Konsep Dasar Pengelolaan Sarana Prasarana Pendidikan

Sarana prasarana merupakan fasilitas pendukung yang dapat menunjang proses kegiatan dalam organisasi apa saja termasuk di dalamnya adalah satuan pendidikan atau sekolah. Akan tetapi yang lebih penting adalah proses pengelolaan atau manajemen dari sarana prasarana itu sendiri. Proses pengelolaan tersebut dapat berpengaruh terhadap sukses tidaknya suatu proses kegiatan. “Bagi sebuah organisasi, manajemen merupakan kunci sukses, karena sangat menentukan kelancaran kinerja organisasi yang bersangkutan” (Arikunto 2008:2). Karena proses pengelolaan sarana prasarana sangat penting dan berpengaruh, maka memahami tentang konsep dasar pengelolaan sarana prasarana dengan baik akan membantu memperluas wawasan tentang bagaimana berperan dalam merencanakan, menggunakan dan mengevaluasi sarana prasarana yang ada sehingga dapat dimanfaatkan dengan optimal untuk mencapai tujuan dari organisasi itu sendiri.

 

Pengertian dan Ruang Lingkup PENGELOLAAN Sarana PRASARANA Pendidikan

Sarana merupakan perlengkapan yang sifatnya dapat digunakan secara langsung. Dalam konsep dasar pengelolaan sarana prasarana pendidikan, sarana berarti perlengkapan yang mendukung dan berhubungan langsung dengan proses pembelajaran. Sementara prasarana adalah fasilitas pokok yang sifatnya mempunyai masa pakai yang cukup lama yang mana dalam konsep dasar pengelolaan sarana prasarana pendidikan, prasarana berarti fasilitas pokok yang digunakan untuk mencapai tujuan pendidikan. Sarana prasarana pendidikan di sini dapat digambarkan seperti sebuah ruang kelas, di dalamnya terdapat guru, siswa, papan tulis, meja, kursi, LCD/Projector, dsb. Maka kelas, meja, dan kursi di sini adalah fasilitas pokok yang disebut prasarana pendidikan yang diperlukan dalam mencapai tujuan pendidikan. Karena diperlukan maka prasarana pendidikan harus ada sebelum suatu proses pembelajaran di mulai. Sementara papan tulis dan LCD/Projector, merupakan perlengkapan atau sarana pendidikan yang mendukung proses pembelajaran. Di sinilah guru dan siswa harus bekerjasama menjaga dan mengelola agar sarana prasarana dapat berfungsi dengan baik sehingga memberikan manfaat bagi kedua belah pihak. Sarana prasarana yang dikelola dengan baik akan memudahkan guru dalam mengajar dan juga menambah kenyamanan siswa dalam belajar. Manajemen sarana prasarana pendidikan merupakan suatu proses pengelolaan sarana prasarana di sekolah supaya berfungsi dengan baik sehingga antara guru dan siswa, keduanya dapat saling menjalankan tugasnya dengan baik pula dan tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal.

 

Dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah  Ibtidaiyah  (Sd/Mi), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (Smp/Mts), Dan Sekolah  Menengah  Atas/Madrasah Aliyah (Sma/Ma) pasal 2 BAB II, disebutkan bahwa standard sarana dan prasarana ini mencakup:

1)        kriteria minimum sarana yang terdiri dari perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku dan sumber belajar lainnya, teknologi informasi dan  komunikasi, serta perlengkapan lain yang wajib dimiliki oleh setiap sekolah/madrasah,

2)        kriteria  minimum  prasarana  yang  terdiri  dari  lahan,  bangunan,  ruang- ruang,   dan  instalasi  daya  dan  jasa  yang  wajib  dimiliki  oleh  setiap sekolah/madrasah.

Juga disebutkan bahwa sebuah SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA sekurang-kurangnya memiliki prasarana sebagai berikut:

SD/MI SMP/MTS SMA/MA
  1. ruang kelas,
  2. ruang perpustakaan,
  3. laboratorium IPA,
  4. ruang pimpinan,
  5. ruang guru,
  6. tempat beribadah,
  7. ruang UKS,
  8. jamban,
  9. gudang,
  10. ruang sirkulasi,
  11. tempat bermain/berolahraga.
    1. ruang kelas,
    2. ruang perpustakaan,
    3. ruang laboratorium IPA,
    4. ruang pimpinan,
    5. ruang guru,
    6. ruang tata usaha,
    7. tempat beribadah,
    8. ruang konseling,
    9. ruang UKS,
    10. ruang organisasi kesiswaan,
    11. jamban,
    12. gudang,
    13. ruang sirkulasi,
    14. tempat bermain/berolahraga.

