Teknik Komunikasi Pendidikan

Dewasa ini istilah komunikasi sepertinya telah menjalar di segala sendi kehidupan . Komunikasi adalah suatu proses penyampaian berita dari suatu sumber berita kepada orang lain (Suharsimi Arikunto, 2008).  Komunikasi menjadi bagian yang terintegrasi  dan seolah tak bisa dipisahkan begitu saja di dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini wajar mengingat hakikat manusia sendiri merupakan makhluk sosial yang dimana dalam kehidupannya selalu berhubungan dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Komunikasi pendidikan atau sering disebut dengan humas pendidikan, dalam hal ini tentu saja pengertiannya berbeda.

Humas pendidikan menekankan hubungan sedangkan komunikasi lebih menekankan kepada bentuk hubungan penyampaian informasi.  Bentuk komunikasi yang dilakukan bervariasi mulai dari komuniksi verbal maupun non verbal. Dalam menjalin sebuah komunikasi tentunya diperlukan adanya sebuah teknik-teknik tertentu , hal ini dimaksudkan agar di dalam proses komunikasi yang tengah berlangsung nantinya tidak terjadi kesalahpahaman (miss-understanding) antara si pengirim pesan dan si penerima pesan.

Begitu halnya dalam bidang pendidikan. Dalam bidang pendidikan komunikasi memegang peranan yang sangat penting sekali. Bisa dibayangkan sebuah lembaga atau institusi pendidikan yang tidak bisa menerapkan komunikasi yang baik maka akan mustahil akan dicapai hasil atau output yang maksimal. Komunikasi mempunyai fungsi sebagai penyampai pesan berupa  ilmu pengetahuan,teknologi maupun strategi untuk memecahkan sebuah permasalahan. Dalam prakteknya komunikasi yang dilakukan tidak selalu berjalan lancar, hal ini dikarenakan kemampuan tiap orang untuk  menerima dan memahami isi pesan tidak sama.  Hal inilah yang melatarbelakangi penulis untuk membahas dan  mengkaji hal ini  lebih dalam.

 

Pengertian Komunikasi

Begitu banyaknya pakar dan sarjana yang mendefinisikan komunikasi itu sendiri, maka akan membingungkan kita dalam memaknai komunikasi itu yang sebenarnya. Ada baiknya kita memahami hakikat komunikasi antar manusia yang sebenarnya. Istilah komunikasi pertama kali lahir dari bahasa latin Communis yang artinya membuat kebersamaan atau membangun kebersamaan antar dua orang atau lebih. Maka lahirlah beberapa definisi dari pakar antara lain: D. Lawrences Kincaid (1981) yang melahirkan definisi baru yang menyatakan bahwa, Komunikasi adalah suatu proses dimana dua orang atau lebih membentuk atau melakukan pertukaran informasi dengan satu sama lainnya, yang pada gilirannya akan tiba pada saling pengertian yang mendalam”. Sementara itu, ada definisi lain mengenai komunikasi misalnya pendapat  Dance (1967) mendefinisikan komunikasi dalam kerangka kerja psikologi perilaku manusia yang luas melalui pendefinisian komunikasi manusia sebagai “ pengungkapan respon melalui simbol-simbol verbal”, dimana simbol-simbol verbal itu bertindak sebagai perangsang (stimuli) bagi respon yang terungkap tadi. Pakar komunikasi lain, Edwin Newman pun (1948) telah juga mendefinisikan komunikasi sebagai “ suatu proses ketika sejumlah orang diubah menjadi kelompok yang berfungsi”.

Setelah mengkaji definisi beberapa pendapat para ahli diatas,setidaknya dapat kita tarik benang merah bahwa komunikasi merupakan sebuah proses komunikasi yang dilakukan oleh dua manusia atau lebih yang terjadi secara dua arah. Komunikasi yang demikian dinamakan komunikasi interaksi. Jika interaksi tersebut dikaitkan dengan pencapaian tujuan pembelajaran, maka dinamakan interaksi educative. Sehingga dapat ditarik kesimpulan, komunikasi pendidikan adalah komunikasi yang terjadi dalam suasana pendidikan. Di sini komunikasi tidak lagi bebas, tetapi dikendalikan dan dikondisikan untuk tujuan-tujuan pendidikan.

Proses Komunikasi Intern dan Ekstern dalam Humas Pendidikan

Apabila sekolah dipandang sebagai suatu organisasi maka bentuk ataupun pola komunikasi yang terjadi dibedakan menjadi dua bentuk yakni: Komunikasi internal dan komunikasi eksternal.

