Pengelolaan Kurikulum Muatan Lokal

Indonesia yang memiliki berbagai macam suku bangsa yang terdiri dari keanekaragaman multikultur (adat istiadat, tata cara, bahasa, kesenian, kerajinan, keterampilan daerah, dan lain-lain) merupakan ciri khas yang memperkaya nilai-nilai kehidupan bangsa Indonesia. Oleh karena itu keanekaragaman tersebut harus selalu dilestarikan dan dikembangkan dengan tetap mempertahankan nilai-nilai luhur bangsa Indonesia melalui upaya pendidikan.

Dalam UU.RI.No.20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Bab 1 Pasal 1 ayat (1) dikemukakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat dan negara. Berdasarkan penjabaran tersebut, hal ini menunjukkan bahwa sistem pendidikan nasional harus dapat mengembangkan kemampuan peserta didik secara komprehensif dan utuh, tidak hanya berkaitan dengan domain kognitif (kecerdasan), tetapi juga domain psikomotor(keterampilan) dan afektif (kepribadian dan akhlak mulia). Kemampuan tersebut harus berakar pada nilai-nilai agama dan kebudayaan nasional Indonesia.

Pengenalan keadaan lingkungan, sosial, dan budaya kepada peserta didik memungkinkan mereka untuk lebih mengakrabkan dengan lingkungannya. Pengenalan dan pengembangan lingkungan melalui pendidikan diarahkan untuk menunjang peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan pada akhirnya diarahkan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik. Sekolah sebagai tempat program pendidikan, merupakan bagian dari masyarakat. Oleh karena itu, program pendidikan di sekolah perlu memberikan wawasan yang luas pada peserta didik tentang kekhususan yang ada di lingkungannya. Sehingga perlulah disusun mata pelajaran yang berbasis pada muatan lokal yang disusun oleh sekolah yang disesuaikan dengan lingkungan daerah masing-masing. Penerapan muatan lokal di Indonesia sudah dirintis sejak tahun 1987 melalui Keputusan Mendikbud No. 0412/U/1987 tentang penerapan muatan lokal kurikulum sekolah dasar. Sekarang muatan lokal telah disempurnakan dan di perkuat melalui UU No.20 Tahun 2003 dan PP No. 19 Tahun 2005.

PENGERTIAN MUATAN LOKAL

Secara umum, pengertian muatan lokal adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran yang disusun oleh satuan pendidikan sesuai dengan keragaman potensi daerah, karakteristik daerah, keunggulan daerah, kebutuhan daerah, dan lingkungan masing-masing serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Secara khusus, muatan lokal adalah program pendidikan dalam bentuk mata pelajaran yang isi dan media penyampaiaannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial, dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah yang wajib dipelajari oleh peserta didik di daerah itu.

Menurut Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia dengan nomor 0412/U/1987 tanggal 11 Juli 1987, yang dimaksud dengan kurikulum muatan lokal ialah program pendidikan yang isi dan media penyampaiannya dikaitkan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya serta kebutuhan daerah dan wajib dipelajari oleh murid didaerah tersebut. Yang dimaksud lingkungan alam adalah lingkungan alamiah yang ada di sekitar kehidupan kita, berupa benda-benda mati yang terbagi dalam empat kelompok lingkungan, yaitu: 1) pantai, 2) dataran rendah termasuk di dalamnya daerah aliran sungai, 3) dataran tinggi, dan 4) pegunungan atau gunung. Dengan kata lain, lingkungan alam adalah lingkungan hidup dan tidak hidup tempat makhluk hidup tinggal dan membentuk ekosistem.

Sedangkan lingkungan sosial adalah lingkungan di mana terjadi interaksi orang per orang dengan kelompok sosial atau sebaliknya, dan antara kelompok sosial dengan kelompok lain. Pendidikan sebagai lembaga sosial dalam sstem sosial di laksanakan di sekolah, keluarga dan masyarakat, dan itu perlu di kembangkan di daerah masing-masing. PP No.28/1990 menunjukkan perlunya perencanaan kurikulum lokal yang bermuara pada hal yang berkaitan dengan tujuan pendidikan nasional dan pembangunan bangsa. Selanjutnya, lingkungan budaya adalah daerah dalam pola kehidupan masyarakat yang berbentuk bahasa daerah, seni daerah, adat-istiadat daerah, serta tatacara dan tatakrama khas daerah. Lingkungan sosial dalam pola kehidupan daerah berbentuk lembaga-lembaga msyarakat dengan peraturan-peraturan yang ada dan berlaku di daerah itu di mana sekolah dan peserta didik berada.

