Pengelolaan Bimbingan Konseling Siswa

Bimbingan pada prinsipnya adalah proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh orang yang ahli sumber kepada seorang atau beberapa orang individu dalam hal memahami diri sendiri, menghubungkan pemahaman tentang dirinya sendiri dengan lingkungan, memilih, menentukan dan menyusun rencana sesuai dengan konsep dirinya dan tuntutan lingkungan berdasarkan norma-norma yang berlaku. Konseling adalah usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar klien dapat mengambil tanggung jawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus. Dengan kata lain, teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli/klien.

Pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah dari tingakat satuan pendidikan sekolah dasar hingga perguruan tinggi dewasa ini semakin dibutuhkan. Seiring dengan pesatnya ilmu pengrtahuan dan teknologi, berbagai persoalan pun muncul dengan segala kompleksitasnya. Dunia pendidikan tampaknya belum sepenuhnya mampu menjawab berbagai persoalan akibat perkembangan IPTEK, indikasinya dalah muculnya berbagai penyimpangan perilaku dikalangan peserta didik yang seyogyanya tidak dilakukan oleh seorang atau orang-orang yang disebut terdidik. Selain itu potensi (Fitrah) siswa sebagai individu seperti bakat, minat, cita-cita, dan lain sebagainya belum terkembangkan dan tersalurkan secara optimal melalui proses pendidikan dan pembelajaran di dalam kelas. Guna memecahkan persolalan-persoalan diatas, proses pembelajaran dan pendidikan perlu bersinergi dengan pelayanan bimbingan dan konseling. Optimalisasi pelayanan bimbingan dan konseling, di sekolah dan madrasah perlu dilakukan sehingga pelayanan bimbingan dan konseling disekolah dan di madrasah benar-benar memberikan kontribusi pada pencapaian visi, misi dan tujuan sekaolah dan madrasah yang bersangkutan. Optimalisasi pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah dan madrasah perlu didukung oleah daya manusia (pertugas pelayanan BK) yang memadai; dalam arti memiliki pengetahuan dan wawasan tentang bimbingan dan koseling.

 

KONSEP DAN STRATEGI LAYANAN BIMBINGAN DAN KONSELING

 

  1. A.    Konsep Layanan Bimbingan dan Konseling

Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor adalah guru yag mempunyai tugas, tanggung jawab, wewenang, dan hak secara penuh dalam kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling terhadap sejumlah siswa.

Layanan bimbingan dan konseling adalah kegiatan Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dalam menyusun rencana pelayanan bimbingan dan konseling, melaksanakan pelayanan bimbingan dan konseling, mengevaluasi proses dan hasil pelayanan bimbingan dan konseling serta melakukan perbaikan tindak lanjut memanfaatkan hasil evaluasi.

 

  1. B.     Komponen Layanan Bimbingan dan Konseling

Pedoman bimbingan dan konseling mencakup komponen-komponen berikut ini.