  1. ruang kelas,
  2. ruang perpustakaan,
  3. ruang laboratorium biologi,
  4. ruang laboratorium fisika,
  5. ruang laboratorium kimia,
  6. ruang laboratorium komputer,
  7. ruang laboratorium bahasa,
  8. ruang pimpinan,
  9. ruang guru,
  10. ruang tata usaha,
  11. tempat beribadah,
  12. ruang konseling,
  13. ruang UKS,
  14. ruang organisasi kesiswaan,
  15. jamban,
  16. gudang,
  17. ruang sirkulasi,
  18. tempat bermain/berolahraga.

       Burhanuddin dalam slide sharenya menyebutkan bahwa ruang lingkup sarana prasarana dapat ditinjau dari tiga sudut, yaitu:

a)      Ditinjau dari habis tidaknya,

b)      Ditinjau dari bergerak tidaknya serta,

c)      Ditinjau dari hubungan dengan proses pembelajaran.

Berikut bagan yang menjelaskan tentang ruang lingkup sarana prasarana menurut Burhanuddin.

 

Bagan 1.2

 

 

Secara umum ketiga pengelompokan ini berfungsi untuk mempermudah inventarisasi. Secara khusus pengelompokan berdasarkan habis tidaknya dipakai, berfungsi membantu dalam hal pengadaan sarana prasarana. Sementara ditinjau dari hubungan dengan proses pembelajaran, ada sarana yang berhubungan langsung dengan proses pembelajaran (misalnya alat pelajaran, alat peraga dan media pendidikan) dan ada pula prasarana yang tidak berhubungan langsung dengan proses pembelajaran (misalnya bangunan sekolah, meja guru, perabot kantor tata usaha, kamar kecil, dan sebagainya). Pengelompokan berdasarkan hubungannya dengan proses pendidikan ini digunakan untuk mempermudah dalam hal penggunaan serta pemeliharaan sarana prasarana.

 

Secara umum, tujuan pengelolaan sarana dan prasarana pendidikan adalah memberikan pelayanan secara profesional di bidang sarana prasarana pendidikan dalam rangka terselenggaranya proses pendidikan secara efektif dan efisien. Agar program pendidikan bisa tercapai dengan baik ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam mengelola sarana dan prasarana pendidikan di sekolah. Prinsip-prinsip yang dimaksud adalah:

  1. Prinsip pencapaian tujuan, yaitu bahwa sarana prasarana pendidikan di sekolah harus selalu dalam  kondisi siap pakai bilamana akan di dayagunakan untuk pencapaian tujuan proses belajar mengajar.
  2. Prinsip efisiensi, yaitu bahwa pengadaan sarana prasarana pendidikan di sekolah harus dilakukan melalui perencanaan yang seksama dan pemakaiannya juga  harus dengan hati-hati sehingga mengurangi pemborosan.
  3. Prinsip administratif, yaitu bahwa manajemen sarana dan prasarana pendidikan di sekolah harus selalu memperhatikan undang-undang, peraturan, instruksi dan petunjuk teknis yang diberlakukan oleh yang berwenang.
  4. Prinsip kejelasan tanggung jawab, yaitu bahwa manajemen sarana prasarana pendidikan di sekolah harus di serahkan kepada personel sekolah yang mampu bertanggungjawab. Apabila melibatkan banyak personel sekolah dalam manajemennya maka perlu adanya konsep tugas dan tanggung jawab yang jelas untuk setiap personel sekolah.
  5. Prinsip Kekohesifan, yaitu bahwa manajemen sarana prasarana pendidikan di sekolah harus diwujudkan dalam bentuk proses kerja yang sangat kompak.

 

PENGADAAN SARANA PRASARANA

Dalam pengadaan sarana alat pelajaran yang perlu diperhatikan adalah waktu, yaitu kapan waktu yang tepat untuk membeli alat pelajaran yang dibutuhkan. Waktu sangat berpengaruh terhadap pengadaan alat. Hal ini berkaitan dengan manajemen pembiayaan. Dalam manajemen pembiayaan diketahui bahwa prosedur pengajuan anggaran tidak dapat diajukan sewaktu-waktu melainkan sudah ada ketentuan tersendiri yang mengatur oleh sebab itu perencanaan pengadaan alat pelajaran haruslah terperinci dengan baik menyesuaikan peraturan dalam manajemen pembiayaan.