1.Komunikasi internal adalah komunikasi yang terjadi di dalam sekolah yakni:

  • Antara kepala sekolah dengan guru
  • Antara kepala sekolah dengan siswa
  • Antara kepala sekolah dengan Tata Usaha
  • Antara guru dengan guru
  • Antara guru dengan guru
  • Antara Guru dengan Siswa
  • Antara Guru dengan Tata Usaha
  • Antara Siswa dengan Tata Usaha

 

2. Komunikasi Eksternal adalah bentuk komunikasi yang terjadi antara sekolah dengan masyarakat yakni orang tua atau wali murid, pemerintah setempat dan masyarakat pada umumnya.

Dalam bagan pertama menunjukkan proses komunikasi dalam humas pendidikan yang terjadi antara berbagai elemen pendidikan yang sifatnya kedinasan,resmi dan formal dan ada juga pola yang tidak resmi. Dalam pola hubungan resmi terjadi antara sekolah dengan Kanwil Depdikbud maupun Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Pusat disebut dengan hubungan komunikasi vertikal (jalur menegak). Sementara pola hubungan yang semi-resmi terjadi antara sekolah dengan masyarakat dalam hal ini termasuk wali murid. Ditinjau dari arah proses komunikasinya maka dapat dibedakan menjadi:

a)     Komunikasi ke atas, yaitu komunikasi yang dilakukan oleh lembaga dibawahkan oleh lembaga yang dituju. Isi komunikasi dapat berupa: laporan, informasi, keluhan dan saran.

b)      Komunikasi ke bawah, yaitu komunikasi yang diberikan oleh atasan kepada bawahan dalam jalur organisasi. Komunikasi ke bawah terjadi:

  • Dari Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kepada Instansi di Daerah, yaitu kanwil Depdikbud.
  • Dari kepala Kanwil ke Kepala Bidang.
  • Dari Kepala sekolah kepada guru-guru, tata usaha dan siswa.

 

TEKNIK KOMUNIKASI EFEKTIF DALAM HUMAS PENDIDIKAN

Dalam hal penyampaian sebuah informasi dalam komunikasi, dalam hal ini tentu saja adalah komunikasi pendidikan atau yang biasa disebut dengan humas pendidikan terkadang sering dijumpai kesalahpahaman dalam memahami maksud dan isi sebuah pesan ataupun informasi. Hal ini dikarenakan berbagai faktor diantaranya:  latar belakang budaya dan tingkat pendidikan seseorang. Interpretasi suatu pesan akan terbentuk dari pola pikir seseorang melalui kebiasaannya, sehingga semakin sama latar belakang budaya dan tingkat pendidikan seseorang  antara komunikator dengan komunikan maka komunikasi semakin efektif. Oleh karena itu, untuk mengefektifkan proses komunikasi maka diperlukan berbagai macam model dan media komunikasi yang beragam guna menghadapi berbagai macam karakteristik orang yang berbeda di dalam sebuah proses komunikasi dalam dunia pendidikan. Hal ini sangat penting dilakukan mengingat kemampuan setiap orang dalam menyerap pesan dari sebuah informasi yang  berbeda-beda.

Dari berbagai macam model komunikasi yang efektif, setidaknya ada tiga jenis model komunikasi yang utama. Pertama, model komunikasi linier, Model komunikasi ini dikemukakan oleh Claude  Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949 dalam buku The Mathematical of Communication. Model linear berasumsi bahwa seseorang hanyalah pengirim atau penerima Tentu saja hal ini merupakan pandangan yang sangat sempit terhadap partisipan-partisipan dalam proses komunikasi. Suatu konsep penting dalam model ini adalah gangguan (noise), yakni setiap rangsangan tambahan dan tidak dikehendaki yang dapat mengganggu kecermatan pesan yang disampaikan. Gangguan ini selalu ada dalam saluran bersama sebuah pesan yang diterima oleh penerima. Hal ini biasanya terjadi pada komunikasi internal antara kepala sekolah dengan para bawahannya meliputi guru, siswa, TU dan komite sekolah. Komunikasi yang dilakukan melalui telepon seringkali mengalami gangguan, misalnya sinyal yang kurang baik di lokasi si penerima pesan sehingga mengakibatkan penyampaian pesan dari komunikator kepada komunikan tidak dapat berjalan dengan optimal dan mengakibatkan miss-understanding of communication.

