Konsep Dasar Metode Pembelajaran Inovatif

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang sangat penting dalam membentuk sebuah peradaban bangsa. Pendidikan akan melahirkan perubahan dan penemuan baru dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam hal ini, faktor yang mempunyai peranan yang sangat penting yaitu guru. Sehubungan dengan hal tersebut profesionalisme guru kini semakin menyeruak ke ruang publik seiring dengan meningkatnya tuntutan akan mutu pendidikan. Guru akhirnya menjadi sorotan karena merekalah yang menjadi patokan terdepan yang berinteraksi langsung dengan siswa dalam proses pembelajaran. Dalam kondisi seperti ini, guru dituntut untuk mengembangkan keahlian, pengetahuan dan melahirkan hal-hal baru. Guru yang mampu berinovasi berarti menandakan guru tersebut bisa mengemangkan ide-ide kreatif yang mreka miliki. Kemampuan utama yang harus dimiliki oleh para pendidik adalah dalam strategi pembelajaran. Artinya seorang guru tidak hanya dituntut untuk menguasai mata pelajaran yang akan diajarkannya, tetapi juga harus menguasai dan mampu mengajarkan pengetahaun tersebut pada peserta didik. Sehingga tidak berlebihan ketika ada pakar pendidikan mengatakan : ”metode lebih penting daripada materi, dan guru lebih penting daripada metode dan materi”. Ada pula yang mengatakan “bahwa maju mundurnya sebuah institusi pendidikan itu ditentukan oleh pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru di kelas”. Mengingat kondisi para pendidik dan calon pendidik yang demikian, maka usaha untuk mendalami serta mengaplikasikan pembelajaran inovatif menjadi salah satu alternatif. Pembelajaran inovatif berimplikasi dapat meningkatkan gairah mengajar bagi guru itu sendiri dan gairah belajar bagi peserta didik.

 

PENGERTIAN PEMBELAJARAN INOVATIF

Menurut kamus bahasa Indonesia (2003) kata “inovasi” mengangdung arti pengenalan hal-hal yang baru atau pembaharuan”. Inovasi juga berarti penemuan baru yang berbeda dari yang sudah ada atau yang sudah dikenal sebelumnya (gagasan, metode, atau alat). Jadi pembelajaran inovatif dapat diartikan sebuah pembelajaran yang menggunakan strategi/metode baru yang dihasilkan dari penemuannya sendiri atau menerapkan metode baru yang ditemukan oleh para pakar dan didesain sedemikian rupa sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang kondusif.

Pembelajaran inovatif juga mengandung arti pembelajaran yang dikemas oleh guru atau instruktur lainnya yang merupakan wujud gagasan atau teknik yang dipandang baru agar mampu menfasilitasi siswa untuk memperoleh kemajuan dalam proses dan hasil belajar. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. “Learning is fun” merupakan kunci yang diterapkan dalam pembelajaran inovatif. Jika siswa sudah menanamkan hal ini di pikirannya tidak akan ada lagi siswa yang pasif di kelas, perasaan tertekan, kemungkinan kegagalan, keterbatasan pilihan, dan tentu saja rasa bosan. Membangun metode pembelajaran inovatif sendiri bisa dilakukan dengan cara diantaranya mengakomodir setiap karakteristik diri. Artinya mengukur daya kemampuan serap ilmu masing-masing orang.

Syah dan Kariadinata (2009: 16) Pembelajaran inovatif dapat menyeimbangkan fungsi otak kiri dan kanan apabila dilakukan dengan cara mengintegrasikan media/alat bantu terutama yang berbasis teknologi baru/maju ke dalam proses pembelajaran tersebut. Sehingga, terjadi proses renovasi mental di antaranya membangun rasa pecaya diri siswa. Penggunaan bahan pelajaran, software multimedia, dan microsoft powerpoint merupakan salah satu alternatif. Pembelajaran yang inovatif diharapkan mampu membuat siswa yang mempunyai kapasitas berpikir kritis dan terampil dalam memecahkan masalah. Siswa yang seperti ini mampu menggunakan penalaran yang jernih dalam proses memahami sesuatu dan mudah dalam mengambil pilihan serta membuat keputusan. Hal itu dimungkinkan karena pemahaman interkoneksi di antara system atau subsistem terkait dengan persoalan yang dihadapinya. Juga terlihat kemampuan mengidentifikasi dan menemukan pertanyaan tepat yang dapat mengarah kepada pemecahan masalah secara lebih baik. Informasi yang diperolehnya akan dikerangkakan dan dianalisis sehingga akan dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan baik.      Pembelajaran yang inovatif juga tercermin dari hasil yang diperlihatkan siswa yang komunikatif dan kolaboratif dalam mengartikulasikan pikiran dan gagasan secara jelas dan efektif melalui tuturan lisan dan tulisan. Siswa dengan karakteristik semacam ini dapat menunjukkan kemampuan untuk bekerja secara efektif dalam tim yang beraneka, untuk memainkan fleksibilitas dan kemauan berkompromi dalam mencapai tujuan bersama.

