Penerapan Filsafat Pragmatisme dalam Pembelajaran

Konsep pragmatisme mula-mula dikemukan oleh Charles Sandre Peirce pada tahun 1839. Dalam konsep tersebut ia menyatakan bahwa, sesuatu dikatakan berpengaruh bila memang memuat hasil yang praktis. Pada kesempatan yang lain ia juga menyatakan bahwa, pragmatisme sebenarnya bukan suatu filsafat, bukan metafisika, dan bukan teori kebenaran, melainkan suatu teknik untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah (Ismaun, 2004:96). Dari kedua pernyataan itu tampaknya Pierce ingin menegaskan bahwa, pragmatisme tidak hanya sekedar ilmu yang bersifat teori dan dipelajari hanya untuk berfilsafat serta mencari kebenaran belaka, juga bukan metafisika karena tidak pernah memikirkan hakekat dibalik realitas, tetapi konsep pragmatisme lebih cenderung pada tataran ilmu praktis untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia.

Jika ditelusuri dari akar kata, pragmatisme berasal dari perkataan “pragma” yang berarti praktek atau aku berbuat. Maksud dari perkataan itu adalah, makna segala sesuatu tergantung dari hubungannya dengan apa yang dapat dilakukan. Diulas dalam buku Pengantar Filsafat (Kattsoff, 1992:130) bahwa, tampaknya jalan pikiran Pierce tak lebih dari sebuah keinginan untuk mewujudkan pragmatisme sebagai ilmu yang mengorientasikan diri kepada makna praktis dari konsekuensi yang ditimbulkan oleh sebuah tindakan. Jika tidak menimbulkan konskuensi yang praktis maka tidak ada makna yang dikandungnya.Karena itu, munculah sebuah semboyan bahwa, “Apa yang tidak mengakibatkan perbedaan tidak mengandung makna”.

Sebagian penganut pragmatisme yang lain mengatakan bahwa, suatu ide atau tanggapan dianggap benar, jika ide atau tanggapan tersebut menghasilkan sesuatu, yakni jalan yang dapat membawa manusia ke arah penyelesaian masalah secara tepat (berhasil). Seseorang yang ingin membuat hari depan, ia harus membuat kebenaran, karena masa depan bukanlah sesuatu yang sepenuhnya ditentukan oleh masa lalu (Kattsoff, 1992:130). Bahkan, Budi Darma mengatakan bahwa, masa depan itu tidak ada, masa lalu juga tidak ada, yang ada adalah masa sekarang maka berjuanglah untuk saat saat ini. Inti dari peryataan tersebut adalah, kebenaran pragmatik merupakan kebenaran yang bersifat fungsional, berguna atau praktis.Segala sesuatu dianggap benar jika ada konsekuensi yang bersifat manfaat bagi hidup manusia. Sebuah tindakan akan memiliki makna jika ada konsekuensi praktis atau hasil nyata yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Masa lalu dan masa depan adalah sesuatu yang telah dan belum terjadi. Sementara itu, masa sekarang adalah fakta, maka hadapilah kenyataan sekarang dengan penuh perjuangan

 

PENERAPAN FILSAFAT PRAGMATISME DALAM PEMBELAJARAN

 

Pada dasarnya penerapan filsafat pragmatisme dalam pembelajaran adalah berusaha untuk lebih menekankan metode dan pendirian dari pada kepada dokstrin filsafat yang sistematis yaitu metode yang menyelidiki eskperimen yang dipakai dalam segala bidang pengalaman manusia. Salah satunya dibidang pendidikan. Filsafat pragmatisme dalam pendidikan ini bersikap kritis terhadap sistem-sistem filsafat sebelumnya. Seperti bentuk-bentuk aliran materealisme, idealisme dan realisme. Pada filsafat pragmatisme dalam pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi didalam masyarakat.

 

DEFINISI KONSEP FILSAFAT PRAGMATISME

 

Pragmatisme adalah suatu sikap metode dan filsafat yang memakai akibat-akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran kebenaran, termasuk dalam bidang pendidikan . Ada beberapa definisi filsafat pragmatisme, menurut para ahli diantaranya menurut William James (1842-1910)

menyatakan bahwa tiada kebenaran yang mutlak, berlaku umum, yang bersifat tetap yang berdiri sendiri lepas dari akal yang mengenal. Sebab pengalaman kita berjalan terus dan segala yang kita anggap benar dalam perkembangan pengalaman itu senantiasa berubah, karena di dalam praktik, apa yang kita anggap benar dapat dikoreksi oleh pengalaman berikutnya.

