Muhammad Arkun; Biografi dan Pemikiran

Dalam wacana pemikiran Islam, kajian “pemikiran Islam” model Muhammed Arkoun mempunyai corak yang sangat berbeda dengan corak pemikiran Islam yang selama ini dikenal secara umum, yakni telaah pemikiran Islam model orientalis. Untuk memperoleh kejelasan peta pemikiran keagamaan yang ada maka diperlukan kajian ulang dan radikalisasi terhadap naskah-naskah keagamaan era klasik skolastik yang biasanya diwarisi begitu saja tanpa adanya sikap kritis sedikitpun dari kaum muslimin yang hidup pada era sekarang ini. Dan corak pada kajian pemikiran keislaman model ini pula yang membedakan Arkoun dari corak dan pola kajian keislaman para orientalis.

Mohammed Arkoun, atau bisa disebut Arkoun saja menyatakan bahwa kenyataan Islam yang dialami masyarakat muslim dewasa ini telah dikuasai oleh nalar Islami yang memiliki karakter logosentris. Arkoun juga menyatakan, Islam akan meraih kejayaan jika umat islam membuka diri terhadap pluralisme pemikiran seperti pada masa awal Islam hingga abad pertengahan. Pluralisme bisa dicapai bila pemahaman agama dilandasi paham kemanusiaan sehingga umat Islam bisa bergaul dengan siapapun.

Ada beberapa ciri yang menunjukkan kenyataan tersebut. Pertama, nalar Islam dikuasai oleh nalar dogmatis dan sangat terkait dengan keberadaan abadi (Tuhan) yang tentunya lebih bersifat estetis-etis daripada ilmiah. Kedua, nalar yang bertugas untuk mengenali kembali kebenaran (fungsi ‘aql) telah menjadi sempit dan hany berkutat dalam wilayah tempat kelahirannya saja, misalnya bidang metafisika, teologi, moral dan hukum. Ketiga, nalar hanya bertitik tolak pada rumusan-rumusan umum dan menggunakan metode analogi, implikasi dan oposisi. Keempat, data-data empiris digunakan secara sederhana dan terus dikaitkan dengan kebenaran transendental, dan dimaksudkan sebagai alat legitimasi dalam penafsiran serta menjadi alat apologi. Kelima, pemikiran Islam cenderung menutup diri dan tidak melihat aspek kesejarahan, sosial, budaya dan etnik, sehingga cenderung dijadikan sebagai satu-satunya wacana yang harus diikuti secara seragam dan taklid. Keenam, pemikiran Islam lebih mementingkan suatu wacana yang lahir di dalam ruang bahasa yang terbatas, sesuai kaidah bahasa dan cenderung mengulang-ulang sesuatu yang lama. Selain itu, wacana batin yang melampaui batas-batas logosentris, dalam arti kekayaan spiritual cenderung diabaikan.

Dari kondisi demikian ini, Arkoun mencoba melontarkan pemikirannya yang bercorak kritik epistimologis, dan membebankan beberapa tugas kepada kaum intelektual muslim, termasuk dirinya sendiri. Pertama, melakukan klarifikasi historis terhadap kesejahteraan umat Islam dan membaca Al-qur’an kembali secara benar dan baru. Kedua, menyusun kembali seluruh syari’ah sebagai sistem semiologis yang merelevankan wacana Al-qur’an dengan sejarah manusia, di samping sebagai tatanan sosial yang ideal. Ketiga, meniadakan dikotomi tradisional (antara iman dan nalar, wahyu dan sejarah, jiwa dan materi, dan sebagainya) untuk menyelaraskan teori dan praktik. Keempat, memperjuangkan suasana berfikir bebas dalam mencari kebenaran agar tidak ada gagasan yang terkungkung di dalam ketertutupan baru atau di dalam taqlid.

 

Biografi Arkoun

Mohammad Arkoun lahir pada tanggal 2 Januari 1928 dalam keluarga biasa di perkampungan Berber yang berada di sebuah desa di kaki gunung Taorirt-Mimoun, Kabilia, sebelah timur Aljir, Aljazair. Keluarganya berada pada strata fisik dan sosial yang rendah, salah stunya ibunya mengalami buta huruf, dengan bahasa Kabilia Barber sebagai bahasa ibu dan bahasa Arab sebagai bahasa nasional Aljazair. Pendidikan dasar Arkoun ditempuh di desa asalnya, dan kemudian melanjutkan sekolah menengah di kota pelabuhan Oran, sebuah kota utamaa di Aljazair bagian barat yang jauh dari Kabilia. Kemudian Arkoun melanjutkan studi bahasa dan sastra Arab di Universitas Aljir (1950-19540, sambil mengajar bahasa Arab pada sebuah sekolah menengah atas di al-Harach, yang berlokasi di daerah pinggiran ibukota Aljazair.

