Filsafat Pragmatisme

Berdasarkan perkembangan sejarah filsafat naturalisme dan pragmatisme adalah yang paling muda, namun juga sangat penting kota ketahui adanya aliran-aliran lain  antara naturalisme dan pragmatisme. Pragmasis dipandang sebagai aliran filsafat modernren. Namun sebenarnya berpangkal pada filsafat empiris , berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang manusia alami. Filsafat ini cenderung mengabaikan hal-hal yang  tradisional dan terarah pada hal-hal yang kehidupan. Pragmatisme lahir di tengah-tengah situasi sosial yang dilanda berbagai problema terkait dengan masuknya urbanisasi dan industrialisasi.

Dalam kondisi seperti di atas ini, pragmatisme melahirkan beberapa nama yang cukup berpengaruh mualai dari Charles Sandre Peirce (1839-1914), dan John Dewey (1859-1952) dan seorang pemikir yang juga cukup menonjol bernama George Herbert Mead (1863-1931). Kedua filosof tersebut berbeda, baik dalam metodologi maupun matematika, filosof Dewey dan biologi, sedangkan pragmatisme James adalah personal, psikologis dan bahkan mungkin religius.

Dalam perkembangannya, pragmatisme akan mempengaruhi teori-teori pendidikan yang lahir selanjutnya, mulai dari pendidikan, namun diantara aliran-aliran itu terdapat dua aliran pendidikan yaitu progresivisme dan humanisme, di mana pengaruh pragmatisme sangat kuat di dalamnya.

 

ANATOMI, EPISTIMOLOGI dan AKSIOLOGI PRAGMATIS

Tindakan, perbuatan segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan.Tetapi pengertian seperti ini belum menggambarkan keseluruhan dari pengertian pragmatisme.

Istilah lainnya yang dapat diberikan pada filsafat pragmatisme adalah menganggap bahwa dalam hidup itu tidak dikenal tujuan akhir, melainkan hanya tujuan sementara yang merupakan alat untuk mencapai tujuan berikutnya, termasuk dalam pendidikan tidak mengenal tujuan akhir. Kalau suatu kegiatan telah mencapai tujuan, maka tujuan tersebut dapat dijadikan alat untuk mencapai tujuan berikutnya. Karena filsafat ini menggunakan metode eksperimen dan berdasarkan atas pengalaman dalam menentukan kebenarannya.

Pragmatisme adalah aliran filsafat yang berpandangan bahsa kriteria kebenaran sesuatu yang memiliki kegunaan bagi kehidupan nyata.

Pragmatis merupakan teori yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang tidaknya dalam lingkup ruang dan waktu tertentu. Teori pgarmatis berbeda dengan teori koherensi dan korespondensi yang keduanya berhubungan langsung dengan realita objektif, pragmatisme berusaha menguji kebenaran ide melalui konsekuensi dari pada pelaksanaannya. Arinya ide-ide itu belum dikatakan benar salah nya sebelum diuji.

Pragmatis meletakkan pemakaian mengenai pengetahuan itu sendiri. Maka kegunaan dan kemampuan perwujudan nyata adalah hal yang mempunyai kedudukan utama seputar pengetahuan itu. Pragmatisme memandang realitas sebagai suatu proses dalam waktu, yang berarti orang mempunyai perasaan untuk menciptakan atau mengembangkan hal yang diketahui. Ini berarti bahwa tindakan yang dilakukan oleh orang yang memiliki pengetahuan tersebut dapat menjadi unsur penentu untuk mengembangkan pengetahuan itu pula.

Secara umum pragmatisme berarti hanya pemikiran, pendapat, yang dapat dipraktikkan yang bener dan berguna.

Pragmatisme berpandangan bahwa pengetahuan dan perbuatan bersatu tak terpisahkan, dan semua pengetahuan bersumber dari dan diuji kebenarannya melalui pengalaman. suatu sistem kerja sama yang terbuka. Metode pemecahan masalah yang telah dikembangkan dalam ilmu sebagai pendekatan ilmiah, juga merupakan metode belajar dalam pendidikan.

