ilmu. Wilayah pertama berpusat di Athena, yang difokuskan dibidang kemampuan intelektual. Sedangkan wilayah kedua berpusat di Alexandria, yang fokus pada bidang empiris.

Setelah Alexandria di kuasai oleh Roma yang tertarik dengan hal-hal abstrak, pada abad ke- 4dan ke- 5 M ilmu pengetahuan pegetahuan benar-benar beku. Hal ini di sebabkan oleh tiga pokok penting :

  1. Penguasa Roma yang menekan kebebasan berfikir.
  2. Ajaran Kristen tidak disangkal.
  3. Kerjasama gereja dan penguasa sebagai otoritas kebenaran.

Walaupun begitu, pada abad ke-2 M sempat ada Galen (bidang kedokteran) dan tokoh aljabar, Poppus dan Diopanthus yang berperan dalam perkembangan pengetahuan.

 

 

  1. Tokoh-tokoh Pada Masa Yunani Kuno

Bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir terkenal sepanjang masa. Beberapa tokoh yang yang terkenal pada masa ini antara lain Thales, Phytagoras, Sokrates, Leucippus, Plato dan Aristoteles.

 

 

  1. Thales (624-548 SM)

Thales adalah filosof alam pertama yang mengkaji tentang asal usul alam. Thales digelari Bapak Filsafat karena dia adalah orang yang mula-mula berfilsafat dan mempertanyakan “apa sebenarnya asal usul alam semesta itu?”. Pertanyaan ini dijawab oleh Thales dengan pendekatan rasional bukan dengan pendekatan mitos atau kepercayaan. Menurut Thales asal alam semesta itu adalah air, karena tidak ada kehidupan tanpa air. Air merupakan unsur penting bagi setiap makhluk hidup, air dapat berubah menjadi benda gas, seperti uap dan benda padat  seperti es, dan bumi ini juga berada diatas air. Ada tiga alasan munculnya persoalan tentang alam semesta ini diantaranya adalah sebagai berikut:

  1. Thales mempersoalkan alam semesta maka persoalan tersebut merupakan suatu pertanyaan yang terus menerus dipersoalkan, dan dipandang sebagai persoalan abadi (perennial problem), yang disebut pula sebagai pertanyaan yang signifikan (a significant question).
  2. Phytagoras (580-500 SM)
  1. Pertanyaan yang diajukan Thales menimbulkan suatu konsep pertanyaan baru, yaitu “suatu hal yang tidak begitu saja ada, melainkan terjadi dari sesuatu”. Bertitik dari hal tersebut, muncul suatu konsep tentang perkembangan, suatu evolusi atau genesis.
  2. Pertanyaan demikian hanya dapat timbul dalam pemikiran kalangan tertentu, bukan masyarakat awan, melainkan masyarakat intelektual yang lebih maju.

      Phytagoras dikenal sebagai filsuf dan juga ahli ilmu ukur. Baginya tidak ada satupun dialam ini terlepas dari bilangan, semua realitas dapat diukur dengan bilangan (kuantitas). Karena itu dia berpendapat bahwa bilangan adalah unsur utama dari alam. Phytagoras pada masa itu sudah mengatakan bahwa bumi itu bundar dan tidak datar. Phytagoras pada masa itu juga menyusun suatu lembaga pendidikan dan himpunan yang beranggotakan murid-muridnya dan para sarjana yang dikenal sebagai Phytagoras Society. Hal ini mirip dengan masyarakat ilmiah seperti sekarang ini.

Phytagoras lebih dikenal dengan penemuannya tentang ilmu ukur dan aritmatik. Adapun beberapa temuan dari Phytagoras antara lain:

  1. Hukum atau dalil Phytagoras yaitu a2 + b2= c2, yang berlaku bagi setiap segitiga siku-siku dengan sisi a, sisi b, dan hypotenusa c, sedangkan jumlah sudut dari suatu segitiga siku-siku adalah 1800.
  2. Semacam teori tentang bilangan, antara lain pembagian antara bilangan genap dan bilangan ganjil, prime numbers (bilangan yang dapat dibagi dengan angka satu dan dengan bilangan itu sendiri) dan composite number, serta hubungan antara kuadrat natural numbers dengan jumlah ganjil.
  3. Pembentukan benda berdasarkan segitiga-segitiga, segi empat, segi lima dan sebagainya.
  4. Hubungan antara nada dengan panjang dawai.

