Protagoras; Biografi dan Pemikiran

Filsafat merupakan pandangan hidup seseorang tentang suatu konsep dasar yang dimiliki manusia dalam bertindak atau menjalani kehidupan. Dari segi lain, filsafat juga digunakan untuk melihat dan memahami segala sesuatu secara luas dan menyeluruh. Hal ini merupakan suatu sikap sadar dan dewasa dalam memikirkan sesuatu secara mendalam. Sedangkan ilmu merupakan pengetahuan tentang sesuatu hal atau fenomena, baik yang menyangkut alam atau sosial (kehidupan masyarakat), yang diperoleh manusia melalui proses berfikir. Itu artinya bahwa setiap ilmu merupakan pengetahuan tentang sesuatu yang menjadi objek kajian dari ilmu terkait. Filsafat dan ilmu merupakan dua kata yang memiliki keterkaitan diantaranya. Karena adanya ilmu tidak terlepas dari peranan filsafat. Dan perkembangan ilmu juga memperkuat peranan filsafat.

Filsafat memiliki fungsi memberikan petunjuk dan arah dalam perkembangan keilmuan. Dengan penggunaan filsafat, seseorang akan mampu untuk berfikir secara sistematis dalam menghadapi suatu hal, dan di sisi lain ia juga akan memiliki konsep pemikiran secara menyeluruh. Jadi dalam berfilsafat, seseorang harus mampu untuk berfikir secara mendasar, menyeluruh, dan spekulatif. Ketika seseorang merasa ingin tahu dan ragu-ragu akan suatu hal, maka ia akan berfilsafat. Karena dari rasa ingin  tahu akan membuat seseorang mengerti, dan dari rasa ragu-ragu akan menuntun seseorang mencari sebuah kepastian.

Kelahiran filsafat di Yunani menunjukkan pola pemikiran bangsa Yunani dari pandangan mitologi yang akhirnya lenyap dan berganti rasiolah yang lebih mendominasi.  Zaman Yunani kuno merupakan zaman keemasan filsafat. Karena pada masa itu, orang-orang berhak mengungkapkan ide-idenya. Di zaman Yunani kuno didominasi oleh peranan akal/rasio. Dengan filsafat, pola pikir bergantung pada rasio. Di zaman tersebut banyak filsuf-filsuf yang berperan dalam perkembangan filsafat, mereka memiliki pemikiran yang berbeda-beda dalam berfilsafat. Dalam makalah ini, akan diuraikan pemikiran salah seorang filsuf zaman Yunani kuno, yaitu Protagoras. Sebagaimana filsuf-filsuf yang lain, Protagoras juga memiliki pemikiran tersendiri mengenai filsafat dalam ajaran pengenalan. Pemikirannyapun memberikan pengaruh yang sangat besar terhadap orang-orang di masanya.

 

BIOGRAFI

 

 

 

Protagoras merupakan seorang filsuf yunani yang lahir sekitar tahun 490 SM dan meninggal pada tahun 420 SM. Ia berasal dari Abdera, di daerah Thrace yang terletak di pantai utara Laut Aegea. Ia seorang filsuf yang termasuk golongan sofis. Selama abad ke-5 SM, kata “Sophis” berarti orang-orang yang terkenal baik karena pengetahuan mereka, atau mereka yang profesional dalam mengajar muridnya.

Protagoras merupakan salah seorang sofis pertama dan paling terkenal di masanya. Ia dikenal sebagai guru yang mengajar banyak pemuda di zamannya. Selain itu, ia juga dikenal sebagai orator dan juga pendebat ulung di masanya. Namun ia juga menginspirasi generasi filsuf, guru, dan ilmuwan sosial. Protagoras hampir menghabiskan 40 tahu untuk mengajar, dan ia meninggal di usia 70 tahun. Ia sangat dihormati oleh orang-orang di negaranya. Banyak anak-anak yang yang dikirim kepadanya untuk diberi pendidikan.

Selain itu, Protagoras menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang sofis keliling, bepergian di seluruh yunani. Ia juga seringkali melakukan perjalanan ke negeri-negeri lain, termasuk berkunjung ke Athena. Disana ia menjadi sahabat Pericles dan membantunya menyusun konstitusi bagi koloni Athena di Thurioi tahun 444 SM. Dengan kata lain, ia diminta Pericles untuk mengarang undang-undang dasar bagi polis baru itu.

