Pengetahuan dan Ukuran Kebenaran

P

engetahuan berusaha memahami benda sebagaimana adanya, lalu akan timbul pertanyaan, bagaimana seseorang akan mengetahui kalau dirinya telah mencapai pengetahuan tentang benda sebagaimana adanya? Untuk menjawab apakah manusia telah tau dengan pengetahuannya,maka epistimologi adalah jawabnya. Kepastian yang dicari oleh epistemology dalam mencari kebenaran apakah manusia sudah benar sesuai dengan tingkat pengetahuan yang dimungkinkan oleh suatu keraguan. Dengan keraguan inilah akan memberi kesempatan pada epistemology untuk menjawabnya.

Apa yang menjadi ukuran kebenaran sesuatu, jika dihubungkan dalam kehidupan sehari-hari, bahwa apa yang dilakukan oleh seseorang tentu dianggap benar. Akan tetapi belum tentu kebenaran itu menjadi benar pula bagi orang lain. Jika demikian maka perlu ada kesepakatan yang bersifat universal tentang kriteria atau ukuran dari kebenaran. Demikian halnya perlunya kesepakatan tentang ukuran kebenaran pengetahuan. Sebagai illustrasi, bahwa jika pada wilayah atau negara tertentu “Berjalan Di Sebelah Kiri” bagi pejalan kaki adalah benar. Benar pada Wilayah atau negara-negara di Asia seperti di Indonesia, tetapi tidak benar di beberapa negara di Eropa, dimana bagi pejalan kaki “berjalan disebelah kanan” adalah benar. “Benar” dalam konteks ini berarti berjalan di jalan raya untuk memperoleh keselamatan. Dari illustrasi tersebut mengharuskan ada kesepakatan yang lebih bersifat universal tentang ukuran kebenaran, termasuk ukuran kebenaran pengetahuan.

Sebagaimana diketahui bahwa sesungguhnya proses berpikir yang dilakukan seseorang adalah merupakan suatu aktifitas untuk menemukan kebenaran. Dalam proses berpikir tersebut perlu memenuhi kriteria kebenaran yang tepat dan bersifat universal sehingga kebenaran itu daat berlaku bagi siapa saja sebagai hasil pemikiran dari seseorang. Dapat pula disebutkan bahwa kebenaran itu sesungguhnya tak lebih dari kesepakatan bersama bahwa yang dimaksudkannya adalah benar. Hal ini menjadi penting karena Apa yang disebut benar oleh seseorang belum tentu benar bagi orang lain. Disinilah diperlukan suatu ukuran atau kriteria kebenaran.

 

DEFINISI DAN JENIS PENGETAHUAN

Secara etimologi, pengetahuan berasal dari kata dalam bahasa Inggris knowledge. Dalam Encyclopedia of Philosophy dijelaskan bahwa definisi pengetahuan adalah kepercayaan yang benar. Sedangkan secara terminologi, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Pengetahuan itu adalah milik atau isi dari pikiran. Dengan demikian pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.

Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa pengetahuan (knowledge) adalah proses kehidupan yang diketahui manusia secara langsung dari kesadarannya sendiri. Dalam hal ini yang mengetahui (subjek) memiliki yang diketahui (objek) didalam dirinya sendiri dalam kesatuan aktif. Sedangkan secara epistemologi, setiap pengetahuan manusia itu adalah hasil dari berkontaknya dua macam besaran yaitu :

–          Pertama, benda atau yang diperiksa, diselidiki dan akhirnya diketahui.

–          Kedua, manusia yang melakukan berbagai pemeriksaan dan penyidikan dan akhirnya mengetahui benda atau suatu hal.

Pengetahuan dalam arti luas berarti kehadiran suatu objek kedalam subjek. Tapi dalam arti sempit, pengetahuan hanya berarti putusan yang benar dan pasti (kebenaran dan kepastian). Dalam hal ini subjek sadar akan hubungan objek dengan eksistensi. Menurut John Hospers, untuk mengetahui terjadinya pengetahuan ada enam hal, yaitu pengalaman indera, nalar, otoritas (kekuasaan sah yang diakui), intuisi, wahyu dan keyakinan. Seorang yang pragmatis tidak membedakan pengetahuan dengan kebenaran. Jadi pengetahuan itu harus benar, kalau tidak benar adalah kontradiksi.

