Landasan Teori Penelitian

Agar dapat lebih mudah dipahami pengertian ini,tentang pemecahan masalah . Sering kali penelitihan tidak dapat memecahkan permasalahannya hanya dengan sekali jalan. Permasalahan itu akan diselesaikan segi demi segi dengan cara mengajukan pertanyaan- pertanyaan untuk tiap-tiap segi, dan mencari jawabannya melalui penelitian yang dilakukan. Sehubungan dengan pembatasan pengertian tersebut maka hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian, sampai terbukti melalui data yang terkumpul.

Dari arti katanya, hipotesis memang berasal dari 2 penggalan kata, “hypo” yang artinya “ dibawah “ dan “ thesa “  yang artinya “ kebenaran “ jadi hipotesis yang kemudian menjadi hipotesa dan berkembang menjadi hipotesis.

Suatu landasan teori dari suatu penelitian tertentu atau karya ilmiah sering juga disebut sebagai studi litelatur atau tinjauan pustaka. Salah satu contoh karya tulis yang penting adalah tulisan itu berdasarkan riset. Melalui penelitian atau kajian teori diperoleh kesimpulan-kesimpulan atau pendapat-pendapat para ahli.Kemudian dirumuskan pada pendapat baru. Penulisan harus belajar dan melatih dirinya untuk mengatasi masalah-masalah yang sulit, bagaimana mengekspresikan semua bahan dari bermacam-macam sumber menjadi suatu karya tulis yang memiliki bobot ilmiah.

 

  1. A.      Pengertian teori

Setelah masalah penelitian dirumuskan, maka langkah kedua kedalam proses penelitian (kuantitatif) adalah mencari teori-teori, konsep-konsep dan generalisasi-generalisasi hasil penelitian yang dapat dijadikan sebagai landasan teoritis untuk pelaksanaan penelitian (Sumadi Suryabrata, 1990). Landasan teori ini perlu ditegakkan agar penelitian itu mempunyai dasar yang kokoh,dan bukan sekedar perbuatan cba-coba (trial and error). Adanya landasan teoritis ini merupakan cirri bahwa penelitian itu merupakan cara ilmiah untuk mendapatkan data.

Selanjutnya Sitirahayu Haditono (1999), menyatakan bahwa suatu teori akan memperoleh arti yang penting, bila ia lebih banyak dapat melukiskan, menerangkan, dan meramalkan gejala yang ada.

Mark 1963,dalam (sitirahayu Haditono,1999), membedakan adanya tiga macam teori. Ketiga teori yang dimaksud ini berhubungan dengan data empiris. Dengan demikian dapat dibedakan antara lain :

  1. Teori yang deduktif: member keterangan yang dimulai dari seatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu kea rah data akan diterangkan
  2. Teori yang induktif: cara menerangkan adalah dari data kea rah teori. Dalam bentuk ekstrim titik pandang yang positivistik ini dijumpai pada kaum behaviorist.
  3. Teori yang fungsional: di sini Nampak suatu interaksi pengaruh antara data dan perkiraan teoritis, yaitu data mempengaruhi pembentukan teori dan pembentukan teori kembali mempengaruhi data.

 

Berdasarkan tiga pandangan ini dapatlah disimpulkan bahwa teori dapat dipandang sebagai berikut.

  1. Teori menunjuk pada sekelompok hokum yang tersusun secara logis. Hukum-hukum ini biasanya sifat hubunganyang deduktif. Suatu hokum menunjukan suatu humbungan antara variable-variabel empiris yang bersifat ajeg dan dapat diramal sebelumnya
  2. Suatu teori juga dapat merupakan suatu rangkuman tertulis mengenai suatu kelompok hukum yang diperoleh secara empiris dalam suatu bidang tertentu. Di sini orang mulai dari data yang diperoleh dan dari data yang diperoleh itu dating suatu konsep yang teoritis (induktif)
  3. Suatu teori juga dapat menunjuk pada suatu cara menerangkan yang menggeneralisasi. Disini biasanya terdapat humbungan yang fungsional antara data dan pendapat yang teoritis.

Berdasarkan data tersebut di atas secara umum dapat di tarik kesimpulan bahwa, suatu teori adalah suatu konseptualisasi yang umum. Konseptualisasi atau sistem pengertian ini di peroleh melalui, jalan yang sistematis.suatu teori harus dapat diuji kebenaranya, bila tidak, dia bukan suatu teori.

Teori semacam ini mempunyai dasar empiris. Suatu teori dapat memandang gejala yang dihadapi dari sudut yang berbeda-beda, misalnya dapat dengan menerangkan, tetapi dapat pula dengan menganalisa dan menginterpretasi secara kritis (Habermas, 1968). Misalkan melukiskan suatukonflik antara generasi yang dilakukan oleh ahli teori yang berpandangan emansipatoris akan berlainan dengan cara melukiskan seorang ahli teori lain tidak berpandangan emansipatoris.

