Pemikiran Wittgenstein

Filsafat dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait baik secara substansial maupun historiskarena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebenarnya perkembangan ilmu  memperkuat keberadaan filsafat, sebaliknya perkembangan ilmu memperkuat keberadaan filsafa. Dengan filsafat pola pikir yang  selau tergantung pada dewa diubah menjadi pola pikir yang tergantung pada rasio. Filsafat ilmu adalah cabang filsafat yang membahas masalah ilmu, yang mempunyai tujuan menganalisis mengenai ilmu pengetahuan dan cara bagai mana  pengetahuan ilmiah itu diperoleh.

Pemikiran filsafat, banyak dipengarui oleh lingkungan namun pada dasarnya, filsafat baik di barat , india, cina,  uncul dari yang sifatnya religius. Di yunani dengan mitosnya di india dengan kitabnya Weda (agama hindu), dan di cina dengan confusiusnya. Di barat mitos dapat dilenyapkan samasekali dan rasio yang menonjol. Sedangkan di india filosof tidak pernah bisa lepas dari induknya dalam hal agama hindu. Pembagian secara periodisasi filsafat barat adalah jaman kuno, zaman abad pertengahan , jaman moderen dan jaman masa kini. Aliran yang berpengaruh terhadap pemikiran filsafat adalah Positivisme, Marxisme, Eksistensialisme,Fenomenologi, Pragmatisme dan Neokantianisme dan Neo-famisme.

Perkembangan ilmu pengetahuan sampai saat ini tidaklah berlangsung secara mendadak dan tiba-tiba melainkan terjadi secara bertahap atau evolutip. Tidak dapat dipungkiri bahwa perkembangan pemikiran filosofis sepanjang sejarah memperlihatkan suatu kontinuitas tertentu. Karena itu mustahil bila mempelajari filsafat sekarang ini tanpa mengetahui tentang perkembangannya sebelum jaman sekarang (post modern).

Jika ada pertanyaan tema manakah yang paling banyak disoroti dslsm filsafat abad kita ini, maka pertanyaan itu tidak bisa dijawab engan kepastian seratus persen, karena belum sangupnya memberikan tinjauan definisi dengan filsafat abad ke-20 sebagai keseluruhan, namun demikian dari banyak pihak sudah dikemukakan pendapat bahwa semakin jelas terutama satu tema menguasai refleksi filosofis  dalam jaman kita ini.  Yaitu pemikiran tentang jaman kita ini yaitu pemikiran tentang bahasa. Dalam banyak aliran dan mazhab yang berbeda-beda bahasa termasuk fokus penelitian filosofis. Wittgenstein  misalnya mengatakan: Alle phulosophie istsprachkritik setiap filsafat adalah atas bahasa (Tractatus logico Philosophicus 40031). Wittgenstein seorang filsul paling berpengaruh pada abad ke-20 dia memiliki kontribusi yang besar dalam filsafat bahasa, filsafat mateatika dan logika. Wittgenstein terutama dikenal karena paham filsafatnya semasa hidupnya berubah dan menjadi berbeda secara total sehingga kadangkala orang menyebutnya sebagai Wittgenstein I dan Wittgenstein II.

 

 

A.    Biografi Tokoh

 

Ludwig Wittgenstein   dilahirkan di Wina (Austria) pada tanggal 26 April 1989 sebagai anak bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya berasal dari keluarga Yahudi yang telah memeluk agama Kristen Protestan dan ibunya beragama Katolik. Ayahnya adalah seorang insinyur yang dalam jangka waktu sepuluh tahun berhasil menjadi pemimpin suatu industri baja. Dia mempunyai keluaga yang berbakat dalam bidang musik dan rumah mereka menjadi pusat musik di wina, yang antara lain dikunjungi oleh Johannes Brahms. Dalam hidup  Ludwig musik mempunyai peranan penting. Ia bisa main klarinet dan mempunyai bakat yang luar biasa untuk bersiul konserto – konserto klasik. Kaitanya dengan musik sering menjadi kentara dari contoh – contoh yang diberikan dalam karya – karya filosofisnya.