  1. 1.      Jenis Layanan meliputi :
    1. Layanan Orientasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik memahami lingkungan baru, seperti lingkungan satuan pendidikan bagi siswa baru, dan obyek-obyek yang perlu dipelajari, untuk menyesuaikan diri serta mempermudah dan memperlancar peran di lingkungan baru yang efektif dan berkarakter.
    2. Layanan Informasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik menerima dan memahami berbagai informasi diri, sosial, belajar, karir/ jabatan, dan pendidikan lanjutan secara terarah, objektif dan bijak.
    3. Layanan Penempatan dan Penyaluran yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik memperoleh penempatan dan penyaluran yang tepat di dalam kelas, kelompok belajar, peminatan/lintas minat/pendalaman minat, program latihan, magang, dan kegiatan ekstrakurikuler secara terarah, objektif dan bijak.
    4. Layanan Penguasaan Konten yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik menguasai konten tertentu, terutama kompetensi dan atau kebiasaan dalam melakukan, berbuat atau mengerjakan sesuatu yang berguna dalam kehidupan di sekolah/madrasah, keluarga, dan masyarakat sesuai dengan tuntutan kemajuan dan berkarakter-cerdas yang terpuji, sesuai dengan potensi dan peminatan dirinya.
    5. Layanan Konseling Perseorangan yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik dalam mengentaskan masalah pribadinya melalui prosedur perseorangan.
    6. Layanan Bimbingan Kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan hubungan sosial, kegiatan belajar, karir/jabatan, dan pengambilan keputusan, serta melakukan kegiatan tertentu sesuai dengan tuntutan karakter yang terpuji melalui dinamika kelompok.
    7. Layanan Konseling Kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik dalam pembahasan dan pengentasan masalah yang dialami sesuai dengan tuntutan karakter-cerdas yang terpuji melalui dinamika kelompok.
    8. Layanan Konsultasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik dan atau pihak lain dalam memperoleh wawasan, pemahaman, dan cara-cara dan atau perlakuan yang perlu dilaksanakan kepada pihak ketiga sesuai dengan tuntutan karakter-cerdas yang terpuji.
    9. Layanan Mediasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik dalam menyelesaikan permasalahan dan memperbaiki hubungan dengan pihak lain sesuai dengan tuntutan karakter-cerdas yang terpuji.
    10. Layanan Advokasi yaitu layanan bimbingan dan konseling yang membantu peserta didik untuk memperoleh kembali hak-hak dirinya yang tidak diperhatikan dan/atau mendapat perlakuan yang salah sesuai dengan tuntutan karakter-cerdas yang terpuji.
  2. 2.      Kegiatan Pendukung Layanan meliputi:
    1. Aplikasi Instrumentasi yaitu kegiatan mengumpulkan data tentang diri siswa dan lingkungannya, melalui aplikasi berbagai instrumen, baik tes maupun non-tes.
    2. Himpunan Data yaitu kegiatan menghimpun data yang relevan dengan pengembangan peserta didik, yang diselenggarakan secara berkelanjutan, sistematis, komprehensif, terpadu, dan bersifat rahasia.
    3. Konferensi Kasus yaitu kegiatan membahas permasalahan peserta didik dalam pertemuan khusus yang dihadiri oleh pihak-pihak yang dapat memberikan data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan, yang bersifat terbatas dan tertutup.
    4. Kunjungan Rumah yaitu kegiatan memperoleh data, kemudahan dan komitmen bagi terentaskannya masalah peserta didik melalui pertemuan dengan orang tua dan atau anggota keluarganya.
    5. Tampilan Kepustakaan yaitu kegiatan menyediakan berbagai bahan pustaka yang dapat digunakan peserta didik dalam pengembangan pribadi, kemampuan sosial, kegiatan belajar, dan karir/ jabatan.
    6. Alih Tangan Kasus yaitu kegiatan untuk memin-dahkan penanganan masalah peserta didik ke pihak lain sesuai keahlian dan kewenangan ahli yang dimaksud.

 

  1. 3.      Format Layanan meliputi:
    1. Individual yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani peserta didik secara perorangan.
    2. Kelompok yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani sejumlah peserta didik melalui suasana dinamika kelompok.
    3. Klasikal yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani sejumlah peserta didik dalam satu kelas rombongan belajar.
    4. Lapangan yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani seorang atau sejumlah peserta didik melalui kegiatan di luar kelas atau lapangan.
    5. Pendekatan Khusus/Kolaboratif yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani kepentingan peserta didik melalui pendekatan kepada pihak-pihak yang dapat memberikan kemudahan.
    6. Jarak Jauh yaitu format kegiatan bimbingan dan konseling yang melayani kepentingan siswa melalui media dan/ atau saluran jarak jauh, seperti surat dan sarana elektronik.

 

  1. C.    Strategi Layanan Bimbingan dan Konseling
  2. 1.      Program Layanan

Dari segi unit waktu sepanjang tahun ajaran pada satuan pendidikan, ada lima jenis program layanan yang disusun dan diselenggarakan dalam pelayanan bimbingan dan konseling, yaitu sebagai berikut :

  1. Program Tahunan yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu tahun ajaran untuk masing-masing kelas rombongan belajar pada satuan pendidikan.
  2. Program Semesteran yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu semester yang merupakan jabaran program tahunan.
  3. Program Bulanan yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu bulan yang merupakan jabaran program semesteran.
  4. Program Mingguan yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling meliputi seluruh kegiatan selama satu minggu yang merupakan jabaran program bulanan.
  5. Program Harian yaitu program pelayanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan pada hari-hari tertentu dalam satu minggu. Program harian merupakan jabaran dari program mingguan dalam bentuk Satuan Layanan atau Rencana Program Layanan dan/atau Satuan Kegiatan Pendukung atau Rencana Kegiatan Pendukung pelayanan bimbingan dan konseling.
  6. 2.      Penyelenggaraan Layanan

Sebagai pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling, Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor bertugas dan berkewajiban menyelenggarakan layanan yang mengarah pada (1) pelayanan dasar, (2) pelayanan pengembangan, (3) pelayanan peminatan studi, (4) pelayanan terapeutik, dan (5) pelayanan diperluas.

