Analisis SWOT dalam Pendidikan

Sebagai pelaksana program pendidikan, lembaga pendidikan adalah pemeran utama untuk melaksanakan program tersebut. Dalam pelaksanaan program-program serta tujuan yang telah disepakati oleh lembaga pendidikan tersebut tentunya tidak bisa terlepas dengan problematika maupun persoalan-persoalan lain yang harus diselesaikan oleh sebuah lembaga pendidikan. Tentunya setiap pimpinan lembaga atau perusahaan tidak menginginkan perusahaannya jatuh bangkrut, begitupun dengan lembaga pendidikan tidak ada yang menginginkan jatuh terprosok hanya karena persoalan salah manajemen atau pengelolaan.

Masalah pendidikan bukan merupakan masalah baru dalam dunia pendidikan di Indonesia. Berdasarkan masalah pendidikan, tidak lepas problematika yang dihadapi oleh lembaga pendidikan itu sendiri. Perhatian tersebut tidak lepas dari akar sejarah lembaga pendidikan yang memunculkan madrasah dan sekolah. Selaras dengan tuntutan zaman, lembaga pendidikan pun berkembang. Persoalan-persoalan yang timbul baik berupaa faktor intern maupun ekstern. Faktor intern misalnya terkait dengan kurikulum, tenaga pendidik, perserta didik dan lain-lain, sedangkan faktor eksternnya adalah faktor-faktor sosial (masyarakat), pemerintahan maupun pihak-pihak yang terkait.

Sebuah lembaga pendidikan tentunya harus mengetahui problematika lembaganya, mengetahui kekuatan, kelemahan, peluang maupun ancaman sehingga bisa melahirkan solusi-solusi cemerlang dan bisa mengantarkan lembaga pendidikan pada kedudukan yang sangat berpengaruh dalam pergulatan keilmuan bangsa maupun dunia.Sehubungan dengan hal tersebut E. Mulyasa berpendapat bahwa perkembangan yang terjadi dewasa ini cenderung menimbulkan permasalahan dan tantangan baru yang berdampak luas terhadap tugas-tugas pengelolaan  pendidikan. Antara lain, perbaikan mutu secara terus menerus berorientasi pada masukan, proses, luaran, dll. Inti sumber perbaikan bukanlah pada fisiknya, melainkan pada peningkatan profesionalitas manusia pengelola atau pelaksana lembaga pendidikan itu sendiri. Untuk mengukur tingkat keberhasilan, kekuatan dan kelemahan dalam manajemen strategik maka analisis SWOT merupakan salah satu alternatif yang digunakan dalam mengnalisis manajemen pendidikan, khusunya pada lembaga pendidikan.

 

Analisis SWOT dalam Pendidikan

Analisi SWOT itu sendiri dapat didefinisikan dengan suatu identifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strenghts) dan peluang (opportunities), akan tetapi secara bersamaan dapat meminimalkan kelemahan(weakness) dan ancaman( threats). Ada beberapa tahapan dan langkah yang mesti ditempuh dalam melakukan analisis SWOT, antara lain: Langkah pertama, identifikasi kelemahan (internal) dan ancaman (eksternal, globalisasi) yang paling urgen untuk diatasi secara umum pada semua komponen pendidikan. Langkah kedua, identifikasi kekuatan (internal) dan peluang (eksternal) yang diperkirakan cocok untuk mengatasi kelemahan dan ancaman yang telah diidentifikasi pada langkah pertama. Langkah ketiga, lakukan analisis SWOT lanjutan setelah diketahui kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dalam konteks sistem manajemen pendidikan. Langkah keempat, rumuskan strategi-strategi yang direkomendasikan untuk menangani kelemahan dan ancaman, termasuk pemecahan masalah, perbaikan dan pengembangan lebih lanjut. Langkah kelima, tentukan prioritas penanganan kelemahan dan ancaman itu, dan disusun suatu rencana tindakan untuk melaksanakan program penanganan.