 

HAKIKAT DAN SUMBER PENGETAHUAN

Pengetahuan berkembang dari rasa ingin tahu, yang merupakan ciri khas manusia karena manusia adalah makhluk yang selalu mengembangkan pengetahuan secara sungguh-sungguh. Binatang juga mempunyai pengetahuan tapi terbatas untuk kelangsungan hidupnya (survival). Manusia mengembangkan pengetahuannya untuk kelangsungan hidupnya. Dia memikirkan hal-hal baru, karena dia hidup bukan sekedar untuk kelangsungan hidup. Manusia mengembangkan kebudayaan, manusia memberi makna pada kehidupan manusia atau memanusiakan diri dalam hidupnya. Pada hakikatnya manusia dalam hidupnya mempunyai tujuan tertentu yang lebih tinggi dari sekedar kelangsungan hidupnya.

Pengetahuan ini mampu dikembangkan manusia karena disebabkan oleh dua hal utama, yaitu pertama manusia mempunyai bahasa yang mampu mengkomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Kedua adalah kemampuan berfikir menurut suatu alur kerangka berpikir tertentu.

  1. Hakikat Pengetahuan

Pengetahuan adalah keadaan mental (mental state). Mengetahui sesuatu adalah menyusun pendapat tentang suatu objek  atau menyusun gambaran tentang fakta yang ada di luar akal.

Ada dua teori untuk mengetahui hakikat pengetahuan, yaitu :

  1. Realisme

Teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Pengetahuan menurut realisme adalah gambaran atau kopi yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata (fakta). Dengan demikian realisme berpendapat bahwa pengetahuan adalah benar dan tepat bila sesuai dengan kenyataan. Ajaran realisme percaya dengan sesuatu atau lain cara, ada hal-hal yang hanya terdapat di dalam dirinya sendiri, serta tidak terpengaruh oleh seseorang. Penganut realisme mengakui bahwa seseorang bisa salah lihat pada benda-benda atau dia terpengaruh oleh keadaan sekelilingnya.

  1. Idealisme

Ajaran idealisme menegaskan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar-benar sesuai dengan kenyataan adalah mustahil. Pengetahuan adalah proses-proses mental atau proses psikologis yang bersifat subjektif. Oleh karena itu pengetahuan bagi seorang idealis hanya merupakan gambaran subjektif  dan bukan gambaran objektif tentang realitas.

Dalam realisme mempertajam perbedaan antara yang mengetahui dan diketahui, sedangkan idealisme sebaliknya. Bagi idealisme dunia dipandang sebagai hal-hal yang mempunyai hubungan seperti organ tubuh dengan bagian-bagiannya. Idealisme tidak mengingkari adanya materi, namun materi adalah suatu gagasan yang tidak jelas dan bukan hakikat. Idealisme subjektif akan menimbulkan kebenaran yang relatif dan berhak untuk menolak kebenaran yang datang dari luar dirinya. Akibatnya kebenaran yang universal tidak diketahui.

  1. Sumber  Pengetahuan

Pengetahuan  yang ada pada kita itu di peroleh dengan menggunakan berbagai alat yang merupakan sumber pengetahuan tersebut. Dalam hal ini ada beberapa pendapat tentang sumber  pengetahuan antara lain :

  1. Empirisme

Berasal dari kata Yunani empeirikos yang berarti pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman inderawi. Pengetahuan inderawi bersifat parsial. Ini disebabkan karena adanya perbedaan antara indera yang satu dengan yang lainya saling berhubungan dengan sifat khas fisiologis indera dan dengan objek yang dapat ditangkapnya.  Jadi pengetahuan inderawi berada menurut perbedaan indera dan terbatas pada sensibilitas organ-organ tertentu.

