Analisis Penerapan Filsafat Esensialisme dalam Pembelajaran

Dalam dunia pendidikan, manusia memiliki rasionalitas berpikir untuk memecahkan masalahnya, baik berupa reaksi, aksi maupun keinginan (cita-cita). Pengertian masing-masing suatu kesimpulan sebagai belum final, valid, tidak mutlak, dan lain sebagainya, memberi kebebasan untuk menganut atau menolak suatu aliran. Sikap demikian pra kondisi bagi perkembangan aliran-aliran filsafat salah satunya adalah esensialisme.

 

KONSEP DASAR DAN DEFINISI FILSAFAT ESENSIALISME

 

Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang telah ada sejak peradaban umat manusia.

Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nila-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama yang memberikan kestabilan dan nilai-nilai yang mempunyai tata jelas. Menurut esensialisme nilai-nilia tertanam dalam warisan budaya atau sosial adalah nilai-nilai kemanusiaan yang terbentuk secara berangsur-angsur dengan melalui kerja keras dan susah payah selama beratus tahun, dan telah teruji dalam gagasan dan cita-cita yang telah teruji dalam perjalanan waktu.

 

SEJARAH PERKEMBANGAN FILSAFAT ESENSIALISME

 

Esensialime muncul pada zaman Renaissance, ia memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas dimana terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrn tertentu.

Dengan demikina Renaissance adalah pangkal sejarah timbulnya konsep-konsep pikie esensialisme. Karena timbul di zaman itu, esensialisme adalah konsep meletakkan ciri modern. Aliran muncul sebagai reaksi terhadap simbolisme mutlak abad pertengahan. Maka disusunlah konsep yang sistematis dan menyeluruh mengenai manusia dan alam semesta yang memenuhi tuntutan zaman.

Adapun tokoh-tokoh esensialisme :

  1. Tokoh utama esensialisme pada permulaan awalmuncuknya adalah Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831), dia mengemukakan adanya sintesa antara ilmu pengetahuan dan agama menjadi suatu pemahaman yang menggunakan landasan spiritual. Hegel mengatakan bahwa tiap tingkap kelanjutan, yang dikuasai oleh hukum-hukum yang sejenis. Hegel mengemukakan pula bahwa sejarah adalah manifestasi dari perpikirnya Tuhan. Tuhan berpikir dan mengadakan ekspresi mengenai pengaturan yang dinamis mengenai dunia dan semuanya nyata dalam arti spiritual. Oleh karena Tuhan adalah sumber dari gerak, maka ekspresi berpikir juga merupakan gerak.
  2. George santayana, dia memadukan antara aliran idealisme dan aliran realisme dalam suatu sintesa dengan mengatakan bahwa nilai itu tidak dapat ditandai dengan suatu konsep tunggal, karena minat, perhatian dan pengalaman seseorang menentukan orang adanya kualitas tertentu. Walaupun idealisme menjunjung asas otoriter atau nilai-nilai, namun juga tetap mengakui bahwa pribadi secara aktif bersifat menentukan nilai-nilai itu atas dirinya sendiri (memilih, melaksanakan).

Pada perkembangan selanjutnya, banyak tokoh yang muncul dan meyebarluaskan esensialisme diantaranya:

  1. Desiderius erasmus, humanis belanda yang hidup pada akhir abad 15 dan permulaan abad 16, merupakan tokoh pertama yang menolak pandangan hidup yang berpijak pada dunia lain. Erasmus berusaha agar kurikulum sekolah berdifat humanistis dan bersifat internasional, sehingga bisa mencakup lapisan menengah, dan kaum aristokrat.
  2. Johan Amos Comeniuc (1592-1670) adalah seseorang yang memiliki pandangan realis dan dogmatis. Comenius perpendapat bahwa pendidikan mempunyai peranan membentuk anak sesuai dengan kehendak tuhan karena pada hakikatnya dunia adalah dinamis dan bertujuan.
  3. Johnn Llocke (1632-1704), sebagai pemikir dunia berpendapat bahwa pendidikan hendaknya selalu dekat dengan situasi dan kondisi. Locke mempunyai sekolah kerja untuk anak-anak miskin.
  4. Johann Henrich Pestalozzi (1746-1827), sebagai seorang tokoh yang berpandangan naturalis Pestalozzi mempunya kepercayaan bahwa sifat-sifat alam itu tercermin pada manusia, sehingga pada diri manusia terdapat kemampuan-kemampuan wajarnya. Selain itu ia mempunyai keyakinan bahwa manusia juga mempunya trasendental langsung dengan Tuhan.\
  5. Johann Friederich Ffrobell (1782-1852), sebagai tokoh yang berpandangan kosmis-sintesis dengan keyakinan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Tuhan yang merupakan bagian dari alam ini, sehingga manusia tunduk dan mengikuti ketentuan-ketentuan hukum alam.
  6. Johann Friederich Herbert (1776-1841), sebagai salah seorang murid Immanuel kant yang berpandangan kritis, herbert berpendapat bahwa tujuan pendidikan adalah menyesuaikan jiwa seseorang dengan kebajikan dari yang mutlak dalam arti penyesuaian dengan hukum-hukum kesusilaan dan inilah yang di sebut proses pencapaian tujuan penndidikan oleh harbert sebagai pengajaran yang mendidik.
  7. William T. Harris (1835-1909) tokoh dari Amerika yang pandanganya dipengaruhi oleh Hegel dengan berusaha menerapkan idealisme obyektif pada pendidikan umum. Tugas pendidikan baginya adalah mengizinkan terbukanya realita berdasarkan susunan yang pasti, berdasarkan kesatuan yang memelihara nilai-nilai yang telah turun-temurun dan menjadi penuntun penyesuaian diri kepada masyarakat.