Keberadaan mata pelajaran muatan lokal merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan di setiap daerah lebih meningkat relevansinya terhadap keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Hal ini sejalan dengan upaya peningkatan mutu pendidikan nasional sehingga keberadaan kurikulum muatan lokal mendukung dan melengkapi kurikulum nasional.

TUJUAN KURIKULUM DAN PEMBELAJARAN MUATAN LOKAL

Secara umum muatan lokal bertujuan untuk memberikan bekal pengetahuan keterampilan dan sikap hidup kepada peserta didik agar memiliki wawasan yang mantap tentang lingkungan dan masyarakat sesuai dengan nilai yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional. (Depdiknas, 2006). Lebih lanjut dikemukakan [Arifin : 208], bahwa secara khusus pengajaran muatan lokal bertujuan agar:

  1. Peserta didik dapat belajar dengan lebih mudah tentang lingkungan dan kebudayaan di daerahnya serta bahan-bahan yang bersifat aplikatif dan terintegrasi dengan kehidupan nyata.
  2. Peserta didik dapat memanfaatkan sumber-sumber belajar setempat untuk kepentingan pembelajaran di sekolah.
  3. Peserta didik lebih mengenal dan akrab dengan lingkungan alam, lingkungan sosial dan budaya yang terdapat di daerahnya masing-masing.
  4. Peserta didik dapat meningkatkan pengetahuan, keterampilan, sikap dan nilai-nilai yang menunjang pembangunan daerahnya.
  5. Peserta didik dapat mengembangkan materi muatan lokal yang dapat menghasilkan nilai ekonomi tinggi di daerahnya sehingga dapat hidup mandiri.
  6. Peserta didik dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya.
  7. Peserta didik menjdai termotivasi untuk ikut melestarikan budaya dan lingkungannya serta terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.

Tujuan penerapan muatan lokal pada dasarnya dapat dibagi dalam dua kelompok tujuan, yaitu tujuan langsung dan tujuan tidak langsung(website). Tujuan langsung adalah tujuan dapat segera dicapai. Sedangkan tujuan tidak langsung merupakan tujuan yang memerlukan waktu yang relatif lama untuk mencapainya. Tujuan tidak langsung pada dasarnya merupakan dampak dan tujuan langsung.

  1. 1.      Tujuan langsung
    1. Bahan pengajaran lebih mudah diserap oleh murid.
    2. Sumber belajar di daerah dapat lebih dimanfaatkan untuk kepentingan pendidikan.
    3. Murid dapat menerapkan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajarinya untuk memecahkan masalah yang ditemukan di sekitarnya.
    4. Murid lebih mengenal kondisi alam, lingkungan sosial dan lingkungan budaya yang terdapat di daerahnya.
    5. 2.      Tujuan tak langsung
      1. Murid dapat meningkatkan pengetahuan mengenai daerahnya.
      2. Murid diharapkan dapat menolong orang tuanya dan menolong dirinya sendiri dalam rangka memenuhi kebutuhan hidupnya.
      3. Murid menjadi akrab dengan lingkungannya dan terhindar dari keterasingan terhadap lingkungannya sendiri.

Dengan menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar maka besar kemungkinan murid dapat mengamati, melakukan percobaan atau kegiatan belajar sendiri. Belajar mencari, mengolah, menemukan informasi sendiri dan menggunakan informasi untuk memecahkan masalah yang ada di lingkungannya merupakan pola dasar dari belajar. Belajar tentang lingkungan dan dalam lingkungan mempunyai daya tank tersendiri bagi seorang anak. Lingkungan secara. keseluruhan mempunyai pengaruh terhadap cara belajar seseorang. Benyamin S. Bloom menegaskan bahwa lingkungan sebagai kondisi, daya dan dorongan eksternal dapat memberikan suatu situasi “kerja” di sekitar murid. Karena itu, lingkungan secara keseluruhan dapat berfungsi sebagai daya untuk membentuk dan memberi kekuatan/dorongan eksternal untuk belajar pada seseorang.

FUNGSI DAN RUANG LINGKUP MUATAN LOKAL DALAM KURIKULUM

  1. Fungsi Penyesuaian

Sekolah berada dalam lingkungan masyarakat. Karena itu program-program sekolah harus disesuaikan dengan lingkungan Demikian pula pribadi-pribadi yang ada dalam sekolah hidup dalam lingkungan, sehingga perlu diupayakan agar pribadi dapat menyesuaikan diri dan akrab dengan lingkungannya.

