Penerapan Aliran Konvergensi dalam Pembelajaran

Perkembangan  zaman  di  dunia  pendidikan  yang  terus  berubah  secara signifikan banyak merubah pola pikir  pendidik dan peserta didik, dari pola pikir  awam dan kaku menjadi lebih modern dan kritis. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Pendidikan merupakan hal yang paling penting untuk menuju kehidupan yang lebih baik, karena sukses tidaknya pendidikan tidak lepas dari faktor pembawaan dan lingkungan. Masalah tersebut  merupakan hal yang tidak mudah untuk di jelaskan sehingga memerlukan penjelasan dan uraian yang tidak sedikit.

Dalam hal ini akan dipaparkan penjelasan dari aliran konvergensi serta penerapannya dalam pembelajaran.

 

  1. A.  Konsep Dasar dan Definisi Aliran Konvergensi

Konvergensi berasal dari kata Convergative yang berarti penyatuan hasil atau kerja sama untuk mencapai suatu hasil. William Stern mengatakan bahwa kemungkinan-kemungkinan yang dibawa sejak lahir itu merupakan petunjuk-petunjuk nasib manusia yang akan datang dengan ruang permainan. Dalam ruang permainan itulah terletak pendidikan dalam arti yang sangat luas. Tenaga-tenaga dari luar dapat menolong tetapi bukan yang menyebabkan perkembangan itu Karena datangnya dari dalam yang mengandung dasar keaktifan dan tenaga pendorong. Sebagai contoh; anak dalam tahun pertama belajar mengoceh, baru kemudian becakap-cakap, dorongan dan bakat itu telah ada, dia meniru suara-suara dari ibunya dan orang disekelilingnya. Ia mendengar  dan meniru kata-kata yang diucapkan kepadanya. Bakat dan dorongan itu tidak akan berkembang jika tidak ada bantuan dari luar yang merangsangnya. Dengan demikian jika tidak ada bantuan suara-suara dari luar atau kata-kata yang di dengarnya tidak mungkin anak tesebut bisa bercakap-cakap.

  1. B.       Sejarah Perkembangan Aliran Konvergensi

Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.  Meskipun demikian, terdapat variasi mengenai faktor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh kembang itu.  Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tercermin  antara lain dalam perbedaan pandangan  tentang strategi yang tepat untuk memahami  perilaku manusia,  seperti strategi disposisional/konstitusional,  startegi phenomenologis/humanistic, startegi behavior, strategi psikodinamik/psikoanalitik, dan sebagainya.

Demikian halnya dalam belajar mengajar;  variasi pendapat itu telah  menyebabkan munculnya berbagai  teori  belajar mengajar dan atau teori/model mengajar.  Sebagai contoh, dikenal  berbagai  pendapat tentang model-model  mengajar seperti  rumpun model behavior (umpan model belajar tuntas, model belajar kontrol diri sendiri, model belajar simulasi, dan model belajar asertif),  model belajar pemrosesan informasi (model belajar inkuiri, model persentase kerangka dasar,  atau advance organizer,  dan model pengembangan berfikir), dan lain-lain. Di sisi lain, variasi pendapat juga melahirkan berbagai gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informatory, teknik penilaian pencapaian siswa  dengan tugas objektif atau tes esai, perumusan tujuan  pengajaran yang sangat behavior, dan penekanan pada peran teknologi pengajaran.

 

  1. C.      Analisis Penerapan Aliran Konvrgensi Dalam Pembelajaran

Aliran ini menggabungkan arti penting hereditas (pembawaan) dengan lingkungan sebagai faktor-faktor yang berpengaruh dalam perkembangan manusia.

 

Berdasarkan uraian mengenai aliran-aliran doktrin filosofis yang berhubungan dengan proses perkembangan diatas, penyusun pandangan bahwa faktor yang memengaruhi tinggi rendahnya mutu hasil perkembangan siswa pada dasarnya terdiri atas dua macam:

1)   Faktor Internal,  yaitu faktor yang ada dalam diri siswa itu sendiri yang meliputi pembawaan dan potensi psikologis tertentu yang turut mengembangkan dirinya sendiri.

2)   Faktor Eksternal, yaitu hal-hal yang datang atau ada diluar diri siswa yang meliputi lingkungan (khususnya pendidikan) dan pengalaman berinteraksi siswa tersebut dengan lingkungannya.

Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting. Bakat yang dibawa pada waktu lahir tidak akan berkembang dengan baik tanpa adanya dukungan lingkungan yang sesuai untuk perkembangan bakat itu. Sebaliknya, lingkungan yang baik tidak dapat menghasilkan perkembangan anak yang optimal kalau memang pada diri anak tidak terdapat bakat yang diperlukan untuk mengembangkan itu. Sebagai contoh, hakikat kemampuan anak manusia berbahasa dengan kata-kata, adalah hasil konvergensi.

Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah berkembangnya potensi yang kurang baik. Yang membatasi hasil pendidikan adalah pembawaan dan lingkungan. Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh-kembang manusia. Meskipun demikian, terdapat variasi pendapat tentang faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuh-kembang itu. Dari sisi lain, variasi pendapat itu juga melahirkan berbagai pendapat/gagasan tentang belajar mengajar, seperti peran guru sebagai fasilitator atau informator, teknik penilaian pencapaian siswa dengan tes objektif atau tes esai, perumusan tujuan pengajaran yang sangat behavioral, penekanan pada peran teknologi pengajaran The Teaching Machine (belajar berprogram), dan lain sebagainya.

 

  1. 1.        Karakteristik Aliran Pendidikan Konvergensi

Paham konvergensi ini berpendapat, bahwa didalam perkembangan individu itu baik dasar atau pembawaan maupun lingkungan memainkan peranan penting. Bakat sebagai kemungkinan telah ada pada masing-masing individu, akan tetapi bakat yang sudah tersedia  perlu menemukan lingkungan yang sesuai supaya dapat berkembang.

Teori William Stern disebut teori konvergensi (konvergen artinya memusat kesatu titik).  Jadi menurut teori konvergensi :

1)      Pendidikan mungkin dilaksanakan.

2)      Pendidikan diartikan sebagai pertolongan yang diberikan lingkungan kepada anak didik untuk mengembangkan potensi yang baik dan mencegah  berkembangnya potensi yang kurang baik.

3)      Yang membatasi hasil pendidikan  adalah pembawaan dan lingkungan.

 

  1. 2.        Pengaruh Aliran Pendidikan Konvergensi Terhadap Pendidikan di Indonesia

 

1)      Masa Revolusi Kemerdekaan

Faham konvergensi bukanlah hal yang baru dalam sistem pendidikan formal di Indonesia. Pengaruh faham ini sudah terlihat sejak pertama kali dirumuskan sistem pendidikan nasional di Indonesia oleh Ki Hajar Dewantara. Secara eksplisit Ki Hajar Dewantara pernah menyatakan dalam tulisannya bahwa segala alat, usaha, dan cara pendidikan harus sesuai dengan kodratnya keadaan. Selain itu Ki Hajar Dewantara juga mengatakan, “Pendidikan itu hanya suatu tuntunan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak kita”. Dari pernyataan-pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa selain menyadari sangat pentingnya pendidikan bagi proses tumbuh kembangnya karakter dan kemampuan seseorang, beliau juga mengakui adanya peran yang cukup penting dari faktor dasar/pembawaan, yang disebutnya sebagai kekuasaan kodrati.

2)      Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA)

Walaupun belum begitu meluas penerapannya, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya sudah mulai diterapkan oleh para pendidik di Indonesia pada akhir tahun 1970. Secara harfiah, Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) dapat diartikan sebagai suatu sistem belajar mengajar yang menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental, intelektual, dan emosional untuk memperoleh hasil belajar yang berupa perpaduan antara matra (domain) kognitif, afektif, dan psikomotorik. Metode ini dapat dikatakan sebagai ‘pendidikan yang berpusat pada anak’, karena dalam proses pembelajaran yang berperan sebagai pengolah bahan ajar adalah siswa sendiri, sedangkan guru hanya berperan sebagai pembimbing dan pengarah proses belajar-mengajar.

Dalam bukunya yang berjudul “Upaya Pembaharuan Dalam Pendidikan dan Pengajaran” Cece Wijaya et.al. menyatakan bahwa Belajar mengajar dapat dikatakan bermakna dan berkadar CBSA bila terdapat ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Adanya keterlibatan siswa dalam menyusun dan membuat perncanaan proses belajar-mengajar.
  2. Adanya keterlibatan intelektual emosional siswa, baik melalui kegiatan mengalami, manganalisis, berbuat, maupun pembentukan sikap.
  3. Adanya keikutsertaan siswa secara kreatif dalam menciptakan situasi yang cocok untuk berlangsungnya proses belajar-mengajar.
  4. Guru bertindak sebagai fasilitator dan koordinator kegiatan belajar siswa.
  5. Menggunakan multi metode dan multi media.

