Filsafat Joseph Schelling

Filsafat merupakan suatu cara berpikir terhadap seluruh gejala dunia seisinya yakni tentang alam semesta dan masyarakat. Ilmu filsafat sebetulnya banyak aliran atau paham, diantaranya seperti aliran renaisance, rasionalisme, idealisme, empirisme, pragmatisme, existentialisme, dan masih banyak lagi. Antara aliran atau paham yang satu dan yang lainnya ada yang saling bertentangan dan ada pula yang memiliki konsep dasar sama. Akan tetapi meskipun bertentangan, bukanlah untuk saling dipertentangkan, justru dengan banyaknya aliran atau paham yang sudah diperkenalkan oleh tokoh-tokoh filsafat, kita dapat memilih cara yang pas dengan persoalan yang sedang kita hadapi. Antara aliran atau paham yang satu dengan yang lainnya dapat saling mendukung.

Para filsuf zaman modern menegaskan bahwa pengetahuan tidak berasal dari kitab suci atau ajaran agama, tidak juga dari para penguasa, tetapi dari diri manusia sendiri. Namun tentang aspek mana yang berperan ada beda pendapat. Pada masa abad modern, pemikiran filsafat berhasil menempatkan manusia pada tempat yang sentral dalam pandangan kehidupan, sehingga corak pemikiran filsafatnya mendasarkan pada akal, pikir dan pengalaman.

Dalam makalah ini, penulis akan membahas tentang salah satu tokoh pada abad modern serta mengenai pemikirannya, yakni Friedrich Wilhelm Joseph Schelling ( 1775-1854 ). Dia adalah tokoh pada aliran filsafat idealisme pada abad modern, sehingga terfokus pada aliran filsafat idealisme dan pemikiran F.W.J. Schelling.

Tujuan dari penulisan makalah ini sendiri, selain memenuhi kewajiban membuat tugas mata kuliah filsafat ilmu, agar penulis lebih memahami tentang filsafat ilmu.

Penulis menyadari makalah ini masih banyak kekurangan, mudah-mudahan hal tersebut dapat menjadi pendorong bagi kita untuk mencari sumber-sumber yang lebih banyak lagi. Semoga dengan hadirnya makalah ini, dapat memperluas pemahaman kita, terutama terhadap ilmu filsafat.

 

BIOGRAFI TOKOH

Schelling adalah orang yang terlalu cepat dewasa. Ia dilahirkan di kota Leonberg, Wurtemberg pada tanggal 27 Januari 1775,  tepatnya lima tahun setelah kelahiran Hegel. Dia lahir dan hidup di lingkungan yang saleh. Dalam usianya yang masih relatif belia, lima belas tahun, dia sudah mengambil kuliah di Universitas Tubingen. Di sini dia bertemu dengan Hegel dan Holderin (seorang penyair). Pertemuan itu terjadi bertpatan pada saat gerakan romantisisme mengalami perkembangannya yang pesat. Schelling dan Hoelderin adalah dua orang yang menaruh simpati besar pada Revolusi Prancis. Saat muda, ia menjadi murid didik Fichte, pengawal Idealisme setelah Kritisisme Kant. Meski kemudian ia menempuh jalan filsafatnya sendiri, ia masih membawa pengaruh Fichte dalam pemikirannya.

Pada umur 23 tahun, dia sudah menjadi guru besar di Universitas Jena sekaligus menjadi murid dan pembantu Fichte. Saat itu, dia banyak menjalin kontak dengan kalangan Romantisisme. Selanjutnya ia menikah dan berpindah mengajar ke kota Wurzburg. Pada saat inilah Schelling bergumul dengan pemikiran sang mistikus Jacob Boehme. Dalam idealisme, kita bisa melihat bagaimana mistik, teologi dan filsafat berpadu menjadi satu. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh Boehme dan Isak Luria, seorang mistikus Yahudi di Jerman..

