Populasi dan Sampel

Salah satu bagian dalam penelitian adalah menentukan popolasi dan sampel penelitian. Kegiatan penelitian banyak dilakukan dengan menggunakan penarikan sampel, karena dibandingkan metode sensus penarikan sampel lebih praktis, hemat biaya, dan tidak banyak menyita waktu maupun tenaga. Penentuan sampel dari suatu populasi, disebut sebagai penarikan sampel (Sukmadinata 2011,251).

Sampel merupakan bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian. Dalam menyusun sampel perlu disusun kerangka sampling yaitu daftar dari semua sampling dalam populasi sampling, dengan syarat harus meliputi seluruh unsur sampling, tidak ada unsur sampling yang dihitung dua kali, harus up to date, batas-batasnya harus jelas, dan harus dapat dilacak dilapangan.

Dalam penelitian yang menggunakan sampel sebagai alat untk menganalisis, baik pada penelitian dengan pendekatan kualitatif maupun kuantitatif. Yang menjadi masalah atau persoalan yang dihadapi yaitu, bahwa persoalan sampling adalah proses untuk mendapatkan sampel dari suatu populasi. Disini sampel harus mencerminkan keadaan populasi. Masalah yang kedua adalah tentang bagaimana proses pengambilan sampel dan berapa banyak unit analisis yang akan diambil. Sehingga masalan yang dihadapi diantaranya teknik penarikan sampel manakah yang cocok dengan karakteristik populasi, tujuan, dan masalah yang akan dikaji. Selain itu berapa banyak unit analisis atau ukuran sampel yang akan dilibatkan dalam kegiatan penelitian.

Berdasarkan masalah yang dikemukakan diatas, maka makalah ini akan mengkaji tentang mengkaji pengertian populasi dan sampel serta ragam dan jenisnya. Agar kita lebih memahami tentang populasi dan sampel dalam rangka mempelajari metodologi penelitian penulisan skripsi yang benar.

Dalam sebuah penelitian baik itu skripsi, tesis, maupun desertasi, keberadaan populasi dan sampel memiliki peranan yang sangat penting. hal ini dikarenakan sampel penelitian dijadikan sebagai sumber pengambilan data baik itu secara kuantitatif maupun kualitatif. Mengingat pentingnya populasi dan sampel dalam suatu penelitian tersebut, maka dibawah ini terdapat pengertian dari populasi dan sampel, serta ragam/jenisnya.

 

PENGERTIAN POPULASI DAN SAMPEL

Kata populasi dalam statistika merujuk pada sekumpulan individu dengan karakteristik khas yang menjadi perhatian dalam suatu penelitian. Populasi dalam statistika tidak terbatas pada sekelompok orang saja, tetapi juga binatang atau apa saja yang menjadi perhatian kita. Sedangkan sampel merupakan bagian dari populasi yang dipilih dengan menggunakan aturan-aturan tertentu yang digunakan untuk mengumpulkan informasi/data yang menggambarkan sifat atau ciri yang dimiliki populasi.

Sampel adalah kelompok kecil yang kita amati dan populasi adalah kelompok besar yang merupakan sasaran generalisasi kita. Gay (1976) mendefinisikan populasi sebagai kelompok dimana peneliti akan menggeneralisasikan hasil penelitiannya. Menurut Ferguson (1976) sampel adalah “beberapa bagian kecil atau cuplikan yang diambil dari populasi.” Atau porsi dari suatu populasi. Sedangkan Karlinger (1973) mendefinisikan populasi sebagai “keseluruhan anggota, kejadian, atau objek-objek yang telah ditetapkan dengan baik.”

Proses yang meliputi pengambilan sebagian dari populasi, melakukan pengamatan pada populasi secara keseluruhan disebut sampling atau pengambilan sampel (Ary, Jacob dan Razavieh, 1981). Selanjutnya, istilah sampling berkenaan dengan strategi-strtegi yang memungkinkan untuk mengambil satu sub-kelompok dari kelompok yang lebih besar, lalu kelompok kecil ini digunakan sebagai dasar untuk membuat keputusan tentang kelompok besar tersebut (Vockell, 1983).

Jadi populasi adalah keseluruhan wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulan. Sedangkan sampel adalah bagian dari populasi yang diharapkan mampu mewakili populasi dalam penelitian. Jika populasi besar dan peneliti tidak mungkin mempelajari semua yang ada pada populasi, maka peneliti dapat menggunakan sampel yang diambil dari populasi. Maka dari itu sampel yang diambil dari populasi harus benar-benar mewakili.

