Konstruksionisme dan Penerapannya di Bidang Pendidikan

Pendidikan adalah upaya mengembangkan potensi-potensi manusiawi peserta didik baik potensi fisik potensi cipta, rasa,maupun karsanya, agar potensi itu menjadi nyata dan dapatberfungsi dalam perjalanan hidupnya. Dasar pendidikan adalah cita-cita kemanusiaan universal.Pendidikan bertujuan menyiapkan pribadi dalam keseimbangan, kesatuan,organis,harmonis, dan dinamis guna mencapai tujuan hidup kemanusiaan.Filsafat pendidikan adalah filsafat yang digunakan dalam studi mengenai masalah-masalah pendidikan. Pendidikan dapat dilihat dalam dua sisi yaitu:

1. pendidikan sebagai praktik

2 .pendidikan sebagai teori

Pendidikan sebagai praktik yakni seperangkat kegiatan atau aktivitas yang dapat diamati dan disadari dengan tujuan untuk membantu pihak lain (dalam hal ini peserta didik) agar memperoleh perubahan perilaku. Sementara pendidikan sebagai teori yaitu seperangkat pengetahuan yang telah tersusun secara sistematis yang berfungsi untuk menjelaskan, menggambarkan,meramalkan dan mengontrol berbagai gejala dan peristiwa pendidikan, baik yang bersumber dari pengalaman-pengalaman pendidikan (empiris) maupun hasil perenungan-perenungan yang mendalam untuk melihat makna pendidikan dalam konteks yang lebih luas. Di antara keduanya memiliki keterkaitan dan tidak bisa dipisahkan. Praktik pendidikan seyogyanya berlandaskan pada teori pendidikan. Demikian pula, teori-teori pendidikan seyogyanya bercermin dari praktik pendidikan. Perubahan yang terjadi dalam praktik pendidikan dapat mengimbas pada teori pendidikan. Sebaliknya, perubahan dalam teori pendidikan pun dapat mengimbas pada praktik pendidikan. Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teori dapat dilakukan melalui beberapa pendekatan, diantaranya:

1.  pendekatan sains

2. pendekatan filosofi

3. pendekatan religi

Tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mendeskripsikan konsep filsafat rekonstruksionisme beserta tokoh pelopornya. Di samping itu juga akan mendeskripsikan pengaruh dan aplikasi semangat rekonstruksionisme dalam pendidikan dan pembelajaran di Indonesia. Manfaat yang dapat diambil dari pembahasan ini adalah memberikan arah,semangat,wawasan, pandangan dan pola pikir baru mengenai aliran-aliran fisafat dalam dunia pendidikan, khususnya rekonstruksionisme. Dengan demikian, pandangan dan pola pikir baru tersebut akan mewarnai aplikasinya dalam dunia pendidikan dan pembelajaran, baik membangun teoritik maupun praktik pembelajaran.

 

 

 

 

 

PEMBAHASAN

 

Filsafat Rekonstruksionisme.Kata rekonstruksionisme dalam bahasa Inggris “rekonstruct” yang berarti menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, aliran rekonstruksionisme adalah suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak modern. Aliranr ekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme, yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Kedua aliran tersebut aliran rekonstruksionisme dan perenialisme memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang mempunyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan dan kesimpang siuran.Walaupun demikian, prinsip yang dimiliki oleh aliran rekonstruksionisme tidaklah sama dengan prinsip yang dipegang oleh aliran perenialisme.

Keduanya mempunyai visi dan cara yang berbeda dalam pemecahan yang akan ditempuh untuk mengembalikan kebudayaan yang serasi dalam kehidupan. Dalam hal ini aliran rekonstruksionisme menempuhnya dengan jalan berupaya membina suatu konsensus yang paling luas dan mengenai tujuan pokok dan tertinggi dalam kehidupan umatmanusia. Untuk mencapai tujuan tersebut, rekonstruksionisme berupaya mencari kesepakatan antar sesama manusia atauorang, yakni agar dapat mengatur tata kehidupan manusia dalam suatu tatanan dan seluruh lingkungannya. Maka, proses dan lembaga pendidikan dalam pandangan rekonstruksionisme perlu merombak tata susunan lama dan membangun tata susunan hidup kebudayaan yang baru, untuk mencapai tujuan utama tersebut memerlukan kerjasama antar umat manusia.

