Pengelolaan Siswa Berprestasi

Upaya untuk mencerdaskan bangsa berarti meningkatkan kualitas manusia Indonesia yang pada dasarnya dapat direalisasikan melalui kegiatan pendidikan  termasuk proses belajar mengajar di sekolah. Salah satu keberhasilan siswa dalam pendidikan dapat ditunjukkan seperti  dengan prestasi akademiknya. Pada kenyataannya ditemukan tuntutan prestasi akademik pada siswa semakin tinggi sementara daya belajarnya biasa-biasa saja. Hal inilah yang menyebabkan tingkat keberhasilan siswa dalam prestasi akademik kurang sebagaimana diharapkan oleh sekolah, orang tua dan siswa itu sendiri.

Setiap orang khususnya orang tua pasti menginginkan dan bangga apabila anaknya berprestasi. Prestasi anak adalah hal yang dimana ada keterkaitan antara anak dengan sekolah atapun orang tua serta guru. Sekolah hanya fasilitator dan juga sebagai “tempat mengasah potensi”. Lembaga sekolah sangat memfasilitasi siswa-siswa yang berprestasi. Akan tetapi di lain kasus masih banyak sekolah yang kurang meperhatikannya. Dalam artian sekolah hanya terima kabar gembira tanpa ada tindak lanjut terhadap siswa yang berprestasi tersebut. Di sebagian sekolah kecenderungan seseorang anak “dihargai” bukan berdasarkan bakat dan potensinya (ekstrakurikuler) tapi lebih kepada nilai akademisnya (kurikuler).Kemampuan ekstrakurikuler dianggap sebagai kemampuan kelas dua. Padahal dalam lapangan kehidupan banyak orang yang sukses bukan bersandarkan pada nilai akademis semata tapi pada pengembangan bakat dan potensi yang dimilikinya. Hal semacam itu menjadi banyak pandangan yang tidak menyenangkan sebagaimana pemahaman tentang prestasi itu sendiri.

Prestasi belajar merupakan tingkat kemanusiaan yang dimiliki siswa dalam menerima, menolak dan menilai informasi-informasi yang diperoleh dalam proses belajar mengajar. Prestasi belajar seseorang sesuai dengan tingkat keberhasilan sesuatu dalam mempelajari materi pelajaran yang dinyatakan dalam bentuk nilai atau raport setiap bidang studi setelah mengalami proses belajar mengajar.

 

Untuk mencapai prestasi belajar siswa sebagaimana yang diharapkan, maka perlu diperhatikan beberapa faktor yang mempengaruhi prestasi belajar antara lain; faktor yang terdapat dalam diri siswa (faktor intern), dan faktor yang terdiri dari luar siswa (faktor ekstern). Faktor-faktor yang berasal dari dalam diri anak bersifat biologis sedangkan faktor yang berasal dari luar diri anak antara lain adalah faktor keluarga, sekolah, masyarakat dan sebagainya.

Faktor yang terdapat dalam diri siswa (Faktor intern) yaitu: kecerdasan/intelegensi, bakat, minat, dan motivasi. Sedangkangkan faktor yang berasal dari luar siswa adalah (faktor ekstern) yaitu keadaan keluarga, keadaan sekolah dan lingkungan masyarakat. Prestasi seseorang juga merupakan nilai lebih yang dapat berpengaruh bagi siswa itu sendiri maupun sekolah. Oleh karena itu perlu beberapa perhatian dan pegelolaan siwa-siwa yang berprestasi.

 

Manajemen atau pengelolaan merupakan komponen integral dan tidak dapat di pisahkan dari proses pendidikan secara keseluruhan. Alasannya tanpa manajemen tidak mungkin tujuan pendidikan dapat di wujudkan secaara optimal, efektif dan efisien. Pengeloaan itu sendiri tidak terpacu hanya pada akademik semata, akan tetapi etika yang dapat ditonjolkan dari siswa itu sendiri. Etika sangat menunjang apakah prestasi seseorang itu layak atau tidak, apakah siswa itu berpotensi atau tidak. Tuntunan yang di lakukan tidak lepas juga dari lembaga utama yakni kelurga, guru dan orang-orang disekitarnya.