Selanjutnya Schelling bermigrasi ke Muenchen pada tahun 1806. Pada saat ini, dia banyak menjalin kontak dengan Hegel dalam mengurus penyuntingan sebuah jurnal filsafat. Hegel adalah saingan berat dari Schelling yang lebih muda dari dia. Namun setelah Hegel meninggal, Schelling adalah kritikus ulung atas Hegelianisme di Berlin. Pada tahun 1854, Schelling meninggal di Bad Ragaz dalam kesepian dan dilupakan.

 

PEMIKIRAN

SEKlLAS PANDANG TENTANG ALlRAN FILSAFAT  IDEALISME

A. Pengertian Idealisme

Kata  idealisme berasal dari kata idea yang berarti gambaran atau pemikiran, dan isme yang berarti paham atau pendapat. Idealisme ialah suatu pandangan dunia atau metafisika yang menyatakan bahwa realitas dasar terdiri atas, atau sangat erat hubungannya dengan ide, pikiran atau jiwa. Atau bisa disebut dengan aliran filsafat yang menjelaskan bahwa kebenaran/pengetahuan sesungguhnya bukan bersumber dari rasio atau empiri, melainkan dari gambaran manusia tentang suatu pengamatan.

Idealisme dalam filsafat dikatakan bahwa realitas itu terdiri dari ide-ide pikiran, jiwa, dan bukan benda material atau tenaga. Jiwa adalah riil dan materi adalah produk sampingan. Alam tidak dapat berdiri sendiri. Kesatuan organik dari alam ditekankan. Manusia harus hidup dalam keharmonisan dengan alam. Atau dengan kata lain, idealisme adalah aliran filsafat yang menekankan “idea” (dunia roh) sebagai objek pengertian dan sumber pengetahuan. Idealisme berpandangan bahwa segala sesuatu yang dilakukan oleh manusia tidaklah selalu harus berkaitan dengan hal-hal yang bersifat lahiriah, tetapi harus berdasarkan prinsip kerohanian (idea). Oleh sebab itu, idealisme sangat mementingkan perasaan dan fantasi manusia sebagai sumber pengetahuan.
B. Bagian-bagian Idealisme

Idealisme subjektif atau juga disebut immaterialisme, mentalisme, dan fenomenalisme. Seorang idealis subjektif akan mengatakan bahwa akal, jiwa, dan persepsi-persepsinya atau ide-idenya merupakan segala yang ada. Objek pengalaman bukanlah benda material; objek pengalaman adalah persepsi. Oleh karena itu benda-benda seperti bangunan dan pepohonan itu ada, tetapi hanya ada dalam akal yang mempersepsikannya.

Idealisme subyektif adalah filsafat yang berpandangan idealis dan bertitik tolak pada ide manusia atau ide sendiri. Alam dan masyarakat ini tercipta dari ide manusia. Segala sesuatu yang timbul dan terjadi di alam atau di masyarakat adalah hasil atau karena ciptaan ide manusia atau idenya sendiri, atau dengan kata lain alam dan masyarakat hanyalah sebuah ide/fikiran dari dirinya sendiri atau ide manusia.

Idealisme objektif, yakni dikatakan bahwa akal menemukan apa yang sudah terdapat dalam susunan alam. Idealisme obyektif adalah suatu aliran filsafat yang pandangannya idealis, dan idealismenya itu bertitik tolak dari ide universil atau diluar ide manusia. Menurut idealisme obyektif segala sesuatu baik dalam alam atau masyarakat adalah hasil dari ciptaan ide universil. Pandangan filsafat seperti ini pada dasarnya mengakui sesuatu yang bukan materiil, yang ada secara abadi diluar manusia, sesuatu yang bukan materiil itu ada sebelum dunia alam semesta ini ada, termasuk manusia dan segala pikiran dan perasaannya. Dalam bentuknya yang amat primitif pandangan ini menyatakan bentuknya dalam penyembahan terhadap pohon, batu dll.

