Pengelolaan Bimbingan Konseling Siswa

Bimbingan atau lengkapnya Bimbngan dan Konseling, atau bimbingan dan penyuluhan atau “Guidance and Counseling”, merupakan suatu program yang disediakan sekolah untuk membanu mengoptimalkan perkembangan siswa. Bimbingan yaitu pemberian bantuan, arahan, motivasi, nasihat dan penyuluhan agar siswa ammpu mengatasi, memecahkan dan menanggulangi masalahnya sendiri. Sedangkan konseling  erupakan proses pemberian layanan profesional yang berhubungan dengan manusia. Konseling dan pengembangannya mencakup penggunaan “proses kognitif” dan “pemrosesan informasi”. Konseling yang efektif dan efisien meletakkan pendekatan ilmunya ke dalam berbagai dimensi manusia.

Wihkel dan Hastuti (2006:36) mengatakan hasl yang diperoleh dalam nseling pada dasarnya menekankan bahwa orang yang dilayani (konseli) berhasil mengembangkan sikap serta tingkah laku yang memuaskan bagi dirinya sendiri serta lingkungannya. Kegiatan bimbingan penyuluhan, baik sebagai pencegahan maupun sebagai bantuan tidak dapat dilakukan secara dipaksakan. Usaha-usaha pencegahan dilakukan dengan menyediakan kondisi-kondisi agar siswa terhindar dari kesukaran-kesukaran psikis dan tingkah laku dalam menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Istilah bimbingan konseling itu sendiri terdiri dari dua makna yaitu bimbingan dan konseling. Bimbingan itu sendiri digunakan sebagai terjemahan dari istilah bahasa inggris “Guidance” yang di artikan usaha menolong orang lain atau siswa untuk mengembangkan pandangannya tentang diri sendiri, orang lain dan masyarakat sekitarnya agar mampu menganalisa maslah-masalah atau kesukaran-kesukaran yang dihadainya dengan menetapkan sendiri keputusan terbaik dalam menyelesaika maslah dan kesukaran yang dihadapinya itu.

Seperti halnya pengertian bimbingan (guidance), di dalam pengertian konseling juga terdapat beberapa macam tinjauan atau pengertian itu. Jones menguraikan tentang pengertian konselig sebagai berikut:

Counseling is talking over a problem with some one. Usually but not always, one pf the two has facts or experiences or abilities not possesed to the same degree by the other. The process of counseling involves a clearing up of the problem by discussion”(1963:291).

Tujuan dan manfaat dari makalah ini diantaranya; tujuannya adalah: Mengetahui fungsi dan tujuan bimbingan konseling di sekolah, mengetahui betapa pentingnya bimbigan dan konseling di sekolah untuk mengatasai masalah siswa, kita bisa belajar bagaimana menangani maslh siswa baik itu masalah yang ringan sampai yang sukar di selesaikan, masalah siswa bukan hanya timbul dari lingkup sekolah saja, namun bisa datang dari lingkup pribadi dan keluarga. Dengan mempelajari pengelolaan bimbingan konseling di sekolah dapat membantu bagaimana cara dan mengenali masalah yan sering di hadapi siswa, dan pengelolaan bimbingan dan konseling bukan hanya bediri di tengah-tengah siswa tapi dapat membuat siswa lebih baik lagi. Sedangkan manfaat dari makalah ini adalah: Memahami dan mengetahui makna dari bimbingn konseling, dalam pengenalan masalah siswa ada beberapa tahap yan harus di ketahui, dengan mempelajarinya kita akan paham dan mengerti, kebanyakan saat ini siswa takut masuk atau konsultasi ke ruang bimbngan konseling karena pengelolaan yang salah, dan bimbingan konseling adalah tahap membantu untuk mengembangkan perilaku siswa bukan untuk menakut-nakuti siswa.

 

2.1 Tujuan Pengelolaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Secara implisit, tujuan bimbingan dan konseling sudah bisa diketahui dalam rumusan tentang bimbingan dan konseling seperti telah di kemukakan di atas. Individu atau siswa yang dibimbing, merupakan individu yang sedang dalam proses perkembangan. Oleh karena itu, merujuk kepada perkembangan individu yang dibimbing, maka tujuan bimbingan dan konseling adalah agar tercapai perkembangan yang optimal pada individu yang di bimbing. Dengan perkataan lain agar individu (siswa) dapat mengembangkan dirinya secara optimal sesuai potensi atau kapasitasnya dan agar individu dapat berkebng sesuai lingkungannya.