  1. Fungsi Integrasi

Murid merupakan bagian integral dari masyarakat, karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang berfungsi untuk mendidik pribadi-pribadi yang akan memberikan sumbangan kepada masyarakat atau berfungsi untuk membentukdan mengi ntegrasikan pribadi kepada masyarakat.

  1. Fungsi Perbedaan

Pengakuan atas perbedaan berarti pula memberi kesempatan bagi pribadi untuk memilih apa yang diinginkannya. Karena itu muatan lokal harus merupakan program pendidikan yang bersifat luwes, yang dapat memberikan pelayanan terhadap perbedaan minat dan kemampuan murid. Ini tidak berarti mendidik pribadi menjadi orang yang individualistik tetapi muatan lokal harus dapat berfungsi mendorong pribadi ke arah kemajuan sosialnya dalam masyarakat.

Dengan memperhatikan tujuan serta fungsi muatan lokal berarti muatan lokal mempunyai kedudukan yang penting dan strategis, yaitu sebagai bagian yang tak terpisahkan dalam KTSP dann merupakan salah satu komponen KTSP.  Adapun ruang lingkup muatan lokal yang dikemukakan oleh Pusat Kurikulum Balitbang Kemdiknas (2006) adalah sebagai berikut :

 

  1. Lingkup Keadaan dan Kebutuhan Daerah

Keadaan daerah adalah segala sesuatu yang berada di daerah tertentu yang berkaitan dengan lingkungan alam, lingkungan sosial ekonomi, dan lingkungan sosial-budaya. Kebutuhan daerah adalah segala sesuatu yang diperlukan oleh masyarakt di suatu daerah khususnya untuk kelangsungan hidup dan peningkatan taraf kehidupan masyarakat tersebut yang disesuaikan dengan arah perkembangan daerah serta potensi daerah yang bersangkutan. Kebutuhan daerah tersebut misalnya kebutuhan untuk:

  1. Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah.
  2. Meningkatkan kemampuan dan keterampilan di bidang tertentu, sesuai dengan keadaan perekonomian daerah.
  3. Meningkatkan penguasaan bahasa Inggris untuk keperluan seharihari, dan menunjang pemberdayaan individu dalam melakukan belajar lebih lanjut (belajar sepanjang hayat)
  4. Meningkatkan kemampuan berwirausaha.
  5. Lingkup isi/jenis muatan lokal,

Lingkup isi/jenis mauatan local dapat berupa: bahasa daerah, bahasa Inggris, kesenian daerah, keterampilan dan kerajinan daerah, adat istiadat, dan pengetahuan tentang berbagai ciri khas lingkungan alam sekitar, serta hal-hal yang dianggap perlu oleh daerah yang bersangkutan.

PENGEMBANGAN MATA PELAJARAN MUATAN LOKAL

Dalam pengembangan isi muatan lokal, tidak semua yang ada dalam gagasan pokok dari suatu pola kehidupan tertentu dapat dikembangkan menjadi bahan pelajarann bermuatan lokal. Oleh sebab itu diperlukan kriteria pemilihan bahan atau materi pembelajaran bermuatan lokal (Arifin: 210), yaitu :

  1. Sesuai dengan tingkat perkembangan kemampuan fisik, sosial dan mental peserta didik.
  2. Tidak bertentangan dengan nilai-nilai Pancasila.
  3. Tidak bertentangan dengan upaya pelestarian lingkungan alam, sosial, dan budaya
  4. Berguna bagi kehidupan peserta didik dan pembangunan daerahnya
  5. Perhitungan dan pertimbangan waktu yang diperlukan.

Pemberlakuan KTSP membawa implikasi bagi sekolah dalam melaksanakan KBM sejumlah mata pelajaran, dimana hampir semua mata pelajaran sudah memiliki standar kompetisi dan kompetisi dasar untuk masing-masing pelajaran. Sementara itu, untuk mata pelajaran muatan lokal yang merupakan kegiatan kurikuler yang harus diajarkan di kelas tidak mempunyai standar kompetensi dan kompetensi kasarnya. Hal ini membuat kendala bagi sekolah untuk menerapkan mata pelajaran muatan lokal.

Bahan muatan lokal dapat tercantum pada intra kurikuler, misalnya mata pelajaran kesenian dan ketrampilan, bahasa daerah dan inggris. Sedang bahan muatan lokal yang dilaksanakan secara ekstra kurikuler bahan dikembangkan dari pola kehidupan dalam lingkungannya. Karena bahan muatan lokal sifatnya mandiri dan tidak terikat oleh pusat, maka peranan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran dalam muatan lokal ini sanagat menentukan. Pengembangan standar kompetensi dan kompetensi dasar untuk mata pelajaran muatan lokal bukanlah pekerjaan yang mudah karena harus dipersiapkan berbagai hal untuk dapat mengembangkan mata pelajaran muatan lokal.

