Filsafat Thomas Aquinas

Filsafat menjadi landasan bagi setiap perkembangan keilmuan. Jadi tak heran jika Filsafat sering dikatakan sebagai Mother of Science. Karena filsafat merupakan ilmu pengetahuan yang mencari hakekat dari berbagai fenomena kehidupan manusia. Filsafat meliputi pengetahuan metodis, sistematis dan koheren tentang seluruh kenyataan. Dan dalam dunia pendidikan ilmu filsafat sangatlah penting, karena dengan memiliki ilmu filsafat kita akan mampu berfikir rasional.      

Makalah tentang pemikiran tokoh Yunani pada zaman abad pertengahan yaitu Thomas Aquinas ini saya/penulis buat untuk tugas individu mata kuliah FILSAFAT ILMU. Disamping itu, makalah ini juga bertujuan untuk menambah pengetahuan penulis tentang siapa saja tokoh – tokoh dunia yang terkenal, khususnya tentang siapa dan bagaimana seorang Thomas Aquinas.

Penggunaan filsafat dengan pemikiran kritis yang sangat menekankan rasio manusia itu sungguh tidak mendapatkan tempat dalam abad pertengahan. Sebab bagi bapak-bapak Gereja dunia iman – teologi tidak bisa dimasuki oleh akal budi manusia apalagi dengan penggunaan intelek rasio manusia dalam berfilsafat. Sehingga dunia filsafat tidak mendapatkan tempat. Tetapi bagi Thomas Aquinas rasio atau akal budi dapat membantu manusia untuk menjelaskan ajaran teologi atau iman kepada umat agar umat dapat mengerti tentang wahyu  Tuhan itu sendiri. Dan disinilah penggunaan akal budi itu penting dan menjadi bagian dari dunia teologi/iman. Dan dunia teologi/iman dapat menghantar manusia kepada pengenalan akan sumber kebenaran dan pengetahuan yaitu Allah, melalui pengetahuan yang diperoleh melalui proses kerja akal atau campur tangan manusia dalam menerima tawaran keselamatan yang dari wahyu itu sendiri. Bagaimana Thomas Aquinas dapat memberikan ruang gerak bagi akal dan iman itu sendiri. Dua jalur iman dan reasons ini dapat kita temukan pada penjelasannya  lewat teori pengetahuannya.

 

 

BIOGRAFI

Thomas Aquinas (1225, Aquino, Italia – Fossanova, Italia, 7 Maret 1274), kadangkala juga disebut Thomas dari Aquino (bahasa Italia: Tommaso d’Aquino) adalah seorang filsuf dan ahli teologi ternama dari Italia. Ia terutama menjadi terkenal karena dapat membuat sintesis dari filsafat Aristoteles dan ajaran Gereja Kristen. Sintesisnya ini termuat dalam karya utamanya: Summa Theologiae (1273). Ia disebut sebagai “Ahli teologi utama orang Kristen.” Bahkan ia dianggap sebagai orang suci oleh Gereja Katholik dan memiliki gelar santo.
Kehidupan Thomas Aquinas

Aquinas merupakan teolog skolastik yang terbesar. Ia adalah murid Albertus Magnus. Albertus mengajarkan kepadanya filsafat Aristoteles sehingga ia sangat mahir dalam filsafat itu. Pandangan-pandangan filsafat Aristoteles diselaraskannya dengan pandangan-pandangan Alkitab. Ialah yang sangat berhasil menyelaraskan keduanya sehingga filsafat Aristoteles tidak menjadi unsur yang berbahaya bagi iman Kristen. Pada tahun 1879, ajaran-ajarannya dijadikan sebagai ajaran yang sah dalam Gereja Katolik Roma oleh Paus Leo XIII.
Thomas dilahirkan di Roccasecca, dekat Aquino, Italia, tahun 1225. Ayahnya ialah Pangeran Landulf dari Aquino. Orang tuanya adalah orang Kristen Katolik yang saleh. Itulah sebabnya anaknya, Thomas, pada umur lima tahun diserahkan ke biara Benedictus di Monte Cassino untuk dibina agar kelak menjadi seorang biarawan. Setelah sepuluh tahun Thomas berada di Monte Cassino, ia dipindahkan ke Naples untuk menyelesaikan pendidikan bahasanya. Selama di sana, ia mulai tertarik kepada pekerjaan kerasulan gereja, dan ia berusaha untuk pindah ke Ordo Dominikan, suatu ordo yang sangat berperanan pada abad itu. Keinginannya tidak direstui oleh orang tuanya sehingga ia harus tinggal di Roccasecca setahun lebih lamanya. Namun, tekadnya sudah bulat sehingga orang tuanya menyerah kepada keinginan anaknya. Pada tahun 1245, Thomas resmi menjadi anggota Ordo Dominikan.
Sebagai anggota Ordo Dominikan, Thomas dikirim belajar pada Universitas Paris, sebuah universitas yang sangat terkemuka pada masa itu. Ia belajar di sana selama tiga tahun (1245 — 1248). Di sinilah ia berkenalan dengan Albertus Magnus yang memperkenalkan filsafat Aristoteles kepadanya. Ia menemani Albertus Magnus memberikan kuliah di Studium Generale di Cologne, Perancis, pada tahun 1248 – 1252. Pada tahun 1252, ia kembali ke Paris dan mulai memberi kuliah Biblika (1252-1254) dan Sentences, karangan Petrus Abelardus (1254-1256) di Konven St. Jacques, Paris.