 

 

 

 

 

 

 

 

TOKOH-TOKOH PRAGMATISME

  1. Charles Sandre Peirce (1839-1914)

 

Peirce dikenal sebagai pendiri aliran filsafat pragmatisme Amerika.Untuk menyebut pemikir pragmatisme. Peirce membedakan pandangannya dari pada pragmatis lainnya. Peirce merupakan seorang ahli teori logika, bahasa, komunikasi dan teori umum tanda Peirce disebut sebagai semiotika. Selain itu dia juga mendalami logika matematika produktif luar biasa dan matematika umum yang merupakan perkembangan dari psiko.

  1. John Dewey (1859)

Sebagai pengikut filsafat pragmatisme, Dewey mengatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran yang kurang pragtis, tidak ada gunanya, oleh karena itu filsafat harus berpijak pada pengalaman dan pengolahan secara kritis.

Menurut John Dewey tidak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, maka berfikir untuk mengatasi kesulitantersebud. Maka dari berfikir tidak lain untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian ini dapat ditinjau dari berhasil dan tidaknya kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengaturpengalamann dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metoda induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengatahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan sosial dan moral.

 

  1. George Herbert Mead (1863-1931)

Mead atau George Herbert Mead memiliki periode hidup yang tidak jauh berbeda dengan William James dan Pierce. Dia juga dikenal dengan filusuf Amerika yang berpengaruh, khususnya dalam aliran pragmatisme. Mead lebih banyak sebagai seorang pakar teori sosial ketimbang seorang filusuf, terutama karena ketrtarikannya yang berlebihan kepada teori-teori sosial.

 

PANDANGAN PRAGMATISM

       1. Tentang Ralitas

Pahampragmatisme ini sepenuhnya berbasis pendekatan empiris yakni apa yang bisa dirasakan itulah yang  benar artinya akal, jiwa dan materi adalah suatu hal yang tidak dapat dipisahkan. Oleh karena itu, para pragmatis tidak nyaris pernah mendasarkan satu hal kebenaran. Menurut mereka, pengalaman yang mereka alami akan berubah jika realitaa yang mereka alami pun berubah.

Realita bukanlah suatu hal yang abstrak, sebaliknya dia hanya sebuah pengalaman transaksional yang secara konstan dan akan terus-menerus berubah. Realitas dan dunia yang kita amati tidak bebas dari ide manusia dan sekaligus tidak terikat kepadanya. Manusia dan lingkungannya berdampingan dan memiliki tanggungjawab jawab yang sama terhadap realitas. Dunia akan bermakna sejauh manusia mempelajari makna yang terkandung di dalamnya. Perubahan merupakan esensi realitas dan manusia harus siap mengubah cara-cara yang akan dikerjakannya.

Teori pragmatisme tentang perubahan yang terus-menerus didasari pandangan Heracleitos (540-480 SM), seorang filosof dengan teori yang disebut mengalir secara terus-menerus, Dia mengatakan tidak ada sungai yang dialiri oleh air yang sama. Bagi pragmatisme tidak dikenal istilah metafisika, karena mereka tidak pernah memikirkan makna dibalik realitas yang dialami dan diamati oleh panca indra manusia. Realitas adalah apa yang dapat diamati dan dialami secara inderawi.

Manusia pada dasarnya plastik dan dapat berubah. Manusia dipandang sebagai makhluk fisik sebagai hasil evolusi biologis, sosial dan psikologis, karena manusia terus-menerus berkembang. Anak merupakan organisme yang secara terus-menerus merekonstruksi dan menginterpretasi serta mereorganisasi kembali pengalamannya, anak akan berkembang apabila berhubungan dengan yang lain.

Tema pokok filsafat pragmatisme adalah :

1)     Esensi realitas adalah perubahan;

2)      Hakikat sosial dan biologis manusia yang esensial;

3)      Relativitas nilai;

4)      Penggunaan intelegensi secara kritis.