Pada akhir hidupnya, Protagoras dituduh karena kedurhakaan terhadap agama di Athena. Buku-buku Protagoras tenetang agama dibakar di depan umum. Kemudian Protagoras diceritakan melarikan diri ke Sisilia, namun perahu layar yang ditumpanginya tenggelam. Dan tak ada satupun hasil tulisan Protagoras yang masih bertahan. Hanya beberapa fragmen pendek yang masih tersimpan. Namun, isi filsafat Protagoras masih dapat diketahui karena hasil pemikirannya banyak dibicarakan oleh filsuf-filsuf selanjutnya. Plato merupakan sumber yang utama, khususnya kedua dialognya yang berjudul Theaitetos dan Protagoras. Hasil tulisan Protagoras yang paling terkenal di zamannya yaitu sebuah buku berjudul “Kebenaran” (Aletheia).

 

 

PEMIKIRAN

 

Protagoras memiliki banyak pemikiran dan menulis banyak buku pada masanya. Beberapa pemikiran dapat menembus eranya dengan sukses, namun adapula beberapa yang menentang hasil pemikirannya. Salah satu diktum Protagoras yang paling terkenal mengenai filsafat dalam ajaran pengenalan, yaitu “Manusia adalah ukuran untuk segala-galanya: untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada, dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada”. Hal ini terdapat dalam bukunya yang berjudul “Kebenaran” (Aletheia). Dalam pernyataan Protagoras tersebut dapat di indikasikan bahwa kebenaran dianggap tergantung pada manusia. Manusialah yang menentukan benar tidaknya, atau bahkan ada tidaknya.

Dalam pendapat Protagoras tersebut dipersoalkan bagaimana kita mengartikan manusia tersebut, apakah manusia sebagai individu/perorangan ataukah manusia sebagai umat/kebersamaan. Apakah kebenaran tersebut tergantung kepada anda sendiri atau saya sendiri, sehingga kita memiliki kebenarannya masing-masing?, ataukah kebenaran tersebut tergantung kepada kita bersama, sehingga kebenaran diartikan sama untuk semua manusia?. Dalam hal ini, salah seorang filsuf, Plato menyimpulkan bahwa pernyataan Protagoras diatas menunjuk kepada manusia sebagai individu/perorangan. Jadi, pengenalan terhadap sesuatu bergantung pada individu yang merasakan sesuatu tersebut.

Pendirian tersebut dapat dinamakan sebagai relativisme. Dalam bidang pengenalan, ajaran relativisme kaum sofis mengatakan bahwa tidak ada satu pengenalanpun yang bersifat absolut atau objektif. Karena benda-benda yang kita amati selalu berubah dari waktu ke waktu, dan kondisi atau keadaan fisik dan jiwa si pengenal tidak selalu stabil. Dengan relativisme dimaksudkan pendirian manusia tentang baik buruk dan benar salah itu bersifat relatif. Dengan kata lain, baik buruk dan benar salah tegantung pada manusia yang bersangkutan. Dan kebenaran didasarkan pada masing-masing individu yang merasakannya. Kebenaran umum tidak ada. Apa yang dikatakan seseorang adalah hasil dari apa yang dirasakan oleh seseorang itu sendiri. Meskipun suatu hal tersebut  dianggap benar olehnya belum tentu dianggap benar oleh orang lain. Dan sebaliknya ketika seseorang menganggap sesuatu hal tersebut salah, maka belum tentu pula dianggap salah oleh orang lain.

Sebagai contoh, makanan yang bagi orang sehat dianggap lezat, namun bagi orang yang sedang sakit, makanan tersebut akan terasa hambar. Kedua orang tersebut tidak ada yang salah, karena mereka pengenalan mereka terhadap sesuatu tergantung pada apa yang mereka rasakan pada diri mereka masing-masing. Kita ambil contoh yang lain, ketika seseorang sangat mengharapkan hari esok dan ingin segera menghabiskan hari ini, ia akan merasa dan menganggap hari ini sangat lama jika ia hanya menunggu dan tidak melakukan kegiatan apapun. Namun bagi orang lain yang melakukan banyak kegiatan dan tidak sekedar menunggu, hari tersebut akan terasa cepat berlalu. Dalam hal ini memperlihatkan bahwa dua manusia yang memiliki pandangan yang berbeda mengenai cepat lambatnya hari itu berlalu, meskipun kenyataannya dalam panjang waktu yang sama. Dan kedua manusia tersebut tidak ada yang salah, karena memang sebenarnya ukuran satu hari sama panjangnya bagi semua umat, dan pemikiran mereka berdasarkan pada fisik dan psikis orang yang merasakannya tersebut. Dari sini dapat disimpulkan bahwa apa yang menurut saya baik, belum tentu menurut anda juga baik.

