Dasar-Dasar Ilmu

Manusia senantiasa belajar dari sebuah pengalamannya. Manusia sendiri adalah makhluk yang diciptakan dengan sempurna, mereka memiliki beberapa kelebihan dimana telah dibekali akal pikiran yang tentunya berbeda dengan makhluk lainnya di bumi ini. Manusia adalah makhluk yang dapat berfikir secara bijaksana, mampu berbicara, mampu bermasyarakat, mampu mengadakan usaha dan juga mampu dalam berkepercayaan dan beragama. Pada prinsipnya binatang memiliki daya fikir yang terbatas dan juga benda mati yang cenderung tidak memiliki perilaku dan tunduk pada hukum alam. Dengan adanya kecerdasan tersebut melahirkan pemikiran-pemikiran yang lebih kritis untuk mempelajari apa saja yang terdapat di dalam alam semesta ini. Disisi lain manusia cenderung tertarik dengan hal-hal yang baru dan manusia itu sendiri tidak pernah puas akan hasil yang telah diperolehnya. Mereka berusaha menguasai ilmu sehingga tidak menjadikannya hanya sekedar makhluk yang hanya mempunyai kewajiban harus menyesuaikan diri dengan lingkungannya tanpa pilihan. Sebaliknya, penguasaan ilmu mampu melakukan rekayasa terhadap alamnya demi kepentingan hidupnya. Kepentingan tersebut tidak hanya pada suatu kebutuhan untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk mencapai segala keinginannya yang tidak terbatas. Dalam hal ini untuk memperkuat analisis suatu gejala yang komprehensif diperlukan pemahaman terhadap dasar-dasar ilmu sendiri.

Ilmu mengkaji tentang hal-hal yang dapat diindera untuk meletakkan teori-teori umum dalam menafsirkannya. Ilmu juga menciptakan metode sensitivistik-empiris dengan tujuan untuk menemukan sebab-sebab langsung dari fenomena-fenomena alam. Ilmu memiliki pokok persoalan dan fokus terhadap perhatiaan. Sehingga dapat dikatakan bahwa ilmu berbeda dengan pengetahuan. Pengetahuan adalah suatu kumpulan dari fakta-fakta yang merupakan bahan dari suatu ilmu, sedangkan ilmu adalah suatu kegiatan penelitian terhadap suatu gejala atau kondisi pada suatu bidang dengan menggunakan berbagai prosedur, cara, alat, dan metode ilmiah lainnya yang bertujuan untuk menghasilkan suatu kebenaran yang hakiki. Ilmu sendiri memiliki tiga dasar yaitu ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Dengan mengetahui dasar-dasar ilmu tersebut maka akan mempermudah manusia dalam mencapai tujuan hidupnya. Disamping itu dengan mempelajari dasar-dasar ilmu, maka manusia akan berpikir lebih kritis lagi terhadap penemuan-penemuan terbarunya. Sehingga akan menjauhkan diri dari penyalahgunaan atau penyelewengan ilmu yang telah dimilikinya.

 

 

KONSEP DASAR DAN DEFINISI ILMU

 

Kata “ilmu” adalah terjemahan dari kata “science”, yang secara etimologis berasal dari kata latin “scinre”, artinya “to know”. Dalam pengertian yang sempit science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam yang sifatnya kuantitatif dan obyektif. Definisi ilmu menurut beberapa tokoh antara lain seperti di bawah ini:

Menurut Harold H. Titus, ilmu (science) diartikan sebagai common sense yang diatur dan diorganisasikan, mengadakan pendekatan terhadap benda-benda atau peristiwa-peristiwa dengan menggunakan metode-metode observasi yang teliti dan kritis.

Menurut Prof.Dr.Mohammad Hatta,”Tiap-tiap ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hokum kausal dalam satu golongan masalah yang sama tabiatnya maupun menurut kedudukannya tampak dari luar maupun menurut bangunya dari dalam.

Afanasyef, seorang ahlipikir Marxist berkebangsaan Rusia menulis sebagai berikut: ”Science is the system of man’s knowledge on nature society and thought. It reflect the word in concept, categories, and law, the correctness and truth of which are verified by practical experience”.

Dari definisi-definisi di atas dapat dirumuskan bahwa ilmu pada prinsipnya merupakan usaha untuk mengorganisasikan common sense, yaitu suatu pengetahuan yang berasal dari pengalaman dan pengamatan dalam kehidupan sehari-hari, namun dilanjutkan dengan suatu pemikiran secara cermat dan teliti dengan menggunakan beberapa metode.

