Filsafat Hegel

Hegel mengembangkan kerangka filosofis yang komprehensif, atau “sistem”, idealisme Absolute ke account secara terpadu dan perkembangan bagi hubungan pikiran dan alam, subyek dan obyek pengetahuan, psikologi, negara, sejarah, seni, agama, dan filsafat. Secara khusus, ia mengembangkan konsep bahwa pikiran atau roh terwujud dalam serangkaian kontradiksi dan pertentangan yang pada akhirnya terintegrasi dan bersatu, tanpa menghilangkan kedua kutub atau mengurangi satu ke yang lain. Contoh kontradiksi tersebut termasuk yang antara alam dan kebebasan, dan antara imanensi dan transendensi. Filsafat  sejarah merupakan komponen yang tak dapat dipisahkan dari rangkaian keilmuan filsafat secara umum.Bagian integral yang berpengaruh dalam memahami dan mengkaji sejarah dari sudut pandang filsafat.Memandang sejarah bukan hanya masa lampau namun juga menjadi unsur perubahan dari masa ke masa.

Beberapa tokoh bermunculan dari ranah filsafat sejarah,dan Hegel termasuk didalamnya.Dia merupakan salah satu filsuf ternama yang dihasilkan Jerman sebagai sebuah tempat yang layak bagi lahirnya beberapa filsuf terkenal dan berpengaruh. Disamping Immmanuel Kant,Hegel memiliki konsistensi dalam berfikir dan kapabilitas rasio yang mampu menterjemahkan hidup dalam bentuk rumus dialektikanya yang terkenal. Hegel seorang yang progresif dalam berfikir dan bertindak,meskipun tidak reaksioner dalam bersikap terhadap realitas.Filsafat Roh yang merupakan karakternya,yang dia akui merupakan hasil sintesa antara pemikiran Fichte dan Schelling dizaman pertumbuhan filsafat idealisme Jerman abad-19.Dia cenderung memaknainya sebagai Roh Mutlak atau Idealisme Mutlak. Makalah ini akan menjelaskan sedikit tentang Hegel, baik dari biografi, karya-karyanya dan juga pemikirannya.

 

B. Biografi Tokoh

Nama lengkap Hegel adalah George Wilhelm Friedrich Hegel(1770-1831). Ia lahir di Stuttgart, Jerman pada tahun 1770. Pendidikan Filsafat dan Teologinya di peroleh dari Universitas Tubingen. Hegel adalah Filosof idealis berlatar belakang Teolog, dan pada dirinya terpadu dua struktur bangunan Intelektual, Teologi dan Idealisme. Pada tahun 1799 dia bekerja dengan Schelling di Jena. Kemudian pada tahun 1818 Ia menjadi Profesor di Heidelberg, dan terahir di Berlin, kemudian dia meninggal pada tahun 1831 karena penyakit Kolera.

 

 

Karya tulisnya yang paling pokok adalah

1.      Phaenomenologie Des Geistes (The Phenomenology of The Mind/of Spirit) pada tahun 1807

2.      Encyclopadie der Philosophischen Wissenchaften in Grundriss (Encyclopedia of The Philosophical Sciences) pada tahun 1817

3.      Vorlesungen Uber Die Philosophie der Geschicte (A Groundwork of the philosophy of right) tahun 1821

4.      Wissenschaft der Logik (Science of Logic) tahun 1831

5.      Dan masih banyak lagi karya lainnya.

 

Rasionalisme Hegel

Realitas bagi Hegel adalah Ruh, dan Alam semesta dalam beberapa hal adalah produk dan pikiran sehingga hal itu dapat dimengerti oleh pikiran.

Hegel membangun filsafatnya dari suatu keyakina dasar tentang kesatuan(Unity). Universe sebagai symbol kesatuan adalah manifestasi dari “yang Mutlak” (The Absolute). Yang mutlak bukan sebagai the thing in itself (ada dalam dirinya sendiri), bukan sesuatu kekuatan yang transenden dan bukan pula Ego subjektif, yang mutlak adalah proses dunia dalam dirinya sendiri (a prosecess world itself) yang aktif, dan Hegel menyebutnya ide absolute.