Menurut  John Lock (1632-1704), manusia itu mulanya kosong dari pengetahuan,lalu pengalaman mengisi jiwa yang kosong itu lantas ia memiliki pengetahuan. Sedangkan David Hume, mengatakan bahwa manusia itu tidak membawa pengetahuan bawaan dalam hidupnya. sumber pengetahuan adalah pengamatan. Pengamatan memberikan dua hal yaitu kesan-kesan (impressions) dan ide-ide (ideas). Ia juga menegaskan bahwa pengalaman lebih memberi keyakinan dibandingkan kesimpulan logika atau sebab akibat.

Gejala-gejala alamiah meenurut anggapan kaum empiris adalah bersifat konkret dan dapat dinyatakan lewat pancaindera. Jadi dalam empirisme, sumber utama untuk memperoleh pngetahuan adalah data empiris yang diperoleh dari panca indera. Kesimpulannya aliran empirisme lemah karena keterbatasan indera manusia.

  1. Rasionalisme

Aliran ini menyatakan bahwa akal adalah dasar kepastian pengetahuan. Pengetahuan yang benar diperoleh dan diukur dengan akal. Rasionalisme tidak mengingkari kegunaan indera dalam memperoleh pengetahuan. Laporan indera menurut rasionalisme merupakan bahan yang belum jelas.  Jadi fungsi panca indera hanya untuk memperoleh data-data dari alam nyata kemudian akal yang menghubungkan data-data itu. Dalam penyusunan ini akal menggunakan konsep-konsep rasional atau ide-ide universal.

Spinoza memberikan penjelasan yang lebih mudah dengan menyusun sistem rasionalisme atas dasar ilmu ukur. Menurutnya ilmu ukur merupakan dalil kebenaran yang tidak perlu dibuktikan lagi. Dari dua aliran tersebut (empirisme dan rasionalisme) terlahirlah metode ilmiah atau pengetahuan sains. Dalam hal ini pancaindera mengumpulkan data-data, sedangkan akal menyimpulkan berdasarkan pada prinsip-prinsip universal yang kemudian disebut universal.

August Comte berpendapat bahwa indera itu amat penting dalam memperoleh ilmu pengetahuan , tetapi harus dipertajam dengan alat bantu dan diperkuat dengan eksperimen. Pada dasarnya aliran ini hanya menyempurnakan empirisme dan rasionalisme yang bekerja sama dengan memasukkan eksperimen dan ukuran-ukuran.

  1. Intuisi

Menurut Henfy Bergson intuisi adalah hasil dari evaluasi pemahaman tertinggi. Kemampuan ini mirip dengan insting, tetapi berbeda dengan kesadaran dan kebebasannya. Pengembangan kemampuan intuisi memerlukan suatu usaha. Intuisi bersifat personal dan tidak bisa langsung diterima begitu saja karena masih perlu dibuktikan kebenarannya.

Menurut Nietzchen intuisi merupakan “intelegensi yang paling tinggi” dan menurut Maslow intuisi merupakan “pengalaman puncak” (peak experience)

 

JENIS PENGETAHUAN

Dalam mempelajari jenis-jenis pengetahuan dalam filsafat, disini terangkum beberapa jenis pengetahuan yang terkait juga dengan arti dan perbedaan antara pengetahuan dan ilmu, jenis-jenis pengetahuan tersebut antara lain :

  1. Pengetahuan Biasa : yaitu pengetahuan yang dalam filsafat disebut dengan common sense, dan sering diartikan dengan good sense, karena seseorang memiliki sesuatu dimana ia menerima secara baik. Semua orang menyebutkan benda atau barang itu berwarna merah karena memang itu merah, dan juga bisa menyebutkan benda itu terasa panas karena memang benda itu panas, dan sebagainya.
  2. Pengetahuan Ilmiah : ilmu sebagai terjemahan dari science. Dalam pengertian yang sempit, science diartikan untuk menunjukkan ilmu pengetahuan alam, yang bersifat kuantitatif dan objektif. Ilmu merupakan suatu metode berpikir secara objektif, tujuannya untuk menggambarkan dan memberi makna terhadap dunia nyata. Ilmu merupakan milik manusia yang komprehensif, dan merupakan lukisan dari keterangan yang lengkap dan konsisten mengenai hal-hal yang dipelajarinya dalam ruang dan waktu sejauh jangkauan logika dan dapat diamati panca indera manusia.
  3. Pengetahuan Filsafat : yaitu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu. Kalau ilmu hanya pada satu bidang pengetahuan yang sempit, filsafat membahas hal yang lebih luas dan mendalam.
  4. Pengetahuan Agama : yaitu pengetahuan yang diperoleh dari Tuhan lewat Rasul-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama. Pengetahuan ini mengandung hal-hal yang pokok, yaitu ajaran tentang cara berhubungan dengan Tuhan dan cara berhubungan dengan sesama manusia. Dan yang lebih penting dari pengetahuan ini disamping informasi tentang Tuhan, juga informasi tentang hari akhir.