Watak pragmativisme adalah humanistik dan menyetujui suatu dalil “manusia adalah ukuran segalanya. Tujuan dan alat pendidikan harus fleksibel dan terbuka untuk perbaikan secara terus-menerus.

   2. Tentang Pengetahuan 

Corak paling kuat dari pragmatisme adalah kuatnya pemikiran tentang konsep kegunaan, makna kegunaan ini lebih ditetapkan pada kegunaan sains, bukan hal-hal yang bersifat metafisik. Maka, dalam pragmatisme pengetahuan tidak selalu mesti diidentikkan dengan kepercayaan, tapi menjadi hal yang terpisah. Kebenaran yang dianggap perlu dipercayai  bagi para pragmatis selalu menjadi hal yang bersifat personal dan tidak perlu dikabarkan pada publik, sedangkan hal-hal yang dianggap perlu diketahui haruslah selalu dikabarkan pada pengamat yang qualified dan tak berpihak. Sehingga kebenaran dalam pragmatis selalu bersifat relatif dan kasuistik. Sebuah kebenaran yang dipandang valid dan berguna, di suatu waktu bisa menjadi hal yang dilupakan.

Pragmatisme menyatakan bahwa akal manusia aktif dan selalu ingin meneliti, tidak pasif dan tidak begitu saja menerima pandangan tertentu sebelum dibuktikan kebenarannya secara empiris. Pikiran tidak bertentangan dan terpisah dari dunia, melainkan merupakan bagian dari dunia. Pengetahuan menjadi transaksi antara manusia dan lingkungannya dan kebenaran merupakan bagian dari kebenaran. Pengalaman senantiasa berubah, inti dari pengalaman adalah perubahan masalah-masalah yang dihadapi oleh individu maupun sosial, dan untuk memecahkan masalah-masalah yang selalu muncul ini yang berasal dari pengalaman yang selalu berubah maka diperlukan alat untuk memecahakan masalah-masalah tersebut yaitu dengan pengetahuan-pengetahuan yang oleh Dewey disebut instrumentalisme.

Pragmatisme mengajarkan bahwa tujuan berfikir adalah kemajuan hidup, yakni untuk memajukan dan memperkaya kehidupan. Nilai pengetahuan manusia dinilai dan diukur dengan kehidupan praktis. Menurut James “tidak ada ukuran untuk menilai kebenaran absolut, benar atau palsunya pikiran akan terbukti di dalam penggunaannya dalam praktik dan tergantung dari berhasil atau tidaknya tindakan tersebut”.

Pengetahuan yang benar adalah pengetauan yang berguna. Menurut James “suatu ide itu benar apabila memiliki konsekuensi yang menyenangkan”. Menurut Dewey dan Peirce “Suatu ide itu benar apabila berakibat memberikan kepuasan jika diuji secara obyektif dan ilmiah”. Secara khusus pragmatisme mengemukakan bahwa ide yang benar tergantung kepada konsekuensi-konsekuensi yang diobservasi secara obyektif dan ide tersebut operasional.

Teori kebenaran merupakan alat yang kita gunakan untuk memecahkan masalah dalam pengalaman kita. Suatu teori itu benar jika berfungsi. Kebenaran bukan suatu yang statis melainkan tumbuh berkembang dari waktu ke waktu. Menurut  James dalam Harun Hadiwijono, 1980 yang dikemukankan oleh Uyoh Sadulloh(2008: 121) “Tidak ada kebenaran mutlak, berlaku umum, bersifat tetap, berdiri sendiri, tidak lepas dari akan pikiran yang mengetahui. Pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam pengalaman senantiasa berubah karena dalam  praktiknya apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya. Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutlak, yang ada hanya kebenaran-kebenaran yaitu kebenaran yang ada dalam pengalaman yang suatu saat dapat diubah oleh pangalaman berikutnya”.