Pada saat perang kemerdekaan Aljazair dari Perancis (1954-1962), Arkoun melanjutkan studi tentang bahasa dan sastra Arab di Universitas Sorbonne, Paris. Ketika itu dia sempat bekerja sebagai agrege bahasa dan kesusasteraan Arab di Paris serta mengajar di sebuah SMU (Lycee) di Strasbourg (daerah Perancis sebelah timur laut) dan diminta memberi kuliah di Fakultas Sastra Universitas Strasbourg (1956-1969). Pada tahun 1961, Arkoun diangkat sebagai dosen di Universitas Sorbonne, Paris, sampai tahun 1969, disaat dia menyelesaikan pendidikan doktor di bidang sastra pada universitas tersebut. Arkoun menulis desertasi doktor mengenai humanisme dalam pemikiran etis Miskawaih (1030 M), seorang pemikir Arab di Persia pada abad X M yang menekuni kedokteran dan filsafat. Miskawaih dikenal sebagai tokoh yang menguasai segala bidang ilmu dan menekuni persamaan dan perbedaan antara Islam dan tradisi pemikiran Yunani. Semenjak menjadi dosen di Universitas Sorbonne tersebut , Arkoun menetap di Perancis dan menghasilkan banyak karya yang dipengaruhi oleh perkembangan mutakhir tentang islamologi, filsafat, ilmu bahasa dan ilmu sosial di dunia barat, terutama di dunia tradisi keilmuan Perancis.

Jenjang pendidikan dan pergulatan ilmiah yang ditempuh Arkoun membuat pergaulannya dengan tiga bahasa (Berber Kabilia, Arab dan Perancis) dan tradisai serta kebudayaan menjadi semakin erat. Di kemudian hari, barabgkali inilah yang yang cukup mempengaruhi perhatiannya yang begitu besar terhadap peran bahasa dalam pemikiran dan masyarakat manusia. Ketiga bahasa tersebut sesungguhnya mewakili tiga tradisi, orientasi budaya, cara berfikir dan cara memahami yang berbeda. Bahasa Berber Kabilia merupakan alat untuk mengungkapkan berbagai tradisi dan nilai mengenai kehidupan sosial dan ekonomi yang sudah ribuan tahun usianya, bahasa Arab merupakan alat untuk melestarikan tradisi keagamaan Islamdi Aljazair dan di berbagai belahan dunia Islam lainnnya. Sedangkan bahasa Perancis merupakan bahasa administrasi pemerintahan serta untuk mengenal nilai-nilai dan tradisi keilmuan Barat, terutama Perancis.

Pada tahun 1970-1972 Arkoun mengajar di Universitas Lyon dan kembali lagi ke Paris sebagai guru besar sejarah pemikiran Islam di Universitas Sorbonne, yang sekarang sudah pensiun namun tetap menbimbing karya penelitian di sana. Karena kepakarannya, Arkoun sering diundang untuk memberi kuliah dan ceramah di sejumlah universitas dan institut keilmuan di dunia, termasuk di Indonesia. Di dalam menjalani profesinya sebagai pengajar, Arkoun selalu menyampaikan pendapatnya secara logis berdasarkan analisis yang memiliki bukti dan interaksi filsafati religius, sehingga dapat membangkitkan kebebasan berbicara dan berekspresi secara intelektual, dan tentu saja membuka peluang terhadap kritik.