Untuk mengadakan perencanaan kebutuhan alat pelajaran, berikut tahap-tahap yang terlebih dahulu harus diperhatikan:

  1. Guru-guru bidang studi mengadakan analisis terhadap materi pelajaran yang membutuhkan media dalam penyampaiannya. Dari analisis ini dapat di daftar media apa saja yang dibutuhkan.
  2. Apabila kebutuhan yang diajukan oleh guru-guru ternyata melampaui daya beli atau daya pembuatan, maka diadakan seleksi menurut skala prioritas terhadap alat-alat yang pengadaannya mendesak. Kebutuhan lain dapat dipenuhi di lain kesempatan.
  3. Mengadakan inventarisasi terhadap alat atau media yang telah ada. Alat yang telah ada perlu ditinjau kembali lalu di re-inventarisasi. Alat yang perlu diubah atau diperbaiki disendirikan untuk diserahkan kepada orang yang akan memperbaiki.
  4. Mengadakan seleksi terhadap alat pelajaran atau media yang masih dapat dimanfaatkan dengan baik, baik yang memerlukan reparasi maupun yang tidak.
  5. Mencari dana (bila belum ada). Kegiatan dalam tahap ini adalah mengadakan sebuah perencanaan bagaimana caranya memperoleh dana, baik dari dana rutin maupun dana non rutin. Jika suatu sekolah sudah mengajukan usul kepada pemerintah dan sko-nya sudah keluar, maka prosedur ini tinggal menyelesaikan pengadaan macam alat atau media yang sudah dibutuhkan sesuai dengan besarnya pembiayaan yang disetujui.
  6. Menunjuk seseorang (bagian pembekalan) untuk melaksanakan pengadaan alat. Penunjukan ini sebaiknya mngingat beberapa hal: keahlian, kelincahan berkomunikasi, kejujuran, dan sebagainya dan tidak hanya satu orang.

 

Dalam perencanaan perlengkapan dan perabot sekolah. Depdiknas mengelompokannya menjadi barang-barang yang habis dipakai barang-barang yang tak habis dipakai. Untuk perencanaannya adalah sebagai berikut (Depdiknas,1980):

a)        Barang yang habis dipakai, direncanakan dengan urutan sebagai berikut:

  1. Menyusun daftar perlengkapan yang disesuaikan dengan kebutuhan dari rencana kegiatan sekolah tiap bulan.
  2. Menyusun perkiraan biaya yang diperlukan untuk pengadaan barang tersebut tiap bulan.
  3. Menyusun rencana pengadaan barang tersebut menjadi rencana triwulan dan kemudian menjadi rencana tahunan.

b)    Barang tak habis pakai, direncanakan dengan urutan sebagai berikut:

  1. Menganalisis dan menyusun keperluan perlengkapan sesuai dengan rencana kegiatan sekolah serta memperhatikan perlengkapan yang direncanakan dengan memperhatikan perlengkapan yang masih ada dan masih dapat dipakai.
  2. Memperkirakan biaya perlengkapan yang direncanakan dengan memperhatikan standar yang telah dilakuakan
  3. Menetapkan skala prioritas menurut dan yang tersedia, urgensi kebutuhan dan menyusun rencana pengadaan tahunan.

 

INVENTARISASI, PENGGUNAAN, DAN PEMELIHARAAN SARANA PRASARANA                                                                                                       Bagan1.3

 

Bagan di atas merupakan bagan tentang cara inventarisasi sarana prasarana sekolah. Inventarisasi, penggunaan, dan pemeliharaan sarana prasarana adalah tiga hal yang saling berhubungan. Sebelum sarana prasarana digunakan telah dilakukan inventarisasi begitu pula setelah penggunaan sarana prasarana juga dilakukan inventarisasi sebagai bahan laporan. Laporan tersebut dapat dijadikan gambaran tentang apakah sarana prasarana tersebut terpelihara dengan baik atau tidak. Inventarisasi bisa dilakukan dengan mengelompokkan fasilitas terlebih dahulu ke dalam beberapa kelompok berdasarkan hubungannya dengan proses pembelajaran, yaitu mana yang termasuk berhubungan langsung dengan proses pembelajaran, dan mana yang tidak.