Idealisme individual atau idealisme personal, yaitu nilai-nilainya dan perjuangannya untuk menyempurnakan dirinya.

PEMIKIRAN
Ketidakpuasaan terhadap ajaran Kant yang mengatakan bahwa akal manusia tidak akan sampai pada pengetahuan tentang fenomena / gejala-gejala saja muncul dilakukan oleh murid-muridnya, bahkan berbalik menyerang Kant dan mereka bermetafisika untuk mencari suatu dasar bagi renungan mereka. Dasar itu di bagi menjadi system metafisika. Mereka sangat memperhatikan kesadaran dan pengalaman yang di cari dan di dapat dari dasar tindakan. Dasar tindakan itu adalah “Aku” yang merupakan subjek yang sekonkret-konkretnya, sehingga lahirlah kesimpulan dan member keterangan tentang keseluruhan yang ada, yang ada itulah di sebut idealism.

Pemikiran Schelling terbagi menjadi tiga tahap, yaitu tahap filsafat alam, filsafat identitas dan kemudian filsafat wahyu atau filsafat positif. Sebelum melangkah pada pemikiran Schelling lebih dalam, ada baiknya kita merunut dari pemikiran gurunya, Fichte. Sang Guru menjelaskan bahwa pengetahuan harus bertolak dari pengalaman (erfahrung). Hanya saja pengalaman yang dimaksudkan oleh Fichte itu berbeda dengan yang dimaksudkan oleh Kant. Fichte menyatakan bahwa pengalaman tersebut adalah presentasi. Ada dua macam presentasi;

  1. Presentasi dengan Rasa Bebas

Misalnya saat kita membayangkan dalam imajinasi kita bahwa kita sedang jalan-jalan di kota Makassar dengan segala gemerlap kotanya di malam hari.

  1. Presentasi dengan Keniscayaan

Misalnya ketika kita sedang ada di kelas Falsafah dan Agama Universitas Paramadina mendengarkan keterangan Prof. Abdul Hadi W.M. dalam keadaan duduk bersama teman-teman sekelas.

Perbedaan antara dua presentasi tersebut dalam segi kemandiriannya adalah bahwa presentasi pertama tidak membutuhkan obyek dan karena itulah ia disebut bebas, sedangkan presentasi kedua tergantung pada obyek.

Dalam pengalaman (erfahrung) terdapat dua unsur yang saling terjalin dan terkait, yaitu subjek dan objek. Lantas kemudian muncullah pertanyaan: Di antara keduanya, manakah yang menghasilkan pengalaman aktual? Maka jawabannya adalah Subjek. Fichte mengunggulkan subjek atas objek karena Subjek menghasilkan pengalaman aktual.

Dari titik inilah kita akan melangkah pada pemikiran Schelling. Filsafat alam Schelling bertolak dari ketidak-sepakatannya pada konsep pembedaan atau bahkan pengunggulan subjek atas objek sebagaimana diungkapkan oleh Fichte. Kata Schelling, pembedaan macam itu muncul dari refleksi yang bermula dari perasaan dan bukannya filsafat.

Perbedaan antara subjek dan objek berawal dari refleksi. Refleksi menjadikan jarak antara sesuatu yang ada di luar kita (alam) dan konsep yang kita tangkap yang terdapat dalam Idea kita (Roh). Kemudian refleksi memperlakukan konsep atau gambaran alam tersebut sebagai objek. Refleksi membangun pangkal pembedaan antara yang Riil dan yang Ideal. Jika pangkal ini dihapus, maka yang terjadi adalah kesatuan. Lebih tepatnya kesatuan antara Subjek dan Objek, antara yang Riil dan yang Ideal, antara yang Roh dan Alam. Jika kita memberikan jarak antara subjek dan objek, maka kita akan tertipu karena hal tersebut berdasarkan perasaan belaka. Yang harus kita lakukan adalah pendasaran pada filsafat hingga kemudian kita memahami bahwa yang dipikirkan dan yang memikirkan sebenarnya adalah satu.