 

 

PENGERTIAN PRESTASI

 

            Berprestasi adalah dambaan setiap orang, namun tidak semua orang bisa menjadi orang berprestasi. Prestasi belajar sesunggunya bisa di capai oleh semua orang tak mengenal ia kaya,miskin, orang yang berasal dari kota atau pedesaan semuanya bisa berprestasi.

Menurut Adi Negoro, prestasi adalah segala jenis pekerjaan yang berhasil dan prestasi itu menunjukkan kecakapan suatu bangsa. Kalau menurut W.J.S Winkel Purwadarmtinto, “prestasi adalah hasil yang dicapai “ dari pengertian diatas maka prestasi bisa didefinisikan adalah sebuah usaha, pekerjaan (Seperti belajar) yang dilakukan dengan sunguh-sunguh sehingga mencapai hasil yang terbaik dan maksimal.

 

Prestasi adalah hasil yang telah dicapai seseorang dalam melakukan kegiatan. Gagne menyatakan bahwa prestasi belajar dibedakan menjadi lima aspek, yaitu : kemampuan intelektual, strategi kognitif, informasi verbal, sikap dan keterampilan. Menurut Bloom dalam Suharsimi Arikunto (1990:110) bahwa hasil belajar dibedakan menjadi tiga aspek yaitu kognitif, afektifdanpsikomotorik.

 

Kesatuan tersebut sangatlah penting untuk mengukur prestasi siswa. Tidak hanya pandangan dari satu arah ttapi aspek-aspek tersebut juga harus diperhatikan. Tidak hanya secara kognitif atau konsep semata, keterkaitan anta semua aspek perlu diperhatikan. Dengan demikian prestasi menjadi makna yang mendalam sebagaimana prestasi itu tidak hanya secara nilai yang bagus tanpa mendalami dan memperhatikan konsep di dalamnya.

 

PERAN DIRI UNTUK MENJADI SISWA BERPRESTASI

            Semua orang pasti berusaha untuk menjadi yang terbaik, banyak cara dan jalan yang diterapkan masing-masing siswa. Setiap siwa atau anka memiliki macam-macam gaya yang diterapkan untuk memperoleh prestasi. Dibawah ini ada beberapa cara yang biasa dalam mencapai prestasi belajar :

1. Sucikan Niat/Luruskan niat
Dalam ajaran Islam maupun agam lain niat merupakan hal yang utama apabila sesorang akan melakukan pekerjaan atau aktvititas, terlebih aktivitas yang berhubungan yang bernilai  ibadah. Mencari ilmu atau belajar adalah sebuah kewajiban yang telah ditentukan ketika manusia lahir sampai dengan masuk liang lahat kembali, serta mencari ilmu juga merupakan ibadah. Jadi meluruskan niat dalam belajar selain untuk menambah wawasan juga adalah untuk ibadah kepada Allah atau Tuhan.

2. Kesungguhan Dalam belajar
Menjadi pelajar yang berprestasi memerlukan kesungguhan dalam belajar, dalam Islampun dijarkan barang siapa yang bersunguh-sunguh maka ia akan berhasil. Oleh sebab itu sekolah bukanlah sekedar untuk bermain, mencari teman, Jajan dan lain sebagainya tetapi sekolah adalah aktvititas belajar yang memerlukan kesungguhan.

3. Disipin dalam menggunakan Waktu
Time Is money atau waktu adalah pedang, beberapa Istilah ini sangat populer dalam kehidupan kita sehingga orang barat sering mengatakan waktu adalah uang, oleh sebab itu mereka tak ingin menggunakan waktu dengan sia-sia. Disiplin dalam menggunakan waktu merupakan hal yang utama untuk mecapai sebuah keberhasilan secerdas dan sekaya apapun kita tanpa displin maka prestasi itu takan pernah kita bisa capai. Disiplin dalam waktu harus kita lakukan dalam kehidupan sehari mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Cobalah kita buat agenda kita seperti mulai dari aktivitas tidur, sholat, mengaji, belajar, bermain, berolahraga, ikut les dan lain sebagainya, apabila jadwal ini bisa kita lakukan dengan disiplin insyaallah kita akan menjadi orang –orang yang berprestasi.

