Teori Belajar Behavioristik; Konsep dan Aplikasi

Dalam  proses pembelajaran diperlukan adanya kesinambungan antar pelaku pembelajaran. Hal ini bertujuan untuk menjalankan hakekat  belajar dan tujuan pembelajaran sebagaimana mestinya agar tercipta hasil yang diharapkan. Kadang hal-hal tersebut tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan sehingga di perlukan cara yang tepat agar tercipta kondisi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan dan hakekat pembelajaran. Dalam hal ini teori pembelajaran  juga sangat membantu  mengoptimalkan proses pembelajaran.  Teori tersebut di susun sedemikian rupa  untuk memudahkan proses pembelajaran  dan di harapkan memberi  andil dalam proses pembelajaran yang efektif dan efisien.

Dalam proses pembelajaran manusia memiliki beberapa sifat maupun kemampuan otak yang berbeda-beda. Sehingga membuat kondisi belajar dan pembelajaran juga harus berbeda-beda. Namun pada kenyataannya pada saat ini kondisi tersebut tidak terjadi pada proses pembelajaran peserta didik, yang ada kondisi pendidikan atau pembelajaraan saat ini yaitu, tidak sejalan dengan hakekat belajar atau peserta didik yang belajar, landasan teoritiknya atau konseptualnya tidak akurat, membentuk perilaku yang sama (keseragaman), agar peserta didik tertib, teratur, taat, dan pasti. Akibatnya bagi peserta didik yaitu, tidak menghargai perbedaan, sangat menghargai kesamaan, perilaku berbeda adalah salah dan dihukum.

Dalam kondisi tersebut maka dibutuhkan teori atau cara untuk membantu proses belajar dan pembelajaran maupun proses perkembangan pada peserta didik. Terdapat beberapa teori belajar diantaranya :

a.       Teori Behavioristik.

b.      Teori humanistik.

c.       Teori Kognitif.

d.      Teori Konstruktivistik.

e.       Teori Pemrosesan Informasi.

f.       Teori Kecerdasan Ganda.

g.      Teori Kerja Otak (Neuroscience)

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

II.1 Teori Behavioristik

Teori behavioristik merupakan salah satu dari teori belajar. Dari asal katanya behaviour memiliki arti “tingkah laku”. Dengan kata lain manusia belajar dipengaruhi oleh kejadian – kejadian di dalam lingkungannya yang akan memberikan pengalaman – pengalaman belajar. Belajar sendiri memiliki pengertian sebagai proses tingkah laku yang terjadi karena adanya stimulasi dan respons yang dapat diamati. Seseorang telah dianggap belajar apabila mampu menunjukkan perubahan tingkah laku. Menurut teori behavioristik ini manipulasi lingkungan sangat penting agar dapat diperoleh perubahan tingkah laku yang diharapkan.

a.       Konsep Teori Behavioristik

1.      Menurut Ivan Pavlov

Pavlov mengemukakan sebuah teori belajar yang yang menggunakan media berupa neutral stimulus (rangsangan) agar mendapat respon yang sama seperti pada saat unresponse conditioning (respon yang didapat tanpa menggunakan media apapun atau terjadi secara alami).

 

Dalam penelitiannya, Pavlov mencoba memberikan stimulus atau    rangsangan pada sebuah pembelajaran baru dan mengamati responnya. Ia melakukan eksperimen terhadap anjing dengan memberikan dua stimulus yang bebeda dan mengamati respon yang terjadi. Stimulus pertama yang diberikan adalah daging. Walaupun tanpa latihan atau dikondisikan sebelumnya, anjing pasti akan mengeluarkan air liur jika dihadapkan dengan daging. Respon tersebut dinamakan sebagai respon yang tidak dikondisikan (unresponse conditioning). Stimulus yang kedua berupa bel. Dalam hal ini bel tidak dapat serta merta memberikan respon yang disebut juga dengan stimulus netral (neutral stimulus).

Dari kedua eksperimen tersebut, menurut Pavlov jika stimulus netral (bel) dipasangkan dengan daging (stimulus yang tidak terkondisikan) dan dilakukan secara berulang – ulang, maka stimulus netral akan berubah menjadi stimulus yang terkondisikan dan memiliki kekuatan yang sama untuk mengarahkan respons anjing seperti ketika ia melihat daging.