 

KONSEP DASAR PEMBELAJARAN INOVATIF

Berangkat dari konsep inovatif, sejumlah usaha perubahan harus dilakukan oleh seorang Guru. Demikian cepatnya perubahan di sekitar kita, tidak mungkin lagi mengandalkan cara-cara lama dalam pembelajaran, bahkan masih terdapat sejumlah guru masih mengajar dengan cara-cara yang dilakukan oleh gurunya ketika dia belajar dahulu. Untuk keperluan perubahan ini, pada tahap awal para guru memiliki motivasi dan sikap ingin berubah (Huberman dan Miles, 1984:43), tidak pernah merasa puas, berusaha bekerja profesional dan sebagainya, sehingga ia mendapatkan sesuatu yang baru, karena inti dari pengertian inovasi itu sendiri adalah adanya perubahan untuk menemukan yang baru (Ibrahim, 1998:46). Atau seperti yang dikemukakan oleh Callahan dan Clark (1977: 6) bahwa guru harus memiliki sikap kreatif. Kreatif dalam artian merespon berbagai perubahan yang ada, karena setiap adanya perubahan akan selalu diiringi oleh berbagai cara untuk melaksanakannnya (Ruddock, 1991).

Perpindahan paradigma dari orientasi guru kepada orientasi kebutuhan anak didik diartikan bahwa aktivitas belajar didominasi oleh siswa, guru hanya sebagai pembimbing atau fasilitator. Menanggapi perubahan yang terjadi tersebut, maka harus diikuti oleh berbagai perubahan pada kegiatan pembelajaran sehari-hari. Jika ditelusuri lebih jauh ternyata perubahan itu diantaranya disebabkan oleh adanya kesadaran seseorang terhadap kekurangan cara yang dimilikinya (Soejono Soekanto, 1990:355). Cara yang dimaksudkan di sini berkaitan langsung dengan tugas guru seperti dalam kegiatan belajar mengajar, mulai dari penetapan tujuan pembelajaran, pemilihan materi ajar, pemilihan pendekatan, media, metode, dan sistem penilaian. Seperti yang dikemukakan oleh (Ibrahim, 1988) bahwa inovasi yang dilakukan oleh seorang guru lebih ditekankan pada kegiatan mengajar, karena ia diserahi tugas dan wewenang mengelola kegiatan belajar untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. Dalam konteks ini kegiatan guru lebih dari pekerjaan seorang profesional umumnya, karena ia dituntut bukan hanya ahli pada bidangnya tetapi juga harus mampu mengelola pembelajaran dalam lingkungan manusia yang serba berubah (Klasen dan Collier, 1972:12).

Dalam hal ini, para guru berusaha mencari model-model yang relevan, sehinga setiap komponen pembelajaran berjalan secara efektif, dan akan tercapai tujuan yang telah ditetapkan. Model-model tersebut dapat diperoleh dari model lain atau menemukan sendiri model yang diyakini lebih efektif. Namun yang harus dipahami oleh guru dalam setiap pemakaian model pembelajaran tidak serta merta menjadi efektif karena ia akan berkorelasi dengan suasana lain, seperti yang dikemukakan oleh Saltman (dalam Ibrahim, 1998:48), batas suatu inovasi akan dipengaruhi oleh:

a. Tingkat pembiayaan, semakin susah tingkat pembiayaan semakin mudah diterima.

b. Seimbang antara biaya yang dikeluarkan dengan hasil yang diperoleh.

c. Efisiensi, artinya dapat menghemat waktu dan tidak banyak memiliki hambatan.

d.Tidak memiliki resiko, terutama dengan masalah politik dan keamanan.

e. Mudah dikomunikasikan.

f. Sesuai dengan sosial ekonomi setempat.

g. Dapat dibuktikan secara ilmiah.

h Terasa langsung manfaatnya.

i. Tingkat keterlibatan penerimaan inovasi.

j. Hubungan interpersonal.

k. Berdasarkan kepentingan.

l. Peranan agen (penyuluh) inovasi.

