Biografi dan Pemikiran Sartre

Dalam sejarah perkembangan manusia, ada tiga periode yang dikenal yaitu pra-modern, modern dan postmodern. Pemikir evalengical, Thomas Oden, berkata bahwa periode modern dimulai dari runtuhnya Bastille pada tahun 1789 (Revolusi Perancis) dan berakhir dengan kolapsnya komunisme dan runtuhnya tembok berlin pada tahun 1989. Era modern ditandai dengan afirmasi diri manusia sebagai subjek. Apalagi setelah pernyataan Rene Descartes, “cogito ergo sum” yang artinya “aku berpikir maka aku ada”. Melalui pernyataan tersebut, manusia dibimbing oleh rasionya sebagai subjek yang berorientasi pada dirinya sendiri sehingga rasio atau akal budi manusia menjadi pengendali manusia terutama tingkah lakunya.

 

Sehingga manusia bisa mencapai tingkat yang paling tinggi. Kemampuan rasio inilah yang menjadi kunci kebenaran pengetahuan dan kebudayaan modern. Konstruksi kebudayaan modern kemudian tegak berdiri dengan prinsip-prinsip rasio, subjek, identitas, ego, totalitas, ide-ide absolut, kemajuan linear, objektivitas, otonomi, emansipasi serta oposisi biner. Modernisme bisa disebut sebagai semangat yang diandaikan ada pada masyarakat intelektual sejak zaman renaissance (abad ke-18) hingga paruh pertama abad ke-20. Semangat untuk meraih kemajuan dan untuk humanisasi manusia. Semangat ini dilandasi oleh keyakinan yang sangat optimistik dari kaum modernis akan kekuatan rasio manusia.

 

Di era ini rasio dipandang sebagai kekuatan yang dimiliki oleh manusia untuk memahami realitas, untuk membangun ilmu pengetahuan dan teknologi, moralitas, dan estetika. Rasio dipandang sebagai kekuatan tunggal yang menentukan segala-galanya. Pengakuan atas kekuatan rasio dalam segenap aktivitas manusia, berarti pengakuan atas harkat dan martabat manusia. Manusia dengan rasionya, tentu saja sebagai subjek pemberi bentuk dan warna pada realitas adalah penentu arah perkembangan sejarah. Kenyataannya, modernisme adalah salah satu bentuk dari humanisme. Modernisme juga bisa diartikan sebagai semangat untuk mencari dan menemukan kebenaran asasi, kebenaran esensial, dan kebenaran universial. Rasio manusia dianggapa mampu menyelami kenyataan faktual untuk menemukan hukum-hukum atau dasar-dasar yang esensial dan universal dari kenyataan.

 

Biografi  Jean-Paul Sartre

 

Jean-Paul Sartre lahir di Paris, Perancis, 21 Juni 1905 dan meninggal di Paris, 15 April 1980 pada usia 74 tahun. Beliau belajar di École Normale Supérieure 1924-1929 dan menjadi Profesor Filsafat di Le Havre pada tahun 1931. Dengan bantuan uang saku dari Institut Français ia belajar di Berlin (1932) filsafat Edmund Husserl dan Martin Heidegger. Setelah mengajar lebih lanjut di Le Havre, dan kemudian di Laon, ia mengajar di Lycée Pasteur di Pari 1937-1939.

 

Sejak akhir Perang Dunia II, Sartre telah hidup sebagai seorang penulis independen. Tulisan-tulisan teoritis Sartre, novel dan drama merupakan salah satu sumber inspirasi utama sastra modern. Sartre banyak meninggalkan karya penulisan diantaranya berjudul Being and Nothingness atau Ada dan Ketiadaan, yang banyak dipengaruhi oleh filsuf sebelumnya terutama Kierkegaard and Heidegger. Kelebihan Sartre dari para filsuf eksistensialis pendahulunya adalah kejelasan konsep dan kekuatan semangatnya.

 

Pasangannya adalah seorang filsuf wanita bernama Simone de Beauvoir. Pada tahun 1964, ia diberi Hadiah Nobel Sastra, namun Jean-Paul Sartre menolak. Ia meninggal dunia pada 15 April 1980 di sebuah rumah sakit di Broussais (Paris). Upacara pemakamannya dihadiri kurang lebih 50.000 orang.

 

Pemikiran Tokoh

‘‘ Manusia adalah individu yang bebas untuk menentukan pilihan hidup yang  dianggap terbaik bagi dirinya.”

Jean Paul Sartre adalah filsuf eksistensialis yang menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Konsekuensi dari filsafat ini adalah pandangannya bahwa kehadiran manusia di dunia ini pertama-tama tanpa tujuan khusus. Tujuan hidup itu muncul dari pengalaman manusia menjalani sesuatu dalam hidupnya.