Dengan analisis SWOT tersebut diharapkan lembaga pendidikan  dapat melakukan langkah-langkah strategis.  Strategi adalah suatu cara dimana organisasi atau lembaga akan mencapai tujuannya, sesuai dengan peluang-peluang dan ancaman-ancaman lingkungan eksternal yang dihadapi, serta sumber daya dan kemampuan internal.Setelah melakukan analisis SWOT, berikutnya adalah melakukan langkah-langkah strategis sebagaimana dapat dibagankan sebagai berikut:

  1. a.      Kekuatan

Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulan-keunggulan lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga pendidikan tersebut.Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang membuatnya unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat memuaskan steakholder maupun pelanggan (peserta didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).

Sebagai contoh bidang keunggulan, antara lain kekuatan pada sumber keuangan, citra yang positif, keunggulan kedudukan di masyrakat, loyalitas pengguna dan kepercayaan berbagai pihak yang berkepentingan. Sedangkan keunggulan lembaga pendidikan di era otonomi pendidikan atara lain ; sumber daya manusia yang secara kuantitatif besar, hanya saja perlu pembenahan dari kualitas. Selain itu antusiasme pelaksanaan pendidikan sangat tinggi, yang didukung sarana prasarana pendidikan yang cukup memadai. Hal lai dari faktor keunggulan lembaga pendidikan adalah kebutuhan masyarakat terhadap yang bersifat transendental sangat tinggi, dan itu sangat mungkin diharapkan dari proses lembaga pendidikan.

Bagi sebuah lembaga pendidikan sangat penting untuk mengenali terhadap kekuatan dasar lembaga tersebut sebgai langkah awal atau tonggak menuju pendidikan yang berbasis kualitas tinggi. Mengenali kekuatan dan terus melakukan refleksi adalah sebuah langkah bersar untuk menuju kemajuan bagi lembaga pendidikan.

  1. b.      Kelemahan

Segala sesuatu pasti memiliki kelemahan adalah hal yang wajar tetapi yang terpenting adalah bagaimana sebagai penentu kebijakan dalam lembaga pendidikan bisa meminimalisir kelemahan-kelemahan tersebut atau bahkan kelemahan tersebut menjadi satu sisi kelebihan yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain. Kelemahan ini bisa kelemahan dalam sarana dan prasarana, kualitas atau kemampuan tenaga pendidik, lemahnya kepercayaan masyarakat, tidak sesuainya antara hasil lulusan dengan kebutuhan masyarakat atau dunia usaha dan industri dan lain-lain.

Untuk itu, beberapa faktor kelemahan yang harus segera dibenahi oleh para pengelola lembaga pendidikan, antara lain ; (1) lemahnya SDM dalam lembaga pendidikan. (2) sarana dan prasarana yang masih sebatas pada sarana wajib saja. (3) lembaga pendidikan swasta umumya kurang bisa menangkap peluang, sehingga mereka hanya puas dengan keadaan yang dihadapi sekarang ini. (4) uotput lembaga pendidikan belum sepenuhnya bersaing dengan output lembaga pendidikan yang lain dan sebagainya.

  1. c.         Peluang

Peluang adalah suatu kondisi lingkungan eksternal yang menguntungkan bahkan menjadi formulasi dalam lembaga pendidikan. Formulasi  lingkungan tersebut misalnya: (1) kecenderungan penting yang terjadi dikalangan peserta didik. (2) identifikasi suatu layanan pendidikan yang belum mendapat perhatian. (3) perubahan dalam keadaan persaingan. (4) hubungan dengan pengguna atau pelanggan dan sebagainya.

Peluang pengembangan lembaga pendidikan antara lain :

  1. Di era yang sedang krisis moral dan krisis kejujuran seperti ini diperlukan peran serta pendidikan agama Islam yang lebih dominan.
  2. Pada kehidupan masyarakat kota dan modern yang cenderung konsumtif dan hedonis, membutuhkan petunjuk jiwa, sehingga kajian-kajian agama berdimensi sufistik kian menjamur. Ini menjadi salah satu peluang bagi pengembangan lembaga pendidikan kedepan

 

  1. d.      Ancaman

Ancaman merupakan kebalikan dari sebuah peluang, ancaman meliputi faktor-faktor lingkungan yang tidak menguntungkan bagi sebuah lembaga pendidikan. Jika sebuah ancaman tidak ditanggulangi maka akan menjadi sebuah penghalang atau penghambat bagi maju dan peranannya sebuah lembaga pendidikan itu sendiri. Contoh ancaman tersebut adalah: minat peserta didik baru yang menurun, kurangnya kepercayaan masyarakat terhadap lembaga pendidikan tersebut dan lain-lain.

