Sejarah Perkembangan Ilmu pada Abad pertengahan

Ilmu adalah pengetahuan yang logis dan mempunyai bukti empiris yang diperoleh dengan riset terhadap objek-objek yang empiris; benar tidaknya suatu teori sains (ilmu) ditentukan oleh logis tidaknya dan ada tidaknya bukti empiris. Sedangkan isi ilmu adalah teori-teori, misalkan ilmu bumi (geografi) berisi teori-teori tentang bumi, ilmu sejarah berisi teori-teori tentang sejarah, ilmu pendidikan berisi teori-teori tentang pendidikan, dan sebagainya. Jadi ilmu itu esensinya adalah teori. Bila teori itu logis dan ada bukti empirisnya, maka teori sains itu benar. Namun bila hanya logis, maka ia adalah pengetahuan filsafat. Adapun filsafat adalah sejenis pengetahuan manusia yang logis tentang objek-objek yang abstrak (Tafsir, 1991: 14-15).

Dalam perkembangan lebih lanjut menurut Koento Wibisono (1999), filsafat itu sendiri telah mengantarkan adanya suatu konfigurasi dengan menunjukkan bagaimana “pohon ilmu pengetahuan” telah tumbuh mekar dan bercabang secara subur. Masing-masing cabang melepaskan diri dari batang filsafatnya, berkembang mandiri dan masing-masing mengikuti metodologinya sendiri-sendiri. Dengan demikian, perkembangan ilmu pengetahuan semakin lama semakin maju dan berkembang yang menyebabkan munculnya ilmu-ilmu baru yang pada akhirnya memunculkan sub-sub ilmu pengetahuan baru bahkan kearah ilmu pengetahuan yang lebih spesifik. Sejak F. Bacon (1561-1626) mengembangkan semboyannya “Knowledge Is Power”, dapat disimpulkan bahwa peranan ilmu pengetahuan terhadap kehidupan manusia menjadi sangat menentukan. Karena itu implikasi yang timbul menurut Koento Wibisono (1984) adalah bahwa ilmu yang satu sangat erat hubungannya dengan cabang ilmu yang lain serta semakin kaburnya garis batas antara ilmu murni atau teoritis dengan ilmu terapan atau praktis.

Untuk mengatasi kesenjangan antara ilmu yang satu dengan ilmu yang lain, maka dibutuhkan suatu bidang ilmu yang dapat menjembatani serta mewadahi perbedaan yang muncul. Maka bidang filsafatlah yang mampu mengatasi hal tersebut. Hal ini senada dengan pendapat Immanuel Kant (dalam Koento Wibisono dkk., 1997) yang menyatakan bahwa filsafat merupakan disiplin ilmu yang mampu menunjukkan batas-batas dan ruang lingkup pengetahuan manusia secara tepat. Oleh sebab itu, Francis Bacon (dalam The Liang Gie, 1999) menyebut filsafat sebagai ibu agung dari ilmu-ilmu (The great mother of the sciences).

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang sering terkait karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat peradaban filsafat. Kelahiran filsafat Yunani yang dipengaruhi oleh kepercayaan, maka filsafat pada abad pertengahan pun didominasi oleh agama yaitu agama Kristen artinya segala pemecahan masalah selalu didasarkan atas dogma agama.

Abad pertengahan (476-1492 M) atau zaman keemasan bagi Kekristenan dimulai kira-kira pada abad ke-5 hingga awal abad ke-17 yang ditandai dengan pengaruh yang cukup besar dari agama Katolik terhadap kekaisaran dan perkembangan kebudayaan pada saat itu. Pada umumnya orang Romawi sibuk dengan masalah keagamaan tanpa memperhatikan masalah duniawi dan ilmu pengetahuan. Para ilmuan pada masa ini hampir semua adalah para teolog, sehingga aktivitas ilmiah diarahkan untuk mendukung kebenaran agama. Hal ini yang menjadi persoalan, karena Kristen mengajarkan bahwa wahyu tuhanlah yang merupakan kebenaran sejati sedangkan pandangan Yunani kuno mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal.

