Penerapan Filsafat Perenialisme Dalam Pembelajaran

Istilah Perenialisme berasal dari bahasa latin, yakni dari akar kata perenis atau perennial yang berarti tumbuh terus menerus melalui waktu, hidup terus dari waktu ke waktu atau abadi. Pengertian ini apabila di analogikan dengan bunga yang terus menerus mekar dari musim ke musim. Hal ini menunjukkan adanya gejala yang terus ada dan sama. Apabila gejala dari musim ke musim ini di hubungkan satu dengan yang lain seolah-olah merupakan benang dengan corak warna khas, yakni terus menerus sama.Maka pandangan ini selalu mempercayai mengenai adanya nilai-nilai, norma-norma yang bersifat abadi dalam kehidupan ini. Atas dasar itu, perenialis memandang pola perkembangan kebudayaan sepanjang zaman adalah pengulangan dari apa yang ada sebelumnya sehingga perenialisme sering di sebut denan istilah tradisionaisme.

Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi dan solusi terhadap pendidikan progresif dan atas terjadinya suatu keadaan yang mereka sebut krisis kebudayaan dalam kehidupan manusia modern. Perenialisme menetang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Jalan yang di tempuh oleh kaum perenialis adalah dengan jalan mundur, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kuat, kukuh padazaman kuno dan abad pertengahan.

Kaum perenialis melawan kegagalan-kegagalan dan tragedi dalam abad modern ini dengan mundur kembali kepada kepercayaan yang aksiomatis yang telah teruji tangguh, baik mengenai hakikat yang realitas, pengetahuan, maupun nilai yang telah member dasar fundamental bagi abad-abad sebelumnya.

Pendidikan perenialisme

Kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan, serta membahayakan yang di timbulkan akibat terjadinya krisis diberbagai dimensi kehidupan manusia (khususnya dalam pendidikan), tidak ada satupun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan serta kestabilan dalam perilaku pendidik.

Dalam pemikiran itu, untuk menyelesaikan dan mengembalikan keadaan yang genting saat ini, perenialis memandang bahwa jalan keluar tidak ada yang lain kecuali kembali ke kebudayaan masa lampau yang di anggap sangat idealdan di uji ketangguhanya. Untuk itulah, pendidikan saat ini mesti lebih banyak mengarahkan pusat perhatianya kepada kebudayaan masa lampau yang idel dan teruji tangguh. Dapat di simpulkan perenialis memiliki pandangan yang bertolak terhadap modernistic yang telah menjauh dari tradisi dan terlalu mengedepankan logika dan rasio daripada sumber pengetahuan lainya serta terlalu memandang sesuatu berdsarkan materi.

Jelaslah sekarang  jika di katakana pendidikan yang ada sekarang ini perlu kembali ke masa lampau karena dengan mengembalikan keadaan (apa yang ada, apa yang terjadi, serta apa yang menjadi tujuan) pada masa lampau, kebudayaan yang di anggap krisis ini dapat diatasi melalui perenialisme karena ia dapat menarahkan pusat perhatianya pada pendidikan zaman dahulu dengan sekarang.

Tujuan Pendidikan Perenialisme

Bagi perenialis, nilai-nilai kebenaran bersifat universal dan abadi. Iilah yang menjadi tujuan penidikan yang sejati. Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah membantu peserta didik menyiapkan dan menginternalisasikan nilai-nilai kebenaran yang abadi agar mencapai kebijakan dan kebaikan hidup.

Sekolah pada dasarnya sebuah tatanan buatan, yakni tempat para intelektual yang belum matang berkenalan dengan capaian terbesar manusia. Sekolah, seperti pandangan progresif, bukanlah miniature masyarakat yang lebi luas. Kehidupan manusia, dalam pengertian utuhnya, dapat di jalani hanya setelah aspek rasional manusia di kembangkan.

Sekolah adalah sebuah institusi khusus yang berupaya mencapai misi yang amat mulia. Sekolah tidak terlalu berkepentingan dengan persoalan semacam pekerjaan, hiburan dan rekreasi manusia.Ketiga hal ini memiliki tempat dalam kehidupan manusia, tetapi berada diluar lingkup aktifitas pendidikan.

Sekolah merupakan lembaga tempat latihan elite intelektual yang mengetahui kebenaran dan suatu waktu akan meneruskanya kepada generasi selanjutnya.

Sekolah adalah lembaga yang berperan  mempersiapkan peserta didik atau orang muda untuk terjun ked ala kehidupan. Sekolah bagi perenialis merupakan tempat peserta didik berkenalan dengan hasilyang paling baik dari warisan sosial budaya.

Kurikulum pendidikan bersifat subject connected berpusat pada materi pelajaran. Materi pelajaran harus bersifat universal, seragam dan abadi. Selain itu, materi pelajaran terutama harus terarah kepada pembentukan rasionalitas manusia sebab demikianlah hakikat manusia.

