Filsafat Anselmus

Sebagai makhluk, manusia merupakan sebagian kecil dari yang diciptakan oleh Tuhan dibandingkan dunia dan seisinya. Keberadaan manusia di dunia tidak terlepas dari anugrah Tuhan yang dikaruniakan oleh-Nya. Hubungan manusia dengan Tuhan inilah yang menjadikan agama sebagai  landasan hidup manusia di dunia. Agama memberikan pengaruh penting dalam hidup orang banyak. Agama pula yang memberi kekuatan spiritual bagi penganutnya, menerangi jalan hidup manusia dan mengatur tatanan kehidupan antara manusia dan Tuhannya. Iman yang merupakan landasan utama orang beragama, memberikan peranan penting bagi manusia, dimana ajaran Tuhan mempelajari tingkah laku manusia yang baik (ma’ruf) dan yang buruk(munkar). Dalam realitanya harus meyakini dan berbuat baik dan meninggalkan yang buruk (takwa).

Mempelajari tentang iman dn Tuhan tidak lepas dengan ilmu Theologi. Theos  berarti Tuhan dan Logos  berarti pemikiran. Jadi teologi adalah ilmu yang mempelajari tentang Tuhan. Seluruh pandangan tentang filsafat berawal dari teologi, yang mana perenungan tentang ilmu pengetahuan menandakan bahwa manusia bukanlah segala-galanya. Manusia bukanlah mutlak yang mengatur dunia sehingga harus dicari sebab yang terdahulu sebelum penciptaan manusia. Tuhanlah yang menciptakan manusia dan alam semesta. Tuhan memiliki sifat Maha atas segala-galanya yang mana Tuhanlah yang mengganugrahi manusia akal agar manusia tidak berada dalam kegelapan. Perenungan tentang Tuhan ini berawal dari akal manusia dan Iman yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa Iman manusia tidak dapat memperoleh pengertian tentang adanya Tuhan.

Tuhan tidak terpisahkan dari pengalaman manusia ketika dalam keadaan apapun. Manusia dibekali akal utuk berpikir tentang peranannya dimuka bumi. Manusia diciptakan sebagai Homo Creatuses yang merupakan makhluk yang mampu berpikir dan dengan aktivitas berpikirnya dapat berfilsafat. Sebagai Makhluk manusia itu terbatas sehingga manusia berpikir adanya Causa Prima yaitu Tuhan. Pemikiran tentang Tuhan tersebut mendorong Anselmus mengkaji lebih dalam tentang Tuhan. Anselmus adalah seorang teolog  Uskup Agung dari Canterbury. Ia memasukkan logika dalam pelayanan iman. Anselmus menyatakan bahwa untuk mencari kebenaran harus menggunakan iman. Pernyataan ini kemudian diakui oleh para filsuf dan teolog sesudahnya tentang betapa pentingnya dialektiga pad ilmu teologi.

 

 

Biografi

Anselmus, uskup agung dari Canterbury. Ia dilahirkan di Aosta Piemont, Italia tahun 1033 M. Anselmus merupakan seorang putra dari bangsawan Comberdia. Ayahnya bernama Gundulph dan ibunya Ermenberga. Ketika berumur 15 tahun, Anselmus ingin masuk biara di Italia, namun ditentang oleh ayahnya. Pada saat yang hampir bersamaan ibunya meninggal dunia. Sejak saat itu Anselmus muda yang pandai dan kaya raya  mengurungkan niatnya melayani Tuhan dan hidup bersenag-senang.

Bebrapa tahun kemudian Anselmus ingin menjadi lebih baik dan berguna. Pada tahun 1056 anselmus menyeberang pegunungan Alpen dan berdiam di Burgundy, Perancis. Namun tidak lama kemudian ia berpindah ke Bec di Normandy. Ia mengunjugi seorang Abass atau pemimpin biara bernama Lanfranc dari biara Bec. Anselmus bersahabt dengan Lanfranc dan sang biara menghantarkannya kepada Tuhan. Lanfranc membantu Anselmus dalam mengambil keputusan mejadi biarawan Benediktin saat berumur 27 tahun.

