Penerapan Aliran Nativisme dalam Pembelajaran

Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan memiliki nuansa yang berbeda antara satu daerah dengan daerah lain, sehingga banyak bermunculan pemikiran-pemikiran yang dianggap sebagai penyesuaian proses pendidikan dengan kebutuhan  yang diperlukan. Gagasan dan pelaksanaan pendidikan selalu dinamis sesuai dengan dinamika manusia dan masyarakatnya. Sejak dulu, kini, maupun di masa depan pendidikan itu selalu mangalami perkembangan seiring dengan perkemangan sosial budaya dan perkembangan iptek. Pemikiran-pemikiran yang membawa pembaruan pendidikan itu disebut aliran-aliran pendidikan. 

Aliran-aliran pendidikan telah dimulai sejak awal hidup manusia, karena setia kelompok manusia selalu dihadapkan dengan generasi muda keturunannya yang memerlukan pendidikan yang lebih baik dari orang tuanya. Dalam makalah ini akan membahas aliran pendidikan nativisme.

  1. A.    Penerapan Aliran Nativisme Dalam Pembelajaran
    1. Pengertian Nativisme

Nativisme adalah pandangan bahwa keterampilan-keterampilan atau kemampuan-kemampuan tertentu bersifat alamiah atau sudah tertanam dalam otak sejak lahir. Pandangan ini berlawanan dengan empirisme, teori tabula rasa, yang menyatakan bahwa otak hanya mempunyai sedikit kemampuan bawaan dan hampir segala sesuatu dipelajari melalui interaksi dengan lingkungan. Aliran ini bertolak dari Leibnitzian Tradition, atau kemampuan dari diri anak. Sehingga faktor lingkungan tidak berpengaruh dalam faktor pengembangan pendidikan anak. Hasil pendidikan tergantung pembawaan, Schopenhouer (filsuf Jerman 1788-1860) berpendapat bahwa bayi lahir dalam pembawaan baik dan buruk, maka keberhasilan pendidikan ditentukan oleh anak itu sendiri. Nativisme berasal dari “nati” artinya terlahir, dan bagi nativisme lingkungan sekitar tidak ada artinya sebab lingkungan tidak akan berdaya dalam mempengaruhi perkembangan anak. Konvergensi menjelaskan dua faktor:

a)      Pembawaan ( hereditas ).

b)      Lingkungan dalam perkembangan anak.

Maka banyak didapati dalam aliran Nativisme itu anak mirip dengan orang tuanya baik secara fisik dan non fisik (sifat). Di dalam diri individu terdapat “inti” (G. Leibnitz: Monad) yang mendorong manusia yaitu kemauan aktif sendiri, dan manusia adalah makhluk yang mempunyai kemauan bebas. Dalam pandangan humanistic psycology dari Carl R. Rogers ataupun phenomenology atau humanistik lainnya. Apa yang dialami atau pengalaman pelajar ditentukan “internal frame of reference” yang dimilikinya. Terdapat beberapa variasi pendekatan yaitu:

a)      Pendekatan aktualisasi atau non direktif (client centered) dari Carl R. Rogers dan Abraham Maslow.

b)      Pendekatan “Personal Constructs” dari George A. Kelly yang menekankan memahami hubungan “transaksional” manusia dan lingkungan awalnya memahami perilakunya.

c)      Pendekatan “Gestalt” baik yang klasik (Max Wertheimer dan Wolgang Kphler) maupun pengembangan selanjutnya (K. Lewin dan F. Perls)

d)     Pendekatan “Search for Meaning” dengan aplikasi “Logotherapy” dari Viktor Franki yang mengungkapkan pentingnya semangat (human spirit) sebagai tantangan masalah.

Pendekatan-pendekatan tersebut di atas tetap menekankan pentingnya “inti” privasi atau jati diri manusia.

  1. Tokoh Aliran Nativisme

a)      Immanuel Kant

Immanuel Kant (lahir di Königsberg, Kerajaan Prusia, 22 April 1724 – meninggal di Königsberg, Kerajaan Prusia, 12 Februari 1804 pada umur 79 tahun). Kota itu sekarang bernama Kaliningrat di Rusia. Dia berasal dari keluarga pengrajin yang sederhana. Ketika Kant masih muda, usaha ayahnya bangkrut. Kehidupan meraka harus didukung oleh keluarga besar orang tuanya. Kant penuh dengan kerendahan hati dan sangat disiplin.