Nilai konsep atau pertimbangan kita, bergantung kepada akibatnya, kepada kerjanya. Artinya, bergantung pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan itu. Pertimbangan itu benar bila bermanfaat pada pelakunya, memperkaya hidup dan kemungkinan-kemungkinan.

Manurut James, dunia tidak dapat diterangkan dengan berpangkal pada satu asas saja. Dunia adalah dunia yang terdiri dari banyak hal yang saling bertentangan. Tentang kepercayaan agama dikatakan, bagi perorang-orangan, kepercayaan adanya suatu realitas cosmis lebih tinggi itu merupakan nilai subjektif yang relatif, sepanjang kepercayaan itu memberikan kepadanya suatu hiburan rohani, penguata kebenaran hidup, perasaan damai, keamanan dan sebagainya. Segala macam pengalaman keagamaan mempunyai nilai yang sama, jika akibatnya sama-sama memberikan kepuasan kebutuhan keagamaan.

Filsafat pada mulanya, sampai kapan pun merupakan usaha menjawab pertanyaan yang penting-penting. Orang telah berusaha menjawab pertanyaan itu dengan indra (empiris dalam arti yang datar), dengan akal (rasionalisme) dan dengan rasa (intusionisme) ketiga isme itu mempunyai banyak variasi pandangan di dalamnya. James mencoba menjawab pertanyaan kepada isme pertama dan ingin menggabungkan dengan isme kedua. Penggabungan yang dia lakukan dinamakan pragmatisme, meminjam nama yang sudah digunakan orang sebelum dia, akan tetapi sayang penggabungan itu gagal.

James membawakan pragmatisme. Isme ini diturunkan kepada Dewey yang mempraktikkannya dalam pendidikan. Pendidikan menghasilkan orang amerika sekarang. Dengan kata lain orang yang paling bertanggung jawavb terhadap generasi amerika sekarang adalah William James dan John Dewey. Apa yang paling merusak dalam filsafat mereka itu? Satu saja yang kita sebut pandangan bahwa tidak ada hukum moral umum, tidak ada kebenaran umum, semua kebenaran belum final. Ini berakibat subjektivitas, individualisme dan dua ini saja sudah cukup untuk mengguncangkan kehidupan, mengancam kemanusiaan bahkan manusia itu sendiri. John Dewey (1859) Sebagai pengikut filsafat pragmatisme, Dewey mengatakan bahwa tugas filsafat adalah memberikan pengarahan bagi perbuatan nyata. Filsafat tidak boleh larut dalam pemikiran-pemikiran metafisis yang kurang praktis, tidak ada faedahnya, oleh karena itu filsafat harus berpijak pada pengalaman dan pengolahan secara kritis.

Menurutnya tidak ada sesuatu yang tetap. Manusia senantiasa bergerak dan berubah. Jika mengalami kesulitan, segera berfikir untuk mengatasi kesulitan itu. Maka dari itu berfikir tidak lain dari pada alat (instrumen) untuk bertindak. Kebenaran dari pengertian dapat ditinjau dari keberhasilan tidaknya mempengaruhi kenyataan. Satu-satunya cara yang dapat dipercaya untuk mengatur pangalaman dan untuk mengetahui artinya yang sebenarnya adalah metoda induktif. Metode ini tidak hanya berlaku bagi ilmu pengatahuan fisika, melainkan juga bagi persoalan-soalan sosial dan moral.

Filsafat pragmatisme didalam pembelajaran lebih menekankan kepada metode dan pendirian dari pada kepada doktrin filsafat yang sistematis, yaitu metode penyelidikan eksperimen yang biasanya dipakai dalam segala bidang pengalaman

Ada beberapa konsep filsafat pragmatisme dan salah satunya adalah konsep realitas yang merupakan interakasi antara manusia sengan lingkungannya. Dalam filsafat pragmatisme manusia dipandang sebagau makhluk fisik sebagai hasil biologism sosial dan psikologi karena manusia dalam keadaan yang terus berkembang.