 

ANALISIS FILSAFAT ESENSIALISME

 

Filsafat esensialisme menginginkan agar manusia kembali pada kebudayaan lama karena kebudayaan lama telah banyak melakukan kebaikan untuk manusia. Esensialisme modern dalam pendidikan adalah gerakan pendidikan yang memprotes terhadap skeptisisme dan sinisme dari gerakan progresisvisme terhadap nilai-nilai yang tertanam dalam warisan budaya atau sosial.

Prinsip-prinsip esensialisme adalah:

  1. Esensialisme berakar pada ungkapan realisme objektif dan idealisme yang modern, yaitu alam semesta di atur oleh hukum alam sehingga tugas manusia memahami hukum alam adalah dalam rangka penyesuaian diri dan pengelolaanya.
  2. Sasaran pendidikan adalah mengenalkan siswa pada karakter alam dan warisan budaya. Pendidikan tersebut harus dibangus atas nilai-nilai yang kukuh, tetap dan stabil.
  3. Nilai (kebenaran bersifat korespondensi) berhubungan antara gagasan dengan fakta secara objektif.
  4. Bersifat konservatif (pelestarian budaya)dengan merefleksikan humanisme klasik yang berkembang pada zaman Renaissance.

Ciri-ciri filsafat pendidikan esensialisme menurut William C. Bagley adalah:

  1. Minat-minat yang kuat dan tahan lama yang sering tumbuh dari upaya-upaya belajar awal yang memikat atau menarik perhatian bukan karena dorongan dari dalam jiwa.
  2. Pengawasan, pengarahan, dan bimbingan orang yang belum dewasa adalah melekat dalam masa balita yang panjang atau keharusan ketergantungan yang khusus pada spesies manusia.
  3. Kemampuan untuk mendisiplinkan diri harus menjadi tujuan pendidikan, maka menegakan disiplin adalah suatu cara yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut. Dikalangan individu maupun bangsa, kebebasan yang sesungguhnya selalu merupakan sesuatu yang dicapai melalui perjuangan, tidak pernah merupakan pemberian.
  4. Esensialisme menawarkan teori yang kokoh tentang pendidikan, sedangkan sekolah-sekolah pesaingnya (progresivisme) memberi sebuah teori yang lemah. Apabila terdapat sebuah pertanyaan di masa lampau tentang jenis teori pendidikan yang diperlukan sejumlah kecil masyarakat demokrasi di dunia, maka pertanyaan tersebut tidak ada lagi pada hari ini.

BEBERAPA PANDANGAN DALAM ESENSIALISME

  1. PANDANGAN MENGENAI REALITA

Sifat yang menonjol dari ontologi esensialisme adalah suatu konsepsi bahwa dunia ini dikuasai oleh tata yang tiada cela, yang mengatur dunia beserta isinya dengan tiada cela pula, ini berarti bagaimanapun bentuk, sifat, kehendak dan cita-cita manusia haruslah disesuaikan dengan tata tersebut. Dibawah ini adalah uraian mengenai penjabarannya menurut realisme dan idealisme.

a)      Realisme yang mendukung esensialisme disebut realisme obyektif karena mempunyai pandangan yang sistematis mengenai alam serta tempat manusia didalamnya. Terutama sekali ada dua golongan ilmu pengetahuan yang mempengaruhi realisme ini.