Menurut Prof. Drs. Harsojo, ilmu-ilmu empiris berdasarkan tujuannya dapat dibagi menjadi   dua kategori, yaitu:

a) Ilmu-ilmu murni yaitu jika ilmu tersebut dipelajari dan dikembangkan dengan tujuan untuk memajukan ilmu itu sendiri, memperkaya diri dengan mendapatkan pengertian-pengertian yang lebih mendalam dan yang lebih sistematis mengenai ruang lingkup atau daerah penelitian. Sebagai contoh adalah psikologi, tujuan psikologi secara langsung ingin memperoleh pengetahuan yang sistematis tentang tingkah laku atau perkembangan individu.

b) Ilmu-ilmu terapan yaitu jika ilmu tersebut dipelajari secara sadar untuk memecahkan masalah-masalah kehidupan yang dihadapi manusia. Sebagai contoh adalah prinsip-prinsip sosiologi sebagai hasil studi ilmu murni dapat diterapkan dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan atau sosiologi pendidikan.

 

Pada dasarnya ilmu dapat diklasifikasikan menjadi dua yaitu ilmu menurut subjek dan objeknya.

1. Menurut Subjeknya

a) Teoritis yaitu didalamnya terdapat nomotetis yang berarti ilmu yang menetapkan hukum-hukum universal yang masih berlaku sebagai contoh adalah ilmu alam, ilmu kimia, dan ilmu hayat. Selain itu juga terdapat ideografis (ide, cita-cita, grafis) yang berarti ilmu yang mempelajari objeknya dalam konkrit menurut tempat dan waktu tertentu dengan sifatnya yang menyendiri, sebagai contoh adalah ilmu sejarah.

b)  Praktis yaitu ilmu yang langsung ditujukan kepada pemakaian atau pengalaman pengetahuan. Didalamnya terdapat normatif, yang berarti ilmu yang memesankan bagaimanakah kita harus berbuat, membebankan kewajiban-kewajiban kita dan menjauhi larangan-larangan seperti etika atau filsafat moral. Selain itu juga terdapat positif, yang berarti ilmu yang mengatakan bagaimanakah orang harus membuat sesuatu dan lebih menekankan kepada proses untuk mencapai suatu hasil tertentu. Sebagai contoh adalah ilmu kedokteran, ilmu pertanian, dan ilmu teknik.

Antara kedua macam ilmu tersebut memiliki keterkaitan satu sama lain. Ilmu teoritis biasanya dapat berdiri sendiri terlepas dari ilmu praktis, akan tetapi ilmu praktis selalu mempunyai dasar yang teoritis.

2. Menurut Objeknya

a) Universal yaitu meliputi keseluruhan yang ada dan seluruh kehidupan manusia. Contohnya: Teologi atau Agama dan Filsafat.

b)  Khusus yaitu mengenai salah satu lapangan tertentu dan kehidupan manusia. Dalam hal ini dikelompokkan menjadi tiga yaitu ilmu-ilmu alam, ilmu pasti, dan ilmu kerohanian atau kebudayaan. Ketiga ilmu tersebut tidak boleh dipisah-pisahkan karena saling berhubungan, saling berpengaruh, dan saling melengkapi satu sama lainnya.

SIFAT-SIFAT ILMU PENGETAHUAN

Adanya beberapa sifat atau ciri khas yang dimiliki oleh ilmu mengakibatkan kemajuan dalam ilmu pengetahuan itu menjadi memungkinkan. Dalam hal ini, Randall mengemukakan beberapa ciri umum dari sebuah ilmu yaitu sebagai berikut:

a)      Hasil ilmu bersifat akumulatif dan merupakan milik bersama.

b)      Hasil ilmu kebenarannya adalah tidak mutlak dan bisa terjadi kekeliruan         karena yang menyelidi adalah manusia itu sendiri.

c)      Ilmu itu adalah objektif, artinya prosedur cara penggunaannya tidak   tergantung kepada yang menggunakannya dan jug tidak tergantung kepada       pemahaman secara pribadi.

Selanjutnya Ralph Ross dan Ernest Van den Haag yang telah disunting oleh Prof. Drs. Harsojo, mengemukakan ciri-ciri umum dari ilmu yaitu ilmu itu rasional, ilmu itu bersifat empiris, ilmu itu bersifat umum, dan ilmu itu bersifat akumulatif.