Sartre adalah seorang yang atheis juga membuat eksistensialismenya menjadi ekstrem sehingga manusia eksistensialis model Sartre sangat berat beban hidupnya karena seluruh perbuatannya bebas tanpa harus bertanggung jawab pada siapa pun selain dirinya sendiri.

Secara umum, filsafat Sartre mengajarkan bahwa tidak pernah ada yang memaksa manusia. Manusia selalu dihadapkan pada pilihan dalam setiap aspek kehidupannya. Bahkan ketika manusia ditodong senjata, pilihan selalu ada bagu manusia untuk menentang atau menuruti, dan menerima konsekuensi terhadap pilihan itu. Meskipun konsekuensinya adalah kematian, kebebasan manusia untuk memilih masih tetap ada.

Sartre sadar bahwa filsafatnya yang sangat radikal ini memiliki konsekuensi yang berat. Manusia bertanggung jawab penuh terhadap apa yang dilakukannya. Dalam filsafat eksistensialisme Sartre, manusia tidak dapat memaafkan kesalahan atau mengalihkan tanggung jawab pada Tuhan. Jika seseorang yang beraliran eksistensialis Sartre malakukan hal itu, berarti dirinya hanya menipu diriny sendiri atau kepercayaan terhadap filsafatnya masih lemah.

Filsafat Sartre ini memiliki tiga konsekuensi. Pertama, sangat menderita. Akibat dari kesadaran bahwa semua konsekuensi merupakan tanggung jawab manusia itu  sendiri. Apabila jika tindakan kita berakibat tidak baik, bukan hanya kita yang sebagai pelaku tetapi  juga bagi orang lain. Kedua, terasing sendiri. Para eksistensialis Sartre dengan sangat menyesal harus mengatakan bahwa Tuhan tidak ada. Akibatnya, mereka di tinggal sendiri tanpa panduan hidup dan moral. Mereka harus melakukan segalanya sendiri di dunia ini sendiri. Ketiga, putus asa. Eksistensialisme Sartre menyadarkan pada insting bahwa apa pun yang terjadi adalah yang terbaik dan tanpa harapan kemurahan dari luar dirinya. Sandarannya hanyalah pada hasil kerja akibat keputusan yang diambil.

 

 

 

 

Penutup

 

Filsafat eksistensialisme Sartre ini menyatakan bahwa eksistensi mendahului esensi. Manusia tidak memiliki apa-apa saat dilahirkan dan selama hidupnya ia tidak lebih dari hasil kalkulasi dari komitmen-komitmennya di masa lalu. Karena itu, menurut Sartre selanjutnya, satu-satunya landasan nilai adalah kebebasan manusia. Disini tidak ada Tuhan atau perancang yang memberi arahan tujuan bagi manusia. Jadi, terserah pada manusia sendiri untuk berpikir menentukan  tujuan terbaik baginya. Walaupun Sartre ateis tapi beliau menyatakan bahwa kepercayaan terhadap Tuhan merupakan pilihan pribadi termasuk dalam pilihan terhadap tujuan hidup manusia. Oleh karena itu, Sartre menyatakan bahwa hanya manusialah yang berhak menginterpretasikan hal yang terbaik untuk dirinya sendiri bukan Tuhan.

 

Ontologi Sartre telah dijelaskan dalam karya filosofisnya, “ Being and Nothingness ”, di mana beliau mendefinisikan dua jenis realitas yang berada di luar pengalaman sadar kita yaitu menjadi obyek kesadaran dan kesadaran itu sendiri. Obyek kesadaran ada sebagai “dalam dirinya” yaitu dengan cara yang independen dan non-relasional. Namun, kesadaran selalu kesadaran “dari sesuatu” sehingga didefinisikan dalam kaitannya dengan sesuatu yang lain, dan itu tidak mungkin untuk memahami hal itu dalam pengalaman sadar: “untuk sendiri” itu ada sebagai sebuah fitur penting dari kesadaran yang negatif kekuasaan, dengan mana kita dapat mengalami “kehampaan”. Kekuatan ini juga bekerja di dalam diri, di mana ia menciptakan kurangnya intrinsik identitas diri. Jadi, kesatuan diri dipahami sebagai tugas untuk untuk-sendiri bukan sebagai yang diberikan.

 

Daftar Pustaka

 

Yuana, K. A. 2010. The Greatest Philosophers 100 Tokoh Filsuf Barat dari abad 6SM-abad 21 yang Menginspirasi Dunia Bisnis. Yogyakarta: ANDI

http://www.nobelprize.org/nobel_prizes/literature/laureates/1964/sartre-bio.html

http://www.iep.utm.edu/sartre-ex/

 

*) Penyusun

Nama               : Rika Nurmala

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s