Teori adalah alur logika atau penalaran, yang merupakan  seperangkat konsep, definisi, dan proposisi yang disusun secara sistematis. Secara umum,teori mempunyai tiga fungsi, yaitu untuk menjelaskan (explanation), meramalkan (Prediction), dan  pengendalian (contol) suatu gejala. Mengapa kalau besi kena panas memuai, dapat dijawab dengan teori yang berfungsi menjelaskan. Kalau besi dipanaskan sampai 750 Cberapa pemuaiannya, dijawab dengan teori yang berfungsi meramalkan. Selanjutnya berapa jarak sambungan rel kereta api yang paling sesuai dengan kondisi iklim Indonesia sehingga kereta api jalannya tidak terganggu karena sambungan dijawab dengan teori yang berfungsi mengendalikan.

Berdasarkan yang dikemukakan  Hoy & Miskel (2001) tersebut dapat dikemukakan  disini bahwa, 1) teori itu berkenan dengan konsep, asumsi dan generalisasi yang logis, 2) berfungsi untuk mengungkapkan,menjelaskan dan mempredeksiperilaku yangh memiliki keteraturan, 3) sebagai stimulant dan panduan untukmengembangkan pengetahuan.

Selanjutnya Hoy & Miskel (2001) mengemukakan  bahwa komponen teori itu meliputi konsep dan asumsi. A concept is a term that has been given an abstract,generalized meaning. Konsep merupakan istilah yang bersifat abstrak dan bermakna generalisasi. Contoh konsep dalam administrasi adalah leadership (kepemimpinan), satisfaction  (kepuasan) dan informal organization (organisasi informal). Sedangkan asumsi merupakan pertanyaan diterima kebenaranya tanpa pembuktian. An assumption, accepted without proof, are not necessarily self-evident. Berikut ini diberikan contoh asumsi dalam bidang adminitrasi.

  1. Adminitrasi merupakan generalisasi tentang  perilaku semua manusia dalam  organisaai
  2. Adminitrasi merupakan proses pengarahan dan pengendalian kehidupan dalam organisasi sosial.

 

  1. B.       Tingkatan dan Fokus Teori

Teori yang digunakan untuk perumusan hipotesis yang akan diuji melalui pengumpulan data adalah  teori subtantif, karena teori ini lebih focus berlaku untuk obyek yang akan diteliti.

 

  1. C.      Kegunaan Teori dalam Penelitian

Semua penelitian bersifat ilmiah, oleh karena itu semua peneliti harus berbekal teori. Dalam penelitian kuantitatif, teori yang digunkan harus sudah jelas, karena teori disini akan berfunsi untuk memperjelas masalah yang teliti, sebagai dasar untuk merumuskan hipotesis, dan sebagai referensi untuk menyusun instrument penelitian. Oleh karena itu landasan teori dalam proposal penelitian kuantitatif harus sudah jelas teori apa yang akan dipakai.

Dalam kaitannya dengan kegiatan penelitian, maka fungsi teori yang pertama digunaka untuk memperjelas dan mempertajam  ruang lingkup,atau konstruk variable yang akan deteliti. Fungsi teori yang kedua (prediksi dan pemandu untuk menemukan fakta) adalah untuk merumuskan hipotesis dan menyusun instrument penelitian. Kerena pada dasarnya hipotesis itu merupakan pertanyaan yang bersifat prediktif. Selanjutnya fungsi teori yang ke tiga (control)  digunakan mencandra dan membahas hasil penelitian. Sehingga selanjutnya digunakan untuk memberikan  saran dalam upaya pemecahan masalah.

Dalam proses penelitian seperti yang ditunjukkan pada gambar 1.1, terlihat bahwa untuk dapat mengajukan hipotesis penelitian, maka peneliti harus membaca buku-buku dan hasil-hasil penilitian yang relevan, lengkap dan mutakhir. Membaca buku adalah prinsip berfikir deduksi dan membaca hasil penelitian adalah prinsip berfikir induksi.

Dalam landasan teori perlu dikemukakan deskripsi teori, dan kerangka berfikir, sehingga selanjutnya dapat dirumuskan hipotesis dan instrument penelitian.

 

  1. D.       Deskripsi Teori 

Deskripsi teori dalam suatu penelitian merupakan uraian sistematis tentang teori (dan bukan sekedar pendapat pakart atau penulis buku) dan hasil-hasil penelitian yang relevan dengan variabel yang teliti. Beberapa jumlah kelompok  teori yang perlu dikemukakan / dideskripsikan, akan tergantung pada luasnya permasalahan dan secara teknis tergantung pada jumlah variable yang diteliti. Bila dalam suatu penelitian terdapat tiga variable independen dan satu dependen, maka kelompok teori yang perlu dideskripsikan ada empat kelompok teori, yaitu kelompok teori yang berkenan dengan tiga variable independen dan satu dependen. Oleh karena itu, semakin banyak variable yang diteliti, maka semakin banyak teori yang perlu dikemukakan.