1)   Proses Pengembangan

Proses pengembangan mata pelajaran muatan lokal pengembangannya sepenuhnya ditangani oleh sekolah dan komite sekolah yang membutuhkan penanganan secara profesional dalam merencanakan, mengelola, dan melaksanakannya. Dengan demikian di samping mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional, perencanaan, pengelolaan, maupun pelaksanaan muatan lokal memperhatikan keseimbangan dengan kurikulum tingkat satuan pendidikan. Penanganan secara profesional muatan lokal merupakan tanggung jawab pemangku kepentingan (stakeholders) yaitu sekolah dan komite sekolah. Pengembangan Mata Pelajaran Muatan Lokal oleh sekolah dan komite sekolah dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut (Rusman:407).

a)    Mengidentifikasi keadaan dan kebutuhan daerah

Kegiatan ini dilakukan untuk menelaah dan mendata berbagai keadaan dan kebutuhan daerah yang bersangkutan. Data tersebut dapat diperoleh dari berbagai pihak yang terkait di daerah yang bersangkutan seperti Pemda/Bappeda, Instansi vertikal terkait, Perguruan Tinggi, dan dunia usaha/industri. Keadaan daerah seperti telah disebutkan di atas dapat ditinjau dari potensi daerah yang bersangkutan yang meliputi aspek sosial, ekonomi, budaya, dan kekayaan alam. Kebutuhan daerah dapat diketahui antara lain dari:

  1. Rencana pembangunan daerah bersangkutan termasuk prioritas pembangunan daerah, baik pembangunan jangka pendek, pembangunan jangka panjang, maupun pembangunan berkelanjutan (sustainable development).
  2. Pengembangan ketenagakerjaan termasuk jenis kemampuankemampuan dan keterampilan-keterampilan yang diperlukan.
  3. Aspirasi masyarakat mengenai pelestarian alam dan pengembangan daerahnya, serta konservasi alam dan pemberdayaannya.

b)   Menentukan fungsi dan susunan atau komposisi muatan lokal

Berdasarkan kajian dari beberapa sumber seperti di atas dapat diperoleh berbagai jenis kebutuhan. Berbagai jenis kebutuhan ini dapat mencerminkan fungsi muatan lokal di daerah, antara lain untuk:

 

 

1.     Melestarikan dan mengembangkan kebudayaan daerah.

2.     Meningkatkan keterampilan di bidang pekerjaan tertentu.

3.     Meningkatkan kemampuan berwiraswasta.

4.     Meningkatkan penguasaan bahasa Inggris untuk keperluan sehari-hari.

c)    Mengidentifikasi bahan kajian muatan lokal.

Kegiatan ini pada dasarnya untuk mendata dan mengkaji berbagai kemungkinan muatan lokal yang dapat diangkat sebagai bahan kajian sesuai dengan dengan keadaan dan kebutuhan sekolah. Penentuan bahan kajian muatan lokal didasarkan pada criteria berikut:

Kesesuaian dengan tingkat perkembangan peserta didik.

1.     Kemampuan guru dan ketersediaan tenaga pendidik yang diperlukan.

2.     Tersedianya sarana dan prasarana.

3.     Tidak bertentangan dengan agama dan nilai luhur bangsa.

4.     Tidak menimbulkan kerawanan sosial dan keamanan.

5.     Kelayakan berkaitan dengan pelaksanaan di sekolah.

6.     Lain-lain yang dapat dikembangkan sendiri sesuai dengan kondisi dan situasi daerah.

d)   Menentukan Mata Pelajaran Muatan Lokal

Muatan Lokal Berdasarkan bahan kajian muatan lokal tersebut dapat ditentukan kegiatan pembelajarannya. Kegiatan pembelajaran ini pada dasarnya dirancang agar bahan kajian muatan lokal dapat memberikan bekal pengetahuan, keterampilan dan perilaku kepada peserta didik agar mereka memiliki wawasan yang mantap tentang keadaan lingkungan dan kebutuhan masyarakat sesuai dengan nilai-nilai/aturan yang berlaku di daerahnya dan mendukung kelangsungan pembangunan daerah serta pembangunan nasional. Kegiatan ini berupa kegiatan kurikuler untuk mengembangkan kompetensi yang disesuaikan dengan ciri khas, potensi daerah, dan prospek pengembangan daerah termasuk keunggulan daerah, yang materinya tidak dapat dikelompokkan ke dalam mata pelajaran yang ada. Serangkaian kegiatan pembelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah dan komite sekolah kemudian ditetapkan oleh sekolah dan komite sekolah untuk dijadikan nama mata pelajaran muatan lokal. Substansi muatan lokal ditentukan oleh satuan pendidikan.

e) Mengembangkan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar serta silabus, dengan mengacu pada Standar Isi yang ditetapkan oleh BSNP.