Hegel sangat mementingkan rasio. Tetapi, yang di maksudkan bukan saja rasio pada manusia perorangan, tetapi juga dan terutama rasio pada subjek absolute, karena Hegel pun menerima prinsip idealistis bahwa realitas seluruhnya harus di setarafkan dengan suatu subjek. Suatu dalil Hegel yang terkenal berbunyi: “semua yang Real bersifat rasional, dan semua yang rasional bersifat real”.

Maksudnya ialah bahwa luasnya rasio sama dengan luasnya realitas. Realitas seluruhnya adalah proses pemikiran(Idea) yang memikirkan dirinya sendiri. Realitas seluruhnya adalah ruh yang lambat laun menjadi sadar akan dirinya.

 

Dialektik

Dialektik adalah metode yang digunakan Hegel Untuk menguraikan Filsafatnya.  Atau dengan lebih tepat dapat di katakana bahwa dalam realitas berlangsunglah suatu dialektik.
Proses dialektik selalu terdiri atas tiga fase. Ada suatu fase pertama (Tesis) yang menampilkan lawannya (antitesis), yaitu fase kedua kemudian timbullah fase ketiga yang mendamaikan fase pertama dan fase kedua (Sintesis). Dalam sintesis itu tesis dan antithesis menjadi “Aufgehoben”, kata Hegel. Kata Aufgehoben mengandung tiga arti, yaitu: a) mengesampingkan b) Merawat, menyimpan, jadi tidak di tiadakan, melainkan di rawat dalam suatu kesatuan yang lebih tinggi dan di pelihara, c) di tempatkan pada dataran yang lebih tinggi, dimana keduanya (Tesis dan Antitesis) tidak lagi berfungsi sebagai lawan yang saling mengucilkan.

Dengan metode dialektika ini Hegel melakukan Sintesis antara filsafat idealisme subjektif  dengan filsafat idealism objektif menjadi filsafat idealism mutlak. Filsafat idealism subjektif sendiri mengajarkan Ego absolut (ruh) yang mengadakan alam (nonego). Jadi, alam terletak dibawah ruh. Sedangkan filsafat idealism objektif mengajarkan bahwa alam berada di dalam ego dan  ego berada di dalam alam.

 

 

Ruh

Filsafat Ruh dibagi menjadi tiga tingkatan, yaitu dimulai dari ruh Subjektif sebagai tingkatan yang terendah, memanjat ke roh objektif, untuk akhirnya tiba dir uh Mutlak.  Didalam ajaran tentang ruh subjektif yang masih dibalut oleh alam, tetapi yang telah berusaha melepaskan diri daripadanya. Dan disini roh mulai berpindah dari situasi “berada diluar dirinya” kedalam situasi “berada bagi dirinya”. Ilmu filsafat yang membicarakan ruh berada dalam keadaanini disebut logika. Dalam ajaran tentang roh objektif dibicarakan hal hukum dan moralitas atau kesusilaan(etika). Disini kehendak rasional diobjektivir menjadi bentuk-bentuk hidup yang umum, dan idea tentang yang baik direalisir dalam lembaga-lembaga yang konkrit. Bentuk dan nafsu alamiah diperluas sebagai hak dan kewajiban dalam bentuk-bentuk dasar kesusilaan.

 