Kant kemudian menjadi guru besar untuk logika dan metafisika di Universitas Konisberg. Dia secara rutin menyajikan kuliah tentang geografi fisik. Hal ini dilakukannya sepanjang tahun sampai tahun 1796. Dalam pengantar kuliahnya, dia selalu menegaskan tempat geografi dalam dunia ilmiah. Dia memberikan landasan falsafi bagi geografi sebagai pengetahuan ilmiah.

Minat kant dalam geografi fisik tidak dirangsang oleh pengalamannya menghadapi alam di berbagai belahan dunia tetapi muncul dari penyelidikan filsofis atas pengetahuan empiris. Bagi Kant, geografi adalah ilmu empiris yang ingin menunjukkan alam sebagai suatu sistem. Geografi, menurutnya merupakan ilmu tentang fenomena fisik dan budaya yang tersusun dalam ruang bumi.

b)      Arthur Schopenhauer

Arthur Schopenhauer (22 February 1788 – 21 September 1860) was a German philosopher best known for his book, The World as Will and Representation (German: Die Welt als Wille und Vorstellung), in which he claimed that our world is driven by a continually dissatisfied will, continually seeking satisfaction. Influenced by Eastern thought, he maintained that the “truth was recognized by the sages of India”;[3] consequently, his solutions to suffering were similar to those of Vedantic and Buddhist thinkers (i.e. asceticism); his faith in “transcendental ideality”[4] led him to accept atheism[5][6][7][8] and learn from Christian philosophy.[9][10][11]

At age 25, he published his doctoral dissertation, On the Fourfold Root of the Principle of Sufficient Reason, which examined the four distinct aspects[12] of experience in the phenomenal world; consequently, he has been influential in the history of phenomenology. He has influenced a long list of thinkers, including Friedrich Nietzsche,[13] Richard Wagner, Otto Weininger, Ludwig Wittgenstein, Erwin Schrödinger, Albert Einstein,[14] Sigmund Freud, Otto Rank, Carl Jung, Joseph Campbell, Leo Tolstoy, Thomas Mann, Jorge Luis Borges and Mustafa Mahmud.

  1. B.     Pengaruh Dan Konsep Teori Nativisme Dalan Praktek Pendidikan

Telah cukup banyak dibicarakan hal-ikhwal tentang pendidikan, baik kaitannya dengan hakikat kehidupan manusi, maupun kaitannya dengan kebudayaan sebagai produk dari proses pendidikan. Pada saat manusia mengalami tahap perkembangan, naik secara fisik maupun rohaninya dalam proses pendidikan, muncullah pertanyaan mendasar tentang faktor yang paling berpengaruh terhaap perkembangan itu. Apakah faktor bakat dan kemampuan diri manusia itu sendiri, atau faktor dari luar diri manusia, ataukah kedua-dunya itu secara bersama-sama. Dari faktor pertamalah timbul teori yang disebut sebagai teori nativisme. Nativisme berasal dari kata “nativus” artinya pembawaan.

Teori nativisme dikenal juga dengan teori naturalisme atau teori pesimisme. Teori ini berpendapat bahwa manusia itu mengalami pertumbuhkembangan bukan karena faktor pendidikan dan intervensi lain diluar manusia itu, melainkan ditentukan oleh bakat dan pembawaannya. Teori ini berpendapat bahwa upaya pendidikan itu tidak ada gunanya san tidak ada hasilnya. Bahkan menurut teori ini pendidikan it upaya itu justru akan merusak perkembangan anak. Pertumbuhkembangan anak tidak perlu diintervensi dengan upaya pendidikan, agar pertumbuhkembangan anak terjadi secara wajar, alamiah, sesuai dengan kodratnya.

Telah dibahas pada sebelumnya bahwa teori nativisme berpendapat tentang perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawan sejak lahir, serta faktor lingkungan kurang berpengaruh terhadap pendidikan dan perkembangan anak. Menganalisis dari pendapat tersebut, anak yang dilahirkan dengan bawaan yang baik akan mempunyai bakat yang baik juga begitu juga sebaliknya. Faktor bawaan sangat dominan dalam menentukan keberhasilan belajar atau pendidikan,. Faktor-faktor yang lainnya seperti lingkungan tidak berpengaruh sama sekali dan hal itu juga tidak bisa diubah oleh kekuatan pendidikan. Pendidikan yang diselenggarakan merupakan suatu usaha yang tidak berdaya menurut teori tersebut, karena anak akan menetukan keberhasilan dengan sendirinya bukan melalui sebuah usaha pendidikan. Walaupun dalam pendidikan tersebut diterapkan dengan keras maupun secara lembut, anak akan tetap kembali kesifat atau bakat dari bawaannya. Begitu juga dengan faktor lingkungan, sebab lingkungan itu tidak akan berdaya mempengaruhi perkembangan anak.