  1. Pelayanan Dasar, yaitu pelayanan mengarah kepada terpenuhinya kebutuhan siswa yang paling elementer, yaitu kebutuhan makan dan minum, udara segar, dan kesehatan, serta kebutuhan hubungan sosio-emosional. Orang tua, guru dan orang-orang yang dekat (significant persons) memiliki peranan paling dominan dalam pemenuhan kebutuhan dasar siswa. Dalam hal ini, Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor pada umumnya berperan secara tidak langsung dan mendorong para significant persons berperan optimal dalam memenuhi kebutuhan paling elementer siswa.
  2. Pelayanan Pengembangan, yaitu pelayanan untuk mengembangkan potensi peserta didik sesuai dengan tahap-tahap dan tugas-tugas perkem-bangannya. Dengan pelayanan pengembangan yang cukup baik siswa akan dapat menjalani kehidupan dan perkembangan dirinya dengan wajar, tanpa beban yang memberatkan, memperoleh penyaluran bagi pengembangan potensi yang dimiliki secara optimal, serta menatap masa depan dengan cerah. Upaya pendidikan pada umumnya merupakan pelaksanaan pelayanan pengembangan bagi peserta didik. Pada satuan-satuan pendidikan, para pendidik dan tenaga kependidikan memiliki peran dominan dalam penyelenggaraan pengembangan terhadap siswa. Dalam hal ini, pelayanan bimbingan dan konseling yang dilaksanakan oleh Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor selalu diarahkan dan mengacu kepada tahap dan tugas perkembangan siswa.
  3. Pelayanan Arah Peminatan/Lintas Minat/Pendalaman Minat Studi Siswa, yaitu pelayanan yang secara khusus tertuju kepada peminatan/lintas minat/pendalaman minat peserta didik sesuai dengan konstruk dan isi kurikulum yang ada. Arah peminatan/lintas minat/pendalaman minat ini terkait dengan bidang bimbingan pribadi, sosial, belajar, dan karir dengan menggunakan segenap perangkat (jenis layanan dan kegiatan pendukung) yang ada dalam pelayanan Bimbingan dan Konseling. Pelayanan peminatan/lintas minat/pendalaman minat peserta didik ini terkait pula dengan aspek-aspek pelayanan pengembangan tersebut di atas.
  4. Pelayanan Teraputik, yaitu pelayanan untuk menangani pemasalahan yang diakibatkan oleh gangguan terhadap pelayanan dasar dan pelayanan pengembangan, serta pelayanan pemi natan. Permasalahan tersebut dapat terkait dengan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kehidupan keluarga, kegiatan belajar, karir. Dalam upaya menangani permasalahan peserta didik, Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor memiliki peran dominan. Peran pelayanan teraputik oleh Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dapat menjangkau aspek-aspek pelayanan dasar, pelayanan pengembangan, dan pelayanan peminatan.
  5. Pelayanan Diperluas, yaitu pelayanan dengan sasaran di luar diri siswa pada satuan pendidikan, seperti personil satuan pendidikan, orang tua, dan warga masyarakat lainnya yang semuanya itu terkait dengan kehidupan satuan pendidikan dengan arah pokok terselenggaranya dan suskesnya tugas utama satuan pendidikan, proses pembelajaran, optimalisasi pengembangan potensi peserta didik. Pelayanan diperluas ini dapat terkait secara langsung ataupun tidak langsung dengan kegiatan pelayanan dasar, pengembangan peminatan, dan pelayanan teraputik tersebut di atas.