 

Dengan melihat eksperimen tersebut dapat kita wujudkan dalam proses pembelajaran dangan memberikan stimulus yang dilakukan secara berulang untuk hal – hal yang baru agar mendapatkan respons yang sama seperti hal – hal yang telah diketahui sebelumnya. Teori belajar ini disebut dengan “Teori Belajar Kondisioning Klasik (clasical conditioning) yang berarti perilaku manusia telah diarahkan oleh sebuah rangsangan.

 

Beberapa penerapan prinsip kondisioning klasik dalam kelas:

a.       Memberikan suasana yang menyanangkan ketika memberikan tugas – tugas belajar.

b.      Membantu siswa mengatasi situasi – situasi yang mencemaskan atau menekan.

c.       Membantu siswa untuk mengenal perbedaan dan persamaan terhadap situasi – situasi sehingga dapat menggeneralisasikannya secara tepat.

 

2.        Menurut Edward Lee Throndike

 

Throndike menyatakan bahwa perilaku belajar manusia ditentukan oleh stimulus yang ada di limgkungan sehingga menimbulkan respons secara refleks. Stimulus yang terjadi setelah sebuah perilaku terjadi akan mempengaruhi perilaku selanjutnya. Dia juga telah mengembangkan hukum law effect yang menyatakan bahwa jika sebuah tindakan yang memuaskan dalam lingkungan, maka kemungkinan tindakan itu akan diulang kembali akan semakin meningkat, begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, konsekuen – konsekuen dari perilaku seseorang akan memainkan peran penting bagi terjadinya perilaku – perilaku yang akan datang.

 

3.      Menurut Burrus Frederic Skinner

 

Teori Skinner tak jauh berbeda dengan yang di kemukakan oleh Throndike bahwa ada hubungam antara perilaku dan konsekuen – konsekuen yang mengikutinya. Misalnya, jika perilaku seseorang menghasilkan konsekuen yang menyenangkan, maka ia akan melakukan perilaku tersebut lebih sering lagi. Menggunakan  konsekuen yang menyenangkan atau tidak untuk mengubah perilaku sering disebut operant conditioning.

 

b.      Ciri – Ciri Teori Behavioristik

 

Untuk mempermudah mengenal teori behavioristik dapat di pergunakan ciri – ciri sebagai berikut :

 

1.      Mementingkan pengaruh lingkungan (environmentalistis)

2.      Mementingkan bagian – bagian (elentaristis)

3.      Mementingkan peranan reaksi (respon)

4.      Mementingkan mekanisme terbentuknya hasil belajar

5.      Mementingkan hubungan sebab akibat pada waktu yang lalu

6.      Mementingkan pembentukan kebiasaan

7.      Ciri khusus dalam pemecahan masalah dengan “mencoba dan gagal” atau trial and error.

 

c.       Prinsip – Prinsip Dasar  Teori Behavioristik

Prinsip – prinsip teori behavioristik yang banyak diterapkan dalam dunia pendidikan meliputi :

1.      Menekankan pada pengaruh lingkungan terhadap perubahan perilaku.

2.      Menggunakan prinsip penguatan, yaitu untuk mengidentifikasi aspek paling diperlukan dalam pembelajaran dan untuk mengarahkan kondisi agar peserta didik dapat mencapai peningkatan yang diharapkan.

3.      Mengidentifikasi karakteristik peserta didik, untuk menetapkan pencapaian tujuan pembelajaran.

4.      Lebih menekankan pada hasil belajar daripada proses pembelajaran

 

d.      Kritik terhadap Teori Behavioristik

 

1.      Tidak dapat menjelaskan situasi belajaryang kompleks.

2.      Asumsi bahwa semua hasil belajar berupa perubahan tingkah laku yang dapat diamati, dianggap menyederhanankan masalah belajar yang sesungguhnya.

