Dasar-dasar Ilmu

Ontologi merupakan salah satu kajian kefilsafatan yang paling kuno dan berasal dari Yunani. Studi tersebut membahas keberadaan sesuatu yang bersifat konkret. Tokoh Yunani yang memiliki pandangan yang bersifat ontologis dikenal seperti Thales, Plato, dan Aristoteles. Pada masanya, kebanyakan orang belum membedakan antara penampakan dengan kenyataan. Thales terkenal sebagai filsuf yang pernah sampai pada kesimpulan bahwa air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula segala sesuatu. Namun yang lebih penting ialah pendiriannya bahwa mungkin sekali segala sesuatu itu berasal dari satu substansi belaka (sehingga sesuatu itu tidak bisa dianggap ada berdiri sendiri).

Epistemologi atau teori pengetahuan adalah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengetahuan, pengandaian-pengandaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pernyataan mengenai pengetahuan yang dimiliki. Mula-mula manusia percaya bahwa dengan kekuasaan pengenalannya ia dapat mencapai realitas sebagaimana adanya para filosof pra Sokrates, yaitu filosof pertama di alam tradisi Barat, tidak memberikan perhatian pada cabang filsafat ini sebab mereka memusatkan perhatian, terutama pada alam dan kemungkinan perubahan, sehingga mereka kerap dijuluki filosof alam.
Dan ketika kita membahas tentang Epistimologi ini, kita nantinya akan berbicara tentang aliran-aliaran yang membahas tentang bagaimana pengetahuan itu akan didapat oleh seorang manusia, dan metode apakah yang akan dipakai untuk mendapatkan suatu pengetahuan.

Aksiologi merupakan cabang filsafat ilmu yang mempertanyakan bagaimana manusia menggunakan ilmunya. Aksiologi berasal dari kata Yunani: axion (nilai) dan logos (teori), yang berarti teori tentang nilai.

2.1 Pengertian Ontologi

Istilah ontologi berasal dari bahasa Yunani yaitu : ta onta berarti “yang berada”, dan logi berarti ilmu pengetahuan; ajaran. Dengan demikian ontologi adalah ilmu pengetahuan atau ajaran tentang yang berada. Tokoh yang membuat istilah ontologi populer adalah Christian Wlff (1679 – 1714). Obyek telaah ontologi adalah yang telah ada. Studi tentang yang ada, pada datasan studi filsafat pada umumnya dilakukan oleh filsafat metaphisika. Istilah ontologi banyak digunakan ketika kita membahas yang ada dalam konteks filsafat ilmu.

Ontologi membahas tentang yang ada , universal, menampilkan pemikiran semesta universal. Ontologi berupaya mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan atau dalam rumusan Lorens Bagus : menjelaskan yang ada yang meliputi semua realitas dalam semua bentuk.

2.2 Aliran – Aliran Yang Membahas Ontologi

Di dalam ontologi terdapat beberapa aliran yang penting, yaitu :