Filsafat Perenialisme Menurut Tokoh

Pandangan para tokoh mengenai perenialisme yaitu :

1.Plato

Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu filsafat sofisme.Ukuran kebenaran dan ukuran moral merupakan sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral, tidak ada kepastian dalam kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Plato berpandangan bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah. Realiatas atau kenyataan-kenyataan itu tidak ada pada diri manusia sejak dari asalnya, yang berasal dari realitas yang hakiki. Menurut Plato, “dunia ideal” , bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Kebenaran pengetahuan, dan nilai sudah ada sebelum manusia lahir yang semuanya bersumber dari ide yang mutlak tadi. Manusia tidak mengusahakan dalam arti menciptakan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral,  melainkan bagaimana manusia menemukan semuanya itu. Dengan menggunakan akal dan rasio, semuanya itu dapat di temukan kembali oleh manusia.

 

2. Aritoteles

Aritoteles (348-322 SM), adalah murid Plato, namun dalam pemikiranya ia mereaksi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikiranya di sebut filsafat realism (realism klasik). Cara berpikir aritoteles berbeda dengan gurunya, Plato, yang menekankan berpikir rasional spekulatif. Aritoteles mengambil cara berpikir rasional empiris realitas. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realitas, yang lebih dekat dengan alam manusia sehari-hari.

Aritoteles hidup pada abad ke empat sebelum masehi, namun ia di nyatakan sebagai pemikir abad pertengahan. Karya-karya aritoteles merupakan dasar berfikir abad pertengahan yang melahirkan renaissance. Sikap positifnya menyebabkan ia mendapat sebutan sebagai bapak sains modern. Kebaikan akan menhasilkan kebahagiaan dan kebaikan, bukanlah pernyataan pemikiran atau perenungan pasif, melainkan merupakan sikap kemauan yang baik dari manusia.

Menurut Aritoteles, manusia adalah makhluk rohani dan materi sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan sosial. Sebagai mkhuk roani manusia sadar akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal, manusia sempurna. Manusia sebagai hewan rasional memiliki kesadaran intelektual dan spiritual, ia hidup dalam alam materi sehingga akan menuju pada derajat yang lebih tinggi, yaitu kehidupan yang abadi, alam supernatural.

3. Thomas Aquina

Thomas Aquina mencoba mempertemukan suatu pertentangan yang muncul pada waktu itu, yaitu antara ajaran Kristen dengan filsafat (sebetulnya dengan filsafat Aritoteles, sebab pada waktu itu yang di jadikan dasar pemikiran logis adalah filsafat neoplatonisme dari Plotinus yang di kembangkan oleh St. Agustinus. Menurut Aquina, tidak terdapat pertentangan terhadap filsafat (khususnya filsafat Aritoteles) dengan ajaran agama (Kristen). Keduanyandapat berjalan dalam lapanganya masing-masing. Thomas Aquina secara terus menerus dan tanpa ragu- ragu mendasarkan filsafatnya kpada filsafat Aritoteles.

Pandangan tentang realitas, ia mengemukakan, bahwa segala sesuatu yang ada, adanya itu karena di ciptakan oleh Tuhan, dan tergantung kepadanya. Iamempertahankan bahwa Tuhan, bebas dalam menciptakan dunia. Dunia tidak mengalir dari Tuhan bagaikan air yang mengalir dari sumbernya, seperti yang di pikirkan oleh filosof neoplatonisme dalam ajaran mereka tentang teori “emanasi”. Thomas Aquina menekankan dua hal dalam pemikirantentang realitanya, yaitu: 1) dunia tidak di adakan dari semacam bahan dasar, dan 2) penciptaan tidak terbatas pada satu saja, demikian menurut Bertens (1979).

Dalam masalah pengetahuan, Thomas Aquina mengemukakan bahwa pengetahuan itu di peroleh sebagai persentuhan dunia luar danoleh akal budi, menjadi pengetahuan. Selain pengetahuan manusia yang bersumber dari wahyu, manusia dapat memperoleh pengetahuan dengan melalui pengalaman dan rasionya (disinilah ia mempertemukan pandangan filsafat filsafat idealism, realism dan ajaran gerejanya). Filsafat Thomas Aquina di sebut tomisme. Kadang- kadang orang tidak membedakan antara perenialisme dengan neotonisme. Perenialisme sama dengan neotonisme dalam pendidikan.

 

DAFTAR PUSTAKA

http://trinitycute.blogspot.com/2012/05/pendidikan  -menurut-aliran-filsafat.html

Hw, Teguh Wangsa Gandhi. Filsafat  pendidkan, Jogyakarta : Ar-ruzz media

Suharto, Suparlan. 2007. Filsafat pendidikan Jogyakarta : Ar-ruzz media group

 

Oleh:

DEWI PUJI ASTUTI_PBSI B_Tugas 1_Penerapan filsafat perenialisme dalam pembelajaran

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s