 

Berikut contoh kolom-kolom dalam buku inventaris

Tabel 2.1.

No Nama Alat Ukuran Jumlah Jumlah sekarang ket
1

2

Gelas ukuran

Volume ppi pet

100 cc

10 cc

10 buah

25 buah

8 buah

15 buah

Pecah oleh siswa

Hilang pada waktu pameran

 

Dan berikut salah satu contoh kartu inventarisasi untuk alat.

 

Nama alat        : Gelas Ukuran

Ukuran                        : 100 cc

Harga satuan   : Rp 1.750,-

 

Tabel 3.1.

Tanggal Jumlah Rusak Tambahan Keterangan
5-09-2005 6 buah Dibeli dari Toko Merah
9-09-2005 5 buah 1 buah Dipecahkan siswa kelas II
16-09-2005 8 buah 3 buah Sumbangan dari BP3
20-09-2005 10 buah 2 buah Sumbangan  dari pabrik “alco”

 

Inventarisasi yang dilakukan sebelum sarana digunakan, dilakukan beriringan dengan pemberian identitas pada masing-masing fasilitas yaitu dengan menempelkan nomor kode inventaris tertentu sesuai jenis fasilitas. Selain itu yang harus dan sangat perlu dilakukan setelah proses inventarisasi dan pencatatan ke dalam buku daftar inventaris adalah proses pengadaan  tempat penyimpanan alat-alat atau media berupa ruangan, almari tertutup, almari terbuka serta sekat-sekatnya. Hal ini sangat penting untuk diperhatikan supaya fasilitas tersebut mempunyai tempat permanen untuk berlindung, selain itu memudahkan proses berjalannya inventarisasi baik di awal maupun di akhir.

 

Untuk pemeliharaan prasarana ruang, setiap ruang perlu ditempel hal-hal berikut:

  1. Jadwal pemakaian lokal (jika diberlakukan kelas berjalan).
  2. Daftar petugas piket.
  3. Acara kegiatan, misalnya praktikum, demonstrasi dan lain-lain.
  4. Peraturan yang berhubungan dengan penggunaan alat, misalnya:

a)    Cara mengeluarkan alat dari rak

b)                                                Aturan membersihkan setelah menggunakan

c)    Membuang bekas bahan yang telah digunakan dan lain sebagainya.

  1. Catatan khusus meliputi keterangan- keterangan yang perlu, misalnya:
    1. Preparat di almari A digunakan kelompok A
    2. Kipas angin kiri dan depan jangan dihidupkan karena sulit dimatikan, dan lain-lain

 

Siswa menghabiskan  banyak waktunya di sekolah, karena itu lingkungan sekolah harus dapat menimbulkan kecenderungan  positif bagi siswa-siswanya. Secara fisik sarana prasarana harus menjamin adanya kondisi yang higienis dan secara psikologis dapat menimbulkan minat belajar. Oleh karena itu dalam penempelannya, papan-papan jadwal, daftar petugas piket dan lain sebagainya harus memenuhi syarat keindahan, kebersihan, dan kejelasan sehingga tidak menimbulkan pandangan buruk dari orang yang memandang terutama siswa, melainkan menimbulkan minat belajar siswa. Pandangan yang buruk dapat menyebabkan suasana hati yang buruk yang menghasilkan proses pembelajaran yang tidak optimal. Begitu pula sebaliknya, pandangan yang baik dapat menarik perhatian siswa sehingga minat siswa dalam belajar akan tumbuh seiring rasa bangga terhadap sekolahnya.