Dari konsep ini, penerapan filsafat pragmatisme dalam pembelajaran mempunyai tujuan, diantaranya untuk menajarkan kepada para siswa agar meraka dapat memehami kondisi disekitarnyadan dari situlah siswa diharapakan dapat memahami dan megerti dan dapat menyaring mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri mereka dari pengaruh lingkungan sekitarnya.

 

         TUJUAN PENDIDIKAN MENURUT FILSAFAT PRAGMATISME

 

Filsuf pragmatisme berpendapat bahwa pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang bagaimana berpikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi di dalam masyarakat. Sekolah harus bertujuan mengembangkan pengalaman-pengalaman tersebut yang akan memungkinkan seseorang terarah kepada kehidupan yang baik. Tujuan-tujuan pendidikan tersebut meliputi:

Kesehatan yang baik

Keterampilan-keterampilan kejuruan (pekerjaan)

Minat-minat dan hobi-hobi untuk kehidupan yang menyenangkan.

Persiapan untuk menjadi orang tua.

Kemampuan untuk bertransaksi secara efektif dengan masalah-masalah sosial (mampu memecahkan masalah-masalah sosial secara efektif).

Tujuan-tujuan khusus pendidikan sebagai tambahan tujuan-tujuan di atas, bahwa pendidikan harus meliputi pemahaman tentang pentingnya demokrasi. Pemerintahan yang demokratis memungkikan setiap warga negara tumbuh dan hidup melalui interaksi sosial yang memberikan tempat bersama dengan warga negara lainnya. Pendidikan harus membantu siswa menjadi warga negara yang demokratis (Callahan and Clark, 1983). Karena itu menurut pragmatisme pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan/memecahkan hal-hal baru dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya (Edward J. Power, 1982).

Untuk mengetahui apa yang menjadi tujuan pendidikan pragmatisme, tidak terlepas dari pandangannya tentang realitas, teori pengetahuan dan kebenaran,  serta teori nilai. Seperti telah dikemukakan, bahwa realitas merupakan interaksi manusia dengan lingkungannya. Dunia akan bermakna sejauh manusia mempelajari makna yang terkandung di dalamnya. Perubahan merupakan esensi dari realitas, dan harus siap mengubah cara-cara yang akan kita kerjakan. Mengenai kebenaran, pada prinsipnya kebeneran itu tidak mutlak, tidak berlaku umum, tidak tetap, tidak berdiri sendiri dan tidak terlepas dari akal yang mengenal. Yang ada hanya kebenaran khusus, yang setiap saat bis diubah oleh pengalaman berikutnya. Sedangkan mengenai nilai, pragmatism menganggap bahwa nilai itu relative. Kaidah-kaidah moral dan eika tidak tetap, melainkan terus berubah seperti perubahan kebudayaan dan masyarakat.

Dari uraian diatas, dapat ditafsirkan apa dan bagaimana tujuan pendidikan serta bagaimana pelaksanaan pendidikan diorganisasikan. Objektifitas tujuan pendidikan harus diambil dari masyarakat dimana si anak hidup, dimana pendidikan berlangsung, karena pendidikan berlangsung dalm kehidupan. Tujuan pendidikan tidak berada di luar kehdupan melainkan berada di dalam kehidupan sendiri. Seperti telah di uraikan bahwa esensi relaitas adalah perubahan, tidak ada kebenaran mutlak, serta nilai itu relatif, maka berkaian dengan tujuan pendidikan, menurut pragmatism tidak ada tujuan umum yang berlaku secara universal, tidak ada tujuan yang tetap dan pasti. Yang ada hanyalah tujuan khusus belaka, tidak ada tujuan yang berlaku umum yang universal. Jadi, tujuan pendidikan tidak dapat dietapkan pada semuan masyarakat kecuali apabila terdapat hubungaan timbal  balik antara masing-masing individu dalam masyarakat tersebut.

Walaupun pragmatisme tidak mengenal tujuan akhir pendidikan namun Dewey (1964:94) mengemukakan beberapa kriteria dalam menentukan tujuan pendidikan yaitu harus dihasilkan dari situasi kehidupan di sekeliling anak dan pendidik, harus fleksibel dan mencerminkan aktifitas bebas. Tujuan pendidikan, menurut pragmatisme bersifat temporer, karena tujuan itu merupakan alat untuk bertindak.  Apabila suatu tujuan telah tercapai maka hasil tujuan tersebut menjadi alat unuk mencapai tujuan berikutnya. Dengan tujuan pendidikan individu harus mampu melanjutkan pendidikan. Hasil belajar harus dapat dijadikan alat untuk tumbuh.