Pada tahun 1906 Wittgenstein mulai belajar di suatu Sekolah Teknik di Berlin. Ia melanjutkan studi teknik di manchester (Ingrish) pada tahun 1908. Disana Ia mendapatkan riset dalam bidang teknik Pesawat terbang, khususnya mesi jet dan baling –baling. Dalam hal teknik baling – baling perlu banyak membutuhkan pengetahuan tentang matematika, perhatianya semakin tertarik oleh mateatika dan filsafat matematika. Pada tahun 1991 ia berkonsultasi dengan G. Frege, ahli matematika dari Jerman dan Frege memberi advis untuk belajar pada Bertrand Russell di Cambridge.

Pada tahun 1912 ia masuk universitas Cambridge dan memahami filsafat dibawah pimpinan Russell. Pada tahun 1913 ia berkunjung ke Norwegia dan Eslandia bersama sahabatnya David Pinsent, ia juga seorang matematikakus dari Cambridge. Selama tahun-tahun ia menulis suatu buku tentang filsafat yang diselesaikan pada tahun 1918. Karya – karyanya terbit dalam majalah Annalen der Naturphilosophie pada tahun 1921 degan judul “Logisch-Philosophische Abhandlungenn”(Ulasan-ulasan logis dan filosofis). Setahun kemudian diterbitkan suatu edisi baru dengan terjemahan inggris di samping teks Jerman yang asli. Edisi, yang di sertai suatu kata pengantar oleh Russell, berjudul Tractatus Logico-philosophicu. Wittgenstein tidak menyetujui isi kata pengantar Russell itu, karena menurut dia dalam beberapa hal Russell tidal mengerti maksudnya. Beberapa catatan yang dibuat   . Wittgenstein waktu ia mempersiapkan bukunya, masih disimpan dan kemudian diterbitkan sebagai Notebooks 1914-1916(edisi ke-2 yang diperbaiki 1979). Catatan-catatan ini dimaksudkan untuk mengerti lebih baik teks Tractatus yang sangat padat perumusanya.

Sesudah Tractatus, Wittgenstein tidak mnerbitkan apa-apa lagi, kecuali suatu artikel pendek tentang logika  pada tahun (1929). Satu-satunya buku yang dimaksudkan Wittgenstein sendiri untuk dipublikasikan terbit pada tahun 1953: philosopische Untersuchungen/Philosopical investigation (teks jerman bersama terjemahan Inggrisnya) Lalu diterbitkan lagi beberapa teks berupa catatan pribadi atau persiapan untuk kuliah. Philosophische Bemerkungen (dari 1930) (1965); philosophische Grammatik (dari 1932) (1969); The blue and brown books (1933-35) (1969); Remarks on the foundation of mathematics (dari1937-44) (1967); Lectures and conversations on aesthetics, psychology and religious belief (dari 1938)(1966); zettel (dari 1945-48) (1967) On certainty (dari 1950-51) (1969); Bemerkungen uber die Farben/Remarks on colour (dari 1950-51) (1977); Wittgenstein’s lectures: Cambridge 1930-32 (1980); Wittgenstein’s lectures: Cambridge 1932-35(1979).

Selama hidupya Wittgenstein  mengalami banyak depresi pskikis dan beberapa kali ia mempertimbangkan membunuh diri. Dia hidup di ambang penakit jiwa dan dia sangat ketakutan. Dia mengakui bahwa berfilsafat adalah cara untuk mengatasi rasa depresinya. Pada tanggal 29 April 1951  wittgenstein meninggal dunia di Cambridge  akibat kanker,setelah menderita sakit selama dua tahun.