Pada tahun 1066 Wiliam dari Normandy menaklukkan Inggris. Raja tersebut membawa biarawan ke Inggris termasuk Lanfranc dan menjadikannya Uskup Agung Canterbury pada tahun 1070. Anselmus kemudian menggantikan Lanfranc sebagai kepala biara (abbas) Bec pada tahun 1070. Lanfranc meninggal dunia pada tahun 1089. Keuskupan Agung Canterbury vakum selama 3 tahun. Tahun 1093 William memilih Anselmus menjadi Uskup Agung Canterbury. Anselmus mengajukkan syarat bahwa ia bersedia menerima jabatan tersebut asalkan raja mau mentaatinya sebagai bapa rohaninya dan mengakui Urbanus 11 sebagai Paus.

Pada tahun 1093 William II mengangkat Anselmus sebagai Uskup Agung Canterbury. Raja menggambil hak penempatan para Pastor di kerajaan.  Anselmus menolak hal tersebut. Kemudian muncul perselisihan mengenai tanah keuskupan dan siapa yang akan membayarnya. Perselisihan itu terus berlanjut ketika pengakuan Urbanus 11 sebagai Paus. Sebagai Uskup Agung, Anselmus meminta tongkat kekuasaan kepada Paus dan diletakkan di altar Canterbury. Ini menunjukkan bahwa jabatan ini diterimanya dari Paus bukan dari raja.

Anselmus pergi ke Roma tanpa sepengetahuan William II pada tahun 1097. Ia menghadiri Konsili Bari dan Konsili Lateran pada tahun 1098. Di Roma Anselmus mulai mempelajari tentang keputusan-keputusan yang melarang investiture dan kesetiaan. Ia tinggal dengan Hugh dari Lyons. Sementara itu, ketika Uskup Agung tersebut di Roma William II menyita semua dana yang disalurkan ke Canterburry.

Ketika William mangkat, digantikan oleh saudaranya Henry I. Raja baru itu meminta Anselmus kembali. Sang Uskup Agung menerima panggilan itu dan kembali ke Inggris. Selama itu gereja di Inggris dikuasai oleh raja dan para bangsawan. Henry meminta Anselmus untuk berikrar setia kepada raja, namun Anselmus menolaknya. Mulailah pertikaian mengenai investiture di Inggris.  Anselmus meminta bantuan dari Paus di Roma.

Tahun 1105 Paus Pascal Menutup komunikasi dengan uskup yang diangkat oleh Henry I. Anselmus sendiri mengancam raja dengan tindakan yang sama. Perundingan perdamaian berlangsung selama 2 tahun dan berakhir di London tahun 1107. Anselmus meninggal tanggal 21 April 1109. Pada tahun 1720 Paus Clemens XI menetapkannya sebagai doctor gereja.

 

Pemikiran

Perenungan tentang kodrat manusia dan kewajibannya memaksa manusia memandang persoalan tentang sebab terakhir atau yang pertama (Causa Prima). Anselmus juga memikirkan yang demikian. Renungan Anselmus ini berpangkal pada rasionya sendiri.

 

Pemikiran Anselmus Tentang Iman

Anselmus adalah seorang ahli gereja yang memasukkan logika dalam pelayanan iman. Ia menguji kekuatan logika manusia dalam membuktikan doktrinnya. Anselmus berpegang pada moto “saya percaya agar dapat mengerti” yang maksudnya bahwa tanpa wahyu tidak ada kebenaran. Karena itu mereka yang mencari kebenaran harus beriman dahulu pada wahyu tersebut. Ia mengemukakan sebuah argumentasi ontologi untuk percaya kepada Allah. Anselmus menyatakan bahwa rasio manusia membutuhkan ide dari anugrah causa prima yang sempurna(Allah), oleh karena itu Causa prima harus ada.

Gagasan yang dikembangkan dan digunakan oleh Anselmus dalam berfilsafat adalah pemikiran dialektika. Pengembangan pemikiran ini tidak hanya dengan rasio saja yang dapat membuat orang menjadi yakin dan percaya. Akan tetapi dibutuhkan pikiran yang kritis akan suatu kebenaran. Hubungan antara iman dan ilmu pengetahuan dirumuskan Anselmus dengan fiedes quarens intellectum yang artinya iman berusaha untuk mengerti. Dengan iman orang belajar untuk mengerti segala sesuatu diatas rasio. Pemahan Anselmus ini lebih dikenal dengan Credo ut intelligam (saya percaya agar dapat mengerti). Dengan kepercayaan agama orang dapat mengerti lebih dalam tentang Allah, manusia dan dunia. Karyanya yang berjudul Monologion dan Proslogion membuktikan lebih rinci adanya Allah.