Beberapa karaktteristik tujuan pendidikan yang harud diperhatikan adalah:

1.    Tujuan pendidikan hendaknya ditentukan dari kegiatan yang didasarkan atas kebutuhan   instrinsik anak didik.

2.    Tujuan pendidikan harus mampu memunculkan suatu metode yang dapat mempersatukan aktifitas pengajaran yang sedang berlangsung.

3.    Tujuan pendidikan adalah spesifik dan langsung pendidikan harus tetap menjaga untuk tidak mengatakan  yang berkaitan dengan tujuan umum dan tujuan akhir.

Tujuan pendidikan adalah suatu kehidupan yang baik, yaitu kehidupan seperti yang digambarkan oleh Kingsley Price (1962:476), “Kehidupan yang baik dapat dimiliki, baik oleh individu maupun oleh masyarakat. Kehidupan yang baik merupakan suatu pertumbuhan maksimum dan hanya dapat diukur oleh mereka yang memiliki inelegensi (kecerdasan) yang baik. Perbuatan yang intelijen (cerdas) merupakan jaminan terbaik untuk melangsungkan pertumbuhan, merupakan jaminan terbaik untuk moral yang baik.”

Pada hakikatnya masyarakat adalah terbaik, namun masyarakat yang demokratis merupakan masyarakat terbaik, dimana terdapat kesempatan untuk setiap pekerjaan, dan dalam demokrasi tidak mengenal adanya stratifikasi sosial. Kesamaan-kesamaan merupakan jaminan bahwa setiap orang akan dapat mengambil bagian melaksanakan segala aktivitas lembaga yang ia masuki. Penggunaan intelegensi secara maksimal, berarti memberi kesempatan suatu pertumbuhan kepada individu secara maksimal.

 

          Peranan Siswa Menurut Filsafat Pragmatisme

 

Dalam filsafat pragmatisme, nilai kebenaran bersifat relatif yang berkesesuaian dengan nilai-nilai yang disepakati masyarakat dan menunjang kepada kehidupan yang sesuai harapan di masa depan. Maka dari itu, siswa memiliki peranan untuk mengolah setiap pengalaman yang didapatkannya untuk mengetahui kebenaran yang ada di masyarakatnya. Dalam hal ini, siswa akan mampu merekonstruksi setiap pengalaman yang ia dapatkan secara kronologis selama ia hidup bermasyarakat serta berinteraksi dengan manusia dan alam di sekitarnya. Setiap pengalaman yang ia dapatkan nantinya akan menjadi suatu pertimbangan bagi siswa tersebut dalam menyelesaikan suatu masalah baik yang berhubungan dengan dirinya maupun orang lain.

 

Peranan Guru Menurut Filsafat Pragmatisme

 

Dalam Pragmatisme, belajar selalu dipertimbangkan untuk menjadi seorang individu. Dalam pembelajaran peranan guru bukan “menuangkan” pengetahuannya kepada siswa, sebab upaya tersebut merupakan upaya tak berbuah. Sewajarnya, setiap apa yang siswa pelajari sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan, minat-minat dan masalah pribadinya. Dengan kata lain isi pengetahuan tidak bertujuan dalam dirinya sendiri, melainkan bermakna untuk suatu  tujuan. Dengan demikian seorang siswa yang menghadapi suatu pemasalahan akan mungkin untuk merekonstruksi lingkungannya untuk memecahkan kebutuhan yang dirasakannya. Untuk membantu siswa, guru harus berperan :

a)      Menyediakan berbagai pengalaman yang akan memunculkan motivasi. Field Trips, film-film, catatan-catatan, dan tamu ahli merupakan contoh-contoh aktifitas yang dirancang untuk memunculkan minat siswa terhadap permasalah penting.

b)       Membimbing siswa untuk merumuskan batasan masalah secara spesifik.

c)      Membimbing merencanakan tujuan-tujuan individual dan kelompok dalam kelas untuk digunakan dalam memecahkan masalah.

d)     Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi berkenaan dengan masalah. Secara esensial, guru melayani para siswa sebagai pembimbing dengan memperkenalkan keterampilan, pemahaman-pemahaman, pengetahuan dan penghayatan-penghayatan melalui penggunaan buku-buku, komposisi-komposisi, surat-surat, narasumber, film-film, field trips, televisi atau segala sesuatu yang tepat digunakan

e)        Bersama-sama kelas mengevaluasi apa yang telah dipelajari; bagaimana mereka mempelajarinya; dan informasi baru apa yang setiap siswa temukan oleh dirinya (Callahan and Clark, 1983).

