Perkembangan Ilmu Pada Masa Yunani Kuno

Ilmu pengetahuan bermula dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia. Manusia mempunyai rasa ingin tahu tentang benda-benda disekitarnya, bahkan ingin tahu tentang dirinya sendiri. Ilmu pengetahuan merupakan pencarian makna praktis, yaitu penjelasan yang bisa dimanfaatkan.

Diantara semua sejarah tak ada yang begitu mencengangkan atau begitu sulit diterangkan selain lahirnya peradaban di Yunani secara mendadak. Zaman ini berlangsung dari abad 6 SM sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini menggunakan sikap an inquiring attitude (suatu sikap yang sengan menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap receptive attitude (sikap menerima segala sesuatu saja).

Memang banyak unsur peradaban yanag telah ada ribuan tahun di Mesir dan Mesopotamia, dan yang kemudian menyebar ke negeri-negeri sekitarnya. Namun, unsur-unsur tertentu belum utuh sampai kemudian bangsa Yunanilah yang menyempurnakannya. Yang mereka capai dalam bidang seni dan sastra sudah lazim di ketahui, namun yang mereka lakukan dalam bidang murni intelektual bahkan lebih luar biasa. Mereka menemukan matematika, ilmu pengetahuan, dan filsafat; merekalah yang pertama kali menulis sejarah (history) yang berbeda dari sekedar tarikh (annals); mereka melakukan spekulasi bebas tentang hakikat dunia dan tujuan hidup, tanpa terbelenggu oleh paham-paham kolot yang diwarisi.

Sebagaimana pemikiran manusia pada awalnya masih diliputi dengan corak berfikir mitilogis. Corak pemikiran ini diwarnai dengan pertimbangan-pertimbangan magis dan animistik terkait dengan corak kehidupannya sehari-hari. Dalam perkembangan selanjutnya manusia mulai berfikir yang lebih rasional dengan disertai argumentasi-argumentasi logis. Dari sinilah fase awal dari berpikir secara filsafati, manusia merumuskan pernyataan-pernyataan logis dan sistematis terkait dengan persoalan-persoalan yang tengah di hadapinya.

Filsafat Yunani muncul dari pengaruh mitologi, mistisisme, matematika dan persepsi yang kental sehingga segalanya nyaris tidak jelas dan seakan mengacaukan pandangan dunia. Kebudayaan mereka kaya dan kreatif namun dikelilingi oleh orang-orang yang sportif dan kompetitif. Secara umum karakteristik filsafat Yunani kuno adalah rasionalisme, yaitu suatu pemahaman tentang sebuah pengetahuan lebih mengutamakan akal (logika).

 

 

 

Definisi/Karakteristik Pemikiran Pada Masa Yunani Kuno

Ciri pemikirannya adalh kosmosentris, yakni mempertanyakan asal usul alam semesta dan jagad raya sebagai salah satu upaya untuk menemukan asal mula (arche) yang merupakan unsur awal terjadinya gejala. Dan beberapa tokoh filosof pada zaman ini menyatakan pendapatnya tentang arche, antara lain:

  • Thales (640-550 SM)              : arche berupa air
  • Anaximander (611-545 SM)   : arche berupa apeiron (sesuatu uang tidak

terbatas)

  • Anaximenes (588-524 SM)     : arche berupa udara
  • Phytagoras (580-500 SM)       : arche dapat diterangkan atas dasar

bilangan-bilangan.

Selain keempat tokoh diatas ada dua filosof, yakni Herakleitos (540-475 SM) dan Parmindes (540-475 SM) yang mempertanyakan apakah realitas itu berubah, bukan menjadi suatu yang tetap. Pemikir Yunani lain yang merupakan salah satu yang berperan penting dalam pengembangan ilmu pengetahuan adalah Demokritos (460-370 SM) yang menegaskan bahwa realitas terdiri dari banyak unsur yang disebut dengan atom (atomos, dari a-tidak, dan tomos-terbagi). Selain itu, filosof yang sering dibicarakan adalah socrates (470-399 SM) yang langsung menggunakan metode filsafat langsung dalm kehidupan sehari-hari yang dikenal dengan dialektika (dialegesthai) yang artinya bercakap-cakap. Hal ini pula yang diteruskan oleh Plato (428-348 SM). Dan pemikiran filsafat masa ini mencapai puncaknya pada seorang Aristoteles (384-322 SM) yang mengatakn bahwa tugas utama ilmu pengetahuan adalah mencari penyebab-penyebab objek yang diselidiki. Ia pun berpendapat bahwa tiap kejadian harus mempunyai empat sebab, antara lain penyebab material, penyebab formal, penyebab efisien dan penyebab final.