Tokoh-tokoh rekonstruksionisme dipelopori oleh George Count dan Harold Rugg pada tahun 1930, ingin membangun masyarakat baru, masyarakat yang pantas dan adil. Beberapa tokoh dalam aliran ini: Caroline Pratt, George Count, HaroldRugg. Pandangan rekonstruksionisme dan penerapannya di bidang pendidikan berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektual dan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melalui pendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pula demi generasi sekarang dan generasi yang akan datang, sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia. Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi,mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

 

 

 

 

 

PANDANGAN REKONSTRUKSIONISME DAN PENERAPANNYA DI BIDANG PENDIDIKAN

 

Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan dunia merupakan tugas semua umat manusia atau bangsa. Karenanya pembinaan kembali daya inetelektualdan spiritual yang sehat akan membina kembali manusia melaluipendidikan yang tepat atas nilai dan norma yang benar pulademi generasi sekarang dan generasi yang akan datang,sehingga terbentuk dunia baru dalam pengawasan umatmanusia.Kemudian aliran ini memiliki persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur, diperintah oleh rakyat secara demokratis dan bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Sila-sila demokrasi yang sungguh bukan hanya teori tetapi mesti menjadi kenyataan, sehingga dapat diwujudkan suatu dunia dengan potensi-potensi teknologi mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan, nasionalisme,agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

George S. Counts sebagai pelopor rekonstruksionisme dalam publikasinya ”

Dare the School Build a New Social Order”,

Mengemukakan bahwa sekolah akan betul-betul berperan apabila sekolah menjadi pusat bangunan masyarakat baru secara keseluruhan, membasmi kemelaratan, peperangan, dan kesukuan (rasialime). Masyarakat yang menderita kesulitan ekonomi dan masalah-masalah sosial yang besar meruapakan tantangan bagi pendidikan untuk menjalankan perannya sebagai agen pembaharu dan rekonstruksi sosial, daripada pendidikan hanya mempertahankan status quo.Sekolah harus bersatu dengan kekuatan buruh progresif,wanita, para petani, dan  kelompok minoritas untuk mengadakan perubahan-perubahan yang diperlukan. Counts mengkritik pendidikan progresif telah gagal menghasilkan teori kesejahteraan sosial, dan ia mengatakan sekolah dengan pendekatan ”child centered”

tidak cocok untuk menentukan pengetahuan dan skill sesuai dalam abad dua puluh.Tujuan pendidikan adalah menumbuhkan kesadaran peserta didik yang berkaitan dengan masalah-masalah sosial, ekonomi dan politik yang dihadapi manusia dalam skala global, dan memberi keterampilan kepada mereka agar memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah-masalah tersebut. Tujuan akhir pendidikan adalah terciptanya masyarakat baru,yaitu sesuatu masyarakat global yang saling ketergantungan. Kurikulum merupakan subjek matter yang berisikan masalah-masalah sosial, ekonomi, politik yang beraneka ragam,yang dihadapi umat manusia, termasuk masalah-masalah sosial dan pribadi terdidik itu sendiri. Isi kurikulum tersebut berguna dalam penyusunan disiplin ”sains sosial” dan proses penemuan ilmiah (inkuiri ilmiah) sebagai metode kerja untuk memecahkan masalah-masalah sosial.Mengenai peranan guru, paham rekonstruksionisme sama dengan paham-paham progresivisme. Guru harus menyadarkan si terdidik terhadap masalah-masalah yang dihadapi manusia,membantu terdidik  mengidentifikasi masalah-masalah untuk dipecahkannya, sehingga terdidik memiliki kemampuan memecahkan masalah tersebut. Guru harus mendorong terdidik untuk dapat berpikir alternatif dalam memecahkan masalah tersebut. Lebih jauh guru harus membantu menciptakan aktivitas belajar yang berbeda secara serempak.Sekolah merupakan agen utama untuk perubahan sosial,politik, dan ekonomi di masyarakat. Tugas sekolah adalah mengembangkan ”rekayasa sosial”, dengan tujuan mengubah secara radikal wajah masyarakat dewasa ini dan masyarakat yang akan datang. Sekolah memelopori masyarakat ke arah masyarakat baru yang diinginkan. Apabila tidak demikian, setiap individu dan kelompok nantinya akan memecahkan masalah-masalah kemasyarakatan secara sendiri-sendiri sebagai pengaruh dan progresivisme.

Power (1982) menggunakan istilah neo progressivisme untuk aliran rekonstruksionisme, dan mengemukakan implikasi pendidikannya sebagai berikut :

1. Tema Pendidikan merupakan usaha sosial. Misi sekolah adalah untuk meningkatkan     rekonstruksi sosial.

2. Tujuan Pendidikan. Pendidikan bertanggung jawab dalam menciptakan aturan sosial yang ideal. Transmisi budaya adalah esensial dalam

masyarakat yang majemuk. Transmisi budaya harus mengenal fakta budaya yang majemuk tersebut.