Dari fisika dan ilmu-ilmu lain yang sejenis dapat dipelajari bahwa tiap aspek dari alam fisik ini dapat dipahami berdasarkan adanya tata yang jelas khusus. Ini berarti bahwa suatu kejadian yang sederhanapun dapat ditafsirkan menurut hukum alam, seperti misalnya daya tarik  bumi.

b)      Idealisme obyektif mempunyai pandangan kosmis yang lebih optimis dibandingkan dengan realisme obyektif. Yang dimaksud dengan ini adalah bahwa pandangan-pandangannya bersifat menyeluruh yang boleh dikatakan meliputi segala sesuatu. Dengan landasan pikiran bahwa totalitas dalam alam semesta ini pada hakikatnya adalah jiwa atau spirit, idealisme menetapkan suatu pendirian bahwa segala sesuatu yang ada ini nyata. Ajaran-ajaran Hegel memperjelas pandangan tersebut diatas.

  1. PANDANGAN MENGENAI NILAI

Nilai, seperti halnya pengetahuan berakar pada dan diperoleh dari sumber-sumber obyektif. Sedangkan sifat-sifat nilai tergantung dari pandangan yang timbul dari realisme dan idealisme. Kedua aliran ini menyangkutkan masalah nilai dengan semua aspek peri kehidupan manusia yang berarti meliputi pendidikan. Pandangan dari dua aliran ini, yang mengenai nilai pada umumnya dan nilai keindahan pada khususnya akan dipaparkan berikut ini.

Untuk hal yang pertama, dapatlah ditunjukan bahwa nilai mempunyai pembawaan atas dasar komposisi yang ada. Misalnya, kombinasi warna akan menimbulkan kesan baik, bila penempatan dan fungsinya disesuaikan dengan pembawaan dari komponen-komponen yang ada.

Untuk hal yang kedua, dapatlah diutarakan bahwa sikap, tingkah laku dan ekspresi perasaan juga mempunyai hubungan dengan kualitas baik dan buruk.

  1. PANDANGAN MENGENAI PENDIDIKAN

Pandangan mengenai pendidikan yang diutarakan disini bersifat umum, simplikatif dan selektif, dengan maksud agar semata-mata dpat memberikangambaran mengenai bagian-bagian utama dari esensialisme. Disamping itu karena tidak setiap filsuf idealis dan realis mempunyai faham esensialistis yang sistematis, maka uraian ini bersifat eklektik.

Esensialisme timbul karena adanya tantangan mengenai perlunya usaha emansipasi diri sendiri, sebagaimana dijalankan oleh para filsuf pada umumnya ditinjau dari sudut abad pertengahan. Usaha ini diisi dengan pandangan-pandangan yang bersifat menanggapi hidup yang mengarah kepada keduniaan, ilmiah dan teknologi, yang ciri-cirinya telah ada sejak zaman Renaisans.

Oleh karena terasaskan adanya saingan  dari progresivisme, maka pada sekitar tahun 1930 timbul organisasi yang bernama Esentialist Comittee for the Advancement of Education. Dengan timbulnya Komite ini pandangan-pandangan esensialisme (menurut tafsiran abad xx), mulai diketengahkan dalam dunia pendidikan.

  1. PANDANGAN MENGENAI PENGETAHUAN

Pada kacamata realisme masalah pengetahuan ini, manusia adalah sasaran pandangan sebagai makhluk yang padanya berlaku hukum yang mekanistis evolusionistis. Sedangkan menurut idealisme, pandangan mengenai pengetahuan bersendikan pada pengertian bahwa manusia adalah makhluk yang adanya merupakan refleksi dari Tuhan dan yang timbul dari hubungan antara makrokosmos dan mikrokosmos.

  1. PANDANGAN MENGENAI BELAJAR

Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai tinjauannya mengenai pribadi individual dengan menitikberatkan pada aku, menurut idealisme, seseorang belajar pada taraf permulaan adalah memahami akunya sendiri, terus bergerak keluar untuk memahami dunia obyektif. Dari mikrokosmos menuju kemakrokosmos.

Sebagai contoh, dengan landasan pandangan diatas, dapatlah dikemukakan pandangan Immanuel Kant (1724-1804). Dijelaskan bahwa segala pengetahuan yang dicapai oleh manusia lewat indera memerlukan unsur a priori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu.

  1. PANDANGAN MENGENAI KURIKULUM

Beberapa tokoh idealisme memandang bahwa kurikulum itu hendaklah berpangkal pada landasan ideal dan organisasi yang kuat. Bersumber atas pandangan ini, kegiatan-kegiatan pendidikan dilakukan. Pandangan dari dua tokoh dipaparkan dibawah ini.