 

PENATAAN SARANA PRASARANA

Beberapa teknis yang berkenaan dengan bagaimana menata sarana prasarana pendidikan:

  1. Dalam penataan ruang dan bangunan sekolah, ruang yang dibangun bagi suatu lembaga pendidikan atau sekolah, hendaknya dipertimbangkan hubungan antara satu ruang dengan ruang yang lainnya. Hubungan antara ruang-ruang yang dibutuhkan dengan pengaturan letaknya tergantung kepada kurikulum yang berlaku dan hal ini akan memberikan pengaruh terhadap penyusunan jadwal pelajaran.
  2. Penataan perabot sekolah mencakup pengaturan barang-barang yang dipergunakan oleh sekolah, sehingga menimbulkan kesan kontribusi yang baik pada kegiatan pendidikan. Dalam mengatur perabot sekolah hendaknya diperhatikan macam dan bentuk perabot itu sendiri. Apakah perabot tunggal atau ganda, individual atau klasikal, hal yang harus diperhatikan dalam pengaturan perabot sekolah antara lain:
    1. Perbandingan antara luas lantai dan ukuran perabot yang akan dipakai dalam ruangan tersebut
    2. Kelonggaran jarak dan dinding kiri-kanan
    3. Jarak satu perabot dengan perabot lainnya
    4. Jarak deret perabot (meja-kursi) terdepan dengan papan tulis
    5. Jarak deret perabot (meja-kursi) paling belakang dengan tembok batas
    6. Arah menghadapnya perabot
    7. Kesesuaian dan keseimbangan
    8. Penataan perlengkapan Sekolah

Penataan perlengkapan sekolah mencakup perlengkapan di ruang kepala sekolah, ruang tata usaha, ruang guru, dan kelas, ruang BP, ruang perpustakaan dan sebagainya. Ruang-ruang tersebut perlengkapannya perlu ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan kesan yang baik kepada penyelenggaraan pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dan menimbulkan perasaan betah baik pada guru yang mengajar maupun pada siswa yang sedang belajar.

 

PENGHAPUSAN BARANG

Zaman semakin berkembang, dan sarana prasarana di sekolah turut terkena dampak dari perkembangan tersebut. Sebagai contoh sarana yang berhubungan langsung dengan proses pembelajaran, yaitu boardmarker. Saat ini boardmarkaer lebih banyak digunakan daripada kapur. Hal ini karena boardmarker lebih nyaman digunakan dan lebih praktis. Selain itu bekas tulisan boardmarker dapat dihapus dengan dengan mudah, bersih dan tanpa debu. Tulisan dapat dibaca dan dipahami oleh siswa dengan mudah. Setelah dipertimbangkan sungguh-sungguh, boardmarker memiliki keunggulan lebih dari kapur sehingga secara pelan-pelan kapur akan semakin tidak digunakan atau terhapus. Di sini ada beberapa syarat barang-barang dapat dihapus atau diganti dari daftar inventaris, yaitu:

  1. Dalam keadaan rusak berat yang dipastikan sudah tidak dapat diperbaiki dan dipergunakan lagi.
  2. Kalau dapat diperbaiki, biaya yang dikeluarkan sangat besar atau hampir menyerupai membeli barang baru yang menyebabkan pemborosan uang negara.
  3. Penyusutan diluar kekuasaan pengurus barang misalnya biaya bahan kimia.
  4. Tidak sesuai dengan kebutuhan masa kini, misalnya OHP dihanti dengan LCD/Projector.
  5. Barang-barang yang jika disimpan lama akan rusak dan tidak dapat dipakai lagi.
  6. Ada penurunan efektivitas kerja, misalnya dengan mesin tulis yang baru sebuah konsep dapat diselesaikan dalam waktu 5 hari, sementara dengan mesin tulis yang lama dan hampir rusak sebuah konsep harus diselesaikan dalam waktu 10 hari.
  7. Dicuri, dibakar, diselewengkan, musnah akibat bencana alam dan lain sebagainya.

 

Begitu pula sarana prasarana yang tidak berhubungan langsung dengan proses pembelajaran, yang berasal dari negara juga idak serta-merta dapat dihapus begitu saja melainkan ada tata cara tertentu dalam melakukan penghapusan barang. Tahap-tahap penghapusan/penyingkiran barang tersebut sebagai berikut:

a)        Pemilihan barang yang akan dihapuskan dilakukan setiap tahun bersamaan dengan waktu memperkirakan kebutuhan.

b)        Memperhitungkan faktor-faktor penghapusan di tinjau dari segi nilai uang.

c)        Membuat surat pemberitahuan kepada atasan.

d)       Melaksanakan penghapusan dengan cara mengadakan lelangan, menghibahkan kepada Badan Orang Lain, atau membakar dengan disaksikan oleh atasan.

e)        Membuat berita acara pelaksanaan penghapusan.