Sejarah

Di atas sudah di uraikan bahwa realitas seluruhnya dianggap Hegel sebagai proses jadi sadarnya Roh Absolut. Hal, ini mengizinkan Hegel memberikan tempat khusus kepada sejarah. Dengan munculnya manusia, Roh sudah menjadi sadar akan diri sendiri(belum dalam alam). Tetapi proses penyadaran ini berlangsung terus dalam sejarah manusia, hingga akhirnya mencapai titik penghabisan.  Proses ini akan berakhir bila roh menjadi absolute, dalam arti sepenuh-penuhnya. Dalam sejarah filsafat kita menyangsikan proses roh menjadi sadar akan dirinya. Bahkan sejarah filsafat merupakan bentuk tertinggi proses penyadaran itu.
Hegel memandang semua perubahan bersifat historis dan Hegel memandang sejarah itu sebagai dialektika yang berlangsung dalam waktu. dari tesis ke antithesis menuju sintesis, yang setiap langkahnya merupakan tahap yang lebih tinggi dalam perkembangan diri dari yang Mutlak. Dalam perkembangan ide yang dielektis itu, ya ng oleh Hegel disebut Logika, tak ada proposisi yang bisa diisanggah secara tetap dan sepenuhnya. Serupa dengan hal itu, dalam dialektika sejarah, tak ada bintang yang sepenuhnya hilang. Setiap momen historis, dalam menegasi pendahuluannya, sekaligus mengambil apa pun yang signifikan di dalamnya dan melestarikannya sebagai aspek dari suatu realitas social yang lebih kaya dan lebih lengkap. Jadi, menurut sudut pandang Hegel, setiap generasi yang baru bisa menganggap dirinya sekaligus penghancur, pelestari, dan penyempurna kebudayaan yang ia warisi dari pendahulunya. Hingga batas tertentu, kultur Eropa Barat merupakan sesuatu yang baru di dunia ini. Akan tetapi, apapun yang penting dalam kebudayaan Yunani, Roma, Yudea, dan Kristianitas abad pertengahan kendati telah di ubah dan hingga taraf tertentu juga telah di lampaui, tidak pernah benar-benar lenyap.

 

C. Pemikiran Tokoh

Hegel memang bukan seorang politikus namun dialektikanya mampu menjadi inspirasi para politikus dalam melakukan kajian politik dan sosial. Sehingga terkadang menjadi pisau analisis yang cukup akurat dalam memandang realitas. Dia mengakui dirinya cenderung befikir bebas selayaknya filsuf dalam memaknai kehidupan dan pemikiran/rasio. Namun dia memandang justru kebebasan merupakan wujud pengakuan dan penerimaan sadar manusia atas suatu sistem nilai dalam hidup,seperti nilai yang terkandung dalam ajaran agama (kristen).

Pemikiran Hegel yang senantiasa berdialektika terhadap realitas dan memandang adanya ’realitas mutlak’ atau ruh mutlak atau idealisme mutlak dalam kehidupan,sangat mempengaruhi dalam memandang sejarah secara global, ini terbukti saat dialektikanya mampu memasukkan pertentangan didalam sejarah sehingga dapat mengalahkan dalil-dalil yang bersifat statis.

Hingga terbukti pembuktian – pembuktian ilmiah yang dihasilkan. Dari sanalah filsafat sejarah layak ditempatkan, sebagai bagian yang utuh dari dunia kefilsafatan. Dia juga memandang bahwa sejarah merupakan suatu kondisi perubahan atas realitas yang terjadi, dia pula yang menyatakan sejarah menjadi sebuah hasil dari dialektika,menuju suatu kondisi yang sepenuhnya rasional.

Menurutnya dialektika merupakan proses restorasi yang perkembangannya berasal dari kesadaran diri yang akhirnya akan mencapai kesatuan dan kebebasan yang berasal dari pengetahuan diri yang sempurna,dia pula merupakan suatu aktvitas peningkatan kesadaran diri atas pikiran yang menempatkan objek-objek yang nampak independen kearah rasional.

Dialektika Hegel menjadikan akhir sesuatu menjadi awal kembali.seperti sebuah siklus.3 prinsip utamanya;thesis-antithesis (terjadi 2 tahap perubahan yakni kualitatif dan kuantitatif)-sinthesis.Thesis merupakan perwujudan atas pandangan tertentu,antithesis menempatkan dirinya sebagai opisisi,serta sinthesis merupakan hasil rekonsiliasi atas pertentangan sebelumnya yang kemudian akan menjadi sebuah thesis baru.Dan begitu seterusnya.Sehingga ketiganya merupakan pertentangan yang kelak menjadi kesatuan utuh dalam realitas.