Dalam teori nativisme telah ditegaskan bahwa sifat-sifat yang dibawa dari lahir akan menentukan keadaannya. Hal ini dapat diklaim bahwa unsur yang paling mempengaruhi perkembangan anak adalah unsure genetic individu yang diturunkan dari orang tuanya. Dalam perkembangannya tersebut anak akan berkembang dalam cara yang terpola sebagai contoh anak akan tumbuh cepat pada masa bayi, berkurang pada masa anak, kemudian berkembang fisiknya dengan maksimum pada masa remaja dan seterusnya.

 

 

Menurut teori nativisme ada beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan manusia yaitu :

a)       Faktor genetik

Orang tua sangat berperan penting dalam faktor tersebut dengan bertemunya atau menyatunya gen dari ayah dan ibu akan mewariskan keturunan yang akan memiliki bakat seperti orang tuanya. Banyak contoh yang kita jumpai seperti orang tunya seorang artis dan anaknya juga memiliki bakat seperti orang tuanya sebagai artis.

b)       Faktor kemampuan anak

Dalam faktor tersebut anak dituntut untuk menemukan bakat yang dimilikinya, dengan menemukannya itu anak dapat mengembangkan bakatnya tersebut serta lebih menggali kemampuannya. Jika anak tidak dituntut untuk menemukannya bakatnya, maka anak tersebut akan sulit untuk mengembangkan bakatnya dan bahkan sulit untuk mengetahui apa sebenarnya bakat yang dimilikinya.

c)       Faktor pertumbuhan anak

Faktor tersebut tidak jauh berbeda dengan faktor kemampuan anak, bedanya yaitu disetiap pertumbuhan dan perkembangannya anak selalu didorong untuk mengetahui bakat dan minatnya. Dengan begitu anak akan bersikap responsiv atau bersikap positif terhadap kemampuannya.

Dari ketiga faktor tersebut berpengaruh dalam perkembangan serta kematangan pendidikan anak. Dengan faktor ini juga akan menimbulkan suatu pendapat bahwa dapat mencipatakan masyarakat yang baik.

Dengan ketiga faktor tersebut, memunculkan beberapa tujuan dalam teori nativisme, dimana dengan  faktor-faktor yang telah disampaikan dapat menjadikan seseorang yang mantap dan mempunyai kematangan yang bagus.

Adapun tujuannya adalah sebagai berikut :

a)       Dapat memunculkan bakat yang dimiliki.

Dengan faktor yang kedua tadi, diharapkan setelah menemukan bakat yang dimiliki, dapat dikembangkan dan akan menjadikan suatu kemajuan yang besar baginya.

b)      . Menjadikan diri yang berkompetensi.

Hal ini berkaitan dengan faktor ketiga, dengan begitu dapat lebih kreatif dan inovatif dalam mengembangkan bakatnya sehingga mempunyai potensi dan bisa berkompetensi dengan orang lain.

c)       Mendorong manusia dalam menetukan pilihan.

Berkaitan dengan faktor ketiga juga, diharpkan manusia bersikap bijaksana terhadap apa yang akan dipilih serta mempunyai suatu komitmen dan bertanggung jawab terhadap apa yang telah dipilihnya.

d)      Mendorong manusia untuk mengembangkan potensi dari dalam diri seseorang.

Artinya dalam mengembangkan bakat atau potensi yang dimiliki, diharapkan terus selalu dikembangkan dengan istilah lain terus berperan aktif dalam mengembangkannya, jangan sampai potensi yang dimiliki tidak dikembangkan secara aktif.

e)       Mendorong manusia mengenali bakat minat yang dimiliki.

Banyak orang bisa memaksimalkan bakatnya, karena dari dirinya sudah mengetahui bakat-bakat yang ada pada dirinya dan dikembangkan dengan maksimal.