Kecakapan Thomas sangat terkenal sehingga ia ditugaskan untuk memberikan kuliah-kuliah dalam bidang filsafat dan teologia di beberapa kota di Italia, seperti di Anagni, Orvieto, Roma, dan Viterbo, selama sepuluh tahun lamanya. Pada tahun 1269, Thomas dipanggil kembali ke Paris. Ia hanya tiga tahun berada di sana karena pada tahun 1272 ia ditugaskan untuk membuka sebuah sekolah Dominikan di Naples. Dalam perjalanan menuju ke Konsili Lyons, tiba-tiba Thomas sakit dan meninggal di biara Fossanuova, 7 Maret 1274. Paus Yohanes XXII mengangkat Thomas sebagai orang kudus pada tahun 1323.

 

PEMIKIRAN

Pola pikir filosofis Thomas Aquinas tampak dalam dua hal, yaitu metode skolastik dan analisa falsafatinya. Skolastik menjadi ciri khas sistem pendidikan di universitas-universitas Abad Pertengahan, yaitu para biarawan-rohaniwan mengelola dan membina lembaga-lembaga pendidikan. Pada zaman Aquinas tidak ada sistem atau ajaran filsafat yang baku dan seragam. Pengajar di pelbagai sekolah bebas mengekspresikan sudut pandangnya sendiri. Namun masih ada unsur-unsur tertentu yang mempersatukan ciri khas sekolah-sekolah. Unsur-unsur tersebut adalah Lectio (kuliah) dan disputatio (debat dialektis).

Pada saat lectio (kuliah), mahasiswa membaca dan membeberkan isi sebuah teks yang telah ditentukan oleh pengajarnya. Membaca sebuah teks harus sesuai dengan keinginan pengarang, yakni keinginan untuk memahami kekayaan makna kata-kata dan kekayaan terminologis yang terdapat di dalam sebuah teks. Bentuk pendidikan semacam ini mengembangkan teknik penafsiran (hermeneutika). Suasana lectio ini menimbulkan pemahaman yang mendalam terhadap otentisitas gagasan para pemikir.

Metode pembelajarannya dinamai disputatio, yakni metode yang meliputi debat dialektis tentang masalah-masalah yang ditemukan dalam teks. Pengajar menemui para mahasiswa untuk menentukan dan mempertimbangkan argumentasi “pro” dan “kontra” dan merumuskan ke dalam jawaban yang sistematis atas pertanyaan yang diperdebatkan pada saat disputatio. Suasana disputatio ini melatih sikap kritis yang sehat, dan cara berpikir yang otonom.

Aquinas, filsuf sekaligus teolog, melengkapi pandangan Agustinus yang didasari oleh gagasan Plato dan terutama Neo-Platonisme, untuk memahami secara rasional pelbagai iman Kristiani. Sebagai misal, Agustinus berusaha membuat sintesa antara filsafat Yunani (Platonisme dan Neo-Platonisme) sebagai batu tumpuan pertama untuk menuju pengajaran kristianitas. Sedangkan Aquinas menggunakan filsafat Yunani (Aristoteles) sebagai dasar filsafat untuk meluruskan iman Kristiani. Dia melihat faktor ketiga, yakni keberadaan Tuhan, yang dapat menjembatani kebenaran yang dicapai oleh iman maupun akal budi. Maksudnya, di satu pihak keberadaan Tuhan dapat diterima dalam iman, di pihak lain dapat dimengerti atas dasar argumen masuk akal. Jadi semua kebenaran adalah masuk akal, karena berasal dari Tuhan sebagai Being yang rasional.