 

Contoh dari Analisis SWOT dalam Lembaga Pendidikan

Analisis SWOT secara sederhana dipahami sebagai pengujian terhadap kekuatan dan kelemahan internal sebuah organisasi, serta kesempatan dan ancaman lingkungan eksternalnya. SWOT adalah perangkat umum yang didesain dan digunakan sebagai langkah awal dalam proses pembuatan keputusan dan sebagai perencanaan strategis dalam berbagai terapan. Tentunya dalam menganalisis SWOT, tidak hanya terjadi didalam lembaga karang taruna saja, ataupun dalam lembaga usaha lainnya. Tentunya dilembaga pendidikan pun ada. Nah disini terdapat berbagai contoh analisis SWOT dalam lembaga pendidikan, diantaranya:

 

  1. a.       Kekuatan:

Knowledge atau kepakaran yang dimiliki

Lulusan dihasilkan atau pelayanan yg unik

Lokasi tempat lembaga pendidikan berada

Kualitas lulusan atau proses

  1. b.      Kelemahan:

Kurangnya pengetahuan sosialisasi lembaga pendidikan.

Lulusan yang tidak dapat dibedakan dengan lulusan lembaga pendidikan / lembaga pendidikan lain.

Lokasi lembaga pendidikan  yang terpencil

Kualitas lulusan yang jelek

Reputasi yang buruk

  1. c.       Peluang:

Lembaga yangterus berkembang dan pendidikan merupakan kebutuhan bagi masyarakat.

Adanya pendidikan berbasis internasional

Peluang karena lembaga pendidikan  yang tidak sanggup memenuhi permintaan masyarakat.

  1. d.      Ancaman :

Adanya lembaga pendidikan Islam baru di area yang sama

Persaingan harga dengan lembaga pendidikan lain.

Lembaga pendidikan lain mengeluarkan lulusan baru yang inovativ

Lembaga pendidikan lain memegang pangsa pasar terbesar

 

Faktor Internal (Kekuatan) yang dimiliki lembaga pendidikan:

  1. Knowledge atau kepakaran yang dimiliki
  2. Lulusan dihasilkan atau pelayanan yg unik
  3. Lokasi tempat lembaga pendidikan berada
  4. Kualitas lulusan atau proses

 

Faktor Internal (Kelemahan) yang dimiliki lembaga pendidikan:

  1. Kurangnya pengetahuan sosialisasi lembaga pendidikan.
  2. Lulusan yang tidak dapat dibedakan dengan lulusan lembaga pendidikan / lembaga pendidikan lain.
  3. Lokasi lembaga pendidikan  yang terpencil
  4. Kualitas lulusan yang jelek

 

Faktor Eksternal (Peluang) yang dimiliki lembaga pendidikan:

  1. Adanya pendidikan berbasis internasional
  2. Lembaga yangterus berkembang dan pendidikan merupakan kebutuhan bagi masyarakat.
  3. Peluang karena lembaga pendidikan  yang tidak sanggup memenuhi permintaan masyarakat.

 

 

Faktor Eksternal (Ancaman) yang dimiliki lembaga pendidikan:

  1. Adanya lembaga pendidikan Islam baru di area yang sama
  2. Persaingan harga dengan lembaga pendidikan lain.
  3. Lembaga pendidikan lain mengeluarkan lulusan baru yang inovatif
  4. Lembaga pendidikan lain memegang pangsa pasar terbesar

 

 

 

 

Analisis Strategi SWOT didalam Lembaga Pendidikan

 

  1. 1.       Analisis lingkungan internal

Analisi lingkungan internal (ALI) berupa pencermatan dan identifikas terhadap kondisi intenal organisasi, menyangkut organisasi, biaya oprasional, efektifitas organisasi, sumber daya manusia, srana dan prasarana maupu dana yang tersedia. Pencermatan dilakukan dengan mengelompokkan atas hal-hal yang merupakan kekuatan (strength) atau kelemahan (weakness) organisasi dalan rangka mewujudkan tujuan dan sasaran. Lingkungan internal merupakan roh dalam sebuah lembaga untuk menjamin keberlangsungan proses pendidikan yang sedang belangsung oleh karena itu dibutuhkan manjemen pengelolaan yang baik.