 

POPULASI

Menurut Margono (2010:118), “populasi adalah suatu data yang menjadi perhatian kita dalam suatu ruang lingkup dan waktu yang kita tentukan.” Sedangkan menurut Sukmadinata (2011:250) mengemukakan bahwa populasi adalah “kelompok besar dan wilayah yang menjadi lingkup penelitian kita.” Senada dengan itu Arikunto (2002:108) mengemukakan bahwa populasi adalah “Keseluruhan objek penelitian”. Kaitannya dengan batasan tersebut populasi dibedakan menjadi dua yaitu, populasi terhingga dan populasi tidak terhingga. Populasi terhingga yaitu, populasi yang memiliki kuantitatif secara jelas karena memiliki karakteristik yang terbatas. Sedangkan populasi tak  terhingga yaitu, populasi yang tidak dapat ditemukan batas-batasnya, sehingga tidak dapat dinyatakan dalam bentuk jumlah secara kuantitatif.

Margono (2012:119) mengemukakan bahwa suatu populasi bagi suatu penelitian harus dibedakan kedalam sifat berikut ini:

  1. Populasi yang bersifat homogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat yang sama. Misalnya, seorang dokter yang akan melihat golongan darah seseorang, maka ia cukup mengambil setetes darah saja. Dakter itu tidak perlu satu botol, sebab setetes dan sebotol darah hasilnya akan sama saja.
  2. Populasi yang bersifat heterogen, yaitu populasi yang unsur-unsurnya memiliki sifat atau keadaan yang bervariasi, sehingga perlu ditetapkan batas-batasnya.

Metode penarikan/pengambilan data dengan jelas mewakili/melibatkan seluruh anggota populasi disebut sensus. Seorang peneliti meskipun mengetahui bahwa metode sensus ini akan banyak memerlukan pikiran, memakan waktu yang relatif lama dan biayanya mahal, namun tetap melakukan sensus, hal ini disebabkan karena:

  1. Untuk ketelitian

Suatu penelitian sering meminta ketelitian dan kecermatan yang tinggi, sehingga memerlukan data-data yang besar jumlahnya. Apabila unsur ketelitian dan kecermatan ini harus diprioritaskan maka harus digunakan metode sensus.

  1. Sumber bersifat heterogen

Apabila menghadapi sumber informasi yang bersifat heterogen dimana sifat dan karakteristik masing-masing sumber sulit untuk dibedakan maka lebih baik menggunakan metode sensus.

 

SAMPEL

Jika kita hanya akan meneliti sebagian dari populasi, maka penelitian tersebut disebut penelitian sampel. Sampel dibedakan menjadi dua jenis, yang pertama adalah sampel judgemental yaitu sampel dipilih berdasarkan pendapat analisis dan hasil penelitian digunakan untuk menarik kesimpulan tentang item-item didalam sampel yaitu observasi sesungguhnya. Yang kedua, sampel statistical yaitu sampel dipilih secara acak/random dari seluruh populasi dan hasil penelitiannya dapat digunakan untuk menarik kesimpulan tentang seluruh populasi.

Pengambilan sampel merupakan suatu proses pemilihan dan penentuan jenis sampel serta perhitungan besarnya sampel yang akan menjadi subjek atau objek penelitian. Untuk menentukan sampel yang akan digunakan dalam penelitian, terdapat berbagai jenis sampling yang digunakan. Menurut Sugiyono (2010:217) teknik sampling pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi dua yaitu, Probability Samping dan Nonprobability Sampling. Probability Sampel meliputi Simple Random, Proportionate Stratified Random, Disproportionate Stratified Random, dan  Cluster Random. Nonprobability Sampling meliputi Sampling Sistematis, Sampling Kuota, Sampling Aksidental, Purposive Sampling, Sampling Jenuh dan  Snowball Sampling.

Berikut ini keterangan mengenai sampel tersebut di atas:

  1. Probability Samping adalah teknik pengambilan sampel yang memberikan peluang yang sama bagi setiap unsur (anggota) populasi untuk dipilih menjadi anggota sampel. Teknik ini meliputi:
    1. Simple Random Sampling, adalah suatu metode pemilihan ukuran sampel dari suatu populasi dimana setiap anggota populasi mempunyai peluang yang sama dan semua kemungkinan penggabungannya yang diseleksi sebagai sampel mempunyai peluang yang sama (Weirsma, 1975). Syarat pengambilan sampel secara random/acak meliputi tahap menetapkan populasi, daftar semua anggota populasi dan memilih sampel melalui prosedur yang sesuai di mana setiap anggota mempunyai peluang yang sama sebagai sampel penyelidikan.
    2. Proportionate Stratified Random Sampling, teknik ini hampir sama dengan simple random sampling namun penentuan sampelnya memperhatikan tingkatan di dalam populasi.
    3. Disproportionate Stratified Random Sampling, adalah teknik yang hampir mirip dengan Proportionate Stratified Random Sampling dalam hal heterogenitas populasi. Namun, ketidakproporsionalan penentuan sampel didasarkan pada pertimbangan jika anggota populasi berkelompok namun kurang proporsional pembaginya.
    4. Cluster Random Sampling, apabila kita menyeleksi anggota sampel dalam kelompok dan bukan menyeleksi individu-individu secara terpisah (Vockell,1983). Pengambilan sampel semacam ini kadang-kadang dikaitkan dengn pengambilan sampel wilayah, sebab dalam pelaksanaannya seringkali didasarkan atas letak geografis.