Selain mengajar, Arkoun juga mengikuti berbagai kegiatan ilmiah dan menduduki jabatan penting di dunia akademis dan masyarakat. Dia menjabat sebagai direktur ilmiah jurnal Arabica, anggota Panitia Nasional Perancis untuk Etika dan Ilmu Pengetahuan Kehidupan dan Kedokteran,anggota Majelis Nasional Perancis untuk AIDS dan anggota Legiun Kehormatan Perancis (chevalier de la Legion d’honneur). Dia ernah mendapat gelar kehormatan, diangkat sebagai Officer des Palmes Academiques, sebuah gelar kehormatan Perancis untuk tokoh terkemuka di dunia universitas dan pernah menjabat sebagai direktur Lembaga Kajian Islam dan Timur Tengah pada Universitas Sorbonne Neuvelle (Paris). Sosok Arkoun yang demikian ini, dapat dinilai sebagai cendekiawan yang engage, melibatkan diri dalam berbagai kegiatan dan aksi yang menurutnya penting bagi kemanusiaan, sebab baginya pemikiran dan aksi harus saling berkaitan.

Sebagai ilmuwan yang produktif, Arkoun telah menulis banyak buku dan artikel di sejumlah jurnal terkemuka seperti Arabica (Leiden/Paris), Studia Islamica (Paris), Islamo-Christiana (Vatican) dan masih banyak lagi di berbagai buku dan ensiklopedia. Arkoun juga menerbitkan kumpulan makalah dan karya bersama yang dilakukan dengan cendekiawan lain. Di antara karyanya yang penting adalah, Traite d’ethique (tradution francaise avec introduction et notes du Tahdhib al-Akhlaq) (sebuah pengantar dan catatan-catatan tentang etika dari Tahdhib al-Akhlak Miskawaih).

Buku-buku Arkoun yang merupakan kumpulan artikelnya di beberapa jurnal antara lain adalah Essais sur la pensee islamique (Esai-esai tentang pemikiran Islam), dan bukunya yang lain adalah Aspect de le pensee musulmane classique (Aspek-aspek pemikiran Islam Klasik) dan L’islam, religion et societe (Islam, abama dan Masyarakat), dan masih banyak karya-karyanya di samping yang belum diterbitkan, juga beberapa artikel penting di antaranya, “Rethingking Islam Today” dalam buku Liberaal Islam: A Source Book, dan sebagainya.

Karya-karya Arkoun mayoritas dibuat dalam bahasa Perancis, dan kemudian tersebar dalambentuk karya terjemahan ke berbagai bahasa di dunia. Karya-karya Arkoun tersebut bila dicermati ternyata banyak diilhami oleh para ilmuwan Perancis seperti Paul Ricoeur, Michel Fouchault, Jack Derrida, Rolan Barthes dan Piere Bourdieu. Di samping itu juga dipengaruhi oleh ahli bahasa Swiss dan antropolog Inggris, Jack Goody, ahli sastra Kanada, dan sebagainya.

Arkoun terus mencoba pemahaman-pemahaman yang baru tentang Islam dan kaum muslim dengan menggunakan teori-teori mutakhir yang berkembang di dunia Barat moderen. Upaya tersebut dilakukan Arkoun untuk memadukan unsur yang angat mulia dalam pemikiran Islam dengan unsur yang sangat berharga di dalam pemikiran Barat modern (rasionalitas dan sikap kritis). Dengan begitu Arkoun berharap muncul suatu pemikiran yang bisa memberikan jawaban atas berbagai persoalan yang dihadapi oleh kaum muslim akhir-akhir ini dan dapat membebaskan dari belenggu yang mereka buat sendiri.

 

Kerangka Pemikiran Arkoun

Kegelisahan Arkoun yang mewarnai hampir seluruh pemikirannya adalah kenyataan adanya dikotomi-dikotomi di dalam masyarakat, khususnya masyarakat muslim. Dikotomi-dikotomi tersebut secara garis besar banyak bersentuhan dengan persoalan-persoalan particularity (vs) universality, dan marginality vs centrality. Problem-problem ini tampak tercermin dari adanya pembagian-pembagian dunia secara berhadap-hadapan, seperti Sunni dengan Syi’i, kaum mistik dengan kaum tradisionalis, muslim dengan non-muslim, Berber (non-Arab) dengan Arab, Afrika (Asia) dengan Eropa dan sebagainya.

