Penerapan Teori Z (William Ouchi) dalam Pengelolaan Pendidikan

Lembaga Pendidikan merupakan suatu wadah lembaga yang menghantarkan seseorang kedalam alur berfikir yang teratur dan sistematis. Dalam pengertiannya lembaga pendidikan adalah badan atau instansi baik negeri maupun swasta yang melaksanakan kegiatan mendidik. Dengan kata lain, lembaga pendidikan adalah badan atau instansi yang menyelenggarakan usaha pendidikan. Secara formal, lembaga pendidikan adalah sekolah.

Dalam menjalankan suatu lembaga pendidikan, dibutuhkan suatu usaha pengelolaan yang baik. Mengelola lembaga pendidikan bukanlah suatu pekerjaan yang mudah. Ini adalah pekerjaan yang sulit karena harus memikirkan semua aspek yang terlibat didalamnya. Masalah bisa saja muncul setiap saat, mulia dari sistem pembelajaran yang meliputi penyiapan sarana dan prasarana, materi, tujuan bahkan sampai pada penyiapan proses pembelajaran. Hal inilah yang harus benar-benar dikelola dengan baik agar arah dan tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai secara maksimal.

Dalam pengelolaan suatu lembaga pendidikan dibutuhkan banyak teori yang relevan dan mendukung. Salah satu contohnya adalah dengan mengambil teori dalam dunia ekonomi. Maka tak mengherankan jika kita sering mendengar adanya teori manajemen pendidikan, yang pada dasarnya diambil dari teori-teori manajemen dalam dunia ekonomi bisnis.

Dengan pengambilan teori tersebut, lantas tidak menjadikan pendidikan sebagai suatu komoditas ekonomi yang dapat diperjual belikan, namun hal tersebut dilakukan hanya sebatas sebagai landasan teori yang sistematis untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan. Dengan pengambilan teori tersebut, diharapkan bahwa pengelolaan suatu lembaga pendidikan akan semakin baik dari hari ke hari. Apalagi kita sebagai calon seorang pendidik/ guru yang nantinya akan mengemban amanah untuk mencerdaskan kehidupan generasi penerus bangsa harus mampu melaksanakan tugas baik mendidik, mengajar, maupun mengelola lembaga pendidikannya agar tujuan yang telah ditentukan dapat tercapai dengan baik.

 

PENGERTIAN PENDIDIKAN

Secara etimologi, pendidikan berasal dari Bahasa Yunani ‘pedadogi’. ‘Paid’ berarti anak, ‘agogos’ berarti membimbing. Jadi, pedagogi dapat diartikan sebagai seni dan ilmu dalam membimbing anak.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, pendidikan diartikan sebagai proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Sedangkan menurut Undang-Undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendikan Nasional dalam Himpunan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia, disebutkan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Dari kedua definisi diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya penddidikan adalah serangkaian usaha yang secara sadar dilakukan baik oleh seseorang atau sekelompok orang dalam rangka mengembangkan potensi diri yang telah dimiliki agar mencapai tujuan yang telah direncanakan. Setiap orang membutuhkan pendidikan, karena pendidikan adalah dasar utama yang harus dilakukan manusia. Dalam pendidikan, manusia diajarkan banyak dasar keilmuan, baik ilmu sosial maupun ilmu alam (social and sains).  Ilmu-ilmu inilah yang nantinya diharapkan dapat dimanfaatkan dengan baik dalam kehidupan nyata. Orang yang berpendidikan secara otomatis akan memilik pola pikir yang berbeda jika dibandingkan dengan orang yang sama sekali tidak pernah mengenal pendidikan. Karena melalui proses pendidikan, seseorang akan diajarkan dan dilatih baik pola pikir maupun tingkah lakunya. Dengan adanya pendidikan maka diharapkan setiap orang mempunyai motivasi yang baik untuk memikirkan masa depan yang lebih baik dalam segala aspek kehidupan.