  1. Analisis siswa atau peserta didik

Pesrta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui pembelajaran yang tersedia pada jalu. Jenjang dan jenis pendidikan tertentu.[1][19] Oemar Hamalik di kutip dari Ari Hidayat dan Imam Machali mendefinisikan peserta didik sebagi suatu kompenen masukan dalam sistem masukan dalam sistem pendidikan yang selanjutnya diproses dalam proses pendidikan, sehingga menjadi manusia berkualitas.

Adapun tahapan tahapan pengelolan peserta didik menuurut Ari Hidayat dan Imam Machali sebagai berikut.

a)        Analisis kebutuhan peserta didik.

b)        Rekruitmen peserta didik.

c)        Seleksi peserta didik.

d)       Orientasi.

e)        Penenmpatan pesrta didik.

f)         Pembinaan dan penagenbangan peserta didik.

g)        Pencatatan dan pelaporan.

h)        Kelulusan dan Alumni.

Oleh karena itu manajemen kesiswaan pendidikan bila dilihat dari segi tahapan dalam masa studi di sekolah dapat dibagi menjadi tiga tahapan, yaitu, penerimaan siswa baru, preoses pembelajaran dan persiapan studi lanjut atau bekerja. Dengan istilah lain, tiga tahapan tersebut dapat disebut denga tahapa penjaringan, pemprosesan dan pendistribusian. Semua tahapan tersebut membutuhkan pengelolaan secara maksimal agar mendapatkan hasil yang maksimal pula.

  1.   Analisis tenaga kependidikan

USPN No. 20 Tahun 2003 menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan pendidikan adalah tenaga kependidikan yang berkualifikasi sebagai guru, dosen, konselor, pamong belajar instruktur, fasilitat or, dan sebutan lain yang sesuai dengan kekhususannya serta berpartisipasi dalam menyelenggarakan pendidikan. Sedangkan tenaga kependidikan adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri  dan diangkat untuk menunjang penyelenggaraan pendidikan. Peranan guru yang sangat penting tersebut bisa menjadi potensi besar dalam memjukan atau meningkatkan mutu pendidikan, atau sebaliknya bisa juga menghancurkannya. Ketika guru benar-benar berlaku profesional  dan dapat mengelola pendidikan dengan baik, tentunya mereka semakin bersemangat dalam menjalnkan tugasnya bahkan rela melakukan inovasi pembelajarn  untuk kesuksesan pembelajaran peserta didik.

  1. Analisis sarana fisik sekolah

Sarana pendidikan adalah segala sesuatu  yang meliputi  peralatan dan perlengkapan yang langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah seperti gedung, ruangan, meja, kursi, alat peraga, buku pelajaran dan lain-lain. Sedangkan prasarana semua kompenen yang secara tidak langsung menunjang jalannya proses pembelajaran di lembaga pendidikan tersebut seperti jalan menju sekolah, halaman sekolah, tata tertib sekolah dan lain-lain.

Sarana dan prasarana pendidikan dalam lembaga pendidikan Islam sebaiknya dikelola dengan sebaik mungkin sesuai dengan ketentuan-ketentuan berikut;

  1. Lengkap siap dipakai setiap saat, kuat, dan Awet.
  2. Rapi indah bersih, anggung, dan asri sehingga menyejukkan pandangan dan perasaan siapun yang memasuki kompleks lembaga pendidikan Islam.
  3. Kreatif, inovatif, responsif dan variatif sehingga dapat merangsang timbulnya imajinaasi peserta didik.
  4. Memiliki jangkauan waktu penggunaan yang panjang melalui perencanaan yang matang untuk menghidari kecendrungan bongkar pasan bagunang.
  5. Memiliki tempat khusus untuk beribadah maupun pelaksanaan kegiatan sosio-religius seperti mushallah atau masjid..