Oleh karena itu dunia yang dituju oleh Arkoun adalah dunia yang tidak berpusat, tidak ada pinggiran, tidak ada kelompok yang mendominasi, tidak ada kelompok yang terpinggirkan, tidak ada kelompok yang superior dan tidak ada kelompok yang inferior dalam menghasilkan sebuah kebenaran.   Arkoun berusaha mengajukan pertanyaan yang kritis kepada kita, yaitu “Bagaimana seluruh manusia bisa menjadi diri mereka sendiri dan dengan identitas mereka sendiri tampa menyendiri dari tetangga dan sesama manusia lainnya?” Bagi orang Islam, Arkoun bertanya-tanya, “Dapatkah identitas muslim itu didamaikan dengan identitas non-muslim?”

 

Metodologi dan Pendekatan dalam Pemikiran Arkoun

Metodologi dam pendekatan yang dilakukan oleh Mohammed Arkoun, sedikit banyak telah dipengaruhi oleh dua kekuatan tradisi pemikiran yang telah ada, yaitu tradisi pemikiran budaya Timur Tengah Kuno yang memilik tempat khusus di dalam pemikiran Yunani dan tardisi pemikiran monoteisme yang dibawa oleh para nabi. Sehingga Arkoun mengemukakan bahwa dirinya sebagai pengguna metodologi historis-kritis yang mencoba merespon rasa keingintahuanny secara modern, karena metodologi ini nilainya dapat menelusuri studi tentang pengetahuan mistis yang tidak hanya dibatasi dengan mentalitas lama. Dengan demikian, menurut Arkoun, saat ini usahaa intelektual utama yang harus dipresentasikan secara luas ke dalam pemikiran tentang Islam dan tentang agama lainnya adalah bagaimana mengevaluasi karakteristik-karakteristik dari sistem ilmu pengetahuan yang historis dan mistis dengan perspektif epistimologis yang baru.

Tujuan yang ingin diraih dengan proyek ini adalah untuk mengembangkan sebuah strategi epistimologi baru di bidang studi perbandingan terhadap budaya melalui contoh yang dikembangkan oleh Islam sebagai agama dan sebagai produk sosial sejarah. Arkoun mengajukan pendekatan historis, sosiologis, dan antropologis dengan tidak menghilangkan betapa pentingnya pendekatan teologis dan filosofis. Dan pendekatan yang dilakukan oleh Arkoun ini bertujuan untuk memperkaya pendekatan tersebut dengan memasukkan keadaan-keadaan historis dan sosisl yang selalu dipraktekkan dalam Islam. Metode Arkoun ini disebut sebagai salah satu bentuk metode dekonstruksi. Strategi dekonstruksi tersebuthanya mungkin dilakukan dengan epistimologi modern yang kritis.

Dengan demikian, nalar kritis seseorang harus dibebaskan dari ontologi, transendentalisme, dan substansionalisme yang mengikat, membatasi kebebasan dan memenjarakannya, terutama di dalam nalar yang dielaborasikan di berbagai macan teologi melalui metafisika dan logika Yunani. Di dalam melaksanakan proyek besar tersebut, menurut Arkoun harus dimulai dari suara atau teori yang dianggap Arkoun memiliki otoritas, karena hanya dia yang dapat memberikan penampakan Islam dan mentalitas modern yang ilmiah, dan sekaligus juga di dalam pengalaman keagamaan orang Islam. Dalam bahasa lain , agar kita dapat mengartikulasi visi modern  tentang Islam yang sekaligus bisa memberikan pada komunitas.

 

Pemikiran Mohammed Arkoun

  1. Tradisi Hermeneutik

Arkoun dengan pemikirannya berusaha  memperkenalkan pendekatan pemikiran hermeneutika sebagai metodologi kritis yang  akan memunculkan informasi, makna dan pemahaman baru ketika suatu teks dan aturan didekati dengan sara pandang baru, terutama dengan menggunakan metode hermeneutika historis-kontekstual. Karena sikap dari setiap pengarang, teks dan pembaca tidaklah lepas dari konteks sosial, politis, psikologis, teologis dan konteks lainnya dalam ruang dan waktu tertentu. Maka dalam memahami sejarah yang diperlukan bukan hanya transfer makna, melainkan juga transformasi makna. Pemahaman tradisi Islam selalu terbuka dan tidak pernah selesai, dalam istilah lain bahwa pintu ijtihad belum tertutup karena pemaknaan dan pemahamannya selalu berkembang seiring dengan perkembangan umat Islam yang selalu terlibat dalam penafsiran ulang dari masa ke masa. Dengan begitu, tidak semua doktrin dan pemahaman agama berlaku sepanjang zaman. Gagasan universal Islam tidak semua tertampung dalam bahasa Arab yang bersifat lokal kultural, serta terungkap dari tradisi kenabian saat itu. Itulah sebabnya dari masa ke masa selalu muncul ulama tafsir yang berusaha mengaktualisasikan pesan Al-quran dan Al Hadits dan tataran keislaman yang tidak mengenal batas akhir waktu.