3.      Tidak semua hasil belajar dapat diamati.

4.      Cenderung mengarahkan peserta didik berpikir linier, tidak konvergen, dan tidak kreatif.

II.2 Pentingnya Teori Behavioristik

Pentingnya para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang program – program pembelajaran memahami teori belajar behavioristik mempunyai alasan sebagai berikut :

a.       Teori belajar ini membantu para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang program – program pembelajaran untuk memahami proses belajar yang terjadi di dalam diri peserta didik.

 

b.      Dengan kondisi ini para guru, perancang pembelajaran, dan pengembang program – program pembelajaran dapat mengerti kondisi – kondisi dan faktor – faktor yang dapat mempengaruhi, memperlancar, atau menghambat proses belajar.

 

c.       Memungkinkan untuk melakukan prediksi yang cukup akurat tentang hasil yang dapat diharapkan suatu aktivitas belajar (Lindgren, Toeti Sukamto, 1992: 14)

Teori ini telah memberikan banyak konstribusi bagi pengembangan teori belajar selanjutnya. Bahkan telah banyak diyakini oleh para ahli pendidikan, sekolah, bahkan diluar sekolah.

 

II.3 Aplikasi – Aplikasi Teori Behavioristik

Adapun aplikasi dalam pembelajaran berdasarkan teori behavioristik, dalam merancang kegiatan pembelajaran, adalah :

1.      Menentukan tujuan pembelajaran.

2.      Menganalisis lingkungan kelas yang ada saat ini termasuk mengidentifikasikan pengetahuan awal peserta didik.

3.      Menentukan materi pembelajaran.

4.      Memecah materi pembelajaran menjadi bagian – bagian kecil, meliouti pokok bahasan, subpokok bahasan topik dan sebagainya.

5.      Menyajikan materi pembelajaran.

6.      Memberikan stimulus.

7.      Mengamati dan mengkaji respons yang diberikan peserta didik.

8.      Memberikan penguatan baik yang positif maupun negatif, atau hukuman.

9.      Memberikan stimulasi baru.

10.  Mengamati dan mangkaji respons yang diberikan pesrta didik.

11.  Memberikan penguatan lanjutan atau hukuman.

12.  Demikian seterusnya.

13.  Evaluasi hasil belajar (Suciati & Irawan, 2001: 31-32).

 

 

BAB III

PENUTUP

 

III.1 Kesimpulan

Behavioristik memiliki arti sebagai tingkah laku. Menurut pandangan teori behavioristik, pembelajaran merupakan penguasaan respons dari lingkungan yang dikondisikan. Pembelajaran dicapai melalui respons yang berulang – ulang dan pemberian penguatan. Peserta didik mempelajari pola yang terbentuk secara perlahan – lahan dari respons tersebut. Beberapa tokoh penting pada perkembangan teori behavioristik ialah Pavlov(1849-1936), Thorndike (1874-1949), Watson (1878-1958), dan Skinner (1904-1990). Teori Behevioristik sangat penting bagi peserta didik karena teori ini telah memberikan banyak konstribusi bagi pengembangan teori belajar dan pembelajaran peserta didik baik di sekolah maupun luar sekolah. Aplikasi teori Behavioristik dalam kegiatan pembelajaran tergantung dari beberapa hal seperti : tujuan pembelajaran, sifat materi belajar, karateristik pelaku pembelajaran, media dan fasilitas pembelajaran yang tersedia.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Warsito, Bambang.2006. Teknologi Pembelajaran Landasan & Pembelajaran. Jakarta:

Rineka Cipta

H. Baharudin dan Wahyuni, Nur, Esa.2007. Teori Belajar & Pembelajaran. Jogjakarta:

Ar-Ruzz Media

 

 

_____________

Anggota Kelompok :

1. Ahmad Gufron Rosyidi

2. Endahhari Tri Utami

3. Khoirunnisa

4. Novitasari

5. Rita Sugiarti

6. Suka Tri wahyuningsih

 

PROGRAM  STUDI  PENDIDIKAN  BAHASA  INGGRIS

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

PERSATUAN GURU REPUBLIK INDONESIA

PACITAN

TAHUN AJARAN 2014/2015

 

Penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas kelompok pada mata kuliah Manajemen Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s