 

  1. 3.      Waktu dan Posisi Pelaksanaan Layanan
    1. Semua kegiatan mingguan (kegitan layanan dan/atau pendukung bimbingan dan konseling) diselenggarakan di dalam kelas (sewaktu jam pembelajaran berlangsung) dan/atau di luar kelas (di luar jam pembelajaran)

1)      Di dalam jam pembelajaran:

a)      Kegiatan tatap muka dilaksanakan secara klasikal dengan rombongan belajar siswa dalam tiap kelas untuk menyelenggarakan layanan informasi, penempatan dan penyaluran, penguasaan konten, kegiatan instrumentasi, serta layanan/kegiatan lain yang dapat dilakukan di dalam kelas.

b)      Volume kegiatan tatap muka klasikal adalah 2 (dua) jam per kelas (rombongan belajar per minggu dan dilaksanakan secara terjadwal.

c)      Kegiatan tatap muka nonklasikal diselenggarakan dalam bentuk layanan konsultasi, kegiatan konferensi kasus, himpunan data, kunjungan rumah, tampilan kepustakaan, dan alih tangan kasus.

2)      Di luar jam pembelajaran:

a)       Kegiatan tatap muka nonklasikal dengan siswa dilaksanakan untuk layanan orientasi, konseling perorangan, bimbingan kelompok, konseling kelompok, mediasi, dan advokasi serta kegiatan lainnya yang dapat dilaksanakan di luar kelas.

b)       Satu kali kegiatan layanan/pendukung bimbingan dan konseling di luar kelas/di luar jam pembelajaran ekuivalen dengan 2 (dua) jam pembelajaran tatap muka dalam kelas.

c)       Kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di luar jam pembelajaran satuan pendidikan maksimum 50% dari seluruh kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling, diketahui dan dilaporkan kepada pimpinan satuan pendidikan.

d)      Program pelayanan bimbingan dan konseling pada masing-masing satuan pendidikan dikelola oleh Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dengan memperhatikan keseimbangan dan kesinambungan program antarkelas dan antarjenjang kelas, dan mensinkronisasikan program pelayanan bimbingan dan konseling dengan kegiatan pembelajaran mata pelajaran dan kegiatan ekstra kurikuler dengan mengefektifkan dan mengefisienkan penggunaan fasilitas satuan pendidikan.

 

  1. D.    Pihak Yang Terlibat

Pelaksana utama pelayanan bimbingan dan konseling adalah Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor. Penyelenggara pelayanan bimbingan dan konseling di SD/MI/SDLB adalah Guru Kelas. Penyelenggara pelayanan bimbingan dan konseling di SMP/MTs, SMA/MA, SMK/MAK adalah Guru Bimbingan dan Konseling.

  1. 1.      Pelaksana Pelayanan bimbingan dan konseling pada SD/MI/SDLB
    1. Guru Kelas sebagai pelaksana pelayanan bimbingan dan konseling di SD/ MI/SDLB melaksanakan layanan orientasi, informasi, penempatan dan penyaluran, dan penguasaan konten dengan cara menginfusikan materi layanan bimbingan dan konseling tersebut ke dalam pembelajaran mata pelajaran. Untuk siswa Kelas IV, V, dan VI dapat diselenggarakan layanan bimbingan dan konseling perorangan, bimbingan kelompok, dan konseling kelompok.
    2. Pada satu SD/MI/SDLB atau sejumlah SD/MI/SDLB dapat diangkat seorang Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor untuk menyelenggarakan pelayanan bimbingan dan konseling.
    3. 2.      Pelaksana Pelayanan Bimbingan dan Konseling pada SMP/MTs/ SMPLB, SMA/MA/SMALB, dan SMK/MAK.
      1. Pada satu SMP/MTs/SMPLB, SMA/MA/SMALB/ SMK/MAK diangkat sejumlah Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor dengan rasio 1 : 150 (satu Guru bimbingan dan konseling atau Konselor melayani 150 orang siswa) pada setiap tahun ajaran.
      2. Jika diperlukan, Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor yang bertugas di SMP/MTs dan/atau SMA/MA/SMK tersebut dapat diminta bantuan untuk menangani permasalahan peserta didik SD/MI dalam rangka pelayanan alih tangan kasus.

Sebagai pelaksana utama kegiatan pelayanan bimbingan dan konseling di satuan pendidikan SMP/MTs/ SMPLB, SMA/MA/ SMALB, dan SMK/MAK, Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor wajib menguasai spektrum pelayanan pada umumnya, khususnya pelayanan profesional bimbingan dan konseling, meliputi:

  1. Pengertian, tujuan, prinsip, asas-asas, paradigma, visi dan misi pelayanan bimbingan dan konseling profesional
  2. Bidang dan materi pelayanan bimbingan dan konseling, termasuk di dalamnya materi pendidikan karakter dan arah peminatan siswa
  3. Jenis layanan, kegiatan pendukung dan format pelayanan bimbingan dan konseling
  4. Pendekatan, metode, teknik dan media pelayanan bimbingan dan konseling, termasuk di dalamnya pengubahan tingkah laku, penanaman nilai-nilai karakter dan peminatan peserta didik.
  5. Penilaian hasil dan proses layanan bimbingan dan konseling
  6. Penyusunan program pelayanan bimbingan dan konseling
  7. Pengelolaan pelaksanaan program pelayanan bimbingan dan konseling
  8. Penyusunan laporan pelayanan bimbingan dan konseling
  9. Kode etik profesional bimbingan dan konseling
  10. Peran organisasi profesi bimbingan dan konseling

Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor merumuskan dan menjelaskan kepada pihak-pihak terkait, terutama peserta didik, pimpinan satuan pendidikan, Guru Mata Pelajaran, dan orang tua, sebagai berikut:

  1. Sejak awal bertugas di satuan pendidikan, Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor merumuskan secara konkrit dan jelas tugas dan kewajiban profesionalnya dalam pelayanan bimbingan dan konseling, meliputi:

1)      Struktur pelayanan bimbingan dan konseling

2)      Program pelayanan bimbingan dan konseling

3)      Pengelolaan program pelayanan bimbingan dan konseling

4)      Evaluasi hasil dan proses pelayanan bimbingan dan konseling

5)      Tugas dan kewajiban pokok Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor.

  1. Hal-hal sebagaimana tersebut pada butir a di atas dijelaskan kepada siswa, pimpinan, dan sejawat pendidik (Guru Mata pelajaran dan Wali Kelas) pada satuan pendidikan, dan orang tua secara profesional dan proporsional.
  2. Kerjasama

1)      Dalam melaksanakan tugas pelayanan bimbingan dan konseling Guru Bimbingan dan Konseling atau Konselor bekerjasama dengan berbagai pihak di dalam dan di luar satuan pendidikan untuk suksesnya pelayanan yang dimaksud.

2)      Kerjasama tersebut di atas dalam rangka manajemen bimbingan dan konseling yang menjadi bagian integral dari manajemen satuan pendidikan secara menyeluruh.

 

  1. E.     Tahapan Pengelolaan Bimbingan Konseling

            Agar mencapai pelayanan konseling yang bermanfaat bagi siswa/ peserta layanan, maka penyelenggaraan layanan harus menerapkan kaidah-kaidah dalam pelaksanaan layanan   konseling. Kaidah tersebut meliputi orientasi, prinsip, dan asas serta landasan yang secara keseluruhan terpadu dalam setiap kegiatan layanan dan aspek-aspek pendukungnya. Selain itu penyelenggaraan layanan harus dilaksanakan dengan berbagai modus, format, da pendekatan yang baik dalam pelaksanaanya.

Selain diterapkan dengan baik dari berbagai unsur-unsur pelayanan konseling, factor yang sangat berperan dalam mendukung tercapainya efektifitas layanan yang diselenggarakan adalah pengelolaan yang baik dalam setiap akan menyelenggarakan layanan, dan secara umum pengelolaan yang bersifat menyeluruh terhadap program layanan bimbingan dan konseling.

Pentingnya pengelolaan layanan adalah menjaga efisiensi dan efektifitas dari layanan yang akan diselenggarakan. Sehingga layanan yang akan diselenggarakan lebih terarah, focus, dan akan memudahkan untuk melakukan kegiatan evaluasi terhadap pelaksanaan layanan yang diselenggarakan.

 

            A.Unsur-unsur Pengelolaan

 

Dalam pengelolaan pelayanan konseling, unsure-unsur yang diterapkan meliputi:

P : Planning

O : Organizing

A : Actuating

C : Controlling

 

1.      Planning (Perencanaan)

Perencanaan merupakan persiapan permulaan kearah pencapaian tujuan. Perencanaan merupakan proses untuk mempersiapkan mengenai system, taktik, teknik, metode, personalia, dan fasilitas yang akan digunakan dalam melaksanakan kegiatan. Secara khusus dalam pelaksanaan pelayanan konseling planning merupakan perencanaan dari keseluruhan dan atau sebagian kegiatan pelayanan konseling. Dalam tahap persiapan dapat diberikan penjelasansebagai berikut:

a)      Perencanaan merupakan pedoman yang memberikan gambaran arah berupa garis –garis besar aktivitas dalam mencapai tujuan.