  1. Dualisme, yang memandang alam menjadi ini terdiri dari dua macam hakikat sebagai sumbernya. Faham serba dua (dualisme) telah lama muncul di kalangan filsuf. Pemikiran serba dua (dualisme) dapat dilihat dalam pemikiran Aristoteles yang disebutnya sebagai materi dan bentuk. Didalam dunia inilah kita menghadapi pengertian-pengertian tentang “yang ada sebagai potensi” dan “yang ada secara terwujud”
  2. Materialisme, memandang bahwa sumber yang asal itu hanya tunggal. Dalam arti mutlak, materi (hule) adalah asas atau lapisan bawah yang paling akhir dan umum. Oleh karena itu materi perlu mutlak bagi pembentukan segala sesuatu. Materi adalah kenyataan yang belum terwujud, yang belum ditentukan, akan tetapi yang memiliki potensi, bakat untuk menjadi terwujud atau menjadi ditentukan oleh bentuk. Dilain pihak, bentuk yang dapat menjadikan materi yang menjadi nyata, bukanlah pola yang kekal dari segala hal yang nyata, bukan hanya idea, seperti yang diajarkan Plato, akan tetapi sekaligus juga menjadi tujuan yang akan dicapai materi, dan kekuatan yang menjadikan materi yang belum terbentuk menjadi nyata. Oleh karena itu, materi dan bentuk tidak dapat dipisahkan. Materi tidak dapat beradda tanpa bentuk, sebaliknya bentuk tidak dapat berada tanpa materi. Tiap benda yang dapat diamati disusun dari bentuk dan materi. Materinya adalah rangkuman segalayang belum ditentukan ada yang belum terwujud, sedang bentuknya memberi kesatuan.
  3. Idealisme, memandang segala sesuatu serba cita atau serba roh. Apabila monisme memandang bahwa hakikat yang asal dari realitas ini adalah materi maka paham ini disebut materialisme. Sedangkan monisme yang memandang bahwa hakikat yang asal dari realitas ini adalah rohani maka paham ini disebut spiritualisme atau idealisme. Aliran ini menganggap bahwa hakikatnya kenyataan yang beraneka ragam ini semua berasal dari roh( sukma ) atau yang sejenis dengan itu. Sesuatu yang tidak berbentuk dan tidak menempati ruang. Ditinjau dari keseluruhan isi ajarannya, aliran ini memang banyak menarik perhatian ahli pikir. Daya tarik tersebut menyangkut beberapa hal, antara lain :
    1. Aliran ini dapat memenuhi hasrat-hasrat yang tinggi dan roh kemanusiaan.
    2. Seluruh kenyataan ini menjadi sangat berarti, sebab dia dianggap sebagai perwujudan pada alam cita-cita.
    3. Manusia merasa seperti dipanggil oleh seruan yang nyaring untuk mewujudkan cita-citanya, karena itu sudah seharusnya dianggap pulang pada alam cita-cita itu sendiri.
    4. Idealisme menjadikan kehidupan manusia menjadi lebih gembira dan memuaskan, sehingga meskipun manusia fana dalam kemanusiaannya juga merasa seakan akan dia turut sebagai pencipta juga.
    5. Lebih menarik lagi, idealisme itu karena orang lain dapat merasakan kepuasan beragama dengan anggapan :
      1. Kita dapat memikirkan Tuhan itu sebagai Idea (alam cita-cita) dan yang tertinggi (ajaran Plato)
      2. Memikirkan Tuhan sebagai keseluruhan dari idea-idea (Windelband)
      3. Memikirkan Tuhan sebagai kekuasaan yang menghubungkan Idea dengan kenyataan (Kant)
      4. Memikirkan idea-idea sebagai alam akhirat yang kekal dan asli yang diciptakan Tuhan lebih utama dan dunia kebendaan yang fana (tasawuf Islam).
    6. Agousticisme, yaitu faham yang mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat seperti yang dikehendaki oleh ilmu metafisika.

2.3 Pengertian Epistimologi

Istilah “epistimologi” didalam bahasa inggris dikenal dengan istilah “Theory of knowledge”. Epistimologi berasal dari asal kata “episteme” dan “logos”. Episteme berarti pengetahuan, dan logos berarti teori. Dalam rumusan yang lebih rinci disebutkan bahwa epistimologi merupakan salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula engetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan.

Disamping itu, terdapat beberapa istilah yang maksudnya sama dengan epistimologi, yaitu :

  1. Gnosiologi
  2. Logika Material
  3. Criteriologi

Keseluruhan istilah tersebut didalam bahasa indonesia pada umumnya disebut filsafat pengetahuan. Dalam rumusan lain disebutkan bahwa epistimologi adalah cabang filsafat yang mempelajari soal watak, batas-batas dan berlakunya ilmu pengetahuan, demikian yang diajukan oleh J.A.N. Mulder. Sebenarnya banyak ahli filsafat (filsuf) maupun sarjana filsafat yang merumuskan tentang epistimologi atau filsafat pengetahuan. Apabila keseluruhan rumusan tersebut direnungkan maka dapat dipahami bahwa prinsipnya epistimologi adalah bagian filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, sumber pengetahuan, asal mula pengetahuan, batas-batas, sifat metode dan keahlian pengetahuan. Oleh karena itu sistematika penulisan epistimologi adalah terjadinya pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah dan aliran-aliran teori pengetahuan.