 

PENUTUP

Manajemen sarana prasarana pendidikan merupakan suatu proses pengelolaan sarana prasarana di sekolah supaya berfungsi dengan baik sehingga antara guru dan siswa, keduanya dapat saling menjalankan tugasnya dengan baik pula dan tujuan pendidikan dapat tercapai secara optimal. Manajemen sarana prasarana merupakan suatu hal yang sangat penting karena berkaitan dengan proses pembelajaran. Sukses tidaknya suatu pembelajaran tergantung bagaimana warga sekolah memanajemen kekayaan yang dimiliki. Memahami tentang manajemen sarana prasarana dengan baik dapat membantu menambah wawasan tentang bagaimana melakukan manajemen sarana prasarana mulai dari merencanakan hingga mengevaluasi. Dalam pelaksanaan manajemen sarana prasarana siswa seharusnya diajak berperan aktif dalam pendayagunaan sarana prasarana di sekolah. Selain untuk mewujudkan pengelolaan sarana prasarana yang baik hal ini juga berfungsi untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab siswa dalam kehidupan sekolah. Dengan adanya kerajasama yang kompak antara kepala sekolah, guru dan juga siswa, manajemen sarana prasarana dapat berjalan dengan baik, selain itu pemborosan dan hal-hal lain yang tidak diharapkan misalnya, adanya sarana yang rusak sementara seharusnya masih memiliki masa pakai yang lama, dapat dicegah.

 

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi dan Lia Yuliana. 2008. Manajemen Pendidikan. Yogyakarta: Aditya Media.

 

Burhanuddin, Afid. 2013. “Manajemen Sarana Prasarana Pendidikan”, https://afidburhanuddin.wordpress.com/perkuliahan/manajemen-pendidikan/.  Diakses pada tanggal 23 Desember 2013.

 

___________________. 2013. “Pengelolaan Sarana dan Prasarana Pendidikan”, https://afidburhanuddin.wordpress.com/2013/11/15/pengelolaan-sarana-dan-prasarana-pendidikan. Diakses pada tanggal 5 Januari 2014.

 

Depdiknas. 2006. Peraturan Pemerintah Ri. No. 30 Tahun 1980: Peraturan Disiplin Pns. Jakarta: Depdiknas

 

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Standar Sarana Dan Prasarana Untuk Sekolah Dasar/Madrasah  Ibtidaiyah  (Sd/Mi), Sekolah Menengah Pertama/Madrasah Tsanawiyah (Smp/Mts), Dan Sekolah  Menengah  Atas/Madrasah Aliyah (Sma/Ma), http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=5&ved=0CEgQFjAE&url=http%3A%2F%2Fwww.pendidikan-diy.go.id%2Ffile%2Fmendiknas%2F24.pdf&ei=f9PAUoeQFMmSrgfGp4DoAg&usg=AFQjCNEecQiI6JmjrFkfW_m6TCk5k_KO8g&bvm=bv.58187178,d.bmk. Diakses pada tanggal 30 Desember 2013.

 

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 49 Tahun 2007 Tentang Standar Pengelolaan Pendidikan Oleh Satuan Pendidikan Nonformal, http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=3&ved=0CDgQFjAC&url=http%3A%2F%2Fwww.paudni.kemdikbud.go.id%2Fwp-content%2Fuploads%2F2012%2F08%2FPermen-49-2007-ttg-standar-pengelolaan-pendidikan-oleh-satuan-PNF.pdf&ei=f9PAUoeQFMmSrgfGp4DoAg&usg=AFQjCNGG8LlVO4yQCGUVSH4q65fMViBGdA&bvm=bv.58187178,d.bmk. Diakses pada tanggal 30 Desember 2013.

 

 

 

Disusun oleh:

*) Santi Ika Rahayu, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris kelas B. Makalah disusun guna memenuhi  sebagian  tugas  individu  pada  mata  kuliah  Manajemen  Pendidikan  tahun  akademik  2013/2014  dengan  dosen  pengampu  Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

 

 

 

Iklan

3 thoughts on “Konsep Dasar Pengelolaan Sarana Prasarana Pendidikan”

  1. sangat bagus untuk Pengetahuan bagi wakil kepala dibidang sarana prasarana untuk dilaksanakan di Sekolah/Madrasah dan juga warga Sekolah/Madrasah adalah hendaknya pemantauan dan evaluasi serta laporan dari Kepala sekolah/Madrasah sebagai leadership Manajement…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s