b)      Perencanaan merupakan wujud persiapan-persiapan system, teknik, metode, fasilitas, personalia, waktu dalam mencapai tujuan.

c)      Perencanaan mencerminkan rumusan maslah atau bagaimana pekerjaan mencapai tujuan dilakukan

2.      Organizing (pengorganisasian)

Pengorganisasian merupakan langkah lanjut setelah perencanaan dilakukan. Langkah ini merupakan pengaturan lebih lanjut tentang jenis-jenis pekerjaan, alokasi tugas, personalia yang menjalankan pekerjaan, biaya, dan penyediaan fasilitas-fasilitas yang diperlukan. Wujud kegiatan Organizing adalah proses pengaturan, penyusunan, dan pengorganisasian. Dengan pengorganisasian, semua prasarana dan sarana yang diperlukan sedapat-dapatnya telah menjadi siap pakai dan siap jalan.

3.      Actuating (Penggerakan)

Berdasarkan hasil perencanaan dan pengorganisasian selanjutnya ditindak lanjuti dengan menggerakan seluruh sumbe daya dalam aktivitas mencapai tujuan berdasarkan aturan dan kebijakan yang telah diorganisasikan. Tindakan-tindakan yang memungkingkan semua tugas dijalankan dengan memanfaatkan sumber daya inilah yang disebut dengan proses penggerakan.

4.      Controlling (Penilaian)

Penilaian dilaksanakan terhadap pelaksanaan proses layanan dan juga hasil dari layanan yang dilaksanakan.  Dalam tahap penilaian, pemahaman penilaian secara sempit menyangkut penilaian hasil, sedangkan secara luas penilaian mengandung unsure pengembangan dan pembinaan.

Setelah dilakukan penilaian, maka langkah selanjutnya yang dilakuakan adalah melakukan tindak lanjut dari hasil penilaian tersebut. Karena sebaik-baiknya penilaian tidak akan memiliki makna-guna ketika tidak dilakukan tindak lanjut. Dengan demikian unsure pokok dalam pengelolaan pelayanan konseling dapat dikembangkan menjadi POAC Plus.

 

                   B.     Pengelolaan dalam Satuan Lembaga

 

Dalam penyelenggraan kegiatan pelayanan konseling dalam satuan pendidikan/ lembaga seperti sekolah, pengeloaan dengan unsur POAC/ POAC Plus harus dilaksanakan. Tujuannya adalah agar dalam pencapaian tujuan yang ditetapkan dapat tercapai dengan efektif dan juga efisien.

 

Semua komponen sekolah bekerja dengan melaksanakan POAC dan juga secara lengkap melaksanakan POAC Plus. Secara singkat, dapat dijelaskan penerapan POAC masing-masing Komponen sekolah tersebut:

1.      Pimpinan Sekolah/ Madrasah ber -POAC untuk mengarahkan dan mengendalikan terlaksananya tugas pokok masing-masing komponen

2.      Guru ber–POAC untuk tugas PMP/ PMP-T melalui modus pengajaran

3.      Konselor ber-POAC untuk focus tugas mengembangkan KES dan menangani KES-T, melalui modus pelayanan konseling

4.      Wali kelas, ber-POAC dengan tugas administrasi kelas

5.      TU, ber-POAC dengan tugas ketatausahaan.

 

Masing-masing komponen bersinergi dengan POAC masing-masing dengan tujuan suksesnya siswa dalam proses pendidikannya. Secara khusus, konselor mengadakan perencanaan kegiatannya dalam jangka waktu tertentu, seperti rencana kerja tahunan, yang dijabarkan lagi dalam rencana semesteran, bulanan, mingguan, dan harian.  Untuk implementasi POAC Plus dalam bimbingan konseling adalah pada rencana harian yang di dilaksanakan dalam layanan dan kegiatan pendukung.

 

                   C.    Penilaian Hasil Layanan

Tahap penilaian merupakan tahapan yang berperan besar dalam mengetahui keberhasilan dari kegiatan yang dilaksanakan. Begitu juga dalam pelaksanaan layanan konseling, penilaian berfungsi mengukur efektifitas dari layanan yang diselenggarakan dalam mengembangkan KES dan menangani KES-T dari peserta didik (Peserta layanan).  Untuk menilai keberhasilan layanan yang diselenggarakan dapat difokuskan pada aspek-aspek AKUR, yang secara singkat dapat dijelaskan sebagai berikut:

1)      Acuan; Layanan dikatakan berhasil ketika dalam diri siswa telah memperoleh acuan positif untuk berperilaku KES. Acuan merupakan orientasi tujuan yang hendak hendak dicapai oleh individu dalam berperilaku. Ketika individu telah memilki orientasi, landasan, dan tujuan (visi) untuk berpeilaku positis, KES maka layanan yang diselenggarakan telah berhasil.