Pythagoras memiliki peran sangat besar dalam pengembangan ilmu, Terutama ilmu pasti dan ilmu alam. Ilmu yang dikembangkan kemudian hari sampai hari ini sangat tergantung pada pendekatan matematika. Dalam filsafat ilmu, matematika merupakan sarana ilmiah yang terpenting dan akurat karena dengan pendekatan matematikalah ilmu dapat diukur dengan benar dan akurat.

  1. Socrates (470-399 SM)

      Socrates berpendapat bahwa ajaran dan kehidupan adalah satu dan tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Oleh karena itu, dasar dari segala penelitian dan pembahasan adalah pengujian diri sendiri. Bagi Socrates, pengetahuan yang sangat berharga adalah pengetahuan diri sendiri. Socrates tidak pernah meninggalkan tulisan, tetapi pemikirannya dikenal melalui dialog-dialog yang ditulis oleh muridnya Plato. Metode Socrates dikenal sebagai Maieutike Tekhne (ilmu kebidanan), yaitu suatu metode dialektika yang melahirkan kebenaran.

Socrates selalu mendatangi orang yang dia pandang memiliki otoritas keilmuan dengan bidangnya untuk berdiskusi tentang pengertian-pengertian tertentu. Socrates lebih mementingkan metode dialektika itu sendiri daripada hasil yang diperoleh. Jadi meskipun Socrates tidak meninggalkan teori-teori ilmu tertentu, tetapi ia meninggalkan sikap kritis melalui metode dialektika yang akan berkembang dalam dunia ilmu pengetahuan modern.

 

  1. Democritus (460-370 SM)

      Democritus adalah orang  pertama yang memperkenalkan konsep atom maka dari itu Democritus dikenal sebagai bapak atom pertama. Democritus menjelaskan bahwa alam semesta tersusun atas atom-atom. Atom adalah materi terkecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi. Bentuk atom itu bermacam-macam, dan benda-benda itu terus bergerak tanpa ketentuan. Gerak itu menimbulkan benturan sehingga terjadi pusaran-pusaran seperti gerak pusaran air. Adapun pemikiran Democritus tentang atom ini mengandung sifat-sifat sebagai berikut:

  1. Konsep materialistic-monistik, artinya atom merupakan sekadar materi yang tidak didampingi apapun karena di sekelilingnya hampa. Materi merupakan satu-satunya yang ada dan berbentuk segala-galanya.
  1. Konsep dinamika perkembangan, artinya segala sesuatu selalu berada dalam keadaan bergerak, sehingga berlaku prinsip dinamika.
  2. Konsep yang bersifat murni alamiah, artinya pergerakan atom itu bersifat intristik, primer, tanpa sebab, dan tidak dipengaruhi oleh sesuatu di luar dirinya.
  3. Bersifat kebetulan, artinya pergerakan itu terjadi tanpa tujuan, sehingga benturan-benturan yang terjadi tidak beraturan, dan tidak mengandung tujuan-tujuan tertentu.

 

 

  1. Plato (427-347 SM)

      Plato bertitik tolak dari Polemik antara Parmenides dengan Heraklitos. Parmenides menganggap bahwa realitas itu berasal dari hal satu yang tetap dan tidak berubah, sedangkan Heraklitos tersebut bertitik tolak pada hal banyak yang selalu berubah. Plato memadukan kedua pandangan tersebut dan menyatakan bahwa selain hal-hal yang beraneka ragam dan yang dikuasai oleh gerak serta perubahan-perubahan itu, sebagaimana yang diyakini oleh Heraklitos, tentu ada yang tetap, yang tidak berubah, sebagaimana yang diyakini oleh Parmenides. Plato menunjukan bahwa yang berubah itu dikenal oleh pengamatan, sedangkan yang tidak berubah dikenal oleh akal. Plato berhasil menjembatani pertentangan yang ada antara Heraklitos dan Parmenides.

Hal yang tetap, yang tidak berubah, dan yang kekal itu oleh Plato disebut ide (Harun Hadiwijono, 1988: 39-40; Bertens, 1989: 14). Plato merupakan murid dari Scorates dan pada waktu ini disebut Zaman keemasan filsafat Yunani karena pada zaman ini kajian-kajian yang muncul adalah perpaduan antara filsafat alam dan fisafat tentang manusia.

