Zeno; Biografi dan Pemikiran

Pendidikan merupakan suatu yang sangat penting dalam kehidupan kita. Pendidikan dilakukan sepanjang hidup. Dan satu hal yang harus dipelajari dalam hidup adalah ilmu. Pendidikan selalu mengarah pada pencapaian tujuan pengembangan potensi diri untuk berpartisipasi. Dalam hal ini ilmu adalah suatu hal atau pengetahuan yang akan kita pelajari. Sedangkan ilmu pengetahuan itu tidak lepas dari fisafat para ahli atau filsuf yang menemukan rumusan atau mengemukakan pendapat atau temuan yang sudah di akui bahkan diketahui oleh masyarakat. Jadi tidak salah bila filsafat dijuluki sebagai ibunya ilmu pengetahuan atau sering disebut sebagai mother of science. Dijuluki demikian karena semua ilmu pengetahuan ada dasarnya, yaitu filsafat yang di temukan oleh para filsuf melalui analisa atau penelitian yang jelas rumit. Tidak hanya satu fisuf saja yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan, ada banyak filsuf, bahkan stiap ilmu ada filsufnya masing-masing dan ada pula satu fisuf tetapi mengkaji banyak ilmu pengetahuan. Kita harus tahu siapa saja filsuf yang sudah berperan serta dalam ilmu pengetahuan. Dalam makalah ini saya akan memberikan beberapa pemikiran filsuf (Zeno), dan juga biografi dari tokoh tersebut. Semoga makalah ini bermanfaat untuk pembacanya.

 

BIOGRAFI TOKOH

 

Santo Zeno
 

Patung dari Santo Zeno yang terdapat di Basilika Santo Zeno

Lahir 300, Mauretania
Wafat 12 April 371, Verona
Hari peringatan 12 April; 21 Mei

 

 

Zeno (meninggal 371) adalah uskup Verona dan dikenal sebagai seorang pembela imanKristen. Ia ditahbis sebagai uskup pada tahun 362 dan dikenal sebagai uskup yang baik hati terhadap umatnya. Zeno menulis sejumlah khotbah, mendirikan banyak gereja, dan memiliki reputasi sebagai pembela iman Kristen terhadap golongan Arianisme. Selain itu, Zeno juga mendirikan biara-biara untuk kaum perempuan dan mendorong banyak perempuan muda untuk masuk ke dalam biara tersebut. Hal yang serupa di kemudian hari akan dilakukan juga oleh Ambrosius dari Milan. Zeno biasanya disimbolkan dengan ikan, namun tidak terlalu jelas apakah simbol itu menunjuk kepada simbol baptisan atau dirinya. Peringatan kepada Santo Zeno dirayakan setiap tanggal 12 April.

 

 

PEMIKIRAN TOKOH

 

Biografi Angka Nol-Angka Nol Muncul dari Timur

Biografi Angka Nol : Angka Nol muncul dari Timur

Ketakterhinggaan dan kekosongan mengandung kekuatan yang menakutkan orang Yunani. Ketakterhinggaan ditakutkan karena membuat semua gerak menjadi tidak mungkin, sedangkan kekosongan membuat pandangan mereka tentang alam semesta hancur berkeping-keping. Dengan menolak angka nol, filsuf Yunani memberi kekuatan bertahan selama dua milenium pada filsafat alam semesta mereka.

Doktrin Phytagoras pun menjadi pusat filsafat Barat. Seluruh alam raya diatur oleh perbandingan dan bentuk : Planet-planet bergerak mengalunkan musik surgawi di dalam ruang berbentuk bola. Namun apakah yang berada di luar bola semesta ini? Apakah ada ruang-ruang lain yang lebih besar dari bola semesta ini? Atau apakah titik terluar pada bola ini merupakan batas akhir alam semesta?

Aristoteles dan para filsuf sesudahnya berkeras bahwa tak ada ketakterhinggaan yang melingkupi bola-bola itu. Dengan mengadopsi ajaran ini, Barat tak memberi ruang bagi ketakberhinggaan. Mereka benar-benar menolaknya. Terima kasih untuk Zeno dari Elea, seorang filsuf yang dikenal paling menjengkelkan di Barat karena berhasil mengacaukan dasar-dasar pemikiran Barat dengan menggunakan ketakberhinggaan.