2.4 Teori Kebenaran dan Pandangan Filsuf

Pada umumnya ada beberapa teori kebenaran yaitu : teori kebenaran saling berhubungan, teori kebenaran saling berkesucian, teori kebenaran inkerensi. Menurut Plato kebenaran yang utama adalah yang diluar duniaini. Maksudnya ialah suatu kesempurnaan tidak dapat dicapai di dunia ini. Berbeda halnya dengan Aurelius Augustinus (354-430) yang menegaskan bahwa pikiran dapat mencapai kebenaran dan kepastian. Pada abad ke-17 dari paham rasionalisme, yaitu Rene Descortes (1596-1650) menegaskan, yang harus dipandang sebagai yang benar adalah apa yang jelas dan terpilah-pilah. Apa yang kita duga kita lihat dengan mata kita itu hanya dapat kita ketahui semata-mata dengan kuasa penilaian kita, yang terdapat didalam rasio atau akal. Pengetahuan melalui indera adalah kabur. Oleh karena itu kita harus meragukan apa yang kita amati dan kita ketahui sehari-hari. Semuanya itu harus dengan sadar kita pandang sebagai tidak pasti, yaitu :

  1. Segala sesuatu yang telah kita dapatkan di dalam kesadaran kita sendiri, karena semuanya itu mungkin sekali adalah hasil khayalan kita atau hasil tipuan roh jahat.
  2. Segala sesuatu yang hingga kini telah kita pandang sebagai benar dan pasti.

Pada abad ke-20 muncul paham progmalisme yang salah seorang tokohnya adalah William James (1842 – 1910) dan didalam bukunya The Meaning of Truth, atau “Arti kebenaran”,James mengemukakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak , yang berlaku umum, yang bersifat tetap, yang berdiri sendiri, lepas dari akal yang mengenal. Sebab, pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena didalam prakteknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tiada kebenaran yang mutlak yang ada adalah kebenaran-kebenaran, yaitu apa yang benar dalam pengalama-pengalaman yang khusus, yang setiap kali dapat diubah oleh pengalaman berikutnya.

2.5 Metode – Metode Filsafat

Metode berasal dari bahasa Yunani yaitu “metodos” yang terdiri dari unsur : “meta” berarti cara, perjalanan sesudah; dan “hovos” berarti : cara, perjalanan, arah. Metode merupakan kajian atau telaah dan penyusunan secara sistematik dari beberapa proses dan asas-asas logis dan percobaan yang sistematis yang menuntun suatu penelitian dan kajian ilmiah; atau sebagai penyusunan struktur ilmu-ilmu vak. Ada dua metode ilmiah, yaitu :

  1. Metode-metode Ilmiah Umum

Sistematisasi metode-metode ilmiah kerap mengacukan metode-metode umum yang berlaku bagi semua ilmu dan bagi segala pengetahuan, dan metode-metode yang hanya berlaku bagi ilmu khusus. Metode-metode umum kerap dikaitkan dengan ilmu pengetahuan tertentu saja. Beberapa unsur umum dalam subyek :

  1. Bertanya, bersikap ragu-ragu; pada umumnya sikap kritis; tidak apa-apa diterima begitu saja atau dengan bebas dari penelitian.
  2. Penerapan dan pemahaman (rasional)
  3. Intuisi (konkret) dan Abstraksi (konseptual)
  4. Refleksi (introspeksi, lebih subyektif), dan observasi, pengamatan, desperimen (ekstropeksi, lebih obyektif)

Beberapa unsur metodis umum :

  1. Titik pangkal (aksioma)
  2. Definisi
  3. Pembagian
  4. Hipotesis
  5. Contoh analogi
  6. Perbandingan
  7. Pembuktian
  8. Verifikasi