Perodesasi Perkembangan Ilmu pengetahuan pada zaman pra-Yunani Kuno sampai Yunani Kuno

Zaman Pra-Yunani Kuno

Pada zaman ini, secara umum terbagi menjadi tiga fase.

  1. Zaman batu tua yang berlangsung 4 juta tahun SM sampai 20.000/10.000 tahun SM. Pada zaman ini telah mempunyai beberapa ciri khas, diantaranya adalah menggunakan alat-alat sederhana yang dibuat dari batu dan tulang, mengenal bercocok tanam dan berternak, dan dalam kehidupan sehari-hari didasari dengan pengamatan primitif.
  2. Zaman Batu muda yang berlangsung tahun 10.000 SM sampai 2000 SM atau abad 100 sampai 20 SM. Di zaman ini telah berkembang kemampuan-kemampuan yang sangat signifikan. Kemampuan itu berupa tulisan (dengan gambar dan symbol), kemampuan membaca (bermula dari bunyi atau suku kata tertentu), dan kemampuan menghitung. Dalam zaman ini juga berkembang masalah perbintangan, matematika, dan hukum.
  3. Zaman Logam. Zaman ini berlangsung dari abad 20 SM sampai abad 6 SM. Pada zaman ini pemakaian logam sebagai peralatan sehari-hari, bahkan sebagai perhiasan, peralatan masak, atau bahkan peralatan perang.

Zaman Yunani Kuno

Zaman ini berlngsung dari abad 6 M sampai dengan sekitar abad 6 M. Zaman ini menggunakan sikap ‘aninquiring attitude (suatu sikap yang senang menyelidiki sesuatu secara kritis), dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap ‘receptve attitude mind (sikap menerima begitu saja). Sehingga pada zaman ini filsafat tumbuh dengan subur. Yunani mencapai puncak kejayaannya atau zaman keemasannya (zaman Hellenisme) di bawah pimpinan Iskandar Agung (356-323 SM) dari Macedonia, yang merupakan salah seorang murid Aristoteles.

Pada abad ke-0 M, perkembangan ilmu mulai mendapatkan hambatan. Hal ini disebabkan oleh lahirnya Kristen. Pada abad pertama sampai abad ke-2 M, mulai ada pembagian wilayah perkembangan ilmu. Wilayah pertama berpusat pada Athena, yang difokuskan dibidang kemampuan intelektual. Sedangkan wilayah kedua berpusat di Alexandria, yang fokus pada bidang empiris.

Setelah Alexandria di kuasai oleh Roma yang tertarik dengan hal-hal abstrak, pada abad ke-4 dan ke-5 ilmu pengetahuan benar-benar beku. Hal ini disebabkan oleh tiga pokok penting:

1) Penguasa Roma yang menekan kebebasan berfikir

2) Ajaran Kristen tidak disangkal

3) Kerjasama gereja dan penguasa sebagai otoritas kebenaran.

Walaupun begitu, pada abad ke-2 M sempat ada Galen (bidang kedokteran) dan tokoh aljabar, Poppus dan Diopanthus yang berperan dalam perkembangan pengetahuan. Pada zaman ini banyak bermunculan ilmuwan terkemuka.

 

 

Tokoh/Filosof Yang Hidup Pada Masa Yunani Kuno

  1. Thales (624-546 SM)

Thales adalah warga asli Miletus, di Asia kecil, yang merupakan sebuah kota niaga yang maju. Filsafat bermula dari Thales, yang mengatakan bahwa dasar segala materi adalah air. Pada masanya, ia menjadi filsuf yang mempertanyakan isi dasar alam. Perihal masa hidup Thales, seperti kita saksikan, bukti terkuat adalah bahwa ia terkenal karena bisa meramalkan terjadinya gerhana yang menurut para astronom memang terjadi pada tahun 585 SM. Thales adalah salah satu dari tujuh orang bijak yunani.