Deskripsi teori paling tidak berisitentang penjelasan terhadap variable-variabel yang diteliti, melalui pendefinisian, danuraian yanglengkap dan mendalam dariberbagai referensi, sehingga ruang lingkup, kedudukan dan predeksi terhadap hubungan antara variable yang akan diteliti menjadi lebih jelas dan terarah.

Teori-teori yang dideskripsikan dalam proposal maupun laporan penelitian dapat digunakan sebagai indikator apakah peneliti menguasai teori dan konteks yang diteliti atau tidak. variabel-variabel penelitian yang tidak dapat dijelaskan dengan baik, baik dari segi pengertian maupun kedudukan dan hubungan antar variable yang diteliti, menunjukkan bahwa peneliti tidak menguasai teori dan konteks penelitian.

Untuk menguasai teori, maupun generalisasi-generalisasi dari hasil penelitian, maka peneliti harus rajin membaca. Orang harus membaca dan membaca, dan menelaah yang dibaca itu setuntas mungkin agar ia dapat menegakkan landasan yang kokoh bagi langkah-langkah berikutnya. Membaca merupakan keterampilan yang harus dikembangkan dan dipupuk (Sumadi Suryabrata, 1996).

Untuk membaca dengan baik, maka peneliti harus mengetahui sumber-sumber bacaan. Sumber-sumber bacaan dapat berbentuk buku-buku teks, kamus, ensiklopedia, journal ilmiah dan hasil-hasil penelitian. Bila peneliti tidak memiliki sumber-sumber bacaan sendiri, maka dapat melihat di perpustakaan, baik perpustakaan lembaga formal, maupun perpustakaan pribadi.

Sumber bacaan yang baik harus memenuhi tiga criteria, yaitu relevansi, kelengkapan, dan kemutakhiran (kecuali penelitian sejarah, penilitian ini justru menggunakan sumber-sumber bacaan lama).Relevansi berkenan dengan kecocokan antara variabelyang diteliti dengan teori yang dikemukakan, kelengkapan berkenan dengan banyaknya sumber yang dibaca, kemutakhiran berkenan dengan dimensi waktu. Makin baru sumber yang digunakan, maka akan semakin mutakhir teori.

Hasil penelitian yang relevan bukan berarti sama dengan yang akan diteliti, tetapi masih dalam lingkup yang sama. Secara teknis, hasil penelitian yang relevan dengan apa yang diteliti dapat dilihat dari: permasalahan yang diteliti, waktu penelitian, tempat penelitian, sampel penelitian, metode penelitian, analisis, dan kesimpulan. Misalnya peneliti yang terdahulu, melakukan penelitiantentang tingkat penjualan jenis kendaraan bermotor di Jawa Timur, dan peneliti berikutnya menelirti di Jawa Barat. Jadi hanya berbeda lokasi saja. Peneliti yang kedua ini dapat mengunakan referensi hasil penelitian yang pertama.

Langkah-langkah untuk dapat melakukan pendeskripsian teori adalah sebagai berikut:

  1. Tetapkan nama variable yang diteliti, danjumlah variabelnya.
  2. Cari sumber-sumber bacaan (buku, kamus,ensiklopedia, journal ilmiah, laporan penelitian,skripsi, tesis, disertasi) yang sebanyak-banyaknya dan yang relevan dengan setiap variable yang diteliti.
  3. Lihat daftar isi setiap buku, dan pilih topic yang relevan dengan setiap variable yang akan diteliti . (Untuk referensi yang berbentuk laporan penelitian,lihat judul penelitian, permasalahan, teori yang digunakan, tempat penelitian, sampel sumber data, teknik pengumpulan data,analisis, kesimpulan dan saran yang diberikan).
  4. Cari devinisi setiap variabelyang akan diteliti pada setiap sumber bacaan, bandingkan antara satu sumber dengan sumber yang lain,dan pilih definisi yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan.
  5. Baca seluruh isi topic buku yang sesuai dengan variabel yang akan diteliti, lakukan analisa,renungkan, dan bulatlah rumusan dengan bahasa sendiri tentang isi setiap sumber data yang dibaca.
  6. Deskripsikan teori-teori yang telah dibaca dari berbagai sumber ke dalm bentuk tulisan dengan sendiri. Sumber-sumber bacaan yang dikutip atau yang digunakan sebagai landasan untuk mendeskripsikan teori harus dicantumkan.

 

  1. E.       Kerangka Berfikir

Uma sekarang dalam bukunya Business Research (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang penting.

Kerangka berfikir yang baik akan menjelaskan secara teoritis pertautan antar variabel yang akan diteliti. Jadi secara teoritis perlu dijelaskan hubungan antar variabel independen dan dependen. Bila dalam penelitian ada variabel moderator dan intervening, maka juga perlu dijelaskan, mengapa variabel itu ikut dilibatkan dalam penelitian. Pertautan antar variabel tersebut, selanjutnya dirumuskan ke dalam bentuk paradigm penelitian. Oleh karena itu pada setiap penyusunan paradigm penelitian harus didasarkan pada kerangka berfikir.