4. Percaya diri
Percaya diri merupakan hal yang penting bagi setiap orang, karena kita harus percaya pada kemampuan yang kiti milki. Banyak orang yang tidak percaya diri karena merasa dirinya tidak padai, sehingga akhirnya harus tergantung pada orang lain. Setiap orang sesungguhnya harus merasa percaya dengan kemampuan yang dimilkinya betatapun hasil prestasinya tidak sebagus yang dicapai orang lain tetapi itulah hasil maksimal dari percaya diri yang dimilki.

5. Tentukan Target
Pada perjalanan setiap manusia tentu selalu punya tujuan kemana kita akan melangkah dan apa yang akan kita lakukan. Jika kita ingin memilki prestasi maka kita harus memilki target dalam belajar, berapa nilai yang harus kita capai. Misalnya kita memiliki target nilaiMatematika 80, Bahasa Indonesia 90, menang kejuaran olimpiade, kejuaran Futsal dan lain-lain sebagainya.   Semua target yang sudah kita tentukan harus dilakukan secara maksimal agar target-target tersebut bias tercapai.

6. Tumbuhkan Motivasi
Motivasi atau dorongan perlu dimilki oleh setiap orang baik motivasi dari diri sendiri ataupun dari orang lain. Pelajar yang berprestasi adalah pelajar yang memiliki motivasi besar untuk maju, maka dia akan selalu memberi semangat pada hatinya untuk semangat dalam belajar.

7. Kita semua punya prestasi
Sesungguhnya setiap diri kita memilki prestasi karena prestasi itu bukan dilihat dari kemampuan itelektual atau kognitif saja, tetapi setiap kelebihan yang kita milki dan berguna bagi orang banyak adalah prestasi juga. Ingat tak mungkin Allah menciptakan manusia dalam bentuk yang sama, oleh karena itu dalam prestasipun kita memilki perbedaan ada yang berprestasi dalam akademik, kesenia, olahraga dan lain sebagainya.

8. Minta doa dari orang tua
Ridho Allah tergantung ridho orang tua, jadi mintalah doa dari orang tua dalam setiap langkah yang kita lakukan Agar Allah memberi kemudahan dalam aktivitas belajar kita.

9. Sholat dan berdoa atu beribadah pada Tuhan
Segala Ikhtiar atau usaha sudah kita Lakukan yang terakhir adalah kewajiban kita melaksanakan perintah Allah salah satunya adalah sholat dan berdoa, semoga semakin sering kita mendekatkan diri kita pada Allah semakin Allah memberi kemudahan kepada kita.

PERANAN ORANG TUA DALAM PRESTASI ANAK

            Seperti yang diungkapkan sekilas pada bahasan diatas bahwa orang tua adalah lembaga yang terpenting da juga sebagai media utama untuk keberhasilan anaknya yakni dalam hal prestasi belajar. Orang tua memegang peranan yang sangat berarti bagi anak. Banyak cara yang dilakukan dan diterapkan dalam menunjang hal tersebut, seperti:

1.Komitmen orang tua.

Pandangan keliru sebagian kecil orang tua adalah menyerahkan tanggung jawab belajar anak kepada pihak sekolah. Prestasi anak di sekolah  hanya tergantung pada pembelajaran yang dijalankan oleh guru. Justru orang tua memiliki peranan yang tak kalah pentingnya dalam menciptakan anak berprestasi. Kerja sama antara orang tua dan sekolah dapat meningkatkan prestasi belajar anak di sekolah. Inilah komitmen yang perlu dipegang oleh orang tua.

 

2.Lingkungan belajar.

Peranan penting orang tua di rumah adalah menciptakan lingkungan belajar yang kondisif bagi anak. Artinya, orang tua menciptakan suasana yang dapat mendorong anak untuk mau belajar di rumah. Menyediakan fasilitas dan kebutuhan belajar anak di rumah. Mengatur dan merapikan tempat belajar anak.

 

3.Peraturan  di rumah tangga.

Aturan dan regulasi di rumah tangga perlu disepakati oleh semua anggota keluarga. Ketika anak sedang belajar, anggota keluarga dilarang menyalakan televisi atau menyetel radio dan musik. Ada jadwal belajar di rumah yang perlu dipahami oleh anak.