Optimalisasi pencapaian tujuan bimbingan dan konseling pada setiap individu tentu berbeda sesuai tingkatan perkembangannya. Apabila yang di bimbing adalah murid Sekolah Dasar (SD/MI), di mana mereka sedang dalam proses perkembangan dari usia SD/MI ke usia SMP/MTs atau usia anak-anak ke usia remaja, tentu optimalisasi pencapaian tingkat perkembangannya sesuai dengan usia Sekolah Dasar, demikian juga apabila yang dibimbing adalah Siswa Sekolah Menengah Pertama  (SMP) atau siswa Sekolah Menengah Atas (SMA/SMK/Sederajat) dan Pergruan Tinggi (PT). Individu  yang sedang dalam proses perkembangan apalagi ia adalah seorang siswa, tentu banyak masalah yang dihadapinya baik masalh pribadi, sosial, maupun akademik dan masalah masalah lainnya. Kenyataan bahwa tidak semua individu (siswa) mampu melihat dan mampu menyelesaikan sendiri masalah yang dihadapinya serta tidak mampu menyesuaikan diri sendiri secara efektif terhadap lingkungannya. Bahkan adakalanya individu tidak mampu menerima dirinya sendiri.

Merujuk kepada masalah yang dihadapi individu (siswa), maka tujuan bimbingan dan konseling adalah agar individu yang dibimbing memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya dan mampu atau cakap memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya serta mampu menyelesaikan diri secara efektif dengan lingkungannya. Bimbingan dan konseling berkenaan dengan perilaku oleh sebab itu tujuan bimbingan dan konseling adalah dalam rangka: pertama, membantu mengembangkan kualitas kepribadian idividu yang dibimbing atau dikonseling. Kedua, membantu mengembangkan kualitas kesehatan mental klien. Ketiga, membantu mengembangkan perilaku-perilaku yang lebih efektif pada iri individu dan lingkungannya. Keempat, membantu klien menanggulangi problema hidup dan kehidupan secara mandiri. Secara lebih rinci, tujuan bimbingan dan konseling atau tujuan konseling seperti telah disebutkan di atas adalah agar: pertama, memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya. Kedua, mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya k arah tingkat perkembangan yang optimal. Ketiga, mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya. Keempat, mempunyai wawasan yang lebih realistis serta penerimaan yang objektif tentang dirinya. Kelima, dapat menyelesaikan diri secara lebih efektif baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkunagnnya sehingga memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Keenam, mencapai taraf diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ketujuh, terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan perilaku salah satu.

Sejalan dengan perkembangan konsepsi bimbingan dan konseling, maka tujuan bimbingan dan konselingpun mengalami perubahan, dari yang sederhana sampai ke yang lebih komprehensif. Perkembangan itu dari waktu ke waktu dapat dilihat pada kutipan dibawah ini:

….untuk membantu individu membuat pilihan-pilihan, penyesuaian-penyusaian dan interpretasi-interpretasi dlam hubungannya dengan situasi-situasi tertentu.

(Hamrin & Clifford, dlam Jones, 1951)

….untuk memperkuat fungsi-fungasi pendidikan

(Brodshow, dalam Mc Daniel, 1956)

….untuk merekontruksi budaya sekolah

(Shoben, dalam McDaniel, 1956)

Dengan proses konseling klien dapat:

–          Mendapatkan dukungan selagi klien memadukan segenap kekuatan dan kemampuan untuk mengatasi permasalahn yang dihadapi.

–          Memperoleh wawasan baru yang lebih segar tentang berbagai alternatif, pandangan dan pemahaman-pemahaman, serta keterampilan-keterampilan baru.

–          Menghadapi ketakutan-ketakutan sendiri; mencapai kemamuan untuk mengambil keputusan dan keberanian untuk melaksanakannya; kemampuan untuk mengambil resiko yang mungkin ada dalam proses pencapaian tujuan-tujuan yang dikehendaki.

Setiap rumusan tujuan mengandung hal-hal pokok sebagai berikut:

Rumusan 1 (Hamrin & Clifford, dlam Jones, 1951)

Agar individu dapat:

–          Membuat pilihan-pilihan

–          Membuat penyesuaian-penyesuaian

–          Membuat interpresasi-interpretasi

Rumusan 2 (Brodshow, dalam Mc Daniel, 1956)

Memperkuat fungsi-fumgsi pendidikan.

 

Rumusan 3 (Shoben, dalam McDaniel, 1956)

Rekontruksi budaya sekolah.