Pemikiran-pemikiran Protagoras banyak memberikan pengaruh bagi oarang-orang di masanya. Sehingga nama Protagoras sangat dikenal dalam waktu yang cukup lama. Ia cukup mempengaruhi banyak pemuda lewat pemikirannya tentang pengetahuan. Meskipun begitu, beberapa ajaran dan hasil pemikirannya mendapat tentangan dari filsuf lain, Socrates misalnya. Ia menentang pemikiran Protagoras mengenai ajaran pengenalan yang menjadikan manusia sebagai tolak ukur bagi segala sesuatunya. Selain itu Protagoras juga membawa pengaruh besar terhadap para negarawan, penyair, sejarawan, dan orator di zamannya. Protagoras banyak memberikan ceramah dan instruksi pada individu maupun kelompok. Sistem yang diajarkannya mengejar kebenaran mutlak. Protagoras merupakan seorang contoh sophis yang sempurna, ia seorang pemikir yang sangat berhati-hati, dan dan daya tarik teorinya serta meresapnya pengaruh ajarannya begitu besar.

 

 

PENUTUP

 

Filsafat memberikan beberapa tujuan bagi kehidupan manusia, salah satu diantaranya yaitu dengan berfikir filsafat seseorang bisa lebih menjadi manusia, lebih mendidik dan membangun diri sendiri. Filsafat memiliki fungsi memberikan petunjuk dan arah dalam perkembangan keilmuan. Dengan penggunaan filsafat, seseorang akan mampu untuk berfikir secara sistematis dalam menghadapi suatu hal, dan di sisi lain ia juga akan memiliki konsep pemikiran secara menyeluruh.

Filsafat di Yunani memiliki pemikiran yang berbeda-beda di setiap zamannya. Beberapa tokoh ikut berperan penting dan mempengaruhi pemikiran orang-orang pada masa tersebut. Zaman Yunani Kuno merupakan zaman keemasan filsafat, karena pada zaman tersebut orang-orang memiliki kebebasan dalam mengungkapkan pendapatnya. Namun, zaman Yunani Kuno masih sangat di dominasi oleh peranan akal di bandingkan hati. Salah satu tokoh filsuf zaman Yunani Kuno ialah Protagoras. Ia seorang filsuf yang juga merupakan seorang sophis pertama dan paling terkenal di masanya. Protagoras menulis beberapa buku dan memunculkan berbagai pemikiran. Salah satu hasil pemikirannya yang paling dikenal ialah tentang pengenalan. Di bukunya yang berjudul “Kebenaran” (Aletheia), ia mengatakan bahwa manusia adalah ukuran untuk segala-galanya: untuk hal-hal yang ada sehingga mereka ada, dan untuk hal-hal yang tidak ada sehingga mereka tidak ada. Disini manusia diartikan sebagai individu. Dan dalam hal ini setiap kebenaran tergantung pada individu-individu yang merasakannya dan hal ini menimbulkan relativisme artinya kebenaran bersifat relatif. Baik buruk dan benar salah tergantung pada manusia yang bersangkutan.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ebook: Magee, Bryan.  (2001). The Story of Philosophy. Dorling Kindersley Publishers Ltd.

Ebook: Prof. Dr. Kees Bertens. (1999). Sejarah Filsafat Yunani: dari Thales ke Aristoteles. Kanisius.

Ebook: Tjahjadi, Simon Petrus L. (2004). Pustaka Filsafat Petualangan Intelektual, Konfrontasi dengan Para Filsuf  Dari Zaman Yunani Hingga Zaman Modern. Kinisius.

 

*) Penyusun

Nama               : Berca Zany Evandry

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s