 

PERBEDAAN PENGETAHUAN DAN ILMU

Dari jumlah pengertian yang ada, sering ditemukan kerancuan antara pengertian pengetahuan dan ilmu. Kedua kata tersebut dianggap memiliki persamaan arti, bahkan ilmu dan pengetahuan terkadang dirangkum menjadi kata majemuk yang mengandung arti sendiri. Namun jika kedua kata tersebut berdiri sendiri, akan tampak perbedaan antara keduanya. Dalam Kamus Besar Bahasa indonesia, ilmu disamakan artinya dengan pengetahuan, ilmu adalah pengetahuan. Dari asal katanya kita dapat ketahui bahwa pengetahuan diambil dari kata dalam bahasa Inggris yaitu Knowledge, sedangkan ilmu diambil dari kata science dan peralihan dari kata dalam bahasa Arab‘Ilm. Dari pembahasan sebelumnya, pengetahuan merupakan hasil tahu manusia terhadap sesuatu atau segala perbuatan manusia untuk memahami suatu objek tertentu. Pengetahuan dapat terwujud barang-barang fisik, pemahamannya dilakukan dengan cara persepsi baik lewat indera maupun lewat akal, dapat pula objek yang dipahami oleh manusia berbentuk ideal yang bersangkutan dengan masalah kejiwaan.

Perbedaan antara ilmu dan pengetahuan dapat ditelusuri dengan melihat perbedaan ciri-cirinya. Pengetahuan dan ilmu bersinonim arti, sedangkan dalam arti material, keduanya mempunyai perbedaan. Ilmu bertumpu pada analisa terhadap data pengamatan dan percobaan secara impersonal, yaitu suatu analisa atas hasil-hasil observasi dan eksperimen serta analisa yang objektif, tidak subjektif. Sebagai konsekuensi dari definisi ilmu ialah bahwa semua buah pikiran dan pemahaman yang diperoleh tidak melalui siklus logico, hipotetico, dan verifikatif, bukan semua ilmu kita sebut pengetahuan. Pengetahuan yang berpijak pada kenyataan empiris ,bukan dinamakan ilmu. Salah satu ciri teori keilmuan ialah bahwa ia berdaya ramal (prediksi). Namun harus dibedakan antara ramalan keilmuan dan ramalan diluar keilmuan.

 

KEBENARAN ILMIAH

Kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran, artinya adalah proposal yang benar. Proposal maksudnya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Kebenaran pengetahuan adalah persesuaian antara pengetahuan dengan objeknya. Yang terpenting untuk diketahui adalah bahwa persesuaian yang dimaksud sebagai kebenaran adalah pngertian kebenaran yang imanen yakni kebenaran yang tetap tinggal di dalam jiwa. Maka kebenaran yang melampaui batas-batas jiwa kita dinamakan pengertian kebenaran yang transenden.

