Penerapan Filsafat Pragmatisme dalam Pembelajaran

Pada dasarnya penerapan filsafat pragmatisme dalam pembelajaran adalah berusaha untuk lebih menekankan kepada metoda dan pendirian daripada kepada dokstrin filsafat yang sistematis yaitu metoda penyelidikan eksperimen yang dipakai dalam segala bidang pengalaman manusia. Salah satunya dibidang pendidikan.

Filsafat pragmatisme dalam pendidikan ini bersikap kritis terhadap sistem – sistem filsafat sebelumnya. Seperti bentuk – bentuk aliran materialisme, idealisme dan realisme. Pada filsafat pragmatisme dalam pendidikan harus mengajarkan seseorang tentang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi didalam masyarakat.

 

DEFINISI DAN KONSEP FILSAFAT PRAGMATISME.

Pragmatisme adalah suatu sikap metode dan filsafat yang memakai akibat – akibat praktis dari pikiran dan kepercayaan sebagai ukuran kebenaran. Termasuk dalam bidang pendidikan. Ada beberapa definisi tentang filsafat pragmatisme, menurut para ahli salah satunya adalah menurut William James yang mendefinisikan filsafat pragmatisme sebagai sikap memandang jauh terhadap benda – benda pertama, prisip – prinsip dan kategori – kategori yang dianggap sangat penting, serta melihat ke depan kepada benda – benda yang terakhir, buah akibat dan fakta – fakta.

Dan menurut Charles Sandre Peirce menyatakan bahwa sesuatu dikatakan berpengaruh bila memang memuat hasil yang praktis. Pada kesempatan yang lain, ia juga mnyatakan bahwa pragmatisme sebenarnya bukan suatu filsafat, bukan metafisika, dan bukan teori kebenaran, melainkan suatu teknik untuk membantu manusia dalam memecahkan masalah. Kesimpulan dari kedua pernyataan itu adalah bahwa filsafat pragmatisme tidak hanya sekedar ilmu yang bersifat teori dan dipelajari hanya untuk berfilsafat serta mencari kebenaran belaka, juga bukan metafisika karena tidak pernah memikirkan hakikat dibalik realitas, tetapi konsep pragmatisme lebih cenderung pada tataran ilmu praktis untuk membantu menyelesaikan persoalan yang dihadapi manusia.

Filsafat pragmatisme di dalam pembelajaran lebih menekankan kapada metoda dan pendirian dari pada kepada doktrin filsafat yang sistematis, yaitu metoda penyelidikan eksperimental yang biasanya dipakai dalam segala bidang pengalaman.

Ada beberapa konsep dalam filsafat pragmatisme dan salah satunya adalah Konsep Realitas yang merupakan interaksi antara manusia dengan lingkungannya. Dalam filsafat pragmatisme manusia dipandang sebagai makhluk fisik sebagai hasil/evolusi biologis, sosial dan psikologis karena manusia dalam keadaan yang terus berkembang.

Dari konsep ini, penerapan filsafat pragmatisme dalam pembelajaran mempunyai tujuan, salah satunya untuk mengajarkan kepada para siswa agar mereka dapat memahami kondisi disekitarnya/dilingkungannya dan dari situlah siswa diharap dapat memahami, mengerti dan dapat menyaring mana yang baik dan mana yang buruk untuk diri mereka dari pengaruh lingkungan sekitarnya.

 

PANDANGAN FILSAFAT PRAGMATISME DAN PENERAPANNYA DIBIDANG PENDIDIKAN.

-Tujuan Pendidikan.

Pada filsafat pragmatisme, mengajarkan bahwa pendidikan harus mengajarkan pada seseorang bagaimana berfikir dan menyesuaikan diri terhadap perubahan yang terjadi dalam masyarakat. Lembaga sekolah harus mempunyai tujuan untuk mengembangkan pengalaman – pengalaman yang akan memungkinkan seseorang terarah kepada kehidupan yang lebih baik, diantaranya adalah :

  1. Kesehatan yang baik.
  2. Ketrampilan dan kejujuran dalam bekerja.
  3. Minat dan hobi untuk kehidupan uang menyenangkan.
  4. Mempersiapkan peserta didik menjadi orang tua.
  5. Kemampuan untuk bertransaksi.