Dengan memperhatikan butir-butir tujuan bimbingan dan konseling sebagaimana tercantum dalam rumusan-rumusan di atas, tampak bahwa tujuan umum bimbingan dan konseling adalah untuk membantu individu memperkuat diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (seperti kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (seperti latar belakang keluarga, penduidikan status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya. Dalam kaitan ini, bimbingan dan konseling membantu individu untuk menjadi insan yang berguna dalam kehidupannya yang emiliki berbagai wawasan, pandangan, interpretasi, pilihan, penyesuaian, lingkungannya. Insn seperti ini adalah insan yang mandiri yang memiliki kemampuan untuk memahami diri sendiri dan lingkungannya secara tepat dan obyektif, menerima diri sendiri dan lingkungan secara positif dan mengarahkan diri sendiri sesuai dengan keputusan yang diambilnya itu, serta akhirnya mampu mewujudkan diri sendiri secara optimal.

Adapun tujuan khusus bimbingan dan konseling merupakan penjabaran tujun umum tersebut di atas yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami oleh individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahannnya itu. Masalah-masalah individu bermacam ragam jenis, intensitas, dan sangkut pautnya, serta masing-masing bersifat unik. Oleh karena itu tujuan khusus bimbingan dan konseling untuk masing-masing individu bersifat unik pula. Tujuan bimbingan dan konseling untuk seorang individu berbeda dari (dan tidak boleh disamakan dengan) tujuan bimbingan dan konseling untuk individu lainnya. Tujuan itu mungkin hanya diketahui oleh pihak yang mengarahkan, mungkin perlu diketahui oleh kedua belah pihak. Bimbingan diberikan dengan maksud meningkatkan perasaan senang dan bahagia bagi orang/siswa yang memina pertolongan dengan membantunya menghilangkan gejala-gejala penyesuaian diri yang tidak tepat atau salah (male adjusement).

2.2 Fungsi Pengelolaan Bimbingan dan Konseling di Sekolah

Bimbingan konseling mempunyai beberapa fungsi dalam petunjuk pelaksanaan bimbingan dn konseling untuk SLTP, SMU, dan sederajatnya, yaitu: fungsi pemahaman individu, yaitu fungsi bimbingan dalam membantu ndividu menemukan penyesuaian diri dan perkembangan secara optimal; fungsi pencegahan dan pengembangan, merupakan funsi bimbingan dalam mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimiliki individu; dan fungsi membantu memperbaiki penyesuaian diri, merupakan fungsi bimbingan dalam membantu individu memilih dan memantapkan peguasaan karir atau jabatan yang sesuai dengan minat, bakat, keahlian dan ciri-ciri kepribadian lainnya.

Sedangkan Wingkel dan Hastuti (2006:67) mengatakan fungsi pokok layanan bimbingan di sekolah ialah fungsi penyaluran, yaitu membantu peserta didik mendapatkan program studi yang susuai baginya dalam rangka kurikulum pengajaran yang disediakan di sekolah; penyesuaian, yaitu membantu pesrta didik menemukan cara menempatkan diri secra tepat dalam berbgai keadaan dan situasi yang dihadapi; dan mengadaptasi, yaitu sebagai nara sumber bagi tenaga pendidik yang lain di sekolah. Khususnya pimpinan sekolah dan staf pengajar, dalam hal mengarahkan rangkaian kegiatan pendidikan dan pengajaran supaya sesuai dengan kebutuhan peserta didik. Fungsi bimbingan dan penyuluhan tersebut masih harus disesuaikan dengan fungsi pengajaran, karena fungsi bimbingan dan fungsi pengajaran keduanya mengarah pada tujuan yang sama yaitu perkembangan optimal peserta didik dalam belajar. Makanya, dalam melaksanakan fungsi ini konselor perlu bekerjasama dengan tenaga pendidik lainnya di dalam maupun di luar sekolah.

Pelayanan bimbingan dan konseling khususnya disekolah memiliki beberapa fungsi, yaitu: fungsi pencegahan (preventif), pemahaman, pengentasan, pemeliharaan, penyaluran, penyesuaian, pengembangan, dan perbaikan, serta advokasi.

a)      Fungsi Pencegahan

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling dimaksudkan untuk mencegah timbulnya masalah pada diri siswa sehingga mereka terhindar dari berbagai masalah yang didapat menghambat perkembangan. Berdasarkan fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling harus tetap diberikan kepada setiap siswa sebagai usaha pencegahan terhadap timbulnya masalah. Fungsi ini dapat diwujudkan oleh guru pembimbing atau konselor dengan merumuskan program bimbingan yang sistematis sehingga hal-hal yang dapat menghambat perkembangan siswa seperti kesulitan belajar, kekurangan informasi, masalh sosial dan lain sebagianya dapat dihindari. Beberapa kegiatan atau layanan yang ddapat diwujudkan berkenaan dengan fungsi ini yang bertujuan untuk mencegah terhadap timbulnya masalah adalah:

1)      Layanan Orientasi

Program ini diberikan kepada siswa baru agar merek mengenl lingkungan yang baru secara lebig baik sehingga mereka terhindar dari berbagai maslah selama mengikuti kegiatan belajar-mengajar (selama menjadi siswa di sekolah yang bersangkutan).