Edward J. Power (1982) menyimpulkan pandangan pragmatisme bahwa siswa merupakan organisme yang rumit yang mempunyai kemampuan luarbiasa untuk tumbuh  sedangkan guru berperanan untuk memimpin dan membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan siswa.

Mengacu kepada prinsip bahwa segala sesuatu terus berubah, prinsip bahwa pengetahuan terbaik yang diperoleh melalui eksperimentasi ilmiah juga selalu berubah dan bersifat relatif, dan prinsip-prinsip relativisme nilai-nilai, maka Callahan and Clark (1983) menyimpulkan orientasi pendidikan pragmatisme adalah Progresivisme. Artinya pendidikan pragmatisme menolak segala bentuk formalisme yang berlebihan dan membosankan dari pendidikan sekolah yang tradisional. Anti tehadap otoritarianisme dan absolutisme dalam berbagai bidang kehidupan, terutama dalam berbagai bidang kehidupan agama, moral, sosial, politik, dan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, pendidikan Pragmatisme dipandang memiliki kekuatan demi terjadinya perubahan sosial dan kebudayaan melalui penekanan perkembangan individual peserta didik. Selain itu Callahan and Clark (1983) memandang rekonstrukionisme adalah variasi dari progresivisme, yaitu suatu orientasi pendidikan yang ingin merombak tata susunan kebudayaan lama, dan membangun tata susunan kebudayaan baru melalui pendidikan/sekolah. Perbedaannya dengan progresivisme yaitu bahwa rekonstruksionisme tidak menekankan perubahan masyarakat dan kebudayaan melalui perkembangan individual siswa (child centered), melainkan melalui rekayasa sosial dengan jalan pendidikan atau sekolah.

Guru di sekolah harus merupakan suau petunjuk jalan serta pengamat tingkah laku anak untuk mengetahui apakah yang menjdi minat perhatian anak. Dengan mengamati perilaku anak tersebut, guru dapat menentukan masalah apa yang akan dijadikaan pusat perhatian anak. Jadi dalam proses belajar mengajar ada beberapa saran bagi guru yang harus diperhatikan, terutama dalam menghadapi dalam kelas, yaitu:

1.    Guru tidak boleh memaksakan suatu ide atau pekerjaan yang tidak sesuai dengan minat dan kemmapuan siswa.

2.    Guru hendaknya menciptakan situasi yang menyebabkab siswa akan merasakan adanya suatu masalah yang ia hadapi, sehingga timbul minat  untuk memecahkan masalah tersebut.

3.    Untuk membangkitkan minat anak hendaklah guru mengenal kemampuan serta minat masing-masing siswa.

4.    Guru harus dapat bisa menciptakan situasi yang menmbulkan kerja sama dalam belajar, antara siswa dengan siswa, antara siswa denga guru, begitu pula antara dengan guru. (Kingley Price, 1962:467).

Jadi tugas guru dalam proses belajar mengajar adalah sebagai fasilitator, memberi dorongan dan kemudahan kepada siswa untuk bekerja bersama-sama, meyelidiki dan mengamati sendiri, berpikir dan menarik kesimpulan sendiri, membangun dan menghiasi sendiri sesuai dengan minat yang ada pada dirinya. Dengan jalan ini si anak akan belajar sambil bekerja anak harus dibangkitkan kecerdasannya  agar pada diri anak timbul khasrat untuk menyelidik secara teratur dan akhirnya dapat berpikir ilmiah dan logis, yaitu cara berpikir yang didasarkan pada fakta dan pengalaman.