Oleh karena itu, sarana dan prasarana pendidikan seharusnya diupayakan semaksimal mungkin agar lembaga pendidikan  memiliki daya tarik yang khas. Jika terjadi demikian, maka posisi tawar lembaga tersebut terhadap masyarakat sekitar sangatlah tinggi. Hal ini mungkin terjadi jika sarana dan prasarana ini mendapat perhatian besar dari manajer pendidikan mulai tahap perencanaan sampai pada perawatan /pemeliharaan.

d.     Analisis kurikulum, materi pendidikan dan proses belajar mengajar

Selama ini kurikulum di anggapa sebagai  penetu keberhasilan pendidikan.  Karena itu, perhatian para guru, dosen, kepala sekolah/madrasah, ketua rektor, maupun praktisi pendidikan terkonsentrasi pada kurikulum. Padahal kurikulum bukanlah penentu utama. Dalam kasus pendidikan di Indonesia misalnya. Problem yang paling besar di hadapi bangsa ini sesungguhnya bukan problem kurikulum, meskipun bukan berarti kurikulum tidak menimbulkan problem, namun masalah kesadaran merupakan masalah yang besar. Yaitu lemahnya kesadaran untuk berprestasi, kesadaran untuk sukses, kesadarn untuki meningkatkan SDM, kesadaran untuk menghilangkan kebodohan, maupun kesadaran untuk berbuat yang terbaik.

e.       Analisis administrasi dan keuangan sekolah

Selama ini ada kesan bahwa keuangan adalah segalanya dalam memajukan suatu lembaga pendidikan. Tampa dukungan finasial yang cukup, manajer lembaga pendidikan seakan tidak bisa berbuat banyak dalam upaya memajukan lembaga pendidikan yang dipimpinnya. Sebab mereka berpikir semua upaya memajukan senantiasa harus dimodali dengan uang. Upaya memajukan kompenen-kompenen  pendidikan  tanpa disertai dukungan uang akan pasti mandek di tengah jalan.

Setidaknya ada dua hal yang meneybabkan timbulnya perhatian yang besar pada keungan yaitu, Pertama, keungan temaasuk kunci penentu kelangsungan dan kemajuan lembaga pendidikan. Kenyataan ini mengandung konsekuensi bahwa program-program pembaruan atau pengembangan pendidikan bisa gagal dan berantakan manakala tidak didukung oleh dana yang memadai. Kedua, lazimnya uang dalam jumlah besar sulit sekali didapatkan  khususnya lembaga pendidikan swasta yang baru berdiri.

 

  1. Sumber keuangan atau pembiayaan

Sumber keuangan atau pembiayaan pada suatu sekolah secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi tiga sumber, yaitu:

  1. Pemerintah, baik pemerintah pusat, daerah maupun keduanya, bersifat umum dan khususserta di peruntukkan bagi pendidikan.
  2. Orangtua atau peserta didik.
  3.   Masyarakat, baik mengikat maupun tidak mengikat.

 

2.        Analisis lingkungan eksternal

Analisis lingkungan eksternal (ALE) berupa pencermatan dan identifikasi terhadap kondisi lingkungan di luar organisasi yang dapat terdiri dari lingkungan ekonomi, teknologi, sosial, budaya, politik, ekologi dan keamanan pencermatan ini akan menghasilkan  indikasi menaganai peluang

  1. Analisis lingkungan sosial masyarakat

Lembaga pendidikan  perlu menangani masyarakat atau hubungan lembaga pendidikan dengan masyarakat. Kita harus menyadari bahwa masyarakat memiliki peranan yang sangat penting terhadap keberadaan, keberlangsungan bahkan kemajuan lembaga pendidikan. Setidaknya salah satu parameter penentu nasib lembaga pendidikan adalah masyarakat. Bila ada lembaga pendidikan maju, hampir bisa dipastikan salah satu faktor keberhasilan adalah keterlibatan masyarakat yang maksimal. Begitu pula sebaliknya, bila ada lembaga pendidikan yang memperihatinkan, salah satu penyebabnya bisa jadi masyarakat enggan mendukung. Sikap masyarakat ini bisa jadi akibat dari hal lain dalam kaitannya dengan lembaga pendidikan, baik yang bersifat internal maupun eksternal.