 

 

 

Zeno dilahirkan sekitar 490 SM, pada permulaan perang Persia-sebuah konflik besar antara Barat dan Timur. Meski Yunani berhasil mengalahkan Persia, namun filsafatnya takkan mampu mengalahkan Zeno. Zeno memiliki sebuah paradoks, teka-teki yang tak dapat dipecahkan oleh orang Yunani. Inilah teka-tekinya itu :

Achilles sang pahlawan perang Troya, yang terkenal sangat gesit, takkan pernah bisa menyusul kura-kura lamban yang melakukan start lebih dulu! Untuk memperjelas persoalan ini, mari kita gunakan angka-angka. Bayangkan Achilles berlari dengan kecepatan satu kaki per detik, sedangkan kura-kura tersebut berlari dengan kecepatan separuhnya (setengah kaki per detik). Bayangkan juga kura-kura tersebut start satu kaki lebih awal dari Achilles.

Achilles berlari, dan hanya dalam beberapa detik ia telah sampai di tempat kura-kura sebelumnya. Tetapi pada saat Achilles mencapai titik tersebut, kura-kura yang juga berlari telah maju sejauh setengah kaki. No problemo, kata Achilles. Achilles lebih cepat hingga dalam waktu setengah detik ia bisa berlari sejauh setengah kaki. Namun, sekali lagi, pada saat itu si kura-kura juga sudah bergerak ke depan sejauh seperempat kaki. Kemudian dalam sekejap – seperempat detik – Achilles menempuh jarak tertentu. Namun lagi-lagi, si kura-kura telah maju seperdelapan kaki. Achilles terus berlari dan berlari namun kura-kura selalu berada di depannya, tak peduli seberapa dekat jarak antara Achilles dan kura-kura.

 

 

 

Semua orang tahu bahwa di dunia nyata, Achilles pasti bisa berlari kencang melewati si kura-kura, tetapi argumen yang dibuat oleh Zeno membuktikan bahwa Achilles takkan pernah bisa menyusul kura-kura. Para filsuf zaman itu tak ada yang bisa menyangkal paradoks ini. Meski mereka mengetahui bahwa kesimpulan yang dibuat salah, namun mereka tak bisa menemukan kesalahan dalam pembuktian matematis yang dibuatnya. Senjata utama para filsuf adalah logika, tapi tampaknya deduksi logika tak mampu menghadapi argumen Zeno.

 

Empat Paradoks Zeno

Di dunia filsafat Yunani Kuno, terdapat satu set teka-teki yang disebut Paradoks Zeno. Paradoks ini pertama kali dilontarkan oleh filsuf Zeno dari Elea; kurang lebih sekitar abad kelima sebelum Masehi.

 

Zeno dari Elea (490-430 SM) (courtesy of wikipedia)

Zeno dari Elea adalah seorang filsuf dari mazhab pemikiran Eleatik. Ia mengikuti jejak gurunya yang bernamaParmenides — sama-sama mempercayai bahwa semua gerak dan perubahan di dunia bersifat semu. Baik Zeno maupun Parmenides berpendapat bahwa alam semesta aslinya tunggal, diam, dan seragam. Hanya tampak luarnya saja yang mengesankan perbedaan atau perubahan.
1. Paradoks Dikotomi

Sebuah benda yang bergerak tidak akan pernah mencapai tujuan. Pertama-tama dia harus menempuh perjalanan setengah jarak. Lalu setelah itu dia mesti menempuh seperempat, seperdelapan, seperenambelas, sepertigapuluhdua … Sedemikian hingga jumlah perjalanannya menjadi tak-hingga.

Oleh karena mustahil melakukan perjalanan sebanyak tak-hingga, maka benda tidak akan dapat sampai tujuan.”
2. Paradoks Achilles dan Kura-kura

“Achilles dan Kura-kura melakukan lomba lari, meskipun begitu, kura-kura diizinkan start lebih awal.

Agar dapat menyamai kura-kura, Achilles menetapkan sasaran ke tempat kura-kura saat ini berdiri.