2)      Layanan Pengumpulan Data

Melalui rogram ini akan diperoleh data yang lebih lengkap dan akurat tentang siswa, seingga bisa diperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentng siswa.

3)      Layana Kegaiatn Kelompok

Melalui program ini diharapkan siswa memperoleh pemahaman diri secara lebih baik.

4)      Layanan Bimbingan Karier

Program ini diberikan kepada siswa sebelum ia memangku karier tertentu kelak setelah tamat sekolah.

b)     Fungsi Pemahaman

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling dilaksanakan dalam rangka memberikan pemahaman tentang diri klien atau siswa itu sendiri dan oleh pihak-pihk yang membantunya (pembimbing).

1)      Pemahaman tentang Klien

Pemahaman tentang klien merupakan titik tolak upaya pemberian bantuan. Pemahaman tentang klien secara komprehensif yang mencangkup aspek-aspek di atas, apabila dijabarkan meliputi: identitas individu yang mencangkup: nama, jenis kelamin, tempat dan tanggal lahir, agama, orang tua, status adalam keluarga, tempat tinggal; latar belakang pendidikan; statsus sosial ekonomi orang tua; kemampuan yang mencangkup intelegensi, bakat minat, dan hobi; kesehatan; kecenderungan sikap dan kebiasaan; cita-cita pendidikan dan pekerjaan; keadaan ligkungan tempat tinggal; kedudukan dan prestasi yang pernah dicapainnya; kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan; jurusan atau progrm studi yang diikuti; nama pelajaran yang diambil; nilai atau prestasi yang menonjol yang pernah dicapai, kegiatan ekstrakurikuler yang diikuti; sikap dan kebiasaan belajar; hubungan dengan teman sebaya dan lain-lain.

2)      Pemahan tentang Maslah Klien

Dalam upaya membantu memecahkan maslaah siswa melalui pelayanan bibmbingan dan konseling, maka pemahaman terhadap maslah siswa oleh pembimbing (konselor) merupakan suatu keniscayaan.

3)      Pemahaman tentang Lngkungan

Limgkungan bisa dikonsepkan segala sesuatu yang ada di sekitar individu yang secara langsung mempengaruhi individu tersebut seperti keadaan rumah tempat tinggal, keadaan sosio ekonomidan sosio emosional keluarga, keadaan hubungan antar tetangga, teman sebaya dan lain sebagainyya.

c)      Fungsi Pengetasan

Apabila ada seorang siswa mengalami suatu permasalahan dan ia tidak dapat memecahkannya sendiri lalu ia pergi ke pembimbing atau konselor, maka yang diharapakan oleh siswa yang bersangkutan adalah teratasinya masalah yang dihadapinya.

d)     Fungsi Pemeliharaan

Menurut Priyanto dan Erman Amti (1999) fungsi pemeliharaan berarti memelihara segala sesuatu yang baik (positif) yang ada pada diri individu (siswa), baik hal itu merupakan pembawaan yang telah dicapai selama ini.

e)      Fungsi Penyaluran

Setiap siswa hendaknya memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri sesuai dengan keadaan pribadinya masing-masing yang meliputi bakat, minat, kecakapan, cita-cita, dan lain sebagainya.

f)       Fungsi Penyesuaian

Melalui fungsi ini, pelayanan bimbingan dan konseling membantu terciptanya penyesuaian antara siswa dengan lingkungannya. Fungsi penyesuaian mempunyai dua arah. Pertama,  bantuan kepada siswa agar dapat meneyesuaikan diri terhapap lingkungan sekolah. Kedua, banuan dalam mengembangkan program pendidikan yang sesuai dengan keadaan masing-masing siswa.

g)      Fungsi Pengembangan

Siswa di sekolah merupakan individu yang sedang dlam proses perkembangannya. Misalnya murid SD adalah sosok individu yang sedang berkembang menuju usia SMP, siswa SMP adalah sosok individu yang sedang berkembang menuju usia SMA dan seterusnya. Mereka memiliki potensi tertentu untuk dikembangkan.

h)     Fungsi Perbaikan

Tiap-tiap individu atau siswa mwmiliki masalah. Bisa dipastikan tidak ada individu apalagi siswa di sekolah yang tidak memiliki masalah. Akan tetapi kompleksitas masalah yang dihadapi oleh siswa jelas berbeda.

i)        Fungsi Advokasi

Layanan bimbingan dan konseling melalui fungsi ini adalah membantu peserta didik memperoleh pembelaan atas hak dan atau kepentingn yang kurang mendapatkan perhatian.