  1. Anaximandros (611-546 SM)

Filsuf kedua dari mazhab Milesian. Masa hidupnya tidak pasti, namun konon usianya enam puluh empat pada tahun 546 SM, dan memang ada alasan untuk menganggap informasi itu mendekati kebenaran. Ia mengatakan bahwa segala hal berasal dari satu substansi asali, namun substansi itu bukan air, seperti diyakini Thales, atau substansi lain manapun yang kita ketahui. Pemikiran yang diungkapkan Anaximandros kurang lebih demikian: mestinya ada api, tanah, dan air dalam takaran tertentu di dunia, namun masing-masing unsur itu (yang dikonsepkan sebagai dewa) terus menerus berupaya memperbesar kerajaannya sendiri. Tetapi ada keniscayaan atau hukum alam yang senantiasa mengembalikan keseimbangan; jikalau telah ada api, umpamanya, tentu ada abu, yang tak lain adalah tanah. Anaximandros memiliki argumen untuk membuktikan bahwa substansi asali itu bukan air, atau unsur lain manapun yang dikenal. Jika salah satu substansi itu bersifat asali, maka substansi itu akan mengalahkan yang lain. Anaximandros memiliki keingintahuan ilmiah yang besar. Ia konon adalh orang pertama yang membuat peta. Ia berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti silinder. Sering dikisahkan pernyataannya bahwa matahari sama besarnya dengan bumi, atau dua puluh tujuh kali, atau dua puluh delapan kali lipat besarnya.

  1. Anaximenes (585-525 SM)

Tokoh terakhir dari tritunggal Milesian. Menurutnya, substansi yang paling dasar adalah udara. Jiwa adalh udara; api adalah udara yang encer; jika dipadatkan, pertama-tama udara akan menjadi air, dan jika dipadatkan lagi, menjadi tanah, dan akhirnya menjadi batu. Arti penting teori ini adalah membuat pembedaan antara pelbagai kuantitas substansi, yang sepenuhnya tergantung pada tingkat kepadatannya. Ia juga berpendapat bahwa bumi berbentuk seperti meja bundar, dan bahwa udara melingkupi segala sesuatu: “Sebagaimana jiwa kita, yang tak lain adalah udara, mempersatukan kita bersama, demikian pua napas dan udara melingkupi seluruh dunia.” Dikesankan di sini bahwa dunia pun bernapas.

  1. Pythagoras (580-500 SM)

Ia adalah warga pribumi dari pulau Samos, dan sudah dewasa kira-kira pada tahun 532 SM. Pythagoras adalah salah seorang tokoh yang paling menarik dan membingungkan dalam sejarah. Pythagoras adalah seorang tokoh filusuf yang juga seorang ahli ukur namun lebih dikenal dengan penemuannya tentang ilmu ukur dan aritmatika. Beliau juga di kenal sebagai bapak bilangan, dan salah satu peninggalan Pythagoras yang terkenal adalah ‘Teorema Pythagoras’. Sebagaimana banyak diketahui, Pythagoras mengatakan bahwa “Segala sesuatu adalah bilangan-bilangan.” Pernyataan ini, jika ditafsirkan secara modern, memang tak masuk akal, namun yang ia maksudkan bukannya sama sekali tak ada artinya. Ia menemukan pentingnya bilangan dalm musik, dan hubungan yang ia bangun antara musik dan matematika terkenal lewat peristilahan matematika, “nilai rata-rata harmoni” dan progresi harmoni. Selain itu, dalam ilmu ukur dan aritmatika ia berhasil menyumbang teori tentang bilangan, pembentukan benda, dan menemukan antara nada dengan panjang dawai.

  1. Herakleitos (540-475 SM)

Herakleitos meyakini api sebagai unsur purba yang darinya segala sesuatu tercipta. Metafisika Herakleitos, sebagaimana pemikiran Anaximandros, didominasi oleh konsepi tentang keadilan kosmis, yang mencegah agar perselisihan antara hal-hal yang berlawanan janganlah menghasilkan kemenangan mutlak salah satu pihak. Doktrin bahwa segala sesuatu berubah terus-menerus adalah pandangan Herakleitos yang paling terkenal, dan suatu ajaran yang paling ditekankan oleh pengikut-pengikutnya.

  1. Parmenides (540-470 SM)

Parmenides adalah waga pribumi Elea, Italia Selatan. Parmenides termasuk filsuf penting dalam sejarah karena iamenciptakan suatu bentuk argumen metafisis yang dalam pelbagai coraknya, tetap dipakai oleh kebanyakan metafisisi berikutnya sampai kepada, dan termasuk, Hegel. Sering dikatakab bahwa ia telah menemukan ilmu logika, tetapi yang sebetulnya ia ciptakan adalah metafisika yang didasarkan pada logika.