 

4.Pemberian reward kepada anak.

Bagi anak yang memperoleh rangking di sekolah perlu diberikan hadiah (reward) kepada anak. Orang tua  menerapkan budaya hadiah dalam bentuk buku bacaan yang menarik bagi anak untuk mendorong tumbuhnya budaya membaca.

 

5.Kemandirian anak.

Orang tua memang perlu mendampingi anak belajar di rumah. Namun bukan berarti selalu membantu kesulitan anak. Biarkan anak untuk menghadapi kesulitan belajar secara mandiri terlebih dulu. Orang tua hanya sekadar member motivasi bagaimana memecahkan persoalan materi pelajaran yang dihadapinya. Sikap ini diambil agar anak tidak selalu tergantung pada orang tua dalam menghadapi masalah belajar.

 

PERAN GURU TERHADAP SISWA BERPRESTASI

Fungsi dan peran guru dalam era modernis saat ini sangat penting dalam meningkatkan mutu pendidikan. Guru sebagai salah satu agen pembelajaran di tuntut untuk mampu memberikan pelayanan maksimal untuk para siswa. Siswa berprestasi adalah seperti ibarat bibit bunga emas yang lambat laun jika di siram akan tumbuh menjadi bunga yang harum dan cantik setiap waktu. Jadi ibarat anak atau peserta didik yang sudah pernah sekali atau sudah punya bibit prestasi disekolah jika diasah terus dan diperhatikan maka akan menjadi siswa yang lebih berprestasi bahkan mencapai titik puncak yang diinginkan oleh lembaga sekolah bahkan dampak bagi siswa itu sendiri. Peran guru disini sangat dibutuhkan seperti:
1. Menjelaskan tujuan belajar ke peserta didik.

Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siwa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
2. Hadiah

Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Hal ini akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi. Banyak macam hadiah yang diberikan tidak dari segi materi tetapi bagaiman cara anak itu untuk lebih bisa menghargai dan rasa untuk dihargai.

3.Saingan/kompetisi

 

Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya. Ini di peruntukkan supaya siswa meskipun dia sudah berprestasi akan tetapi masih banyak hal yang harus di pelajari karenailmu yang dipelajri terkadang masih kurang. Selain itu memunculkan jiwa kompetisi antar siswa yang berprestasi

 

4.Pujian

Sudah sepantasnya siswa yang berprestasi untuk diberikan penghargaan atau pujian. Tentunya pujian yang bersifat membangun.

5. Hukuman
Hukuman diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya.
6. Membangkitkan dorongan kepada anak didik untuk belajar dan menghidupkan suasana keluarga dalam Lingkungan Sekolah
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik.kemudian guru juga harus lebih perhatian terhadap siswa dalam pembelajaran. Jadi sosok keluarga kedua berusaha untuk diwujudkan.

7. Membentuk kebiasaan belajar yang baik

8. Meperhatikan Mutu dan Kualitas Guru

Keberhasilan seorang siswa dalam meraih prestasinya tentu tidak terlepas dari keberhasilan seorang guru yang mendidiknya. Seorang guru yang sukses mendidik siswa-siswinya memiliki kemungkinan besar untuk melahirkan seorang siswa yang berprestasi, demikian juga sebaliknya. Bagaimana juga untuk mengolah prestasi yang ada dalam diri siswanya.

9. Siswa Bukan Semata Objek, Tetapi Subjek Pendidikan

Guru bisa dikatakan juga sebagai pendidik yang sangat berjasa. Materi dan teori adalah sebagian tugas guru. Akan tetapi seorang guru, selain menginformasikan ilmu penetahuan juga harus memberikan pendamping dalam rangka membangun kedewasaan berfikir anak didik, memberikan motivasi, dan spirit yang tidak kenal lelah.

10. Membantu kesulitan belajar anak didik secara individual maupun kelompok
11. Menggunakan metode yang bervariasi
12. Menggunakan media yang baik dan sesuai dengan tujuan pembelajaran

KARAKTERISTIK SISWA BERPRESTASI TINGGI

            Berprestasi adalah hal yang patut dibanggakan. Setiap orang memiliki ciri-ciri yang berbeda-beda. Banyak pandagan orang mengenai hal tersebut. Akan tetapi mayoritas atau karakter yang ditunjukkan oleh siswa tersebut ada banya ciri.