DEFINISI DAN PERKEMBANGAN ILMU ABAD PERTENGAHAN

Abad pertengahan (476-1492 M) disebut juga sebagai abad kegelapan, karena pendapat ini didasarkan pada pendekatan sejarah Gereja. Pada saat itu tindakan gereja sangat membelenggu kehidupan manusia, sehingga manusia tidak lagi mendapatkan kebebasan untuk mengembangkan potensi dalam dirinya. Pada abad ini apabila terdapat pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, maka orang yang mengungkapkan pemikiran tersebut akan mendapat hukuman yang berat. Karena itu kajian terhadap agama yang tidak berdasarkan pada ketentuan gereja akan mendapat larangan yang ketat dan yang berhak mengadakan penyelidikan terhadap agama hanyalah pihak gereja.

Abad ini juga dapat dikatakan sebagai masa yang penuh dengan upaya yang mendorong manusia kedalam kehidupan atau kepercayaan yang picik dan fanatik, karena ajaran gereja diberikan secara membabi buta. Perkembangan ilmu pengetahuan pada masa ini terhambat karena disini pihak gereja yang paling mendominasi dengan tujuan untuk membimbing umat kearah hidup yang saleh. Namun disisi lain, pihak gereja tidak memikirkan martabat dan kebebasan manusia yang memiliki perasaan, keinginan dan cita-cita untuk masa depannya sendiri.

Sejarah abad pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 hingga awal abad ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476 yakni sebagai masa berakhirnya Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (Istambul) sebagai data awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Columbus) sebagai data akhirnya.

Adapun istilah Abad Pertengahan sendiri (yang baru muncul pada abad ke-17) sesungguhnya hanya berfungsi sebagai bantuan untuk memahami zaman ini sebagai zaman peralihan (masa transisi) atau zaman tengah antara dua zaman penting sesudah dan sebelumnya, yakni Zaman Kuno (Yunani dan Romawi) dan Zaman Modern yang diawali dengan masa Renaissance pada abad ke-17. 

Zaman abad pertengahan ditandai dengan tampilnya para teolog di lapangan ilmu pengetahuan. Para ilmuan pada masa itu hampir semua adalah teolog, sehingga aktivitas ilmiah terkait dengan aktivitas keagamaan. Semboyan yang berlaku bagi ilmu pada masa ini adalah anchilla theologia atau abdi agama. Namun demikian harus diakui bahwa banyak juga temuan dalalm bidang ilmu yang terjadi pada masa ini.

Abad pertengahan merupakan abad kebangkitan religi di Eropa. Pada masa ini agama berkembang dan memengaruhi hampir seluruh kegiatan manusia, termasuk pemerintahan. Sebagai konsekuensinya, sains yang telah berkembang di masa zaman klasik dipinggirkan dan dianggap lebih sebagai ilmu sihir yang mengalihkan perhatian manusia dari ketuhanan.

Pada masa ini pula ilmu pengetahuan dan kesenian dimanfaatkan untuk kepentingan religi. Adanya larangan pengeksposan tubuh manusia dan hewan membuat kesenian menemukan teknik abstraksi yang memungkinkan sensasi tercipta tanpa adanya kehadiran bentuk realis.

KARAKTERISTIK FILSAFAT ABAD PERTENGAHAN

Karakteristik dari filsafat Abad Pertengahan adalah dengan adanya hubungan erat antara agama Kristen dan filsafat. Secara menyeluruh, filsafat pada Abad Pertengahan ini merupakan filsafat Kristiani karena para pemikirnya hampir semua dari kalangan klerus yaitugolongan rohaniawan atau biarawan dalam Gereja Katolik misalkan uskup, imam, pimpinan, biara, rahib, dan lain-lain serta perhatian mereka tercurah pada ajaran agama Kristiani.

Filsafat pada masa ini sangat didominasi oleh ajaran agama Kristen yang mengajarkan bahwa wahyu Tuhan adalah kebenaran sejati, hal ini bertentangan dengan pandangan Yunani kuno yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dicapai oleh kemampuan akal. Pada saat itu Yunani kuno belum mengenal adanya wahyu.