Masyarakat memiliki posis ganda dalam lembaga pendidikan, yaitu sebagai objek dan sebagi subjek yang keduanya memiliki makna fungsional bagi pengadaan lembaga pendidikan. Ketika lembaga pendidikan sedang melakukan promosi penerimaan siswa/siswi dan mahasiswa baru maka masyarakat menjadi objek mutlak dibutuhkan. Sementara itu respon terhadap promosi itu menempatkan mereka sebagai subjek yang memiliki kewenangan penuh huntuk mnerima tau menolaknya.

Selain itu hubungan sekolah dengan masyarakat bertujuan antara lain sebagai berikut

a        Memajukan kualitas pembelajaran dan pertumbuhan anak.

b        Memperkukuh tujuan serta  meningkatkan kualitas hidup dan penghidupan masyarakat.

c        Menggairahkan masyarakat untuk menjalin hubungan dengan sekolah.

b.       Analisis peranan pemerintah dan Yayasan

Dalam menghadapi kebijakan pemerintah yang dinilai kurang berpihak pada pengembangan lembaga pendidikan, pengelola harus mampu memiliki jiwa untuk berbesar dan menanggung apa yang terjadi si kemudian hari terhadap terhadap kebijakan tersebut. Umumnya ketidaksesuaian kebijakan dengan apa yang ada di atas kertas dengan apa yang ada di lapangan dikarenakan tidak adanya kebijakan pendukung.

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENTUP

Kesimpiluan

Pengamatan dan penilaian yang dilakukan secara simultan terhadap lingkungan eksternal dan internal lembaga pendidikan memungkinkan para pengelola pendidikan mampu mengidentifikasi berbagai jenis peluang untuk merumuskan dan mengimplementasikan rencana pendidikan. Rancangan yang bersifat menyeluruh dapat dilakukan melalui proses tindakan yang dikenal sebagai manajemen strategik.

Pencapain tujuan organisasi diperlukan alat yang berperan sebagi ekselerator dan dinamisator sehingga tujuan dapat tercapai secara efektif dan efesien. Demikan halnya dalam lembaga pendidikan yang merupakan sekumpulan manusia yang mempunyai tujuan untuk mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara, sejalan dengan hal tersebut diyakini sebagai salah satu alat untuk mencapai tesebut adalah menggunakan konsep manajemen  strtaegik. Konsep manajemen strategik digunakan di dunia pendidikan untuk lebih mengefektifkan pengalokasian sumber daya yang ada dalam rangka mencapai tujuan pendidikan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan teknik analisis SWOT.

Faktor-faktor kekuatan dalam lembaga pendidikan adalah kompetensi khusus atau keunggulan-keunggulan lain yang berakibat pada nilai plus atau keunggulan komparatif lembaga pendidikan tersebut.Hal ini bisa dilihat jika sebuah lembaga pendidikan harus memiliki skill atau keterampilan yang bisa disalurkan bagi perserta didik, lulusan terbaik/hasil andalan, maupun kelebihan-kelebihan lain yang membuatnya unggul bagi pesaing-pesaing serta dapat memuaskan steakholder maupun pelanggan (peserta didik, orang tua, masyarakat dan bangsa).

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akdon, 2007. Stategic Management for Education Management (Manajemen Strategik Untuk    

Manajemen Pendidikan), Bandung; Alfabeta.

 

David, Fred R. 2006.  Manajemen Strtegis Konsep, terj. Ichan Setiyo Budi,  Jakarta: Salemba Empat

 

Depertemen pendidikan Nasional, 2008, Kamus Besar Indonesia, Jakarta:Pusat Bahasa,

 

 

______________

Oleh:

Nama               : Chris Novia Ari. C

NIM                : 11-88203-005

Kelas               : PBI/A Smt: 5

Mata Kuliah    : Manajemen Pendidikan

 


 

One thought on “Analisis SWOT dalam Pendidikan”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s