2)      Kompetensi: Acuan tersebut tidak akan memilki nilai yang maksaimal dalampengembangan KES ketikan individu tidak memiliki kompetensi yang dibutuhkan dalam mencapai KES. Dengan demikian, layanan konseling akan dikatakan berhasil ketika telah membekali individu kompetensi yang dibutuhkan ddalam membangun acuan positif, yang secara bersinergi mendukung dalam usaha

3)      Usaha; usaha adalah aplikasi dari acuan yang telah dimiliki dan didukung oleh kompetensi yang dibutuhkan untuk mencapai perilaku yang KES. Kemampuan indiviu untuk melakukan usaha yang efektif dalam mencapai tujuan hidup yang hendak dicapai adalah indikator dari pelaksanaan layanan konseling yang berhasil.

4)      Rasa: Setelah individu memilki acuan yang posituf, kompetensi, dan mampu melaksanakan usaha demi mencapai tujuan hidup yang hendak dicapai, keberhasilan layanan konseling lebih jauh dapat dilihat dari kondisi rasa pada diri individu. Ras tersebut meliputi:

a)      Rasa diri (Fisikal, intelektual, emosional, dan tehnikal)

b)      Rasa social,

c)      Rasa nilai/moral

d)     Rasa spiritual.

Ketercapaian rasa tersebut dapat dilihat dari rasa senang, terbebas dari beban, lega, karena telah, memiliki acuan hidup yang positif, kompetensi yang dibutuhkan telah dimilki, dapat melakukan usaha untuk mencapai tujuan hidupnya.

 

 D.Pola penanganan siswa bermasalah

 

Pembinaan siswa dilakukan oleh seluruh unsur pendidikan di sekolah, orang tua, masyarakat, pemerintah. Pola tindakan terhadap siswa bermasalah di sekolah adalah sebagai berikut : seorang siswa yang melanggar tata tertib dapat ditindak oleh kepala sekolah. Tindakan tersebut diinformasikan kepada wali kelas yang bersangkutan.  Sementara itu guru pembimbing berperan dalam mengetahui sebab-sebab yang melatarbelakangi sikap dan tindakan siswa tersebut.  Guru pembimbing bertugas membantu menangani masalah siswa tersebut dengan meneliti latar belakang tindakan siswa melalui serangkaian wawancara dan informasi dari sejumlah sumber data, setelah wali kelas merekomendasikannya.

           

E.Beban tugas guru pembimbing/ Konselor

 

Sesuai dengan keputusan surat keputusan bersama Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dan Kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara Nomor : 043/P/1993 dan Nomor 25 tahun 1991 diharapkan pada setiap sekolah ada petugas yang melaksanakan layanan bimbingan yaitu guru pembimbing / konselor dengan rasio satu orang guru pembimbing untuk 150 orang siswa, dan beban tugas / penghargaan jam kerja guru pembimbing ditetapkan 36 jam / minggu, yang meliputi :

1.      Kegiatan penyusunan program layanan dihargai sebanyak 12 jam

2.      Kegiatan melaksanakan pelayanan dihargai sebanyak 18 jam

3.      Kegiatan evaluasi pelaksanaan pelayanan dihargai sebanyak 6 jam

4.      Sebagaimana guru mata pelajaran, guru pembimbing yang membimbing dihargai sebanyak 18 jam

 

F.Hambatan dalam Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling di Sekolah

 

1.      Para pengelola sekolah masih beranggapan bahwa tugas sekolah adalah mengajar, oleh karena itu semua dana dan usaha dipusatkan untuk meluluskan sebanyak mungkin siswa agar mereka mendapat ijazah untuk melanjutkan sekolah.  Mutu sekolah diukur berdasarkan jumlah siswa yang lulus dengan nilai ijazah yang baik. Sekolah yang seperti ini kurang menghargai dan memperhatikan pelaksanaan program bimbingan dan konseling di sekolah. Kehadiran konselor di sekolah dipandang sebagai pemborosan biaya. Penanganan di serahkan pada wali kelas / guru.  Tetapi di pihak lain wali kelas dan guru tidak mempunyai cukup waktu dan keahlian untuk memberikan bimbingan pada siswanya