Kerangka berfikir dalam suatu penelitian perlu dikemukakan apabila dalam penelitian tersebut berkenan dua variabel atau lebih. Apabila penelitian hanya membahas sebuah variabel atau lebih secara mandiri, maka yang dilakukan peneliti disamping mengemukakan deskripsi teoritis untuk masing-masing variabel, juga argumentasi terhadap variasi besaran variabel yang diteliti (Sapto Haryoko, 1999).

Penelitian yang berkenaan dengan dua variabel atau lebih, biasanya dirumuskan hipotesis yang berbentuk komparasi maupun hubungan. Oleh karena itu dalam rangka menyusun hipotesis penelitian yang berbentuk hubungan maupun komparasi, maka perlu dikemukakan kerangka berfikir. Langkah-langkah dalam menyusun kerangka pemikiran yang selanjutnya membuahkan hipotesis ditunjukkan pada gambar 3.1.

Seorang peneliti harus menguasai teori-teori ilmiah sebagai dasar bagi argumentasi dalam menyusun kerangka pemikiran yang membuahkan hipotesis. Kerangka pemikiran ini merupakan penjelasan sementara terhadap gejala-gejala yang menjadi obyek permasalahn. (Suriasumantri, 1986). Kriteria utama agar suatu kerangka pemikiran bisa meyakinkan sesama ilmuwan, adalah alur-alur pikiran yang logis dalam membangun suatu kerangka berfikir yang membuahkan kesimpulan yang berupa hipotesis. Jadi kerangka berfikir merupakan sintesa tentang hubungan antar variabel yang disusun dari berbagai teori yang telah dideskripsikan.Berdasarkan teori-teori yang telah dideskripsikan tersebut,selanjutnya dianalisis secara kritis dan sistematis, sehingga menghasilkan sintesa tentang hubungan antar variabel yang diteliti. Sintesa tentang hubungan variabel tersebut, selanjutnya digunakan untuk merumuskan hipotesis.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 3.1. Proses penyusunan kerangka berfikir untuk merumuskan hipotesis

 

Berdasarkan gambar 3.1 tersebut dapat diberi penjelasan sebagai berikut :

  1. 1.      Menetapkan Variabel Yang Diteliti

Untuk menentukan kelompok teori apa yang perlu dikemukakan dalam menyususn kerangka berfikir untuk pengajuan hipotesis, maka harus ditetapkan terlebih dulu variable penelitiannya. Berapa jumlah variable yang diteliti, dan apakah nama setiap variabel, merupakan titik tolak untuk menentukan teori yang akan dikemukakan.

 

  1. 2.      Membaca Buku dan Hasil Penelitian (HP)

Setelah variable ditentukan, maka langkah berikutnya adalah membaca buku-buku dan hasil penelitian yang relevan. Buku-buku yang dibaca dapat berbentuk buku teks, ensiklopedia, dan kamus. Hasil penelitian yang dapat dibaca adalah, laporan penelitian, journal ilmiah, Skripsi, Tesis, dan Disertasi.

 

  1. 3.      Deskripsi Teori dan Hasil Penelitian (HP)

Dari buku dan hasil penelitian yang dibaca akan dapat dikemukakan teori-teori yang berkenaan dengan variabel yang diteliti. Seperti telah dikemukakan, deskripsi teori berisi tentang, devinisi terhadap masing-masing variabel yang diteliti, uraian rinci tentang ruang lingkup setiap variabel, dan kedudukan antara variabel satu dengan yang lain dalam konteks penelitian itu.

 

  1. 4.      Analisis Kritis terhadap Teori dan Hasil Penelitian

Pada tahap ini peneliti melakukan analisis secara kritis terhadap teori-teori dan hasil penelitian yang telah dikemukakan. Dalam analisis ini peneliti akan mengkaji apakah teori-teori dan hasil penelitian yang telah ditetapkan itu betul-betul sesuai dengan obyek penelitian atau tidak, karena setiap terjadi teori-teori yang berasal dari luar tidak sesuai untuk penelitian di dalam negeri.

 

  1. 5.      Analisis Komparatif Terhadap Teori dan Hasil Penelitian

Analisis komparatif dilakukan dengan cara membandingkan antara teori satu dengan teori yang lain, dan hasil penelitian satu dengan penelitian yang lain.

Melalui analisis komparatif ini peneliti dapat memadukan antara teori satu dengan teori yang lain, atau mereduksi bila dipandang terlalu luas.

 

  1. 6.      Sintesa Kesimpulan

Melalui analisis kritis dan komparatif  terhadap teori-teori dan hasil penelitian yg relevan dengan semua variabel yang diteliti, selanjutnya peneliti dapat melakukan sintesa atau kesimpulan sementara. Perpaduan sintesa antara variabel satu dengan variabel yang lain akan manghasilkan kerangka berfikir yang selanjutnya dapat digunakan untuk merumuskan hipotesis.