Pemikiran metafisika Plato terarah pada pembahasan mengenai being (hal ada) dan becoming (menjadi). Plato adalah filsuf yang pertama kali membangkitkan persoalan being dan mempertentangkannya dengan becoming. Plato menemukan  bahwa becoming, yakni dunia yang berubah, tidak memadai sebagai objek pengetahuan karena bagi Plato setiap bentuk pengetahuan bersesuaian dengan suatu jenis objek. Plato memikirkan pengetahuan asli (genuine knowledge), yaitu suatu jenis pengetahuan yang tidak berubah sehingga objeknya harus sesuatu yang tidak dapat berubah. Plato yakin bahwa pengetahuan yang asli itu harus diarahkan pada being. Being bagi Plato dibentuk oleh dunia yang merupakan pola-pola dari segala sesuatu yang dapat diinderawi, sedangkan ide-ide itu secara kodrati bersifat kekal dan abadi.

Alasan Plato membedakan being dan becoming adalah sebagai cara untuk mencari dasar kebenaran pengetahuan. Tiap pemahaman akan sesuatu melibatkan proses latihan pendidikan yang panjang bagi ketajaman mental, yang hanya dapat dicapai melalui disiplin. Bidang form merupakan kualitas universal dari hal-hal yang dapat diindrawi.

Tujuan utama filsafat menurut Plato adalah penyelidikan pada entitas, seperti apa yang dimaksudkan dengan keadilan, kecantikan, cinta, hasrat, kesamaan, dan kesatuan (White, 1987: 14). Plato yang mengangkat problem the one dan the many melihat bahwa kedua hal ini, kesatuan dan keanekaragaman, terpisah menjadi dua dunia, yakni dunia ide dan dunia bayangan. Dunia real dengan kejamakan atau keaneka ragaman hanya merupakan dunia bayangan, sedangkan yang benar-benar ada dan menjamin kesatuan adalah dunia ide. Dunia ide tersusun secara hirarkhis di bawah pimpinan ide utama,  yaitu ide kebaikan (Bakker, 1992: 33).

Plato juga memperhatikan ilmu pasti sebagai peninggalan Phytagoras sebab ada hubungan yang erat antara kepastian matematis dengan kesempurnaan ide. Keterikatan Plato pada kesempurnaan ide dan kepastian matematika membuatnya lebih memusatkan pikiran pada cara berpikir (aspek metodis) daripada yang dapat dialami atau yang dapat ditangkap oleh indera. Oleh karena itu, Plato dikatakan sebagai seorang eksponen rasionalisme manakala ia hendak menerangkan sesuatu. Akan tetapi ia juga seorang eksponen idealisme ketika menerangkan bidang nilai (aksiologis).

 

  1. Aristoteles (384-322 SM)

      Puncak kejayaan filsafat Yunani terjadi pada masa Aristoteles. Aristoteles adalah murid Plato, seorang filosof yang berhasil menemukan pemecahan persoalan-persolan besar filsafat yang dipersatukan dalam satu sistem yaitu logika, matematika, fisika, dan metafisika. Ia meneruskan sekaligus menolak pandangan Plato. Ajaran Aristoteles paling tidak dapat diklasifikasi ke dalam tiga bidang, yaitu metafisika, logika, dan biologi.

  1. Metafisika

Pandangan Aristoteles tentang metafisika berbeda dengan pandangan Plato. Ia menolak pandangan Plato tentang ide-ide. Aristoteles lebih mendasarkan filsafatnya pada realitas itu sendiri. Kenyataan bagi Aristoteles adalah hal konkret. Ide umum, seperti manusia, pohon, dan lain-lain, seperti yang dikatakan Plato, tidak terdapat dalam kenyataan konkret (Bertens, 1989: 14). Aristoteles mengatakan bahwa hal terpenting dalam pengetahuan objektif adalah menemukan penjelasan tentang sebab dan asal mula atau prinsip pertama dari segala sesuatu (White, 1987: 31).

Aristoteles membahas metafisika, istilah metafisika itu sendiri baru diperkenalkan oleh Andronikus ketika mengelompokan ajaran-ajaran Aristoteles, sebagai filsafat pertama dan menganggapnya sebagai prinsip pertama yang mendasari tugas ilmiah. Aristoteles ingin mengetahui jika semua hal ada dapat dipertimbangkan, maka bukannya dalam berbagai segi kasus atau ilmiah, melainkan ada dalam pengertian umum. Konsep self evidence di dalam filsafat Aristoteles merupakan butir penting dalam pemahaman filsafat dan fungsi metafisik. Apabila pada ajaran Plato pemahaman atas Forms, maka dalam filsafat Aristoteles diarahkan pada kemampuan untuk menyusun batas-batas penelitian dan menyelidiki suatu titik penyelesaian. Self Evidence merupakan penjelasan atas materi tertentu yang tidak dicari pada sesuatu yang lain, tetapi dapat ditemukan hanya di dalam pemikiran itu sendiri. Pembuktian dicari pada sesuatu yang terkandung di dalam hal itu sendiri.