Salah satu karya Aquinas yang menunjukkan bahwa tidak adanya pemisahan antara teologi dan filsafat adalah Summa Theologiae (1265-1273). Buku ini disusun berdasarkan metode disputatio skolastik, yaitu sebuah metode berpikir yang keseluruhannya terdiri atas quaestiones (pertanyaan-pertanyaan) dan articuli. Topik pembahasan selalu dianalisa dan dirinci dalam beberapa bagian. Setiap bagian dari topik itu selalu dibuka dengan pertanyaan-pertanyaan. Aquinas mengemukakan jawaban-jawaban atas setiap pertanyaan. Sumber-sumber jawaban berasal dari Kitab Suci dan filsuf-filsuf sebelumnya; filsuf-filsuf pra-Sokratik, kalangan Bapa-Bapa Gereja purba, para filsuf Islam, serta filsuf Yahudi. Jawaban-jawaban tersebut ditanggapi lewat kritik. Sesudah itu, Aquinas memberikan pendapatnya sendiri sebagai jawaban akhir atas pertanyaan yang bersangkutan.

Hubungan antara filsafat dan teologi tampak paling jelas dalam pandangan Aquinas terhadap filsafat Aristoteles. Menurut Aquinas, sistem filsafat Aristoteles mengandung kebenaran rasional yang sejati. Problemnya terletak pada “bagaimana memahami filsafat tanpa kehilangan hakekat teologi”. Bagi Aquinas, tidak semua kebenaran teologis dengan sendirinya jelas bagi akal budi manusia. Sebagai misal, kebenaran tentang eksistensi Tuhan. Kebenaran ini berasal dari wahyu, namun masih perlu dijelaskan secara filosofis supaya apa yang diimani dapat dipahami secara rasional.

Pandangan Aquinas tersebut di atas mengandung dua implikasi. Pertama, Aquinas menganggap penting filsafat Aristoteles karena filsafat Aristoteles digunakan sebagai alat untuk membuat sistematisasi, definisi, dan merumuskan argumen-argumen mengenai ajaran-ajaran iman tertentu secara logis. Kedua, teologi adalah suatu bingkai dasar untuk memahami pemikiran filosofis dari Aquinas. Pemikiran-pemikiran Aquinas terkait erat dengan konteks teologinya. Dengan demikian Aquinas terkenal sebagai filsuf dan teolog yang mampu menyintesakan seluruh pemikiran kristiani dengan bantuan sistem dan konsep filsafat Aristoteles.

 

Ajaran Thomas Aquinas

Filsafat utama  Aquinas adalah “Lima Argumen” yang berisi pembuktian keberadaan Tuhan.

– Argumen pertama : Pergerakan

* Indra dan pengetahuan kita menangkap  bahwa ada benda – benda alam semesta yang bergerak.

* Benda – benda tersebut bergerak ketika potensigerak benda menjadi gerak aktual benda.

* Hanya sesuatu yang bergerak secara aktualah yang mampu mengubah potensi gerak menjadi aktual gerak benda. Aquinas mengistilahkannya dengan tangan yang mampu menggerakan tongkat untuk bergarak.

* Jadi, tidak ada sesuatu pun yang mampu bergerak dengan sendirinya.

* Jadi, sesuatu yang bergerak pasti mempunyai sesuatu yang menggerakan.

– Argumen kedua : Sebab – Akibat

* Tidak ada sesuatu yang keberadaanya disebabkan oleh dirinya sendiri.

* Jika tidak ada sebuh sebab, tidak akan terjadi pula sebuah akibat.

* Jika tidak ada penyebab awal, tidak akan ada rangkaian kejadian akibat sesudahnya.

* Jadi, mudah dipahami bahwa eksistensi penyebab awal terhadap rangkaian kejadian alam semesta hingga saat ini adalah Tuhan.

– Argumem ketiga : Ada dan Tiada, Kemungkinan dan Kepastian sebuah Keberadaan

* Semua dialam semesta ini bersifat datng dan pergi, ada dan tiada, lahir dan mati, muncul dan memghilang, atau bersifat bisa ada dan tiada.

* Sesuatu yang bersifat ada dan tiada , mempunyai masa yang memperlihatkan bahwa sesuatu itu belum ada dan sesuatu itu akan tiada.