 

  1. Metode- Metode Ilmiah Khusus

Masing-masing ilmu pengetahuan memiliki metode dan logika tersendiri. Sebaiknya metode demikian langsung disebut : metode ilmu pasti, metode imu alam, metode sosiologi, metode filsafat, dan sebagainya. Dengan demikian, dicegah banyak salah paham. Menurut Francis Bacon kini penemuan-penemuan yang ada terjadi karena kebetulan saja. Mulai sekarang penemua-penemuan harus dilakukan karena tugas dan secara metodis. Agar tugas itu dapat dilaksanakan maka diperlukan :

a)      Bahwa alam diwawancarai

b)      Bahwa orang bekerja menurut suatu metode yang benar

c)      Bahwa orang bersikap pasif terhadap bahan-bahan yang disajikan alamartinya : orang harus menghindari diri dari mengemukakan prasangka-prasangka terlebih dahulu.

Bacon menolak syllogisme, sebab dipandang sebagai hal yang tanpa arti didalam ilmu pengetahuan. Sebab syllogisme tidak mengajarkan kebenara-kebenaran yang baru. Syllogisme hanya bernilai jika dilihat dari segi pengajaran. Metode empiris oleh Bacon dipandang sebagai menunjukkan bagaiman caranya menyusun data-data yang telah diamati, yang memang diperlukan sekali bagi ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan harus dialaskan kepada penyusunan data-data. Demikian Bacon menekankan sekali bahwa ilmu pengetahuan hanya dapat diusahakan dengan pengamatan, percobaan-percobaan, dan penyusunan fakta-fakta.

Berbeda dengan metode yang dikemukaan oleh Ficthe, ia mengemukakan metode deduktif. Melalui metode deduktif, Ficthe mencoba menurunkan dari Ego atau “Aku”, adanya benda-benda. Karena Ego berpikir, berefleksi, meng-ia-kan diri, maka benda-benda ada. Dengan secara dialektis(yaitu berpikir dengan menggunakan tese, antitese, dan sintese) ia mencoba menjelaskan adanya benda-benda. Ia mengemukakan tiga dalil :

  1. Ego atau “Aku” meng-ia-kan dirinya sendiri, atau Ego meneguhkan bahwa ia ada. Inilah tesenya. Aksn tetapi perbuatan peneguhan adanya diri sendiri ini baru mungkin jika Ego juga membedakan diri dari yang “Bukan Ego” atau obyek atau benda, yang membatasi Ego tadi.
  2. Ego meneguhkan adanya yang “Bukan Ego”. Inilah anti tesenya. Oleh karena Ego sekarang benar-benar tidak lagi tunggal (karena ada Ego yang dapat dibagi-bagi dan “Bukan Ego” yang dapat dibagi-bagi), maka
  3. Ego didalam kesadarannya berhadapan muka dengan suatu dunia.

2.6 Pengertian Aksiologi

Aksiologi adalah cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai secara umum. Sebagai landasan ilmu, aksiologi mempertanyakan untuk apa pengetahuan berupa ilmu itu dipergunakan? Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penentuan objek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral? Bagaimana kaitan antara teknik, prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral atau profesional? (Jujun S.Suriasumantri, 1985, hlm. 34-35)

Pada dasarnya ilmu harus digunakan dan dimanfaatkan untuk kemaslahatan manusia. Dalam hal ini, ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana atau alat dalam meningkatkan taraf hidup manusia dengan memperhatikan kodrat manusia, martabat manusia, dan kelestarian atau keseimbangan alam.

 

DAFTAR PUSTAKA
Drs. Sudarsono, S. M. (2008). Ilmu Filsafat (Suatu Pengantar). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Muhadjir, P. D. (2001). Filsafat Ilmu (Positivisme, Post Positivisme, dan Post Modernisme). Yogyakarta: PT Rake Sarasin.

Surajiyo, D. (2010). Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia. Jakarta: PT Bumi Aksara.

___________

Disusun Oleh:

Sri Astuti

STKIP PGRI Pacitan

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s