 

  1. 7.      Kerangka Berfikir

Setelah sintesa atau kesimpulan sementara dapat dirumuskan maka selanjutnya disusun kerangka berikir. Kerangka berfikir yang dihasilkan dapat berupa kerangka berfikir yang assosiatif/hubungan maupun komparatif/perbandingan. Kerangka berfikir assosiatif dapat menggunakan kalimat: jika begini maka akan begitu; jika komitmen kerja tinggi, maka produktifitas lembaga akan tinggi pula atau jika pengawasan dilakukan dengan baik(positif),maka kebocoran anggaran akan berkurang(negatif).

 

 

  1. 8.      Hipotesis

Berdasarkan kerangka berfikir tersebut selanjutnya disususn hipotesis. Bila kerangka berfikir berbunyi “jika komitmen kerja tinggi, maka produktivitas lembaga akan tinggi”, maka hipotesisnya berbunyi “ada hubungan yang positif dan signifikan antara komitmen kerja dengan produktivitas kerja”

Bila kerangka berfikir berbunyi “Karena lembaga A menggunakan teknologi tinggi, maka produktivitas kerjanya lebih tinggi bila dibandingkan dengan lembaga B yang teknologi kerjanya rendah,” maka hipotesisnya  berbunyi ‘Terdapat perbedaan produktivitas kerja lembaga A lebih tinggi bila dibandingkan dengan lembaga B”.

 

Selanjutnya Uma Sekaran (1992) mengemukakan bahwa, kerangka berfikir yg baik, memuat hal-hal sebagai berikut:

  1. Variabel-variabel yang akan diteliti harus dijelaskan.
  2. Diskusi dalam kerangka berfikir harus dapat menunjukan dan menjelaskan pertautan/hubungan antar variabel yang diteliti, dan ada teori yang mendasari.
  3. Diskusi juga harus dapat menunjukan dan menjelaskan apakah hubungan antar variabel itu positif atau negatif, berbentuk simetris, kausal atau interaktif (timbal balik).
  4. Kerangka berfikir tersebut selanjutnya perlu dinyatakan dalam bentuk diagram (paradigma penelitian), sehingga pihak lain dapat memahami kerangka pikir yang dikemukakan dalam penelitian.

 

  1. F.       Hipotesis

Perumusan hipotesis penelitian merupakan langkah ketika dalam penelitian, setelah peneliti mengemukakan landasan teori dan kerangka berfikir. Tetapi perlu diketahui bahwa tidak setiap penelitian harus merumuskan hipotesis. Penelitian yg bersifat ekploratif dan deskriptif sering tidak perlu merumuskan hipotesis.

Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, di mana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pernyataan. Dikatakan sementara, karena jawaban yang diberikan baru didasarkan pada teori yang relevan, belum didasarkan pada fakta-fakta yang empiris yang diperoleh melalui pengumpulan data. Jadi hipotesis juga dapat dinyatakan sebagai jawaban teoritis terhadap rumusan masalah penelitian, belum jawaban yang empiric.

Penelitian yang merumuskan hipotesis adalah penelitian yang menggunakan pendekatan kuantitatif. Pada penelitian kualitatif, tidak  dirumuskan hipotesis, tetapi justru diharapkan dapat ditemukan hipotesis. Selanjutnya hipotesis, tersebut akan diuji oleh peneliti  dengan menggunakan pendekatan kuantitatif.

Dalam  hal ini perlu dibedakan pengertian hipotesis penelitian dan hipotesis statistik. Pengertian  hipotesis penelitian sepeerti telah dikemukakan di atas. Selanjutnya hipotesis statistic itu ada, bila penelitian bekerja dengan sampel. Jika penelitian tidak menggunakan sampel, maka tidak ada hipotesis statistik.

          Dalam suatu penelitian, dapat terjadi ada hipotesis penelitian, tetapi tidak ada hipotesis statistik. Penelitian yang dilakukan pada seluruh populasi mungkin akan terdapat hipotesis penelitian tetapi tidak akan ada hipotesis statistik. Ingat bahwa hipotesis itu berupa jawaban sementara terhadap rumusan masalah dan hipotesis yang akan diuji ini dinamakan hipotesis kerja. Sebagai lawanya adalah hipotesis nol (nihil). Hipotesis kerja disususn berdasarkan atas teori yang dipandang handal, sedangkan hipotesis nol dirumuskan karena teori yang digunakan masih diragukan kehandalanya.

Untuk  lebih mudahnya membedakanb antara hipotesis penelitian dan hipotesis statistik, maka dapat dipahami melalui gambar 3.2 berikut:

Contoh Hipotesis Penelitiannya:

  1. Kemampuan daya beli masyarakat (dalam populasi) itu rendah (hipotesis deskriptif).
  2. Tidak terdapat perbedaan kemampuan daya beli antara kelompok masyarakat petani dan nelanyan (dalam populasi itu/hipotesis komparatif).
  3. Ada hubungan positif antara penghasilan dengan kemampuan daya beli masyarakat (dalam populasi itu/hipotesis assosiatif).