 

        Kurikulum Pendidikan Menurut Filsafat Pragmatisme

 

Menurut para filsuf Pragmatisme, tradisi demokratis adalah tradisi memperbaiki diri sendiri (a self-correcting tradition). Implikasinya warisan-warisan sosial budaya dari masa lalu tidak menjadi fokus perhatian pendidikan. Sebaliknya, pendidikan seharusnya terfokus kepada kehidupan yang baik pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Standar kebaikan seseorang diuji secara terus-menerus dan diverifikasi melalui pengalaman-pangalaman yang berubah. Pendidikan harus dilaksanakan untuk memelihara demokrasi. Sebab hakikat demokrasi adalah dinamika dan perubahan sebagai hasil rekonstruksi pengalaman yang terus-menerus belangsung. Namun demikian rekonstruksi ini tidak menuntut atau tidak meliputi perubahan secara menyeluruh. Hanya masalah-masalah sosial yang serius dalam masyarakat yang diuji ulang agar diperoleh solusi-solusi baru.

Dalam pandangan pragmatisme, kurikulum sekolah seharusnya tidak terpisahkan dari keadaan-keadaan yang riil dalam masyarakat. Dalam pendidikan materi pelajaran adalah alat untuk memecahkan masalah-masalah individual, dan siswa secara perorangan ditingkatkan atau direkonstruksi, dan secara bersamaan masyarakat dikembangkan. Karena itu masalah-masalah masyarakat demokratis harus menjadi bentuk dasar kurikulum dan makna pemecahan ulang masalah-masalah lembaga demokratis juga harus dimuat dalam kurikulum. Karena itu kurikulum harus menjadi :

a)      Berbasis pada masyarakat.

b)      Lahan praktek cita-cita demokratis.

c)      Perencanaan demokratis pada setiap tingkat pendidikan.

d)     Kelompok batasan tujuan-tujuan umum masyarakat.

e)      Bermakna kreatif untuk pengembangan keterampilan-keterampilan baru.

f)       Kurikulum berpusat pada siswa (pupil/child centered) dan berpusat pada aktifitas (activity cenetred). Selain itu perlu dicatat bahwa kurikulum pendidikan pragmatisme diorganisasi secara interdisipliner, dengan kata lain kurikulumnya bersifat terpadu, tidak merupakan mata pelajaran-mata pelajaran yang terpisah-pisah.

Sejalan dengan uraian diatas, Edward J.Power (1982) menyimpulkan bahwa kurikulum pendidikan pragmatisme berisi pengalaman-penglaman yang telah teruji, yang sesuai dengan kebutuhan dan minat siswa. Adapun kurikulum tersebut mungkin berubah.

 

Metode Pembelajaran dalam Pendidikan Menurut Filsafat Pragmatisme

 

Sebagaimana dikemukakan Callahan and Clark (1983), penganut eksperimentalisme atau pragmatisme mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah (Problem Solving Method) serta metode penyelidikan dan penemuan (Inquiry and Discovery Method). Dalam prakteknya (mengajar), metode ini membutuhkan guru yang memiliki sifat  permissive (pemberi kesempatan),  friendly (bersahabat),  a guide (seorang pembimbing), open minded (berpandangan terbuka), enthusiastic (bersifat antusias), creative (kreatif), social aware (sadar bermasyarakat), alert (siap siaga), patien (sabar), cooperative dan sincere (bekerja sama dan ikhlas atau bersungguh-sungguh).

 

PENUTUP

Penerapan filsafat pragmatisme dalam pembelajaran untuk memberi suatu sumbangan besar terhadap teori pendidikan.menurut filsafat pragmatisme ini pendidikan bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar dan juga bukan dari dalam dengan dirinya sendiri. Pendidikan filsafat adalah pendidikan yang menolak segala bentuk formalisme yang berlebihan dan akan membosankan seperti dalam pendidikan sekolah tradisional. Siswa harus diberikan kebebasan menyalurkan pendapat tidak hanya menerima pengetahuan dari guru saja, melainkan guru menciptakan suasana agar siswa selalu haus akan pengetahuan.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://blog.sunan-ampel.ac.id/warsiman/2010/05/18/aliran-filsafat-pragmatisme-sebuah-      gagasan-ideal-sistem-pendidikan-di-indonesia/

http://momomiyami.blogspot.com/2013/05/filsafat-pendidikan-pragmatisme.html

 

Oleh: *)Welly Santoso, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan program studi pendidikan bahasa dan sastra indonesia kelas B. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah pengantar pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s