Kedua, Model interaksional dikembangkan oleh Wilbur Schramm pada tahun 1954 yang menekankan pada proses komunikasi dua arah di antara para komunikator.Dengan kata lain, komunikasi berlangsung dua arah: dari pengirim dan kepada penerima dan dari penerima kepada pengirim. Proses melingkar ini menunjukkan bahwa komunikasi selalu berlangsung.Para peserta komunikasi menurut model interaksional adalah orang-orang yang mengembangkan potensi manusiawinya melalui interaksi sosial, tepatnya melalui pengambilan peran orang lain. Ketiga, Model komunikasi transaksional dikembangkan oleh Barnlund pada tahun 1970. Model ini menggarisbawahi pengiriman dan penerimaan pesan yang berlangsung secara terus-menerus dalam sebuah episode komunikasi. Komunikasi bersifat transaksional adalah proses kooperatif: pengirim dan penerima sama-sama bertanggungjawab terhadap dampak dan efektivitas komunikasi yang terjadi. Model transaksional berasumsi bahwa saat kita terus-menerus mengirimkan dan menerima pesan, kita berurusan baik dengan elemen verbal dan nonverbal. Dengan kata lain, peserta komunikasi (komunikator) melakukan proses negosiasi makna. Contoh manifes  dari model komunikasi transaksional adalah ketika kepala sekolah bermusyawarah dalam sebuah rapat komite beserta para guru dan wali murid. Disana sering dijumpai adanya wali murid yang melakukan interupsi ditengah rapat komite yang sedang berlangsung. Hal ini mengindikasikan adanya partisipasi aktif antara wali murid dengan pihak sekolah dalam hal ini tentu saja kepala sekolah, guru, dan komite sekolah.

Selain model komunikasi seperti diatas, media turut memegang peranan yang amat penting dalam keefektifan sebuah proses komunikasi. Media terbagi menjadi dua, yaitu media langsung dan media tidak langsung.

a)     Media langsung

Yang tergolong ke dalam media langsung ini adalah:

1)     Rapat-rapat formal yang diselenggarakan sekolah dengan mengundang orang tua siswa dan tokoh-tokoh masyarakat. Dalam rapat ini disampaikan program sekolah dalam upaya peningkatan kegiatan dan mutu pendidikan.

2)     Pekan Pendidikan

Pada saat ini sekolah menampilkan prestasi dan kreasi para siswa sebagai sarana promosi sekolah.

3)     Hari ulang tahun sekolah

Pada peringatan HUT sekolah ini, hubungan kerjasama antara sekolah dengan orang tua, alumni dan masyarakat juga dapat digalang melalui acara yang melibatkan semua pihak.

4)     Karyawisata

Widyawisata gerak jalan atau sepeda santai bersama dan lain-lain.

5)     Kunjungan rumah(visit home)

Hal ini dilakukan untuk mengetahui lebih jauh tentang situasi rumah anak didik tertentu. Dengan demikian,diharapkan bukan hanya guru sebagaiorang tua kedua disekolah tetapi orangtua kedua di rumah.

b)     Media Tidak Langsung

Yang dimaksud media tidak langsung disini adalah media tanpa tatap muka.

Sekolah mengadakan hubungan dengan masyrakat melalui:

1)     Media cetak berupa: Buletin atau majalah sekolah, koran, brosur, booklet atau leaflet.

2)     Media elektronika: telepon, siaran radio, dan televisi, video, kaset, slide dan komputer.

 

HAMBATAN DALAM KOMUNIKASI PENDIDIKAN

Subjek gangguan dalam hal ini  (noise) adalah sesuatu yang paling membatasi efektifitas penyampaian pesan. Ada dua jenis gangguan utama dalam komunikasi, yaitu gangguan semantik dan saluran. Hasil dari gangguan itu sama yakni menyusutkan arti saat terjadi penyampaian pesan.

  1. Gangguan saluran (channel noise). Gangguan jenis ini meliputi setiap gangguan yang memepengaruhi kehandalan fisik penyampaian pesan. Bisa diartikan pula sebagai segala hambatan yang terjadi diantara sumber dan audience. Misalnya, seseorang berbicara dalam sebuah ruangan ditengah pembicaraan lainnya, suara pintu tertutup, dan gangguan lain seperti itu yang dapat menghalangi penyampaian informasi.
  2. Gangguan semantik. Gangguan jenis ini terjadi karena salah menafsirkan pesan. Dalam setiap jenis kegiatan komunikasi sering terjadi kesenjangan atau ketidaksesuaian antara kode yang digunakan oleh pengirim dengan yang dipahami oleh penerima kendati pesan yang diterima sama seperti ketika dikirimkan.

 

Sumber gangguan semantik sebagai berikut:

  • Kata-kata terlalu sukar , masalahnya terlalu sukar dimengerti oleh penerima.
  • Perbedaan dalam memberikan arti denotatif pada kata-kata yang digunakan antara pengirim dan penerima pesan, yakni penerima pesan berpikir bahwa kata yang dimaksud menunjukkan pada sesuatu yang berbeda dengan yang dimaksud oleh pengirimnya.
  • Pola kalimat yang membingungkan penerima pesan.
  • Perbedaan budaya antara pengirim dan penerima pesan, yakni intonasi, gerak mata, tangan, atau bagian badan lainnya.