Adapun sikap terhadap pemikiran Yunani ada dua, yaitu:

  1. Golongan yang menolak sama sekali pemikiran Yunani, karena pemikiran Yunani merupakan pemikiran orang kafir karena tidak mengakui wahyu.
  2. Menerima filsafat Yunani yang mengatakan bahwa karena manusia itu ciptaan Tuhan maka kebijaksanaan manusia berarti pula kebijaksanaan yang datangnya dari Tuhan. Mungkin akal tidak dapat mencapai kebenaran yang sejati. Oleh karena itu, akal dapat dibantu oleh wahyu.

 

PERIODE-PERIODE PADA ABAD PERTENGAHAN

Secara garis besar periode Abad Pertengahan dibagi menjadi periode Patristik dan periode Scholastik. Sedangkan masa Scholastik dibagi menjadi tiga periode yaitu Scholastik awal, puncak perkembangan Scholastik, dan Scholastik akhir.

 

  1. Patrisitik (100-700)

Patristik berasal dari kata Latin Patres yang berarti bapa-bapa gereja, yakni ahli agama Kristen pada abad permulaan agama Kristen. Zaman ini muncul pada abad ke-2 hingga ke-7. Didunia barat agama Katolik mulai tersebar dengan ajaran tentang ketuhanan, manusia dan etika. Untuk mempertahankan dan menyebarkannya maka mereka menggunakan filsafat Yunani dan mengembangkan lebih lanjut, khususnya mengenai kebebasan manusia, kepribadian, kesusilaan dan sifat Tuhan. Tokoh terkenal pada masa itu adalah Tertulianus (160-222), Origenes (185-254), dan Augustinus (354-430 yang sangat besar pengaruhnya (De Civitate Dei).

Zaman Patristik ini mengalami dua tahap perkembangan, yaitu:

  1. Permulaan agama Kristen. Setelah mengalami berbagai kesukaran terutama mengenai filsafat Yunani maka agama Kristen memantapkan diri keluar memperkuat gereja dan kedalam menetapkan dogma-dogma.
  2. Filsafat Augustinus yang merupakan seorang ahli filsafat yang terkenal pada masa patristik. Ia melihat dogma-dogma sebagai suatu keseluruhan.
  3. Scholastik (800-1500)

Zaman Scholastik dimulai pada abad ke-9. Para tokoh zaman Scholastik adalah para pelajar dari lingkungan sekolah-kerajaan dan sekolah-katredal yang didirikan oleh Raja Karel Agung (742-814). Para pemikir yang ada di periode ini adalah Skotus Erigena (810-877), Anselmus (1033-1100), dan Abaelardus (1079-1142). Masa Scholastik terbagi menjadi tiga tahapan yaitu periode Skolstik awal (800-120), periode puncak perkembangan Scholastik (abad ke-13) dan periode Scholastik lanjut atau akhir (abad ke-14-15).

  1. Periode Scholastik awal (abad 9-10 M)

Masa ini merupakan kebangkitan pemikiran Abad Pertengahan setelah terjadi kemerosotan pemikiran filsafat pada masa sebelumnya yang disebabkan kuat oleh dominasi golongan gereja. Hal ini ditandai oleh pembentukan metode yang lahir karena hubungan antara agama dan filsafat. Ajaran Augustinus dan neo-Platonisme mempunyai pengaruh yang luas dan kuat dalam berbagai aliran pemikiran. Pada periode ini pembuktian adanya Tuhan diupayakan berdasarkan rasio murni tanpa berdasarkan Kitab Suci (Anselmus dan Canterbury).

  1. Periode puncak perkembangan Scholastik (abad ke-13)

Periode puncak perkembangan Scholastik dipengaruhi oleh Aristoteles akibat kedatangan ahli filsafat Arab dan Yahudi. Filsafat Aristoteles memberikan warna dominan pada alam pemikiran Abad Pertengahan. Aristoteles diakui sebagai Sang Filsuf, gaya pemikiran Yunani semakin diterima, keluasan cakrawala berpikir semakin ditantang lewat perselisihan dengan filsafat Arab dan Yahudi. Beberapa faktor yang menjadikan masa Scholastik mencapai masa keemasan adalah pertama, adanya pengaruh  Aristoteles, Ibn Rusyd, Ibn Sina sejak abad ke-12 sampai abad ke-13. Kedua, tahun 1200 M didirikan Universitas Almamater di Perancis. Ketiga, berdirinya ordo-ordo yang memunculkan banyaknya perhatian orang terhadap ilmu pengetahuan. Tokoh yang paling terkenal pada masa ini, yaitu:

  1. Albertus Magnus (1203-1280 M)

Albertus von Bolstadt mempunyai kepandaian yang luar biasa. Pola pemikirannya meniru Ibn Rusyd dalam menulis tentang Aristoteles. Dalam bidang ilmu pengetahuan, ia mengadakan penelitian dalam bidang ilmu biologi dan ilmu kimia.