  1. Empedokles

Empedokles telah dewasa pada kira-kira tahun 440 SM. Ia adalah warga Acragas, yang terletak di pesisir selatan Sisilia. Penemuannya mengenai udara sebagai substansi tersendiri. Di sini ia membuktikannya lewat observasi, yakni jika ember atau sembarang bejana sejenis itu dibenamkan terbalik ke dalam air, maka air tak akan masuk ke dalam ember. Ia setidaknya juga menemukan satu contoh tentang kekuatan sentrifugal: jika secangkir air digantungkan di ujung tali dan diayun berputar, air itu tak akan tumpah.

  1. Anaxagoras (500-425 SM)

Ia adalah orang Ionia dan menganut tradisi ilmiah dan rasionalis Ionia. Dialah orang pertama yang memperkenalkan filsafat kepada warga Athena, dan yang mula-mula berpendapat bahwa ruh adalah penyebab utama terjadinya perubahan-perubahan fisik. Anaxagoras memiliki arti penting dalam ilmu pengetahuan. Dialah yang pertama menjelaskan bahwa bulan bersinar dengan memantulkan cahaya, ia juga mengemukakan teori yang benar mengenai gerhana, dan tahu bahwa bulan berada di bawah matahari.

  1. Socrates (470-399 SM)

Filsuf dari Athena. Dalam sejarah umat manusia, Socrates merupakan contoh istimewa selaku filsuf yang jujur dan berani. Socrates menciptakan metode ilmu kebidanan yang dikenal ‘Maicutika Telenhe’, yaitu suatu metode dialektiva untuk melahirkan kebenaran.

  1. Democritus (460-370 SM)

Dikenal sebagai bapak atom pertama yang memperkenalkan konsep atom,

Bahwa alam semesta ini sesungguhnya terdiri atas atom-atom. Atom

adalah materi terkecil yang tidak dapat di bagi-bagi lagi.

  1. Plato (427-347 SM)

Plato adalah murid Socrates dan guru dari Aristoteles, filsuf yang pertamakali membangkitkan persoalan being (hal ada) dan mempertentangkan dengan becoming (hal menjadi).

  1. Aristoteles (384 SM-322 SM)

Seorang filsuf yunani, murid dari Plato dan guru dari Alexander. Ia memberikan kontribusi bidang metafisika, fisika, etika, politik, ilmu kedokteran, dan ilmu alam. Dibidang ilmu alam, ia merupakan orang pertama yang mengumpulkan dan mengklasifikasikan spesies biologi secara sistermatis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Kesimpulan

Sejarah perkembangan ilmu bermula dari zaman pra-sejarah atau bisa di katakan “zaman batu”. Pada masa itu ilmu hanya sebatas rasa ingin tahu mengenai alam sekitarnya. Namun periodesasi ilmu pengetahuan secara teoritis selalu mengacu pada peradaban Yunani. Periodesasi perkembangan ilmu pengetahuan zaman pra-Yunani kuno terbagi menjadi 3 yaitu, zaman batu tua, zaman batu muda, dan zaman logam.

Zaman Yunani merupakan zaman filsafat, karena pada zaman ini para filsuf menggunakan sikap ‘Aninquiring Attitude’ dan tidak menerima pengalaman yang didasarkan pada sikap ‘Receptive Attitude’. Di zaman ini bayak bermunculan filsuf terkenal seperti Thales, Phytagoras, Socrates, Demokritus, Plato, dan Aristoteles.

 

Saran

  • Seharusnya kita sebagai calaon pendidik haruslah banyak mengetahui tentang sejarah perkembangan ilmu pengetahuan, dan siapa saja penemu yang berperan penting dalm kehidupan ini.

 

Daftar Pustaka

 

Bertens, K. 1991. Sejarah Filsafat Yunani. Yogyakarta: Kanisius.

Bakhtiar, Amsal. 2004. Filsafat Ilmu. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

http://syifarachmat.wordpress.com/2012/07/04/perkembangan-ilmu-pengetahuan dari-zaman-yunani-kuno-hingga-zaman-kotemporer/

 

 

_______________________

Disusun Oleh:

Yekti Mulia Sari

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s