 

B.     Pemikiran Filosofis

a.       Periode pertama : Tractatus logico-philosophicus

Salah satu uraiannya yang merupakan unsur yang sangat fundamental bahkan merupakan suatu dasar ontologis Tractus adalah konsepnya tentang realitas dunia yang dilukiskan melalui bahasa. Tractatus hanya terdiri dari 75 halaman saja. Pemikiran ini melukiskan tentang hakikat dunia, dan karena hakikat dunia dilukiskan melalui bahasa, maka teori ini juga mendeskripsikan tentang hakikat bahasa. Dunia adalah suatu realitas sebagaimana kita lihat dan kita alami. Dunia itu adalah keseluruhan dari fakta-fakta. Fakta di sini berarti suatu keberadaan peristiwa, bagaimana objek-objek terhubung satu sama lain yang terjadi dalam ruang dan waktu tertentu. Dalam hubungan dengan dunia, fakta yang kompleks tersusun atas satuan terkecil yaitu fakta atomik. Totalitas dari fakta atomik itu adalah suatu dunia. Realitas dunia fakta tersebut diwakili melalui bahasa.

Dalam pendahuluan bukunya Wittgenstein sendiri menyingkatkan  usahanya dengan berkata: The whole sense of the book might be summed up in the following words: what can be said at all can be said clearly, and what we cannot talk about we must pass over in silence. Jadi buku ini berbicara tentang bahasa, atau lebih tepat lagi bila dikatakan buku ini berbicara tentang logika bahasa. Salah satu unsur yang penting sekali dalam uraiannya adalah apa yang disebut picture theory atau teori gambar. Wittgenstein berpendapat bahwa bahasa mengambarkan realitas dan makna itu tidak lain daripada pengambaran suatu keadaan factual dalam realitas melalui bahasa.

Pada zaman Wittgenstein, penggunaan logika bahasa dalam menjelaskan suatu konsep filsafat menimbulkan kekaburan makna, bahkan banyak ungkapan menjadi tidak bermakna apa-apa. Karenanya, Wittgenstein berfikir bahwa hanya ada satu kemungkinan cara untuk mengatasi kebingungan bahasa tersebut yaitu melalui proposisi dan proposisi harus merupakan suatu gambar dan perwakilan dari suatu realitas fakta. Dalam menjelaskan prinsip teori gambar, Wittgenstein menjelaskan bahwa proposisi adalah gambaran realitas. Sebuah gambar hanya memiliki ciri sebagaimana yang dimiliki oleh proposisi. Ia mewakili beberapa situasi yang dilukiskan melebihi dirinya sendiri dan tidak seorang pun perlu menjeskan tentang apa yang digambarkan.

Suatu proposisi adalah gambar bukan dalam arti kiasan melainkan secara harafiah. Wittgenstein berkeyakinan bahwa semua ucapan kita mengandung satu atau leboh proposisi elementer, artinya proposisi yang tidak dapat dianalisis lagi. Suatu proposisi elementer menunjuk pada suatu state of affairs dalam realitas. Suatu proposisi elementer terdiri dari  nama-nama. Tetapi nama-nama tersendiri tidak mempunyai makna. Hanya proposisi yang mempunyai makna. Kalau Wittgenstein mengatakan bahwa dalam suatu proposisi elementer digambarkan suatu duduk perkara (state of affairs) dalam realitas, maksudnya adalah bahwa unsur-unsur dalam proposisi dan unsur-unsur realitas sepadan satu sama lain.  Dengan kata lain, strukutur proposisi sesuai dengan struktur yang terdapat dalam realitas. Misal: peta kota dengan kota itu sendiri. Pada taraf yang berbeda-beda pola-pola hubungan antara unsur-unsur tersebut secara formal sama biarpun secara material sama sekali berlainan. Hanya dengan teori gambarlah, menurut Wittgenstein, realitas dunia dapat dikatakan. Hanya dengan teori ini pula dapat diterangkan bahwa bahasa kita bermakna. Proposisi-proposisi dalam tautologi bukanlah proposisi sejati karena tidak mengungkapkan suatu pikiran, tidak mengatakan sesuatu, sebab tidak merupakan suatu picture (gambar) dari sesuatu. Tetapi proposisi ini bukan tidak bermakna.