2.3 Sasaran dan Ruang Lingkup Bimbingan Konseling di Sekolah

a. Sasaran Bimbingan Konseling di Sekolah

Sasaran bimbingan dan konseling di sekolah adalah tiap-tiap pribadi siswa secara perorangan, dalam arti mengembangkan apa yang ada pada diri tiap-tiap individu (siswa) secara optimal agar masing-masing individu dapat sebesar-besarnya berguna bagi dirinya sendiri, lingkungannya, dan masyarakay pada umumnya. Sasaran pengembangan pribadi tiap-tiap siswa memalui pelayanan bimbingan dan konseling melalui beberpa tahapan. Tahapan-tahapan tersebut adalah adalah pertama, pengungkapan, pengenalan dan penerimaan diri.  Berkenaan dengan pengungkapan, pertanyaanyang bisa diajukan adalah mengapa harus diungkap? Dan bagaimana cara mengungkapnya? Tiap individu diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa dibekali dengan potensi-potensi tertentu, namun tidak semua individu mampu mengungkap potensi dirinya. Dalam kondisi demikian, siswa haus dibantu untuk mengungkapkan potensi-potensinya. Demikian pula setiap individu pastinya memiliki masalah, tetapi kompleksitasnya berbeda satu dengan yang lainnya. Tidak semua individu mengenal atau mengetahui masalah dirinya. Oleh sebab itu, individu tersebut harus dibantu untuk mengenal masalahnya. Selanjutnya, yang mesti diungkap dari individu adalah potensi-potensi diri dan masalah yag dihadapinya, sedangkan yang diungkap adalah semua siswa yang menjadi sasaran pelayanan bimbingan dan konseling. Cara mengungkap potensi-potensi dan masalah individu bisa dilakukan melalui konseling atau cara yang lainnya seperti tes, observasi, angket, wawancara, sosiometri, catatan pribadi, kunjungan rumah, dan lain-lain.

Kedua, pengenalan lingkungan. Individu atau siswa hiduo di tengah–tengah lingkungan. Individu tidak hanya dituntut untuk dirinya sendiri, melainkan juga dituntut untuk mengenal lingkungannya. Seperti penerimaan diri sendiri, individu pun hendak menerima lingkungannya sebagimana adanya. Hal ini tidak berarti individu tunduk saja pada lingkungannya, melainkan ia ditutut harus mampu mewujudkn sikap positif terhadap lingkungannya. Lingkungan yang kurang menguntungkan bagi individu, hendaknya tidak membuat ia putus asa, melainkan

ia terima secara wajar dan berusaha memperbaikinya. Agar dapat mewujudkan sikap positif terhadap lingkungannya, atau agar individu berperilaku sesuai dengan tuntutan lingkungannya, individu yang bersangkutan harus deperkenalkan dengan lingkungannya. Individu atau siswa yang tidak mengenal lingkungan secara baik, maka perilakunya akan bermasalah seperti pelanggaran disiplindan lain sebagainya.

Ketiga, pengambilan keputusan. Setelah potensi siswa terungkap dan indisidu yang bersangkutan mengenal potensi dirinya, mengenal masalah-masalah yang dihadapinya dan individu tersebut pun dapat menerima dirinya apa adanya sesuai potensinya. Pengambilan keputusan yang menyangkut dirinya sendiri sering kali amat berat dilakuka, terlebih apabila terjadi pertentangan anatar realitas tentang diri sendiri dengan lingkungannya. Di sinilah peranan bimbingan dan konseling untuk membantu penampilan secara bjektif dua unsur, yaitu diri sendiri dan lingkungan.

   Keempat, pengarahan diri. Kemampuan mengambil keputusan seperti dikemukakan di atas, hendaknya diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata. Sebaik apapun sebuah keputusan, apabila tidak diwujudkan dalam bentuk kegiatan nyata tidak akan ada manfaatnya. Seseorang atau individu harus berani menjalani keputusan yang telah diambilnya untuk dirinya sendiri.

Kelima, eksistensi diri (perwujudan diri). Dalam konteks ini, tujuan pelayanan bimbingan dan konseling adalah membantu individu agar mampu mewujudkan diri secara baik di tengah-tengah lingkungannya. Setiap individu hendaknya mampu mewujudkan diri sendiri sesuai dengan bakat, minat, kemampuan dasar, dan karakteristik kepribadian.

b. Ruang Lingkup Bimbingan Konseling di Sekolah

Pelayanan bimbingan dan konseling memiliki peranan penting, bik bagi individu yang berada dalam lingkungan sekolah, rumah tangga(keluarga), maupun masyarakat sekitar pada umumnya. Pelyanan bimbingan dan konseing di sekolah mempunyai ruang lingkup yng luas dan dapt dilihat dari berbagai segi, yaitu segi fungsi, sasaran, layanan, dan masalah.

