WITTGENSTEIN; Pemikiran dan Tokoh

Filsafat merupakan landasan atau dasar dari setiap aspek kehidupan. Mka dari itu, filsafat memiliki peran penting dalam segala aspek kehidupanmanusia. Tokoh filsuf memiliki peran dalam filsafat ilmu. Mereka memiliki pendapat atau teori masing-masing. Yang kesemuanya itu menjadi dasar dalam fisafat. Para tokoh filsuf sudah ada sejak zaman sebelum masehi sampai pasca modern. Pemikiran mereka memiliki peran penting dalam masanya. Pemikiran mereka menjadi dasar dalam pengembangan ilmu filsafat. Salah satu tokoh yang akan kita bahas ini, merupakan salah satu tokoh filsuf yang lahir dari zaman post moderisme atau pasca modern, yaitu Ludwig Wittgenstein. Pemikiran Ludwig Wittgenstein merupakan karya puncak dari gerakan filsafat analistik yang memperkenalkan analisis logika bahasa.

 

BIOGRAFI

Nama lengkap dari tokoh filsuf ternama abad ke-20 ini, adalah Ludwig Joseph Johann Wittgenstein. Tetapi lebih dikenal dengan nama Wittgenstein. Wittgenstein lahir di Wina pada tanggal 26 april 1889 pukul 8.30 malam. Wittgenstein merupakan bungsu dari delapan bersaudara : Hermine ( 1874-1950 ), Hans ( 1877-1902 ), Kurt ( 1878-1918 ), Helene ( 1879-1956 ), Rudi ( 1881-1904 ), Margarethe ( 1882-1958 ), dan Paul ( 1887-1961 ). Ayah dari Wittgenstein bernama Karl Wittgenstein sedangkan ibunya, Leopoldine Wittgenstein. Wittgenstein melajang seumur hidupnya.

Perjalanan karir dan kehidupan Wittgenstein :

  • Sejak kecil-1903

Wittgenstein dana saudara-saudaranya diajar oleh guru privat, sesuai dengan peraturan sang ayah.

  • 1903-1906

Sekolah di Staatsoberrealschule di LINZ. Pada tahun ini, kakak Wittgenstein yang bernama Rudi, bunuh diri.

  • 1906

Belajar teknik mesin di Technische Hochschule di kota Charlottenburg, Berlin.

  • 1908

Terpilih sebagai mahasiswa riset dengan proyek-proyek auronautika dan melakukan penelitian tentang perilaku layang-layang di atas atmosfir di Victoria University of Manchester.

  • 1910

Penemuannya dipatenkan ( Ludwig Wittgenstein : “ Imprivements in Propellers Applicable for Aerial Machines. “ patent No. 27.087,- AD 1910G )

  • 1911

Tiba di Trinity College Cambrige dan langsung melibatkan diri dalam diskusi panjang tentang filsafat dengan Betrand Russell. Russel sangat mengagumi perkembangan Ludwig dalam berfilsafat, tercermin dalam perkatannya : “ Getting to know Wittgenstein was one of the most exciting intellectual adventures of my life “. Frege, Russell dan Moore adalah tokoh-tokoh yang berpengaruh pada pemikiran Wittgenstein.

  • 1913

Wittgenstein membagi-bagikan harta warisannya setelah ayahnya meniggal pada tanggal 20 januari. Pada bulan Oktober, ia mengasingkan diri ke Norwegia dan membangun rumah kayu di pegunungan dekat Skjolden.

PERANG DUNIA 1

  • 1914

Bergabun g dengan Tentara Austria-Hungaria pada awal Perand Dunia 1 dan tinggal di pengasingan.

  • 1916

Dikirim ke Rusia sebagai anggota resimen Howitzer.

  • 1918

ü  1 Februari : dipromosikan menjadi perwira.

ü  30 Juli : dianugerahi medali Band of the Military Service atas keberaniannya selama berperang.

ü  3 November : menjadi tawanan perang tentara Italia.

Wittgenstein berniat untuk benar-benar absen dari dunia filsafat, karena dia merasa bahwa tractatus dapat menjawab semua permasalahan dalam filsafat.

  • 16 September 1919

Mengikuti pelatihan guru di Kundmanngasse Teacher Training Institute di Wina sebagai guru sekolah dasar.

  • 1920

Bekerja sebagai tukang kebun di Biara Klosterneuburg dekat Wina. Selanjutnya ia menjadi guru pertama sebuah sekolah dasar di Traattenback di Austria.

  • 28 April 1926

Menjadi tukang kebun di Biara Brothers of Mercy di Htteldorf. Wittgenstein mengundurkan diri pasca insiden , ia memukul kepala salah satu muridnya.