Salah satu konsekuensi yang harus ditarik dari “teori gambar ” Wittgenstein ialahbahwa proposisi-proposisi metafisis tidak bermakna. Oleh karena itu wittgenstein dapat dianggap seorang filsul yang berorientasi anti metafisis. Tentu saja menolak metafisika bukan hal yang baru dalam sejarah filsafat.  Menurut dia, filsafat bukan merupakan suatu ajaran, melainkan suatu aktivitas. Tugas filsafat adalah menjelaskan kepada orang apa yang dapat dikatakan dan apa yang tidak dapat dikatakan. Metafisika melampaui batas-batas bahasa karena metafisika mau mengatakan apa yang tidak dapat dikatakan. Misalnya, subjek, kematian, Allah, dan bahasa itu sendiri. Tetapi Wittgenstein berpendapat juga  bahwa memang ada hal-hal yang tidak dapat dikatakan. There are, indeed, things that cannot be put into words. They make themselves manifest. They are what is mystical.

Pandangan empat pokok yakni:

1.      Karena bahasa merupakan gambar dunia, subyet yang mengunakan bahasa, tidak termasuk dunia. Seperti mata tidak dapat diarahkan kepada dirinya sendiri, demikian juga subject yang mengunakan bahasa tidak dapat mengarahkan bahasa kepada dirinya sendiri.

2.      Tidak mungkin juga berbicara tentang kematiannya sendiri, karena kematian tidak merupakan suatu kejadian yang dapat digolongkan antara kejadian-kejadian lain. Kematian seakan-akan memagari dunia, tetapi kita tidak termasuk di dalamnya. Kematian merupakan batas dunia dan karenanya tidak dapat dibicarakan sebagai suatu unsur dunia.

3.      Juga Allah tidak dapat dipandang sebagai sesuatu dalam dunia. Idak dapat dikatakan pula bahwa Allah menyatakan diri dalam dunia. Wittgenstein bermaksud bahwa tidak pernah suatu kejadian dalam dunia dapat dipandang sebagai”campur tangan” Allah. Sebab kalau demikian, Allah bekerja sebagai sesuatu dalam dunia. Akibatnya kita tidak dapat bicara tentang Allah dengan cara yang bermakna.

4.      Yang paling paradoksal ialah pendapat witthenstein bahwa bahasa tidak bisa bicara tentang dirinya sendiri. Bahas  mencerminkan dunia, tetapi suatu cermin tidak bisa memantulkan dirinya sendiri. Bahasa tidak dapat melukiskan secara langsung apa itu bahasa. Oleh karena itu, Wittgenstein berkesimpulan bahwa orang yang mengerti Tractatus akan mengakui bahwa ucapan-ucapan didalamnya tidak bermakna.

Wittgenstein menggunakan metafora dan analogi untuk menjelaskan apa yang sebenarnya tidak dapat dikatakan.

 

b.      Periode kedua: Philosophical investigations

Dari buku-buku yang diterbitkan sesudah meningalnya, adalah satu-satunya karya yang dimaksudkan Wittgenstein sendiri untuk diterbitkan. Tetapi hanya bagian pertama buknya (dan itu memang bagian yang palinga luas) diselesaikan dengan wittgenstein sendiri, namun bagian bagian terakhir di bantu oleh kedua orang muridnya  yang bernama

G. Anscombe dan R.Rhees. philosophical investigations terdiri dari banyak fasal pendek, seluruh bagian pertama dibagi atas 693 nomor. Tampaknya philosophical investigations merupakan sebuah karyanya yang pertama Tractatus.