Metode intelegen merupakan cara ideal untuk memperoleh pengetahuan, kita akan mengerti segala sesuatu dengan penempatan dan pemecahan masalah. Intelegensi mangaju pada hipotesa untuk memecahakan masalah tersbut, di mana hipotesisnya menjelaskan fakta-fakata masalah tersebut. Untuk memecahkan masalah-masalah sosial dan perorangan diharapkan menggunakan logika sains pada pengalaman yang problematis. Dalam memecahkan masalah ini hendaknya melalui lima tahap Menurut Dewey dalam Wini Rasyidin yang dikemukankan oleh Uyoh Sadulloh(2008: 121) yaitu sebagai berikut :

a.     Indeterminate situation, timbulnya situasi ketegangan di dalam pengalaman yang perlu dijabarkan secara spesifik.

b.     Diagnosis, artinya timbul upaya mempertajam  masalah sampai panentuan faktor-faktor yang diduga menyebabkan timbulnya masalah.

c.     Hypotesis, adanya upaya menemukan gagasan yang diperkirakan dapat mengatasi masalah dengan jalan mengerahkan pengumpulkan informasi yang penting-penting.

d.     Hypotesis testing, pelaksanaan berbagai hipotesis yang paling relevan secara teoritis untuk membandingkan implikasi masing-masing kalau dipraktikkan.

e.     Evaluation, mempertimbangkan hasilnya setelah hipotesis terbaik dilaksanakan yaitu dalam kaitan dengan masalah yang dirumuskan pada langkah ke-2 dan ke-3.

Berdasarkan langkah di atas, Dewey berusaha menyusun teori yang logis dan konsep-konsep, pertimbangan-pertimbangan dan penyimpulan-penyimpulan dalam bentuknya yang beraneka ragam, dalam artian alternatif-alternatif. Menurutnya  apa yang benar adalah apa yang pada akhirnya disetujui atau diterima oleh semua orang yang menyelidikinya.

Pengalaman merupakan interaksi antara manusia dan lingkungannya dengan organisme biologis. Pengalaman manusia membentuk aktivitas untuk memperoleh pengetahuan. Kegiatan berfikir timbul  disebabkan adanya gangguan terhadap situasi (pengalaman) yang menimbulkan masalah bagi manusia.  Berfikir ilmiah merupakan alat untuk memecahkan masalah yang disebut metode intelegen atau metode ilmiah.

 

       3. Tentang Nilai 

Pandangan pragmatis mengemukakan pandangan tentang nilai, bahawa nilai itu relatif. Kaidah-kaidah moral dan etika tidak tetap, melainkan selalu berubah, seperti perubahan kebudayaan, masyarakat dan lingkungannya. Untuk menguji kualitas nilai sama dengan cara menguji kebenaran pengetahuan. Nilai moral maupun etis dilihat dari perbuatannya bukan dari segi teori. Jadi, pendekatan terhadap nilai adalh cara empiris berdasarkan pengalaman-pengalaman manusia dalam kehidupan sehari-hari.

Kita harus mempertimbangkan perbuatan manusia dengan cara tidak memihak dan secara ilmiah memiliki nilai-nilai yang tampaknya memungkinkan untuk memecahkan masalah-masalah yang dihadapi manusia. Nilai-nilai ini tidak dapat dipaksa untuk diterima, tapi akan diterima setelah di diskusikan secara terbuka berdasarkan bukti-bukti empiris dan obyektif.

 

Nilai lahir dari keinginana, dorongan dan perasaan manusia serta kebiasanaan mereka, sesuai dengan wataknya antara biologis dan sosial di dalam diri dan kepribadiannya. Nilai merupakan suatu realitas kehidupan yang merupakan suatu wujud perilaku manusia sebagai suatu pengetahuan dan ide, ini dikatakan benar bila mengandung kebaikan, berguna dan bermanfaat bagi manusia untuk menyesuaikan diri dalam kehidupan dalam lingkungan tentu.

 

IMPLIMENTASI PRAGMATISME DALAM PENDIDIKAN

Pragmatisme dilandasi oleh subjek didik bukanlah objek, melainkan subjek yang memiliki pengalaman sendiri, sehingga mereka berkembang dan memiliki inisiatif dalam memecahkan problema-problema masalah mereka.