Kita tidak dapat hidup dengan benar hanya dengan kebenaran-kebenaran pengetahuan, ilmu dan filsafat, tanpa kebenaran agama. Sebaliknya, kita juga tidak dapat hidup dengan wajar semata-mata hanya dengan kebenaran agama yang mutlak. Kita dapat hidup dengan benar dan wajar dengan mengikuti kebenaran yang mutlak, yang juga mengakui eksistensi dan fungsi kebenaran-kebenaran lainnya yang bersesuaian atau tidak bertentangan dengan agama. Kebenaran pengetahuan dibagi menjadi beberapa kategori, antara lain :

ü  Pertama, kebenaran yang berkaitan dengan kualitas pengetahuan, bahwa setiap pengetahuan yang dimiliki oleh seseorang yang mengetahui suatu objek ditilik dari jenis pengetahuan yang dibangun. Pengetahuan itu meliputi pengetahuan biasa, pengetahuan ilmiah ,pengetahuan filsafat dan, pengetahuan agama.

ü  Kedua, kebenaran yang berkaitan dengan sifat atau karakteristik dari bagaimana cara seseorang membangun pengetahuannya itu. Apakah dengan penginderaan (akal pikiran), rasio, intuisi ataupun keyakinan.

ü  Ketiga, nilai kebenaran pengetahuan yang dikaitkan atas ketergantungan terjadinya pengetahuan itu. Bagaimana hubungan antar subjek dan objek. Jika subjek yang berperan, maka jenis pengetahuan itu mengandung kebenaran yang sifatnya subjektif, sedangkan jika objek amat berperan, maka sifatnya objektif, seperti pengetahuan tentang alam.

 

UKURAN KEBENARAN

Terdapat perbedaan yang membedakan jenis kebenaran, yaitu, kebenaran epistimologis, kebenaran ontologis, dan kebenaran semantis. Adapun kebenaran epistimologis adalah kebenaran yang berhubungan dengan pengetahuan manusia. Kebenaran dalam arti ontologis adalah kebenaran sebagai sifat dasar yang melekat pada hakikat segala sesuatu yang ada atau diadakan. Sedangkan kebenaran dalam arti semantis adalah kebenaran yang terdapat serta melekat dalam tutur kata dan bahasa. Teori yang menjelaskan kebenaran epistimologis adalah sebagai berikut:

  1. Teori Korespondensi

Kebenaran adalah yang bersesuaian dengan fakta, yang berselaras dengan realitas, yang serasi (correspondens) dengan situasi actual. Dengan demikian, kebenaran dapat didefinisikan sebagai kesetiaan pada realitas objektif dimana suatu pernyataan yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras dengan situasi.

Teori korespondensi ini pada umumnya di anut oleh para pengikut realisme. Diantara pelopor teori korespondensi ini adalah Plato, Aristoteles, Moore, Russel, Ramsey, dan Tarski. Mengenai teori korespondensi ini kita mengenal dua hal, yaitu pernyataan dan kenyataan. Dimana kebenaran merupakan suatu kesesuaian antara pernyataan tentang sesuatu dengan kenyataan sesuatu itu sendiri.

  1. Teori Koherensi Tentang Kebenaran

Menurut teori ini kebenaran tidak dibentuk atas hubungan antara putusan (judgment) dengan sesuatu yang lain, yaitu fakta atau realitas, melainkan atas hubungan antara putusan yang baru dengan putusan-putusan lain yang telah kita ketahui dan akui kebenarannya terlebih dahulu. Oleh karenanya, putusan ini akan saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya dan saling menerangkan satu sama lain. Sehingga lahirlah rumusan “Truth is a systematic coherence” dimana kebenaran adalah saling hubungan secara sistematis.; ‘Truth is consistency”, kebenaran adalah konsistensi dan kecocokan.

Dengan demikian, suatu teori dianggap benar apabila tahan uji (testable). Artinya, suatu teori yang sudah dicetuskan oleh seseorang kemudian teori tersebut diuji oleh orang lain, tentunya dengan mengkomparasikan dengan data-data baru. Oleh karena itu, apabila teori itu bertentangan dengan data yang baru, secara otomatis teori pertama gugur atau batal (refutability). Sebaliknya, kalau data itu cocok dengan teori lama, maka teori tersebut akan kuat (corroboration). Pendapat ini ditegaskan oleh Karl Popper.