  1. Thomas Aquinas (1225-1274 M)

Thomas dari Aquino lahir di Rocca sicca, Italia. Aquinas mendasarkan filsafatnya pada kepastian adanya Tuhan. Menurutnya, eksistensi Tuhan dapat diketahui dengan akal.

  1. Periode Scholastik lanjut atau akhir (abad 14-15 M)

Periode Scholastik akhir abad ke 14-15 ditandai dengan pemikiran islam yang berkembang kearah nominalisme ialah aliran yang berpendapat bahwa universalisme tidak memberi petunjuk tentang aspek yang sama dan yang umum mengenai adanya sesuatu hal. Kepercayaan orang pada kemampuan rasio memberi jawaban atas masalah-masalah iman mulai berkurang. Ada semacam keyakinan bahwa iman dan pengetahuan tidak dapat disatukan. Rasio tidak dapat mempertanggungjawabkan ajaran Gereja, hanya iman yang dapat menerimanya.

Pada akhir periode ini, muncul seorang pemikir dari daerah yang sekarang masuk wilayah Jerman, Nicolaus Cusanus (1401-1464 M). Ia berpendapat bahwa ada tiga cara untuk mengenal yaitu melalui indera, akal, dan intuisi. Dengan indera, manusia akan mendapatkan pengetahuan tentang benda-benda berjasad dan yang tidak sempurna. Dengan akal, manusia akan mendapatkan bentuk-bentuk pengertian yang abstrak berdasarkan tangkapan oleh indera. Dengan intuisi, manusia akan mendapatkan pengetahuan yang lebih tinggi. Baru sesudah tahun 1200 filsafat berkembang kembali berkat pengaruh filsafat Arab yang diteruskan ke Eropa.

TOKOH-TOKOH DAN PEMIKIRANNYA PADA ABAD PERTENGAHAN

  1. PLOTINUS (204-270)

Plotinus adalah filosof pertama yang mengajukan teori penciptaan alam semesta. Ia mengajukan teori emanasi yang diikuti oleh banyak filosof Islam. Filosof Plotinus kebanyakan berbau mistik, bahkan tujuan filsafat menurut pendapatnya adalah mencapai pemahaman mistik. Plotinus lahir pada tahun 204 di Lycopolis, Mesir. Pada tahun 232 ia pergi ke Alexandria untuk belajar filsafat dengan seorang guru yang bernama Animonius Saccas. Pada tahun 243 ia mengikuti Raja Gordianuss III berperang melawan Persia. Setelah Raja Gordianus terbunuh pada tahun 244, ia melarikan diri ke Antakya (Antioch). Pada umurnya yang ke-40 tahun, ia pergi ke Roma dan menjadi pemikir terkenal pada zaman ini. Plotinus meninggal pada tahun 270 di Munturnae, Campania, Italia.

Beberapa point yang dibahas mengenai filsafat Plotinus antara lain:

  1. Metafisika Plotinus

Sistem metafisika Plotinus ditandai dengan konsep transendens. Menurut pemikirannya terdapat tiga realitas dalam kehidupan yaitu:

  1. The One (Yang Esa) adalah Tuhan dalam pandangan philo (Avey: 49), yaitu suatu realitas yang tidak mungkin dapat dipahami melalui metode sains dan logika. Yang Esa itu adalah puncak semua yang ada, cahaya diatas cahaya, manusia tidak mengetahui esensinya namun hanya prinsip yang berada di belakang akal dan jiwa. Mereka merasa memiliki pengetahuan keilahian juga tidak akan dapat merumuskan siapa Dia sebenarnya (Mayer: 323).
  2. The Mind (Nous) adalah gambaran tentang Yang Esa dan di dalamnya mengandung ide-ide Plato yang merupakan bentuk asli objek-objek. Untuk menghayatinya harus melalui perenungan (Runes: 215).
  3. The Soul (psykhee) merupakan arsitek dari semua fenomena yang ada di alam, soul itu mengandung satu jiwa dunia dan banyak dunia kecil. Jiwa dunia dapat dilihat dari dua aspek yaitu energi di belakang dunia dan pada waktu yang sama ia adalah bentuk-bentuk alam semesta. Sedangkan jiwa manusia terdapat dua aspek yaitu intelektual yang tunduk pada reinkarnasi dan irasional.

 

  1. Tentang Ilmu

Ide keilmuan tidak begitu maju pada masa Plotinus. Ia menganggap sains lebih rendah dari metafisika dan metafisika lebih rendah dari keimanan. Surga lebih berarti dari bumi, sebab surga adalah tempat peristirahatan jiwa yang mulia.

  1. Tentang Jiwa

Menurut Plotinus jiwa adalah kekuatan ilahi dan sumber kekuatan. Alam semesta berada dalam jiwa dunia, jiwa tidak dapat dibagi secara kuantitatif karena jiwa adalah sesuatu yang satu tanpa dapat dibagi.

 

  1. Etika dan Estetika Plotinus

Etika Plotinus dimulai dengan pandangannya tentang politik. Sedangkan keindahan bagi Plotinus memiliki arti spiritual karena estetika dekat sekali dengan kehidupan moral.

  1. Bersatu dengan Tuhan

Tujuan filsafat Plotinus adalah terciptanya kesatuan dengan Tuhan yaitu dengan cara, pertama mengenal alam melalui alat indera, dengan ini manusia mengenal keagungan Tuhan, kemudian menuju jiwa dunia, lalu menuju jiwa ilahi.

  1. AUGUSTINUS (354 – 430)

Augustinus lahir pada tanggal 13 November 354 di Tagaska, Numidia (sekarang Algeria). Ia menempuh pendidikan dalam bidang Gramatika dan Aritmatika. Pada tahun 395-396 ia menjadi uskup di Hippo dan di tahun terakhir kehidupannya adalah tahun peperangan bagi Imperium Romawi. Di tengah penyerbuan Vandal yang mengepung Hippo pada tanggal 28 Agustus 430, Augustinus meninggal dalam kesucian dan kemiskinan yang sudah lama dijalaninya. Setelah penaklukan itu orang Vandal menghancurkan semua yang dijumpai mereka kecuali Gereja dan perpustakaan Augustinus yang dibiarkan tanpa diganggu.

  1. Tentang Tuhan dan Manusia

Ajaran Augustinus dapat dikatakan berpusat pada Tuhan dan manusia. Namun dapat dikatakam bahwa seluruh ajaran Augustinus berpusat pada Tuhan. Kesimpulan ini diambil karena ia mengatakan bahwa ia hanya ingin mengenal Tuhan dan Roh, tidak lebih dari itu (Encyclopedia American: 2: 686).

  1. Teori Pengetahuan

Teori pengetahuan pada Augustinus dapat dikatakan teori pengetahuan yang memerlukan pencerahan ilahian. Tuhan mencurahkan cahaya-Nya pada jiwa manusia menyebabkan jiwa itu mampu menangkap kebenaran terakhir, tetap, dan tidak berubah. Jadi bagi Augustinus dalam mencari kebenaran, Tuhan adalah guru.

  1. Teori tentang Jiwa

Menurut Augustinus, jiwa tidak mempunyai bagian karena ia imaterial. Akan tetapi, jiwa mempunyai tiga kegiatan pokok yaitu mengingat, mengerti, dan mau. Oleh karena itu, jiwa memiliki atau menggambarkan ketritunggalan alam (the cosmic trinity).

 

  1. BOETHIUS

Boethius adalah filosof yang semasa dengan Augustinus dan memiliki gaya yang hampir serupa. Bukunya yang berjudul The Consolation of Philosophy merupakan buku filsafat klasik. Ia dikatakan sebagai penemu quadrium yang merupakan bidang studi pokok abad pertengahan dan sebagai filosof skolastik pertama, karena ia berpendapat bahwa filsafat merupakan pendahulu kepada agama.