Karena siswa sebagai manusia yang memiliki sejumlah karakteristik di bidang ekonomi, budaya, kemampuan, dan status sosial, maka pendapat Saltman yang dikemukakan di atas sebaiknya menjadi pijakan utama dalam pemilihan atau pembuatan suatu inovasi. Pemberian salah satu ide atau aktivitas tersebut disusun dalam suatu kerangka yang jelas disebut dengan model. Dengan kata lain model adalah suatu kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan suatu kegiatan. Dalam pembelajaran, model dapat diterjemahkan sebagai suatu usaha untuk melukiskan prosedur dan langkah-langkah yang sistematis dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran.

Di bidang pembelajaran terdapat sejumlah model, pada dasarnya dapat dikategorikan atas pendekatan pembelajaran pemprosesan informasi, pendekatan pembelajaran individu, pendekatan belajar sosial, dan pendekatan pembelajaran sistem prilaku (Agus Irianto, 2007: 2). Pada sisi lain, berbagai model yang telah dibuat ahli tersebut dapat dijadikan sebagai sumber inspirasi sendiri untuk menemukan ide-ide baru dalam pembuatan model. Pada gilirannya guru menemukan suatu model yang paling praktis untuk kegiatan pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah, siswa, kebijakan pimpinan, dan kemampuan sendiri.

 

STRATEGI MENGIMPELEMENTASIKAN PEMBELAJRAN INOVATIF

Salah satu faktor yang cukup berperan dalam peningkatan mutu pendidikan adalah peningkatan kualitas pembelajaran. Langkah yang dapat dilakukan yakni perbaikan cara mengajar guru dengan menggunakan metode baru yang inovatif. Adapun strategi mengimplementasi pembelajaran inovatif sebagai berikut:

  1. Kuasai teori pembelajaran

Guru sebagai tenaga pendidik profesional dituntut memiliki kemampuan dalam menguasai teori pembelajaran. Untuk dapat mencapai tujuan tersebut hendaknya guru mempelajari beberapa teori pembelajaran yang dikemukakan oleh para ahli sebelumnya. Penguasaan terhadap beberapa teori belajar sangat berguna bagi guru dalam membuat perencanaan pembelajaran. Selanjutnya perencanaan akan direalisasikan dalam kegiatan pembelajaran. Keberhasilan pembelajaran tidak lepas dari konsep teori belajar yang ada didalamnya. Konsep belajar inovatif didasarkan pada teori belajar yang membentuknya dan tentunya sesuai dengan kontek pembelajaran itu sendiri. Dengan kata lain pembelajaran inovatif dapat dibentuk melalui formulasi dari beberapa teori belajar.

  1. Perkaya pemahaman pada metode pembelajaran

Penguasaan metode pembelajaran bukan hanya sebatas saran tetapi hal ini merupakan tugas yang harus dilakukan oleh seorang guru sebagai tenaga pendidik. Kemampuan tersebut masuk dalam ranah kompetensi profesional yang harus dimiliki oleh guru. Keberhasilan kegiatan pembelajaran disekolah salah satunya ditentukan oleh metode pembelajaran atau lebih tepatnya metode penyampaian materi yang digunakan. Metode penyampaian materi merupakan kemasan yang dibuat untuk membungkus materi agar lebih mudah dipahami, menarik, tidak menjenuhkan sehingga tujuan dari pengajaran yang dilakukan dapat tercapai. Untuk itu guna mengimplementasikan pembelajaran inovatif, seorang guru harus selalu memperkaya pemahaman pada berbagai metode pembelajaran.

  1. Pelajari kembali materi yang akan diajarkan

Sejalan dengan tugasnya sebagai tenaga pendidik professional, guru harus memiliki kemampuan dalam mengusasi materi pelajaran yang akan diajarkan kepada peserta didiknya. Kemampuan seamacam ini berkaitan dengan kompetensi professional yang harus dimiliki oleh guru. Penguasaan materi pelajaran merupakan modal berharga yang harus dimiliki oleh guru karena guru disini berperan sebagai sumber belajar. Hal ini dapat disimpulkan bahwa materi merupakan sebuah ilmu yang akan ditransfer kepada peserta didik. Untuk dapat mentransfer ilmu dengan baik, materi yang akan diajarkan harus jelas dan mudah dipahami. Ketidakjelasan atas materi yang akan diajarkan tentunya akan membuat peserta didik bingung dan sulit untuk memahami materi tersebut. Pada akhirnya tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya tidak akan tercapai. Untuk itulah pemahaman atas materi yang akan diajarkan menjadi poin yang harus dipahami dengan baik oleh setiap guru demi terciptanya pembelajaran inovatif.