Anselmus mengemukakan bahwa kebenaran yang diwahyukan Allah harus dipercaya terlebih dahulu, karena akal manusia tidak mampu menyatakan suatu kebenaran itu. Wahyu yang diturunkan merupakan suatau kebenaran yang mutlak. Anselmus juga beranggapan bahwa iman bersifat bebas dan tidak terikat, serta tidak memerlukan dasar-dasar akali. Setiap orang didasari dengan iman, dan dengan sendirinya iman mendorong  akal menyelami kebenaran-kebenaran iman lebih menyeluruh.

Iman harus menjadi dasar segala-galanya. Dengan iman kebenaran yang diwahyukan dapat dijelaskan secara rasional dan mendalam. Didasari oleh iman oarng mendapatkan ilmu pengetahuan yang disertai dengan pembuktian. Iman selayaknya menjadi lebih mendasar pada diri manusia sebagai ciptaan Allah. Perbedaan dengan akal bahwa Iman diperoleh dengan perantara wahyu, sedangkan pengetahuan akali diperoleh karena anugrah Allah. Iman telah menjadikan penganutnya suatu pandangan yang mendalam tentang dunia. Sedangkan iman yang disertai dengan akal member lebih banyak lagi tentang Allah, manusia dan dunia.

Menurut Anselmus, pemahaman tentang iman juga memiliki realitas. Pengertian-pengertian umum atau universalia benar adanya. Universalia bebas dari individu dan merupakan ide-ide Allah. Pemikiran menggunakan logika maupun pandangan secara universal dikaitkan dengan bukti-bukti adanya Allah. Disini fungsi iman adalah mendasari kepastian kebenaran adanya Allah yang keseluruhannya dapat dibuktikan.

 

Pemikiran Anselmus Tentang Tuhan

Allah memiliki sifat “Yang Maha Tinggi” dimana Anselmus menyatakan Allah adalah sesuatu yang lebih besar daripadanya dan tidak dapat dipikirkan manusia. Menurut Anselmus eksistensi Allah bisa dijelaskan dengan argument yang bisa diterima manusia termasuk yang tidak beriman. Eksistensi Allah dimulai dari pikiran manusia yang menerima begitu saja ajaran agama, namun juga menanyakan dari siapa dan mengapa dirinya ada,dan  penciptaan alam semesta.

Argumen Anselmus dinyatakan menjadi sebuah ilmu teologi yaitu ilmu tentang hubungan manusia dan ciptaan Allah. Setiap agama memilki pandangan yang berbeda tentang Allah namun ada kesimpulan yang sama yaitu Allah itu ada dan adanya Allah dapat dibuktikan secara rasional. Anselmus membuktikan adanya Allah dengan dua cara yaitu:

Pertama, ketika ia melihat hal-hal yang terbatas, ia akan mengatakan bahwa akal manusia hanya mampu melihat hal-hal yang terbatas saja. Ada beberapa hal yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan akal yang kita miliki, karena itu ada hal-hal yang tidak terbatas yang mampu mengaturnya. Selain itu yang baik itu relative dengan mengandaikan adanya segala sesuatu yang lebih baik secara mutlak. Menurutnya beradanya sesuatu secara relative mengandaikan beradanya sesuatu secara mutlak, yaitu Allah.

Kedua, yang digunakan oleh Anselmus adalah dengan penguraian. Menurutnya apa yang disebut Allah memiliki suatu pengertian yang lebih besar dari segala sesuatu yang bisa dipikirkan manusia. Pengertian Allah yang ada didalam pemikiran kita adalah lebih besar daripada apa yang ada dipikiran. Apa yang didalam pikiran ada sebagai yang tertinggi atau lebih besar

 

Pemikiran Anselmus Tentang Penebusan Kristus.

