Analisis Kekurangan dan Kelebihan Teori Kognitif dan Teori Konstruktivistik

Teori belajar kognitif

Berdasarkan teori belajar kognitif, belajar merupakan suatu proses terpadu yang berlangsung di dalam diri seseorang dalam upaya memperoleh pemahaman dan struktur kognitif baru, atau untuk mengubah pemahaman dan stuktur kognitif lama. Memperoleh pemahaman berarti menangkap makna atau arti dari suatu objek atau suatu situasi yang dihadapi. Sedangkan stuktur kognitif adalah persepsi atau tanggapan seseorang tentang keadaan dan lingkungan sekitarnya yang mempengarui ide-ide, perasaan, tindakan, dan hubungan sosial orang yang bersangkutan.

Agar belajar dapat mencapai sasaran yang diperolehnya pemahaman dan struktur kognitif baru, atau berubahnya pemahaman dan struktur kognitif lama yang dimiliki seseorang, maka proses belajar sepatutnya dilakukan secara aktif, melalui berbagai kegiatan, seperti mengalami, melakukan, mencari, dan menemukan, keaktifan belajar sebagai prasyarat diperolehnya hasil belajar tersebut. Perubahan yang terjadi pada diri seseorang meliputi perubahan dalam persepsi dan pemahaman yang tidak selalu dalam bentuk perilaku yang dapat diminati. Belajar sebagai perubahan pengetahuan yang tersimpan dalam memori. Proses belajar dipandang sebagai proses pengolahan informasi yang meliputi tiga tahap, yaitu perhatian (attention), penulisan dalam bentuk simbol (encoding), dan mendapatkan kembali informasi (retrieval). Mengajar merupakan upaya dalam rangka mendorong (menuntun dan mendukung) siswa untuk melakukan kegiatan mengorganisir, menyimpan dan menemukan hubungan antara pengetahuan yang baru dengan pengetahuan yang ada.

Teori belajar kognitif berkaitan dengan pendekatan pengolahan informasi yang pada dasarnya dikenal dengan nama teori pentahapan (Joice & Weil, 1972). Menjelaskan bahwa belajar merupakan proses kognitif untuk memperoleh pengetahuan atau informasi yang disimpan dalam memori jangka panjang. Alur pemrosesan informasi itu adalah:

  1. Pencatatan data oleh input or sensory register
  2. Seleksi informasi oleh memori jangka pendek (short term memory)
  3. Penyimpanan informasi oleh memori jangka panjang (long term memory) (Gradler, 1986)

Dalam konteks belajar, jenjang proses kognitif dimulai dari belajar yang paling sederhana, yaitu ketrampilan motorik, belajar sikap, dan belajar informasi verbal, menuju ke jenjang kompleks yang meliputi strategi kognitf, belajar konsep, dan pelajar pemecahan masalah.

 

 

 

Teori belajar konstruktivistik

Dalam teori konstruktivisme adalah dalam proses pembelajaran, pelajarlah yang harus mendapatkan penekanan. Merekalah yang harus aktif mengembangkan pengetahuan mereka, bukan pengajar atau orang lain. Mereka harus bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya. Konstruktivisme merupakan cara pandang yang menganjurkan perubahan proses pembelajaran skolastik melalui pengenalan, penyusunan, dan penetapan tangkapan pengetahuan berdasarkan reaksi peserta didik. Konstruktivisme adalah proses membangun atau menyusun pengetahuan baru dalam struktur kognitif siswa berdasarkan pengalaman.

Pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme merupakan pembelajaran yang berdasarkan pada partisipasi aktif siswa dalam memecahkan masalah dan berfikir kritis. Siswa membangun pengetahuannya dengan menguji ide-ide dan pendekatan-pendekatan berdasarkan pengetahuan yang sudah dimiliki sebelumnya. Seperti yang dikemukakan oleh (Ng Kim Choy, 1999) bahwa pembelajaran merupakan hasil dari pada usaha siswa itu sendiri dan guru tidak boleh belajar untuk siswa.

Pendekatan konstruktivisme merupakan pendekatan belajar yang dapat dikembangkan terhadap siswa. Pendekatan konstruktivisme dimulai dengan adanya pengetahuan awal siswa, kemudian siswa dihadapkan pada keeadaan lain yang menimbulkan konflik kognitif di dalam fikiran siswa. Pembelajaran dalam pandangan konstruktivisme mengandung empat kegiatan inti, yaitu:

  1. Berkaitan dengan pengetahuan awal atau pra-konsepsi ( prior knowledge)
  2. Mengandung kegiatan pengalaman nyata ( experience )
  3. Melibatkan interaksi sosial ( sosial interaction )
  4. Terbentuknya kepekaan terhadaap lingkungan ( sense making )

 

Daftar pustaka

Rosalin, Elin. (2008). Gagasan Merancang Pembelajaran Konstekstual. Bandung: PT Karsa Mandiri Persada.

___________

Oleh:

Nety Dwi Purbosari

Pendidikan Bahasa Inggris

STKIP Pacitan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s