Ketika mendekati (membaca dan memahami) Al-qur’an dan tradisi keislaman muncullah tiga kesimpulan:

  • Sebagian  kebenaran pernyataan Al-Quran baru akan terlihat di masa depan.
  • Kebenaran yang ada pada Al-quran adalah berlapis-lapis stau berdimensi majemuk, sehingga potensi pluralitas pemahaman terhadap kandungan Al-quran adalah hal yang sangat wajar dan lumrah atau bahkan dikehendaki oleh Al-quran itu sendiri.
  • Terdapat doktrin dan tradisi keislaman historis-aksidental sehingga tidak ada salahnya jika doktrin dan tradisi keislamantersebut dipahami ulang dan memunculkan tradisi baru. Kesimpulan yang terakhir ini bisa berkaitan dengan ayat-ayat mengenai pembagian harta warisan, posisi wanita dalam masyarakat dan hubungan umat muslim dengan agama lain.

 

  1. Pembacaan Al-quran

Arkoun menyadari bahwa dengan kelahiran teks Al-quran, perubahan yang mendasar di kalangan umat dalam memahami wahyu telah terjadi. Raison graphique (nalar grafis) telah mendominasi cara berfikir umat sehingga logos kenabian (prophetique) didesak oleh logos pengajaran (professoral). Selain itu, kemiskinan usaha untuk memahami wahyu dari segala dimensi juga telah terjadi. Untuk itulah tujuan qira’ah menurut Arkoun adalah untuk comprende, yakni mengerti komunikasi kenabian  yang hendak disampaikan melalui teks yang bersangkutan dengan mengoptimalkan setiap kemungkinan untuk mereproduksi makna.

Arkoun melihat, paling tidak ada tiga macam cara pembacaan Al-quran, yaitu:

  • Secara litugris, yaitu memperlakukan teks secara ritual yang dilakukan saat shalat, doa-doa tertentu dan ibadah yang lain yang bertujuan untuk “mereaktualisasikan saat awal ketika Nabi mengujarkannya unruk yang pertama kali” agar didapatkan kembali seperti “ujaran pertama”. Dengan cara ini, manusia melakukan komunikasi secara ruhani secara vertikal maupun horisontal dan sekaligus melakukan pembatinan kandungan wahyu.
  • Secara eksegesis yang berfokus pada “ujaran kedua”, yaitu ujaran yang termaktub di dalam mushaf.
  • Dengan cara memanfaatkan penemuan dan inovasi metodologis  yang disumbangkan oleh ilmu-ilmu kemanusiaan dan ilmu bahasa.

Hal-hal tersebut yang diungkakan Arkoun dalam pemikirannya yang berkaitan dengan pembacaan Al-quran.

 

3. Pluralisme Agama

Mohammed Arkoun menyatakan bahwa Islam akan mencapai kejayaan jika umat Islam mau membuka diri terhadap pluralisme pemkiran dan pluralisme bisa dicapai bila pemahaman sgama dilandasi paham kemanusiaan, sehingga umat Islam bisa bergaul dengan siapapun. Arkoun mengungkapkan, humanisme Timur Tengah muncul pada abad ke-10, di Irak dan Iran yang didasarkan pada pendekatan humanis terhadap manusia. Para ahli teologi, hukum, ilmuwan, dan ahli-ahli filsafat berkumpul dalam satu majelis dengan saling berhadapan untuk berbicara dan bertukar pikiran. Namun memasuki abad ke-13, umat Islam mulai melupakan filsafat dan debat teologi.

Dalam Islam klasik, Arkoun menyatakan, ketika debat didasarkan pada pendekatan keragaman budaya, keragaman pemikiran, dan keragaman teologi, maka akan terjadi perdebatan seru tentang bagaimana menginterpretasikan Al-quran dan mengelaborasikan dengan hukum yang didasarkan pada teks suci. Dengan tetap mempertahankan pluralisme, seseorang akan tetap menjadi kritis, baik dalam filsafat maupun teologi. Pluralisme inilah ynag hilang dalam Islam, sehingga Islam harus berusaha memunculkan kembali damn mempertahankan kebebasan bagi setiap muslin untuk berpartisipasi dalam ijtihad. Pemahaman ni penting untuk membangun demokrasi di negara-negara Islam dan untuk memulihkan kembali kebebasan berpikir dalam Islam.