 

 

 

Orang yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi, mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:

  1. Mempunyai tanggung jawab pribadi.

Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi akan melakukan tugas sekolah atau bertanggung jawab terhadap pekerjaannya. Siswa yang bertanggung jawab terhadap pekerjaan akan puas dengan hasil pekerjaan karena merupakan hasil usahanya sendiri.

b. Menetapkan nilai yang akan dicapai atau menetapkan standar unggulan.

Siswa menetapkan nilai yang akan dicapai. Nilai itu lebih tinggi dari nilai sendiri (internal) atau lebih tinggi dengan nilai yang dicapai oleh orang lain (eksternal). Untuk mencapai nilai yang sesuai dengan standar keunggulan, siswa harus menguasai secara tuntas materi pelajaran.

c. Berusaha bekerja kreatif.

Siswa yang bermotivasi tinggi, gigih dan giat mencari cara yang kreatif untuk menyelesaikan tugas sekolahnya. Siswa mempergunakan beberapa cara belajar yang diciptakannya sendiri, sehingga siswa lebih menguasai materi pelajaran dan akhirnya memperoleh prestasi yang tinggi.

d. Berusaha mencapai cita-cita

Siswa yang mempunyai cita-cita akan berusaha sebaik-baiknya dalam belajar atau mempunyai motivasi yang tinggi dalam belajar. Siswa akan rajin mengerjakan tugas, belajar dengan keras, tekun dan ulet dan tidak mundur waktu belajar. Siswa akan mengerjakan tugas sampai selesai dan bila mengalami kesulitan ia akan membaca kembali bahan bacaan yang telah diterangkan guru, mengulangi mengerjakan tugas yang belum selesai. Keberhasilan pada setiap kegiatan sekolah dan memperoleh hasil yang baik akan memungkinkan siswa mencapai cita-citanya.

e. Memiliki tugas yang moderat.

Memiliki tugas yang moderat yaitu memiliki tugas yang tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Siswa dengan motivasi berpretasi yang tinggi, yang harus mengerjakan tugas yang sangat sukar, akan tetapi mengerjakan tugas tersebut dengan membagi tugas menjadi beberapa bahagian, yang tiap bagian lebih mudah menyelesaikanya.

f. Melakukan kegiatan sebaik-baiknya

Siswa yang mempunyai motivasi berprestasi yang tinggi akan melakukan semua kegiatan belajar sebaik mungkin dan tidak ada kegiatan lupa di kerjakan. Siswa membuat kegiatan belajar dari mentaati jadwal tersebut. Siswa selalu mengikuti kegiatan belajar dan mengerjakan soal-soal latihan walaupun tidak disuruh guru serta memperbaiki tugas yang salah. Siswa juga akan melakukan kegiatan belajar jika ia mempunyai buku pelajaran dan perlengkapan belajar yang dibutuhkan dan melakukan kegiatan belajar sendiri atau bersama secara berkelompok.

 

g. Mengadakan antisipasi.

Mengadakan atisipasi maksudnya melakukan kegiatan untuk menghindari kegagalan atau kesulitan yang mungkin Siswa datang ke sekolah lebih cepat dari jadwal belajar atau jadwal ujian, mencari soal atau jawaban untuk latihan. Siswa menyokong persiapan belajar yang perlu dan membaca materi pelajaran yang akan di berikan guru pada hari berikutnya.

h. Jujur dan taat peraturan

Dari pandangan bebrapa kejadian anak yang berprestasi biasanya adalah anak yang jujur, karakter yang ditunjukkan juga berbeda-beda dan juga taat akan peraturan sekolah.

Selain itu dalam memupuk siswa berprestasi perlu adanya motivasi baik dari guru maupun kemauan siswa tersebut. Peran motivasi dalam proses belajar, motivasi belajar siswa dapat dianalogikan sebagai bahan bakar untuk menggerakkan mesin, motivasi belajar yang memadai akan mendorong siswa berperilaku aktif untuk berprestasi dalam kelas, tetapi motivasi yang terlalu kuat justru dapat berpengaruh negatif terhadap keefektifan usaha belajar anak.