Pertama, segi fungsi. Dilihat dari segi fungsi, rung lingkup pelayaan bimbingan dan konseling di sekolah mencangkup fungsi-fungsi: pencegahan, pemahaman, pengentasan, pemeiharaan, penyaluran, penyesuaian, pengembangan, dan perbaikan.

Kedua, segi sasaran. Dilihat dari segi sasaraan, ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah diperntukn bagi semua siswa dengan tujuan agar siswa secara perorangan mencapai perkembangan yang optimal melalui kemampuan; pengungkapan-pengenalan-penerimaan diri, pengenalan lingkungan, pengambilan keputusan, pengarahan diri dan pewujudan diri. Dalam hal tertentu, sesuai dengan permasalahan yang dihadapi siswa, akan terdap prioritas sasaran bimbingan dan konseling.

Ketiga, segi layanan. Dilihat dari segi layanan yang diberikan, ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi layanan-layanan; pengumpulan data, pemberian informasi, penempatan, konseling, alih tangan kasus(referal), dan penilian dan tindak lanjut.

Keempat, segi masalah. Dilihat dari segi masalah, ruang lingkup pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah meliputi; bimbingan pendidikan, bimbingan karier, bimbigan pribadi-sosial.

2.4 Prinsip-Prinsip Bimbingan Konseling di Sekolah

Agar pelaksanaan program bimbingan di sekolah dapat efektif, maka prinsip-prinsip berikut ini dapat dijadikan atau pertimbangan.

  1. Bimbingan hendaknya didasarkan pada suatu konsep yang benar tentang individu dan didasarkan atas pengakuan akan kemuliaan, kehormatan, serta keindividuannya.
  2. Bimbingan harus memperhitungkan tujuan murid, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
  3. Bimbingan berorientasi pada kooperasi dan bukan pada paksaan. Oleh karena itu kesiapan phisokolis dari murid-murid hendaknya menentukan cara dan banyaknya bantuan yang diberikan kepada murid.
  4. Bimbingan sangat menaruh perhatian pada usaha murid, sikap-sikapnya dan keinginan untuk berhasil. Disamping itu data yang diperoleh dari hasil-hasil penelitian dan pengukuran sangat perlu untuk diperhatikan.
  5. Bimbingan adalah suatu proses yang berkesinambungan. Oleh karena itu bimbingan yang efektif dimulai sejak murid memasuki sekolah sampai ia berhenti atau lulus dan mulai memasuki dunia pekerjaan.
  6. Bimbingan terdiri atas serangkaian pelayanan suplementer yang didasarkan atas saling mempercayai dan pengertian bersama agar dapat memenuhi kebutuhan yang nyata dari murid. Bimbingan harus diorganisir sebagai usaha-usaha yang terintegrasi.
  7. Suatu program bimbingan yang efektif membutuhkan personil yang mendapatkan latihan dan persiapan serta pendidikan secara khusus. Petugas bimbingan harus mengembangkan kewenangan-kewenangan tertentu apabila ia ingin melakukan bimbingan secara berhasil dan efektif.

Prinsip merupakan paduan hasil kajian teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksaan sesuatu yang dimaksudkan. Dalam pelayanan bimbingan dan konseling prinsip-prinsip yang digunakan bersumber dari kajian filosofi, hasilhasil penelitian dan pengalaman praktik tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Dalam organisasi bimbingan dan konseling di sekolah perlu diperhatikan beberapa prinsip operasional, karena pelaksanan dari prinsip-prinsip tersebut digunakan untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program bimbingan di sekolah. Prinsip tersebut antara lain:

  1. Program layanan bimbingan di sekolah harus dirumuskan dengan jelas
  2. Program bimbingan harus disusun sesuai dengan kebutuhan sekolah masing-masing
  3. Penempatan petugas-petugas bimbingan harus disesuaikan dengan kemampuan, potensi-potensi (bakat, minat dan keahliannya masing-masing)
  4. Program bimbingan hendaknya diorganisasikan secara sederhana
  5. Menciptakan jalinan kerjasama yang erat diantara petugas bimbingan di sekolah, dan di luar sekolah yang berkaitan dengan program bimbingan di sekolah.
  6. Organisasi harus dapat memberikan berbagai informasi yang penting bagi pelaksanaan program layanan bimbingan.
  7. Program layanan bimbingan harus merupakan suatu program yang integral dengan keseluruhan program pendidikan di sekolah.