1. Pengembangan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar adalah langkah awal dalam membuat mata pelajaran muatan lokal agar dapat dilaksanakan di sekolah. Adapun langkahlangkah dalam mengembangkan standar kompetensi dan kompetensi dasar adalah sebagai berikut:

a. Pengembangan Standar Kompetensi Standar kompetensi adalah menentukan kompetensi yang didasarkan pada materi sebagai basis pengetahuan.

b. Pengembangan Kompetensi Dasar Kompetensi dasar merupakan kompetensi yang harus dikuasai siswa. Penentuan ini dilakukan dengan melibatkan guru, ahli bidang kajian, ahli dari instansi lain yang sesuai.

  1. Pengembangan silabus secara umum mencakup:
    1. Mengembangkan indikator.
    2. Mengidentifikasi materi pembelajaran.
    3. Mengembangkan kegiatan pembelajaran.
    4. Pengalokasian waktu
    5. Pengembangan penilaian.
    6. Menentukan Sumber Belajar.

2)      Pihak yang Terlibat dalam Pengembangan

Sekolah dan komite mempunyai wewenang penuh dalam mengembangkan program muatan lokal. Bila dirasa tidak mempunyai SDM dalam mengembangkannya, sekolah dan komite sekoah dapat bekerjasama dengan unsur-unsur Depdiknas seperti Tim Pengembangan Kurikulum (TPK) di  daerah, Lembaga Penjaminan Mutu Pendidikan (LPMP), Perguruan Tinggi, dan lembaga diluar Depdikans, misalnya pemerintah daerah atau Bapeda, dinas departemen lain terkait, dunia usaha/industri, tokoh masyarakat.

3)      Silabus

Komponen silabus minimal memuat : identitas sekolah, standar kompetensi dan kompetensi dasar, materi pembelajaran, indikator, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, penilaian dan sumber belajar. Dalam implementasinya, silabus dijabarkan dalam rencana pelaksanaan pembelajaran, dilaksanakan, dievaluasi, dan ditindaklanjuti oleh masing-masing guru

4)      Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)

Setelah silabus selesai dibuat, guru perlu merencanakan pelaksanaan pembelajaran untuk satu kali tatap muka. Adapun komponen dari RPP minimal memuat : tujuan pembelajaran, indikator, materi ajar/pembelajaran, kegiatan pembelajaran, metode pembelajaran, sumber belajar.

5)      Penilaian

Penilaian pencapaian kompetensi dasar peserta didik dilakukan berdasarkan indikator. Penilaian dilakukan dengan menggunakan tes dan non tes dalam bentuk tertulis maupun lisan, pengamatan kinerja, pengukuran sikap, penilaian hasi karya berupa tugas, proyek, atau produk, penggunaan portofolio, dan penilaian diri.

 

PENUTUP

 

Muatan lokal adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi dan bahan pelajaran yang disusun oleh satuan pendidikan sesuai dengan keragaman potensi daerah, karakteristik daerah, keunggulan daerah, kebutuhan daerah, dan lingkungan masing-masing serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dimasukkannya muatan lokal dalam kurikulum pada dasarnya dilandasi oleh kenyataan bahwa Indonesia memiliki beraneka ragam adat istiadat, kesenian, tata cara, tata krama pergaulan, bahasa, dan pola kehidupan yang diwariskan secara turun temurun dari nenek moyang bangsa Indonesia. Hal tersebut tentunya perlu dilestarikan dan dikembangkan, agar bangsa Indonesia tidak kehilangan ciri khas dan jati dirinya. Upaya menjaga ciri khas bangsa Indonesia harus dimulai sedini mungkin pada usia pra sekolah kemudian diintensifkan secara formal melalui pendidikan di sekolah dasar, di sekolah menengah, sampai perguruan tinggi.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arifin, Zainal. 2011. Konsep dan Model Pengembangan Kurikulum. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Fernando, Refki. 2011. Kurikulum Muatan Lokal. Diakses Desember 2013.  http://refkifernando.blogspot.com/2011/06/kurikulum-muatan-lokal.html

Rusman. 2011. Manajemen Kurikulum. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada

 

 

________________________________

 

*) Fika Nurmayanti, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Manajemen Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

One thought on “Pengelolaan Kurikulum Muatan Lokal”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s