Adapun fungsi dari motivasi dalam belajar diantaranya :

1.     Mendorong timbulnya tingkah laku atau perbuatan, tanpa motivasi tidak akan timbul suatu perbuatan misalnya belajar.

2.     Motivasi berfungsi sebagai pengarah, artinya mengarahkan perbuatan untuk mencapai tujuan yang diinginkan.

3.     Motivasi berfungsi sebagai penggerak, artinya menggerakkan tingkah laku seseorang. Besar kecilnya motivasi akan menentukan cepat atau lambatnya suatu pekerjaan.

Pada garis besarnya motivasi belajar mengandung nilai-nilai dalam pembelajaran sebagai berikut:

1.     Motivasi menentukan tingkat berhasil atau gagalnya kegiatan belajar anak.

2.     Pembelajaran yang bermotivasi pada hakikatnya adalah pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan, dorongan, motif, minat yang ada pada diri anak.

3.     Pembelajaran yang bermotivasi menuntut kreatifitas dan imajinitas guru untuk berupaya secara sungguh-sungguh mencari cara-cara yang relevan dan serasi guna membangkitkan dan memeliharan motivasi belajar ana.

4.     Berhasil atau gagalnya dalam membangkitkan dan mendayagunakn motivasi dalam proses pembelajaran berkaitan dengan upaya pembinaan disiplin kelas.

5.     Penggunaan asas motivasi belajar merupakan sesuatu yang esensial dalam proses belajar dan pembelajaran.

TES  PENGUKURAN SISWA BERPRESTASI

Metode yang selama ini digunakan adalah dengan mengukur tes-tes, yang biasa disebut dengan ulangan. Tes dibagi menjadi dua yaitu: tes formatif dan tes sumatif. Tes formatif adalah tes yang diadakan sebelum atau selama pelajaran berlangsung, sedangkan tes sumatif adalah tes yang diselenggarakan pada saat keseluruhan kegiatan belajar mengajar, tes sumatif merupakan ujian akhir semester.

Menurut Suharsimi Arikunto dalam bukunya Evaluasi Pendidikan menyebutkan “ Tes dibedakan menjadi tiga macam yaitu tes diagnostik, tes formatif, tes sumatif”

1.     Tes diagnostik adalah tes yang digunakan untuk menentukan kelemahan dan kelebihan siswa dengan melihat gejala-gejalanya sehingga diketahui kelemahan dan kelebihan tersebut pada siswa dapat dilakukan perlakuan yang tepat.

2.     Tes formatif adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa telah memahami suatu satuan pelajaran tertentu. Tes ini diberikan sebagai usaha memperbaiki proses belajar.

3.     Tes sumatif dapat digunakan pada ulangan umum yang biasanya dilaksanakan pada akhir catur wulan atau semester. Dari tes sumatif inilah prestasi belajar siswa diketahui. Dalam penelitian ini evaluasi yang digunakan adalah dalam jenis yang di titik beratkan pada evaluasi belajar siswa di sekolah yang dilaksanakan oleh guru untuk mengetahui prestasi belajar siswa.

Sebagaimana yang telah diuraikan di atasbahwa tes ini  dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan pembelajaran, tes ini dapat berguna untuk mendeskripsikan kemampuan belajar siswa,  mengetahui tingkat keberhasilan PBM, menentukan tindak lanjut hasil penilaian, dan memberikan pertanggung jawaban (accountability).

 

FAKTOR PENGHAMBAT SISWA BERPRESTASI

Faktor fisiologis dan biologis

Masa peka merupakan masa mulai berfungsinya factor fisiologis pada tubuh manusia. Faktor fisiologis adalah faktor yang berhubungan dengan kondisi fisik individu. Faktor ini dibedakan menjadi 2, yaitu:

  • Keadaan jasmani

Keadaan jasmani sangat mempengaruhi aktivitas belajar anak. Kondisi fisik yang sehat dan bugar akan memberikan pengaruh positif terhadap proses belajar. Sedangkan kondisi fisik yang lemah atau sakit akan menghambat tercapainya hasil belajar yang maksimal.