  1. ANSELMUS (1033-1109)

Anselmus adalah Uskup Agung Canterbury yang lahir di Alpen, Italia pada taun 1033. Ada tiga karya yang dihasilkannya yaitu Monologium (membicarakan adanya Tuhan), Proslogium (membahas tentang adanya dalil-dalil Tuhan), dan Cur Deus Homo (Why God Became Man) berisi ajaran tentang tobat dan petunjuk tentang cara penyelamatan melalui Kristus.

  1. Pendapat Anselmus

Credo ut intelligam (believe in order to understand/percayalah agar mengerti) adalah ungkapan yang menggambarkan bahwa ia mendahulukan iman daripada akal. Ia juga mengatakan bahwa wahyu harus diterima dulu sebelum manusia mulai berpikir. Jadi kesimpulannya akal hanyalah pembantu wahyu.

  1. Tentang Iman

Anselmus berpegang pada motto yang juga dipegang oleh Augustimus, “Saya percaya agar dapat mengerti”, maksudnya dari pernyataan itu adalah bahwa tanpa wahyu, tidak ada kebenaran karena itu mereka yang mencari kebenaran harus beriman dahulu pada wahyu tersebut.

  1. Pembuktian adanya Tuhan

Anselmus memberikan dua cara untuk membuktikan bahwa Tuhan memang ada, yaitu:

  1. Melihat adanya hal-hal yang terbatas, yang mengandaikan adanya hal-hal yang tidak terbatas. Dengan begitu ia hendak mengatakan bahwa akal manusia hanya mampu untuk sampai kepada pemahaman yang biasa-biasa saja, tidak sepenuhnya mendalam dan sungguh-sungguh mendasar.
  2. Penguraian. Menurut Anselmus, apa yang disebut Allah memiliki suatu pengertian yang lebih besar dari segala sesuatu yang bisa dipikirkan.

 

 

  1. THOMAS AQUINAS (1225-1274)

Ia lahir dari keluarga bangsawan pada tahun 1225 di Roccasecca, Italia. Sejak tahun 1272 ia mulai mengajar di Universitas Napoli. Ia meninggal pada tahun 1274 di Lyons. Beberapa karyanya yang paling penting adalah Suma Contra Gentiles (1258-1264) dan Suma Theologica (1266-1273) (lihat Avey: 99).

 

  1. Pemikiran Aquinas tentang Teologi

Menurut Aquinas, eksistensi Tuhan dapat diketahui dengan akal. Untuk membuktian, ia mengajukan lima dalil sebagai berikut:

  1. Argumen gerak yaitu diangkat dari sifat alam yang selalu bergerak, setiap yang bergerak pasti digerakkan oleh yang lain. disini dapat dibuktikan bahwa Tuhan itu ada.
  2. Sebab yang mencukupi (efficient cause)yaitu sebab pasti menghasilkan musabab, tidak ada sesuatu yang mempunyai sebab pada dirinya sendiri.
  3. Kemungkinan dan keharusan (possibility and necessity) yaitu menyaksikan didalam alam ini segala sesuatu yang bersifat mungkin ada dan mungkin tidak ada.
  4. Memperhatikan tingkatan yang terdapat pada alam yaitu isi alam ini masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan, misalnya ada yang indah, lebih indan, dan paling indah.
  5. Keteraturan alam yaitu menyaksikan isi alam dari jenis yang tidak berakal,  bergerak atau bertindak menuju tujuan tertentu dan pada umumnya berhasil menuju tujuan itu, sedangkan ia tidak mempunyai pengetahuan tentang tujuan itu.

 

  1. Tentang Jiwa

Pandangan Aquinas tentang jiwa amat sederhana. Menurutnya, jiwa dan raga mempunyai hubungan pasti, raga menghadirkan matter dan jiwa menghadirkan form yaitu prinsip-prinsip hidup yang aktual. Oleh karena itu Aquinas mengatakan bahwa manusia adalah makhluk yang berakal.