 

Dari paparan tersebut dapat disimpulkan bahwa dalam sistem (CBSA) pengakuan dan perhatian terhadap potensi dasar/pembawaan anak sangat penting. Disamping itu, perhatian juga diarahkan pada pengkondisian lingkungan tempat berlangsungnya proses belajar-mengajar. Sehingga proses pembelajaran dan pendidikan secara keseluruhan dapat berlangsung lebih bermakna. Dengan kata lain melalui sistem CBSA belajar itu dipandang sebagai proses interaksi antara individu dengan lingkungannya. Dengan demikian, penerapan Cara Belajar Siswa Aktif (CBSA) sebenarnya secara prinsip merupakan implementasi dari paham konvergensi dalam pendidikan.

3)      Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK)

Kurikulum berbasis kompetensi merupakan perangkat rencana dan pengaturan tentang kompetensi dan hasil belajar yang harus dicapai siswa, penilaian kegiatan belajar mengajar, dan pemberdayaan sumber daya pendidikan dalam pengembangan kurikulum sekolah.

Rumusan kompetensi dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pernyataan apa yang diharapkan dapat diketahui, disikapi, atau dilakukan siswa dalam setiap tingkatan kelas dan sekolah serta menggambarkan kemajuan siswa yang dicapai secara bertahap dan berkelanjutan untuk menjadi kompeten.

Kurikulum Berbasis Kompetensi berorientasi pada:

  1. Hasil dan dampak yang diharapkan muncul pada diri peserta didik melalui serangkaian pengalaman belajar yang bermakna.
  2. Keberagaman yang dapat dimanifestasikan sesuai dengan kebutuhannya.

Kurikulum Berbasis Kompetensi memiliki ciri-ciri sebagai berikut :

  1. Menekankan pada pencapaian kompetensi siswa baik secara individual maupun klasikal.
  2. Berorientasi pada hasil belajar (learning outcomes) dan keberagaman.
  3. Penyampaian dalam pembelajaran menggunakan pendekatan dan metode yang bervariasi.
  4. Sumber belajar bukan hanya guru, tetapi juga sumber belajar lainnya yang memenuhi unsur edukatif.
  5. Penilaian menekankan pada proses dan hasil belajar dalam upaya penguasaan atau pencapaian suatu kompetensi.

Salah satu prinsip dalam pengembangan Kurikulum Berbasis Kompetensi adalah berpusatnya pendidikan pada anak dengan penilaian yang berkelanjutan dan komperehensif. Ini merupakan upaya memandirikan siswa untuk belajar, bekerjasama, dan menilai diri sendiri agar siswa mampu membangun pemahaman dan pengetahuannya.

Kurikulum Berbasis Kompetensi merupakan pergeseran penekanan dalam kurikulum dari isi (APA yang tertuang) ke kompetensi (BAGAIMANA harus berpikir, belajar, bersikap dan melakukan). Oleh karena itu guru dan siswa diharapkan dapat mengetahui apa yang harus dicapai dan sejauh mana efektivitas belajar telah dicapai. Tetapi pada pelaksanaannya, secara prinsip metode yang diterapkan dalam Kurikulum Berbasis Kompetensi relatif tidak terlalu berbeda dengan metode CBSA, dimana penekanan proses belajarnya tetap berpusat pada siswa. Dengan demikian melalui metode KBK pun proses pendidikan di Indonesia tetap mengacu pada pandangan tentang pentingnya faktor dasar/pembawaan dan peranan lingkungan dalam pembentukkan pribadi sebagai produk pendidikan. Dengan kata lain jiwa dari KBK sesungguhnya inti dari faham konvergensi.

 


 

PENUTUP

Aliran Konvergensi Penganut aliran ini berpendapat bahwa dalam proses perkembangan anak, baik faktor pembawaan maupun faktor lingkungan sama-sama mempunyai peranan yang sangat penting.

Aliran konvergensi pada umumnya diterima secara luas sebagai pandangan yang tepat dalam memahami tumbuh kembang manusia.  Meskipun demikian terdapat variasi mengenai factor-faktor mana yang paling penting dalam menentukan tumbuhh kembang itu. Seperti telah dikemukakan bahwa variasi-variasi itu tercermin antara lain dalam perbedaan pandangan  tentang strategi yang tepat untuk memahami perilaku manusia, seperti strategi disposisional/konstitusional, startegi phenomenologis/humanistic, startegi behavioral.


DAFTAR PUSTAKA

Lutvianggraini.blogspot.co/2012/11/makalah-aliran-aliran-pendidikan-klasik.html

m-arif-am.blogspot.com/2010/09/aliran-aliran-klasik-dalam-pendidikan.html

Emil113umm.wordpress.com/2013/07/13/aliran-aliran-klasik-dalam-pendidikan

Tugaskuliah04.blogspot.com/2012/12/aliran-aliran-pendidikan-pengantar.html

Oleh: Kristiawati, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Pengantar Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s