Akan tetapi, tiap kali Achilles bergerak maju, kura-kura juga bergerak maju. Ketika Achilles sampai di tempat kura-kura, kura-kura sudah berjalan sedikit ke depan.

Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang. Akan tetapi setibanya di sana, kura-kura juga sudah maju sedikit lagi.

Lalu Achilles mengejar posisi kura-kura yang sekarang. Akan tetapi setibanya di sana, kura-kura juga sudah maju sedikit lagi. Demikian seterusnya ad infinitum.


Jadi kesimpulannya: mustahil bagi Achilles untuk bisa menyamai kura-kura dalam balapan.”

3. Paradoks Anak Panah

“Misalnya kita membagi waktu sebagai “deretan masa-kini”. Kemudian kita lepaskan anak panah. Di setiap “masa-kini” anak panah menduduki posisi tertentu di udara.

Oleh karena itu anak panah dapat dikatakan diam sepanjang waktu.”
4. Paradoks Stadion

“Terdapat tiga buah barisan benda A, B, dan C di lapangan tengah stadion.

Barisan A terletak diam di tengah lapangan. Sementara B dan C masing-masing terletak di ujung kiri dan kanan A.

Kemudian B dan C bergerak saling mendekati dengan kecepatan yang sama (hendak bersejajar dengan barisan A).

 

Antara “Sebelum” dan “Sesudah”, titik C paling kiri melewati dua buah B, tetapi cuma satu buah A.

Berarti waktu C untuk melewati B = setengah waktu untuk melewati A. Padahal A dan B adalah unit yang identik!

Mungkinkah setengah waktu = satu waktu?”
Ada dua tema yang dominan dalam Paradoks Zeno, yakni gerak dan ketakhinggaan. Sebagaimana sudah diceritakan di awal, Zeno menganggap bahwa perubahan di dunia bersifat semu. Pendapat itu kemudian tercermin lewat empat buah paradoks di atas.

Dalam paradoks pertama (“dikotomi”), Zeno menyampaikan bahwa gerak benda antara dua titik bersifat mustahil — atau minimal, mengandung aspek filsafat yang misterius. Ada baiknya kalau kita simak lagi paradoksnya di bawah ini.

 

 

Setengah, seperempat, seperdelapan, seperenambelas…

 

Dalam grafik di atas digambarkan bagaimana terdapat banyak segmen perjalanan antara dua titik (0-100). Yang mengganggu Zeno di sini bukan geraknya, melainkan, bagaimana ketakhinggaan bisa begitu merepotkan. Dalam contoh di atas Zeno mengetengahkan bahwa — karena jumlah segmen yang harus ditempuh sejumlah tak-hingga — maka gerak dari satu tempat ke tempat lain adalah mustahil.

Hal yang sama juga berlaku di paradoks kedua “Achilles dan Kura-kura”. Lewat paradoks ini Zeno menyatakan bahwa “mustahil bagi orang yang telat balapan untuk dapat menyamai lawannya”.

Alasannya? Karena terdapat sejumlah kemajuan kecil-kecil yang tak mungkin dikejar. Setiap Achilles sampai di tempat kura-kura, kura-kura selalu sudah melaju sedikit lagi di depan. Pada akhirnya Achilles digambarkan Zeno sebagai “tak akan mampu melewati kura-kura”.

 

 

(keterangan: t0 melambangkan situasi pada saat pertama; t1 melambangkan situasi pada saat kedua;dan seterusnya)

 

Problemnya tentu saja bahwa di dunia nyata hal itu tidak berlaku, makanya disebut paradoks. Siapapun yang pernah nonton balap tahu hal ini. Pembalap yang start belakangan selalu bisa menyalip lawan di depannya. Memang kadang agak sulit melakukannya, tetapi bukan tidak mungkin.

Sementara itu, lain lagi dengan paradoks ketiga tentang anak panah. Berbeda dengan sebelumnya yang ini mencoba menunjukkan bahwa “gerak” dan “diam” itu sebenarnya tak dapat dipisahkan.

 

Zeno melihat waktu sebagai rangkaian “masa-kini” yang berkesinambungan. Oleh karena itu sebuah anak panah yang meluncur memiliki berbagai versi “masa-kini” di perjalanannya. Ada “masa-kini” sesaat sesudah lepas dari busur; “masa-kini” setelah beberapa detik di angkasa, dan seterusnya.