 

KEGUNAAN ILMU

Ilmu mempunyai peranan penting yaitu membantu manusia dalam menuju kehidupannya yang lebih baik. Ilmu akan menghasilkan sebuah teknologi dimana manusia akan bergerak lebih cepat, cermat, dan tepat. Ilmu dan teknologi merupakan hasil kerja pengalaman, observasi, eksperimen, dan verifikasi. Dengan ilmu dan teknologi manusia diharapkan untuk mampu mengadakan perubahan yang secara terus-menerus dan menemukan penemuan-penemuan baru untuk hal-hal yang positif. Sebagai contoh adalah perkembangan sosio budaya dan perkembangan industri. Ilmu dan teknologi juga akan mempercepat sistem komunikasi manusia, penggunaan internet juga termasuk dari dampak perkembangannya. Selain itu, sebagai ilmu murni (biologi, matematika, kimia, dan fisika) telah banyak menyumbangkan teori dan hukum-hukumnya kepada ilmu kedokteran, sebagai ilmu terapan dalam usaha manusia untuk menghindarkan diri dari penyakit dan memperbaiki usaha-usaha untuk hidup lebih sehat. Fisika modern dewasa ini juga membantu manusia dalam meningkatkan kehidupannya melalui elektro atau elektro magnetik. Sebagai contoh adalah membantu dalam mengatasi masalah penerbangan, penerangan, komputer, komunikasi, dan masih banyak lagi.

Meskipun ilmu dan teknologi memiliki banyak manfaat dalam kehidupan, namun ternyata disamping itu juga terdapat kekurangannya. Hal ini juga dapat dianggap berbahaya, karena ilmu bersifat objektif. Maksudnya adalah bahwa ilmu mengesampingkan penilaian yang sifatnya subyektif dimana telah mengesampingkan tujuan hidup. Sehingga dengan demikian ilmu dan teknologi tidak bisa dijadikan pembimbing manusia dalam menjalani hidup. Selain itu, manusia akan hidup dalam jangka waktu yang panjang, dan jika ilmu hanya terbenam dalam dunia fisik maka akan hampa dari makna hidup yang sebenarnya.

 

DASAR-DASAR ILMU

1. Ontologi

Kajian ini merupakan kajian atau dasar ilmu filsafat yang paling awal dan paling besar secara keseluruhan. Ontologi merupakan cabang filsafat yang mempelajari tentang hakikat sebuah ilmu, wujud yang hakiki dari objek tersebut. Ontologi menurut bahasa berasal dari bahasa Yunani yaitu On atau Ontos yang berarti ada dan Logos yang berarti ilmu. Jadi, dapat disimpulkan bahwa ontologi adalah ilmu tentang yang ada. Sedangkan menurut istilah, ontologi yaitu ilmu yang membahas tentang hakikat yang ada secara nyata. Landasan dari kajian ilmu ini adalah membicarakan tentang objek atau hakikat yang ditelaah ilmu. Karena penggolongan ilmu terjadi atas dasar spesifikasi objek, makamaka tiap disiplin ilmu mempunyai landasan ontologi yang berbeda. Rudolf Goclenius pada tahun 1636M, mencetuskan teori ontologi yang bersifat metafisika yang dibagi menjadi dua yaitu metafisika umum dan metafisika khusus. Metafisika umum adalah cabang filsafat yang membicarakan prinsip yang paling mendasar dari segala sesuatu yang ada. Sedangkan metafisika khusus masih dibagi menjadi kosmologi, psikologi, dan teologi.

Secara substabsial pada pemahaman ontologi dapat ditemukan pemikiran-pemikiran sebagai berikut:

  1. Monoisme yaitu suatu paham yang menganggap bahwa hakikat dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu. Paham ini dibagi menjadi dua aliran yaitu materialisme yang menganggap bahwa sumber yang asli itu adalah materi. Pemikiran ini dipelopori oleh Thales (624-546SM), Anaximander (585-528SM) dan Demokritos (460-370SM). Aliran idealisme yang menganggap bahwa hakikat yang beragam itu berasal dari roh atau sukma yaitu sesuatu yang tidak berbentuk dan menempati ruang. Pemikiran ini dipelopori oleh Aristoteles (384-322SM), George Berkeley (1685-1753M), Immanuel Kant (1724-1804M), Fichte (1762-1814M), Hegel (1770-1831M) dan Schelling (1775-1854M).
  2. Dualisme yaitu suatu benda yang terdiri dari dua macam hakikat sebagai asal sumbernya yakni hakikat materi dan hakikat rohani. Tokoh-tokohnya adalah Descrates (1596-1650M), Benedictus De Spinoza (1632-1677M), dan Gitifried Wihelm Von Leibniz (1646-1716M).
  3. Pluralisme yaitu suatu paham yang menyatakan bahwa kenyataan alam ini tersusun dari banyak unsur. Tokoh- tokoh pada masa Yunani Kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles. Sedangkan tokoh modernnya adalah William James (1842-1910M).
  4. Nihilisme yaitu suatu ketiadaan, yang berarti tidak ada sesuatu yang ada, yang benar, dan yang berharga. Tokoh- tokoh dalam aliran ini adalah Ivan Turgeniev, Gorgias (483-360SM), dan Friedrich Nietzsche (1844-1900M).
  5. Agnostisisme yaitu paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakikat suatu benda. Dalam paham ini hanya menerima pengetahuan inderawi dan empirik. Tokoh-tokoh dalam aliran ini adalah Soren Kierkegaard (1813-1855M), Heidegger, Sartre dan Jaspers.

 

 

Aspek ontologi ilmu adalah antara lain sebaagai berikut:

  1. Metodis yaitu menggunakan cara ilmiah.
  2. Sistematis yaitu adnya keterkaitan antara satu dengan lainnya.
  3. Koheren yaitu unsur-unsurnya tidak boleh saling bertentangan.
  4. Rasional yaitu berdasarkan kaidah berpikir yang logis atau masuk akal.
  5. Komprehensif yaitu melihat objek tidak hanya dari sudut pandang tetapi multidimensional atau menyeluruh.
  6. Radikal yaitu diuraikan sampai pada akhir persoalan.
  7. Universal yaitu suatu kebenarannya sampai dengan menyeluruh atau secara umum yang dapat berlaku dimana saja.

 

2. Epistemologi

            Epistemologi yaitu menjelaskan tentang cara atau teknik atau sarana yang membantu kita dalam mendapatkan ilmu. Epistemologi dalam bahasa inggris dikenal dengan istilah “theory of knowledge”. Epistemologi berasal dari kata “episteme” yang berarti pengetahuan dan “logos” yang berarti teori. Epistemologi dapat diartikan juga sebagai salah satu cabang filsafat yang mengkaji secara mendalam dan radikal tentang asal mula pengetahuan, struktur, metode, dan validitas pengetahuan. Landasan dari kajian epistemologi adalah membahas secara mendalam segenap proses yang terlibat dalam usaha untuk memperoleh suatu pengetahuan dan juga tentang cara yang digunakan untuk mengkaji atau menelaah ilmu itu sendiri sehingga akan diperoleh ilmu tersebut. Pada prinsipnya epistemologi adalah bagian dari filsafat yang membicarakan tentang terjadinya pengetahuan, asal mula, batas-batas, sifat metode, dan keahlian pengetahuan. Sehingga, sistematika penulisan dari epistemologi sendiri merupakan terjadinya pengetahuan, teori kebenaran, metode-metode ilmiah, dan aliran-aliran teori pengetahuan. Pengetahuan yang telah diperoleh manusia melalui akal pikiran, alat indera, dan lain sebagainya mempunyai metode tersendiri, yaitu sebagai berikut:

a)      Metode induktif yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi menjadi suatu pernyataaan yang lebih umum. Tokoh-tokoh dalam teori ini adalah David Hume, Baco d Verulam, dan John Stuart Mill.

b)      Metode deduktif yaitu suatu metode yang menyimpulkan data-data empirik yang akan diolah lebih lanjut dalam suatu sistem pernyataan yang runtut. Hal-hal yang harus ada dalam metode ini adalah perbandingan logis antarakesimpulan-kesimpulan itu sendiri.

c)      Metode positivisme yaitu suatu metode yang berpangkal dari apa yang telah diketahui dan berdasarkan fakta yang positif. Metode ini dalm bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi hanya pada bidang gejala-gejala atau sesuatu yang tampak. Tokoh dalam teori ini adalah August Comte (1798-1857M).

d)     Metode kontemplatif yaitu suatu metode yang menyatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengetahuan sehingga objek yang dihasilkan akan berbeda-beda. Tokoh dalam teori ini adalah Al-Ghazali.

e)      Metode dialektis atau dialektika yaitu suatu metode atau cara berdebat dan berwawancara yang dilakukan secara bersama-sama sebagai sarana untuk memperoleh pengertian dalam mencari kebenaran. Tokoh dalam teori ini adalah Hegel.