Dalam bukunya “Cur De Homo” yang tebit tahun 1908, Anselmus menulis tentang bagaimana kematian Kristus di kayu salib yang mendamaikkan manusia dengan Allah. Menurt Anselmus, Allah adalah Tuhan alam semesta, yang kemuliaannya dinodai oleh dosa manusia. Ia mengampuni manusia namun diperlukan adanya pengorbanan sesuai dengan pelanggaran itu. Anselmus menyatakan bahwa dosa itu berasal dari manusia, pengorbanan juga harus dari manusia. Namun manusia tidak dapat mempersembahkan pengorbanan yang setimpal oleh dosa yang membuat manusia tidak mungkin berdamai dengan Allah. Oleh karena itu Kristus penjadi penebus dosa dengan mati di kayu salib.

Bedasarkan pemahaman diatas pemikiran Anselmus dirumuskan sebagai berikut :

  1. Allah adalah hal yang lebih besar dari hal lain dan tidak dapat dipikirkan lebih besar lagi,
  2. Karena Allah itu Maha Besar maka Allah tidak saja berada pada pemikiran namun juga pada kenyataan,
  3. Karena Allah itu juga berada pada kenytaaan maka Allah sungguh ada,
  4. Keberadaan Allah sebagai Sang Pencipta dimengerti dan dipahami melalui iman dan wahyu dalam kitab suci.

 

 

Penutup

 

Anselmus adalah seorang cendikia dan Agamawan yang mencoba memasukkan logika dalam pelayanan Iman. Ia sebenarnya telah paham akan Al kitab, namun ia mencoba menguji kekuatan logika manusia tentang keberadaan Tuhan. Ia mendasarkan iman dari segala sesuatu. Argumentasinya mengajak kita untuk percaya adanya Allah. Anselmus menyatakan bahwa rasio manusia membutuhkan adanya ide dari zat yang sempurna yaitu Allah. Oleh sebab itu Allah harus ada.

Anselmus mengemukakan bahwa keberadaan Tuhan itu mutlak sebagai Causa Prima. Namun Tuhan itu Mistik secara akal/rasio manusia. Keberadaan Tuhan dapat dibuktikan dengan perenungan dan pemikiran secara radikal tentang hakikat manusia sebagai makhluk dan penciptaan alam raya. Dari sini mdimaksudkan bahwa manusia mempercayai adanya Tuhan dengan iman. Dengan iman juga  manusia dapat melogika bahwa Allah yang menciptakan dunia dan seisinya dan menyadari bahwa manusia juga ciptaanNya. Maka pada hakikatnya manusia diciptakan oleh Allah untuk menyembah dan bertakwa kepadaNya.

Terakhir Anselmus juga mmengajarkan agar ilmu pengetahuan yang telah diperoleh hendaknya menjadikan lebih bijaksana. Pernyataan ini berarti bahwa ilmu mengingatkan manusia untuk rendah hati dan takwa kepada Tuhan. Dengan berilmu manusia dapat mengamalkan iman kepada Allah melalui kehidupan sosial dimasyarakat. Karena Allah berada pada pemikiran manusia dan pada dasarnya Allah itu dekat bagi orang yang senantiasa mau berpikir.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Admin. Anselmus dari Canterburry. http://aloyvangodang.wordpress.com/2010/10/17/anselmus-dari-canterbury/. : Rabu, 10 Oktober 2012: 14.50

.                 . pemikiran Anselmus tentang iman dan eksistensi Tuhan . http://aloyvangodang.wordpress.com/2010/10/17/anselmus-dari-canterbury/ . : Rabu,10  Oktober 2012: 15.00

. Iman dan Logika dalampandangan Anselmus. http://martinus-importantnewstinus.blogspot.com/2011/03/iman-dan-logika-dalam-pandangan.html : Rabu, 10 Oktober 2012: 15.00

Salam, Burhanuddid. 2000. Sejarah Filsafat Ilmu dan Teknologi. Jakarta: Rineka Cipta

Priyono, Henry & I Wibowo. 2006. Sesudah Filsafat. Jogjakarta: Kanisius.

 

 

 

*) Penyusun

Nama               : Erlina Dwi Ratnasari

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

 

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s