  1. Logika

Aristoteles menyusun buku tentang logika untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan secara valid. Logika Aristoteles didasarkan pada susunan pikir. Pada dasarnya silogisme itu terdiri dari tiga pernyataan, yaitu premis mayor sebagai pernyataan pertama yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya, premis minor sebagai pernyataan kedua yang bersifat khusus dan lebih kecil lingkupnya daripada premis mayor, dan kesimpulan atau konklusi yang ditarik berdasarkan premis tersebut. Dengan demikian silogisme merupakan suatu bentuk jalan pemikiran yang bersifat deduktif yang kebenarannya bersifat pasti.

Dengan menyusun logika, Aristoteles telah memulai usaha yang sangat penting dalam ilmu pengetahuan, yaitu sebagai sarana berpikir yang dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya secara umum.

  1. Biologi

Aristoteles hanya dikenal sebagai filsuf, tetapi ia juga adalah seorang ilmuan kenamaan pada zamannya. Salah satu bidang ilmu yang banyak mendapat perhatiannya adalah biologi. Dalam embriologi, ia melakukan pengamatan (observasi) perkembangan telur ayam sampai terbentuknya kepala ayam. Ia juga melakukan pemeriksaan anatomi badan hewan, dan lain sebagainya. Aristoteles mementingkan aspek pengamatan sebagai suatu sarana untuk membuktikan kebenaran suatu hal, terutama dalam ilmu-ilmu empirik.

Aristoteles yang pertama kali membagi filsafat pada hal yang teoritis dan praktis. Yang teoritis mencangkup logika, metafisika, dan fisika, sedangkan yang praktis mencangkup etika, ekonomi, dan politik. Pembagian ilmu inilah yang menjadi pedoman juga bagi klasifikasi ilmu dikemudian hari. Aristoteles dianggap sebagai bapak ilmu karena dia mampu meletakkan dasar-dasar dan metode ilmiah secara sistematis.

Filsafat Yunani yang rasional itu boleh dikatakan berakhir setelah Aristoteles menuangkan pemikirannya. Akan tetapi sifat rasional itu masih digunakan selama berabad-abad sesudahnya sampai sebelum filsafat benar-benar memasuki dan tenggelam dalam Abad Pertengahan. Namun jelas, setelah periode ketiga filosof besar itu mutu fisafat semakin merosot. Kemunduran filsafat itu sejalan dengan kemunduran politik ketika itu, yaitu sejalan dengan terpecahnya kerajaan Macedonia menjadi pecahan-pecahan kecil setelah wafatnya Alexsander The Great. Tepatnya pada ujung zaman Helenisme, yaitu pada ujung sebelum masehi menjelang Neo Platonisme, filsafat benar-benar mengalami kemunduran.

 

 

  1. Kesimpulan

Setiap periode memiliki ciri khas serta perjalanan hidupnya sendiri terhadap perkembangan ilmu di eranya.begitu juga di zaman Yunani kuno. Banyak orang yang menyebut bahwa zaman yunani kuno adalah zaman keemasan yang melahirkan berbagai dasar disiplin ilmu. Semua ini tidak terlepas dari rasa ingin tahu dan sikap kritis yang dimiliki oleh pemikir-pemikir atau filsuf Yunani kuno.

Sikap kritis inilah yang menjadikan bangsa Yunani tampil sebagai ahli pikir-ahli pikir terkenal sepanjang masa. Sebut saja Thales, Pytagoras, Socrates, Democritus, Plato, Aristoteles, dan masih banyak lagi filsuf Yunani kuno yang buah pemikirannya memberikan dampak yang luar biasa bagi kita yang hidup di masa ini.

 

  1. Daftar Pustaka

Burhanudin, A. (2013, September). Dipetik April Rabu, 2014, dari Ilmu Pengetahuan Masa Yunani Kuno.

Mubaraqunsyiah. (2013, Desember Selasa). Dipetik April Rabu, 2014, dari Sejarah Dan Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno.

Rudi. (2013, Mei Sabtu). Dipetik April Rabu, 2014, dari Makalah Sejarah Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno.

Sainsmafia. (2013, Oktober). Dipetik April 2014, dari Perkembangan Ilmu Pengetahuan Pada Zaman Pra Yunani Kuno, Yunani Kuno, Paternalistik Dan Abad Pertengahan.

_________________

*) Selvia Alvionita Rizqi Amelia, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s