Manusia mempunyai kemampuan untuk berpikir tentang segala yang ada di Alam. Dia, dengan Roh-nya, akan bertanya sesuatu hal dan memaksa Alam untuk menjawabnya. Proses ini disebut sebagai proses dialog. Alam kemudian menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dijawab oleh Roh tersebut. Hal ini sebenarnya berimplikasi pada kenyataan bahwa Alam sesuai dengan tuntutan Akal (Roh). Keduanya sebenarnya satu, atau bisa dikatakan bahwa Alam adalah Roh yang tampak dan Roh adalah Alam yang Tidak Tampak dan bahwa Materi adalah kecerdasan yang tidur.

Dari situ kemudian dapat dipahami bahwa Alam bukanlah sesuatu yang sersifat mekanis yang berjalan secara otomatis begitu saja melainkan sebuah proses yang dinamis dan terpadu mengarah pada suatu tujuan tertentu  atau biasa disebut sistem teleologis. Sistem ini bisa digambarkan dengan penjelasan bahwa Alam merupakan sebuah sistem dinamis atau organisme yang hidup yang bergerak dan menuju finalitas tertentu. Kemudian dia akan kembali kepada dirinya sendiri dalam Roh Manusia dan melalui Roh manusia itu.

Filsafat Identitas bermula dari penolakan atas teori ‘refleksi’ Fichte, Alam mengenal cerminannya. Melalui Refleksi ala Schelling (yang berdasarkan pendasaran filsafati dan bukannya perasaan), kini Alam telah mengenali dirinya kembali melalui Refleksi itu. Inilah yang disebut dengan identitas dan itulah ‘identitas absolut’. Kemudian lengkaplah sudah sistem ilmu pengetahuan. Kemudian Schelling beranjak pada eksplanasi mengenai Aku-Absolut. Aku-Absolut, baginya, adalah sesuatu yang netral; bukan materi dan juga bukan spirit, bukan subjektif juga bukan objektif.

Dalam filsafat transcendental, Schelling menjelaskan tentang bagaimana Aku atau sang Ideal merealisasikan dirinya sebagai kehendak. Aku atau Ideal menyadari akan dirinya sebagai kehendak karena suatu keharusan (sollen) yang mendahului kehendak. Oleh karena kehendak itu diarahkan pada objek yang ada di luar, maka hasil kehendak tersebutlah yang menimbulkan kemunculan dunia luar. Jika ada sesuatu yang berubah di dunia luar tersebut, karena kesatuan, maka ada perubahan juga yang terjadi dalam sang Aku.

Hukum Alam dan Hukum Moral adalah identik di dalam tertib kosmik. Selanjutnya, pernyataan inilah yang mendasari pemikiran Schelling dalam negara, hukum dan sejarah. Baginya, sejarah merupakan pernyataan berkesinambungan dari Yang Absolut yang selalu memanifestasikan diri-Nya.

Dalam pengembangan filsafat transendental ini, selanjutnya ia merambah ke dalam ranah filsafat seni yang dianggap sebagai wahyu (art as a revelation). Seni merupakan sebuah hasil pengungkapan dari upaya yang dilakukan berdasarkan identitas antara yang nyata dan yang ideal dalam sebuah wujud kongkrit yang bertempat dalam intuisi yang estetis. Pengungkapan tersebut berangkat dari kesadaran diri sebagaimana yang telah diuraikan dalam penjelasan mengenai filsafat transendental di atas. Bedanya, jika di dalam filsafat transendental Sang Absolut dianggap sebagai “mengalami dunia”, maka di dalam filsafat seni Ia dianggap sebagai “menciptakan dunia”. Seni merupakan sintesa antara Alam dan kesadaran; sebuah kesadaran dalam diri seniman yang menyatakan diri sebagai intelegensi yang mencipta dunia.

