Anaximander; Biografi dan Pemikiran

Tak dapat dipungkiri lagi jika perkembangan filsafat memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan ilmu pengetahuan. Hal ini tentu saja tak lepas dari para tokoh-tokoh hebat yang memberikan pemikiran-pemikiran luar biasa yang menjadikan perkembangan ilmu pengetahuan semakin pesat. Mengingat apa yang disampaikan oleh Jujun S. Suriasumantri (1984:1) yang mengatakan bahwa hakikat manusia adalah makhluk yang berpikir. Maka pemikiran-pemikiran inilah yang menjadi cikal bakal adanya pengetahuan. Dimulai dari manusia yang berpikir. Dan pada prosesnya, pemikiran-pemikiran ini mengalami perkembangan dan perubahan.

Seperti yang kita ketahui jika perkembangan ilmu pengetahuan begitu pesat dan berpusat pada Yunani. Karena memang disanalah manusia mulai memahami jika akal dan pikiran merupakan hakikatnya sebagai manusia dan mulai mempertanyakan hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ini.

Pada awalnya kehidupan bangsa Yunani dipengaruhi oleh mitos-mitos yang mempercayai jika kedudukan Tuhan terpisah dengan manusia. Hal ini memberikan dampak jika kehidupan sudah diatur sedemikian rupa sehingga mereka mempercayai kekuatan alam. Hingga pada akhirnya muncullah sosok-sosok pemikir yang mulai menggeser arah pemikiran dan kepercayaan pada jaman tersebut. Kepercayaan mulai bergeser pada system yang memungkinkan manusia untuk mengembangkan potensi dan budayanya dengan bebas, sekaligus dapat mengembangkan peikiran-pemikiran untuk menghadapi dan memecahkan berbgai kehidupan/alam dengan akal pikiran (Achmadi, 2007:24).

Pergeseran pola pikir ini terjadi setelah abad ke-6 SM. Muncul pemikir yang menentang konsep bahwa akal tidak diperlukan dalam memahami alam semesta. Pemikiran-pemikiran kritis terhadap hakikat alam semesta pun mulai bermunculan. Sehingga jaman Yunani kuno disebut pula jaman filsafat alam. Hal ini berkaitan dengan perhatian pemikiran yang mempertanyakan keadaan disekitar mereka, tentang alam dan gejalanya, atau fenomena-fenomaena yang terjadi berkaitan dengan alam. Namun pemikiran-pemikiran ini sudah berdasarkan akal pikiran bukan lagi berdasar pada mitos semata.

Achmadi (2007:24) menerangkan bahwa ahli pikir pertama yang muncul  adalah Thales yang  berhasil mengembangkan geometri dan matematika. Yang kemudian berlanjut pada sosok Anaximander, yang kehidupan dan pemikirannya akan dibahas secara mendalam pada makalah ini.

Biografi

Anaximander atau dalam bahasa Yunani disebut pula sebagai Anaximandros, adalah seorang filsuf pada jaman Yunani kuno. Kemunculannya dalam sejarah pemikiran ada setelah Thales. Anaximander lahir di kota Miletus, dekat Soke, Turki. Kota yang sama pula dengan Thales.

Lahir di kota Miletus yang kemudian berkembang menjadi kota para filsuf dan merupakan putra dari Praxiades, Anaximander ternyata juga murid dari Thales, filsuf pertama Yunani. Dalam salah satu karangan kuno juga menyebutkan bahwa Anaximander memiliki kekerabatan dengan Thales, hubungan darah atau keluarga, yaitu Thales merupakan paman Anaximander.

Kita dapat mengupas Anaximander melalui tulisan Aristoteles, Apollodorus, dan juga Diogenes Laertius. Apa yang ditulis Apollodorus mengenai Anaximander ternyata muncul 500 tahun kemudian setelah kemunculan Anaximander sendiri. Sementara Aristoteles menuliskannya 500 tahun kemudian setelah Apollodorus. Ini menunjukkan bahwa Anaximander membawa pengaruh yang kuat terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, yang pada perkembangannya banyak dikembangkan oleh filsuf-filsuf lainnya.