 

Data dikumpulkan dari

populasi, kesimpulan

berlaku untuk populasi

 

 

Gambar 3.2 penelitian populasi

Pada gambar 3.2 di atas yang diteliti adalah populasi, sehingga hipotesis statistiknya tidak ada yang ada hanya hipotesis penelitian. Dalam pembuktianya tidak ada istilah “signifikansi” (taraf kesalahan atau taraf kepercayaan).

Selanjutnya  perhatikan pula gambar 3.3 berikut, yaitu penelitian yang menggunakan sampel. Pada penelitian ini untuk mengetahui keadaan populasi, sumber datanya menggunakan sampel yang diambil dari populasi tersebut. Jadi yang dipelajari adalah data sampel. Dugaan apakah data sempel itu dapat diberlakukan ke populasi, dinamakan hipotesis danstatistik.

Pada gambar 3.3 di atas terdapat hipertesis penelitian dan hipotesis statistik. Hipotesis statistic diperlukan untuk menguji apakah hipotesis penelitian yang hanyadiuji dengan data sampel itu dapat diberlakukan untuk populasi atau tidak. Dalam pembuktian ini akan muncul istilah signifikansi, atau taraf kesalahan atau kepercayaan dari pengujian. Signifikan artinya hipotesis penelitian yang telah terbukti pada sempel itu (baik deskriptif,  komparatif, maupun assosiatif) dapat diberlakukan ke populasi.

Contoh hipotesis penelitian yang mengandung hipotasis statistik:

  1.  Ada perbedaan yang signifikan antara penghasilan rata-rata  masyarakat dalam sampel dengan populasi. Penghasilan masyarakat itu paling tinggi hanya Rp.500.000/bulan (Hipotesis deskriptif).
  2. Terdapat perbedaan yang signifikan antara  penghasilan petani dan nelayan (hipotesis komparatif).
  3. Ada hubungan yang  positif dan signifikan antara curah hujan dengan jumplah payung yang terjual (hipotesis assosiatif/hubungan). Ada hubungan positif artinya, bila curah hujan tinggi, maka akan semakin banyak payung yang terjual.

 

Terdapat dua macam hipotesis penelitian yaitu hipotesis kerja dan hipotesis nol. Hipotesis kerja dinyatakan dalam kalimat positif dan hipotesis nol dinyatakan dalam kalimat negatif.

Dalam statistik juga terdapat dua macam hipotesis yaitu hipotesis kerja dan hipotesis alternatife (hipotesis alternatife tidak sama dengan hipotesis kerja). Dalam kegiatan penelitian,yang diuji terlebih dulu adalah hipotesis penelitian terutama pada hipotesis kerjanya. Bila penelitian akan membuktikan apakah hasil pengujian hipotesis itu signifikan atau tidak, maka diperlukan hipotesis statistic. Teknik statistic yang digunakan untuk menguji hipotesis ini adalah statistik inferensial. Statistik yang bekerja dengan data populasi adalah statistik deskriptif.

 

Keadaan populasi tidak

diketahui

Reduksi

 

Generalisasi yang

Bersifat hipotetik

 

Data dikumpulkan

Dari sampel

Kesimpulan berlaku

Untuk populasi

 

Gambar 3.3 Penelitian bekerja dengan data sampel

 

Dalam hipotesis statistik, yang diuji adalah hipotesis nol, hipotesis yang menyatakan tidak ada perbedaan antara data sampel, dan data populasi.

Yang diuji hipotesis nol karena peneliti tidak berharap ada perbedaan antara sampel dan populasi atau statistic dan parameter. Parameter adalah ukuran-ukuran yang berkenaan dengan populaasi , dan statistik di sini diartikan sebagai ukuran-ukuran yang berkenaan dengan sampel.

 

  1. 1.     Bentuk-bentuk Hipotesis

Bentuk-bentuk hipotesis penelitian sangat terkait dengan rumusan masalah penelitioan. Bila dilihat dari tingkat eksplanasinya, maka bentuk rumusan masalah penelitian ada tiga yaitu: rumusan masalah deskriptif (variable mandiri), komparatif (perbandingan) dan assosiatif (hubungan). Oleh karena itu, maka bentuk hipotesis penelitian juga ada tiga yaitu hipotesis deskriptif, komparatif, dan assosiatif/hubungan.

Hipotesis deskriptif,adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah deskriptif;hipotesis komparatif merupakan jawaban sementara terhadap masalah komparatif, dan hipotesis assosiatif adalah merupakan jawaban sementara terhadap masalah assosiatif/hubungan. Pada butir 2 berikut nanti diberikan contoh judul penelitian, rumusan masalah, dan rumusan hipotesis. Rumusan hipotesis deskriptif,lebih didasarkan pada pengamatan pendahuluan terhadap obyek yang diteliti.

 

  1. a.      Hipotesis Deskriptif

Hipotesis deskriptif merupakan jawaban sementara terhadap masalah deskriptif, yaitu yang berkenaan dengan variabel mandiri.

Contoh :

1)      Rumusan masalah deskriptif

a)      Berapa daya tahan lampu pojar merk X?

b)      Seberapa tinggi semangat kerja karyawan di PT. Y?