Karena itu, Schelling menolak sebagian kalangan yang menyatakan bahwa metodologi Ilmu Pengetahuan dan Matematika merupakan satu-satunya cara yang dapat digunakan untuk mencapai pengetahuan yang sebenarnya. Schelling menyatakan bahwa  Sang Absolut dan Alam merupakan kesatuan yang tidak lain adalah sumber dari pengetahuan yang benar. Dengan kata lain, sumber ilmu pengetahuan adalah seni dan bukan penelitian ilmiah.

Pemikiran Schelling mengenai filsafat alam, pada gilirannya mengarah pada filsafat agama. Dia menulis sebuah buku berjudul Philosophie und Religion pada tahun 1804. Dalam buku tersebut ia menjelaskan bahwa agar ada hal yang obyektif, Sang Absolut  harus memberi kuasa pada yang nyata agar yang nyata itu dapat memanifestasikan dirinya dalam bentuk-bentuk yang lebih khusus atau agar yang nyata itu menjadi Absolut dengan caranya sendiri. Karena itulah manusia memiliki kehendak bebas yang tidak lain adalah sifat dasarnya. Dengan kehendak bebas itu dia bisa menjadi dan naik Absolut dan juga sebaliknya; menjadi dan turun daripada yang Absolut. Yang kedua itulah penyebab kejahatan (problem of evil). Jatuhnya manusia pada yang relatif tersebut merupakan pilihan manusia dan kekhasannya; lebih tepatnya saat ia lebih menyukai yang relatif daripada yang Absolut.

 

PENUTUP

Idealisme adalah aliran ilmu filsafat yang menganggap pikiran atau cita-cita sebagai satu-satunya hal yang benar yang dapat dicamkan dan dipahami. Konsep dasar Aliran Idealisme, menurut paham Idealisme bahwa yang sesungguhnya nyata adalah ruh, mental atau jiwa. Alam semesta ini tidak akan berarti apa-apa jika tidak ada manusia yang punya kecerdasan dan kesadaran atas keberadaannya. Materi apapun ada karena diindra dan dipersepsikan oleh otak manusia. Waktu dan sejarah baru ada karena adanya gambaran mental hasil pemikiran manusia. Dahulu, sekarang atau nanti adalah gambaran mental manusia.

Schelling adalah tokoh idealisme obyektif sebagai kebalikan dari idealisme subyektif. Menurut Schelling, kebenaran gambaran tentang dunia tidaklah ditentukan oleh subyek (ego), melainkan oleh obyek pengamatan, yaitu bagaimana obyek itu menampilkan dirinya, atau bagaimana obyek menyadarkan subyek. Apabila aku (ego) menentukan kehendak, hal itu diharuskan oleh kemestian yang mendahului kehendak, yaitu seluruh obyek pengamatan kecuali sebagai pemberi kehendak, juga sebagai pemberi arah bahkan mampu merubah kehendak.

Keunikan manusia terletak dalam fakta bahwa manusia memberikan makna- makna simbolik bagi tindakan-tindakan mereka. Manusia menciptakan rangkaian gagasan dan cita-cita yang rinci dan menggunakan konstruk mental ini dalam mengarahkan pola perilaku mereka. Berbagai karakteristik pola perilaku yang berbeda- beda dalam masyarakat yang berbeda dilihat sebagai hasil serangkaian gagasan dan cita- cita yang berbeda pula. Paham idealisme memandang bahwa cita-cita (yang bersifat luhur) adalah sasaran yang harus dikejar dalam tindakan manusia. Manusia menggunakan akalnya untuk bertindak dalam kehidupan sehari-hari baik untuk dirinya dan masyarakat.

 

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Zainal, 2001 Filsafat Manusia, Rosdakarya, Bandung

Tafsir, ahamd. 2010. Filsafat umum. Rosda: Bandung

Turnbull, neil. 2005. Filsafat: Jakarta

Ahmad Agung, 2007 Diktat Filsafat Umum, Institut Agama Islam Darussalam, Ciamis,v

 

*) Penyusun

Nama               : Lilis Widyaningrum

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s