* Jadi, sesuatu yang bisa ada dan tiada bersifat tidak mungkin selamanya ada.

* Jadi, ada masa ketika alam semesta ini belum ada.

* Sesutu yang pasti ada itu ada karena memang harus ada, bukan mungkin ada seperti contigent being, sesuatu yang pasti ada ini dipahami setiap orang sebagai Tuhan.

– Argumen keempat : Argumen Kelas Kualitas

* ada berbagai kualitas tentang sebuah objek, yaitu ada yang lebih baik atau lebih buruk antara satu dengan yang lain.

* Penilaian tingkat kualitas ini memerlukan sebuah refrensi yang paling absolut yang dipakai acuan jenis kualitas.

* Refrensi paling absolut dan sempurna kualitasnya dipahami orang sebagai Tuhan.

– Argumen kelima : Argumen Keteraturan Perencanaan

* Kita dengan mudah mengamati bahwa alam semesta ini berjalan secara teratur dan mudah memahami bahwa keteraturan ini bukanlah sebuah kebetulan.

* Benda – benda di alam semesta ini banyak yangtidak memiliki intelektualitas dan pengetahuan, serta pikiran dalam dirinya, tetapi secara teratr berjalan mengikuti sbuah pola.

* Keteraturan ini berjalan seperti sebuah anak panah  yang tanpa berfikir, tetapi menuju sebuah tujuan sesuai dengan kehendak pemanahnya.

* Mudah dipahami bahwa dibalik keteraturan benda – benda nonintelek alam semesta ini ada sesuatu yang mengatur dan merencenakan, sesuatu itu dipahami orang sebagai Tuhan.

Thomas mengajukan metode untuk mengenali sifat Tuhan dengan mengenali bukan sifat Tuhan (negativ) . Berikut adalah sifat – sifat Tuhan.

  1. Tuhan bersifat sederhana. Tuhan tidak terdiri dari bagian – bagian seperti materi – materi penyusun.
  2. Tuhan bersifat sempurna. Tuhan tidak memiliki kelemahan, seperti kelemahan materi atau objek yang lain.
  3. Tuhan bersifat tak terhingga. Tuhan tidak memiliki keterbatasan, seperti keterbatasan fisik, keterbatasan intelektual, atau keterbatasan emosional.
  4. Tuhan bersifat tetap abadi. Tuhan tidak mengalami perubahan, baik esensi, eksistansi, maupun sifat-Nya.
  5. Tuhan bersifat Esa. Tuhan tidak memiliki perbedaan keesaan antara Tuhan sebagai subjek dan predikatnya.

Thomas mengajarkan Allah sebagai “ada yang tak terbatas” (ipsum esse subsistens). Allah adalah “dzat yang tertinggi”, yang memunyai keadaan yang paling tinggi. Allah adalah penggerak yang tidak bergerak. Tampak sekali pengaruh filsafat Aristoteles dalam pandangannya.

Dunia ini dan hidup manusia terbagi atas dua tingkat, yaitu tingkat adikodrati dan kodrati, tingkat atas dan bawah. Tingkat bawah (kodrati) hanya dapat dipahami dengan mempergunakan akal. Hidup kodrati ini kurang sempurna dan ia bisa menjadi sempurna kalau disempurnakan oleh hidup rahmat (adikodrati). “Tabiat kodrati bukan ditiadakan, melainkan disempurnakan oleh rahmat,” demikian kata Thomas Aquinas.

Mengenai manusia, Thomas mengajarkan bahwa pada mulanya manusia memunyai hidup kodrati yang sempurna dan diberi rahmat Allah. Ketika manusia jatuh ke dalam dosa, rahmat Allah (rahmat adikodrati) itu hilang dan tabiat kodrati manusia menjadi kurang sempurna. Manusia tidak dapat lagi memenuhi hukum kasih tanpa bantuan rahmat adikodrati. Rahmat adikodrati itu ditawarkan kepada manusia lewat gereja. Dengan bantuan rahmat adikodrati itu manusia dikuatkan untuk mengerjakan keselamatannya dan memungkinkan manusia dimenangkan oleh Kristus.