2.5 Pola Organisasi Bimbingan dan Konseling di sekolah beserata tugasnya

Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan di bawah tanggung jawab Kepala Sekolah dan seluruh staf. Koordinator bimbingan dan konseling bertanggung jawab dalam menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara operasional. Personel lain yang mencakup Wakil Kepala Sekolah, Guru Pembimbing (konselor), guru bidang studi, dan wali kelas memiliki peran dan tugas masing-masing dalam penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling.

  1. Kepala Sekolah :

a)      Mengkoordinasikan segenap kegiatan yang diprogramkan di sekolah, sehingga kegiatan pengajaran, pelatihan dan bimbingan merupakan suatu kesatuan yang terpadu, harmonis dan dinamis

b)      Menyediakan prasarana, tenaga, sarana dan berbagai kemudahan bagi terlaksananya pelayanan bimbingan yang efektif dan efisien

c)      Melakukan pengawasan dan pembinaan terhadap perencanaan dan pelaksanaan program, penilaian dan upaya tindak lanjut pelayanan bimbingan

d)     Mempertanggungjawabkan pelaksanaan pelayanan bimbingan di sekolah kepada Kanwil / Kandep yang menjadi atasannya

 

  1. Wakil Kepala Sekolah :

Wakil kepala sekolah membantu kepala sekolah dalam melaksanakan tugas-tugas kepala sekolah termasuk pelaksanaan bimbingan dan konseling.

  1. Koordinator Bimbingan :

a)      Memasyarakatkan pelayanan bimbingan kepada segenap warga sekolah, orang tua siswa dan masyarakat

b)      Menyusun program bimbingan

c)      Melaksanakan program bimbingan

d)     Mengadministrasikan pelayanan bimbingan

e)      Menilai program dan pelaksanaan bimbingan

f)       Memberikan tindak lanjut terhadap hasil perilaku bimbingan

  1. Guru Pembimbing / Konselor :

a)      Memasyarakatkan pelayanan bimbingan

b)      Merencanakan program bimbingan

c)      Melaksanakan segenap layanan bimbingan

d)     Melaksanakan kegiatan pendukung bimbingan

e)      Menilai proses dan hasil pelayanan bimbingan kegiatan pendukungnya

f)       Melaksanakan tindak lanjut berdasarkan hasil penilaian

g)      Mengadministrasikan layanan dan kegiatan pendukung bimbingan yang dilaksanakannya

h)      Mempertanggungjawabkan tugas dan kegiatan dalam pelayanan bimbingan kepada koordinator bimbingan

  1.  Guru Mata Pelajaran :

a)      Membantu memasyarakatkan pelayanan bimbingan kepada siswa

b)      Membantu guru pembimbing mengidentifikasi siswa-siswa yang memerlukan layanan bimbingan

c)      Mengalihtangankan siswa yang memerlukan layanan bimbingan kepada guru pembimbing

d)     Menerima siswa alih tangan dari pembimbing

e)      Membantu mengembangkan suasana kelas, hubungan guru – siswa dan siswa–siswa yang menunjang pelaksanaan pelayanan bimbingan

f)       Memberikan kesempatan dan kemudahan kepada siswa yang memerlukan layanan bimbingan

g)      Berpartisipasi dalam kegiatan khusus penanganan masalah siswa

h)      Membantu pengumpulan informasi yang diperlukan dalam rangka penilaian bimbingan dan upaya tindak lanjutnya.

  1. Wali Kelas :

a)      Membantu guru pembimbing melaksanakan tugas-tugasnya di kelas yang menjadi tanggungjawab

b)      Membantu guru mata pelajaran / pelatih melaksanakan peranannya dalam pelayanan bimbingan

c)      Membantu memberikan kesempatan dan kemudahan bagi siswa untuk mengikuti / menjalankan kegiatan bimbingan

 

BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 KESIMPULAN

Tujuan bimbingan dan konseling adalah agar individu yang dibimbing memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya dan mampu atau cakap memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya serta mampu menyelesaikan diri secara efektif dengan lingkungannya. Bimbingan dan konseling berkenaan dengan perilaku oleh sebab itu tujuan bimbingan dan konseling adalah dalam rangka: pertama, membantu mengembangkan kualitas kepribadian idividu yang dibimbing atau dikonseling. Kedua, membantu mengembangkan kualitas kesehatan mental klien. Ketiga, membantu mengembangkan perilaku-perilaku yang lebih efektif pada iri individu dan lingkungannya. Keempat, membantu klien menanggulangi problema hidup dan kehidupan secara mandiri. Secara lebih rinci, tujuan bimbingan dan konseling atau tujuan konseling seperti telah disebutkan di atas adalah agar: pertama, memperoleh pemahaman yang lebih baik terhadap dirinya. Kedua, mengarahkan dirinya sesuai dengan potensi yang dimilikinya k arah tingkat perkembangan yang optimal. Ketiga, mampu memecahkan sendiri masalah yang dihadapinya. Keempat, mempunyai wawasan yang lebih realistis serta penerimaan yang objektif tentang dirinya. Kelima, dapat menyelesaikan diri secara lebih efektif baik terhadap dirinya sendiri maupun lingkunagnnya sehingga memperoleh kebahagiaan dalam hidupnya. Keenam, mencapai taraf diri sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Ketujuh, terhindar dari gejala-gejala kecemasan dan perilaku salah satu.