Herman Harrell Horne menulis dalam bukunya yang berjudul This New Education mengatakan bahwa hendaknya kurikulum itu bersendikan atas fundamental tunggal, yaitu watak manusia yang ideal dan ciri-ciri masyarakat yang ideal. Kegiatan dalam pendidikan perlu disesuaikan dan ditujukan kepada yang serba baik tersebut. Atas dasar ketentuan ini berarti bahwa kegiatan atau keaktifan anak didik tidak terkekang, asalkan sejalan dengan fundamen-fundamen itu.

Bogoslousky, dalam bukunya The Ideal School, mengutarakan hal-hal yang lebih jelas dari Horne. Disamping menegaskan supaya kurikulum dapat terhindar dari adanya pemisahan mata pelajaran yang satu dengan yang lain, kurikulum dapat diumpamakan sebagai sebuah rumah yang mempunyai empat bagian, ialah :

  1. Universum. Pengetahuan yang merupakan latar belakang dari segala manifestasi hidup manusia, diantaranya adalah adanya kekuatan-kekuatan alam, asal-usul tata surya dan lain-lainnya. Basis pengetahuan ini adalah ilmu pengetahuan alam kodrat yang diperluas.
  2. Sivilisasi. Karya yang dihasilkan manusia sebagai akibat hidup masyarakat. Dengan sivilisasi manusia mampu mengadakan pengawasan terhadap lingkungannya, mengejar kebutuhan, hidup aman dan sejahtera.
  3. Kebudayaan. Karya manusia yang mencakup diantaranya filsafat, kesenian, kesusasteraan, agama, penafsiran dan penilaian mengenai lingkungan.
  4. Kepribadian. Bagian yang bertujuan pembentukan kepribadian dalam arti riil yang tidak bertentangan dengan kepribadian yang ideal.

Jadi, tujuan umum aliran esensialisme adalah membentuk pribadi bahagia didunia dan akhirat. Isi pendidikannya mencakup ilmu pengetahuan, kesenian dan segala hal yang mampu menggerakan kehendak manusia. Kurikulum sekolah bagi esensialisme merupakan semacam miniatur  dunia yang bisa dijadikan sebagai ukuran kenyataan, kebenaran dan kegunaan. Maka dalam sejarah perkembangannya, kurikulum esensialisme menerapkan berbagai pola kurikulum, seperti pola idealisme, realisme dan sebagainya. Sehingga peranan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan bisa berfungsi sesuai dengan prinsip-prinsip dan kenyataan sosial yang ada dimasyarakat.

 

PENUTUP

Kesimpulan

  1. Esensialisme adalah pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai kebudayaan yaang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada zaman renaissance dengan ciri-ciri utama yang berbeda dengan progresivisme. Perbedaan utamanya adalah dalam memberikan dasar berpijak pada pendidikan yang penuh fleksibilitas, dimana terbuka untuk perubahan, toleran dan tidak ada keterkaitan dengan doktrin tertentu.
  2. Esensialisme merupakan aliran yang ingin kembali kepada kebudayaan-kebudayaan lama yang warisan sejarahnya telah membuktikan kebaikan-kebaikan bagi kehidupan manusia. Esensialisme didasari atas pandangan humanisme yang merupakan reaksi terhadap hidup yang mengarah kepada keduniawian, serba ilmiah dan materialistik. Selain itu juga didasari oleh pandangan dari penganut aliran idealisme dan realisme. Esensialisme merupakan konsep yang meletakkan sebagia dari ciri alam pikir modern.
  3. Tokoh-tokoh terkemuka yang berperan dalam penyebaran aliran esensialisme diantaranya adalah Desiderius erasmus, Johan amos comenius, Johnn locke, Johann henrich pestalozzi, Johann friederich frobell, Johann friederich herbert, dan William T. Harris.
  4. Beberapa pandangan dalam esensialisme diantaranya :

1)      Pandangan mengenai realita,

2)      Pandangan mengenai nilai pendidikan,

3)      Pandangan mengenai pengetahuan,

4)      Pandangan mengenai belajar, dan

5)      Pandangan mengenai kurikulum.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

kumpulanmakalahdanartikelpendidikan.blogspot.com/2011/01/aliran-esensialisme-dalam-filsafat.htm

http://faizhijauhitam.blogspot.com/2009/12/makalah-filsafat-pendidikan-islam.html

 

 

*) Wahyu Nurpitasari, penulis adalah mahasiswa STKIP PGRI Pacitan Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia kelas A. Makalah disusun guna memenuhi sebagian tugas individu pada mata kuliah Pengantar Pendidikan tahun akademik 2013/2014 dengan dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s