Problemnya adalah bahwa di tiap “masa-kini” itu anak panah mendiami tempat yang tetap. Persis seperti kalau direkam kamera video. Di setiap frame tampak berbagai kondisi anak panah. Semua tampak diam. Akan tetapi kalau videonya diputar, barulah terkesan bahwa anak panah itu sebenarnya bergerak.

Singkat cerita, Zeno menilai bahwa paradoks anak panah menunjukkan kebenaran filsafatnya. Bahwa gerak itu aslinya semu — suatu benda terkesan bergerak cuma oleh persepsi manusia saja.

Paradoks terakhir (“Paradoks Stadion”) adalah yang paling sederhana

Dalam Paradoks Stadion, Zeno mengetengahkan bahwa “dua benda yang saling mendekati butuh waktu lebih singkat untuk bisa bersejajar”.

 

Sebenarnya ini adalah penerapan dari relativitas Galileo yang diajarkan di bangku SMA kita dulu. Ada yang masih ingat ceritanya? Kalau dua benda bergerak, yang satu bisa dianggap diam, sementara yang satu lagi kecepatannya dijumlahkan.

Nah demikian juga dengan kasus Paradoks Stadion di atas. Ketika B dan C sama-sama bergerak, maka jumlah waktu sebelum mereka saling bertemu juga akan mengecil, sebab kecepatannya saling menjumlahkan. Sementara A (yang tidak bergerak) tidak mendapat keuntungan tersebut.

 

PENUTUP

Sebagaimana sudah disebut beberapa kali di atas, Zeno adalah filsuf yang tidak percaya pada gerak dan perubahan. Lewat empat paradoks di atas ia ingin memastikan hakikat kenyataan sebenarnya. Sebagai seorang Eleatik Zeno berpendapat bahwa semua gerak benda itu semu; oleh karena itu, untuk membuktikan keyakinannya, ia kemudian merancang serangkaian paradoks. Tentunya kemudian timbul pertanyaan, apakah pendapat Zeno itu benar atau salah? Meskipun begitu soal itu tak akan kita bahas di sini. Biarlah diserahkan pada yang ahli filsafat sahaja. Saya sendiri amat tertarik dengan ide Zeno yang menghubungkan antara kesemuan gerak dengan konsep tak-hingga. Ketika berbicara keseharian yang terbatas, ia menganalisisnya lewat serangkaian kecil-kecil yang jumlahnya mendekati tak-hingga. Pada akhirnya jalan berpikir ini menghasilkan ide baru yang segar — kalau tidak boleh dibilang absurd sama sekali.

Kalau ada di antara pembaca yang akrab dengan matematika, kemungkinan akan ngeh bahwa ide-ide Zeno punya bidang bahasannya sendiri. Keanehan Paradoks #1 dan #2, misalnya, dapat dijelaskan lewat deret konvergen. Lewat ilmu kalkulus para ahli matematika belajar bagaimana menjumlahkan irisan-irisan kecil yang jumlahnya mendekati tak-hingga. Menariknya: biarpun irisannya tak-hingga, kalau diintegralkan, ternyata jumlahnya finite. Yang semacam ini membantu menjelaskan hal-hal paradoks dalam paparan Zeno. Bagaimana perkara keseharian yang terbatas (finite) dapat dianalisis menggunakan metode tak-hingga (infinite), nah di situ menariknya.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hadi wijoyo, Harun, Sari sejarah Filsafat Barat, Kanisius, Yogyakarta

Achmadi Asmoro, Filsafat umum, Raja Grafindo, Jakarta

Atang abdul hakim dan Beni ahmad saebani, Filsafat umum,Pustaka Setia, Jakarta

Wikipedia bahasa Indonesia, Ensiklopedia bebas

(Indonesia)Bernadette McCarver Snyder. 2001. 115 Kisah Santo-Santa yang Mengasyikkan. Yogyakarta: Kanisius. Hal. 144.

Inggris)David Farmer. 1997. The Oxford Dictionary of Saints . New York: Oxford University Press. P. 525.

 

 

*) Penyusun

Nama               : Lia Ariska

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s