Apollodorus, seorang penulis pada jaman Yunani kuno ini, menyebutkan bahwa Anaximander lahir pada tahun 610 SM. Hal ini diperkirakan pada tahun 547 atau 546 SM diadakan olimpiade yang ke-58, dan pada saat itu Anaximander telah berumur 63 tahun. Disebutkan pula bahwa Anaximander meninggal tak lama setelah perayaan Olimpiade tersebut. Sehingga diperkirakan bahwa Anaximander meninggal pada tahun 546 SM. Sebenarnya ini juga menunjukkan walau Anaximander lebih muda 15 tahun dari gurunya, Thales, namun meninggal lebih cepat, yaitu dua tahun sebelum paman sekaligus gurunya tersebut.

Selain itu Diogenes juga pernah menyampaikan bahwa Anaximander mungkin juga telah menggantikan Thales sebagai kepala sekolah filsafat di Miletus.

Tak banyak peninggalan-peninggalan yang menyebutkan tentang kisah hidup Anaximander. Karena dari sekian banyak karya tertulisnya hanya satu fragmen yang mampu bertahan. Terlepas bagaimana kehidupannya, pemikirannyalah yang menjadi luar biasa karena membawa pengaruh yang besar pula terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.

Pemikiran Tokoh

Anaximander merupakan filsuf alam, yang tentunya banyak dari pemikirannya dipengaruhi oleh perhatian yang cukup besar terhadap alam, lingkungan dan fenomena ataupun gejala yang berkaitan dengan alam. Anaximander dianggap banyak berjasa pada bidang astronomi dan geografi. Walaupun Anaximander merupakan murid Thales, ternyata banyak dari pemikirannya yang berbeda jauh dengan pemikiran gurunya.

Dengan mengupas satu persatu tiap detail pemikiran Anaximander, kita akan memahami upaya manusia dalam memandanag dan memahami alam semesta.

a.         Bidang Astronomi

Sesungguhnya karya berupa tulisan dari Anaximander hanya sedikit yang masih bertahan hingga sekarang. Lebih banyak yang memperkenalkan pemikiran Anaximander adalah Aristoteles dan Apollodorus yang mengupas detail pemikiran-pemikiran Anaximander.

Tulisan yang paling menakjubkan dari Anaximander adalah pemikirannya mengenai alam, posisi bintang, penelitian geometri, peta Yunani maupun peta dunia. Dan karyanya yang terpenting adalah pengenalan prinsip matematika dan ilmiah dalam studi astronomi maupun geografi.

Membahas pemikiran Anaximander tentang bidang astronomi in kita mulai dari yang satu ini bahwa Anaximander percaya bahwa bentuk bumi adalah silinder. Terdengar aneh memang, tapi coba kita pahami mengapa Anaximander berpikir demikian. Seperti yang kita ketahui bahwa Anaximander adalah seorang filsuf alam yang pemikirannya menitikberatkan pada hal yang diamati disekitar mereka (alam, lingkungan, fenomena dan gejala-gejala alam sendiri). Dan mengapa Anaximander berpikir demikian, hal ini dikarenakan pada apa yang dilihat oleh Anaximander dilingkungan sekitarnya, bahkan hal yang terkadang luput dari mata kebanyakan orang biasa. Sesungguhnya ini berkaitan dengan apa yang kita lihat, jika kita mengelililingi seseorang maka kita akan melihat lingkaran, hal ini juga sama ketika kita melihat disekeliling kita, kita pun akan melihat lingkaran. Fenomena inilah yang akhirnya menuntun Anaximander untuk memperkirakan bentuk bumi. Kemudian Anaximander menggunakan argumen simetri untuk mempertegas pendapatnya, yaitu yang menyebutkan bahwa ada lingkaran lain yang sama dengan silinder diantarnya. Sehingga terpikirlah bahwa bentuk bumi yang kita diami ini adalah silinder dengan dua lingkaran di ujungnya.

Walaupun aneh namun inilah titik awal pergolakan pemikiran yang mulai mempertanyakan hakikat alam semesta, yang sebelumnya hanyalah berdasarkan pada mitologi yang tidak rasional.