Dalam philosophical investigation ia menolh terutama tiga hal yang dulu diandaikan begitu saja dalam dalam teori pertama, yaitu:

1.      Bahwa bahasa dipakai hanyauntuk satu tujuan saja, yakni menetapkan states of affairs (keadaan dalam faktual).

2.      Bahwa kalimat-kalimat mendapat maknanya dengan stu cara saja,yakni menggambarkan satu keadaan fctual, dan

3.      Bahwa setiap jenis bahasa dapat dirumuskan dalam bahasa logika yang sempurna, biarpun pada pandangan pertama barangkali sukar untuk dilihat.

 

Dalam karyannya yang kedua Wittgenstein melahirkan adanya teori makna dalam pengunaan makna (meaning is use) dan permainan bahasa (language game).

 

Makna dalam pengunaan (Meaning is Use).

            Bagi Wittgenstein, sebuah tanda menjadi hidup atau menjadi bermakna justru dalam pengunaanya. Makna kalimat adalah tergantung pengunaanya dalam bahasa sedangkan makna bahasa adalah tergantung pengunaanya dalam hidup. Oleh krena itu Wittgenstein menyarankan agar pemahaman terhadap bahasa harus dianalisis berdasarkan pengunaanya dalam kontek-kontek tertentu (mening is use).

 

Bahasa (language Games).

Untuk menjelaskan lebih lanjut bahwa bahasa dipakai dengan berbagai macam cara dalam Philosophical Investigations Wittgenstein meperkenalkan istilah  language games (permainan-permainan bahasa). Ada permainan yang memakai bola  atau kartu atuapun alat yang lain. Sebagaimana terdapat banyak permainan, demikian juga terdapat banyak “permainan bahasa” arti kata-kata hanya bisa dipahami dalam kerangka acuan  language games hendak mengatakan kepada kita bahwa kita harus melihat, membaca dan memahami suatu bahasa dalam konteksnya masing-masing.

 

Tugas tilsafat.

Berdasar pokok-pokok pikiran diatas, wittgenstein berpendapat bahwa tugas filsul adalah mengadakan klasifikasi aneka macam pengunaan dan mengadakan verifikasi, apakah pengunaan kata dalam keadaan tertentu itu tepat atau keliru,bermakna atau tidak. F ilsafat menjadi semacam sarana kritis untuk memeriksa pemakaian bahasa bahkan menjadi terapi bagi pemakaian bahasa yang berlebihan.

 

 

Penutup

Bahasa dan filsafat  meruakan dua sejoli yaang tidak bisa dipisahkan. Bahasa dan filsafat berjalan beriringan dari siang kemalam, dari jaman dulu ke jaman esok. Seorang mampu berfilsafat  jika terdapat bahasa, dan begitu juga  dengan adanya bahasa, seseorang akan berbahasa sesuai dengan hasil penalarannya, cara kerja otak sehingga menghasilkan pengetahuan yang diolah melalui filsafat. Bahasa merupakan salah satu temakajian yang menarik. Hadirnya istilah filsafat bahasa dalam ruang dunia filsafat dapat dikatakan sebagau suatu hal yang baru. Istilah muncul dalam abad -20 an. Wittgenstein  misalnya mengatakan: Alle phulosophie istsprachkritik setiap filsafat adalah atas bahasa (Tractatus logico Philosophicus 40031). Wittgenstein seorang filsul paling berpengaruh pada abad ke-20 dia memiliki kontribusi yang besar dalam filsafat bahasa, filsafat mateatika dan logika. Wittgenstein terutama dikenal karena paham filsafatnya semasa hidupnya berubah dan menjadi berbeda secara total sehingga kadangkala orang menyebutnya sebagai Wittgenstein I dan Wittgenstein II.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Beterns, k. 1981, Filsafat Barat Dalam Abad XX. Jakarta Gramedia.

Hendriyanto, Agoes. 2012, Modul Filsafat Bahasa.

 

 

 *) Penyusun

Nama               : Rusmiati

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s