  • Keadaan fungsi jasmani atau fisiologis

Anak yang memiliki kecacatan fisik (panca indera atau fisik) tidak akan dapat mencapai hasil belajar yang maksimal. Meskipun juga ada anak yang memiliki kecacatan fisik namun nilai akademiknya memuaskan. Kecacatan yang diderita anak akan mempengaruhi psikologisnya, diantaranya:

–          sulit bergaul karena memiliki perasaan malu dan minder akan kekurangannya,

–          ada perasaan takut diejek teman,

–           merasa tidak sempurna dibandingkan dengan teman-teman lain.

b.      Faktor psikologis

Faktor psikologis adalah faktor yang berasal dari keadaan psikologis anak yang dapat mempengaruhi proses belajar. Beberapa faktor psikologis utama yang mempengaruhi proses belajar anak adalah kecerdasan siswa, motivasi, minat, sikap dan bakat.

  • Kecerdasan/ intelegensi siswa

Kecerdasan merupakan faktor psikologis yang paling penting dalam proses belajar anak, karena  menentukan kualitas belajar siswa. Semakin tinggi intelegensi seorang individu, semakin besar peluang individu untuk meraih sukses dalam belajar. Oleh karena itu, perlu bimbingan belajar dari orang lain seperti orang tua, guru,dan sebagainya. Sebagai faktor psikologis yang penting dalam mencapai kesuksesan belajar, maka pengetahuan dan pemahaman tentang kecerdasan perlu dimiliki oleh setiap calon guru professional, sehingga mereka dapat memahami tingkat kecerdasannya.

Sikap

Sikap siswa dalam belajar dipengaruhi oleh perasaan senang atau tidak senang pada performan guru, pelajaran, atau lingkungan sekitarnya. Dan untuk mengantisipasi munculnya sikap yang negatif dalam belajar, guru sebaiknya berusaha untuk menjadi guru yang profesional dan bertanggungjawab terhadap profesi yang dipilihnya. Dengan profesionalitas seorang guru akan berusaha memberikan yang terbaik bagi  siswanya, berusaha mengembang kepribadian sebagai seorang guru yang empatik, sabar, dan tulus kepada muridnya, berusaha untuk menyajikan pelajaran yang diampunya dengan baik dan menarik sehingga membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan senang dan tidak menjemukan, meyakinkan siswa bahwa bidang studi yang dipelajarinya bermanfaat bagi siswa.

 

  •  Bakat

Pada dasarnya setiap orang mempunyai bakat atau potensi untuk mencapai prestasi belajar sesuai dengan kemampuannya masing-masing. Karena itu bakat juga diartikan sebagai kemampuan dasar individu untuk melakuakan tugas tertentu tanpa tergantung upaya pendidikan dan latihan. Individu yang telah mempunyai bakat tertentu, akan lebih mudah menyerap informasi yang berhubungan dengan bakat yang dimilikinya. Misalnya siswa yang berbakat dibidang bahasa akan lebih mudah mempelajari bahasa-bahasa yang lain selain bahasanya sendiri.

  • Lingkungan sosial masyarakat

Kondisi lingkungan masyarakat tempat tinggal siswa juga mempengaruhi proses belajar anak. Lingkungan siswa yang kumuh, banyak pengangguran, dan banyak teman sebaya di lingkungan yang tidak sekolah dapat menjadi faktor yang menimbulkan kesukaran belajar bagi siswa. Misalnya siswa tidak memiliki teman belajar dan diskusi maka akan merasa kesulitan saat akan meminjam buku atau alat belajar yang lain

  •   Lingkungan keluarga

Keluarga merupakan tempat pertama kali anak belajar. Oleh karena itu, lingkungan keluarga sangat mempengaruhi proses belajar anak. Faktor dari keluarga yang dapat menimbulkan permasalahan belajar anak adalah:

  • Pola asuh orang tua
  • Hubungan orang tua dan anak
  • Keadaan ekonomi keluarga
  • Keharmonisan keluarga
  • Kondisi rumah
  • . Teman sebaya

Teman sebaya dapat mempengaruhi proses belajar anak, baik teman sebaya dalam lingkup sekolah maupun tempat tinggal atau masyarakat. Pada usia anak-anak dan remaja, jiwa yang dimiliki masih labil, emosional, pemarah, dan juga rasa egois sangat besar. Biasanya tejadi kekerasan di sekolah yang dilakukan oleh teman sebaya atau kawan bermain. Hal tersebut disebabkan oleh perbedaan atau bahkan persaingan yang menimbulkan sikap saling mengejek, mendorong, memukul bahkan kekerasan verbal.