Selain bentuk bumi, Anaximander juga mengemukakan bahwa matahari, bulan, planet, dan bintang-bintang bergerak mengelilingi bumi. Jadi matahari yang terlihat di pagi hari adalah matahari yang sama yang tenggelam di sore hari dan terbit lagi di keesokan harinya.

Anaximander juga menambahkan jika bumi kita merupakan pusat tata surya. Oleh karena itu bumi tidak jatuh. Beliau juga menyebutkan adanya konsep keseimbangan dimana bumi berada di pusat keseimbangan di alam semesta ini sehingga tidak akan jatuh. Konsep inilah yang akhirnya menginsprasi adanya konsep gravitasi dan bidang astronomi lainnya.

Padahal seperti yang kita ketahui bahwa kepercayaan bumi ditopang oleh dewa Atlas, salah seorang dewa titan dalam mitologi Yunani amatlah kental. Dengan dobrakan pemikiran dari Anaximander yang mulai mempertanyakan kedudukan bumi di alam semesta ini menjadi titik awal untuk meneliti secara mendalam mengenai alam semesta.

b.        Bidang Geografi

Anaximander juga berkeliling dan menemukan pemukiman yang disebut Apollonia di pesisir Laut Hitam. Satu hal lagi yang luar biasa dari Anaximander, beliau adalah orang pertama yang membuat peta.

Peta itu menujukkan bumi yang berbentuk silinder. Laut Meditearnia berada di tengah dan pada ujung utara maupun selatan terdapat lautan. Jika diuraikan maka peta milik Anaximander berbentuk seperti ini:

Picture 1. Peta bumi menurut Anaximander

Picture 2. Peta dunia menurut Anaximander

Anaximander juga seorang penjelajah yang kritis. Ia menggambarkan dengan cermat apa yang dilaluinya dan menuangkannya dalam sebuah peta. Inilah pertama kalinya peta dibuat. Untuk itu seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa Anaximander merupakan orang pertama yang membuat peta. Dan ia juga orang pertama yang meninggalkan karyanya dalam bentuk prosa.

c.         Asal Mula Alam Semesta

Sesungguhnya banyak pemikiran Anaximander yang bisa dibilang tidak masuk akal dalam pemikiran modern. Namun bagaimanapun juga pemikirannya patut dihargai dan justru menjadi cikal bakal pemikiran yang lebih sempurna.

Dalam hal ini Anaximander juga menjelaskan mengenai asal mula alam semesta. Pemikirannya bahwa segala sesuatu muncul dari apeiron atau yang tak terbatas. Aristoteles menuliskan bahwa segalanya memiliki asal atau bahkan ialah asalnya. Tapi ketidakterbatasan tidak memiliki asal. Untuk itu dia memiliki batas. Dan alam semesta ini tercipta dari ketidakterbatasan.

Pemikiran Anaximander yang ditulis oleh Aristoteles mengenai yang tak terbatas ini sebenarnya masih belum jelas apa sesungguhnya yang tak terbatas yang dimaksud oleh Anaximander. Beberapa sumber mengatakan bahwa ini berkaitan dengan pemikiran sebelumnya milik Thales, guru Anaximander sendiri yang menyebutkan jika alam semesta tercipta dari air. Disinilah Anaximander menyatakan ketidaksetujuaannya terhadap pemikiran gurunya. Ia menganggap bahwa tidak mungkin alam semesta ini tercipta dari satu unsur yang dominan. Terlalu sederhana jika menganggap unsur air sebagai cikal bakal alam semesta yang luas ini. Untuk itu Anaximander memilih apeiron sebagai awal alam semesta.

Seperti penjelasan berikut ini, melalui Achmadi (1995:34-35) yang menyatakan bahwa pemikiran Anaximander tentang arche (asas pertama alam semesta) tidak menunjuk pada salah satu unsur yang dapat diamati oleh benda. Seperti yang telah disebutkan diatas mengenai to apeiron. Hal ini dikarenakan apabila ia menunjuk salah satu unsur maka tidak akan ada tempat untuk unsur yang berlawanan karena ia akan bergerak sesuai dengan sifatnya. Penjelasan ini dipertegas dengan pendapat dari Anaximander yang dituliskan dalam artikel milik J.J O’Connor dan E.F Robertson (2008) yang memuat to apeiron (yang tidak terbatas) sebagai prinsip dasar atas segala sesuatu. Ia bersifat ilahi, abadi, tidak berubah-ubah, dan meliputi segala sesuatu. Maka segala unsur di jagad raya ini berasal dari unsur yang berlawanan. Ada panas dan dingin, kering dan basah, bahkan gelap dan terang.