3. Kurikulum. Kurikulum sekolah tidak boleh didominasi oleh budaya mayoritas maupun oleh budaya yang ditentukan atau disukai.Semua budaya dan nilai-nilai yang berhubungan berhak untuk mendapatkan tempat dalam kurikulum.

4. Kedudukan siswa. Nilai-nilai budaya siswa yang dibawa ke sekolah merupakan hal yang berharga. Keluhuran pribadi dan tanggung jawab sosial ditingkatkan, mana kala rasa hormat diterima semua latar belakang budaya.

5. Metode. Sebagai kelanjutan dari pendidikan progresif, metode aktivitas dibenarkan (learning by doing).

6. Peranan Guru. Guru harus menunjukkan rasa hormat yang sejati (ikhlas)terhadap semua budaya, baik dalam memberi pelajaran maupun dalam hal lainnya. Teori belajar rekontstruksi merupakan teori-teori yang menyatakan bahwa siswa itu sendiri yang harus secara pribadi menemukan dan menerapkan informasi kompleks, mengecek informasi baru dibandingkan dengan aturan lama dan memperbaiki aturan itu apabila tidak sesuai lagi.Rekonstruktivisme lahir dari gagasan Jean Piaget dan Vigotsky dimana keduanya menekankan bahwa perubahan kognitif  hanya terjadi jika konsepsi-konsepsi yang telah dipahami diolah melalui suatu proses ketidakseimbangan dalam upaya memakai informasi-informasi baru.

Hakikat dari teori rekonstruktivisme adalah ide bahwa siswa harus menjadikan informasi itu miliknya sendiri. Teori ini memandang siswa secara terus menerus memeriksa informasi-informasi baru yang berlawanan dengan aturan-aturan lama dan memperbaiki aturan-aturan tersebut. Salah satu prinsip paling penting adalah guru tidak dapat hanya semata-mata memberikan pengetahuan kepada siswa, siswa harus membangun pengetahuan di dalam benaknya sendiri, guru hanya membantu proses ini dengan cara-cara mengajar yang membuat informasi menjadi sangat bermakna dan sangat relevan bagi siswa dengan memberikan kesimpulan kepada siswa untuk menerapkan sendiri ide-ide dan mengajak siswa agar siswa menyadari dan secara sadar menggali strategi-strategi mereka sendiri untuk belajar.

 

 

 

 

KESIMPULAN

 

Pendidikan  dapat dilihat dalam dua sisi yaitu:

1.  pendidikan sebagai praktik

2. pendidikan sebagai teori.

Terkait dengan upaya mempelajari pendidikan sebagai teoridapat dilakukan melalui pendekatan filosofi, salah satunya aliranrekonstruktivisme. Dalam aplikasinya dalam dunia pendidikan danpembelajaran, bahwa aliran rekonstruktivisme menghendakipembelajaran adalah usaha sadar dari pebelajar untuk menyikapisetiap perkembangan untuk membangun suatu pengetahuan,pengalaman, dan keterampilan baru. Pembelajaran bukanlahsuatu proses yang bersifat dogmatis. Pembelajaran harusmemiliki karakter berpusat kepada siswa.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Jalaludin & Idi, Abdullah, 2007.

Filsafat Pindidikan; Manusia,filsafat dan Pendidikan

, Jogjakarta: AR-RUZZ MEDIARussel, Berrand.2002.

Sejarah Filsafat barat dan Kaitannyadengan Kondisi Sosio-Politik dari Zaman KunoHingga Sekarang. (terj) Sigit Jatmiko.

Jogyakarta:Pustaka Pelajar.Sadullah, Uyoh, 2009.

Pengantar Filsafat Pendidikan

,Bandung: CV. AlfabetaSuhartono, Suparlan. 2009.

Filsafat Pendidikan

. Jogyakarta:AR-RUZZ Media.Wibisono, Koento. 1997.

Dasar-dasar Filsafat.

Jakarta:Universitas Terbuka.Wiramiharja, Sutardjo A, 2007.

Pengantar Filsafat

, Bandung:PT. Refika AditamaFilsafat_Ilmu,

 

 

Oleh:

nur faelani

Ke rumahafid@ymail.com

Okt23 pada 10:03 AM

PENDAHULUAN

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s