Kemajuan suatu bangsa sangat dipengaruhi oleh mutu sumber daya manusia (SDM) yang ada. Sedangkan mutu SDM sangat dipengaruhi oleh tingkatan dan mutu pendidikan masing-masing individu tersebut. Pendidikan merupakan proses dimana seseorang memperoleh pengetahuan dan mengembangkannya sesuai dengan latar belakang ketrampilannya. Dengan adanya pendidikan memungkinkan seseorang untuk memiliki kehidupan yang lebih baik dari yang dimilikinya saat ini, karena pendidikan mempersiapkan seseorang untuk menghadapai masa depan dengan pengalaman-pengalaman baru.

 

 

 

 

PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Dalam kata lain pengelolaan adalah manajemen. Manajemen diartikan sebagai perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan. Manajemen pada dasarnya merupakan suatu proses pengunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran atau tujuan tertentu. Istilah manajemen biasa dikenal dalam ilmu ekonomi yang memfokuskan pada profit (keuntungan) dan komoditas komersial (Muhaimin, 2009: 4).

Dalam uraiannya, Arikunto (2008: 2) menguraikan pengertian manajemen sebagai berikut:

“Manajemen dalam arti luas, menunjuk pada rangkaian kegiatan, dari perencanaan akan dilaksanakannya kegiatan sampai penilaiannya. Manajemen dalam arti sempit, terbatas pada inti kegiatan nyata, mengatur atau mengelola kelancaran kegiatannya, mengatur kecekatan personil yang melaksanakan, pengaturan sarana pendukung, pengaturan dana, dan lain-lain, tetapi masih terkait dengan kegiatan nyata yang sedang berlangsung.”

Mulijani A. Nurhadi dalam Arikunto (2008: 3) juga menguraikan tentang manajemen sebagai berikut:

“Manajemen adalah suatu kegiatan atau rangkaian kegiatan yang berupa proses pengelolaan usaha kerjasama sekelompok manusia yang tergabung dalam orgnanisasi pendidikan, untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan sebelumnya, agar efektif dan efisien”.

Dari definisi-definisi para ahli diatas, dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya manajemen adalah serangkaian perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan atas sesuatu agar didapatkan hasil yang efektif dan efisien sesuai dengan arah yang telah direncakan sebelumnya.

Jika deterapkan dalam usaha pendidikan, maka pengertian dari manajemen pendidikan adalah serangkaian perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan dan pengawasan pendidikan. Manajemen pendidikan disini dimaksudkan sebagai rangkaian kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok orang yang tergabung dalam suatu lembaga pendidikan (sekolah) dalam rangka mencapai tujuan bersama. Persamaan tujuan inilah yang diharapkan dapat terus konsisten dijaga agar mencapai hasil yang maksimal.

Undang-Undang no. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendikan Nasional dalam Himpunan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia menyebutkan bahwa pengelolaan pendidikan adalah pengaturan wewenang dalam penyelenggaraan sistem pendidikan nasional oleh pemerintah, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, penyelenggara pendidikan yang didirikan masyarakat, dan satuan pendidikan agar proses pendidikan dapat berlangsung sesuai dengan tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu, manajemen pendidikan dalam hal ini berupaya untuk mengoordinasikan semua elemen pendidikan untuk mencapai tujuan tersebut. Menurut Veithzal dan Murni (2009) ada sepuluh komponen pendidikan, yaitu:

  1. Murid
  2. Tenaga pendidik
  3. Tenaga kependidikan
  4. Paket instruksi pendidikan
  5. Metode pengajaran
  6. Kurikulum pendidikan
  7. Alat instruksi dan alat penolong instruksi
  8. Fasilitas pendidikan
  9. Anggaran pendidikan
  10. Evaluasi pendidikan

Manajemen pendidikan dimaksudkan untuk mempersiapkan kesepuluh komponen pendidikan di atas agar dapat terlaksana suatu proses kegiatan belajar mengajar yang baik dalam penyelenggaraan pendidikan. Karena jika penyelenggaraan pendidikan dapat terlaksana dengan baik, maka keluaran (output) yang dihasilkan juga akan baik yang sesuai dengan tuntutan jaman yang serba modern ini, dimana semua hal tidak ada batasannya.