2)      Hipotesisi deskriptif

Daya tahan lampu pijar merk X = 600 jam (Ho). Ini merupakan hipotesis nol, karena daya tahan lampu yang ada pada sampel diharapkan tidak berbeda secara signifikan dengan daya tahan lampu yang ada pada populasi.

Hipotesis alternatifnya adalah : Daya tahan lampu pijar merk X ≠ 600 jam. “Tidak sama dengan” ini bias berarti lebih besar atau lebih kecil dari 600 jam.

3)      Hipotesis Statistik (hanya ada bila berdasarkan data sampel)

Ho    :  µ   =   600

Ha     :  µ   ≠   600

µ       :  Adalah nilai rata-rata populasi yang dihipotesiskan atau

ditaksir melalui sampel

Untuk rumusan masalah no. 2) hipotesis nolnya bias berbentuk demikian.

a)        Semangat kerja karyawan di PT X = 75% dari criteria ideal yang ditetapkan

b)      Semangat kerja karyawan di PT X  paling sedikit 60%  dari kriteria ideal yang ditetapkan (paling sedikit itu berarti lebih besar atau sama dengan ≥ ).

c)      Semangat kerja karyawan di PT X paling banyak 60% dari kriteria ideal yang ditetapkan (paling banyak itu berarti lebih kecil atau sama dengan ≤).

 

Dalam kenyataan hipotesis yang diajukan salah satu saja, dan hipotesis mana yang dipilih tergantung pada teori dan pengamatan pendahuluan yang dilakukan pada obyek. Hipotesis alternatifnya masing-masing adalah:

a)      Semangat kerja karyawan di PT X ≠ 75%

b)      Semangat kerja karyawan di PT X < 75%

c)      Semangat kerja karyawan di PT X  > 75%

Hipotesis statistik adalah (hanya ada bila berdasarkan data sampel)

a)      Ho: ρ = 75%

Ha: ρ ≠ 75%

b)      Ho: ρ ≥ 75%                   ρ = hipotesis berbentuk prosentase

Ha: ρ < 75%

c)      Ha: ρ ≤ 75%

Ha: ρ > 75%

Teknik statistik yang digunakan untuk menguji ketika hipotesis tersebut tidak sama.

Cara-cara pengujian hipotesis akan diberikan pada bab tersendiri, yaitu pada bab analisis data.

 

  1. b.      Hipotesis komparatif

Hipotesis komporatif merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah komporatif. Pada rumusan ini variabelnya sama tetapi populasi atau sampelnya yang berbeda, atau keadaan itu terjadi pada waktu yang berbeda.

Contoh:

1)      Rumusan Masalah Komparatif

Bagaimanakah produktivitas kerja karyawan PT X bila dibandingkan dengan PT Y?

2)      Hipotesis Komparatif

Berdasarkan rumusan masalah komparatif  tersebut dapat dikemukakan: tiga model hipotesis nol dan alternatife sebagai berikut:

Hipotesis Nol:

1)      Ho   : Tidak terdapat perbedaan produktivitas kerja antara karyawan di PT X dan PT Y; atau terdapat persamaan produktivitas kerja antara karyawan PT X dan Y , atau

2)      Ho   : produktifitas karyawan PT X lebih besar atau sama dengan (≥) PT Y (“lebih besar atau sama dengan” = paling besar).

3)       Ho   : produktivitas karyawan PT X lebih kecil atau sama dengan (≤) PT Y (“lebih kecil atau sama dengan” = paling besar).

Hipotesis Alternatif:

1)      Ha   : Produktivitas kerja karyawan PT X lebih besar (atau lebih kecil) dari karyawan PT Y.

2)      Ha  :  Produktivitas karyawan PT X lebih kecil dari pada (<) PT Y.

3)      Ha    : produktivitas karyawan PT X lebih besar daripada (≥) PT Y

 

        3)  Hipotesis Statistik dapat dirumuskan sebagai berikut:

1)      Ho      :    µ = µ2

                                   Ho      :    µ ≠ µ2                                         µ       =rata-rata (populasi) produktivitas                                                 karyawan PT.X

2)      Ho      :     µ ≥ µ2                                         µ2         =rata-rata (populasi) produktivitas karyawan PT.Y

 

         Ho      :     µ<  µ2

 

3)     Ho      :     µ≤ µ2

            

              Ho     :     µ > µ2

 

  1. c.       Hipotesis Assosiatif:

Hipotesis assosiatif adalah jawaban sementara terhadap rumusan masalah assosiatif, yaitu yang menanyakan hubungan antara dua variabel atau lebih.

 

Contoh:

1)  Rumusan Masalah Assosiatif

Adakah hubungan yang signifikan antara tinggi badan pelayan took dengan barang yang terjual.

2)  Hipotesis Penelitian:

Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara tinggi badan pelayan took dengan barang yang terjual.

3)  hipotesis Statistik

Ho: ρ = o,   o berarti tidak ada hubungan.

Ha: ρ ≠ o    “tidak sama dengan nol” berarti lebih besar atau kurang (-)                                                                              dari nol berarti ada hubungan,

Ρ = nilai korelasi dalam formulasi yang dihipotesiskan.