Dan tujuan khusus dalam pendidikan untuk pemahaman tentang pentingnya demikrasi, menyediakan pengalaman untuk menemukan/memecahkan hal – hal baru dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosial. Dalam pembelajaran filsafat pragmatisme mengutamakan metode pemecahan masalah serta metode penyelidikan dan penemuan.

Menurut pragmatisme pendidikan hendaknya bertujuan menyediakan pengalaman untuk menemukan hal – hal baru dalam kehidupan pribadi dan kehidupan soaial.

Filsafat pragmatisme dalam pendidikan membutuhkan guru yang tidak hanya mentransfer pengetahuan pada siswanya. Melainkan guru harus dapat membimbing siswa untuk merumuskan batasan masalah secara spesifik menyediakan berbagai pengalaman yang akan memunculkan motivasi untuk siswa. Membimbing dan merencanakan tujuan – tujuan individual dan kelompok dalam kelas guna memecahkan suatu masalah. Membantu para siswa dalam mengumpulkan informasi, bersama siswa mengevaluasi apa yang telah dipelajari, bagaimana mempelajarinya dan informasi baru yang ditemukan oleh setiap siswa.

Dalam pandangan filsafat pragmatisme pendidikan, siswa dipandang sebagai pribadi yang mempunyai potensi untuk berkembang dan tumbuh luar biasa. Sedangkan guru berperan membuat pengalaman belajar siswa.

-Kurikulum.

Menurut filsafat pragmatisme, tradisi demokrasi adalah tradisi memperbaiki diri sendiri. Pendidikan berfokus pada kehidupan yang baik pada masa sekarang dan masa yang akan datang. Kurikulum pendidikan pragmatisme, berisi pengalaman – pengalaman yang telah teruji, yang sesuai dengan minat dan kebutuhan siswa. Adapun kurikulum tersebut akan berubah.

-Metode Pendidikan.

Ajaran pragmatisme lebih mengutamakan penggunaan metode pemecahan masalah serta metode penyelidikan dan penemuan. Dalam mengajarkan, metode ini membutuhkan guru yang memiliki sifat pemberi kesempatan, bersahabat, seorang pembimbing, berpandangan terbuka,antusias,kreatif, sadar bermasyarakat, siap siaga,sabar,bekerjasama, dan bersungguh – sungguh agar belajar berdasarkan pengalaman dapat diaplikasikan oleh siswa dan apa yang dicita – citakan dapat tercapai.

Edward J. Power (1982) menyimpulkan pandangan pragmatisme bahwa siswa merupakan organisme rumit yang mempunyai kemampuan luar biasa untuk tumbuh, sedangkan guru berperan untuk memimpin dam membimbing pengalaman belajar tanpa ikut campur terlalu jauh atas minat dan kebutuhan siswa.

Callahan dan Clark menyimpulkan bahwa orientasi pendidikan filsafat  pragmatisme adalah progresivisme. Artinya pendidikan pragmatisme menolak segala bentuk formalisme yang berlebihan dan membosankan dari pendidikan sekolah yang tradisional. Anti terhadap otoritarianisme dan absolutisme dalam berbagai bidang kehidupan.

 

PENUTUP.

Penerapan filsafat pragmatisme dalam pembelajaran untuk memberi suatu sumbangan besar terhadap teori pendidikan. Menurut filsafat pragmatisme ini pendidikan bukan merupakan suatu proses pembentukan dari luar dan juga bukan suatu yang dari dalam dengan sendirinya. Pendidikan filsafat adalah pendidikan yang menolak segala bentuk formalisme yang berlebihan dan akan membosankan seperti dalam pendidikan sekolah yang tradisonal. Siswa harus diberikan kebebasan menyalurkan pendapat, tidak hanya  menerima pengetahuan dari guru saja, melainkan guru menciptakan suasana agar siswa selalu haus akan pengetahuan.

 

DAFTAR PUSTAKA.

Munir, Misnal, Drs., M.Hum., dkk. 2006 Filsafat Ilmu. Pustaka Pelajar : Yokyakarta.

 

*)Widya Haznawati, penulis mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Pengantar Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s