Berkaitan dengan apeiron, Anaximander juga menjelaskan pendapatnya mengenai terciptanya bintang, bulan, planet maupun matahari. Pada awalnya apeiron berasal dari unsur yang berlawanan yang terus bertumbukan satu sama lain yang pada akhirnya unsur panas membalut unsur dingin. Unsur dingin menjadi cair dan juga beku. Bumi berasal dari yang beku ini, api atau panas yang mebalut dingin berpencar dan teruai menjadi planet, bintang maupun matahari.

Dan bumi pada awalnya terselimuti lautan kemudian ada sebagian yang mengering karena panas matahari berubah menjadi daratan.

Picture 3. Apeiron

taken from www.phylosophy.gr

d.        Asal Mula Kehidupan

Mengenai asal mula kehidupan, Anaximander juga menjelaskan evolusi makhluk hidup yang berasal dari lautan yaitu ikan. Pemikiran ini didasarkan pada bahwa tidak mungkin seorang manusia adalah makhluk pertama yang hidup karena manusia memerlukan pengasuhan pada awal kelahirannya. Oleh karena itu Anaximander mempercayai bahwa makhluk hidup pertama adalah ikan yang kemudian naik ke daratan. Dan kemudian mengalami proses yang pada akhirnya berevolusi menjadi manusia.

Disini Anaximander menjelaskan bahwa bumi awalnya berupa lautan, oleh karena itu makhluk yang hidup disana adalah ikan. Karena panas matahari, sebagain dari bumi mengering dan menjadi daratan. Makhluk hidup ini kemudian berpindah ke daratan dan lambat laun mengalami perubahan hingga menjadi sosok manusia yang sempurna. Tentu saja bagi kita pemikiran ini terasa amat ganjil, namun yang patut kita apresiasi adalah bagaimana ia bisa memikirkan hal demikian. Filsuf alam menitikberatakan pada apa yang ia amati disekitar lingkungannya. Anaximander pun sama, dengan berbagai penjelajahan yang ia lakukan, ia pun menyadari bahwa lautan di bumi ini luas sehingga pastilah dulunya bumi berupa lautan. Dan pengamatannya terhadap pertumbuhan dan perkembangan manusia membuatnya menarik kesimpulan bahwa bukan manusia yang menjadi makhluk pertama atau asal dari kehidupan ini, karena ketergantungan manusia terhadap manusia lainnya.

e.         Bidang Meteorologi

Anaximander juga termasuk orang yang kritis menanggapi hal-hal yang berhubungan dengan mitos, pengetahuan kuno, surga bahkan dewa-dewi Yunani. Seperti yang kita ketahui bahwa Yunani amat kental dengan mitologi dewa-dewinya. Namun disini Anaximander mempertanyakan semua hal-hal yang berkaitan dengan kisah-kisah mitologi apalagi yang berkaitan dengan alam.

Seperti halnya pada bidang meteorology. Anaximander menyatakan bahwa petir bukanlah disebabkan oleh Zeus sang raja para dewa yang mengarahkan trisulanya atau tongkat petirnya, tapi karena pneuma atau udara yang memadat.

Selain itu Anaximander juga menjelaskan bahwa hujan berasal dari uap yang dibawa ke atas tepat dibawah matahari. Bukan karena hal-hal yang berhubungan dengan mitologi dan kekuatan dewa. Namun memang ada sebab dan prosesnya, dan semua itu juga terjadi secara natural.