  1. Teori Pragmatisme Tentang Kebenaran

Menurut filsafat ini benar tidaknya suatu ucapan, dalil, atau teori semata-mata bergantung kepada asas manfaat. Sesuatu dianggap benar jika mendatangkan manfaat. Istilah pragmatisme ini sendiri diangkat pada  tahun 1865 oleh Charles S. Pierce (1839-1914). Menurut William James “ide-ide yang benar ialah ide-ide yang dapat kita serasikan, kita kuatkan dan kita periksa. Sebaliknya ide yang salah ialah ide yang tidak demikian”. Oleh karena itu, tidak ada kebenaran mutlak, yang ada adalah apa yang benar dalam pengalaman-pengalaman khusus. Nilai tergantung pada akibatnya dan pada kerjanya, maksudnya pada keberhasilan perbuatan yang disiapkan oleh pertimbangan tersebut. Menurut pendekatan ini tidak ada yang disebut dengan kebenaran yang tetap atau kebenaran yang mutlak.

Bagi pragmatisme, suatu agama itu bukan benar karena Tuhan yang disembah oleh penganut agama itu sungguh-sungguh ada, tetapi agama itu dianggap benar karena pengaruhnya yang positif atas kehidupan manusia; berkat kepercayaan orang akan Tuhan maka kehidupan masyarakat berlaku secara tertib dan jiwanya semakin tenang.

  1. Agama Sebagai Teori Kebenaran

Kita sebagai manusia adalah makhluk pencari kebenaran. Salah satu untuk menemukan suatu kebenaran yaitu melalui agama yang kita anut. Dengan karakteristiknya sendiri memberikan jawaban atas persoalan asasai manusia; baik tentang alam, manusia, maupun tentang Tuhan. Kalau ketiga teori kebenaran diatas lebih mengedepankan akal, budi, rasio, dan reason manusia. Akan tetapi dalam agama yang dikedepankan adalah wahyu yang bersumber dari Tuhan. Dengan demikian, suatu hal itu dianggap benar apabila sesuai dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.

Beberapa pedoman penyelidikan agar seseorang berhasil mencapai kebenaran,sebagai berikut :

  1. Suatu kebenaran hendaknya tidak begitu saja dianggap benar.
  2. Membuat rincian masalah atau kesulitan yang dihadapi, dan mulai mencari jawaban secukupnya.
  3. Mengatur pikiran dan pengetahuan sedemikian rupa, yaitu dengan memulai dari yang paling rendah atau sederhana ke yang paling komplek.
  4. Membuat pengumpulan fakta sebanyak-banyaknya dari yang umum hingga menyeluruh.

 

KESIMPULAN

Dengan hal ini, didalam filsafat terdapat beberapa keterangan tentang ilmu, pengetahuan, dan kebenaran. Setelah kami mencoba menguraikannya dari beberapa sumber maka dapat kami tarik kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan dan kebenaran mempunyai keterkaitan satu sama lain, serta saling berhubungan, dan tidak dapat dipisahakan. Kita saja sebagai manusia tentu akan mencari suatu kebenaran untuk suatu permasalahan-permasalahan yang kita hadapi dalam kehidupan ini. Begitu juga halnya dengan Ilmu dan pengetahuan yang di dapat hanya untuk mencari sebuah kebenaran, dan kebenaran yang mutlak itu hanya dari tuhan yang harus kita yakini. Kita dapat hidup dengan benar jika sesuai dengan kebenaran-kebenaran itu. Kebenaran seharusnya bersesuaian dengan fakta yang berselaras dengan realita kehidupan. Dan sebagai manusia kita wajib mencari  suatu kebenaran dalam kehidupan ini.

 

DAFTAR PUSTAKA

Tafsir, Ahmad, FILSAFAT ILMU: Mengurai Ontologi, Epistimologi dan Aksiologi Pengetahuan, Bandung: Remaja Rosdakarya, 2010

Surajiyo, Filsafat Ilmu dan Perkembangannya di Indonesia, Jakarta: Bumi Aksara, 2010

Bahtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2010

 

 

Oleh:

  1. Aprilia Rachmawati
  2. Dwi Permai
  3. Friska Fajareza Putri
  4. Nurul Syafitri
  5. Yuliana Umrotul Widayanti

 

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s