Dalam perkembangan dan pengelolaannya, manajemen pendidikan juga memerlukan manajemen praktek yang baik (good management practice). Setiap lembaga pendidikan/sekolah harus mampu mengelola sumber daya yang ada secara mandiri dan kontinyu. Hal ini dimaksudkan agar segala potensi yang dimiliki sekolah tersebut dapat diberdayakan sesuai dengan kebutuhannya secara mandiri.

 

KONSEP DAN PENERAPAN TEORI Z DALAM PENGELOLAAN PENDIDIKAN

Teori Z adalah teori pada bidang ekonomi yang dikemukakan oleh seorang warga negara Jepang yang bernama William Ouchi. Walaupun teori tersebut adalah teori dalam dunia ekonomi, namun tidak ada salahnya jika dimasukkan dalam dunia pendidikan, khusunya dalam pengelolaan/manajemen pendidikan. Pada dasrnya teori Z adalah teori yang sangat ideal bagi suatu organisasi sebab teori ini mengkombinasikan komitmen dasar kultural dengan nilai-nilai individualistis yang tinggi. Budaya suatu oranisasi, dalam hal ini adalah sekolah , adalah budaya yang sangat baik, dimana kepala sekolah yang bertindak sebagai pemimpin berusaha untuk merangkul dan mengajak semua bawahannya yang meliputi guru dan tenaga kependidikannya lainnya untuk secara bersama-sama melaksanakan tanggung jawab yang diemban. Kelapa sekolah berusaha untuk selalu bersikap bijaksana yang diapresiasikannya dengan tidak pernah memerintah bawahannya.

Dalam suatu lembaga pendidikan, sering kali dijumpai kepala sekolah yang bertindak sebagai pemimpin mengambil segala keputusan secara sepihak tanpa memperhitungkan resiko yang mungkin akan dialami bawahannya. Keputusan yang dibuat sering kali salah, tidak rasional, dan tidak berdasarkan pada pertimbangan nilai-nilai kemanusiaan.

Keputusan yang salah akan sangat mengecewakan bagi pihak-pihak tertentu apalagi jika memang sebelumnya ada permasalahan pribadi yang terjadi. Hal tersebut mengakibatkan pecahnya rasa persatuan yang selama ini dibangun. Corak keputusan sepihak kepala sekolah yang salah memiliki kecenderungan yang sangat menyimpang, bahkan ada yang cenderung bersifat sewenag-wenang. Oleh karena itu, dengan mengambilan teori Z dalam dunia pendidikan, maka kepala sekolah dapat mengambil keputusan atas dasar konsensus/bersama-sama (consensus decision making). Artinya bahwa kelapa sekolah harus selalu mengadakan rapat dengan guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam setiap pengambilan kebijakan atau keputusan yang berkaitan baik secara langsung maupun tidak langsung dengan sekolah.

Hal tersebut dilakukan agar semua pihak terlibat  partisipasinya secara aktif sehingga saran/masukan dapat ditampung untuk selanjutnya dipikirkan secara bersama-sama solusi yang terbaik yang akan diambil. Dengan adanya rapat seperti hal tersebut, akan tercipta sebuah hasil keputusan yang lebih kreatif dan efektif jika dibandingkan dengan keputusan yang diambil secara individual, karena keputusan bersama telah melewati pertimbanagn dan pengkajian yang tepat.

Selain itu, teori ini juga menekankan hubungan kepercayaan (trush relationship) antara pemimpin dan bawahan. Hal ini sangat penting, terutama dalam suatu sekolah. Antara kepala sekolah, guru, dan tenaga kependidikan lainnya harus selalu muncul rasa saling percaya satu sama lain. Hal ini sangat penting dalam rangka mereka secara personal mengembangkan kemampuan yang dimilikinya secara maksimal. Kepala sekolah harus memberikan kepercayaan penuh kepada guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk melaksanakan porsi tugas yang telah diembankan kepadanya. Begitu juga sebaliknya, kepala sekolah diberikan kepercayaan untuk memimpin dan mengelola segala sumber daya yang ada di sekolah dengan baik dan berdasarkan asas kebersamaan. Hubungan yang dibanguan atas dasar saling percaya tersebut akan selalu harmonis dan akan menimbulkan rasa persatuan yang kuat sehingga mereka akan sangat mudah untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya.