 

Menurut Ron Ludlow & Fergus Panton, hambatan-hambatan yang menyebabkan komunikasi tidak efektif yaitu:

  • Status effect

Adanya perbedaaan pengaruh status sosial yang dimiliki setiap manusia. Misalnya karyawan dengan status sosial yang lebih rendah harus tunduk dan patuh pada semua perintah yang diberikan atasan. Maka karyawan tersebut tidak dapat atau takut mengemukakan aspirasi atau pendapatnya.

  • Semantic Problems

Faktor semantik menyangkut bahasa yang dipergunakan komunikator sebagai alat untuk menyalurkan pikiran dan perasaannya kepada komunikan. Demi kelancaran komunikasi, seorang komunikator harus benar-benar memperhatikan gangguan sematis ini, sebab kesalahan pengucapan atau kesalahan dalam penulisan dapat menimbulkan salah pengertian (misunderstanding) atau penafsiran (misinterpretation) yang pada gilirannya bisa menimbulkan salah komunikasi (miscommunication). Misalnya kesalahan pengucapan bahasa dan salah penafsiran seperti contoh : pengucapan demonstrasi menjadi demokrasi, kedelai menjadi keledai, dan lain-lain.

  • Perceptual distorsion

Perceptual distorsion dapat disebabkan karena perbedaan cara pandang yang sempit pada diri sendiri dan perbedaaan cara berpikir serta cara mengerti yang sempit terhadap orang lain. Sehingga dalam komunikasi terjadi perbedaan persepsi dan wawasan atau cara pandang antara satu dengan yang lainnya.

  • Cultural Differences

Hambatan yang terjadi karena disebabkan adanya perbedaan kebudayaan, agama, dan lingkungan sosial. Dalam suatu organisasi terdapat beberapa suku, ras, dan bahasa yang berbeda. Sehingga ada beberapa kata-kata yang memiliki arti berbeda di tiap suku. Seperti contoh : kata “jangan” dalam bahasa Indonesia artinya tidak boleh, tetapi orang suku Jawa mengartikan kata tersebut sebagai suatu jenis makanan berupa sup.

  •  Physical Distractions

Hambatan ini disebabkan oleh gangguan lingkungan fisik terhadap proses berlangsungnya komunikasi. Contohnya : suara riuh orang-orang atau kebisingan, suara hujan atau petir, dan cahaya yang kurang jelas.

  •  Poor choice of communication channels

Adalah gangguan yang disebabkan pada media yang dipergunakan dalam melancarkan komunikasi. Contoh dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: sambungan telepon yang terputus-putus, suara radio yang hilang dan muncul, gambar yang kabur pada pesawat televisi, atau huruf ketikan yang buram pada surat, sehingga informasi tidak dapat ditangkap dan dimengerti dengan jelas.

  •  No Feed back

Hambatan tersebut adalah ketika seorang sender mengirimkan pesan kepada receiver tetapi tidak ada respon dan tanggapan dari receiver . Maka yang terjadi adalah komunikasi satu arah yang sia-sia. Seperti contoh : seorang manajer menerangkan suatu gagasan yang ditujukan kepada para karyawan. Dalam penerapan gagasan tersebut para karyawan tidak memberikan tanggapan atau respon. Dengan kata lain tidak peduli dengan gagasan yang disampaikan seorang manajer.

 

KESIMPULAN

Komunikasi merupakan sebuah proses komunikasi yang dilakukan oleh dua manusia atau lebih yang terjadi secara dua arah. Jenis komunikasi ada dua yaitu ekstern (komunikasi kepala sekolah dengan pihak diluar lingkungan sekolah) dan intern (komunikasi dengan pihak yang ada di dalam sekolah).

Teknik komunikasi yang efektif dalam humas pendidikan dapat memanfaatkan media langsung(melalui rapat formal, pekan pendidikan, HUT sekolah, karya wisata, visit home), serta media tidak langsung seperti: televisi, komputer, telepon, dan buletin.  Hambatan yang muncul dalam komunikasi pendidikan antara lain:

a. Hambatan dalam proses komunikasi

b.   Hambatan fisik

c.    Hambatan semantik

d.   Hambatan psikologis

 

DAFTAR RUJUKAN

Uchyana Effendy,Onong, Prof. Drs. MA, 2006, Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

http://manajemenkomunikasi.blogspot.com/2009/12/hambatan-komunikasi.html, diakses pada 05 Desemberber 2013, pkl. 10.40.

Arikunto, Suharsini,Prof.Drs.(2008).Manajemen Pendidikan.Yogyakarta:Aditya Media

 

______________________________

*) Wiwid Nurrokhimah, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa Inggris. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Manajemen Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s