 

  1. Teori Pengetahuan

Pengetahuan yang diterima atas landasan iman tidaklah lebih rendah daripada pengetahuan yang diperoleh dengan akal. Paling tidak, kebenaran yang diperoleh dengan akal tidak akan bertentangan dengan ajaran wahyu (Randal: 236-276). Berdasarkan uraian tersebut dapat diketahui ada dua jalur pengetahuan dalam filsafat Aquinas yaitu jalur akal yang dimulai dari manusia dan berakhir pada Tuhan, dan jalur iman yang dimulai dari Tuhan (wahyu), didukung oleh akal.

 

  1. Etika Aquinas

Menurut Aquinas etika adalah dasar kemurahan hati (charty), kehidupan petapa (ascetic), dan mengenai kebebasan kemauan (free will).

 

  1. Teori Politik

Menurut Aquinas hukuman ada empat macam yaitu:

  1. Hukuman abadi yaitu suatu rencana (blue print) yang mengatur penciptaan dan pengaturan alam semesta.
  2. Hukum alam yaitu hukum yang menyebabkan semua makhluk mendapatkan kesempurnaannya, mencari kebaikan dan menghindari kejahatan.
  3. Hukum Tuhan yaitu hukum Kristen yang mempunyai kedudukan hukum yang istimewa. Hukum ini dikenal melalui wahyu Tuhan yang diberikan karena kemurahan-Nya.
  4. Hukum manusia dibagi menjadi jus gentium dan jus civile. Didalam hukum manusia terdapat hukum alam dalam kasus-kasus tertentu.

 

 

KESIMPULAN

 

Sejarah abad pertengahan dimulai kira-kira pada abad ke-5 hingga awal abad ke-17. Para sejarawan umumnya menentukan tahun 476 yakni sebagai masa berakhirnya Kerajaan Romawi Barat yang berpusat di kota Roma dan munculnya Kerajaan Romawi Timur yang kelak berpusat di Konstantinopel (Istambul) sebagai data awal zaman Abad Pertengahan dan tahun 1492 (penemuan benua Amerika oleh Columbus) sebagai data akhirnya.

Abad Pertengahan merupaka masa dimana filsafat mempunyai hubungan yang erat dengan agama Kristen. Secara menyeluruh filsafat abad pertengahan memang merupakan filsafat Kristiani. Hal ini dapat diketahui dari para pemikir zaman ini hampir semuanya klerus yaitu golongan rohaniawan atau biarawan dalalm Gereja Katolik yang mana minat dan perhatian mereka tercurah pada ajaran agama Kristen.

Abad pertengahan juga dikenal sebagai abad kegelapan karena segala pemecahan persoalan didasarkan atas dogma agama yaitu agama Kristen. Apabila terjadi pemikiran-pemikiran yang bertentangan dengan ajaran gereja, maka orang yang mengungkapkan pemikiran tersebut akan diberikan hukuman yang berat.

Zaman ini dibagi menjadi dua periode yaitu periode Patristik (100-700) dan periode Scholastik (800-1500). Adapun tokoh-tokoh terkenal pada abad pertengahan ini antara lain Albertus Magnus, Plotinus, Augustinus, Boethius, Anselmus, dan Thomas Aquinas.

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Khairy, Y. M. (2012, April 29). Filsafat Abad Pertengahan. Dipetik April 20, 2014, dari http://yelda91.blogspot.com/2012/04/filsafat-abad-pertengahan.html

Hanifudin. (2011, Juli 08). Sejarah Filsafat: Masa Pertengahan (Patristik & Scholastik). Dipetik April 20, 2014, dari http://khotimhanifudinnajib.blogspot.com/2011/07/sejarah-filsafat-masa-pertengahan.html

Nuryandi. (2012, Juli 07). Tokoh-tokoh Filsafat Abad Pertengahan. Dipetik April 20, 2014, dari http://nuryandi-cakrawalailmupengetahuan.blogspot.com/2012/07/tokoh-tokoh-filsafat-abad-pertengahan.html

Tafsir, Ahmad. (1991). Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam. Bandung: PT Remaja Rosdakarya

Tafsir, Ahmad. (2010). Filsafat Umum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

 

 

 

______________

Yeni Kartika Sari, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s