Kekerasan sebagai gangguan emosi pada dasarnya tidak hanya menyerang orang lain, tetapi juga menyerang diri sendiri. Persoalan kekerasan dilihat dari lapangan psikologi pendidikan mencoba mengarahkan pada lingkungan sekolahtempat anak belajar berinteraksi dengan teman sebaya.

 

Teman sebaya  yang seharusnya bisa untuk memperoleh informasi dan perbandingan tentang dunia sosisal, prinsip keadilan malalui konflik yang terjadi dengan teman, bisa untuk belajar tentang konsep gender juga dapat berpengaruh negatif bagi anak. Misalnya kebiasaan-kebiasaan buruk yang dimiliki kawan sebayanya akan mudah mempengaruhi diri anak. Kebiasaan buruk yang mudah ditiru biasanya dari ucapan atau tindakan.

 

KESIMPULAN

Dari beberapa pernyataaan diatas, banyak yang dapat diambil intisari serta pemahaman tentang bagaimana pengoleloaan siswa berprestasi. Kemudian beberapa kiat sudah dijelaskan, setidaknya ada tiga garis besar yang bisa kita ambil kesimpulan mengenai bagaimana kiat-kiat kita mencetak anak atau siswa agar berprestasi beserta ukuran yang bisa kita gunakan untuk menilainya. Bahwa prestasi itu adalah salah satu bentuk atau hal yang wajib dikembangkan dan dibanggakan.

Mewujudkan prestasi dari rumah, orang tua atau dari peranan keluarga sendiri. Dimana keluarga dapat menciptakan dan membangun iklim kehidupan yang sarat degan suasana edukatif, penuh keteladanan, kasih sayang, bimbingan dan pengarahan secara intensif.

Mewujudkan prestasi dalam lingkungan sekolah juga sangat berpengaruh karena anak disini diasah kembali dalam pendidikan formal yang meliputi profesionalitas guru serta sekian perangkat atau sistem yang harus dibangun dengan penuh kekeluargaan yang santun dan penuh kasih sayang. Serta perhatian yang tak pernah luput kepada anak tersebut atau siswa tersebut.

Mewujudkan prestasi merupakan kesadaran siswa sendiri dengan cara menumbuhkan kesadaran mereka tentang pentingnya belajar dan bekerja dengan penuh ketekunan, keyakinan, dan tidak mudahputus asa. Serta bebrpa motivasi yang sudah dijelaskan pada bahasan diatas.

 

Besar harapan bagi suatu bangsa ataupun diri seseorang bahwa dengan memahami trik-trik atau konsep  anak atau siswa berprestasi maka akan tercipta suatu perubahan dalam dunia pendidikan kita selama ini. Sehingga, keinginan untuk mencerdaskan kehidupan masyarakat agar mereka mampu berdaya upaya di masa depan serta dapat berperilaku positif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dan menciptakan iklim penerangan terhadap kesuraman dan kebodohan yang banyak terjdi dalam fenomena negra kita.

 

REFERENSI

Suharsimi Arikunto & Lia Yuliana. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media

 

Negoro Adi. 2001. “Prestasi dan Pengelolaan Siswa. Journal of Education Global catch Research. Halaman 128-133.

 

Damis,Raditya.’’Manajemen dan Motivasi Belajar Siswa’’. http://www.siswaprestasi.com/qwrd.hjk?. Di download tanggal 28 Desember 2013 pukul 19.25 WIB.

Widiawan, Didik.’’Tes pengukuran Belajar Siswa’’. http://www.siswaprestasi.com/qwrd.hjk?. Di download tanggal 28 Desember 2013 pukul 20.55 WIB.

 

 

 

______________

Oleh:

Intan Purwanto

PBI/STKIP PGRI Pacitan

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s