Pelayanan bimbingan dan konseling khususnya disekolah memiliki beberapa fungsi, yaitu: fungsi pencegahan (preventif), pemahaman, pengentasan, pemeliharaan, penyaluran, penyesuaian, pengembangan, dan perbaikan, serta advokasi. Prinsip merupakan paduan hasil kajian teoretik dan telaah lapangan yang digunakan sebagai pedoman dalam pelaksaan sesuatu yang dimaksudkan. Dalam pelayanan bimbingan dan konseling prinsip-prinsip yang digunakan bersumber dari kajian filosofi, hasilhasil penelitian dan pengalaman praktik tentang hakikat manusia, perkembangan dan kehidupan manusia dalam konteks sosial budayanya, pengertian, tujuan, fungsi, dan proses penyelenggaraan bimbingan dan konseling. Dalam organisasi bimbingan dan konseling di sekolah perlu diperhatikan beberapa prinsip operasional, karena pelaksanan dari prinsip-prinsip tersebut digunakan untuk menjamin kelancaran pelaksanaan program bimbingan di sekolah.

Layanan bimbingan dan konseling dilaksanakan di bawah tanggung jawab Kepala Sekolah dan seluruh staf. Koordinator bimbingan dan konseling bertanggung jawab dalam menyelenggarakan bimbingan dan konseling secara operasional. Personel lain yang mencakup Wakil Kepala Sekolah, Guru Pembimbing (konselor), guru bidang studi, dan wali kelas memiliki peran dan tugas masing-masing dalam penyelenggaraan layanan bimbingan dan konseling.

3.2 SARAN

Berdasarkan makalah yang telah dibuat, dapat dikemukakan saran sebagai diantaranya berikut:

  1. Kita dapat belajar bagaimana pengelolaan bimbingan dan konseling yang baik di sekolah dari pengertian tujuan dan fungsi pengelolaan bimbingan dan konseling.
  2. Dalam menyelesaikan masalah siswa, sebaiknya bukn hanya guru BK saja yang betugas dalam menyelesaikan masalah tersebut, namun semua elemen sekolah membantu kelancaran bimbignan dan konseling bagi siswa yang mempunyai masalah.
  3. Bimbingan konseling perlu adanya di sekolah untuk memahami dan meminimalisir danya masalah dalam siswa, misalnya dengan bimbingan dan konseling siswa akan diperkenalkan lebih dulu pada awal sekolah, ini akan mengurangi pelaggaran disiplin pada siswa.
  4. Kita perlu banya belajar sebagai guru dan pendidik, bagaimana membimbing siswa di sekolah yang baik dan nyaman.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Afriadi, Yusuf. 2013. Pola Organisasi Bimbingan dan Konseling di sekolah beserta Tugasnya. http://gudangmakalahku.blogspot.com/2013/04/pengelolaan-bimbingan-dan-konseling.html. Diakses tanggal 2 Januari 2013.

Nitalinda, Alvio. 2013. Prinsip-prinsip Bimbingan Konseling. http://alvionitalinda.wordpress.com/2013/05/31/pengelolaan-layanan-bimbingan-konseling-di-sekolah/. Diakses tanggal 2 Januari 2014.

Priyanto, dan Erman Anti. 10 Nopember 1994. Dasar-Dasar Bimbingan dan Konseling. Jakarta: Toyib Basuki

Sagala, Syaiful. November 2009. Kemampuan Profesional Guru dan Tenaga Kependidikan. Bandung: Alfabeta

Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolh dan Madrasah. Jakarta: PT Rajagrafindo persada

Umam, Mohammad Zaimul. 2012. Prinsip-Prinsip Organisasi Bimbingan dan Konseling di sekolah. http://zaimwahid.wordpress.com/2012/03/08/376/. Diakses tanggal 2 Januari 2014.

Walgito, Bimo. 2010. Bimbingan dan Konseling. Yogyakata: C.V Andi Offset

 

 

 

_____________

Disusun Oleh: Ima Frafika Sari

STKIP PGRI PACITAN

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s