  1. Kenali kondisi kelas dan peserta didiknya

Sebelum mengimpelementasikan pembelajaran inovatif, guru harus mengenal kondisi kelas dan peserta didiknya. Hal ini menjadi penting karena setiap peserta didik memiliki keunikan serta karakteristik yang berbeda antara satu dengan lainnya. Untuk mengetahui kondisi kelas secara umum, seorang guru harus mengidentifikasi dan mengorganisasikan kelas baik secara kualitatif maupun secara kuantitatif. Identifikasi dapat dilakukan dengan membuat daftar hadir kelas, daftar peserta didik, daftar nilai, dan lain sebagainya. Dari daftar hadir peserta didik, guru dapat mengetahui kehadiran atau tingkat keaktifan peserta didik dalam mengikuti pembelajaran. Selanjutnya dari daftar peserta didik, guru dapat mengetahui jumlah peserta didik dilihat dari jenis kelamin. Sementara dalam daftar nilai, guru dapat mengetahui tingkat kecerdasan awal yang dimiliki oleh peserta didik. Kegiatan identifikasi tersebut selanjutnya dianalisa dan diinterpretasikan secara kualitatif dalam catatan pribadi guru. Singkatnya ketiga contoh identifikasi di atas dapat dijadikan acuan dalam rangka mengimplementasikan pembelajaran inovatif.

  1. Lakukan observasi pada pembelajaran sebelumnya

Dalam konteks ini, kegiatan pengamatan dapat dilakukan dengan mengamati situasi dan kondisi pengajaran sehingga akan diperoleh deskripsi tentang kejadian yang muncul selama pembelajaran berlangsung. Guna mengimplementasikan pembelajaran inovatif, guru harus melakukan kegiatan observasi harian tentang kondisi pembelajaran. Langkah yang dapat dilakukan yakni membuat lembar / buku observasi kelas berisikan tentang situasi selama kegiatan berlangsung dan membuat laporan perkembangan kegiatan pembelajaran. Data lembar lembar / buku observasi kelas mencakup partisipasi peserta didik dalam pembelajaran, kebisingan kelas dan perilaku siswa selama pembelajaran. Sementara dalam laporan perkembangan kegiatan pembelajaran meliputi perkembangan hasil belajar peserta didik yang didukung dengan hasil ulangan harian secara secara periodik. Dengan kata lain laporan perkembangan kegiatan pembelajaran memuat target pencapaian / penguasaan peserta didik pada materi yang diajarkan oleh guru.

  1. Evaluasi pada pembelajaran sebelumnya

Guna mendapatkan pembelajaran yang benar – benar inovatif,  selanjutnya guru harus mengadakan evaluasi secara komprehensif. Kegiatan evaluasi membahas tentang kelebihan dan kekurangan pembelajaran sebelumnya. Kedua aspek tersebut meliputi perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran. Apabila ditemukan kelebihan maka guru harus mempertahankannya dan apabila mendapatkan kekurangan maka guru harus merencanakan perbaikan pada pembelajaran selanjunya. Kedua aspek penilaian di atas secara adminitratif ditransformasikan dalam bentuk catatan pribadi guru.

  1. Mengadakan perbaikan pada pembelajaran sebelumnya

Setelah mengetahui kelebihan dan kekuarangan pada pembelajaran sebelumnya, seorang guru diharapkan dapat memperbaikinya guna mendapatkan pembelajaran yang inovatif. Perbaikan pembelajaran dapat dilakukan dengan mendopsi pembelajaran sebelumnya dan memunculkan ide–ide baru yang dianggap dapat memperbaiki pembelajran sebelumnya.

 

KELEBIHAN DAN KELEMAHAN PEMBELAJAN INOVATIF

Setiap metode pembelajaran tentu memiliki kelebihan dan kekurangan, begitu juga pembelajaran inovatif.

  • Kelebihan pembelajaran inovatif sebagai berikut:

–          Melatih siswa untuk mendesain suatu penemuan.

Pembelajaran inovatif melatih siswa untuk berpikir kreatif sehingga siswa mampu memunculkan ide-ide baru yang positif. Di dalam pembelajaran ini siswa dapat mengembangkan kreatifitasnya, sehingga bisa menemukan hal-hal baru di era globalisasi ini.