 

  1. Nonprobability Sampling adalah teknik pengambilan sampel yang tidak memberi peluang/kesempatan sama bagi setiap unsur atau anggota populasi untuk dipilihmenjadi sampel. Teknik ini meliputi:
    1. Sampling Sistematis adalah suatu strategi pemilihan anggota sampel yang hanya dapat diperbolehkan melalui peluang dan sistem untuk menentukan keanggotaan dalam sampel. Teknik ini juga bisa dikatakan sebagai teknik sampling yang menggunakan nomor urut dari populasi baik yang didasarkan nomor yang ditetapkan sendiri oleh peneliti maupun identitas tertentu, ruang dengan urutan yang seragam atau pertimbangan sistematis lainnya.
    2. Sampling Kuota, adalah teknik sampling yang menentukan jumlah sampel dari populasi yang memiliki ciri tertentu sampai jumlah kuota yang diinginkan. Dalam pengambian sampel kuota, kit mengidentifikasikan kumpulan karakteristik penting dari populasi dan kemudian memilih sampel yang diinginkan secara non-acak. Hal ini diasumsikan bahwa sampel-sampel tersebut sesuai dengan karakteristik populasi yang ditetapkan (Vockell, 1983).
    3. Samping Aksidental,merupakan teknik penentuan sampel secara kebetulan atau siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti yang dianggap cocok dengan karakteristik sampel yang ditentukan akan dijadikan sampel.
    4. Purposive Sampling, merupakan teknik penentuan sampel dengan pertimbangan khusus sehingga layak dijadikan sampel. Peneliti akan berusaha agar dalam sampel itu terdapat wakil-wakil dari segala lapisan populasi. Sampel purposive dilakukan dengan mengambil orang-orang yang benar-benar terpilih oleh peneliti menurut ciri-ciri spesifik yang dimiliki oleh sampel tersebut. Misalnya orang yang mempunyai tingkat pendidikan tertentu, jabatan tertentu, mempunyai usia tertentu yang pernah aktif dalam kegiatan masyarakat tertentu.
    5. Sampling Jenuh, adalah sampel yang mewakili jumlah populasi. Biasanya dilakukan jika populasi dianggap kecil atau kurang dari 100.
    6. Snowball Sampling, adalah teknik penentuan jumlah sampel yang semula kecil kemuian terus membesar ibarat bola salju. Dalam sampling ini penelti mulai dengan kelompok kecil yang diminta untuk menunjuk kawan masing-masing. Kemudian kawan-kawan itu diminta menunjuk kawan masing-masing, dan begitu seterusnya sehingga kelompok itu menjadi semakin bertambag besar. Samping ini dipilih bila peneliti ingin menyelidiki hubungan antar manusia dalam kelompok yang akrab, atau menyelidiki cara-cara informasi tersebar dikalangan tertentu.

Untuk mempermudah pemahaman kita mengenai bagaimana penarika sampel serta mendapatkan sampel yang benar-benar mewakili maka ada beberapa langkah dalm melakukan pengambilan sampel. Kuncoro (2003:104) menyebutkan bahwa dalam pengambilan sampel, dapat dilakukan langkah-langkah berikut diantaranya, menentukan populasi target, membuat kerangka sampling, menentukan ukuran sampel, menentukan teknik dan rencana pengambilan sampel, dan pelakukan pengambilan sampel.

 

KESIMPULAN

Dari uraian materi diatas dapat disimpulkan bahwa, kegiata penelitian selain dilakukan secara sensus, dapat dilakukan dengan penarikan sampel. Alasannya karena metode penarikan sampel lebih praktis, biayanya lebih hemat, serta memerlukan tenaga dan waktu yang lebih sedikit dibandingkan dengan metode sensus. Pengambilan sebagian dari seluruh objek dan atas hasil penelitian suatu keputusan atau kesimpulan seluruh populasi dibuat, disebut sebagai metode penarikan sampel.

Penelitian yang memakai sampel untuk meneliti atau menyelidiki karakteristik objek penelitian, dilakukan dengan beberapa alasan, antara lain: objek yang diteliti sifatnya mudah rusak, objek yang diteliti sifatnya homogen, tidak mungkin meneliti secara fisik seluruh objek populasi, untuk menghemat biaya, untuk menghemat waktu dan tenaga, serta keakuratan hasil sampling. Dalam konteks penelitian kualitatif, penentuan sampel didasarkan pada proses sampling sebagai parameter populasi yang dinamis. Hal ini dapat dipahami karena kekuatan dari penelitian kualitatif terletak pada kekayaan informasi yang dimiliki oleh responden, dari kasus yang diteliti, dan kemampian analisis peneliti. Sehingga penentuan sampel dalam penelitian kualitatif disesuaikan dengan tujuan penelitian, teknik pengumpulan data, dan keberadaan kasus yang kaya akan informasi.

 

 

______________

 

Oleh: Ariesta Ridlo Ayu Susilo

(disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian, dosen pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s