 

  1. 2.   Paradigma Penelitian, Rumusan Masalah dan Hipotesis.

Pada bab dua telah disampaikan paradigma penelitian. Dengan paradigm penelitian itu, penelitian dapat menggunakan sebagai panduan untuk merumuskan masalah, dan hipotesis penelitianya, yang selanjutnya dapat digunakan untuk panduan dalam pengumpulan data dan analisis.

Pada setiap paradigm penelitian minimal terdapat satu rumusan masalah penelitian, yaitu masalah deskriptif . Berikut ini contoh judul penelitian,paradigma,rumusan masalah dan hipotesis penelitian.

 

  1. a.    Judul penelitian:

Hubungan antara gaya kepemimpinan manager perusahaan dengan prestasi kerja karyawan. (gaya kepemimpinan adalah variabel independen (X) dan prestasi kerja adalah variabel dependen (Y)).

 

 

 

 

 

  1. b.  Paradigma Penelitiannya,adalah:

 

 

 

 

 

 

 

c.     Rumusan Masalah

1)  Seberapa baik gaya kepemimpinan manager yang ditampilkan kurang? (bagaimana X?)

2)  Seberapa baik prestasi kerja karyawan? (Bagaimana Y).

3)  Adakah hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan manajer dengan prestasi kerja karyawan? (adakah hubungan antara X dan Y).Butir ini merupakan masalah assosiatif.

4)  Bila sampel penelitianya golongan  I, II dan III,maka rumusan masalah komparatifnya adalah:

a)   Adakah perbedaan persepsi antara karyawan Golongan, I, II dan III tentang gaya kepemimpinan manajer?

b)  Adakah perbedaan persepsi antara pegawai Gol, I, II dan III tentang prestasi kerja karyawan.

 

d.   Rumusan Hipotesis Penelitian

1)  Gaya kepemimpinan yang ditampilkan manajer (X) ditampilkan kurang baik, dan nilainya paling tinggi 60% dari criteria yang diharapkan.

2)   Prestasi kerja karyawan (Y) kurang memuaskan , dan nilainya pal;ing tinggi 65.

3)   Terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara gaya kepemimpinan manajer  dengan prestasi kerja karyawan, artinya makin baik kepemimpinan manajer, maka akan semakin baik prestasi kerja karyawan.

4)   Terdapat perbedaan persepsi tentang gaya kepemimpinan antara Gol, I, II dan III.

5)    Terdapat perbedaan persepsi tentang prestasi kerja antara Gol,I, II dan III.

Untuk bisa diuji dengan statistic, maka data yang akan didapatkan harus diangkakan. Untuk bias diangkakan , maka diperlukan instrument yang memiliki skala pengukuran. Untuk judul di atas ada dua instrument,yaitu instrument gaya kepemimpinan dan prestasi kerja pegawai.

Untuk judul penelitian yang berisi dua independen variable atau lebih, rumusan masalah penelitiannya akan lebih banyak, demikian juga rumusan hipotesisnya (lihat bagian paradigm penelitian) dan di bagian analisis data.

 

3.  Karakteristik Hipotesis yang Baik

  1. Merupakan dugaan terhadap keadaan variabelmandiri, perbandingan keadaan variabel pada berbagai sampel, dan merupakan dugaan tentang hubungan  antara dua variabel atau lebih. (Pada umumnya hipotesis deskriptif tidak dirumuskan).
  2. Dinyatakan dalam kalimat yang jelas, sehingga tidak menimbulkan berbagai penafsiran.
  3. Dapat diuji dengan data yang dikumpulkan  dengan metode-metode ilmiah.

 

KESIMPULAN

Dalam melakukan suatu penelitian terhadap fenomena social,seorang peneliti tidak dapat bekerja dengan  baik tanpa suatu sistematika yang sesuai untuk menemukan jawaban yg sesuai, serta memuaskan.peneliti harus memahami kaidah dalam meneliti. Tahap awal dari suatu penelitian adalah menciptakan pertanyaan mengenai suatu fenomena yang dipilih untuk diteliti. Pertanyaan tersebut berkaitan dengan definisi, fakta dan suatu obyek kajian. Teori yang deduktif: memberi keterangan yang dimulai dari suatu perkiraan atau pikiran spekulatif tertentu ke arah data yang akan diterangkan. Teori yang induktif adalah cara menerangkan dari data kearah teori.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

▪ Sugiyono prof.Dr. penelitian  pendidikan  pendekatan  kuantitatif ,  kualitatif  dan  R D , Bandung : cv.Alfa Beta, 2009

▪ Mahsun,prof.Dr.M.S.  Metode  penelitian  bahasa, terhadap  strategi, metode  dan  tekniknya , Jakarta: PT Raja Grapindo Persada,2007

 

 

 

___________

 

Oleh: Ika Yulistiani

(Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Metodologi Penelitian dengan dosen Pengampu Afid Burhanuddin, M.Pd.)

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s