Menurut Arkoun, umat Islam bisa membandingkan dengan agama Kristen secara teologis dan agama Katolik secara politik. Sebenarnya, umat Islam menemukan periode yang bisa memberiakn harapan besar bagi munculnay kembali keragaman dalam berpikir pada saat munculnya negara-negara pascakolonial. Namun sayangnya kesempatan itu hilang. Islam kemudian dipergunakan tidak lebaih sebagai alat politik, bukan untuk berpikir dengan  pendekatan humanis dan dalam keragaman. Arkoun berpendapat, pemulihan pengajaran sejarah akan memungkinkan Eropa dan Islam akan bekerjasama dalam menbangun demokrasi yang tidak hanya berlandaskan pada negara dan bangsa tetapi juga pada manusia.

Menurut dia, munculnya Uni Eropa merupakan sebuah lompatan sejarah. Ada sebuah  ruang baru kewarganegaraan dengan membuka kesempatan manusis di seluruh belahan bumi untuk mendapat kewarganegaraan. Ada sebuah gaya baru pemerintahan yang berdiri di atas bangsa ini. Model ini bis adiadopsi oleh negara-negara Islam dan bertemu dengan pengalaman Eropa dalam perspektif  humanisme. Arkoun juga menekankan pentingnya pendidikan yang didasarkan pada humanisme. Sehingga di sekolah-sekolah menengah perlu diajarkan multibahasa asing, sejarah, dan antropologi serta perbandingan sejarah dan antropologi agama.

 

 

PENUTUP

 

Mohammed Arkoun lahir pada tanggal 2 Januari 1928 dalam keluarga biasa di perkampungan Barber yang berada di kaki gunung Taorirt-Mimoun, Kabilia sebelah timur Aljir, Aljazair. Dari keluarga yang berada dalam strata fisik dan sosial yang rendah membuat dirinya terpacu untuk memperbaiki kahidupannya dari segi pendidikan hingga menghabiskan sebagian waktunya untuk berkarir di negara Perancis. Dengan menguasai tiga bahasa (Kabilia Barber sebagai bahasa ibu, bahasa Arab sebagai bahasa nasional Aljazair, dan bahasa Perancis), sesungguhnya mewakili tiga tradisi , orientasi budaya, cara berpikir dan cara memahami yang berbeda. Metodologi dan pendekatan yang digunakan oleh Arkoun adalah metodologi historis –kritis yang mencoba merespon rasa keingintahuannya secara modern, karena metodologi ini dinilainya dapat menelusuri studi tentangpengetahuan mistis yang tidak hanya dibatasi dengan mentalitas dan pemikiran lama.

Pemikiran Mohammed Arkoun yang paling eksis adalah tradisi hermeneutik, pembacaan Al-quran, dan pluralisme agama. Dari uraian tersebut jelaslah, bahwa dengan cara membongkar bangunan epistimologi keilmuan agama Islam, Arkoun ingin mengembalikan wacana dan dataran qur-ani yang lebih mendasar, mendalan dan substansial. Pada sebuah  wacana yang memuat nilai-nilai normatif, spiritualis, dan moralitas  keberagaman Islam yang terbuka, mendasar, sekaligus fungsional, tanpa harus dibebaniterlalu berat dan muatan ideologi politik. Untuk melihat dan mengungkap kembali autentitas spiritualis dan moralitas keberagaman Islam, seorang muslim harus berani melakukan “pembongkaran” terhadap struktur tersebut dengan menyimak kembali ajaran-ajaran Islam yang lebih arif dan komprehensif.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Mohammed Arkoun. Islam Kontemporer Menuju Dialog Antar Agama.Pustaka Pelajar.Yogyakarta:2001

http://wayofmuslim.com/blog/?p=40

http://jendelapemikiran.wordpress.com

http://hanuah.blogspot.com

http://media.isnet.org/islam/etc/index

 

*) Penyusun

Nama               : Ratna Widayati

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s