–          Menuntut kreatifitas guru dalam mengajar.

Dalam hal ini guru dituntut untuk tidak monoton, maksudnya guru harus memunculkan inovasi-inovasi baru dalam proses pembelajaran. Kreatifitas guru sangat diperlukan agar proses pembelajaran tidak membosankan.

–          Hubungan antara siswa dan guru menjadi hubungan yang saling belajar dan saling membangun.

Guru dan siswa bersama-sama membangun suasana pembelajaran yang menyenangkan dalam kelas sehingga apa yang menjadi tujuan dari pembelajaran bias terwujud.

–          Merangsang perkembangan kemajuan berfikir siswa untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan tepat.

Pembelajaran inovatif akan membuat siswa berfikir kritis dalam menghadapi masalah.

–          Dapat membuat pendidikan sekolah lebih relevan dengan kehidupan, khususnya dunia kerja.

Dunia pendidikan akan lebih berwarna, tidak monoton dan akan terus berkembang menjadi semakin baik. Hal ini akan mempengaruhi dunia kerja yang nantinya akan dijalani setiap orang.

–          Proses pembelajaran dirancang, disusun, dan dikondisikan untuk siswa agar belajar

Siswa harus bisa menempatkan diri dengan baik, siswa tidak boleh hanya diam tapi harus merusaha memotivasi dirinya sendiri agar berkembang. Pembelajaran inovatif akan membangkitkan semangat siswa untuk menjadi yang terbaik.

  • Kelemahan pembelajaran inovatif sebagai berikut :

–   Siswa yang kurang aktif dalam proses belajar akan semakin tertinggal

Siswa yang kurang mempunyai semangat dalam belajar dan memiliki kemampuan lemah maka akan sulit mengikuti pelajaran. Mereka akan pasif dalam menerima pelajaran disbanding siswa yang aktif.

–          Memerlukan alokasi waktu yang lebih panjang dibandingkan dengan metode pembelajaran yang lain

Pembelajaran inovatif harus dilakukan secara intensif, dengan menerapkan banyak hal, penyesuaian konsep dan pasti akan memakan banyak waktu.

 Kurangnya kreatifitas guru

Masih banyaknya rasio guru yang mengajar dengan cara lama atau monoton sehingga menimbulkan suasana kelas yang membosankan. Hal ini akan membuat siswa jenuh dan tidak tertarik dengan materi yang disampaikan. Padahal dalam proses pembelajaran kreatifitas guru sangat dibutuhkan. Hal ini akan mendorong siswa untuk lebih giat lagi dalam belajar.

 

PENUTUP

Pembelajaran inovatif mengandung arti pembelajaran yang dikemas oleh guru atau instruktur lainnya yang merupakan wujud gagasan atau teknik yang dipandang baru agar mampu menfasilitasi siswa untuk memperoleh kemajuan dalam proses dan hasil belajar. Pembelajaran inovatif bisa mengadaptasi dari model pembelajaran yang menyenangkan. Model pembelajaran inovatif merupakan salah satu model pembelajaran yang patut dipertimbangkan untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dalam sekolah-sekolah. Model pembelajaran inovatif ini berciri antisipasi dan partisipasi, menyeimbangkan antara kegiatan penyadaran dengan kegiatan pemberdayaan pada setiap siswa.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Imamalhikmah. 2010. Pembelajaran Inovatif Membangkitkan Motivasi Mengajar Dan Belajar. Diunduh 13 Desember, 2013 pukul 10.22. Dari http://ahmadqiran.blogspot.com/2010/12/pembelajaran-inovatif-membangkitkan.

Wiranata, Adinda. 2012. Pembelajaran Inovatif. Diunduh 12 November, 2013 pukul 15. 06. Dari http://pendidikan-1993.blogspot.com/2012/01/pembelajaran-inovatif.html

Fauzi, Nur. 2012. Konsep Pembelajaran Aktif, Inovatif, Kreatif, Efektif Dan Menyenangkan (Paikem). Diunduh 11 November, 2013 pukul 16. 00. Dari http://kantingembira.blogspot.com/2012/10/konsep-pembelajaran-aktif-inovatif.html

Tombak, Anggar. 2011. Kelebihan dan Kekurangan Pembelajaran Inovatif. Diunduh 15 November, 2013 pukul 20.05. Dari http://www.kawandnews.com/2011/10/kelebihan-dan-kekurangan-pembelajaran.html

 

______________

*) Diana Wahyu Utami, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas C. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Manajemen Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s