2.      Kepala sekolah dan guru masih belum memiliki pengetahuan yang benar mengenai peranan dan kedudukan program bimbingan dalam kesatuannya dengan program pendidikan di sekolah.  Di pihak lain kepala sekolah memberikan tugas kepada petugas bimbingan yang bukan tugasnya, misalnya para konselor ikut menangani disiplin sekolah

3.      Banyak lembaga pendidikan konselor, seperti IKIP, kurang memberikan bekal praktek bimbingan kepada para calon petugas bimbingan. Akibatnya setelah lulus dan bertugas di lapangan, para petugas bimbingan kurang memahami tugas pokoknya.  Mereka sibuk daftar pribadi dan membantu tugas kepala sekolah dalam bidang administrasi sekolah, termasuk melakukan tugas disiplin sekolah.  Para siswa menangkap bahwa sifat BP sebagai pusat pengadilan, sehingga mereka takut terhadap pembimbing.

4.      Nama staf bimbingan memberikan kesan kepada guru bahwa fungsi bimbingan telah memiliki spesifikasi.  Oleh karena itu mereka bebas dari tugas membimbing siswa, jika menemukan siswa yang nakal, mereka menyerahkan / menyusun siswa yang nakal tersebut menghadap guru pembimbing

5.      Banyak petugas bimbingan bukan lulusan studi psikologi pendidikan dan bimbingan banyak sarjana pendidikan  non BP diberi tugas sebagai konselor sekolah.  Mereka umumnya guru yang berhasil mencapai gelar sarjana pendidikan. Akibatnya banyak program bimbingan tidak terlaksana dengan baik, bahkan banyak yang melanggar prinsip-prinsip bimbingan, misalnya seorang konselor menghukum siswa yang melanggar peraturan sekolah. Sehingga kesan siswa terhadap staff bimbingan sama.

 

PENUTUP

Pelaksanaan bimbingan dan koseling di sekolah dirasa sangat perlu dilaksanakan karena seiring dengan pesatnya ilmu pengrtahuan dan teknologi, berbagai persoalan pun muncul dengan segala kompleksitasnya. Dunia pendidikan tampaknya belum sepenuhnya mampu menjawab berbagai persoalan akibat perkembangan IPTEK, indikasinya dalah munculnya berbagai penyimpangan perilaku dikalangan peserta didik yang seyogyanya tidak dilakukan oleh seorang atau orang-orang yang disebut terdidik.

Oleh karenanya pelayanan bimbingan dan koseling diharapkan mampu membimbing peserta didik agar tetap dalam koridor-koridor yang telah ditetapkan. Sehingga siwa/ peserta didik tidak melakukan hal-hal diluar ketentuan yang dikeluarkan oleh sekolah atau madrasah yang diakibatkan oleh kemajuan IPTEK tersebut.

Dalam hal pelaksanaan bimbingan dan konseling ini, seorang guru BK harus bersinergi atau menjalin kerja sama dengan semua pihak yang terkait yang ada di lingkungan sekolah maupun lingkungan keluarga siswa. Hal ini bertujuan untuk peng-optimalisasian hasil layanan bimbingan dan konseling yang dilakukan oleh guru BK di sekolah.

 

Daftar Pustaka

 

  1. Dewa Ketut Sukardi, Pengantar Pelaksanaan Program Bimbingan dan Konseling Di Sekolah, (Jakarta: Rineka Cipta, 2008)
  2. Tohirin, Bimbingan dan Koseling Di Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2009)
  3. Prayitno dan Erman Amti, Dasar-dasar Bimbingan dan Konseling, (Jakarta: Rineka Cipta, 1999)
  4. Peraturan Menteri Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia Nomor 81A Tahun 2013 tentang Implementasi Kurikulum Lampiran IV Pedoman Umum Pembelajaran

 

 

DISUSUN OLEH:

NAMA   : MUHAMAD ROISUDIN

NIM        : 11.88203.063

KELAS   : B     

TINGKAT/SEMESTER : 3/5

PRODI PENDIDIKAN BAHASA INGGRIS

STKIP PGRI PACITAN

 

Iklan

One thought on “Pengelolaan Bimbingan Konseling Siswa”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s