3. Aksiologi

            Aksiologi yaitu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai, kegunaan, ataupun manfaat dari ilmu itu sendiri. Aksiologi berasal dari kata Axios (Yunani) yang berarti nilai dan Logos yang berarti teori. Jadi, aksiologi adalah teori tentang nilai. Landasan dari kajian ilmu aksiologi adalah membicarakan entang orientasi atau nilai sebuah kehidupan, selanjutnya dalam teori ini akan melahirkan teori etika dan estetika, dan yang terakhir adalah akan menyoroti tentang masalah nilai dan kegunaan ilmu pengetahuan. Teori tentang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan etika dan estetika. Objek formal etika adalah norma-norma kesusilaan dan mempelajari tingkah laku manusia yang ditinjau dari segi positif dan negatif. Sedangkan estetika berkaitan dengan nilai tentang keindahan yang dimiliki oleh manusia terhadap lingkungan. Terdapat dua golongan tentang ilmu yang telah dibagi oleh para ilmuwan. Golongan pertama berpendapat bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Sedangkan golongan kedua berpendapat bahwa netralisasi ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan dan dalam penggunaanya berdasarkan pada nilai-nilai moral. Dari pendapat dua golongan tersebut terlihat dengan jelas bahwa netralitas sebuah ilmu hanya terletak pada epistemologinya tanpa berpihak kepada siapapun selain kepada kebenaran yang nyata. Sedangkan secara ontologis dan aksiologis, ilmuwan diharapkan mempunyai landasan moral yang kuat dimana mampu membedakan mana yng baik dan yang buruk. Jadi, ilmu dan agama memiliki keterkaitan dimana agama mengarahkan ilmu pada tujuan yang hakiki. Tujuan dalam hal ini adalah agar manusia sadar akan hakikat penciptaan dirinya dan tidak hanya mengarahkan ilmu pada kemudahan-kemudahan material duniawi saja. Jadi, secara rinci pembahasan tentang aksiologi dibagi ke dalam tiga cabang yaitu:

  1. Logika, yang membahas tentang nilai kebenaran yang akan membantu kita untuk senantiasa berpegang teguh terhadap suatu kebenaran dan menjauhi kesalahan-kesalahan yang mungkin dengan sengaja kita lakukan. Selain itu, akan menerangkan tentang tata cara berpikir dengan benar dan seksama.
  2. Etika, seperti yang telah kita bahas di atas bahwa etika senantiasa berhubungan dengan perilaku. Ini berarti bahwa dengan mempelajari etika akan mengarahkan tentang tata cara kita dalam berbicara, bertingkah laku, dan menjalankan tanggung jawab moral kita, sehingga kita akan menjadi manusia yang lebih beradab.
  3. Ilmu estetika, yang membahas tentang nilai keindahan. Ini akan membantu kita dalam meningkatkan rasa keindahan dengan membatasi tingkatan-tingkatan yang menjadi standar dari sesuatu yang indah.

 