Melihat dari tujuan-tujuan itu memang bersifat positif. Tetapi dalam penerapan di praktek pendidikan, teori tersebut kurang mengenai atau kurang tepat tanpa adanya pengaruh dari luar seperti pendidikan. Dalam praktek pendidikan suatu kematangan atau keberhasilan tidak hanya dari bawaan sejak lahir. Akan tetapi banyak faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya seperti lingkungan. Dapat diambil contoh lagi yaitu orang tua yang tidak mampu dan kurang cerdas melahirkan anak yang cerdas daripada orang tuanya. Hal tersebut tidak hanya terpaut masalah gen, tetapi ada dorongan-dorongan dari luar yang mempengaruhi anak tersebut.

Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya, sekarang ini yang ada dalam praktek pendididkan tidak lagi memperhatikan apakah manusia memiliki bakat dari lahir atau tidak, melainkan kemauan atau usaha yang dilakukan oleh manusia tersebut untuk kemajuan yang besar bagi dirinya. Memang secara teoritis pendidikan tidaklah berpengaruh atau tidak berdaya dalam membentuk atau mengubah sifat dan bakat yang dibawa sejak lahir. Kemudian potensi kodrat menjadi cirri khas pribadi anak dan bukan dari hasil pendidikan. Terlihat jelas bahwa anatara teori nativisme dan pendidikan tidak mempunyai hubungan serta tidak saling terkait antara yang satu dengan lainnya. Oleh sebab itulah aliran atau teori nativisme ini dianggap aliran pesimistis, karena menerima kepribadian anak sebagaimana adanya tanpa kepercayaan adanya nilai-nilai pendidikan yang dapat ditanamkan intuk merubah kepribadiannya.

  1. C.           Pandangan Pendidikan Terhadap Teori Nativisme

Sebelumnya telah disinggung mengenai teori nativisme tersebut, pendidikan tidak bisa mengubah atau mempengaruhi perkembangan anak dan dengan adanya pendidikan akan merusak perkembangan anak tersebut. Melihat hal tersebut muncul pandangan dengan demikian dalam praktek atau aplikasi dari teori tersebut tidaklah memerlukan suatu pendidikan baik itu pendidikan yang bersifat keras maupun lembut, dan walaupun diberikan pendidikan maka  akan menjadikannya suatu hal yang sia-sia.

Pendidikan sangatlah diperlukan oleh setiap manusia, karena tanpa pendidikan tidak akan bisa berkembang walaupun dari bawaan sejak lahir sudah memiliki potensi.

Fungsi pendidikan yaitu memberikan dorongan  atau menggandeng manusia untuk menjadi lebih naik serta dengan adanya pendidikan dapat lebih lagi memaksimalkan, mengembangkan segala potensi, bakat dan kemampuan yang dimiliki. Selain dari itu juga pendidikan tidak hanya harus kepada akademik saja melainkan harus memperhatikan kegiatan-kegiatan yang bisa juga untuk menjadi wadah dalam mengembangkan dan menyalurkan bakat anak diluar akademik.

 

 

PENUTUP

A.      Kesimpulan

Dapat kita simpulkan bahwa isi dari teori nativime adalah perkembangan individu ditentukan oleh faktor bawaan sejak lahir. Faktor lingkungan baik itu didalamnya suatu pendidikan kurang berpengaruh terhadap perkembangan dan pendidikan anak. Kemudian pendidikan dianggap suatu hal yang sia-sia karena pendidikan tidak akan dapat merubah kodrat bawaan tersebut.

Selain dari iru terdapat beberapa faktor dan tujuan yang dicapai dari teori nativisme tersebut dan saling terkait sehingga menghasilkan masyarakat yang baik. Selain itu pendidikan tidak diperlukan dalam pembentukan kepribadian seseorang, sehingga antara pendidikan dan teori tersebut tidak berhubungan.

B.       Saran

Dalam penulisan isi makalah ini terdapat beberapa kekurangan serta kesalahan yang dikarenakan kurangnya referensi atau pengetahuan yang terbatas. Untuk itu perlu adanya saran agar dalam isi makalah tersebut bisa lebih baik dari sebelumnya dan menjadi suatu motivasi atau dorongan untuk lebih baik lagi.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://id.wikipedia.org/wiki/Nativisme

http://www.tuanguru.com/2012/01/teori-nativisme-empirisme-konvergensi.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Immanuel_Kant

http://en.wikipedia.org/wiki/Arthur_Schopenhauer

http://hotmaidasari.blogspot.com/2011/04/faktor-yang-mempengaruhi-perkembangan.html

http://rizkifisthein.wordpress.com/2013/02/05/konsepsi-teori-nativisme-dalam-praktek-pendidikan/

 

 

Oleh

Andhana Ghimetry OKEP

 

 

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s