  • 3 Juni 1926

Ibu ludwig meninggal. Dua hal yang membuatnya bangkit dari keterpurukan dan putus asa, yaitu undangan dari kakaknya, Margaret, untuk bekerja dan kontruksi rumah barunya bersama Paul Engelmann dan pertemuannnya dengan Moritz Schlock sebagai titik awal Ludwig kembali ke dunia filsafat.

  • 1947

Ludwig kembali di Cambridge menjadi pengajar tetap dan berkonsentrasi menyelesaikan tulisannya.

  • 1949

Ia divonis menderita kanker prostat. Sampai 2 hari sebelum kematiannya, ia masih menulis. Naskah terakhirnya adalah On Certainty. Naskah ini berisi kumpulan inspirasi-inspirasi dari beberapa percakapannya dengan semua orang yang pernah ia kenal selama hidupnya sejauh yang ia ingat.

  • 27 November 1950

Ia pindah kerumah Dr. Bevan.

  • 28 April 1951

Ia tidak sadarkan diri dan meninggal keesokan paginya. Kata terakhir yang ia ucapkan kepada istri dokternya: “ tell them I’ve had a wonderful life”.

 

PEMIKIRAN

 

Pemikiran Ludwig Wittgenstein tertuang dalam karyanya yaitu:

  1. Tractacus Logico Philosophicus ( 1922 )

Tractacus Logico Philosophicus membahas masalah masalah yang berhubungan dengan dunia, pikiran dan bahasa, kemudian menyajikan solusi yang berdasarkan logika. Ludwig berpendapat bahwa sebenarnya permasalahan filsafat terletak pada bahasa yang digunakan, sehingga bahasa perlu dilogiskan.teori ini mengungkapkan tentang teori gambar dan logika bahasa.Penggunaan bahasa dalm teori ini harus mampu mengungkapkan secara objektive fakta tentang dunia dan hal ini harus dilakukan dengan menggunakan bahasa berdasarkan logika. Dengan bahasa dapat dikatakan dengan jelas apa yang ingin dikatakan. Sedangkan untuk menjelskan apa yang tidak dapat dikatakan menggunakan metafora dan analogi. Dalam teori ini Wittgenstein mendasarkan pada satu bahasa ideal yang memenuhi syarat logika.

  1. Philisophical Investigations ( 1953 )

Teori kedua Wittgenstein ini memuat tentang teori makna dalam penggunaan ( meaning in use ) dan permainan bahasa ( language games ). Makna sebuah kata adalah penggunaannya dalam kalimat, makna sebuah kalimat adalah penggunaannya dalam bahasa dan makna dalam bahasa adalah penggunaannya dalam berbagai konteks kehidupan manusia. Mengenai languge games, Wittgenstein mengatakan bahwa kita harus melihat, membaca dan memahami suatu bahasa dalam konteksnya masing-masing. Artinya ada aturan atau norma dalam menggunakan bahasa diberbagai bidang kehidupan.

Filsafat Wittgenstein relevan bagi pengembangan filsafat bahasa dalam aspek ontologis, epistimilogis, dan aksiologis.

  1. Secara Ontologis

Permainan bahasa menunjukkan hakekat kehidupan manusia dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, orang lain, masyarakat, alam serta terhadap Tuhan.

  1. Secara Epistimologis

Setiap penggunaan bahasa dalam kehidupan manusia memiliki aturannya masing-masing yang sangat beragam serta tidak terbatas.

  1. Secara Aksiologis

Penggunaan bahasa adalah sebagai sarana dalam berkomunikasi mengungkapkan suatu makna.

 

PENUTUP

Wittgenstein telah menunjukkan kepada kita bahwa bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Kita tidak dapat memahami dan menggambarkan realita kehidupan di dunia ini tanpa bahasa serta kita tidak dapat memaknai apapun tanpa bahasa. Makna dari pikiran dan ekspresi kita tidak lepas dari bahasa. Untuk mengetahui dan mempertanyakan nama, ataupun ekspresi, kita harus melihat bagaimana penggunaan nama atau ekspresi tersebut didalam language games. Dengan kata lain, bahwa bahasa adalah sebagai sarana berkomunikasi untuk mengungkap makna. Agar pesan yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik tanpa ada missunderstanding kepada penerima.

 

REFERENSI

  1. Id.scrib.com/doc/50121388/LUDWIG-WITTGENSTEIN-DAN-PEMIKIRANNYA-DOC
  2. My.opera.com/nyocor/blog/show.dml/1779850.

 

 

*) Penyusun

Nama               : Tyas Rusita

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s