PENUTUP

KESIMPULAN

     Ilmu merupakan sarana untuk memudahkan aktifitas manusia. Tanpa sebuah ilmu manusia akan mengalami beberapa kesulitan. Lahirnya ilmu akan membawa dampak yang positif terhadap kehidupan manusia itu sendiri, akan tetapi ada sebagian orang yang justru malah menyalahgunakannya. Sehingga ilmu yang harusnya digunakan atau dipakai untuk hal-hal yang positif malah digunakan untuk hal-hal yang negatif. Tentunya hal yang semacam ini cukup memprihatinkan, dan juga sangat merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Jadi, dalam hal ini manusia dituntut untuk bersungguh-sungguh dalam mempelajari sebuah ilmu. Dasar-dasar ilmu akan membantu kita dalam mmpelajari sebuah ilmu seperti ontologis, epistemologi, dan aksiologi. Kajian ilmu ontologi yaitu cabang ilmu yang memelajari hakikat dari sebuah ilmu. Disamping itu kajian ilmu epistemologi adalah menjelaskan tentang cara, teknik, atau sarana yang akan membantu kita dalam mendapatkan atau mempelajari suatu ilmu. Dan dasar ilmu yang terakhir adalah aksiologi, dimana dasar ilmu ini adalah suatu cabang filsafat yang mempelajari tentang nilai, kegunaan, ataupun manfaat dari sebuah ilmu. Ketiga dasar ilmu tersebut memiliki peranan dan fungsi masing-masing yang sangat penting. Sehingga jika manusia sudah mengetahui apakah fungsi dari mempelajari dasar ilmu tersebut, akan mempermudah langkahnya dalam melakukan perubahan yang lebih baik dalam hidupnya. Tentunya ini menjadikan suatu hal yang sangat penting dan wajib kita pelajari mengingat peranan ilmu sendiri begitu penting dalam hidup dan bermasyarakat. Disamping itu di zaman yang semakin modern ini kita dituntut untuk mengikuti perkembangan zaman. Seperti kita ketahui teknologi semakin hari semakin bertambah dan jika kita tidak pandai-pandai dalam menyesuaikannya maka kita tidak akan pernah mengerti dan kita hanya akan menjadi manusia yang akan dianggap rendah oleh orang lain. Jadi, peranan ketiga dasar ilmu tersebut sebagai landasan pemikiran memiliki keterkaitan dan posisi yang sangat penting dalam kehidupan. Sebagai contoh adalah kita sebagai calon pendidik, mau tidak mau kita nantinya akan terjun langsung ke dalam dunia pendidikan. Kita akan dihadapkan langsung dengan anak didik kita. Dalam hal ini sikap keprofesionalan sebagai pendidik begitu ditekankan dalam menjalankan tugas dan kewajiban kita. Ketiga dasar ilmu seperti yang telah dibahas di atas dapat kita pelajari dalam menyusun program pembelajaran. Sehingga kita dapat mengaplikasikannya ketika proses kegiatan belajar mengajar. Jika kita telah mampu menjalankan tugas dan kewajiban kita dengan baik maka kualitas dan mutu pendidikan di Negara kita akan menjadi lebih baik. Selanjutnya akan lahir penerus generasi muda yang berprestasi, berakhlak mulia, dan berbudi pekerti luhur yang nantinya akan mengharumkan nama Bangsa dan Negara tercinta ini.

 

SARAN

Mengingat peranan ilmu sangatlah penting bagi kehidupan manusia, maka hendaknya kita mengetahui, mempelajari dan menerapkan ke-tiga dasar-dasar ilmu seperti ontologi, epistemologi, dan aksiologi dalam kehidupan. Dengan demikian kita akan menggunakan atau memakai ilmu yang kita ketahui dengan sebaik-baiknya guna menjauhkan diri dari penyelewengan sebuah ilmu. Jika semua manusia sadar akan hal tersebut, maka akan terjadi keseimbangan dalam hidup. Seperti telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwa ilmu dan teknologi mempunyai keterkitan satu sama lainnya. Maka dalam hal ini manusia harus pandai-pandai dalam memilih dan memilah apalagi di zaman yang semakin modern seperti sekarang ini. Kita harus bisa menyesuaikan diri dan kita bisa mengikuti arus perkembangan zaman sehingga kita tidak tertinggal jauh dengan Negara lain.

 

 

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Achmad Roestansi, Ilmu Filsafat dan Agama, Bandung, 1969.

Jama, Jalius. 2011. Filsafat Ilmu (bahan ajar).Padang. Universitas Negeri Padang.

Kattsoff, Louis O. 2004. Pengantar Filsafat. Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya

Salam, Burhanuddin. 2005. Pengantar Filsafat. Bumi Aksara : Jakarta

http://yusrizalfirzal.wordpress.com/2011/12/30/dasar-dasar-ilmu/

http://www.blog-berbagi.com/2012/04/dasar-dasar-ilmu-dan-pengertian-ilmu.html#ixzz2QbrgguQp

http://my.opera.com/mid-as/blog/2011/01/26/dasar-dasar-ilmu-ontologi-epistemologi-aksiologi

http://www.blog-berbagi.com/2012/04/dasar-dasar-ilmu-dan-pengertian-ilmu.html#ixzz2PvQ4CFsp

http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmu

http://elearning.gunadarma.ac.id

http://kuliahfilsafat.blogspot.com

http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/

https://afidburhanuddin.wordpress.com

 

______________

*ANGGRAENI, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi tugas individu pada mata kuliah Filsafat Ilmu tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s