Sebagai sebuah analogi sederhana ada ’telur’ sebagai thesis,yang kemudian muncul ’ayam’ sebagai sebuah sinthesis,yang antithesisnya ’bukan-telur’. Dalam dilektika ini,bukan berarti ’ayam’ telah menghancurkan ’telur’ namun, dalam hal ini sebenarnya ’telur’ telah melampaui dirinya sehingga menjadi ’ayam’,dengan sebuah proses. Yang kemudian itu akan kembali menjadi telur,dan terus seperti itu.Sehingga dialektika merupakan proses pergerakan yang dinamis menuju perubahan.

Pemikirannya tentang Roh Mutlak atau absolut dapat dilalui dengan pendekatan filsafat,agama dan seni,sehingga beliau senantiasa mengkaji dan menguasai ketiga komponen yang juga mempengaruhi pemikiran Hegel selama ini. Pengkajiannya yang begitu ketat,yang kemudian memutuskan bahwa filsafat-lah yang memiliki tingkat pemahaman yang lebih yang mampu menuju kepemahaman mengenai hakekat Roh Mutlak,dikarenakan sifatnya yang konseptual dan rasional.

Disamping pemikirannya yang menjunjung kebebasan sebagai unsur pada keberadaan Roh Mutlak. Dia meyakini adanya essensi Roh Mutlak adalah ketidakterikatan atau kebebasan. Komponen yang kemudian melahirkan konsepsi sosial-politik dalam negara. Roh Mutlak merupakan sesuatu yang bersifat ’Idea’ yang melekat pada dirinya sebagai sesuatu yang riil. Sehingga menurutnya kondisi realitas merupakan riil ada,dan sesuatu yang riil merupakan realitas tersebut. Bukan berarti sesuatu yang tidak riil itu bukan realitas,namun disanalah ruang telaah yang mendalam perlu mendapat tempat. Masih menurutnya,yang menganggap bahwa negara sebagai sebuah institusi kemasyarakatan,merupakan sebuah bentuk kemajuan pikiran/idea kearah kesatuan bentuk dengan nalar.

Cukup banyak para pemikir atau filsuf yang menganggap Hegel merupakan filsuf abstraksi, padahal secara kasat mata sesungguhnya dia sedang menampilkan suatu bentuk konkretisasi dalam mengolah pikirannya sendiri. Bahkan dirinya sempat mengkritik gaya abstraksi dari rasionalisme abad-18.Gaya bahasa yang terlalu luas dan mendalam kadang malah mempersulit dalam mencari sebuah hakekat pikiran itu sendiri.Sehingga konkretisasi pikiran Hegel nampak dalam beberapa artikel dan buku karyanya yang mencoba menampilkan aktualisasi pikirannya yang mampu menjawab realitas.

 

D. Penutup

Apa yang diungkapkan dalam makalah ini hanyalah ringkasan pemikiran filsafat Hegel. Pemikiran filsafat Hegel menempatkan totalitas realitas sebagai suatu kebenaran yang berproses menemukan kepenuhannya. Segenap realitas adalah proses ide yang memikirkan dirinya sendiri. Hanya saja, Hegel menempatakan proses kepenuhan itu hanyalah muslihat Roh Absolut semata. Jadi seperti orang buta yang dituntun untuk bekerja oleh Roh absolut tersebut. Dan karena kematangan Roh Absolut itulah pendamaian segala sesuatu dalam sejarah.
Hegel adalah filsuf yang memiliki konsep-konsep (Begriff) filsafat yang ia rancang sendiri. Dengan begitu, kita dapat melihat style berfilsafat Hegel yang mau meransang bagaimana kita menemukan Style kita sendiri dalam berfilsafat. Kata Hegel: “die Anstrengung des Begriffs” (usaha susah payah pemikiran untuk mencapai pengertian yang tepat, kendati berbagai kesulitan) merupakan syarat agar kita maju dalam berfilsafat. Kalau demikian, Hegel telah mewariskan pengalaman intelektual yang luar bisa bagi kita.

 

E. Daftar Pustaka

id.wikipedia.org/wiki/Georg_Wilhelm_Friedrich_Hegel

 

*) Penyusun

Nama               : Kurniawan Wicaksono

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s