Dalam pelaksanaannya, pendidikan pragmatisme mengarahkan agar peserta didik saat belajar di sekolah tidak jauh berbeda ketika mereka berada di luar sekolah. Oleh karena itu kehidupan disekolah selalu didasari sebagai bagian dari pengalaman hidup, cara menghadapi problema yang ada disekitar, bukan bagian dari persiapan untuk menjalani hidup, sehingga nantinya akan membawa peserta didik bisa berfikir kritis dan mampu beradaptasi dengan dunia yang terus berubah dan mampu untuk berhasil dalam menjalani kehidupan.

Selain itu pendidikan pragmatis juga menanamkan nilai-nilai demokrasi dalam ruang pembelajaran di sekolah, karena pendidikan bukanlah ruang yang terpisah dari lingkungan sosial, maka setiap orang/masyarakat juga diberi kesempatan untuk setiap pengambilan keputusan pendidikan yang ada, tapi keputusan-keputusan ini nantinya dilakukan evaluasi berdasarkan situasi-situasi sosial yang ada untuk kemajuan sekolah tersebut.

Di sini guru menjadi pendamping peserta didik, menjadi pemandu atau pengarah aktivitas peserta didik di luar hal-hal yang dibutuhkan oleh peserta didik dengan pertimbangan-pertimbangan dan pengalaman dari guru tersebut. Selain  itu,  guru harus menyusun situasi belajar di sekitar masalah yang harus dipecahkan oleh siswanya. Siswa pada dasarnya merupakan pelajar yang selalu ingin tahu, sehingga mereka diarahkan mengadakan eksplorasi  terhadap lingkungan tempat tinggal mereka, anak akan lebih belajar dari apa yang mendorong mereka untuk meneliti dan menarik perhatian mereka. Guru harus memelihara keinginan atau mendorong siswa untuk meneliti. Guru harus memberikan kesempatan kepada siswa untuk belajar apa yang mereka ingin ketahui, selalu ingn mengetahui yang berkaitan dengan pelajaran seperti sejarah dan ilmu pengetahuan lainnya.

Metode untuk pembelajaran pragmatisme ini selalu menekankan pengalaman sebagai sesuatu yang sangat berarti, oleh karena itu pengajaran selalu menjadi sesuatu yang dekat dengan hidup, di mana murid terlibat langsung sedangkan guru sebagai pendamping atau pemandu.

5)      Peran guru, mengawasi dan membimbing pengalaman belajar siswa tanpa menganggu minat kebutuhannya.

Peran sekolah yakni sebagai tempat untuk mengajarkan cara belajar yang mampu menyesuaikan  dengan perubahan-perubahan hidup yang terus-menerus menimpa dunia mereka, sehingga sekolah harus melihat proses-proses dari pembelajarn peserta didik ketimbang melihat muatan materi dan nilai akhir.

Tujuan pendidikan itu ada dalam proses pendidikan, sehingga proses pendidikan tidak memiliki tujuan yang terpisah. Pendidiklah yang memikirkan tujuan pendidikan itu. Pragmatisme memandang bahwa setiap fase dalam proses pendidikan itu merupakan alat untuk mencapai fase berikutnya. adalah merupakan tujuan yang ada dalam proses pendidikan itu.

 

Daftar Pusataka

 

Fuad Ihsan. 2010.”Filasafat Ilmu”. Rineka Cipta: Jakarta.

Imam Barnadib. 1976. “Filsafat Pendidikan (Sistem dan Metode)”. Andi Offset : Yogyakarta.

Kochhar. 2008. “Pembelajaran Sejarah ( Teaching of History)”. Gramedia : Jakarta

Muhammad Adib. 2011. “Filsafat Ilmu (Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan)”. Pustaka Pelajar : Yogyakarta.

Teguh Wangsa Gandhi. 2011. “Filsafat Pendidikan (Mazhab-mazhab filsafat pendidikan)”. Ar-Ruzz Media : Yogyakarta.

Uyoh Sadulloh. 2008. “Pengantar Filsafat Pendidikan”. Alfabeta : Bandung.

 

 

Oleh:

Edi Riyanto

Prodi PBSI

STKIP PGRI Pacitan

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s