Mengenai sakramen, ia berpendapat bahwa terdapat tujuh sakramen yang diperintahkan oleh Kristus, dan sakramen yang terpenting adalah Ekaristi (sacramentum sacramentorum). Rahmat adikodrati itu disalurkan kepada orang percaya lewat sakramen. Dengan menerima sakramen, orang mulai berjalan menuju kepada suatu kehidupan yang baru dan melakukan perbuatan-perbuatan baik yang menjadikan ia berkenan kepada Allah. Dengan demikian, rahmat adikodrati sangat penting karena manusia tidak bisa berbuat apa-apa yang baik tanpa rahmat yang dikaruniakan oleh Allah.

Gereja dipandangnya sebagai lembaga keselamatan yang tidak dapat berbuat salah dalam ajarannya. Paus memiliki kuasa yang tertinggi dalam gereja dan Pauslah satu-satunya pengajar yang tertinggi dalam gereja. Karya teologis Thomas yang sangat terkenal adalah “Summa Contra Gentiles” dan “Summa Theologia”.

 

PENUTUP

Aquinas mampu membagi dan menjelaskan wilayah teologi – iman dengan wilayah filsafatnya, teristimewa kedudukan rasio/ akal budi pikiran manusia dalam menjelaskan kebenaran wahyu Allah. Bahwa akal dapat memasuki wilayah iman dengan mendapatkan penerangan ilahi Tuhan sehingga dapat menjelaskan dunia teologi secara obyektif tentang kebenaran Tuhan dalam Kitab Suci, tanpa harus menghilangkan kebenaran wahyu Tuhan itu. Dengan kata lain dunia akal  dapat menjelaskan  dogma-dogma dan ajaran Kitab suci dengan peggunaan daya terang ilahi untuk membuktikan eksistensi Tuhan itu sendiri. Sehingga Tuhan pada dirinya merupakan sumber kebenaran dan sumber pengetahuan itu sendiri. Sementara pada iman itu sendiri, dunia akal  tidak dapat memasukinya. Oleh karena keterbatasan akal budi manusia; sehingga dunia iman tinggal sebagai suatu dunia yang esensinya tidak dapat di masuki oleh kebenaran lain, selain Tuhan sendiri yang merupakan sumber kebenaran dan sumber pengetahuan itu sendiri, di mana pikiran manusia terbatas yang tidak dapat melampaui pikiran atau dunia wahyu Allah atau pikiran Allah itu sendiri.

Filsafat Aquinas yang dapat diambil sebagai pelajaran bagi praktik bisnis adalah hanya Tuhanlah yang bersifat abadi, selain hal selain Tuhan bersifat sementara, berubah dan tunduk pada hukum sebab – akibat. Perjalanan bisnis adalah suatu proses yang terus bergerak, menuntut suatu kreativitas dan mengikuti perkembangan zaman dan waktu. Demikianlah makalah pembahasan tentang Biografi dan Pemikiran seorang tokoh pada abad pertengahan yang bernama Thomas Aquinas yang dapat penulis buat. Bila ada kesalahan atau kekurangan dalam pembuatan atau penulisan makalah tentang tokoh Thomas Aquinas.

 

DAFTAR PUSTAKA

-http://mrthomasaquinas.multiply.com/journal/item/1

-Davies, Brian, The Thought of Thomas Aquinas, Clarendon Press, Oxford 1993, hal.1-10.

-Gilson, Etienne, The Philosophy of St. Thomas Aquinas, Dorset Press, New York 1948, hal. 37-38.

-Grabmann, Martin, S. Tommaso d’Aquino, una introduzione alla sua personalitá e al suo pensiero, Versione del Dottor Giacomo di Fabio, Societá Editrice “Vita e Pensiero”, Milano 1929.

-http://www.mustikoning-jagad.com/en/index.php?option=com_content&view=article&id=728%3Amemahami-pemikiran-thomas-aquinas-1224-1274&Itemid

-McInerny, Ralph, St. Thomas Aquinas, University of Notre Dame Press, Notre Dame – London 1982, hal. 11-29.

-Saranyana, Joseph, History of Medieval Philosophy, Sinag-Tala, Manila 1996, hal. 186-188.

-Weisheipl, James A., Friar Thomas D’Aquino: His Life, Thought, and Works, The Catholic University of America Press, Washington DC 1983.

– Mayer, Frederick. A history of Medieval & Ancient Philosophy. New York: Ameican Book Company, 1950

-100 TOKOH FILSUF BARAT DARI ABAD 6 SM – ABAD 21 YANG MENGINSPIRASI DUNIA BISNIS hal.96 – 100.

*) Penyusun

Nama               : Fitria Eka Putri

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s