Tulisan Anaximander mengenai cuaca dan bidang meteorology ini merupakan catatan pertama manusia yang menjelaskan fenomena cuaca berdasarkan pemikiran rasinonal manusia bukan dari legenda taupun mitos.

f.         Penemuan Lainnya

Penemuan Anaximander yang lain adalah jam matahari. Jam ini dapat menentukan teangah hari, atau titik bayangan terendah dan juga sebagai arah mata angin.

Semua karya Anaximander ditulis berdasarkan prinsip ilmiah dan rasional, bukan sekedar mitos. Sebagai seorang yang rasionalis, Anaximander menuliskan penelitiannnya berdasarkan penghitungan geometri dan matematika.

Disini juga terlihat jelas perhatian Anaximander terhadap matematika maupun geomatri yang sangat besar. Penelitiannya selalu didasarkan pada konsep perhitungan geometri. Bahkan ada beberapa sumber yang menyatakan jika Anaximander mampu memprediksi gempa maupun gerhana dengan perhitungan geometri tersebut. Karena konsep Anaximander juga, trigonometri berkembang.

Dan mengenai perhitungannya terhadap kedudukan bumi, matahari, bulan, planet dan benda angkasa lainnya Anaximander juga menggunakan perhitungan geometri. Dengan demikian sesungguhnya banyak sekali penemuan dan penelitian dari Anaximander yang patut dikaji dan menjadi titik awal perkembangan ilmu pengetahuan modern.

D.    PENUTUP

Jaman Yunani kuno banyak dipengaruhi oleh filsuf-filsuf alam yang menitikberatkan penelitiannya pada alam atau benda yang diamati. Hal ini terjadi karena jaman Yunani kuno sebenarnya adalah jaman dimana tumbuhnya kesadaran manusia untuk mempergunakan akalnya dalam memahami alam semesta. Yunani banyak dipengaruhi oleh kisah-kisah mitologi dan dewa-dewi yang menjadikan pemikiran masyarakatnya menganggap bahwa kehidupan ini sudah berjalan dengan segala aturan dari dewa. Namun pada abad ke-6 SM terjadi pergeseran pemikiran yang kemudian mempertanyakan hakikat alam semesta ini dari sudut pandang rasional atau akal.

Hal ini dimulai dari Thales, filsuf pertama yang memberikan pengaruh yang kuat sehingga muncullah filsuf-filsuf yang lain yang mulai kritis dalam menanggapi hal-hal yang berkaitan dengan kehidupan ini. Termasuk kepada Anaximander yang merupakan murid sekaligus keponakan dari Thales sendiri.

Namun yang menakjubkan adalah banyak dari pemikiran Anaximander yang tidak sejalan dengan pemikiran gurunya, apalagi mengenai pembentukan alam semesta. Anaximander berpendapat bahwa alam semesta berasal dari apeiron (yang tak terbatas dalam bahasa Yunani). Selain pendapatnya mengenai alam semesta, Anaximander juga mengemukakan pendapatnya mengenai kedudukan bumi, matahari, bulan, bintang dan benda luar angkasa lainnya. Selain itu banyak jasanya yang dicurahkan pada bidang astronomi maupun geogarafi.

Dalam hal ini Anaximander dikenal juga orang pertama yang membuat peta. Selain itu Anaximander juga kritis dalam menanggap permasalahan yang berkaitan dengan cuaca atau meteorology dan berani menentang konsep-konsep dalam mitologi dengan menggunakan rasionalitas yang berpegang pada prinsip geometri maupun logika. Dengan demikian apa yang disampaikan oleh Anaximander ini patut untuk kita kaji dalam perspektif yang bijak.

DAFTAR PUSTAKA

Suriasumantri, Jujun S. 1984. Ilmu dalam Perspektif. Jakarta: Gramedia

Achmadi, Asmoro. 2007. Filsafat Umum. Jakarta: Raja Grafindo Persada

www.history.mcs.st-andrews.ac.uk

www.gworggokil.wordpress.com

www.filsafatilmu.com

www.thebigview.com/greeks/anaximander.html

*) Penyusun

Nama               : Apin  Mareta/A

Mata Kuliah    : Filsafat Ilmu

Dosen              : Afid Burhanuddin, M.Pd.

Prodi               : Pendidikan Bahasa Inggris, STKIP PGRI Pacitan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s