Ouchi dalam teori Z nya juga memperhatikan pengembangan karir bawahannya secara berkelanjutan. Dengan kata lain ada sistem masa kerja seumur hidup (lifetime employment). Hal ini berarti bahwa bawahan yang dalam hal ini berarti guru mempunytai hak untuk bekerja secara terus-menerus. Mereka hanya dapat diberhentikan jika memang sudah memasuki masa pensiun atau melanggar undang-undang yang tidak dapat ditoleransi lagi. Sistem ini memungkinkan para guru dan tenaga kependidikan untuk mendedikasikan dirinya kepada sekolah yang menaunginya.

Kepala sekolah juga harus selalu memperhatikan kesejahteraan bawahannya. Artinya bahwa mereka sangat membutuhkan dan mengharapkan sebuah prinsip yang cocok atas jaminan hidup yang aman dan nyaman. Mempertahankan sebuah pekerjaan mengajar dan mengelola pendidikan adalah pekerjaan yang menyenangkan bagi mereka yang memang benar-benar mencintainya.

Implicit control mechanisms adalah juga sebuah prinsip dari teori Z yang dikemukakan oleh William Ouchi. Kepala sekolah sebagai pemimpin dari sebuah lembaga pendidikan juga mempunyai tanggung jawab untuk senantiasa melakukan pengawasan kepada semua bawahannya tidak hanya terbatas pada guru, namun juga pengawasan terhadap tenaga kependidikan lainnya. Pemberlakuan pengawasan ini menjadi sangat penting untuk sebuah keteraturan kinerja suatu lembaga pendidikan. Kepala sekolah dapat mengontrol semua yang ada agar berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan. Sambil mengawasi, kepala sekolah harus selalu membimbing dan melakukan arahan agar mereka dapat mengetahui apa yang kurang dan apa yang salah. Hal ini tidak cukup jika hanya dilakukan secara lisan saja, karena bagi mereka yang acuh, hal tersebut tidak akan memberikan efek apapun. Namun, hal tersebut dilakukan sembari dengan adanya pendekatan secara personal sehingga hasil yang diinginkan dapat tercapai dengan maksimal.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Prof. Dr. Suharsini & Lia Yuliana. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media

Bhakti, BP. Panca. 2010. Himpunan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Edisi 10. Jakarta: BP. Panca Bhakti

Departemen Pendidikan Nasional. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: PT Gramedia

Hasbih. 2011. “Apa Itu Pendidikan: Pengertian Pendidikan”. Diakses dari http://www.hasbihtc.com/apa-itu-pendidikan-pengertian-pendidikan.html. Pada tanggal 5 Januari 1014

Muhaimin, Prof. Dr. H. 2009. Manajemen Pendidikan: Aplikasinya dalam Penyusunan Rencana Pengembangan Sekolah/Madrasah. Jakarta: Prenada Media Group

Nashi, M.Ag., M. Ja’far. 2010. Perkembangan Teori Manajemen Pendidikan”, Diakses dari http://guruidaman.blogspot.com/2010/09/perkembangan-teori-manajemen-pendidikan.html. Pada tanggal 5 November 2013

Priatama, Iqbal. 2011. “Teori Z oleh William Ouchi”, Diakses dari http://clix72.blogspot.com/2011/05/teori-z-oleh-william-ouchi.html.  Pada tanggal 5 november 2013

Rivai, M.B.A., Prof. Dr. H. Veithzal & Dr. Hj. Sylviana Murni, S.H., M.Si. 2009. Education Management. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

 

 

_______________

*) Elfi Zulaicha, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan pada Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris Kelas A.

Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Manajemen Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s